Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH CAMPURAN PELARUT AQUADES-ETANOL TERHADAP KARAKTERISTIK EKSTRAK BETASIANIN DARI KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) Nurbaya, Syarifa Ramadhani; Putri, Widya Dwi Rukmi; Murtini, Erni Sofia
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 19, No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.747 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtp.2018.019.03.2

Abstract

Pewarna makanan alami tidak menimbulkan efek samping bagi kesehatan. Kulit buah naga merah merupakan sumber pigmen betasianin yang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna makanan alami. Proses ekstraksi diperlukan untuk memisahkan komponen pigmen betasianin dengan komponen bahan lainnya. Ekstraksi menggunakan pelarut aquades atau etanol saja dapat menghasilkan kadar betasianin yang rendah. Menggunakan campuran pelarut aquades dengan etanol dalam proses ekstraksi bertujuan untuk memperbaiki karakteristik ekstrak. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor, yaitu rasio jenis pelarut. Jenis pelarut yang digunakan adalah aquades dan etanol dengan perbandingan 100:0, 80:20, 60:40, 40:60, 20:80, dan 0:100 (v/v). Perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan rasio aquades dibanding etanol 20:80 (v/v) dengan karakteristik kadar betasianin 99.27 mg/L, kadar pektin 0.48%, nilai kecerahan (L) 35.03, nilai kemerahan (a+) 49.78, nilai kekuningan (b+) 14.70, sudut hue 14.02, dan nilai viskositas 2.25 cP. Ekstrak pigmen dari kulit buah naga merah yang diekstraksi menggunakan pelarut aquades-etanol berpotensi digunakan sebagai pewarna makanan alami
PEMANFAATAN TEPUNG AMPAS KELAPA DALAM PEMBUATAN FLAKES CEREAL (KAJIAN PROPORSI TEPUNG AMPAS KELAPA: TEPUNG BERAS) Sabilla, Nurrahmah Fitra; Murtini, Erni Sofia
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 21, No 3 (2020)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.496 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtp.2020.021.03.2

Abstract

ABSTRAK Ampas kelapa merupakan hasil samping pengolahan santan kelapa yang pemanfaatannya masih terbatas. Nilai nutrisi ampas kelapa yang cukup baik membuatnya berpotensi untuk diolah menjadi produk pangan sarapan, yaitu flakes cereal. Ampas kelapa yang digunakan dapat meningkatkan kandungan serat flakes. Penggunaan tepung ampas kelapa dalam pembuatan flakes dikombinasikan dengan tepung beras putih. Penelitian bertujuan untuk mengetahui proporsi penggunaan tepung ampas kelapa: tepung beras yang tepat dalam pembuatan flakes dan pengaruhnya terhadap daya patah, tingkat rehidrasi dalam media saji, kadar air, kadar serat kasar, kadar protein, dan kadar lemak, serta untuk mendapatkan perlakuan terbaik dari parameter tersebut. Penelitian menggunakan desain Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor perlakuan berupa proporsi penggunaan tepung ampas kelapa: tepung beras yang terdiri dari 6 level (80:20, 70:30, 60:40, 50:50, 40:60, 30:70) dengan 5 kali pengulangan. Data yang didapatkan dianalisa dengan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji lanjut BNT dengan selang kepercayaan 95%. Flakes perlakuan terbaik berdasarkan karakteristik fisik dan kimia ditentukan dengan metode Multiple Attribute Decision Making. Perhitungan nilai AKG dilakukan terhadap flakes perlakuan terbaik. Flakes perlakuan terbaik terbuat dari 80% tepung ampas kelapa dan 20% tepung beras, memiliki nilai daya patah sebesar 0,14±0,05 N, tingkat rehidrasi dalam media saji sebesar 61,67±0,98%, kadar air sebesar 3,4±0,26%, kadar serat kasar sebesar 12,12±0,78%, kadar protein sebesar 6,30±0,16%, kadar lemak sebesar 25,29±1,20%, kadar abu sebesar 1,95±0,18%, dan kadar karbohidrat sebesar 63,06±1,11%. Nilai AKG flakes perlakuan terbaik dalam satu takaran saji (30 g) adalah 11% lemak total, 3% protein, 6% karbohidrat total, 12% serat pangan tak larut, dengan nilai energi total sebesar 150 kkal. Kata Kunci: Flakes Cereal; Proporsi Tepung; Tepung Ampas Kelapa; Tepung Beras ABSTRACT Coconut dregs is a byproduct of coconut milk processing and its use is still limited. The good nutritional value of coconut dregs makes it potential to be processed into breakfast food, specifically cereal flakes. Coconut dregs can increase the fiber content of flakes. The use of coconut dregs flour combined with white rice flour. The objective of this research was to find the right proportion of coconut dregs flour:rice flour in producing cereal flakes and their effect on fracturability, rehydration, moisture content, crude fiber content, protein content, and fat content of flakes, also to obtain the best treatment of those parameters. This research used Randomized Block Design with 1 factor, the proportion of coconut dregs flour:rice flour in 6 differents level (80:20, 70:30, 60:40, 50:50, 40:60, 30:70) with 5 replications. The data were subjected to analysis of variance (ANOVA) and further tested by LSD test with 95% confidence interval. The best treatment results based on the physical and chemical characteristic of flakes was obtained by Multiple Attribute Decision Making method. The Recommended Dietary Allowance (%RDA) was calculated to the best treatment flakes. The best treatment was found in the flakes made with the proportion of 80% coconut dregs flour and 20% rice flour. The best flakes have the characteristics of 0,14±0,05 N fracturability, 61,67±0,98% rehydration, 3,4±0,26% water content, 12,12±0,78% crude fiber content, 6,30±0,16% protein content, 25,29±1,20% fat content, 1,95±0,18% ash content, and 63,06±1,11% carbohydrate content. The %RDA of the  best treatment flakes in one serving size (30 g) are 11% total fat, 3% protein, 6% total carbohydrate, 12% insoluble dietary fiber, and 150 kcal total energy. Key words: Cereal flakes, Coconut Dregs Flour, Flour Proportion, Rice Flour
PENGARUH SUHU AIR YANG DITAMBAHKAN TERHADAP KUALITAS DONAT KENTANG Yunindya, Rizka Prima; Murtini, Erni Sofia
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 21, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.388 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtp.2020.021.02.3

