Largus Nadeak
Universitas Katolik Santo Thomas Medan

Published : 53 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

PENDIDIKAN SAUDARA KAPUSIN GENERASI BARU Pelaku Aktif dan Inspiratif di Zaman Aktual Nadeak, Largus
LOGOS Vol 18 No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v18i1.1176

Abstract

Pedoman Pendidikan Kapusin yang berlaku secara internasional, dan dijabarkan di jajaran (lokal) agar sesuai dengan kontes budaya dan zaman, merupakan sarana untuk mereformasi materi dan pola pendidikan Kapusin berkharisma. Pedoman ini membantu proses pembentukan saudara Kapusin generasi baru agar berperan aktif dan isnpsiratif di zaman aktualnya. Para saudara yang berpendidikan berlanjut berperan penting untuk menuntun para saudara berpendidikan awal, agar siap latih dan tetap belajar di zaman multikultur, perkembangan teknologi terutama bidang media sosial, serta pola hidup yang berubah dan baru. Injil Kristus yang dihidupi oleh St. Fransiskus adalah dasar pedoman pendidikan Kapusin di atasnya dibangun gagasan berharga dan pola pendidikan yang relevan. St. Fransiskus memesankan agar para saudara menghayati Injil terutama hidup bersaudara dengan love freely given, fidelity to Poverty and obedience to the Church. Pelaku aktif dan inspiratif di zaman aktual adalah pribadi berinegritas, matang dalam 5 dimensi: kharismatis, manusiawi, rohani, intelektual, dan misi. Pribadi yang berintegritas berpengaruh di konteks anthropological pluralism and the digital world (cyber-anthropology). Kekayaan berakar kharisma serta budaya berbeda perlu dipelajari, serta kemajuan bersayap baru dalam wajah teknologi baru khusunya teknologi media sosial, pantas digeluti secara bertanggung jawab. Anggur baru harus ditempatkan dalam kantong kulit baru. Dengan menghidupi dan mengobarkan nyala kharisma kapusin bernew mindset dalam new contexts, para saudara Kapusin generasi baru hidup bersuka cita untuk membangunkan dunia.
BERPARTISIPASI AKTIF BERINTERKULTURASI DI KENISCAYAAN MULTI KULTUR : Implementasi Ratio Formationis Ordinis Fratrum Capocinorum di Indonesia Nadeak, Largus
LOGOS Vol 18 No 2 (2021): Juli 2021
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v18i2.1321

Abstract

Kemajuan teknologi komunikasi memudahkan manusia untuk mengenal satu bumi serta memelihara keragaman budaya dan agama yang ada di dalamnya agar kebersamaan bersaudara hidup dalam damai. Keragaman budaya (multikultur) sangat khas di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keniscayaan multikultur bisa menjadi ancaman kebersamaan kalau ada kelompok primordial sempit dan kelompok radikalisme destruktif yang ingin mengkoloni satu budaya dan masyarakat penghayatnya demi kepentingan politis dan kuasa. Sebaliknya keniscayaan multikultur akan menjadi rahmat indah “bepelangi” kalau masyarakat berpartisipasi aktif berinterkulturasi. Budaya perjumpaan akan bertumbuh sehingga setiap budaya memiliki jati nilai dan masyarakat penghayatnya memiliki jati diri. Ordo Kapusin penyebar kharisma persaudaraan dengan kesadaran tinggi mengajak semua saudara untuk aktif berpartisipasi berinterkulturasi secara internasional dan terutama secara nasional dan lokal. Usaha berinterkulturasi diwajibkan untuk dijabarkan dalam kurikulum dan program pendidikan di setiap daerah agar para saudara menjadi berkharisma dengan menggali kearifan lokal yang bersintese dengan nilai universal yang dihayati dan diserukan oleh Fransiskus dari Assisi penghayat Injil Tuhan Yesus Kristus.
KLERIKUS DILARANG BERPOLITIK PRAKTIS Promosi Agar Klerikus Aktif Berpolitik Kepedulian Sosial Nadeak, Largus
LOGOS Vol 12 No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v12i2.1467

Abstract

Setiap umat Kaktolik otomatis anggota masyarakat satu negara. Setiap umat Katolik baik para klerikus dan awam dipanggil untuk terlibat aktif berpolitik. Kegiatan politik merupakan seni mengatur dan mengurus negara yang mencakup penetapan bentuk, semua kebijakan/tindakan demi kesejahteraan masyarakat, dan mempertanggungjawabkannya. Umat awam diharapkan terlibat dalam politik praktis dan politik kepedulian sosial. Para klerikus dilarang berpolitik praktis tetapi harus telibat aktif dalam politik kepedulian sosial. Larangan ini jelas disebut dalam KHK 1983, kan. 287, 2, para klerikus “Jangan turut ambil bagian aktif dalam partai-partai politik dan dalam kepemimpinan serikat-serikat buruh, kecuali jika menurut penilaian otoritas gerejawi yang berwenang hal itu untuk melindungi hak-hak Gereja atau memajukan kesejahteraan umum.” Anggota klerikus yang berusaha terlibat dalam politik praktis tanpa disetujuai oleh pimpinannya, bukan hanya melawan KHK tetapi melawan kesadaran pilihan sebagai anggota klerikus. Umat awam hendaknya mendukung para klerikus untuk tetap bangga dalam panggilan sebagai anggota klerikus dalam menggunakan pengaruhnya politis kepedulian sosialnya dalam memperjuangkan hak-hak Gereja dan kesejahteraan umum masyarakat secara keseluruhan
MENGENAL DAN MENGHAYATI KEUTAMAAN KETEGUHAN Nadeak, Largus
LOGOS Vol. 19 No. 1 (2022): Januari 2022
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v19i1.1635

