Largus Nadeak
Universitas Katolik Santo Thomas Medan

Published : 53 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

MEMBANGUN MORALITAS DALAM ARUS POSTMODERNISME Nadeak, Largus
LOGOS Vol 4 No. 1 (2005) : januari 2005
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v4i1.1830

Abstract

A strong current in thinking nowadays is postmodernism. It is signed by the changes of opinion and by calling in question the absoluteness of reason, and tradition. We should observe the sign of our times, and afterward we ask what we should do. We answer our question by reconstructing morality with some important ideas as follows: 1) We refound our morality on truth known by faith and reason; 2) To make moral as a critical instrument in searching goodness; 3) To restore our moral habit by knowing virtues (back to virtues).
“PERKAWINAN” PASANGAN HOMOSEKSUAL: Tidak Sesuai dengan Ajaran Gereja Katolik Nadeak, Largus; Maduwu, Bernardus C.G.
LOGOS Vol. 19 No. 2 (2022): Juli 2022
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v19i2.2017

Abstract

Secara alami dan biologis, jenis kelamin manusia jelas, yaitu laki-laki dan perempaun. Secara tradisoonal diterima oleh masyarakat bahwa ketertarikan seksual bersifat heteroseks, yaitu laki-laki tertarik berelasi seksual dengan perempaun dan perempuan tertarik berelasi seksual dengan pria. Sekarang sebagian masyarakat menerima bahwa ketertarikan seksual bukan hanya bersifat heteroseks, tetapi bisa juga bersifat homoseks, yaitu laki-laki tertarik secara seksual dengan pria (gay), dan perempuan tertarik secara seksual dengan perempuan (lesbi). Orientasi seksual yang bukan hanya heteroseks makin mendapat perhatiaan saat ini. Perhatian makin serius karena sebagian masyarakat menerima dan mengesahkan perkawinan homoseksual. Gereja Katolik tidak menerima “perkawinan” homoseksual karena tidak sesuai dengan ajaran dan aturan yang melindungi nilai kemanusiaan dan martabat keluarga. Perkawinan sakramental dalam Gereja Katolik terjadi antara laki-laki dan perempuan (heterokseksual) yang berhubungan dengan ketahanan lembaga keluarga, prokreasi dan keturunan
HILANGNYA RASA BERDOSA MENURUT PAUS YOHANES PAULUS II DALAM EKSHORTASI APOSTOLIK RECONCILIATIO ET PAENITENTIA Nadeak, Largus; Purba, Suhendro; Surip, Stanislaus
LOGOS Vol. 20 No. 1 (2023): Januari 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i1.2547

Abstract

Paus Yohanes Paulus II memandang bahwa di abad ini dunia dilanda konflik dan persoalan yang terjadi akibat hilangnya rasa berdosa (a sense of sin) dalam diri manusia. Krisis hati nurani dan krisis rasa akan Allah (a sense of God) adalah penyebab hilangnya rasa berdosa. Krisis tersebut tampak dalam beberapa fenomen budaya kontemporer, yakni sekularisme, kesalahan dalam mengevaluasi ilmu pengetahuan manusia, relativisme sistem etika, dan pemahaman yang samar-samar mengenai rasa berdosa. Paus Yohanes Paulus II mendorong semua insan untuk memulihkan rasa berdosa benar yang sudah hilang. Paus mengajak agar prinsip dan ajaran moral Gereja ditegakkan kembali, katekese pertobatan terus digaungkan, hati nurani tetap diasah, dan penerimaan Sakramen Tobat semakin digiatkan. Jalan-jalan pertobatan ini mutlak diperlukan agar rasa berdosa tetap lestari dalam diri manusia. Rasa berdosa yang benar membantu manusia untuk menata hidup bersama yang baik dengan sesama manusia serta mengakui dan mengalami kehadiran Allah yang Maharahim dalam gerak hidup.
PERKAWINAN TANPA ANAK YANG DISENGAJA: Tidak Sesuai dengan Kodrat Perkawinan Katolik menurut Seruan Apostolik Amoris Laetitia Nadeak, Largus; Situmorang, Sihol; Bhia, Marianus
LOGOS Vol. 20 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i2.2991

