Claim Missing Document
Check
Articles

Makna Pesan dalam Tari Tradisional (Analisis Deskriptif Kualitatif Makna Pesan dalam Kesenian Tari Piring) Siti Fathonah; Sinta Paramita; Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i1.6151

Abstract

Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui tentang makna pesan yang terdapat pada setiap gerakan yang ditunjukkan oleh penari serta makna pesan yang ingin disampaikan dalam kesenian Tari Piring. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Subjek dalam penelitian ini adalah masyarakat Solok yang berdomisili di Jakarta yakni, Duta Pariwisata Minangkabau, Director Sanggar Syofyani, pelatih atau penari yang berstatus aktif, serta masyarakat Solok yang mengetahui kesenian tari piring. Hasil yang didapat dalam penelitian yaitu gerakan- gerakan pada kesenian Tari Piring merupakan hasil adaptasi dari kegiatan masyarakat Minangkabau pada saat itu sebagai petani dan pesilat, serta makna pesan yang ingin ditunjukkan pada kesenian Tari Piring adalah karakteristik dari masyarakat Minangkabau sendiri yakni sifat gotong royong, bekerja keras, kebersamaan, dan keberanian. Properti piring yang digunakan melambangkan suatu kesejaheraan dan kemakmuran. Pakaian yang digunakan dalam Kesenian Tari Piring melambangkan suatu jati diri masyarakat Minangkabau yang menjunjung tinggi nilai adab, serta syariat agama islam.
Fanatisme Penggemar K-Pop Melalui Media Sosial (Studi pada Akun Instagram Fanbase Boyband iKON) Wishandy Wishandy; Riris Loisa; Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i1.6156

Abstract

Budaya populer K-Pop telah mewabah sampai keseluruh dunia terutama di Indonesia. K-Pop merupakan industri musik yang terdiri dari girlband dan boyband, salah satunya yaitu boyband iKON. Semakin berkembangnya zaman, penggemar dapat dengan mudah mengakses informasi apapun mengenai iKON menggunakan media baru atau new media, salah satunya yaitu media sosial Instagram. Dengan menggunakan Instagram, penggemar dan fandom iKON dapat melampiaskan rasa cinta dan kagumnya terhadap iKON dengan melihat video, berita dan foto-foto tampan dari anggota iKON. Hal tersebut memicu penggemar semakin cinta dan kagum terhadap iKON yang telah menimbulkan fanatisme terhadap idolanya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perilaku fanatisme penggemar dalam media sosial mengenai kecintaannya terhadap boyband iKON. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi kasus. Data yang dianalisis diperoleh dari hasil wawancara dengan admin akun fanbase iKON di Instagram yaitu @ikonictreazure dan @Wowfaktaikon. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa penggemar merasakan cinta dan kagum yang tinggi dengan menunjukan perilaku-perilaku fanatik terlihat dari respon penggemar saat berkomentar dalam Instagram.
Perlawanan Stigma Warna Kulit terhadap Standar Kecantikan Perempuan Melalui Iklan Joanne Mareris Sukisman; Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10150

