Articles
ALLAH PENCIPTA HADIR DI SINI BERSAMA CIPTAANNYA : Refleksi Ekologis Kontekstual
Nadeak, Largus
LOGOS Vol 15 No 2 (2018): Juni 2018
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54367/logos.v15i2.321
“Berpikir global dan bertindak lokal!†merupakan seruan ekologis yang perluditidaklanjuti dan direalisasikan. Dalam hidup nyata setiap hari di tempatnyadan di waktu sekarang umat Kristen bersama dengan masyarakat dipanggilberpartisipasi memelihara karya Allah yang nyata di bumi dan isinya.Kekayaan dan keindahan bumi sangat terbuka untuk kegiatan bisnispariwisata. Badan Pelaksanaan Otorita Danau Toba (BPODT) sedangmerancang Danau Toba sebagai belahan bumi yang indah menjadi tujuanpariwisata. Masyarakat Batak-Toba yang mayoritas tinggal di sekitar DanauToba memiliki budaya dan tradisi religius. Suku Batak-Toba memiliki kisahpenciptaan yang sangat khas, dan nilai yang ada dalam kisah penciptaantersebut tersebar di tata budaya dan tindakan religi yang bermuatan kelestarian kekayaan alam. Masyarakat sekitar Danau Toba dipanggil agar giat berperan memelihara lingkungan serta melestarikan budaya dan tradisi religi yang sungguh bermakna bagi banyak orang. Kegiatan pengembangan ekonomi pariwisata seharusnya menghargai nilai budaya dan kekayaan religi yang ada, serta mendukung masyarakat setempat dan orang yang berkunjung untuk mengalami dan mengungkapkan bahwa Allah hadir sini bersama ciptaan-Nya.
KRISTUS BANGKIT MENEBUS DUNIA: Refleksi Ekologis Atas Paska
Nadeak, Largus
LOGOS Vol 15 No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54367/logos.v15i1.330
Perayaan Paska menghadirkan kenyataan kebangkitan Yesus Kristus Penebus semua ciptaan. Allah Pencipta berinkarnasi, hadir dan tinggal bersama ciptaan-Nya dengan kelahiran dan kehadiran Yesus Kristus di bumi. Allah yang hadir bersama ciptaan nyata menderita, mati dan terutama bangkit untuk menebus semua ciptaan, bukan hanya manusia tetapi semua ciptaan yang hidup dan tidak hidup, yang kelihatan dan tak kelihatan. Manusia penghayat iman kebangkitan Kristus yang ditebus, mengaktualisasikan penebusan yang dialami dengan memelihara ciptaan agar pengalaman kebangkitan ciptaan menjadi nyata. Sikap dan tindakan paska direalisasikan secara personal dan bersama di tempat masing-masing, sehingga bumi menjadi tempat tinggal yang harmonis untuk Allah Pencipta dan ciptaan-Nya termasuk manusia dan ciptaan lain.
MENCINTAI KELUARGA : Mengahayati Keadilan dan Belas Kasih
Nadeak, Largus
LOGOS Vol 14 No 2 (2017): Juni 2017
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54367/logos.v14i2.336
Tantangan, masalah, dan krisis dalam keluarga dengan bervariasi jenis sudah lama terjadi dan akan berlanjut. Aturan yang sudah dirumuskan dalam masyarakat dan dalam umat Gereja bisa membantu keluarga, tetapi cenderung menghukum keluarga yang bersalah, sehingga kurang membantu keluarga untuk memperbarui diri. Paus Fransiskus dalam Bulla Misericordiae Vultus (Wajah Kerahiman) dan Anjuran Apostolik Paska Sinode Amoris Laetitia (Kegembiraan Cinta) mengajak umat agar setiap keluarga bergegas menghayati kekudusan sakramental perkawinan dalam kehidupan real, sehingga bergembira saling mencintai dengan keadilan dan belas kasih. Daya belas kasih ilahi yang hidup dalam keluarga sakramental akan bangun kalau keluarga memaafkan kekurangan dan meneguhkan kebaikan sehingga nyata dialami suka cita yang bisa mengatasi tantangan dan masalah. Dengan membaca dan mendengar Sabda Allah, keluarga mendapat inspirasi dari pengalaman keluarga beriman untuk menghayati keterlibatan Allah. Dengan berdoa bersama di keluarga dibantu media yang tersedia dewasa ini, serta kreatif menggunakan waktu secara bersama dalam kesibukan harian akan mendatangkan berkat baru untuk keluarga.