Abstract

ABSTRAK Donat umumnya berbahan baku terigu, namun adakalanya ditambahkan kentang kukus lumat yang biasa disebut donat kentang. Suhu air yang digunakan dalam pembuatan donat kentang oleh masyarakat sangat bervariasi, mulai dari air es sampai air hangat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu air terhadap kualitas donat kentang dan mendapatkan suhu air untuk menghasilkan donat kentang dengan volume pengembangan optimum. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor yaitu suhu air (5, 13,75, 22,5, 31,25 dan 40oC) diulang 3 kali. Donat kentang dibuat dengan menambahkan kentang lumat sebanyak 40% (b/b terigu) dalam formula, dicampur hingga terbentuk adonan, diistirahatkan, dibulatkan per 30g, difermentasi, dan digoreng. Kualitas donat berupa volume spesifik, daya serap minyak, jumlah dan luasan pori serta profil tekstur dianalisis. Data diolah menggunakan ANOVA dan bila menujukkan beda nyata (α=5%) dilanjutkan uji BNT (Beda Nyata Terkecil)α=5%. Suhu air optimum ditentukan dengan menggunakan Response Surface Methodology (RSM) One Factor model kuadratik dengan variabel bebas suhu air (X1) dan variabel respon volume pengembangan (Y1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu air berpengaruh nyata terhadap volume spesifik, daya serap minyak dan jumlah pori; namun tidak mempengaruhi tekstur dan luasan pori. Hasil verifikasi RSM menunjukkan bahwa suhu air yang ditambahkan sebesar 24,7oC pada pembuatan donat kentang memberikan respon volume pengembangan yang maksimum sebesar 155,94%. Donat tersebut memiliki  kadar air 28,35%; abu 0,69%; protein 8,30%; lemak 17,68%; karbohidrat 44,97%; total gula 14,67%; serat kasar 5,57%; volume spesifik 4,39 cm3/g; densitas kamba 0,23 g/cm3; daya serap minyak 10,66%; hardness 131,45 N; cohesiveness 0,81; springiness 4,40 mm. Kata Kunci: Donat; Kentang; Optimasi; Suhu Air  ABSTRACT Donut is generally made from wheat flour, however it can be added other materials such as mashed potatoes to create potatoes donut. People use various ingredients formulation to make it, including variations in temperature of added water, from cold to warm water. This research aims to discover how the temperature of the added water affects the donut quality as well as the optimum temperature resulting to the maximum volume of the donut. The experiment uses Randomized Complete Design using one factor, temperature of added water (5; 13.75; 22.5; 31.25; and 40oC), with three time replications. Potatoes donut is made by adding 40% mashed potatoes (w/w of wheat flour) to the formula, mixed to form dough, rested, rounded per 30g, proofed and fried. The quality parameters of donut such as specific volume, oil absoption, pores number and texture profile are analyzed. Afterwards, the data acquired will be processed by using ANOVA and LSD (Least Significant Difference) at α = 5%. Optimum temperature will be determined using One Factor RSM (Response Surface Methodology) where X1 interprets independent variable, temperature of added water and Y1 interprets response variable, rising volume. The results indicate that added water temperature significantly affects the donut’s specific volume, oil absorption capacity, and  total pores. Insignificant effect, however, is experienced by texture profile and pores area. RSM verification result suggests that added water at 24,7oC results to 155.94% of increasing volume which is the optimum response. In addition, the donut has 28.35% of water content, 0.69% of ash content, 8.3% of protein, 17.68% of fat, 44.97% of carbohydrate, 14.67% of total sugar, 5.57% of crude fiber, specific volume of  4.39 cm3/g, bulk density of 0.23 g/cm3, oil absorption capacity of 10.66%, hardness of 131.45 M, cohesiveness of 0.81, springiness of 4.4 mm.  Keywords: Donut, Potato; Optimazion; Water Temperature
OPTIMIZATION OF EDIBLE FILM FORMULA BASED ON MAIZENA, CARRAGEENAN, AND RICE BRAN FOR HAND CANDY PACKAGING Purwoto , Heri; Ismawanti , Ratih Dwi; Harianto, Harianto; Djafar , M. Jusuf; Putri , Widya Dwi Rukmi; Murtini , Erni Sofia
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 14 No. 3 (2020): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : Deputi TIRBR-BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mipi.v14i3.4032

