Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH JENIS AIR RENDAMAN TERHADAP PENURUNAN KADAR FORMALIN PADA IKAN TONGKOL (Euthynnus affinis) Devi Arifatin Giyanti; Narwati .; Margono .
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 12, No 2 (2014): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v12i2.70

Abstract

Fish is an example of perishable food. To prevent fish from deteriorating quickly, proper handlingis required during storage to extend the shelf life, among other things, one of which is by the addition ofpreservatives. the extension of food shelf lives, people often misused formaldehyde as a foodpreservative. Formaldehyde itself is banned for use as food ingredients as it may be harmful to humanhealth, such as irritation of the stomach, its carcinogenic properties (causing cancer), and may bringabout death.This was an experimental study using one group pretest-posttest design to investigate the effectof soaking water on the reduction of formaldehyde levels in cobs. There were 48 samples in 6replications of each treatment group. The dependent variable in this study was the formaldehyde levelsin cobs and the independent variables was the type of soaking water (tap water, hot water attemperature of 50 DCand 5% vinegar), soaking were exercised for 30 minutes. The data were analyzedusing paired t test and Anova test.The result showed that all three types of soaking water were able to reduce levels of formaldehydein cobs, where tap water reduced formaldehyde level by 53.7% at p a (0.05), hot water attemperature of 50 DCreduced formaldehyde level by 62.6% at p a (0.05), and vinegar 5% reducedformaldehyde level by 42.4% at p a (0.05). The Anova test between treatment groups indicated thatsoaking water resulted in a value of p a (0.05)It can be concluded that types of soaking water have no effect on the reduction of formaldehydelevel in cobs. However, there were significant differences in reduction of formaldehyde level before andafter the soaking treatment. The stydy suggested that further research needs to be conducted on otherfish samples using different concentration of soaking water and soaking time.
PENURUNAN KADAR Hg PADA IKAN BELANAK (Mugil dussumieri) DENGAN MENGGUNAKAN FILTRAT TOMAT (Solanum lycopersicum) 2017 Nia Nur Azizah; Narwati .; Hadi Suryono
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 15, No 2 (2017): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v15i2.673

Abstract

Ikan belanak merupakan hasil laut yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Salah satu perairan yang banyak ditemukan ikan belanak adalah pantai kenjeran surabaya. Perairan pantai kenjeran surabaya telah tercemar logam berat merkuri  ( Hg ) oleh limbah industri dan rumah tangga sehingga biota yang hidup dalam perairan tersebut juga terkontaminasi merkuri ( Hg ). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan lama waktu perendaman larutan filtrat tomat konsentrasi 50 % terhadap kadar merkuri dalam ikan belanak.Penelitian ini menggunakan  rancangan one group pretest posttest design dengan empat perlakuan yaitu lama waktu perendaman 60 menit, 90 menit, 120 menit, 150 menit dalam larutan filtrat tomat 50 %. Peneliti menggunakan uji paired t test dan uji anova untuk menganalisis penelitian ini.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar rata-rata Hg sebelum perlakuan adalah 0,014 mg / kg. Setelah perlakuan, penurunan Hg pada lama waktu perendaman 60 menit sebesar 14 %, 90 menit sebesar 22 %, 120 menit sebesar 64 %, dan 150 menit sebesar 86 %Dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh lama waktu perendaman filtrat tomat terhadap penurunan kadar logam berat Hg dalam ikan belanak. Disarankan kepada orang untuk merendam bahan makanan sebelum konsumsi dengan menggunakan tomat filtrat karena bisa mengurangi kadar logam berat Hg. Kata Kunci : Ikan Belanak, Logam Berat Hg, Filtrat Tomat
EFEKTIVITAS PERASAN DAUN JERUK PURUT TERHADAP ANGKA KUMAN PADA PERALATAN MAKAN TAHUN 2017 Annisa Nur Islamiar; Narwati .; Umi Rahayu
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 15, No 3 (2017): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v15i3.696