Abstract

Back to virtue! Seruan ini didengungkan oleh Alasdair MacIntyre agar manusia mengenal kembali keutamaan serta menghayatinya. Gagasan tentang keutamaan sudah dikonsepkan oleh Aristoteles dan Thomas Aquinas dengan baik sebelumnya. Keutamaan keteguhan sebagai keutamaan moral makin aktual dipromosikan sekarang agar manusia tidak mudah berhenti di kenyamanan sesaat dan tidak mengatasi masalah dengan gegabah, tetapi tekun memperjuangkan kebaikan pribadi dan kebahagiaan bersama. Menarik bahwa para pegiat pendidikan berpartisipasi memperkenalkan keteguhan pada anak-didik sejak awal sehingga mereka memiliki kecerdasan emosional yang memadai, serta memiliki daya climber. Orang Kristen sebagai bagian masyarakat hendaknya berpartisipasi memperjuangkan kebaikan dan kebenaran sejati. Jiwa kemartiran menggerakkan semangat keteguhan orang beriman agar berdaya climber, terus berjuang mengikuti teladan yang ditunjukkan oleh Yesus Kristus Sang Climber sejati. Dia terus mendaki sampai mati di puncuk gunung Golgota dan kemudian menganugerahkan kebangkitan kekal bagi orang beriman yang mengikti-Nya dengan setia
EFEKTIVITAS SAKRAMEN INISIASI: Kesatuan Perayaan Ritual dan Tindakan Real Nadeak, Largus
LOGOS Vol. 6 No. 1 (2008): Januari 2008
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v6i1.1823

Abstract

The sacraments of Christian initiation: Baptism, Confirmation, and the Eucharist lay the foundations of every Christian life. The faithful are born anew by Baptism, strengthened by the sacrament of Confirmation, and receive in the Eucharist the food for eternal life. The sacraments of Christian initiation become effective (as medium of salvation), when ritual celebration of these sacraments unites with real act of the faithful. The grace accepted in ritual celebration must bear fruit in the real act. Man/woman who has received the sacraments of Christian initiation asks, “What deed must I do?” Baptism guides someone to live with and in Christ and be called to provide the truth. Confirmation brings someone to be a faithful witness of Christ. Eucharist makes someone renew always his/her faithfulness as a disciple of Christ by doing solidarity. Thus the sacraments of initiation guide faithful to a community where God lives.
MEMBANGUN MORALITAS DALAM ARUS POSTMODERNISME Nadeak, Largus
LOGOS Vol 4 No. 1 (2005) : januari 2005
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v4i1.1830

Abstract

A strong current in thinking nowadays is postmodernism. It is signed by the changes of opinion and by calling in question the absoluteness of reason, and tradition. We should observe the sign of our times, and afterward we ask what we should do. We answer our question by reconstructing morality with some important ideas as follows: 1) We refound our morality on truth known by faith and reason; 2) To make moral as a critical instrument in searching goodness; 3) To restore our moral habit by knowing virtues (back to virtues).
“PERKAWINAN” PASANGAN HOMOSEKSUAL: Tidak Sesuai dengan Ajaran Gereja Katolik Nadeak, Largus; Maduwu, Bernardus C.G.
LOGOS Vol. 19 No. 2 (2022): Juli 2022
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v19i2.2017

Abstract

Secara alami dan biologis, jenis kelamin manusia jelas, yaitu laki-laki dan perempaun. Secara tradisoonal diterima oleh masyarakat bahwa ketertarikan seksual bersifat heteroseks, yaitu laki-laki tertarik berelasi seksual dengan perempaun dan perempuan tertarik berelasi seksual dengan pria. Sekarang sebagian masyarakat menerima bahwa ketertarikan seksual bukan hanya bersifat heteroseks, tetapi bisa juga bersifat homoseks, yaitu laki-laki tertarik secara seksual dengan pria (gay), dan perempuan tertarik secara seksual dengan perempuan (lesbi). Orientasi seksual yang bukan hanya heteroseks makin mendapat perhatiaan saat ini. Perhatian makin serius karena sebagian masyarakat menerima dan mengesahkan perkawinan homoseksual. Gereja Katolik tidak menerima “perkawinan” homoseksual karena tidak sesuai dengan ajaran dan aturan yang melindungi nilai kemanusiaan dan martabat keluarga. Perkawinan sakramental dalam Gereja Katolik terjadi antara laki-laki dan perempuan (heterokseksual) yang berhubungan dengan ketahanan lembaga keluarga, prokreasi dan keturunan
HILANGNYA RASA BERDOSA MENURUT PAUS YOHANES PAULUS II DALAM EKSHORTASI APOSTOLIK RECONCILIATIO ET PAENITENTIA Nadeak, Largus; Purba, Suhendro; Surip, Stanislaus
LOGOS Vol. 20 No. 1 (2023): Januari 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i1.2547

