Priyadi Nugraha P
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Jl. Prof. H. Soedarto, S.H.,Tembalang, Semarang, Indonesia | Universitas Diponegoro

Published : 78 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

GANGGUAN KESEHATAN AKIBAT STRES KERJA PADA JAJARAN KEPOLISIAN DI POLRES WAKATOBI-INDONESIA Kusmiati, Yeni; Widjanarko, Bagoes; Nugraha, Priyadi
JUMANTIK (Jurnal Mahasiswa dan Peneliti Kesehatan) Vol 4, No 2 (2017): JUMANTIK: Jurnal Mahasiswa dan Peneliti Kesehatan
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1070.107 KB) | DOI: 10.29406/jjum.v4i2.857

Abstract

Gangguan kesehatan akibat stres kerja adalah suatu kondisi ketegangan yang menciptakan adanya ketidakseimbangan fisik, psikis dan psikologis yang mempengaruhi emosi, proses berpikir, dan kondisi seorang karyawan yang berasal dari lingkungan pekerjaan.Tujuanpenelitianadalahmenganalisisfaktor–faktor yang mempengaruhi gangguan kesehatan akibat stres kerja.Penelitian ini kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah polisi sebanyak 181 orang dan sampel 125 respondendengan teknik Propotional Random Sampling. Uji statistikmenggunakanuji chi-square. Kuesioner yang digunakan adalah NIOSH Generic Job Stress Questionnaire. Aplikasi teori menggunakanPerson Environment Fit Theory.Hasil penelitian menunjukkan gangguan kesehatan akibat stres kerja kurang baik sebanyak 64 responden (51,2%) sedangkangangguan kesehatan akibat stress kerja baik sebanyak 61 responden (48,8%). Variabel yang berhubungan dengan gangguan kesehatan akibat stres kerja adalah beban kerja (p=0,034), tuntutan mental (p=0,050), shift kerja (p=0,038) dan dukungan sosial (p=0,041). Variabel yang paling berpengaruh terhadap gangguan kesehatan akibat stres kerja yaitu shift kerja dengan OR=3,131 dan p=0,038.Beberapa saran yang direkomendasikan kepada instansi agar pembagian beban kerja yang merata kepada anggota sehingga dapat meminimalisir tuntutan pekerjaan, membangun kerja sama dan saling mendukung serta merumuskan kebijakan mengenaishift kerja agar tidak melebihi 40jam/minggu sehingga dapat menurunkan gangguan kesehatan akibat stres kerja pada polisi di Polres Wakatobi.
FACTORS RELATED TO THE EVALUATION OF THE TODDLERS' GROWTH EARLY DETECTION PROGRAM AT TAMAN POSYANDU IN PUSKESMAS LAMONGAN Roykhana Nabella Nur, Dita; Tirto Husodo, Besar; Nugraha P, Priyadi
JUMANTIK (Jurnal Mahasiswa dan Peneliti Kesehatan) Vol 5, No 2 (2018): JUMANTIK: Jurnal Mahasiswa dan Peneliti Kesehatan
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.053 KB) | DOI: 10.29406/jjum.v5i2.1275

Abstract

Abstract: The toddlers’ growth early detection program in Taman Posyandu (Integrated Health Service Post) is monitoring the growth of children under five years using KMS (Road to Health Cards) and monitoring the development of children under five years using the developmental stage of children under five and preschool children. Provided there is no stimulation given stimulation, the brain system will be less-developed leading to the decrease of brain function. This health problem may impair the quality of human resources in the future. The purpose of the research is to analyze the factors associated with the evaluation of the early detection program of toddlers’ growth at Taman Posyandu in Puskesmas (Public Health Center) Lamongan. The populations in this study are 98 Posyandu cadres in the Puskesmas Lamongan working area. This study used univariate and bivariate data analyses, and employed Chi Square test (significance level = 0.05) as the data analysis technique. The results showed that the early detection program ran well (58.2%). Most of the respondents were 48-65 years old (55.1%), highly educated people (67.3%), unemployment (5.2%), people receiving training (77.6%). Chi Square test showed that age (p = 0.026), training (p = 0.000), cadre incentive fund (p = 0,000), Posyandu infrastructure facilities (p = 0,000), manuals of Posyandu activities (p = 0.000) were the variables related to the program implementation. Moreover, the implementation is the variable related to the output range of the early detection program (0,015). Suggestion for this research is the necessity to conduct the training for the cadres to improve the ability to conduct this toddlers’ growth early detection program
Dukungan Sosial Keluarga pada Pasien TB MDR di Kota Semarang Wulandari, Rizkiana; Kusumawati, Aditya; Prabamurti, Priyadi Nugraha
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 1 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.1.41-49

