Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

MELACAK AKAR RASIALISME DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF HISTORIS Muntholib, Abdul
Forum Ilmu Sosial Vol 35, No 2 (2008): December 2008
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/fis.v35i2.1288

Abstract

Chinese immigrant had settled in Indonesia long before the Europeans arrived, and quite significantChinese communities, engaged in commerce and mining enterprise, already existed before the 19th century.The most important factor was the region’s phenomenal economic development which offered opportunitiesthat were far more promising than in China. Chinese in Indonesia was minority; nevertheless they weremostly occupied in trade. This term, however, includes both commerce and industry, and covers everythingfrom peddlers to big businessmen. Contractual relations are increasing at the expense of trust relations;extreme individualistic competition, frugality, perseverance and the willingness to work long and hardare less emphasized than formerly, at least among the Peranakans. Historical evidence shows that mostly,Chinese businessmen build a good relationship with the state directly or indirectly, and if the currentcircumstance of Chinese prejudice arouse among the state, it could be the guidance to the depth of ruin.Keywords : Racialism, histories perspectives, ethnicity
GERAKAN PROTES SOSIAL PETANI DI JAWA PADA MASA KOLONIAL (DALAM PERSPEKTIF SEJARAH SOSIAL PEDESAAN) Muntholib, Abdul
Forum Ilmu Sosial Vol 36, No 1 (2009): June 2009
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/fis.v36i1.1331