Abstract

Plastic packaging has dominated the waste, and the number is increasing every year. Candy plastic packaging waste is most often considered trivial because of its small size, so it is usually disposed of carelessly. Due to its non-biodegradable, it causes environmental pollution. Edible film packaging is an alternative to reduce the impact of candy packaging waste pollution. The purpose of this study was to obtain the optimum formula of the edible film between corn starch, carrageenan, and rice bran as a hard candy packaging with the Response Surface Methodology (RSM) Central Surface Composite Design using the Design Expert 10.0.7. The prediction data obtained is then verified and tested by t-test at a 5% reliance interval.The optimum formulation of RSM results is 3.4% of corn starch, 1.1% of carrageenan and 0.38% of rice bran with predicted response of water content of 14.51%, WVTR 61,06 g/m2/hour, viscosity of 258.8 cP, tensile strength of 107.9 kgf/cm2, elongation of 19.41%, and modulus of response young 586.28 kgf/cm2. The verification of the optimum formula had a moisture content of 14.37%, WVTR 63.34 g/m2/hour, viscosity of 244.9 cP, tensile strength of 96.9 kgf/cm2, elongation of 20.96%, and young modulus of 462.49 kgf/cm2. Key Words : Corn starch; Carrageenan; Rice bran; Formula optimization; Edible film; Hard candy  
Karakteristik (Total Flavonoid, Total Fenol, Aktivitas Antioksidan) Ekstrak Serbuk Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) Prayitno, Sutrisno Adi; kusnadi, joni kusnadi; Murtini, Erni Sofia
Food Science and Technology Journal (Foodscitech) Vol 1 No 2 (2018)
Publisher : Universitas Dr Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.592 KB) | DOI: 10.25139/fst.v1i2.1355

Abstract

Sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) merupakan tanaman yang tumbuh di Indonesia yang memiliki manfaat sebagai tanaman herbal. Manfaat daun sebagai tanaman herbal karena memiliki senyawa aktif yang dapat digunakan sebagai senyawa dalam metabolisme di dalam tubuh tumbuhan. Senyawa aktif tersebutdapat dianalisis dengan berbagai cara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan total flavonoid, total fenol dan aktivitas antioksidan (IC50) ekstrak etanol daun sirih merah. Ektraksi daun sirih merah dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 50 dan 70%. Analisis total flavonoid dan kandungan total fenol dilakukan dengan metode Folin ciocalteau, sedangkan aktivitas antioksidan ditentukan menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukan bahwa senyawa total flavonoid dari ekstrak etanol50% berkisar 155,27 mg QE/g, sedangkan kandungan total fenol sebesar 142,56 mg GAE/g. Pada ekstrak etanol 70% total flavonoid sebesar 168,33 mg QE/g dan total fenol sebesar 157,61 Mg GAE/g. Adapun rata–rata aktivitas antioksidan (IC50) pada ekstrak etanol 50% adalah 132,52 ppm dan pada ekstrak etanol 70%sebesar 129,11 ppm.
APLIKASI METODE OSMOSIS PADA PEMBUATAN SARI BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) DENGAN TAMBAHAN PEWARNA BUNGA MEXICAN PETUNIA (Ruellia simplex) Tiara, Eta Imeida; Murtini, Erni Sofia
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 22, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.18 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtp.2021.022.02.7

