Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

PENGARUH PROKRASTINASI AKADEMIK TERHADAP PERILAKU PLAGIARISME Lapebesi, Aldi Christian; Murti, Heru Astikasari Setya
Ristekdik : Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 10, No 9 (2025): RISTEKDIK: JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING - SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/ristekdik.2025.v10i9.920-933

Abstract

Plagiarisme merupakan fenomena umum yang sering dilakukan mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akademik, terutama ketika menghadapi keterbatasan waktu akibat prokrastinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh prokrastinasi akademik terhadap perilaku plagiarisme pada mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana yang menggunakan general AI. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain regresi sederhana. Partisipan penelitian berjumlah 135 mahasiswa. Pengumpulan data dilakukan melalui dua skala, yaitu Procrastination Assessment Scale Student (PASS) dan skala plagiarisme. Data dianalisis menggunakan uji regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prokrastinasi akademik berpengaruh signifikan terhadap perilaku plagiarisme (F=11,523; p=0,001; p0,05) dengan kontribusi sebesar 8% (R²=0,080). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat prokrastinasi akademik mahasiswa, semakin besar kecenderungan mereka melakukan plagiarisme.
Penerimaan Diri Ibu yang Tidak Memiliki Keturunan Natalie, Anugrah Thesalonika; Murti, Heru Astikasari Setya
Jurnal Psikologi Perseptual Vol. 10 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Fakultas of Psychology, Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v10i2.14968

Abstract

The pronatalist perspective in Indonesia society regards having children as a measure of marital success, which may lead to psychological pressure for women who are unable to conceive. Moreover, psychological support for addressing this issue remains very limited. This study aims to explore the process of self-acceptance among women without offspring. The research employed a qualitative method using an in-depth case study approach to comprehensively examine the participants’ background, conditions, and interactions with their environment. Participants were selected through purposive sampling. The findings revealed that all four participants were able to achieve full self-acceptance after undergoing the five stages of acceptance: denial, anger, bargaining, depression, and acceptance. The study highlights that family support, religious community, and spiritual beliefs have substantial impact on the process of self-acceptance. Strong social support and faith enabled participants to adapt, recover from emotional distress, and find meaning in life despite their inability to have children. The process of self-acceptance was found to have a positive impact on improving participants’ quality of life and inner peace. Pandangan masyarakat Indonesia yang pronatalis membuat keberadaan keturunan menjadi tolak ukur keberhasilan dalam pernikahan. Kondisi ini dapat menimbulkan tekanan psikologis pada ibu yang tidak memiliki keturunan. Selain itu, dukungan psikologis untuk mengatasi kasus ini masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana proses penerimaan diri pada ibu yang tidak memiliki keturunan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus mendalam (in depth study) yang bertujuan untuk mempelajari secara menyeluruh mengenai latar belakang, status, dan interaksi lingkungan partisipan. Partisipan dalam penelitian ini dipilih melalui purposive sampling. Hasil penelitian menyatakan bahwa keempat partisipan pada penelitian ini mampu menerima diri secara utuh dan mereka berhasil melewati lima fase penerimaan diri. Fase yang dilalui oleh keempat partisipan antara lain denial, anger, bargaining, depression, dan acceptance. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa dukungan keluarga, komunitas rohani, serta keyakinan spiritualitas memiliki dampak besar dalam proses penerimaan diri. Dukungan sosial dan keimanan yang kuat membuat partisipan mampu beradaptasi, bangkit dari keterpurukan, serta menemukan makna hidup meskipun tanpa keturunan. Proses penerimaan diri ini berdampak positif terhadap peningkatan kualitas hidup dan ketenangan batin partisipan.
HUBUNGAN REGULASI EMOSI DENGAN STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA DALAM PROSES PENYUSUNAN TUGAS AKHIR Angela, Fiona Ria; Murti, Heru Astikasari Setya
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8970