Abstract

The development of a beauty standard stigma that says being beautiful is having white skin is a problem for some women in Indonesia, this is due to the construction of mass media and the entry of foreign cultures. That way those with dark or brown skin will feel insecure. Seeing this stigma, Pond's as one of the pioneers of skin care created an advertisement for their new product variant, Pond's White Beauty Skin Perfecting Cream, which shows models with various skin colors typical of Indonesian women. Based on this background, the formulation of the problem of this study is how to fight against the stigma of the beauty standard for women's skin color that is depicted in the TV ad for Pond's White Beauty Skin Perfecting Cream. Then the purpose of this study is to explain and describe the resistance to the stigma of the beauty standard for women's skin color that is depicted in the TV ad for Pond's White Beauty Skin Perfecting Cream. The theoretical review used in this research is advertising, television advertising, the concept of beauty standards, and stigma and resistance. To answer the problem formulation, this study uses qualitative research methods with Charles Sanders Pierce's semiotic analysis, which sees a phenomenon with three main components, namely Signs, Objects, and Interpretations. The results showed that in several scenes the advertisement gave a message that the standard of women's beauty was not measured by skin color, but beauty was based on the inner beauty or potential and talents possessed as well as a sense of gratitude and confidence. The conclusion is that this ad does not follow the construction of advertisements in general, but shows beauty with various skin tones that are characteristic of Indonesia, and wants to show women that basically all women with any skin color are beautiful.Berkembangnya suatu stigma standar kecantikan yang mengatakan cantik adalah memiliki kulit putih menjadi suatu problem bagi sebagian perempuan di Indonesia, hal ini disebabkan oleh kontruksi media massa dan masuknya budaya asing. Dengan begitu mereka yang memiliki kulit gelap atau sawo matang akan merasa tidak percaya diri. Melihat stigma tersebut Pond’s sebagai salah satu pelopor skin care membuat iklan untuk varian produk baru mereka Pond’s White Beauty Skin Perfecting Cream yang memperlihatkan model dengan beragam warna kulit khas perempuan Indonesia. Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah penelitian ini yaitu bagaimana perlawanan terhadap stigma standar kecantikan warna kulit perempuan yang digambarkan pada iklan TV Pond’s White Beauty Skin Perfecting Cream. Kemudian tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan dan mendeskripsikan perlawanan terhadap stigma standar kecantikan warna kulit perempuan yang digambarkan pada iklan TV Pond’s White Beauty Skin Perfecting Cream. Tinjauan teoritis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu periklanan, iklan televisi, konsep standar kecantikan, dan stigma serta perlawanannya. Untuk menjawab rumusan masalah tersebut penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis semiotika Charles Sanders Pierce yang melihat suatu fenomena dengan tiga komponen utama yaitu Tanda, Objek, dan Interpretan. Hasil penelitian menunjukan di beberapa scene iklan tersebut memberikan makna pesan di dalamnya bahwa standar kecantikan perempuan bukan diukur dari warna kulit, melainkan kecantikan di dasari dengan mengedepankan inner beauty atau potensi dan bakat yang dimiliki serta rasa bersyukur dan percaya diri. Kesimpulannya adalah iklan ini tidak mengikuti konstruksi iklan pada umumnya, tetapi menunjukan kecantikan dengan beragam warna kulit ciri khas Indonesia, dan ingin menunjukan pada para perempuan bahwa pada dasarnya semua perempuan dengan warna kulit apapun itu cantik.
Pemaknaan Khalayak terhadap Kesenjangan Sosial Yang Ditunjukan Pada Film “Parasite” Giselle Vincentia Tiogas; Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 4, No 2 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i2.8112

Abstract

For some countries including Indonesia, the problem of poverty has become one of the problems that are quite serious. With the existence of the problem of poverty resulted in a very striking social inequality in which some people live with all its abundance, while some other people live in inadequacy. Social inequality is not only found in the lives of Indonesian people, but can also be found in the lives of South Korean people as showed in the "Parasite" film by director Bong Joon Ho. The researcher use "Parasite" film as an object of research because researcher want to explore how the meaning of the audience of the social inequality shown between poor families and rich families in the "Parasite" film. The theoretical foundation used in this research is communication theory, and reception analysis theory. This research uses descriptive qualitative research with phenomenology method. Analysis of Reception according to Stuart Hall there are 3 meanings namely, dominant reading, negotiated reading, and oppositional reading. The results of the research show the meaning of the audience of the nine scenes of social inequality shown in the film "Parasite" is dominated by the dominant reading, which are means that the most of the scenes of social inequality are truly suitable with the real life reality in Indonesian society.Bagi sebagian negara termasuk Indonesia, masalah kemiskinan sudah menjadi salah satu masalah yang cukup serius. Dengan adanya masalah kemiskinan tersebut mengakibatkan timbulnya kesenjangan sosial yang sangat mencolok dimana sebagian warga masyarakat hidup dengan segala kelimpahannya, sedangkan sebagian warga masyarakat lainnya hidup dalam kekurangan serta ketidakcukupan. Kesenjangan sosial bukan hanya ditemukan di kehidupan masyarakat Indonesia, namun dapat ditemukan juga pada kehidupan masyarakat Korea Selatan seperti yang digambarkan dalam film “Parasite” oleh sutradara Bong Joon Ho. Peneliti menggunakan film “Parasite” sebgai objek penelitian karena peneliti ingin menggali bagaimana pemaknaan oleh khalayak terhadap kesenjangan sosial yang ditunjukkan antara keluarga miskin dan keluarga kaya pada film “Parasite”. Landasan teori yang digunakan pada penelitian ini yaitu teori komunikasi, dan teori analisis resepsi. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif dengan metode fenomenologi. Analisis Resepsi menurut Stuart Hall terdapat 3 pemaknaan yakni, pemaknaan dominan, pemaknaan negosiasi, dan pemaknaan oposisi. Hasil penelitian menunjukan pemaknaan khalayak dari kesembilan adegan kesenjangan sosial yang ditunjukkan pada film “Parasite” didominasi oleh pemaknaan dominan, yang berarti sebagian besar adegan kesenjangan sosial yang digambarkan sesuai dengan realita kehidupan nyata di masyarakat Indonesia.
Perilaku Konsumtif Penggemar Korean Wave di Twitter (Studi Tentang Fenomena Koleksi Photocard K-Pop) Devina Tanliana; Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 6, No 1 (2022): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v6i1.15549