Abstract

                                              ABSTRAK Belimbing wuluh dapat dimanfaatkan menjadi sari buah dengan metode ekstraksi osmosis. Namun, warna sari buah belimbing wuluh kurang menarik sehingga perlu ditambahkan pewarna alami yang berasal dari bunga Mexican petunia yang mengandung antosianin. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh proporsi buah : bunga dan lama osmosis untuk mendapatkan sari buah belimbing wuluh yang baik secara fisik, kimia dan organoleptik. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial. Faktor I yaitu proporsi buah:bunga (25:1); (25:2); (25:3) dan faktor II yaitu lama osmosis (6, 12, dan 18 jam) dengan 3 kali ulangan. Perlakuan terbaik dilakukan menggunakan metode pembobotan (Zeleny). Perlakuan terbaik ada pada sari buah belimbing wuluh dengan proporsi buah : bunga (25:1) dan lama osmosis 12 jam dengan vitamin C 16,35 mg/ml; antioksidan 57,99 ppm; total gula 9,63%; nilai kecerahan (L*) 48,0 dan nilai kemerahan 14,6. Hasil organoleptik untuk perlakuan terbaik adalah kesukaan warna 2,85 (agak suka); kesukaan rasa 3,075 (agak suka); tingkat kesukaan aroma 2,83 (agak suka); dan tingkat kesukaan kenampakan 2,95 (agak suka)                                                    ABSTRACT Belimbing Wuluh is a fruit that has not been fully utilized, so it is necessary to process belimbing wuluh into fruit juice using osmotic extraction. The color of belimbing wuluh juice is less attractive, so Mexican petunia flowers is needed to be added as natural colorant because of anthocyanin content. The purpose of this study are to determine the effect of fruit proportion: flowers and duration of optimal osmotic in order to produce belimbing wuluh juice with good quality. The design experiment used in this research was Randomized Block Design (RAK) Factorial. Factor I is the addition of fruit proportion: flowers (25:1); (25:2); (25:3) and factor II is osmotic time (6, 12, and 18 hours). The best treatment was done using the weighting method (Zeleny).The best belimbing wuluh fruit juice had vitamin C 16,35 mg / ml; antioxidant 57.99 ppm; total sugar 9.63%; brightness value (L*) of 48,0 and redness value of 14.6. The organoleptic results for the best treatment were color preference 2.85 (slightly like); taste preference 3,075 (slightly like); aroma preference level 2.83 (slightly like); and the level of preference for the appearance is 2.95 (slightly like)
Karakteristik (Total Flavonoid, Total Fenol, Aktivitas Antioksidan) Ekstrak Serbuk Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) Prayitno, Sutrisno Adi; kusnadi, joni kusnadi; Murtini, Erni Sofia
Food Science and Technology Journal (Foodscitech) Vol. 1 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Dr Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.592 KB) | DOI: 10.25139/fst.v1i2.1355

Abstract

Sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) merupakan tanaman yang tumbuh di Indonesia yang memiliki manfaat sebagai tanaman herbal. Manfaat daun sebagai tanaman herbal karena memiliki senyawa aktif yang dapat digunakan sebagai senyawa dalam metabolisme di dalam tubuh tumbuhan. Senyawa aktif tersebutdapat dianalisis dengan berbagai cara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan total flavonoid, total fenol dan aktivitas antioksidan (IC50) ekstrak etanol daun sirih merah. Ektraksi daun sirih merah dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 50 dan 70%. Analisis total flavonoid dan kandungan total fenol dilakukan dengan metode Folin ciocalteau, sedangkan aktivitas antioksidan ditentukan menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukan bahwa senyawa total flavonoid dari ekstrak etanol50% berkisar 155,27 mg QE/g, sedangkan kandungan total fenol sebesar 142,56 mg GAE/g. Pada ekstrak etanol 70% total flavonoid sebesar 168,33 mg QE/g dan total fenol sebesar 157,61 Mg GAE/g. Adapun rata–rata aktivitas antioksidan (IC50) pada ekstrak etanol 50% adalah 132,52 ppm dan pada ekstrak etanol 70%sebesar 129,11 ppm.
Inovasi Rengginang Sebagai Pangan Sumber Serat dengan Penambahan Rumput Laut Undari pinnatifida: Inovation of Rengginang as Food Source of Fiber with The Addition of Undaria pinnatifida Seaweed Istiqomaturrosyidah Istiqomaturrosyidah; Erni Sofia Murtini
Pro Food Vol. 7 No. 1 (2021): Pro Food (Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan)
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/profood.v7i1.169

