Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Work Safety and Health Principles (K3) in the Design of Workshop Center of Artificial Natural Stone in Gianyar, Bali A. A. Gde Dwika Digjaya Putra; I Nyoman Widya Paramadhyaksa; Ida Bagus Ngurah Bupala
Journal of A Sustainable Global South Vol 1 No 2 (2017): August 2017
Publisher : Institute for Research and Community Services Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.576 KB) | DOI: 10.24843/jsgs.2017.v01.i02.p03

Abstract

The embodiment of Balinese buildings is known to be synonymous with the use of natural stone materials which are exposed in such a way and not given additional dyes/coatings. The material used is usually in the form of bricks and sandstone. The center of the natural stone craftsman is a location of concentration of craftsmen who produce hand-crafted natural stone. The artificial natural stone craftsman center has a workshop used by artisans to produce crafts. In the production process, there is certainly a risk of workplace accidents that can be experienced by craftsmen. At the center must implement occupational safety and health to provide a sense of security and comfort in work. There are many work accidents caused by human factors, workplace accidents must be avoided so that the production of crafts can run smoothly. The risk of workplace accidents that can occur in craftsmen centers in the form of being injured by sharp objects, being hit by a hammer, or falling. The health of craftsmen is also an important factor in the production of artificial natural stones. Healthy craftsmen will be able to work productively and produce good quality craft items. The application of occupational safety and health is expected to be a solution in reducing the risk of workplace accidents that can occur in the production process. Index Terms— centers, craftsmen, accidents, health.
MAKNA FILOSOFIS KEBERADAAN ORNAMEN BEDAWANG NALA DI DASAR BANGUNAN MERU I Nyoman Widya Paramadhyaksa
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 20, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jf.3432

Abstract

AbstractThis study discusses philosophical meanings of bedawang nala ornaments found on foundation of meru buildings in Bali. The bedawang nala is an ornament in the form of giant turtle with fire tongue and one or two serpents coiling it. Qualitative-interpretativemethod is applied in the analysis. The results show that the bedawang nala ornament is related to the concept of Vadavamukha, the hell located at the bottom of Mount Meru, which supports the universe, and to the folklore of occurrence of earthquakes.Keywords: bedawang nala, meru.
DISAIN FASILITAS PENDUKUNG KAYEHAN DESA ALAS JERINGO DI DESA PEDAWA T. A. Prajnawrdhi; I. N. W. Paramadhyaksa; N. M. M. Mahastuti; M. W. Satria
Buletin Udayana Mengabdi Vol 20 No 1 (2021): Buletin Udayana Mengabdi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1053.979 KB) | DOI: 10.24843/BUM.2021.v20.i01.p06

Abstract

Kayehan Desa di Desa Pedawa merupakan sumber air dan fasilitas umum yang dipergunakan oleh seluruh lapisan masyarakt Pedawa. Kayehan desa yang berada pada daerah sumber air ditengah hutan ini memiliki kondisi yang masih belum layak dan susah ditempuh jika musim hujan. Dibawah kegiatan pengabdian masyarakat dalam skema PUU di tahun 2020, salah satu kayehan Desa yang bernama Kayehan Desa Alas Jeringo yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Tulisan ini akan menbahas tentan disain fasilitas pendukung yang dibutuhkan kayehan Desa Alas Jeringo sehingga dapat berfungsi dengan lebih optimal baik di musim kemarau maupun di musim hujan. Metode kualitatif yang melibatkan observasi lapangan, wawancara dan diskusi dipergunakan dalam menghasilkan konsep disain yang sesuai dan merupakan perpaduan dari ide perancang dan mampu mengakomodasi aspirasi masyarakat setempat. Analisis dilakukan dengan menggunakan SWOT analisis. Hasil memunjukkan bahwa disain yang sesuai untuk fasilitas pendukung Kayehan Desa Alas Jeringo ini menggunakan konsep arsitektur tropis dan disain arsitektur yang berkelanjutan sehingga fasilitas ini mampu memberikan keberlanjutan fungsi yang baik dan bisa dipergunakan oleh masyarakat setempat maupun pengunjung yang datang dalam jangka waktu panjang. Terlebih lagi, dengan konsep arsitektur tropis dan berkelanjutan, disain fasilitas penunjang tidak merusak lingkungan sekitarnya.
Variasi Pemanfaatan Tanah Pelaba Pura Dalem Di Desa Adat Kesiman, Denpasar Made Ratna Witari; I Nyoman Widya Paramadhyaksa; Ni Made Yudantini
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 1 (2020): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v35i1.1030