Abstract

Makanan adalah kebutuhan pokok untuk hidup manusia. Makanan dapat ditemui di restoran ataupun di pedagang kaki lima di tepi jalan yang mempunyai risiko penyakit yang ditransmisikan oleh bakteri patogen ketika tidak diolah dengan higienis. Alat makan merupakan salah satu risiko yang dapat menjadi sarana pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroorganisme jika tidak dicuci dengan baik. Hal ini disebut dengan food-borne disease. Cara yang dapat digunakan untuk menekana terjadinya food-borne disease adalah dengan melakukan desinfeksi. Salah satu desinfektan yang dapat digunakan adalah daun jeruk purut yang dapat menurunkan angka kuman. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis efektivitas daun jeruk purut terhadap angka kuman pada peralatan makan.Metode penelitian ini adalah eksperimental menggunakan rancangan non equivalent control group. Data dianalisis menggunakan uji annova dengan tes LSD (Least Significant Difference).Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil yang signifikan bahwa daun jeruk purut dapat menurunkan angka kuman dan terjadi perbedaan yang signifikan pada kelompok kontrol.  Kelompok yang dapat menurunkan nilai angka kuman tertinggi adalah dengan konsentrasi 100 mg / 100 ml .Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah variasi konsentrasi daun jeruk purut dapat menentukan nilai penurunan angka kuman. Dalam penelitian ini, konsentrasi daun jeruk purut yang efektif untuk menirunkan angka kuman 100 mg / 100 ml. Keywords: daun jeruk purut, perelatan makan, angka kuman
KANDUNGAN Rhodamin Spada KERUPUK ESEK MERAH DIINDUSTRI RUMAH TANGGA DESA TLASIH KECAMATAN TULANGAN KABUPATEN SIDOARJO Dessy Sylviana; Narwati .; Umi Rahayu
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 11, No 2 (2013): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v11i2.188

Abstract

Rhodamin B is a non-food synthetic dye which is misused on foods since it canendanger public health. The using of Rhodamin B is regulated by virtue of Republic ofIndonesia Minister of Health Regulation No. 239/MenKes/Per/V/85. The objective of this studyis to find out the content of Rhodamin Bqualitatively in red 'esek' chip.This study is a descriptive study that is to describe the existence of Rhodamin 8content in red 'esek' chip. The population of this study includes 250 grams red 'esek' chip from6 producers who produce red 'esek' chip at home industry of Desa Tlasih Kecamatan TulanganKabupaten Sidoarjo. Data analysis is performed descriptively namely by means of organolepticphysical examination, chemical examination and the knowledge level of red 'esek' chipproducers.The result of red 'esek' chip physical examination indicates that 2 out of 6 samples ofred 'esek' chip do not show any characteristic of Rhodamin 8 usage, while 4 samples of red'esek' chip show the characteristic of Rhodamin 8 usage. The evaluation of red 'esek' shipproducers' knowledge level indicates that 1 producer is categorized in "Good" criteria(16,67%) and 5 producers are categorized in "Sufficient" criteria (83,33%).Most of those chips which show the characteristic of Rhodamin B usage and producerswho positively use Rhodamin 8have "Sufficient" level of knowledge. It is suggested that thoseconsumers of red 'esek' chip be more careful to observe the characteristic of red 'esek' chipwhich contains Rhodamin B. A further research is required to be performed on other types ofchip in order to find out whether it contains Rhodamin Bor not.Keywords : Rhodamin 8, red 'esek' chip, Desa Tlasih
PENCEGAHAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU BTA POSITIF Vivick Artha R S; Nur Haidah; Narwati .
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 17, No 2 (2019): GEMA Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v17i2.1064