Abstract

Abstract Rengginang is a traditional Indonesian food that made from steamed glutinous rice, formed into round plates, dried and then fried. Rengginang can be modern food as a source of fiber with the adding of seaweed. The purpose of this study was to determine the effect of the subtitution of seaweed on the physical, chemical, and organoleptic quality of rengginang and to determine the concentration of seaweed which can make rengginang as a source of fiber. This research was conducted by using Randomized Block Design (RAK) with single factor that is subtitution of seaweeds with concentration 0, 5, 10, 15, 20, and 25%. The best treatment of rengginang was obtained from the subtitution of 15% seaweed with water content 10.94% (bk), evaporation of water 4.38%, and volume development 112.73%, and hedonic value which includes color 5.50; aroma 6,10; taste 6.00; and texture 5,7 Abstrak Rengginang merupakan makanan tradisional Indonesia yang terbuat dari beras ketan yang dikukus, dibentuk lempengan bulat, dikeringkan kemudian digoreng. Penambahan bahan dari rumput laut digunaka untuk membuat rengginang memiliki kandungan serat yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan rumput laut terhadap kualitas fisik, kimia, dan organoleptik rengginang serta untuk mengetahui konsentrasi rumput laut yang dapat membuat rengginang sebagai sumber serat. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktor tunggal yaitu penambahan rumput laut pada konsentrasi 0, 5, 10, 15, 20, dan 25%. Rengginang perlakuan terbaik didapatkan dari penambahan rumput laut 15% dengan kadar air 10,94% (bk), penguapan air 4,38%, volume pengembangan 112,73%, serta nilai hedonik yang meliputi warna 5,50 (agak suka) ; aroma 6,10 (suka) ; rasa 6,00 (suka) ; dan tekstur 5,7 (agak suka).
Edible Film Made of Corn Starch-Carrageenan-Rice Bran: The Characteristic of Formula's Viscosity, Water Content, and Water Vapor Transmission Rate Ratih Dwi Ismawanti; Widya Dwi Rukmi Putri; Erni Sofia Murtini; Heri Purwoto
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 9, No 3 (2020)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.industria.2020.009.03.2

Abstract

AbstractThis research aimed to obtain the best formulation of corn starch, carrageenan, and rice bran as the main components of edible film to improve formula’s viscosity, water content, and Water Vapour Transmission Rate (WVTR). This research was an experimental research using Randomized Complete Block Design (RCBD). The first factor was corn starch concentration (1.5%; 2.5%; 3.5%), the second factor was carrageenan concentration (0.67%; 1%; 1.33%), and the third factor was rice bran concentration (0.12%; 0.25%; 0.38%). The analysis of variance showed that the interaction of corn starch, carrageenan, and rice bran has a significant impact on the viscosity, water content, and WVTR value of the edible film. Based on the viscosity, water content, and WVTR value of the edible film, the best formulation was found in the edible film with the corn starch concentration of 2.5%, 1% carrageenan, and 0.25% rice bran. The formula's viscosity value of this edible film was 165.1 ± 5.3 cP, with 14.65 ± 0.05% of water content, and 60.13 ± 0.05 g/m2/h of WVTR value.Keywords: carrageenan, corn starch, edible film, rice bran Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan formulasi terbaik dari pati maizena, karagenan, dan bekatul padi sebagai komponen dasar edible film untuk meningkatkan viskositas formula. kadar air, dan Water Vapour Transmission Rate (WVTR). Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Faktor pertama adalah konsentrasi pati maizena (1,5% ; 2,5% ; 3,5%), faktor kedua adalah konsentrasi karagenan (0,67%; 1%; 1,33%), dan faktor ketiga adalah konsentrasi bekatul padi (0,12% ; 0,25% ; 0,38%). Hasil analisis ragam menunjukkan interaksi penambahan pati maizena, karagenan, dan bekatul padi berpengaruh nyata terhadap viskositas formula edible film, kadar air, dan nilai WVTR edible film. Formulasi terbaik sesuai karakteristik viskositas formula edible film, kadar air, dan nilai WVTR edible film adalah edible film dengan konsentrasi pati maizena 2,5%, karagenan 1%, dan bekatul 0,25% yang memiliki nilai viskositas formula edible film sebesar 165,1 ± 5,3 cP, kadar air edible film sebesar 14,65 ± 0,05%, dan nilai WVTR edible film sebesar 60,13 ± 0,05 g/m2/jam.Kata kunci: bekatul padi, edible film, karagenan, pati maizena 
PENGERMPUKAN DAGING DENGAN ENZIM PROTEASE TANAMAN BIDURI (Calotropis gigantea) (Meat Tenderization using Protease of Biduri Plant (Calotropis gigantean)) Erni Sofia Murtini; . Qomarudin
Jurnal Teknologi dan Industri Pangan Vol. 14 No. 3 (2003): Jurnal Teknologi dan Industri Pangan
Publisher : Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB Indonesia bekerjasama dengan PATPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1137.337 KB)