Abstract

Academic stress is a prevalent issue among university students, with prevalence rates in Indonesian ranging from 36.7% to 71.6%. This study aims to examine the relationship between emotion regulation and academic stress levels among students at Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) during the undergraduate thesis writing process. This study employed a quantitative non-experimental method with a correlational design, involving 200 students recruited via snowball sampling technique. Emotion regulation was measured using the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), while academic stress was measured using the Perception of Academic Stress Scale (PASS). The results indicated a significant but very weak positive relationship between emotion regulation and academic stress (r = 0.178; p = 0.012; R² = 0.032). This suggests that emotion regulation accounts for only 3.2% of the variance in academic stress, implying that other factors play a more dominant role. These findings indicate that in the context of thesis writing, emotion regulation alone is insufficient to serve as an effective stress buffer. Therefore, psychological interventions should not solely focus on emotion regulation but also on reducing the stressors themselves, for instance, through improving supervision quality and enhancing task management processes. ABSTRAK Stres akademik merupakan persoalan umum yang sering dialami oleh mahasiswa, dengan angka prevalensi mencapai 36,7% - 71,6% di Indonesia. Penelitian ini bertujuan menguji bagaimana hubungan antara regulasi emosi dan tingkat stres akademik pada mahasiswa di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dalam proses penyusunan tugas akhir. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional, melibatkan 200 mahasiswa yang dikumpulkan menggunakan teknik snowball sampling. Pengukuran variabel regulasi peneliti menggunakan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) sedangkan stres akademik diukur menggunakan Perception of Academic Stress Scale (PASS). Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan positif yang signifikan, namun sangat lemah antara regulasi emosi dan stres akademik (r = 0,178; p = 0,012; R² = 0,032). Hal tersebut menunjukan bahwa regulasi emosi hanya memberikan sumbangan efektif sebesar 3,2% terhadap tingkat stres akademik, sementara faktor lain memiliki peran yang lebih dominan. Temuan ini mengindikasikan bahwa dalam situasi penyusunan tugas akhir, regulasi emosi semata tidak berpengaruh besar sebagai peredam stres. Oleh karena itu intervensi secara psikologis alangkah lebih baik tidak hanya berfokus pada regulasi emosi, tetapi juga pada pengurangan sumber stresor, misalnya melalui peningkatan pada kualitas bimbingan serta proses manajemen tugas yang lebih baik.    
Hubungan antara Sibling Relationship dengan Academic Performance pada Mahasiswa Murti, Heru Astikasari Setya; Pandoi, Mariana Medelin Valera
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v15i3.12707

Abstract

This study aims to examine the relationship between sibling relationships and academic performance in university students. Sibling relationships involve social, emotional, and cognitive interactions between siblings that can influence various aspects of life, including academic achievement. This research employs a correlational quantitative approach, involving 380 university students who have siblings. Data collection was conducted using the Lifespan Sibling Relationship Scale (LSRS) questionnaire and academic data based on the Cumulative Grade Point Average (GPA). Data analysis using the Spearman Rho test indicated no significant relationship between sibling relationships and academic performance (r = 0.009, p > 0.05). The findings suggest that the quality of sibling relationships does not have a significant impact on students' academic performance. These results provide insight that, although sibling relationships may contribute to emotional and social development, external factors have a greater influence on academic performance. A recommended suggestion is to explore other dominant factors that more significantly affect students' academic performance.
Kematangan Emosi dan Forgiveness pada Remaja Akhir Perempuan yang Mengalami Putus Cinta akibat Perselingkuhan Hendrika, Eirine Chatrin; Soetjiningsih, Christiana Hari; Murti, Heru Astikasari Setya
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v15i3.12625