Abstract

Tuberculosis is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis which spreads through droplet nuclei. Pulmonary tuberculosis can cause death if it is not treated, so efforts need to be made to eradicate pulmonary tuberculosis. One of the effort to eradicate some cases of pulmonary tuberculosis is to improve health behavior by preventing bad behavior. Behavior is the implementation of knowledge, attitudes and actions. The purpose of this research is to determine the relationship of preventive behavior to the incidence of positive BTA pulmonary.This study uses a simple random sampling method with a case control study approach. The population was random patients with positive BTA pulmonary TBC as a case of 59 respondents and neighbors of patients who did not suffer from pulmonary TBC as a control 59 respondents with a total of 118 respondents. Data collection is done by interviewing with questionnaires.The results showed that there was a relationship between knowledge (p-value = 0.006 0.05) with the incidence of Positive AFB Tuberculosis. There was no relationship between attitudes (p-value = 0.580 0.05) with the incidence of Positive BTA Tuberculosis. There is a relationship between precautionary measures (p-value = 0.001 0.05) on the incidence of Positive BTA Tuberculosis in the Work Area of Manukan Kulon Health Center.It was concluded that there was no between attitudes towards the incidence of Positive BTA, but there was a relationship between knowledge and preventive measures for the incidence of Positive BTA Tuberculosis. It is recommended to health service providers who have built Pulmonary TBC cadres to increase pulmonary TBC eradication activities to reduce the number of Lung Tuberculosis cases in the Manukan Kulon Health Center Work Area by visiting each BTA patient and their neighbors and providing incentive health education about Lung TBC. Keywords: Lung Tuberculosis (TBC), Preventive Behavior
Hubungan Kondisi Fisik Rumah dan Tingkat Ekonomi Orangtua Terhadap Kejadian Pneumonia Pada Balita (Studi Kasus di Wilayah Kerja Puskesmas Sukodono)) Diaz Ramadhani; Nurhaidah -; Narwati -
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 19, No 1 (2021): GEMA Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v19i1.1401

Abstract

Pneumonia pada balita masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Kematian karena pneumonia pada masa kanak-kanak sangat terkait dengan faktor yang berhubungan dengan kemiskinan seperti kurang gizi, polusi udara dalam ruangan, dan akses yang tidak memadai ke perawatan kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara kondisi fisik rumah dan tingkat ekonomi orangtua dengan kejadian pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Sukodono.Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik menggunakan studi Case Control. Sebanyak 25 rumah balita menderita pneumonia sebagai kasus dan 25 rumah balita tidak menderita pneumonia sebagai kontrol. Responden penelitian ini adalah ibu balita kelompok kasus maupun kontrol. Data yang diperoleh dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji Chi Square.Hasil analisis menunjukkan dari  lima variabel yang diteliti, dua variabel memiliki hubungan bermakna dengan kejadian pneumonia pada balita, yaitu kepadatan kamar tidur (p = 0,027) dan kelembaban rumah (p = 0,030), sedangkan variabel pencahayaan alami (p = 0,172), suhu rumah (0,382), dan tingkat ekonomi orangtua (p = 0,349) tidak memiliki hubungan dengan kejadian pneumonia pada balita.Kesimpulan penelitian ini yaitu ada hubungan antara kepadatan kamar tidur dan kelembaban rumah dengan kejadian pneumonia pada balita, sedangkan suhu rumah, pencahayaan alami, dan tingkat ekonomi orangtua tidak memiliki hubungan dengan kejadian pneumonia pada balita. Saran bagi masyarakat untuk ikut berperan dalam mencegah penularan penyakit pneumonia dengan rajin membuka jendela rumah tiap hari dan kamar tidur maksimal dihuni oleh 2 orang dewasa dan 1 balita. Saran bagi puskesmas untuk meningkatkan pengetahuan pneumonia pada ibu dengan penyuluhan dan pembinaan sanitasi rumah.
KAJIAN TENTANG KUALITAS AIR FOUNTAIN (Studi Kasus Air Fountain di Taman Bungkul Kota Surabaya) Yuliana Ngasarotun; Narwati .; Imam Thohari
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 11, No 1 (2013): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v11i1.174