Abstract

Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya dan menurut model dan motivasi kasih. Allah memahat di dalam diri setiap manusia suatu daya untuk mengasihi. Salah satu bentuk panggilan untuk mengasihi dalam Gereja Katolik terwujud dalam perkawinan. Salah satu tujuan perkawinan adalah kehadiran anak. Dewasa ini, ada fenomen perkawinan tanpa anak yang disengaja, yang disebut childfree. Gereja mencermati dan menanggapi childfree yang merupakan salah satu keadaan keluarga saat ini. Dalam Seruan Apostolik Amoris Laetitia dicermati beberapa alasan keluarga memilih childfree. Gereja berpandangan bahwa childfree tidak sesuai dengan kodrat perkawinan Katolik. Ada beberapa pendapat Gereja sehingga mengatakan bahwa childfree tidak sesuai dengan kodrat perkawinan Katolik, salah satunya ialah prokreasi. Gereja perlu bertindak menghadapi fenomen childfree dengan menggalang kerja sama dengan pasangan suami-istri dan pemerintah.
FUNGSI PERAYAAN ADAT BATAK DAN PERAYAAN SAKRAMEN PERKAWINAN PADA MASYARAKAT BATAK KATOLIK DALAM PERSPEKTIF FUNSIONALISME AGAMA Antono, Yustinus Slamet; Tambunan, Ade Christianto; Nadeak, Largus
LOGOS Vol. 20 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i2.2996

Abstract

Mayoritas masyarakat Batak Toba adalah Kristen (Protestan dan Katolik). Fungsionalisme agama memandang sesuatu sebagai agama dalam karakternya yang menyatukan masyarakat. Perayaan adat perkawinan Batak berdasar pada penghayatan akan sistem sosial dalihan na tolu. Perayaan sakramen perkawinan berdasar pada kepercayaan akan subjek spiritual yang disebut Tuhan. Kedua perayaan berfungsi dalam masyarakat. Dalam analisa fungsi integratif perayaan adat perkawinan Batak dan perayaan sakramen perkawinan mempengaruhi nilai-nilai perkawinan. Perkawinan dihayati mengandung kesepakatan bebas kedua pengantin, keterlibatan keluarga dan struktur dalihan na tolu, kehadiran Tuhan, kesetiaan perkawinan, serta penerusan keturunan sebagai tujuan perkawinan. Dalam fungsi laten of maintenance, perayaan adat perkawinan diterima dan membuat masyarakat menghidupi nilai-nilainya karena merupakan tradisi warisan yang bernilai baik, merupakan syarat untuk menerima hak sebagai anggota masyarakat, serta merupakan sarana menerima berkat berupa kehangatan relasi sosial. Perayaan sakramen perkawinan diterima dan membuat masyarakat menghidupi nilai-nilainya karena merupakan sarana berelasi dengan Tuhan, merupakan sarana memohon dan menerima berkat berupa optimisme hidup perkawinan, serta pengaruh dari lingkungan sosial.
HUBUNGAN ANTARA PEMAHAMAN ORANG TUA TENTANG KEWAJIBAN DAN HAK MENDIDIK ANAK TERHADAP PRAKTIK PENDIDIKAN ANAK: Studi di Paroki Santa Maria Bunda Yesus, Tirtonadi, Padang Purba, Asrot; Antono, Yustinus Slamet; Nadeak, Largus; Hanggoro, Benediktus Bagus
LOGOS Vol. 21 No. 1 (2024): Januari 2024
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v21i1.3416