Abstract

Movements of social politics protest in all its forms is not a new thing in the history of Indonesia. Social protest movement of farmers in Java does not belong to the past history, but a historical phenomenon that is always present in every period of time, both in the past, present, and future. It should be always to question whether the factors that cause social protest Javanese rural farmers who can be seen in terms of economic, political, and social in the social history of rural perspective in Java.Keywords: Social protest movements, social history, farmers in Java
Sejarah Undang-Undang Perkawinan Atas Pendapat Hingga Pertentangan dari Masyarakat dan Dewan Perwakilan Rakyat Tahun 1973-1974 Rifai, Ahmad; Sodiq, Ibnu; Muntholib, Abdul
Journal of Indonesian History Vol 4 No 1 (2015): JIH
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses terbentuknya UU Perkawinan No 1 Tahun 1974 berawal dari inisiatif pemerintah sendiri untuk membahasnya dilingkup DPR setelah sekian lama berbagai masukan silih berganti dari organisasi wanita untuk secepatnya dibuat UU perkawinan yang baru, proses tersebut memakan waktu hingga 7 bulan yaitu dari pemerintah menyerahkan hasil RUU perkawinan yang dibuat oleh DPRGR hingga sampai semua fraksi menyetujui pasal demi pasal yaitu dari 77 pasal menjadi 66 pasal. Namun banyak pertentangan antar fraksi yang terjadi saat akan disahkanya RUU perkawinan tersebut, dari fraksi Persatuan berpandangan bahwa RUU tersebut banyak yang bertentangan dengan ajaran Islam, dan ini juga didukung oleh sebagian masyarakat dan organisasi Islam untuk merevisi pasal-pasal tersebut. Fraksi lainya justru berpandangan lain seperti dari fraksi Karya yang menggangap RUU tersebut sudah pas untuk dijadikan UU Perkawinan karena sudah banyak menyoroti kaum perempuan untuk urusan berumah tangga, hal ini juga didukung oleh pemerintah dan fraksi ABRI, sedangkan fraksi PDI bersikap netral dan hanya menyoroti masalah poligami dan monogaminya saja. Setelah disahkan pada 2 Januari 1974 oleh pemerintah dampak yang terjadi adalah wanita memiliki hak dalam urusan berumah tangga terutama dalam hal poligami, perceraian dan poligami pun menjadi berkurang serta biaya untuk membayar pensiunan PNS yang poligami menjadi dapat ditekan, namun dari hal itu dampak lain juga bermunculan seperti banyaknya perkawinan sirri serta semakin banyaknya masalah sosial akibat dari susahnya poligami.
Pertempuran Empat Hari di Kota Surakarta Tahun 1949 Rahmawati, Sri Bulan; Muntholib, Abdul; Romadi, Romadi
Journal of Indonesian History Vol 5 No 1 (2016): Journal of Indonesian History (JIH)
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Revolusi tidak hanya terjadi di tingkat Nasional melainkan juga terjadi di tingkat lokal. Begitu banyak pergolakan dan pertempuan masyarakat Indonesia di daerah-daerah, terutama di Pulau Jawa. Kota Solo menjadi salah satu kota yang memiliki kisah pertempuran melawan Belanda dalam mempertahankan kemerdekaan pada Agresi Militer ke-II. Pertempuran Empat Hari di Kota Solo memiliki cerita yang membawa dampak positif dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Belanda yang ingin memperluas kekuasaan memasuki kota Solo pada 21 Desember 1948. Keinginan Belanda menguasai Kota Solo diperkuat dengan keadaan bahwa Kota Solo merupakan basis pertahanan militer setelah dipindahkannya ibukota Republik Indonesia ke kota Daerah Istimewa Yogyakarta. Melumpuhkan basis pertahanan militer adalah salah satu jalan untuk menaklukkan Indonesia. Anggapan yang di yakini oleh Jendral Spoor (pimpinan pasukan Belanda) tidak seperti yang diharapkannya. Kenyataannya semangat dari perjuang TP, TNI hingga masyarakat di Kota Solo dapat membalikkan keadaan. Strategi perang gerilya yang digunakan oleh Letkol Slamet Riyadi dan Mayor Achmadi dalam pertempuran membuat Belanda kewalahan. Kerjasama yang baik dari semua pihak membuat kota Solo berhasil mempertahakan kemerdekaan Indonesia. Selain sukses mempertahankan kemerdekaan di Kota Solo. Pertempuran yang dipimpin oleh Letkol Slamet Riyadi dan Mayor Achmadi ini menjadikan Tentara Indonesia disegani oleh dunia Internasional, karena mampu melumpuhkan pasukan Belanda dan membuat Belanda mengembalikan kekuasaan Kota Solo kepada Pemerintah RI perwakilan Kota Solo.
Perkembangan Komisi Pemilihan Umum Daerah Provinsi Jawa Tengah Sebagai Lembaga Penyelenggara Pemilihan Umum Tahun 2003-2008 Wijaya, Yakobus Riwi; Muntholib, Abdul
Journal of Indonesian History Vol 5 No 1 (2016): Journal of Indonesian History (JIH)
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perkembangan Komisi Pemilihan Umum Daerah Provinsi Jawa Tengah sebagai lembaga penyelenggara Pemilihan Umum. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahap, yaitu: heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Lingkup spasial dalam penelitian ini adalah Provinsi Jawa Tengah, sedangkan lingkup temporalnya mengambil tahun 2003 karena pada tahun tersebut KPUD Provinsi Jawa Tengah terbentuk dengan kepengurusan periode pertama dengan masa bakti baik dari para anggota dan Ketua komisioner KPUD Provinsi Jawa Tengah dari Hasyim Asy’ari ke Fitriyah karena masalah internal. Hasil dari penelitian ini adalah sejarah awal mula terbentuknya KPUD Provinsi Jawa Tengah tahun 2003, serta baik tugas, wewenang, kewajiban, serta hasil dari Pemilihan Legislatif (Pileg) 2004, dan Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2004 sebagai lembagan penyelenggara Pemilihan Umum (Pemilu) di wilayah Provinsi Jawa Tengah.
