Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Uji Toksisitas dan Gambaran Histologi Pankreas Mencit (Mus musculus) yang Diberikan Ekstrak Etil Asetat Ranting Puspa (Schima wallichii) sebagai Antidiabetes Lussy Carnellya Fitri; Nisa Febrianti; Liah Kodariah; Nindya Sekar Mayuri; Alfi Rumidatul
Jurnal Analis Kesehatan Vol. 14 No. 2 (2025): JURNAL ANALIS KESEHATAN
Publisher : Department of Health Analyst, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jak.v14i2.5350

Abstract

Diabetes melitus adalah penyakit kronis yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi atau kerja insulin. Tanaman puspa (Schima wallichii) berpotensi sebagai antidiabetes alami karena kandungan senyawa bioaktif flavonoid dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi toksisitas ekstrak etil asetat ranting S. wallichii serta pengaruhnya terhadap perbaikan histopatologi pankreas pada mencit diabetes. Penelitian eksperimental dengan pre-test dan post-test kelompok kontrol ini menggunakan 20 ekor mencit (Mus musculus) yang diinduksi aloksan, dibagi menjadi kelompok kontrol negatif, kontrol positif, dan kelompok perlakuan dengan dosis 98 mg/kgBB dan 196 mg/kgBB. Analisis data berat badan dan kadar gula darah menggunakan uji One-Way ANOVA, sedangkan histologi pankreas diamati dengan pewarnaan Hematoxylin-Eosin (HE). Uji toksisitas menunjukkan bahwa ekstrak ranting S. wallichii memiliki toksisitas rendah; tidak ditemukan kematian hewan uji, namun terlihat respons fisiologis ringan sementara berupa piloereksi (bulu mengembang) dan hiperaktif. Secara histologis, kelompok kontrol positif menunjukkan kerusakan pankreas signifikan berupa nekrosis dan degenerasi sel. Sebaliknya, pemberian ekstrak secara signifikan memperbaiki struktur histologi pankreas dibandingkan kontrol positif (p < 0,05), dengan perbaikan optimal dan pengurangan kerusakan sel terbesar terlihat pada dosis 196 mg/kgBB. Ekstrak etil asetat ranting S. wallichii relatif aman dan memiliki potensi terapeutik sebagai agen antidiabetes melalui mekanisme perbaikan jaringan pankreas pada mencit yang diinduksi aloksan.
Perbedaan Kadar Ureum dan Kreatinin pada Spesimen yang Ditunda 2 Jam dan Segera Diperiksa: Differences in Ureum and Creatinine Levels in Specimens Delayed for 2 Hours and Checked Immediately Divia Anisa; Liah Kodariah
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/gy9qft37

Abstract

Sample handling in obtaining blood serum during clinical chemistry examinations often differs between established procedures and reality. In reality, during examinations, samples that have been delayed for some time are still being examined. This incident actually does not comply with existing procedures. Delaying samples can affect serum quality. Incorrect blood sample handling will affect the results of the examination, which is related to the laboratory's internal quality, namely the pre-analytical stage. At this stage, errors can occur ranging from 46 to 68%. This study aims to determine the differences in urea and creatinine levels in specimens that are immediately examined and those that are delayed for 2 hours before being examined. The method used in this study was experimental, with a random sampling technique. The sample size was 30 Emergency Department patients. The examination method used the Jaffe method for creatinine and the urease-UV method for urea. After the study, the average urea and creatinine levels in the immediately examined specimens were 28.5 mg/dL and 1.1 mg/dL, respectively. Meanwhile, the urea and creatinine levels in the specimens delayed 2 hours before testing were 26.9 mg/dL and 0.9 mg/dL, respectively. There was a difference in urea and creatinine levels, with the specimens delayed 2 hours before testing having lower levels.