Abstract

Orang tua adalah pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anak mereka. Gereja menetapkan dalam kanon 226, §2, bahwa orang tua memiliki tugas untuk mengusahakan pendidikan kristiani kepada anak-anak mereka. Gereja menetapkan norma-norma pelaksana kewajiban dan hak orang tua mendidik anak yang diwujudkan dalam pendidikan anak dalam keluarga, pemilihan sarana pendidikan dan hubungan dengan para pendidik lainnya. Penulis melihat ada kemungkinan bahwa pemahaman orang tua tentang kewajiban dan hak mendidik anak memiliki hubungan (korelasi) yang positif dan signifikan dengan praktik pendidikan anak. Untuk membuktikannya, Penulis mengadakan penelitian kuantitatif di Paroki Tirtonadi, Padang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman orang tua mengenai kewajiban dan hak mereka mendidik anak berkorelasi secara positif dan signifikan terhadap praktik pendidikan anak. Apabila orang tua memiliki pemahaman yang baik mengenai kewajiban dan hak mendidik anak, maka praktik pendidikan anak juga akan berlangsung baik. Namun apabila orang tua memiliki pemahaman yang tidak baik mengenai kewajiban dan hak mendidik anak, maka praktik pendidikan anak juga akan berlangsung tidak baik.
ALLAH ADALAH CINTA, CINTA YANG RELA MENGABDI DAN MEMBERIKAN DIRI DEMI KESELAMATAN DAN KEHIDUPAN MANUSIA: Uraian Teologis atas Pandangan Paus Benediktus XVI dalam Ensiklik Deus Caritas Est Ara, Alfonsus; Nadeak, Largus; Simanullang, Gonti
LOGOS Vol. 21 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v21i2.3947

Abstract

Cinta selalu didambakan, dipuja dan diperbincangkan, baik dalam ruang keluarga maupun dalam ruang publik. Kekuatan cinta dilukiskan dalam aneka rupa dan nuansa, baik dalam buku, lagu, puisi, film, sastra maupun Kitab Suci. Inti yang diperbincangkan berpusat pada tiga hal utama, yaitu: “Apa, Mengapa dan Dari Manakah Datangnya Cinta?. Dalam filsafat Yunani, cinta dimengerti sebagai hasrat asali yang melekat pada manusia, yaitu hasrat untuk memuaskan keinginan sendiri (eros). Namun cinta manusiawi tersebut bersumber dari cinta Ilahi (agape). Dalam Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru diwahyukan bahwa cinta adalah hakekat/kodrat Allah: Allah adalah Cinta. Allah menciptakan alam semesta dan manusia (ciptaan-Nya yang termulia) dari isi cinta-Nya sendiri. Allah menanamkan isi cinta-Nya dalam diri manusia; Allah menghendaki agar manusia menjadi insan pencinta dan penyalur cinta-Nya kepada dunia supaya kehidupan semua ciptaan-Nya di dunia, terutama kehidupan manusia dilandaskan dan dijiwai oleh cinta. Cinta Allah adalah cinta yang rela mengabdi dan memberikan diri demi keselamatan dan kehidupan semua ciptaan-Nya, terutama manusia. Jika Allah adalah Cinta dan manusia diciptakan dari isi cinta Allah, maka cinta seharusnya menjadi tindakan khas yang melekat pada kodrat Allah dan manusia sendiri. Jika kodrat Allah dan manusia adalah cinta, maka patut dipertanyakan: “Bukankah aneka bentuk kebencian, kekerasan dan balas dendam adalah tindakan yang bertentangan dengan kodrat Allah dan manusia sendiri?
HAKIKAT PERKAWINAN KRISTIANI SEBAGAI PERSEKUTUAN PRIBADI-PRIBADI DI HADAPAN TANTANGAN PROGRAM BAYI TABUNG: Suatu Uraian Teologis Moral Moa, Antonius; Aldi, Bernardus; Nadeak, Largus
LOGOS Vol. 22 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v22i1.4476