Abstract

People are doubtful to drink from water fountain provided in amusement parks. In addition, itwas whose has the contamination to other users. It was occured becausethe controllers to the faucet ofdrinking water. This research is aimed at studying water quality of a drinking fountain, before and afterthe onsite treatment processesat the unit located in Tarnan.Bunqkul Surabaya.This is a descriptive research, where water samples were drawn as a composite samples, twice aday (morning and afternoon) sampling takes before and after processing the fountain water treatmentunit. Data were collected through laboratory measurements on physical characteristics (smell, color,turbidity, taste, temperature), microbiological parameters (coliform MPNindex), chemical quality (iron andpH) and through organoleptic determination that include smell, color, taste, as well as visual observationson the state of the water fountain and associated treatment unit. Collected data were tabulated andanalyzed as is.Results of physical, microbiological, and chemical examinations showed that parameters were inaccordance with designations in the Ministry of Health Regulation No 492/Menkes/PER/IV/2010. Resultsofthe first and second laboratory analysis indicated decreased levels of color, turbidity, temperature, coliformMPN,iron, pH. However in the second examination the water temperature increased (0.004%).The study concluded that water fountain suitable for consumption. For the maintenance of thewater fountain quality the study suggested that people should wash their hands prior to using the waterfountain and observe the Standard Operating Procedure (SOP).Keywords :drinking water fountain, contaminants, transmission of the disease
PENURUNAN KADAR ARSEN PADA SELADA KERITING (Lactuca sativa crispa) MENGGUNAKAN AIR PERASAN JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia swingle) Ika Agustina; Narwati .; Rusmiati .
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 16, No 2 (2018): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v16i2.828

Abstract

Selada merupakan sayuran segar yang langsung dikonsumsi, jika tidak diolah dengan benar, berpotensi memberikan dampak kesehatan pada manusia. Salah satu upaya mengurangi kandungan Arsen dengan bahan yang bersifat chelating agent alami yaitu air perasan jeruk nipis. Tujuan penelitian ini  menganalisis penurunan kadar arsen pada selada keriting sebelum dan sesudah perendaman menggunakan air perasan jeruk nipis.Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen murni. Metode yang digunakan yaitu uji organoleptik dan pemeriksaan kadar Arsen dengan menggunakan alat Spektrofotometer Serapan Atom (SSA).Hasil uji organoleptik yang memenuhi syarat adalah konsentrasi air perasan jeruk nipis 25% dan 50%, sedangkan yang tidak memenuhi syarat adalah konsentrasi 75%. Pada  Uji One Way ANOVA kadar Arsen menunjukkan hasil p0,05 sehingga terdapat perbedaan yang signifikan. Disimpulkan bahwa air perasan jeruk nipis dapat digunakan menurunkan kadar Arsen, untuk dapat menurunkan arsen dan mempertahankan mutu selada keriting menggunakan konsentrasi air perasan jeruk nipis 25%.Kata Kunci : Arsen (As), Selada Keriting, Air Jeruk Nipis 
PERBEDAAN KADAR LOGAM BERAT MERKURI (Hg) PADA IKAN TENGGIRI (Scomberomorus commerson) YANG DIJUAL DI PANTAI KENJERAN SURABAYA TAHUN 2015 Aida Fithriyah; Rusmiati .; Narwati .
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 14, No 1 (2016): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v14i1.123

Abstract

Pantai Kenjeran Surabaya, selain berfungsi sebagai tempat rekreasi laut, juga merupakan muara bagi sungai-sungai dari kota. Mengingat kali Surabaya dan cabang-cabangnya tercemarlogam berat maka perairan di Pantai Kenjeran juga tercemar. Ikan tenggiri merupakan salah satuikan yang banyak dikonsumsi masyarakat Pantai Kenjeran. Namun ikan tenggiri yang berasal dariPantai Kenjeran mempunyai potensi sebagai sumber untuk masuknya bahan berbahaya ke tubuhmanusia yaitu dengan adanya merkuri. Sehingga perlu dilakukan pengolahan ikan sebelumdikonsumsi. Pengolahan ikan dapat menurunkan kadar Hg, salah satunya dengan carapengasapan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar Hg antara ikan tenggirisebelum dan sesudah pengasapan.   Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan rancangan one group pretest posttest. Sampel yang digunakan sebanyak 16 sampel sebelum dan sesudah pengasapan. Analisisdata dalam penelitian ini menggunakan uji paired t test. Hasil pemeriksaan Hg ikan tenggiri sebelum dan sesudah pengasapan masing-masingrata-rata sebesar 0.019150 ppm dan 0.009987 ppm. Hasil tersebut menunjukkan bahwapengasapan terbukti mampu menurunkan kadar Hg pada ikan tenggiri sebesar 45.387%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada perbedaan penurunan secara signifikan antarakadar Hg pada ikan tenggiri sebelum dan sesudah perlakuan pengasapan. Maka dari itu disarankanperlu dilakukan pengolahan terlebih dahulu pada ikan tenggiri salah satunya dengan carapengasapan.
KAJIAN PARTISIPASI MAHASISWA TERHADAP LINGKUNGAN FISIK KAMPUS DI POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA Narwati .; Rusmiati .; Rachmaniyah .
JURNAL PENELITIAN KESEHATAN Vol 14, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.944 KB)