KEMBALI KE YANG ALAMI : Tawaran Keluarga Berencana Alamiah
Nadeak, Largus
LOGOS Vol 2 No 2 (2003): Juni 2003
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54367/logos.v2i2.352
Family is a basis of social life in transforming and improving the values of life. Being a good family depends on how the family is planned. When we speak about a family planning, we touch a responsible and happy family. A family must plan the number of its member. And it demands right means. Nowadays, the means of family planning often used are artificial. These means have inclination to despise the organ of human procreation.Catholic Church suggests us to use natural family planning. This method respects natural riches of creation. The effectivity of this method depends on one’s ability to understand the phenomena of the organ of human procreation. For most families, it is not easy to understand these phenomena and the method of natural family planning. Therefore, though not appropriate to the traditional norm, KWI (Indonesian Bishop’s Conference) gives a possibility, that if a family has difficulty using natural family planning, this family can use alternative unabortive and permanent sterilisation means beside natural family planning. This idea is not contradict with natural family planning, but really in promotion of natural family planning.
HABITUS OPERATIVUS BONUS : Keutamaan Menurut St. Thomas Aquinas
Nadeak, Largus
LOGOS Vol 3 No 2 (2004): Juni 2004
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54367/logos.v3i2.387
St. Thomas Aquinas defines virtue as a good habit bearing on activity or a good faculty-habit (habitus operativus bonus). He adopts his idea from Aristoteles’ opinion. Aristoteles defines it as mean (mesotes) between two vices. Basic to the concept of virtue is the element of habit, which stands in a special relation to the soul, whether in the natural order or elevated to the divine life by grace (moral virtues and theological virtues). Back to virtue is a calling, so that people in our era is consistent in committing good acts.
"WELCOME, MY SISTER DEATH!" A Reflection Inspired by St. Francis Experiences of Death
Nadeak, Largus
LOGOS Vol 12 No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54367/logos.v12i1.859
The understanding of death varies depending on peoples world views and religious beliefs. The undersanding and the experiences of St. Francis of death is interseting to reflect. He accepted death as a part of human existence, so at the approach of his death he said, “Welcome, my sister death!†Francis’ view about death was transformed by his experiences of faith and fraternal worldview. Byreflecting death inspired by St. Francis’ experiences of death we prepare ourselves to accept our death. Death is not our enemy, but a part of our human existence. In our death we will rest in peace.
ALLAH MEMILIH BUMI MENJADI TEMPAT TINGGALNYA : Refleksi Ekologis Atas Peristiwa Natal
Nadeak, Largus
LOGOS Vol 13 No 2 (2016): Juni 2016
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54367/logos.v13i2.871
Perayaan Natal merupakan kesempatan bagi orang Kristen untuk merenungkan dan mengalami peristiwa inkarnasi ilahi. Allah menjadi manusia dan memilih bumi menjadi tempat tinggal-Nya. Bumi menjadi rumah bersama Allah Pencipta dengan manusia ciptaan dan ciptaan lain. Cara Fransiskus Assisi merayakan Natal yang melibatkan warga ekologis, menjadi inspirasi panggilan untuk orang beriman agar menjaga bumi rumah bersama dan melindungi penghuninya yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan ciptaan lain. Dengan melindungi bumi dan penghuninya, manusia menghormati Pencipta, dan ciptaan berperan sakramental mentransparansikan Sang Pencipta. Agar bumi menjadi rumah bersama yang menyegarkan, manusia dipanggil untuk melakukan tindakan konkret di tempat dan di waktu masing-masing.