Abstract

The entertainment industry is in great demand by all circles, including South Korea, bringing K-Pop to the world stage. The success of K-Pop has produced many fans in various parts of the world, including Indonesia. K-Pop can make fans as part of consumers or customers who loyally buy their music products. In recent years, the photocard collection phenomenon has been loved by K-Pop fans. A Photocard is a selfie photo of an idol on a card and is usually included in the album as a bonus. The social media Twitter is used by K-Pop fans as an information fulfillment on the trend of this collection. Having an extensive collection of Photocards causes the frequency of repeated purchases that lead to consumptive behavior. This study aims to describe the consumptive behavior that occurs on Twitter related to the phenomenon of photocard collection. Theoretical reviews used in this study are mass communication, new media, social media, uses and gratification theory, and consumptive behavior. To explore this phenomenon researcher used qualitative research approaches and phenomenological methods. Data were collection from in-depth interviews with four informants, participant observation and literature study. The results obtained indicate that Twitter is actively chosen as a medium for meeting the information needs of Photocard collection. Still, the impact of using Twitter has both positive and negative sides. Then, the motivation in doing the collection is based on the fulfillment of self-satisfaction that forms consumptive behavior.Industri hiburan sangat diminati semua kalangan, tak terkecuali negara Korea Selatan yang mampu membawa K-Pop ke kancah dunia. Kesuksesan K-Pop mencetak banyak penggemar di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. K-Pop dapat menjadikan penggemar sebagai bagian dari konsumen atau pelanggan yang dengan setia membeli hasil produk musiknya. Dalam beberapa tahun terakhir fenomena yang sedang digandrungi oleh penggemar K-Pop adalah koleksi Photocard yang merupakan gambar swafoto idola yang berbentuk kartu dan biasanya berada di dalam album sebagai bonus. Media sosial Twitter dimanfaatkan penggemar K-Pop sebagai pemenuhan informasi atas trend koleksi ini. Memiliki banyak koleksi Photocard menyebabkan frekuensi pembelian secara berulang yang menimbulkan perilaku konsumtif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perilaku konsumtif yang terjadi di Twitter terkait fenomena koleksi Photocard. Dalam pembahasannya, menggunakan komunikasi massa, new media, media sosial, teori uses and gratification, dan perilaku konsumtif. Untuk mendalami fenomena ini digunakan pendekatan penelitian kualitatif dan metode fenomenologi. Pengumpulan data diperoleh dari wawancara mendalam dengan empat informan, observasi partisipan dan studi kepustakaan. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa Twitter dipilih secara aktif sebagai media pemenuhan kebutuhan informasi koleksi Photocard, namun dampak penggunaan Twitter memiliki sisi positif dan negatif. Kemudian, motivasi dalam melakukan koleksi didasari pemenuhan kepuasan diri yang membentuk perilaku konsumtif.
Pemberitaan Kasus PT PLN (Persero) di Media Siber dan Penerapan Kode Etik Jurnalistik (Analisis Framing Pemberitaan Blackout Listrik 4 Agustus 2019 di Okezone.Com) Lavenia Lavenia; Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 3, No 2 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i2.6493