Abstract

Community participation is the participation of all community members in solve theproblems of the community. Community participation in the health sector means the participationof all community members in solve the health problems of their own. To cultivate self-awarenessto each of the students is not an easy thing because it is likely to be born of the will of theindividual. Frequently encountered are students too indifferent to the environment, because theythink that the cleanliness of the environment has become the responsibility of a cleaning service.The purpose of this study was to get a description of the student participation onenvironmental cleanliness in Politehnik Kesehatan Kemenkes Surabaya campus.The method used in this research is descriptive, the population in this study is the entireacademic Jurusan Kesehatan Lingkungan Surabaya and Jurusan Gizi is still active, the number of389 students, while the samples are taken using the technique Stratified Random Sampling of 25%of the total population (389 students) then obtained a sample of 98 students. Data collectiontechniques in this study using a questionnaire and wawancara.dan observation data obtained wereanalyzed descriptively that illustrates the participation of students to the cleanliness of the campusJurusan Kesehatan Lingkungan Surabaya and Jurusan Gizi.The results showed that the participation rate of students to the cleanliness of theenvironment on the campus of Jurusan Kesehatan Lingkungan Surabaya and the Jurusan Gizicategory enough (60%), and the participation of students to the cleanliness of the campusincluding the category of moderately active program evaluation activities related to environmentalhygiene in order to follow up the improvement in the future.
Co-Authors Adistya Galih P Agustin Dewi Aida Fithriyah Ambarwati Ambarwati Annisa Nur Islamiar Asfiatus S. Rizkia Astri S Rinda Bambang Sunarko Bambang Sunarko Bambang Sunarko Chairudina S. Erin Darjati Darjati Darjati, Darjati Dealivy Hangga Arvin Deddy Adam Demes Nurmayanti Dessy Sylviana Devi Arifatin Giyanti Dhea Elok Apriliani Dhea Vara Adellya Diana Nerawati Diaz Ramadhani Dita Nur Kusumawati Erna Triastuti Ervalia Zamilanti, Zilca Fadlilah, Hidayatul Ferdiansyah, Fariztyo Yusuf Ferry Kriswandana Ferry Kriswandana Fuadi, Muhammad Yusron Hadi Suryono Hamzah Muhammad Iqbal Aziz Henny Trisyanti Hermiyanti, Pratiwi Hesti Riski Febry Sohpyana I Putu Krysna Anom Putra Ika Agustina Imam Thohari Imam Thohari Iva Rustanti Eri Wardojo Jesica Gabriella Tapiory Khambali, Khambali Koerniasari . Lestari Dwi Utami Margono . Marlik Mayangsari Yunika Wijaya Mirasa, Yudied Agung Mohammad Nur Hamzah Nasution, Aldi Syahputra Nazahah Hunafa Nerawati Diana A.T Ngadino, Ngadino Nia Nur Azizah Nisrina Mufidah Novi Nur Pratiwi Nur Anisah Apriliani nur haidah Nur Rafiqa Puspita Sari Nurhaidah Nurhaidah Nurmawati Nurmawati Putra, Farhan Kusuma Putri Arida Ipmawati, Putri Arida Rachmaniyah Rinda Astri Setyawati Rokhmalia, Fitri Rosida Al Indansah Rusmiati Rusmiati Rusmiati Sari, Ernita Selfi’un Linda Apsari Sharen Liestya Santosa Silvia Retna Ning Tyias Sri Anggraeni Suwantiningsih, Suwantiningsih Umi Rahayu Vivick Artha R S Winarko, Winarko Yuliana Ngasarotun Zukrisningtyas, Liza Fajrin Zulia Hanin Nugraini