Dinamika Persatuan Sepak Bola Indonesia Kudus (Persiku) 1993-2005 Kurniawan, Andre; Jayusman, Jayusman; Muntholib, Abdul
Journal of Indonesian History Vol 6 No 1 (2017): Journal of Indonesian History (JIH)
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sepak bola merupakan cabang olahraga yang cukup popular di Indonesia. Hampir setiap daerah memiliki klub sepak bola sendiri, tidak terkecuali di Kabupaten Kudus. Persiku Kudus merupakan klub sepak bola yang berasal dari Kabupaten Kudus. Sebagai klub eks Perserikatan, Persiku Kudus tentu memiliki sejarah panjang di persepakbolaan nasional, akan tetapi sejarah tentang berdirinya hingga kiprahnya di kompetisi sepak bola Indonesia di kalangan penggemar sepak bola di Kudus masih menjadi simpang siur. Prestasi paling menonjol yang diraih Persiku Kudus adalah ketika berhasil menjadi runner up Divisi I 1993 sekaligus memastikan lolos ke Divisi Utama dan pada tahun 2005 ketika berhasil menjadi juara 1 Divisi II Nasional. Kurun waktu tahun 1993 hingga 2005, Persiku Kudus mengalami naik turun dalam eksistensi dan pencapaian prestasi.
Krisis Ekonomi di Banyumas 1930-1935 Sampai Perpindahan Pusat Pemerintahan dari Banyumas ke Purwokerto Tahun 1937 Arinda, Diska Meizi; Saraswati, Ufi; Muntholib, Abdul
Journal of Indonesian History Vol 6 No 1 (2017): Journal of Indonesian History (JIH)
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perpindahan pusat pemerintahan dari Banyumas ke Purwokerto diakibatkan oleh krisis ekonomi tahun 1930-1935, karena kemampuan kas keuangan pemerintah Kolonial Belanda yang tidak mampu lagi untuk membiayai anggaran ekonomi akibat krisis ekonomi era tahun 1930an. Tujuan dari penelitian ini (1) Bagaimana kondisi krisis ekonomi di Banyumas tahun 1930-1935, (2) mengetahui dampak krisis ekonomi di Banyumas tahun 1935-1937. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang mencakup empat hal yaitu, heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini mencakup studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumen. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perpindahan pusat pemerintahan dari Banyumas ke Purwokerto pada tahun 1937 diakibatknan oleh krisis ekonomi pada tahun 1930-1935 yang disebut dengan Malaise. Perpindahan pusat pemerintahan dari Banyumas ke Purwokerto memberikan dampak yang sangat baik karena yang sebelumnya berada di Banyumas dengan keadaan Banyumas yang terisolasi oleh pegunungan tidak berkembang.
Sejarah Transportasi Bus Esto dan Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Kota Salatiga Tahun 1923-1942 Setyowati, Eny; Purnomo, Arif; Muntholib, Abdul
Journal of Indonesian History Vol 6 No 1 (2017): Journal of Indonesian History (JIH)
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Munculnya kebijakan Pemerintah Hindia Belanda melalui Undang – Undang Agraria 1870 dan dibukanya jalur transportasi kereta api di pedalaman Jawa membuat industri perkebunan semakin berkembang di Indonesia salah satunya di Salatiga. Adanya hal tersebut meningkatkan kebutuhan sarana transportasi di Salatiga. Bus Esto merupakan angkutan umum masal pertama di Salatiga. Penelitian ini mengunakan metode penelitian sejarah, yang mencangkup empat langkah, yakni heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Teknik pengambilan data yang digunakan melalui studi dokumen, studi pustaka, observasi, dan wawancara.
Perkembangan Sosial Budaya Masyarakat Pemukiman Sompok Semarang Tahun 1906–1930 Dewi, Kurnia; Muntholib, Abdul; Suryadi, Andy
Journal of Indonesian History Vol 6 No 1 (2017): Journal of Indonesian History (JIH)
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemukiman Sompok di pilih oleh gemeente Semarang untuk mengatasi wabah penyakit menular yang menyebar di Semarang. Sompok dipilih karena wilayahnya bebas dari wabah penyakit menular. Pembangunan di Sompok dimulai dari pembebasan lahan, kemudian dibangun rumah percontohan. Karena warga semarang berminat menyewa rumah di Sompok, perencanaan pembangunan kembali dilakukan pada tahun 1916. Pembangunan di Sompok dilakukan pada tahun 1920. Kampung/gang dibelakang kawasan Sompok dibangun rumah yang lebih kecil bagi pejabat kelas rendah. Perkembangan sosial budaya masyarakatnya terlihat dari pola hidup yang awalnya tidak sehat menjadi hidup bersih dan sehat. Dahulunya warga mandi dan buang air di sembarang tempat, ketika tinggal di Sompok harus lebih rapi. Fasilitas mandi, cucui, kakus yang dibangun harus dijaga kebersihannya oleh penghuni Sompok. Pembangunan Sompok mengakibatkan perubahan dalam berbagai hal, mulai dari kebiasaan penghuninya hingga pengaruhnya kepada masyarakat Semarang.
Dinamika Produksi Beras dan Pengaruhnya Terhadap Ketahanan Pangan Masyarakat di Kabupaten Grobogan Tahun 1984-1998 Handani, Lisa Novia; Wasino, Wasino; Muntholib, Abdul
Journal of Indonesian History Vol 6 No 1 (2017): Journal of Indonesian History (JIH)
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Grobogan adalah kabupaten terluas ke-2 di Jawa Tengah setelah Cilacap. Sebagian besar wilayah Kabupaten Grobogan dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, terutama pertanian padi. Padi menjadi komoditas utama karena karakteristik yang unik, padi sebagai makanan pokok, dan harga jual mendukung. Pemerintah membangun KUD, penyuluh pertanian, dan subsidi pupuk. Produksi beras di Kabupaten Grobogan selalu meningkat setiap tahun, produksi tertinggi pada tahun 1998 dan masyarakat Kabupaten Grobogan dapat dikatakan tahan pangan.