Abstract

Saat ini, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat. Perkembangan tersebut melahirkan berbagai macam teknologi yang sangat maju, salah satunya di antaranya yaitu teknologi reproduksi berbantu, secara khusus teknologi bayi tabung (IVF: In Vitro Fertilization). Bayi tabung merupakan produk bioteknologi modern yang dapat membantu manusia untuk mengatasi persoalan sistem reproduksi manusia. Oleh karena itu, bayi tabung menjadi sebuah program yang sangat menjanjikan saat ini. Namun demikian, bayi tabung bukanlah sebuah program yang tanpa persoalan. Jika ditelaah secara lebih mendalam, maka program bayi tabung akan bersentuhan dengan hal yang sangat mendasar, yaitu harkat dan martabat pribadi manusia yang sangat luhur. Sebagai pribadi, manusia bukanlah objek tertentu. Manusia adalah pribadi yang benilai sejak saat pembuahan atau pertemuan antara sel sperma dan sel ovum. Manusia sebagai pribadi dilahirkan dari generasi ke generasi lewat persekutuan pribadi-pribadi dalam ikatan perkawinan. Oleh karena ini, program bayi tabung juga bersentuhan dengan hakikat perkawinan yang merupakan persekutuan mesra, hidup dan cinta pribadi-pribadi. Dalam konteks ini, dari perspektif ajaran iman Katolik, program bayi tabung merupakan pelanggaran hakikat perkawinan kristiani. Teknologi bayi tabung memang dapat mengatasi persoalan reproduksi, tetapi pada saat yang sama program bayi tabung justeru menjadi program yang menghancurkan harkat dan martabat pribadi manusia yang sangat luhur dan menghancurkan persekutuan pribadi-pribadi dalam perkawinan
JIWA MERDEKA DALAM MASYARAKAT YANG SERBA ATURAN Nadeak, Largus
LOGOS Vol 7 No 1 (2009): Januari 2009
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v7i1.262

Abstract

Masyarakat dewasa ini berada dalam kesulitan untuk mengadakan pilihan, karena terperangkap dalam 2 arus kecenderungan yang deras, yang keduanya bermuara pada “waduk” yang sama yaitu legalisasi. Legalisasi tersebut muncul dalam dua wajah yaitu legalisasi formal dan legalisasi immoral. Dalam situasi masyarakat demikian jiwa merdeka yang dituntun oleh Roh Allah harus menyala sehingga kebebasan sejati anak-anak Allah masih berlangsung secara terhormat. Jiwa merdeka yang dimiliki Musa menjadi inspirasi bagi umat beriman. Orang Israel yang dipimpin oleh Musa bisa bebas dari keadaan sulit, ketika terperangkap di antara Laut Merah yang terbentang luas di depan dan pengejaran serdadu Firaun yang kuat dan berjumlah besar di belakang mereka. Pengalaman Musa ini menggariskan dengan tegas bahwa, human possibility is rooted in divine necessity, and human necessity is rooted in divine possibility.
EUTANASIA : Masalah Etis di Akhir Hidup Nadeak, Largus
LOGOS Vol 9 No 1 (2012): Januari 2012
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v9i1.318

Abstract

Eutanasia merupakan masalah etis di akhir hidup. Masalah ini sudah menjadi bahan pembicaraan panjang dan akan tetap berlangsung karena pandangan dan keputusan tepat terhadap orang sakit terminal tidak sama. Pendukung eutanasia mengatakan bahwa mempercepat kematian orang sakit terminal merupakat tindakan tepat. Argumen yang digunakan, agar orang sakit tidak lama menderita kalau toh akan mati, dan orang sakit tersebut bisa menggunakan hak terakhirnya yaitu hak untuk mati. Menurut Gereja Katolik, berpendapat lain. Eutanasia dikategorikan pembunuhan. Diyakini, yang baik sesungguhnya untuk orang sakit terminal, bukan mempercepat kematian dan bukan juga memperpanjang hidup dengan menggunakan sarana luar bisa yang sebenarnya tidak perlu. Yang baik sesunguhnya adalah menemani orang sakit dengan cinta sehingga orang sakit tersebut menerima kematian dengan damai dalam terang iman. Kematian hendaknya berjalan alami dan manusiawi dalam penyerahan pada Allah pemberi hidup itu sendiri. Allah yang berhak menentukan hidup dan mati manusia ciptaan-Nya.