Abstract

This study aims to examine the relationship between emotional maturity and forgiveness among late-adolescent females who experienced breakups due to infidelity. A quantitative correlational approach was employed, involving 114 female university students aged 18–21 who had experienced infidelity in romantic relationships. The instruments used were the Emotional Maturity Scale (EMS) and the Transgression-Related Interpersonal Motivations (TRIM-18). The findings revealed a significant positive relationship between emotional maturity and forgiveness. These results indicate that individuals with higher emotional maturity tend to have a greater capacity to forgive. The study highlights the importance of developing emotional maturity to support emotional healing in young women after breakups caused by infidelity.
Hubungan Antara Keterampilan Metakognitif dan Kemampuan Berpikir Kritis pada Siswa SMP Wardhani, Andriana Stevianggi Kusuma; Murti, Heru Astikasari Setya
EduInovasi:  Journal of Basic Educational Studies Vol. 6 No. 1 (2026): EduInovasi:  Journal of Basic Educational Studies
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the relationship between metacognitive skills and critical thinking ability among junior high school students. The main focus of the study is to identify how metacognitive skills, as a form of awareness and self-regulation in thinking, contribute to students’ critical thinking ability during early adolescence. The study employed a quantitative approach with a correlational research design. The participants consisted of 42 junior high school students aged 12–15 years from Tengaran District, selected using purposive sampling. Data were collected using two standardized instruments: the Metacognitive Skills Scale (27 items; α = 0.977) and the Critical Thinking Scale based on Facione’s theory (20 items; α = 0.970). Data analysis was conducted using Spearman’s correlation test due to non-normal data distribution. The results revealed a very strong positive relationship between metacognitive skills and critical thinking ability (r = 0.894; p < 0.01). These findings indicate that the higher students’ ability to plan, monitor, and evaluate their thinking processes, the higher their critical thinking ability. The results emphasize the importance of implementing metacognitive-based learning strategies, such as self-reflection, learning monitoring, and guided discussion, to enhance students’ critical thinking skills at the junior high school level. This study contributes empirical evidence to the field of cognitive psychology by affirming the role of metacognition as a key predictor of critical thinking in early adolescence and provides a conceptual foundation for the development of 21st-century learning interventions.  
HUBUNGAN METAKOGNISI DAN PROBLEM SOLVING MATEMATIKA PADA SISWA SMP Putri, Agatha Vinika; Murti, Heru Astikasari Setya
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.10810

Abstract

This study is motivated by the importance of metacognitive skills in supporting junior high school students’ mathematical problem-solving abilities, particularly during early adolescence, a developmental stage characterized by rapid cognitive growth. The aim of this study is to examine the relationship between metacognitive skills and problem-solving abilities among junior high school students. This research employs a quantitative method with a correlational approach, involving 57 junior high school students aged 12–15 years. Data were collected using metacognitive skills and problem-solving scales that had been tested for validity and reliability, and were analyzed using descriptive statistics and Spearman’s correlation test due to non-normally distributed data. The results indicate a very strong and significant positive relationship between metacognitive skills and students’ problem-solving abilities, with a correlation coefficient of r = 0.894 and a significance value of p < 0.01. Descriptive analysis further reveals that the majority of students fall into the moderate category for both metacognitive skills and problem-solving abilities. These findings suggest that metacognitive skills play a crucial role in helping students understand problems, plan strategies, and evaluate the problem-solving process. The implications of this study highlight the importance of integrating metacognitive skill development into junior high school learning processes to enhance students’ problem-solving abilities optimally. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya keterampilan metakognitif dalam mendukung kemampuan problem solving matematika siswa SMP, terutama pada fase remaja awal yang ditandai dengan perkembangan kemampuan berpikir yang pesat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keterampilan metakognitif dan kemampuan problem solving pada siswa SMP. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Subjek penelitian berjumlah 57 siswa SMP dengan rentang usia 12–15 tahun. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala keterampilan metakognitif dan skala problem solving yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan uji korelasi Spearman karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang sangat kuat dan signifikan antara keterampilan metakognitif dan kemampuan problem solving siswa, dengan koefisien korelasi sebesar r = 0,894 dan nilai signifikansi p < 0,01. Hasil analisis deskriptif juga menunjukkan bahwa sebagian besar siswa berada pada kategori sedang baik dalam keterampilan metakognitif maupun kemampuan problem solving. Temuan ini mengindikasikan bahwa keterampilan metakognitif berperan penting dalam membantu siswa memahami masalah, merencanakan strategi, serta mengevaluasi proses penyelesaian masalah. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan keterampilan metakognitif perlu menjadi perhatian dalam proses pembelajaran di SMP guna meningkatkan kemampuan problem solving siswa secara optimal.