Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Reartikulasi Makna Citra Yesus: Analisis Visual “Yesus Naik Harley Davidson” P. Benny Setyawan; Listia Natadjaja
Jurnal Desain Komunikasi Visual Nirmana Vol. 17 No. 2 (2017): JULY 2017
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.654 KB) | DOI: 10.9744/nirmana.17.2.78-86

Abstract

Dalam  perspektif  agama  Kristen,  paling  tidak  pada  beberapa  dekade  masa  terakhir  ini,  muncul  seni visual citra Yesus “yang baru”. Jika pada masa pertengahan Yesus sering dicitrakan sebagai sosok dan figur  yang  sederhana,  pada  seni  visual  yang  baru  atas  citra  Yesus  ini,  Dia  ditampilkan  lebih  stylish. Artikel  ini  akan  memfokuskan  analisis  pada  seni  visual  citra  Yesus  yang  digambarkan  sedang mengendarai Harley Davidson. Citra Yesus kontemporer melalui seni visual, yang menggambarkan Dia sedang mengendarai motor Harley Davidson, seakan-akan hendak meneguhkan manusia yang hidup di abad modern ini, bahwa kehidupan dalam ruang dan dimensi apapun dapat dinikmati dan memberikan kebahagiaan.  Citra  Yesus  dengan  mengendarai  Harley  Davidson  secara  implisit  dan  eksplisit  telah menenggelamkan Yesus tidak lagi memiliki citra sebagai Putera Allah, tetapi meletakkan Yesus seperti kita, manusia yang “imago dei”, hanya pada tataran “mirip dengan Tuhan”. Ketika kemudian citra Yesus dipergunakan untuk kepentingan yang bersifat politis maka akan menimbulkan reartikulasi makna yang paradoks dan ironik.
Kajian Partisipasi Masyarakat dalam Kegiatan Mural (Studi Kasus: Mural Dinding Sekolah TK YBPK Sekar Indah Malang) Anang Tri Wahyudi; Listia Natadjaja; Obed Bima Wicandra; Heru Dwi Waluyanto
Jurnal Desain Komunikasi Visual Nirmana Vol. 17 No. 2 (2017): JULY 2017
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.635 KB) | DOI: 10.9744/nirmana.17.2.87-95

Abstract

Karya  mural  kini  sudah  mulai  banyak  diminati  oleh  semua  kalangan,  mural  tidak  hanya  di  dinding- dinding  pinggir  jalan  raya,  tetapi  mulai  merambah  di  dinding  sekolah,  café,  perkantoran,  rumah,  dan ruang privat. Tingkat apresiasi, keinginan dan permintaan masyarakat terhadap mural semakin tinggi, tetapi  partisipasi  masyarakat  dalam  pembuatan  mural  secara  langsung  banyak  terkandala  berbagai alasan. Hal ini terjadi pada beberapa kegiatan mural yang dilakukan oleh para dosen DKV UK Petra dan salah satunya penulis mencoba mengangkat kegiatan mural yang dilakukan di TK YBPK Sekar Indah Malang. Penelitian ini mencoba menggali sejauh mana  masyarakat dapat berpatisipasi dalam kegiatan mural.  Untuk  mengetahui alasan dan interpretasi  masyarakat  terhadap  fenomena kehadiran mural di dalam  lingkungan  mereka,  maka  digunakan  pendekatan  paradigma  fenomenologis  interpretatif,  yaitu suatu pendekatan yang  berorientasi kepada nilai  subjektivitas  dari informan  sebagai  masyarakat yang mengikuti pelatihan mural di Gereja GKJW Tunjung Sekar. Mayarakat tidak serta-merta mau terlibat dalam  kegiatan  mural.  Perlu  peran  serta  panitia  setempat  untuk  lebih  aktif  mengajak  masyarakat sekitar untuk terlibat. Sedangkan dari pihak dosen DKV UK Petra dapat memberikan peluang lebih agar masyarakat berani untuk menuangkan karya mereka di dinding. Masyarakat merasa senang mengenal mural lebih dekat, mereka ingin belajar bisa membuat mural, tetapi kepercayaan diri dan perasaan tidak memiliki  kemampuan  menggambar  masih  menjadi  kendala  utama.  Perlu  dipertimbangkan  lagi  untuk membuat  suatu  kontrak  kerja  agar  tercipta  persepsi  yang  sama  antara  panitia,  dosen  DKV  dan masyarakat
Representasi Perempuan dalam Iklan Televisi “Downy” Varian Parfum Collection dan Premium Parfum Jessica Alicia Surya; Listia Natadjaja; Rika Febriani
Jurnal Desain Komunikasi Visual Nirmana Vol. 19 No. 1 (2019): JANUARY 2019
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.93 KB) | DOI: 10.9744/nirmana.19.1.41-51