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: Tuberkulosis Multi Drug Resistant (TB MDR) adalah masalah terbesar di dunia. Indonesia berada pada urutan ke-8 dari 27 negara dengan jumlah TB MDR terbanyak. Risiko penularan yang tinggi, durasi pengobatan yang lama, jumlah dan dosis obat yang berat, serta efek samping yang lebih buruk menyebabkan rendahnya angka keberhasilan pengobatan TB MDR. Dibutuhkan peran keluarga terdekat pasien untuk dapat memberikan dukungan selama masa pengobatan.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskirptif kualitatif menggunakan metode purposive sampling. Subjek adalah anggota keluarga terdekat pasien TB MDR yang sedang menjalani pengobatan di Puskesmas Kedungmundu. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam. Wawancara dilakukan melalui daring karena berlangsung pada masa pandemi Covid-19.  Validitas dilakukan dengan wawancara pada 4 subjek triangulasi yang merupakan pasien TB MDR itu sendiri. Realibilitas dilakukan dengan auditing data.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek sudah melakukan perilaku pemberian dukungan keluarga pada pasien TB MDR dengan baik. Bentuk dukungan yang diberikan subjek adalah memberi semangat, memberi perhatian, mengingatkan minum obat, memotivasi pasien, mendoakan, menyiapkan makanan, mengantar ke puskesmas, dan mencukupi kebutuhan gizi. Dukungan diberikan oleh keluarga yang memiliki ikatan terdekat yaitu ibu, suami, istri, dan anak. Namun demikian juga harus diberikan oleh anggota keluarga yang tidak tinggal satu rumah. Beberapa faktor yang melatarbelakangi pemberian dukungan adalah persepsi kerentanan, persepsi keseriusan, perspesi manfaat, persepsi hambatan, efikasi diri, dan isyarat bertindak.Simpulan: Perilaku dukungan sosial keluarga berkaitan erat dengan persepsi keseriusan tentang penyakit TB MDR, persepsi manfaat yang dirasakan, dan keyakinan diri subjek memberikan dukungan yang baik kepada penderita TB MDR. Diharapkan pengobatan TB MDR dapat lebih banyak melibatkan keluarga, karena keluarga yang merasa rentan dan percaya jika suatu penyakit dapat menimbulkan keparahan, cenderung melakukan perilaku yang disarankan untuk mengurangi ancaman.Kata kunci: multi drug resistant; tuberkulosis; dukungan sosial keluarga ABSTRACTTitle: Overview of Family Social Support for Multi Drug Resistant Tuberculosis Patients in Semarang City.Background: Multi Drug Resistant (MDR-TB) is the biggest problem in world of TB prevention and eradication. Indonesia ranks 8th out of 27 countries with the most MDR TB. The high risk of transmission, long duration of treatment, the number and dosage of heavy drugs, and worse side effects lead to a lower rate of MDR TB treatment. It takes the role of the patient's immediate family to provide support during the treatment period..Method: This study is a qualitative descriptive study using a purposive sampling method. The subjects were the closest family members of MDR TB patients who were undergoing treatment at the Kedungmundu Health Center. Data collection was carried out by in-depth interviews. Interviews were conducted online because it took place during the Covid-19 pandemic. Validity was carried out by interviewing 4 triangulation subjects who were MDR TB patients themselves. Reability was done by auditing the data.Result: The results showed that the subjects had provided family support to MDR TB patients well. The form of support given by the subject is giving encouragement, giving attention, reminding to take medication, motivating patients, praying, preparing food, taking them to the health center, and fulfilling nutritional needs. Support is provided by families with closest ties such as mother, husband, wife and children. However, it must also be provided by family members who do not live in the same house. Some factors underlying the providing support are perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefit, perceived barriers, self-efficacy, and cues to action.Conclusion: Family social support behavior is related to perceptions of seriousness about MDR TB disease, perceived benefits, and self-confidence of the subject if they are able to provide good support to MDR TB sufferers. It is hoped that MDR TB treatment can involve families more, because families who feel vulnerable and believe that if a disease can cause severity, tend to do the recommended behavior to reduce threats.Keywords: multi drug resistant; tuberculosi; family social support
Analisis Pelaksanaan Program Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) di Pondok Pesantren Durrotu Aswaja Sekaran Gunungpati Semarang Hulaila, Ahla; Musthofa, Syamsulhuda Budi; Kusumawati, Aditya; Prabamurti, Priyadi Nugraha
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 1 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.1.12-18