Abstract

Paus Yohanes Paulus II memandang bahwa di abad ini dunia dilanda konflik dan persoalan yang terjadi akibat hilangnya rasa berdosa (a sense of sin) dalam diri manusia. Krisis hati nurani dan krisis rasa akan Allah (a sense of God) adalah penyebab hilangnya rasa berdosa. Krisis tersebut tampak dalam beberapa fenomen budaya kontemporer, yakni sekularisme, kesalahan dalam mengevaluasi ilmu pengetahuan manusia, relativisme sistem etika, dan pemahaman yang samar-samar mengenai rasa berdosa. Paus Yohanes Paulus II mendorong semua insan untuk memulihkan rasa berdosa benar yang sudah hilang. Paus mengajak agar prinsip dan ajaran moral Gereja ditegakkan kembali, katekese pertobatan terus digaungkan, hati nurani tetap diasah, dan penerimaan Sakramen Tobat semakin digiatkan. Jalan-jalan pertobatan ini mutlak diperlukan agar rasa berdosa tetap lestari dalam diri manusia. Rasa berdosa yang benar membantu manusia untuk menata hidup bersama yang baik dengan sesama manusia serta mengakui dan mengalami kehadiran Allah yang Maharahim dalam gerak hidup.
PERKAWINAN TANPA ANAK YANG DISENGAJA: Tidak Sesuai dengan Kodrat Perkawinan Katolik menurut Seruan Apostolik Amoris Laetitia Nadeak, Largus; Situmorang, Sihol; Bhia, Marianus
LOGOS Vol. 20 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i2.2991

Abstract

Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya dan menurut model dan motivasi kasih. Allah memahat di dalam diri setiap manusia suatu daya untuk mengasihi. Salah satu bentuk panggilan untuk mengasihi dalam Gereja Katolik terwujud dalam perkawinan. Salah satu tujuan perkawinan adalah kehadiran anak. Dewasa ini, ada fenomen perkawinan tanpa anak yang disengaja, yang disebut childfree. Gereja mencermati dan menanggapi childfree yang merupakan salah satu keadaan keluarga saat ini. Dalam Seruan Apostolik Amoris Laetitia dicermati beberapa alasan keluarga memilih childfree. Gereja berpandangan bahwa childfree tidak sesuai dengan kodrat perkawinan Katolik. Ada beberapa pendapat Gereja sehingga mengatakan bahwa childfree tidak sesuai dengan kodrat perkawinan Katolik, salah satunya ialah prokreasi. Gereja perlu bertindak menghadapi fenomen childfree dengan menggalang kerja sama dengan pasangan suami-istri dan pemerintah.
FUNGSI PERAYAAN ADAT BATAK DAN PERAYAAN SAKRAMEN PERKAWINAN PADA MASYARAKAT BATAK KATOLIK DALAM PERSPEKTIF FUNSIONALISME AGAMA Antono, Yustinus Slamet; Tambunan, Ade Christianto; Nadeak, Largus
LOGOS Vol. 20 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i2.2996

Abstract

Mayoritas masyarakat Batak Toba adalah Kristen (Protestan dan Katolik). Fungsionalisme agama memandang sesuatu sebagai agama dalam karakternya yang menyatukan masyarakat. Perayaan adat perkawinan Batak berdasar pada penghayatan akan sistem sosial dalihan na tolu. Perayaan sakramen perkawinan berdasar pada kepercayaan akan subjek spiritual yang disebut Tuhan. Kedua perayaan berfungsi dalam masyarakat. Dalam analisa fungsi integratif perayaan adat perkawinan Batak dan perayaan sakramen perkawinan mempengaruhi nilai-nilai perkawinan. Perkawinan dihayati mengandung kesepakatan bebas kedua pengantin, keterlibatan keluarga dan struktur dalihan na tolu, kehadiran Tuhan, kesetiaan perkawinan, serta penerusan keturunan sebagai tujuan perkawinan. Dalam fungsi laten of maintenance, perayaan adat perkawinan diterima dan membuat masyarakat menghidupi nilai-nilainya karena merupakan tradisi warisan yang bernilai baik, merupakan syarat untuk menerima hak sebagai anggota masyarakat, serta merupakan sarana menerima berkat berupa kehangatan relasi sosial. Perayaan sakramen perkawinan diterima dan membuat masyarakat menghidupi nilai-nilainya karena merupakan sarana berelasi dengan Tuhan, merupakan sarana memohon dan menerima berkat berupa optimisme hidup perkawinan, serta pengaruh dari lingkungan sosial.