Abstract

Bersamaan dengan diluncurkannya produk Downy Parfum Collection dan Premium Parfum, Downy juga mengeluarkan dua iklan yang ditayangkan di televisi nasional. Kedua iklan ini merepresentasikan tokoh perempuan dengan cara yang berbeda dari iklan-iklan sebelumnya, dimana sebelumnya perempuan selalu digambarkan sebagai ibu rumah tangga. Selain itu, elemen “luar negeri” dan “orang asing” terlihat jelas meski iklan ini ditayangkan di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui representasi perempuan yang disampaikan dalam iklan Downy tersebut. Penelitian ini bersifat kualitatif dan dianalisis menggunakan semiologi Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Downy merepresentasikan perempuan sebagai figur yang percaya diri, mandiri, dan tidak lagi hanya bekerja di ranah domestik tetapi juga ranah publik. Hal ini sejalan dengan pandangan fenimisme yaitu menyamakan derajat pria dan wanita. Meskipun begitu, perempuan ternyata tetap tunduk kepada tuntutan publik bahwa ia harus selalu tampil wangi dan cantik. Terdapat budaya postkolonial yang terkandung dalam iklan ini, dilihat dari orang Barat yang mengagumi dan memuji tokoh utama (orang Timur). Rasa kagum dan pujian dari orang Barat lebih berkesan bagi orang Timur, karena budaya postkolonial yang masih berlaku saat ini.
Bamboo for Beverage Containers of Legen and Tuak as a Reflection of Local Wisdom of Tuban Society Listia Natadjaja; Elisabeth Christine Yuwono
Jurnal Desain Komunikasi Visual Nirmana Vol. 23 No. 1 (2023): JANUARY 2023
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/nirmana.23.1.50-58

Abstract

Legen and tuak beverage container made of bamboo has different names and functions namely bethek, centhak and ongkek. This study aims to see how people use bamboo as part of local wisdom in the form of legen and tuak container. The society gaining knowledge from living with the nature finds that the functions of a bamboo are being thermal insulation, being a not-easily-broken container, maintaining flavor and aroma, and making the content in it more durable. Apparently, the sustainability of this natural-made packaging is not only due to its function which is tangible but also related to the socio-cultural of the local community especially how they produce, consume and distribute legen and tuak.  In practice, local wisdom of bamboo as legen and tuak beverage containers continuously gives attention to the balance of nature that does not destroy or force the nature to produce more than its capacity, it is inherited from generation to generation, and it is correlated to the culture. It contains the philosophy of self-controlled and sharing.
Designing Creative Learning Media About Processing of Used Milk Boxes into DIY Art and Craft Kosasih, Antonius Nicky; Natadjaja, Listia; Febriani, Rika
k@ta: A Biannual Publication on the Study of Language and Literature Vol. 25 No. 00: SPECIAL EDITION, MARCH 2023
Publisher : The English Department, Faculty of Humanities & Creative Industries, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/kata.25.00.24-31

Abstract

Waste materials are things in the environment that can be used or returned into something good and useful. One of the results of used good processing is a work of art, which can be made DIY by all people, both adults and children. Creating or customize DIY art and crafts can be an opportunity and the beginning step for children, particularly teenage children, to develop creativity. Children’s creativity needs to be developed in early age, so that one day they have special skills that will be useful in the future. Seeing their ambitions, children can learn anything autodidactically, because there’s social media that support their activity in finding education and entertainment. Instagram and YouTube can become a learning media that will be used to get public support for a creative movement as example. From Instagram and YouTube, teenagers can get many tutorials for them to follow, so they can understand step by step and practice. On Instagram, teenagers will get basic materials up to the steps of making, reviews from random people about the art works that has been made. Also, Instagram will be the media that share events, challenge, giveaway, etc. which is also good for get public attention. And about YouTube, YouTube will become a back-up platform if the education content duration is too long. It will be great for teenagers as the study’s subject if Instagram and YouTube merge as creative learning media that can bring out creative young generations, that can create what they want, and become whom they want in their future.
Starting from an Empty Plate: A Semiotic Study of Instant Noodle Advertisements during the Fasting Month of Ramadan in the Covid-19 Pandemic Natadjaja, Listia
k@ta: A Biannual Publication on the Study of Language and Literature Vol. 26 No. 00: SPECIAL EDITION, MARCH 2024
Publisher : The English Department, Faculty of Humanities & Creative Industries, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/kata.26.00.63-74

Abstract

From the beginning of the Covid-19 pandemic in 2020 until 2022, Indomie has consistently issued advertisements during the fasting month of Ramadan. During this period, it is a challenge for food manufacturers to promote their products. In the case of Indomie’s advertisement, which started with an idea that visually displays an empty plate and is broadcast during the fasting month, is quite viral because it dares to advertise without displaying the products it sells. Interestingly, Indomie is still holding up empty plates for their advertisement in 2021. The continuity of the story that started with empty plates is what prompted me to continue the analysis of Indomie instant noodle ads that were aired during the fasting months of Ramadan during the pandemic in 2020, 2021, and 2022. The purpose of this research is to reveal the meaning and ideology of what is to be conveyed through these ads. Rolland Barthes' semiotic analysis method is considered suitable to analyze the mythology and ideology behind them. The presence of an empty plate shows the meaning of tolerance for fasting Muslims. Each advertisement describes this form of tolerance differently. Even though it is covered by religious, social, cultural, and economic discourses, the ideology of capitalism is still sensed in all the advertisements that are displayed.