Abstract

Tenderness is the main attribute of meat, wich influences consumer acceptability. Protease enzyme(like papain, bromelin and ficin) are known to be used for improving tenderness of meat trough degredation of the protein. Biduri plant (Ccalotropis gigantea) contains protease enzyme in its latex or the young tissue (0-20 cm plant tip). After isolation of crude enzyme using ammonium sulphate, the enzyme was the applied to tenderise meat at concentrations 0; 0.25; 0.5; 0.75 and 1.0%. The result showed that concentration of protease enzyme affected to meat tenderness that determined by compression test and tensile strenght. The enzyme (0.5%) was enough to tenderise meat indicated by descreasing its compression test value to 201, 160 N 9 from control of 228,582 N) and tensile stenght value to 4.618 N (from control 9.588 N) 
Co-Authors . Harijono . Qomarudin Adhamatika, Adhima AGUSTIN KRISNA WARDANI Ahmad Dhiaul Khuluq Ahmad Subagio Ahmad Zaki Mubarok Aji Sutrisno Alif Eva Mili Ani Aly Akbar Anang Lastriyanto Anastasia Intan Kurniasari, Anastasia Intan Andina Kristy Novitasari Anisa Leksono Arfat Gati Radite Az Zahra Nur An Shilbi Benediktus Hendra Perkasa Dewanti, Ratna Ayu Djafar , M. Jusuf Elok Waziiroh Ericha Nurvia Alami erika arisetiana dewi, erika arisetiana Faradilla Ramadhani Geyka Ken Sadewa Harianto Harianto Harianto Harianto Heri Purwoto Heri Purwoto Hesti Ramdayani Irawan Setya Wardhana Irsyad Ramadhan Ismawanti , Ratih Dwi Istiqomaturrosyidah Istiqomaturrosyidah Jaya Mahar Maligan Joni Kusnadi Juwita Ratna Dewi Kasih, Geugeut Zahra KIKI FIBRIANTO kusnadi, joni kusnadi kusnadi, joni kusnadi Laila Yum Wahibah M. Iqbal Prawira-Atmaja M. Jusuf Djafar Marningsih Doko Patty Muhammad Fitri Aji Nugroho Nadia Nareswari Nanda Triachdiani Nur Oktavia Suci Lestari Pratidina Andayani Purwoto , Heri Putri , Widya Dwi Rukmi Putri, Destiana Adinda Rahayu, Lisa Fitri Rakhmadina, Casilda Aulia Ratih Dwi Ismawanti Ratih Dwi Ismawanti Ratih Kusumawardani Riyadlul Akbar Riyadlul Akbar H. ANR Rizky Ayu Diella Calista Sabilla, Nurrahmah Fitra Sarah Sri Damayanti SIMON BAMBANG WIDJANARKO Siti Narsito Wulan Sri Hastuti Sudarminto Setyo Yuwono Sudarminto Setyo Yuwono Sulthon Fathoni Sutrisno Adi Prayitno Syarifa Ramadhani Nurbaya Teti Estiasih Tiara, Eta Imeida Tri Susanto Tridtitanakiat, Pavalee Chompoorat Trifany, Lintang Ayu Nisa Wenny Bekti Sunarharum Widya Dwi Rukmi Putri Wulandari, Eka Shinta Yudhistira, Razzan Aldrich Yunindya, Rizka Prima