PANENTEISME : Refleksi Ekologis Atas Kristus Raja Alam Semesta
Nadeak, Largus
LOGOS Vol 10 No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54367/logos.v10i2.875
cPeristiwa ekologis dewasa ini sering mengancam hidup bersama di alam ini. Beberapa ancaman yang terjadi bukan bencana alam tetapi bencana manusiawi. Manusia yang memiliki kesadaran kadang tidak menghormati tata alam ilahi. Perayaan Kristus Raja Alam Semesta menjadi satu kesempatan berharga untuk memahami kehadiran Pencipta di alam ciptaan-Nya. Paham Panenteisme diutarakan dengan singkat agar manusia menata tindakan agar peristiwa ekologi bukan sebagai ancaman lagi, tetapi sebagai dinamika berada bersama Pencipta dan sesama ciptaan. Ide Panenteisme yang menarik adalah the presence of creation in God dan the presence of God in Creation. Allah yang memiliki rahim besar (Maharahim) mengandung ciptaan, dan ciptaan mengandung Allah. St. Fransiskus Assisi menghayati ide panenteisme dan Teilhard de Chardin menerangkan dengan ilmiah dan spiritual ide tersebut. Kristus Raja Alam Semesta adalah Allah yang hadir bersama ciptaan sehingga alam ini menyimpan misteri yang perlu diungkap dan dilindungi. Menghidupi tata hidup bersaudara serahim merupakan tangung jawab manusia sebagai penghuni Kerajaan Allah di alam semesta. Â
KEMBALI MENJADI TANAH : Satu Refleksi Ekologis Prapaska
Nadeak, Largus
LOGOS Vol 10 No 1 (2013): Januari 2013
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54367/logos.v10i1.880
Fenomena manusia yang terasing dari tanah, terasing dari bumi, terasing dari Allah bisa kita amanti di data ekologis dan perilaku manusia dewasa ini. Di beberapa tempat tanah jadi tandus sulit hidup tanam-tanaman kerena sudah rusak oleh pestisida dan pupuk kimia; di beberapa kota dan daerah banjir makin sering karena hutan dan air tanah tidak dikelola dengan baik; di bumi manusia tidak peduli dengan tata ciptaan yang dikehendaki Allah Pencipta. Pandangan manusia atas statusnya yang bukan bagian bumi, dan tindakan yang berhubungan dengan pandangannya atas statusnya tersebut, turut memengaruhi keterasingan yang terjadi. Kembali menjadi tanah! Seruan ini yang disampaikan pada hari Rabu Abu, merupakan ajakan agar umat Kristen berubah dan bertobat, kembali menata hidup, kembali menata relasi dengan sesama dan dengan ciptaan lain di bumi, dan juga dengan Allah yang sudah memilih tinggal di bumi ini. Kembali menjadi tanah, merupakan proses perjalanan pengolahan tanah, pengolahan hidup sehingga manusia merasa damai sebagai tanah, dan bersama komunitas ciptaan Allah mengalami at home on earth.
SIKAP JUJUR MENDASARI TANGGUNG JAWAB
Nadeak, Largus
LOGOS Vol 17 No 1 (2020): Januari 2020
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54367/logos.v17i1.1038
“Tidak ada orang yang tidak membantah jika seorang dalam pusaran kasusâ€, demikian komentar Mahfud MD ketika dirut Asabri membantah bahwa tidak ada korupsi di Asuransi ini. Ungkapan Ibu guru bahasa Inggris saya juga meyakinkan bahwa orang Indonesia terbiasa berdalih. Pilihan berdalih merupakan tindakan tidak jujur dan berentetan dengan ketidaksediaan orang menghadapi dan menerima konsekuensi tindakan, atau tidak mau bertanggung jawab. Tulisan ini menjelaskan bahwa satu sikap yang sangat hakiki yang perlu dilatih dan dibiasakan agar orang bertanggung jawab adalah sikap jujur. Sikap ini tampak dalam pilihan menyatakan kenyataan yang sebenarnya sekaligus membentuk orang berintegritas, yaitu mewujudnyatakan apa yang dikatakan. Sikap ini akan mengoptimalkan kebaikan serta mengakui dan memperbaiki kesalahan. Tanggung jawab personal dijamin oleh keujuran personal yang memancar dari hati nurani yang kuat yang diterangi oleh sinar ilahi dalam iman. Kejujuran personal hendaknya ditopang oleh kolektivitas yang bermutu yang melindungi kebenaran. Kebersamaan jujur dan bertanggung jawab menjadi pelaku dan sekaligus kondisi agar terjadi kedamaian sejati dan kesejahteraan bersama (bonum commune). Kebersamaan beriman harus kuat menghayati pesan Allah, “Orang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi penghianat dirusak oleh kecurangannya†(Amsal 11, 3).