Abstract

Latar Belakang: Salah satu bentuk pemberdayaan di Pondok Pesantren adalah dengan menumbuhkembangkan Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren). Namun masih jarang Pondok Pesantren yang memiliki Poskestren. Di Kota Semarang hanya terdapat 7% Pondok Pesantren yang memiliki Poskestren. Poskestren Durrotu Aswaja merupakan Poskestren berprestasi di Kota Semarang yang menjuarai Lomba Gerakan Pesantren Sehat. Penelitian ini bertujuan menganalisis keberhasilan Pelaksanaan Program Poskestren Durrotu Aswaja dengan harapan  menjadi pembelajaran bagi Poskestren lainnya.Metode: Pengumpulan data dalam penelitian deskriptif kualitatif ini dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi lapangan. Subjek penelitian terdiri dari delapan kader Poskestren dengan metode purposive sampling. Validitas data dilakukan dengan wawancara kepada sembilan subjek triangulasi. Reliabilitas data dilakukan dengan audit data dan analisis data menggunakan metode content analysis.Hasil: Pada aspek masukan, jumlah kader sudah mencukupi, alat-alat kesehatan sudah lengkap namun untuk ruangan khusus Poskestren masih dalam proses pembangunan. Ketersediaan dana sudah mencukupi dan sebagian besar berasal dari pihak luar. Terdapat data dasar personal hygiene dan media informasi kesehatan. Selain itu terdapat dukungan kiai dalam menerapkan kebijakan yang mendukung kegiatan Poskestren. Pada aspek proses, kegiatan Survei Mawas Diri (SMD) dan Musyawarah Masyarakat Pondok Pesantren (MMPD) sudah terlaksana. Kegiatan Poskestren terdiri dari upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Kemudian adanya sinergitas dengan Puskesmas Sekaran yang aktif membina Poskestren.Simpulan: Berdasarkan  indikator keberhasilan Poskestren menunjukkan bahwa dari aspek masukan dan proses secara keseluruhan sudah terpenuhi semua sehingga Poskestren Durrotu Aswaja termasuk dalam kategori baik, namun perlu perbaikan dalam hal pembentukan divisi-divisi khusus Poskestren serta pengadaan ruangan khusus Poskestren. Sehingga diharapkan Poskestren Durrotu Aswaja menjadi lebih baik lagi.Kata kunci:  Poskestren, kesehatan pesantren, pemberdayaan, PHBS.ABSTRACTTitle: Analysis of Pesantren Health Post Implementation Programi in Semarang (Study at Durrotu Aswaja Pesantren Health Post Sekaran Gunungpati Semarang) Background: One of power sourced Public Health Efforts (UKBM) in the boarding school is Pesantren Health Post that have principle of, by and for the citizens of the boarding school, which sought promotive and preventive without prejudice to the curative aspects and rehabilitation,with the local health center guidance. However, in fact Islamic boarding schools still rare for to have a Pesantren Health Post. In the city of Semarang there are only 12 Pesantren Health Post out of 185 existing Islamic boarding schools. Durrotu Aswaja Pesantren Health Post is an accomplished Pesantren Health Post in Semarang which has won the Healthy Islamic Boarding School Movement Competition in 2019. The aimed of this research is to analyze the implementation of pesantren health post program in Durrotu Aswaja Islamic boarding school with a systems theory approach which is expected to be a lesson learned for other pesantren health post.Method: This research uses a qualitative method with a case study approach. The research subjects are 8 people consisting of the Durrotu Aswaja pesantren health post administrators using purposive sampling method and data collection techniques through indepth interviews and field observation by using an interview guide sheet and a voice recorder, then the collected data were analyzed through the content analysis method.Result: The results showed that the number of cadres was sufficient, the facilities and infrastructure for the pesantren health post were complete. The particular room for the pesantren health post was still under construction, the availability of funds was adequate. Many sources of funds came from outside parties who were allocated for poskestren operations. Activities that have been running consist of promotive, preventive, curative and rehabilitative efforts. The success of the pesantren health post program cannot be separated from the existence of active pesantren health post cadres who have a background in the health sector, the synergy with the Sekaran Puskesmas who actively foster the pesantren health post. Besides there is support from kiai in implementing policies that support the running of pesantren health post activities.Conclusion: Based on the indicators of the success of the pesantren health post, it shows that from the aspect of input and the overall process all have been fulfilled so that the durrotu aswaja pesantren health post is in the good category. However, there is a need for improvement efforts because in each indicator there are several obstacles that need to be fixed. Keywords: Pesantren health post, Islamic boarding school health,  empowerment,  clean and healthy behavior program
Determinan Penyebab Perilaku Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dalam Pencegahan DBD oleh Ibu Rumah Tangga di Kelurahan Sendangmulyo Hidayah, Novia Nur; Prabamurti, Priyadi Nugraha; Handayani, Novia
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 4 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.4.229-239