Abstract

The power blackout on 4th August 2019 in Banten, Jakarta, West Java, few areas of Central Java caused lots of impacts to citizens. This case is directly related to the public interest, so that the majority of mass media including cyber media reported related information. The purpose of this study is to describe how Okezone.com constructs controversial facts or issues to frame a story into news and to discuss how to apply the Journalistic Code of Ethics (KEJ) in framing the news. The theory used is news as media content as well as online media and journalism. This research is approaching qualitative descriptive with Zhongdang Pan and Gerald M. Kosicki framing model analysis method, the author then examines the application of KEJ clause 1 to 4 in the framing data of the related news. The results showed that Okezone.com framed the coverage of the August 4th, 2019 power blackout using the principle of covering both sides. Okezone.com packed controversial issues related to the point of view that cornered and lended negative public opinion to PLN. Then, Okezone.com was still quite good in applying KEJ clause 1 to 4, because only the rules of clause 2 are indicated to be ignored in the reporting of electricity blackout on August 4th, 2019. Peristiwa blackout listrik pada 4 Agustus 2019 di daerah Banten, Jakarta, Jawa Barat, hingga sebagian Jawa Tengah, menimbulkan banyak dampak yang dirasakan oleh warga. Kasus ini berkaitan langsung dengan kepentingan publik, sehingga sebagian besar media massa termasuk media siber memberitakan informasi terkait. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana Okezone.com mengkonstruksikan fakta atau isu yang kontroversial untuk membingkai suatu peristiwa menjadi berita serta untuk menggambarkan bagaimana aplikasi Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dalam pembingkaian beritanya. Teori yang digunakan adalah berita sebagai konten media serta media dan jurnalistik online. Pendekatan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan metode analisis framing model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki, lalu penulis mengkaji penerapan KEJ pasal 1 sampai dengan pasal 4 dalam data kerangka framing pemberitaan terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Okezone.com membingkai pemberitaan mengenai blackout listrik 4 Agustus 2019 dengan menerapkan prinsip cover both side. Okezone.com mengemas isu-isu kontroversial terkait dengan menonjolkan sudut pandang yang cenderung menyudutkan dan berpotensi menggiring opini publik negatif terhadap pihak PLN. Kemudian, Okezone.com masih cukup baik dalam menerapkan KEJ pasal 1 hingga pasal 4, karena hanya kaidah pasal 2 yang beberapa terindikasi diabaikan dalam pemberitaan blackout listrik 4 Agustus 2019.
Makna Satire Tersembunyi dalam Iklan (Analisis Semiotika Roland Barthes pada Iklan A Mild Versi Bukan Main) Stephen Jaufarry; Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 6, No 1 (2022): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v6i1.10434

Abstract

This research discusses the hidden meaning of satire in the Bukan Main version of A Mild advertisement. Today many social problems occur in Indonesian society, such as violations of rules and ethics that have been established by the community. Regarding these social problems, A Mild's product made an advertisement with the title Bukan Main to insult the Indonesian people who violated the rules. Based on this background, this research's problem formulation is how the meaning of satire is depicted in the Bukan Main version of A Mild advertisement. The research objective is to find out and describe the satire's meaning in the advert A Mild version of not playing. The theoretical review used is advertising, semiotics, and satire. This study using a qualitative approach with Roland Barthes' semiotic analysis. The meaning of satire is obtained from a multilevel meaning; this idea is known as the "order of signification," which includes denotation (real meaning) and connotation (multiple meanings) and then ends in myth. This study's results indicate myths such as not caring about others, not caring about the environment, not being disciplined, and problems with social status. The conclusion is that the Bukan Main version of A Mild's ad has a hidden satire meaning that people are still not aware of and behave following existing norms or regulations.Penelitian ini membahas tentang makna satire tersembunyi dalam iklan A Mild versi Bukan Main. Pada masa sekarang banyak terdapat masalah sosial yang terjadi di masyarakat Indonesia seperti pelanggaran aturan dan etika yang sudah ditetapkan oleh masyarakat. Melihat permasalahan sosial tersebut maka produk A Mild membuat iklan dengan judul Bukan Main untuk menyindir masyarakat Indonesia yang melanggar aturan. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana makna satire yang digambarkan dalam iklan A Mild versi Bukan Main. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan makna satire yang digambarkan dalam iklan A Mild versi Bukan Main. Tinjauan teoritis yang digunakan adalah periklanan, semiotika dan satire. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika Roland Barthes. Makna satire tersebut diperoleh dari pemaknaan bertingkat, gagasan ini di kenal dengan istilah order of signification yaitu yang mencakup denotasi (makna sesungguhnya) dan konotasi (makna ganda) lalu berujung pada mitos. Hasil penelitian ini menunjukan mitos seperti kurang peduli dengan orang lain, tidak peduli lingkungan, tidak disiplin, dan masalah status sosial. Kesimpulannya, dalam iklan A Mild versi Bukan Main terdapat makna satire tersembunyi bahwa masyarakat masih belum menyadari dan berperilaku sesuai dengan norma-norma atau peraturan yang ada.
Hambatan Komunikasi Antarbudaya Pekerja Asing yang Bekerja di Jakarta Reza Kristiani; Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 3, No 2 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i2.6370