Abstract

Tanah pelaba pura merupakan salah satu bagian dari tanah adat. Eksistensi tanah pelaba pura memiliki arti penting dalam keberlangsungan desa adat yang merupakan kesatuan masyarakat hukum adat di Provinsi Bali. Tanah pelaba pura biasanya dimanfaatkan sebagai lahan pertanian atau perkebunan yang memiliki fungsi untuk menunjang upacara keagamaan di pura. Seiring perkembangan zaman, sebagian besar tanah pelaba pura di wilayah yang berkembang pesat mengalami perubahan pemanfaatan. Salah satu desa adat yang berada di Kota Denpasar dan memiliki tanah pelaba pura ialah Desa Adat Kesiman. Berdasarkan inventarisasi lahan yang dilakukan oleh Desa Adat Kesiman, maka dipilihlah tanah pelaba Pura Dalem untuk diteliti karena lahan tersebut lebih banyak mengalami perubahan pemanfaatan dibandingkan dengan tanah pelaba pura lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji variasi pemanfaatan tanah pelaba Pura Dalem yang ditinjau melalui aspek latar belakang dan pengelolaannya. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk dapat memahami fenomena tentang pemanfaatan tanah pelaba Pura Dalem pada tiga kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan cara studi literatur, observasi, dan wawancara. Hasil akhir penelitian menunjukkan ditemukan empat variasi pemanfaatan tanah pelaba Pura Dalem di Desa Adat Kesiman yaitu : (1) pemanfaatan lahan yang bersifat mandiri; (2) pemanfaatan lahan yang terbangun oleh pihak ketiga; (3) pemanfaatan lahan oleh pihak ketiga sebagai area pertanian; dan (4) pemanfaatan lahan sesuai proyeksi kebutuhan.
Tipologi dan Dinamika Wilayah Pesisir Padangbai di Kabupaten Karangasem I Putu Wahyu Wedanta Pucangan; Tri Anggraini Prajnawrdhi; I Nyoman Widya Paramadhyaksa
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 2 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2023.v10.i02.p01

Abstract

This study examines typologies and dynamics, disaster potential and development schemes for the Padangbai coastal area. Analysis within is based on primary and secondary spatial typologies. The results of the literary synthesis show that there is a link between coastal typologies and coastal dynamics, which are inseparable from potential disasters and coastal development. This study uses a qualitative method of descriptive analysis of both secondary data and data collected from field observations. The development of typologies for the Padangbai coastal area is divided into three stages. The first is the establishment of a man-made coastal typology. The second is the formation of beaches on cliffs due to erosion by sea waves. The third is the formation by sedimentation processes on the coast, namely sea deposition beaches. Coastal dynamics that occur in the Padangbai Coastal Area consist of two processes, namely anthropodynamics and hydrodynamics. Based on the typology of the wave erosion coast, potential forms of development for the Padangbai Coastal Area are accommodation for tourism, snorkelling, diving and water sports with a low level of disaster potential. The potential for development in the Padangbai Coastal Area based on the coastal typology of the marine deposition coast is the development of marine infrastructure (harbour) and tourism accommodation with high to low levels of disaster potential.Keywords: coastal; typology; dynamics; disaster AbstrakPenelitian ini mengkaji tipologi pesisir, dinamika pesisir, potensi bencana dan pengembangan pesisir di Wilayah Pesisir Padangbai. Analisisnya didasarkan pada tipologi keruangan primer dan sekunder. Hasil sintesa literatur didapat bahwa ada kaitan antara tipologi dan dinamika pesisir yang tidak terpisahkan dari potensi bencana serta pengembangannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif terdiri dari deskriptif dari data yang diperoleh dari data sekunder dan observasi lapangan. Pembentukan tipologi di Wilayah Pesisir Padangbai dapat dibagi menjadi tiga tahapan. Pertama adalah pembentukan tipologi pesisir buatan manusia. Kedua pembentukan wave erotion coast pada cliff , dan ketiga pembentukan oleh proses sedimentasi di pesisir yaitu marine deposition coast. Dinamika kepesisiran yang terjadi di Wilayah Pesisir Padangbai terdiri dari dua proses yaitu antropodinamik dan hidrodinamik. Potensi pengembangan di Wilayah Pesisir Padangbai berdasarkan tipologi pesisir wave erotion coast adalah akomodasi pariwisata, snorkeling, menyelam dan olahraga air dengan potensi bencana rendah. Potensi pengembangan di Wilayah Pesisir Padangbai berdasarkan tipologi pesisir marine deposition coast adalah pembangunan infrastruktur laut (pelabuhan) dan akomodasi pariwisata dengan potensi bencana tinggi-rendah.Kata kunci: pesisir; tipologi; dinamika; bencana
Kajian Tipologi Tembok Penyengker Puri Gede Kaba Kaba: Studi Ragam Hias Dan Nilai Budaya Agustina, Vina Nurika; Rachmanda Tyo Habibie; Muhammad Hendy Gymnastiar; Kadek Dwi Pradnya Aditya; I Nyoman Widya Paramadhyaksa; I Made Agus Julianto
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 5: Agustus 2025
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i5.10782