Abstract

Latar belakang: Demam berdarah dengue merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue melalui  gigitan nyamuk Aedes aegypty. Kasus DBD di kelurahan Sendangmulyo terus meningkat sejak tahun 2018 hingga tahun 2020. Meningkatnya kasus DBD disebabkan oleh kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan seperti sampah yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan perilaku pengelolaan sampah rumah tangga terhadap kasus DBD oleh ibu rumah tangga di Kelurahan Sendangmulyo.Metode: Jenis penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah ibu rumah tangga berjumlah 12.393 dengan sampel sebanyak 388 responden. Pengambilan sampel menggunakan metode proportional random sampling dan pengambilan data menggunakan googleform dilakukan bulan Desember 2020 hingga Januari 2021. Variabel bebas yaitu umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, jumlah anggota keluarga dalam 1 KK, riwayat penyakit DBD dalam 1 keluarga, pengetahuan, sikap, sarana prasarana, akses informasi, dukungan keluarga, dukungan di lingkungan rumah, dukungan petugas lingkungan kelurahan, dukungan petugas kesehatan dan variabel terikat yaitu perilaku pengelolaan sampah rumah tangga. Uji statistik yang digunakan pada analisis univariat adalah distribusi frekuensi dan pada analisis bivariat adalah uji Chi square. Penelitian ini telah mendapat persetujuan dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan nomor 306/EA/KEPK-FKM/2020.Hasil: Hasil penelitian menunjukan sebanyak 53,9% responden memiliki perilaku pengelolaan sampah rumah tangga yang buruk. Karakteristik responden mayoritas umur >44 tahun 59,8%, pendidikan tinggi 74,7%, pekerjaan bekerja 80,9%, pendapatan 50,8% <UMR, terdapat 52,1% jumlah anggota keluarga luas dalam 1 KK, 83% tidak memiliki riwayat penyakit DBD dalam 1 keluarga, pengetahuan baik 51,5%, sikap baik 51,8%, sarana – prasarana baik 66,2%, akses informasi buruk 57,2%, mendapat dukungan keluarga 64,9%, mendapat dukungan di lingkungan rumah 59,5%, mendapat dukungan petugas lingkungan kelurahan 78,1%, mendapat dukungan petugas kesehatan 57,5%. Hasil uji statistik Chi square menunjukkan terdapat hubungan umur (p=0,000), pendidikan (p=0,039), pekerjaan (p=0,001), pendapatan (p=0,000), riwayat penyakit DBD dalam 1 keluarga (p=0,000), pengetahuan (p=0,000), sarana prasarana (p=0,042), akses informasi (p=0,000), dukungan keluarga (p=0,001) dan dukungan petugas kesehatan (p=0,025) dengan perilaku pengelolaan sampah rumah tangga.Simpulan:  perilaku pengelolaan sampah rumah tangga yang buruk memiliki hubungan dengan umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, riwayat penyakit DBD dalam 1 keluarga, pengetahuan, sarana prasarana, akses informasi, dukungan keluarga dan dukungan petugas kesehatan terhadap kasus DBD di kelurahan Sendangmulyo.Kata kunci: Demam Berdarah Dengue; Perilaku Pengelolaan Sampah Rumah Tangga; Ibu Rumah Tangga; Kelurahan Sendangmulyo ABSTRACTTitle: Determinants of the Household Waste Management Behavior in preventing DHF Cases by housewives in Sendangmulyo VillageBackground: Dengue Hemorrhagic Fever is an infectious disease caused by the dengue virus through the bite of the Aedes aegypty mosquito. DHF cases in the Sendangmulyo sub-district continued to increase from 2018 to 2020. The increase in dengue cases was due to a lack of public awareness of environmental hygiene such as garbage which became a breeding ground for mosquitoes. This study aims to analyze the behavioral determinants of household waste management on cases of dengue fever by housewives in Sendangmulyo Village.Method: This type of research is observational with a cross sectional approach. The research population is housewives totaling 12,393 with a sample of 388 respondents. Sampling using proportional random sampling method and data collection using google form. The independent variables are age, education, occupation, income, number of family members in 1 KK, history of dengue fever in 1 family, knowledge, attitudes, infrastructure, access to information, family support, support in the home environment, support from village environment officers, support officers health. The statistical test used in the univariate analysis is the frequency distribution and in the bivariate analysis is the Chi square test. This research has received approval from the Health Research Ethics Commission number 306/EA/KEPK-FKM/2020.Results: The results showed that 53.9% of respondents had poor household waste management behavior. The results of the Chi square statistical test showed that there was a relationship between age (p = 0.000), education (p = 0.039), occupation (p = 0.001), income (p = 0.000), history of DHF in 1 family (p = 0.000), knowledge ( p=0.000), infrastructure (p=0.042), access to information (p=0.000), family support (p=0.001) and support from health workers (p=0.025) with household waste management behavior.Conclusion: Poor household waste management behavior has a relationship with age, education, occupation, income, history of dengue disease in one family, knowledge, infrastructure, access to information, family support and support from health workers for dengue cases in Sendangmulyo village.Keywords: Dengue Hemorrhagic Fever; Household Waste Management Behavior; Housewives; Sendangmulyo Village
Stres Pengasuhan Ibu dengan Anak Tunagrahita di SLB Negeri Semarang Selama Pandemi COVID-19 Marliana, Riska Suci; Prabamurti, Priyadi Nugraha; Handayani, Novia
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 4 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.4.219-228