Abstract

The developments in Indonesia, especially in the capital city of Jakarta, have now become one of the livelihood fields that interest foreign citizens. However, due to differences in citizenship, language and culture, foreign workers who work in Jakarta experience obstacles in communication in Indonesia. In addition, the flow of globalization in metropolitan cities such as Jakarta is developing rapidly, resulting in the diminishing culture of the people residing in this city. However, it cannot be denied that there are still a number of phenomena caused by cultural differences between foreign workers and the people of Jakarta. These barriers make a noneffective communication of foreign workers. This study uses a descriptive qualitative research with the phenomenological method. The theoretical foundation used in this research is communication theory, intercultural communication and intercultural communication barriers. The results showed, of the six barriers to intercultural communication put forward by Devito, only four barriers were experienced by foreign workers who worked in Jakarta, there are stereotypes, misinterpretations of the meaning of verbal and nonverbal messages, violations of customs and culture and culture shock. Whereas prejudice and ethnocentrism do not become obstacles for foreign workers because foreign workers have a more open mind in a new environment they occupy.Perkembangan yang terjadi di Indonesia, khususnya ibukota Jakarta saat ini menjadi salah satu lahan penghidupan yang diminati oleh para warga negara asing. Namun karena adanya perbedaan kewarganegaraan, bahasa, dan budaya, para pekerja asing yang bekerja di Jakarta mengalami hambatan dalam berkomunikasi di Indonesia. Di samping itu arus globalisasi di kota metropolitan seperti Jakarta berkembang dengan cepat, sehingga mengakibatkan kekentalan budaya masyarakat yang berada di kota ini menjadi semakin berkurang. Namun tak dapat dipungkiri bahwa masih terjadi beberapa fenomena yang diakibatkan oleh perbedaan budaya antara pekerja asing dan masyarakat Jakarta. Hambatan inilah yang membuat komunikasi para pekerja asing menjadi tidak efektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif dengan metode fenomenologi. Adapun landasan teoritik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori komunikasi, komunikasi antarbudaya dan hambatan komunikasi antarbudaya. Hasil penelitian menunjukan, dari enam hambatan komunikasi antarbudaya yang dikemukakan oleh Devito, hanya empat hambatan yang dialami oleh para pekerja asing yang bekerja di Jakarta, yakni stereotip, kesalahan pemaknaan arti pesan verbal dan nonverbal, terjadinya pelanggaran terhadap adat kebiasaan dan budaya serta gegar budaya. Sedangkan prasangka dan etnosentrisme tidak menjadi hambatan bagi para pekerja asing karena para pekerja asing memiliki pemikiran yang lebih terbuka dalam suatu lingkungan baru yang mereka tempati.
Konvergensi Media Baru dalam Penyampaian Pesan Melalui Podcast Sucin Sucin; Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 4, No 2 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i2.8113