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tipologi tembok penyengker pada Puri Gede Kaba Kaba di Tabanan, Bali, yang memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi. Puri Gede Kaba Kaba, yang dibangun setelah ekspansi kerajaan Majapahit di Bali, mencerminkan pengaruh budaya Majapahit dalam arsitektur tradisional Bali, khususnya dalam penggunaan ragam hias pada tembok penyengker. Tembok ini tidak hanya berfungsi sebagai pembatas fisik antara area luar dan dalam puri, tetapi juga sebagai benteng pertahanan dan simbol keseimbangan energi positif, selaras dengan filosofi Tri Hita Karana. Melalui pendekatan arkeologis dan arsitektur, penelitian ini mengidentifikasi dan menganalisis tipologi serta makna ragam hias pada tembok penyengker, seperti Karang Boma, Monocle Cyclop, dan Sesuluran, yang mengandung nilai spiritual dan budaya yang mendalam. Selain itu, penelitian ini menyoroti pentingnya pelestarian Puri Gede Kaba Kaba sebagai cagar budaya yang melestarikan warisan arsitektur, tradisi, dan nilai-nilai spiritual Bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun banyak bagian tembok penyengker yang telah mengalami perubahan, beberapa elemen tetap mempertahankan keasliannya, menggambarkan ketahanan budaya Bali yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Unveiling Shared Meanings: A Symbolic Synthesis of Temple Pinnacle Ornaments Across Asia Ni Kadek, Ayu Lestari; I Nyoman Widya Paramadhyaksa; Ema Yunita Titisari; I Gusti Agung Bagus Suryada
International Journal of Environment, Architecture, and Societies Vol. 5 No. 02 (2025): Advancing Interdisciplinary Dialogues in Environment, Architecture, and Societ
Publisher : Institute of Research and Community Services of Universitas Tanjungpura and Center of Southeast Asian Ethnicities, Cultures and Societies (Joint collaboration between Universitas Tanjungpura and National Taitung University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hindu and Buddhist temples across Asia are renowned for their distinctive pinnacle ornaments, which, despite varying names and forms across regions, share a profound equality of symbolic meaning. This qualitative study employs a comparative approach, analyzing diverse architectural examples to uncover and interpret the underlying symbolic meanings of these ornaments on various Hindu and Buddhist temple structures in Asia, such as vat shrines in Cambodia, wa̋t in Thailand, mandir in India and Nepal, pagoda in Japan, and temple and meru in Indonesia and Bali. The findings show that (a) in the human body, the ornament at the top of the temple can be interpreted as the crown of the head element; (b) the ornament at the top of the temple can be interpreted as the top of the mountain; (c) the existence of the ornament at the top of the temple building can be compared to the heaven at the top of Mount Meru; and (d) the ornament at the top of the temple is realized as small, abstract motifs, and has four similar faces. These shared symbolic interpretations underscore a profound underlying cosmological and philosophical unity within Hindu and Buddhist architectural traditions across the Asian continent.
THREE LEVELS OF NATURE IN THE EMBODIMENT OF JAWI TEMPLE Andini, Ni Putu Ayu Mesa; Paramadhyaksa, I Nyoman Widya; Titisari, Ema Yunita; Suryada, I Gusti Agung Bagus
Border: Jurnal Arsitektur Vol. 7 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025 (IN PROGRESS)
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Architecture and Design, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jawi Temple as a relic of the Singasari Kingdom is vertically composed of three levels of buildings, namely the base, body, and roof which are terraced, tall and slender, and towering, resulting in the idea to conduct a study related to the symbolic meaning in the form of the three segments. This article is a summary of the results of qualitative research on the interpretation of the symbolic meaning of the three segments of the Jawi Temple building. The results of the study obtained show that (a) the three levels of the Jawi Temple building are interpreted as the feet, body, and top of the mountain; (b) the three levels of the Jawi Temple building are interpreted as the feet, body, and head of humans; (c) Jawi Temple contains symbolic meaning as the natural levels of Bhūrloka, Bhuvarloka, and Svarloka in Hinduism and the natural levels of Kamaloka, Rupaloka, and Arupaloka in Buddhism; (d) Jawi Temple is a symbolization of Mount Meru which has a foot, body, and peak which in its top area is the location of the Kingdom of Heaven; and (e) the four similar faces of Jawi Temple are symbolic of Cosmogony in Hinduism and the embodiment of Lord Brahmā.