Abstract

Technology that is increasingly developing in favor of new media, podcast. Malamkliwon is a podcast with a mystical theme based on the experience of the broadcastsand podcasts listeners. In its distribution the Malamkliwon podcast announcer tells a story that has been packaged as interestingas possible througha mediaplatform that is appropriateand close to the dailylife of the community, besidesthe steps of collaborating with third parties to become another effort in reaching listeners. With the development of Malamkliwon podcast technology also uses the concept of new media convergence in thedelivery of messages throughpodcasts.  This research uses a descriptivequalitative method, while the theoretical basis used is mass communication and media convergence. The results showed three things related to media convergence according to Jenskin which was implemented by the Malamkliwon podcast inthe form of audio and visual take and then making the process of adding certain effects, then building good communication with listeners throughsocial media Instagram nd the last direct message that is the content that will be raised to be brought in the podcast which can then the attract the listener’s interest to listen until it’s over. Media platforms that are utilized in message disguising are Spotify, YouTube and Instagram.Teknologi semakin berkembang mendukungadanya media baru yaitu podcast.  Malamkliwon merupakanpodcastyang mengangkat tema mistis berdasarkan pengalaman dari penyiar serta pendengar podcast. Dalam pendistribusiannya penyiarpodcastMalamkliwon menyampaikan cerita yang telah dikemas dengan semenarik mungkin melalui platformmedia yang sesuai dan dekat dengan keseharian masyarakat.Selain itu langkah melakukan kolaborasi dengan pihak ketiga menjadi upaya lain dalam menjangkau pendengar. Dengan berkembangnya teknologi podcast,Malamkliwon juga menggunakan konsep konvergensi dalam penyampaian pesan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konvergensi media baru dalam penyampaian pesan melalui podcast. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif.Landasan teori yang digunakanadalah komunikasi massa dan konvergensi media.Hasil penelitian menunjukkan tiga hal yang berkaitan dengan konvergensi media menurut Jenkins yang diterapkan oleh podcastMalamkliwon dalam upaya penyampaian pesan yaitu dengan pengolahan konten oleh penyiar berupa take audio maupun visual kemudian melakukan proses penambahan efek tertentu,selanjutnya membangun komunikasi yang baik dengan pendengar melalui sosial media Instagram dengan memberikan balasan terhadap komentar maupun direct message, terakhir yaitu isi konten yang akan diangkat untuk dibawakan dalam podcastdapat menarik minat pendengar untuk menyimak hingga usai. Platformmedia yang dimanfaatkan dalam penyampaian pesan adalah Spotify, YouTube dan Instagram.
Komunikasi Antarpribadi Ibu dan Anak Remaja Mengenai Penggunaan Internet (Studi Kasus Pada Keluarga Beretnis Tionghoa di Jakarta) Steven Steven; Samsunuwiyati Mar’at; Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v1i2.2044

Abstract

Komunikasi antarpribadi yang dilakukan seorang ibu kepada anak dapat dilihat dari kebudayaan yang dimiliki ibu tersebut. Kebudayaan dan pola asuh yang dialami ibu semasa kecil dapat mempengaruhi pola asuh dan komunikasi antarpribadi dalam mendidik anaknya. Penelitian ini membahas komunikasi antarpribadi ibu dan anak remaja mengenai penggunaan internet pada keluarga beretnis Tionghoa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan komunikasi antarpribadi ibu dan anak remaja mengenai penggunaan internet pada keluarga beretnis Tionghoa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara dengan tujuh narasumber, yaitu tiga informan ibu, tiga informan anak remaja, dan satu orang psikolog anak. Penulis mengumpulkan data berupa hasil wawancara dan melakukan observasi lapangan terhadap informan. Dari hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa kebudayaan ibu etnis Tionghoa dan pola pengasuhan ibu berkaitan erat dengan komunikasi antarpribadi mengenai penggunaan internet. Nilai tegas yang diterapkan pada keluarga beretnis Tionghoa tetap diwariskan kepada anak. Pola pengasuhan zaman dulu yang keras dan kolot sudah tidak diterapkan oleh ibu karena dianggap tidak tepat. Karakteristik komunikasi antarpribadi yang meliputi keterbukaan, empati, dukungan, rasa positif dan kesamaan memiliki peran yang besar dalam proses penyampaian pesan mengenai penggunaan internet kepada anak, disaat komunikasi tersebut sudah berjalan, maka menimbulkan kepercayaan dan kebebasan kepada anak dengan tidak melupakan nilai ketegasan dalam budaya Tionghoa.