Abstract

Latar belakang: Anak tunagrahita adalah anak yang memiliki intelegensia rendah di bawah rata-rata (IQ≤70) yang diikuti keterbatasan fungsi adaptif dan fungsi intelektual, sehingga anak tunagrahita membutuhkan bantuan pengasuhan ibu lebih banyak daripada anak normal. Peraturan pemerintah mengenai Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) karena pandemi COVID-19 yang terjadi di Indonesia menambah beban pengasuhan yang mengakibatkan stres pengasuhan pada ibu. Stres pengasuhan menjadi salah satu penyebab terjadinya kekerasan terhadap anak. Tujuan utama penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan stres pengasuhan ibu dengan anak tunagrahita di SLB Negeri Semarang selama pandemi COVID-19.Metode: Desain penelitian adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh ibu dengan anak tunagrahita di SLB Negeri Semarang berjumlah 151 ibu dengan sampel 110 responden yang diambil dengan teknik proportional stratified random sampling. Variabel dalam penelitian ini adalah usia anak, tingkat retardasi mental anak, usia ibu, jumlah anak yang diasuh, dukungan sosial dan stres pengasuhan ibu. Tingkat stres pengasuhan ibu diukur menggunakan Parent Stress Index-Short Form.  Pengumpulan data menggunakan angket google form yang disebarkam lewat pesan singkat Whatsapp orangtua/wali murid SLB Negeri Semarang tingat Sekolah Dasar. Penelitian menggunakan analisis univariat (distribusi frekuensi) dan bivariat (uji chi-square).Hasil: Mayoritas ibu mengalami stres pengasuhan rendah sebanyak 56,4%, sedangkan yang tinggi sebesar 43,6%. Karakteristik anak meliputi mayoritas usia anak < 10 tahun (72,7%) dengan kategori retardasi mental ringan (58,2%). Karakteristik ibu meliputi mayoritas usia ibu < 38 tahun (61,8%) dengan jumlah anak yang diasuh < 2 anak (66,4%) dan kategori dukungan sosial tinggi (57,3%). Terdapat hubungan antara tingkat retardasi mental anak (p-value = 0,000) dan dukungan sosial (p-value = 0,012) terhadap stres pengasuhan ibu dengan anak tunagrahita.Simpulan: Ada hubungan antara stres pengasuhan ibu dengan tingkat retardasi mental anak dan dukungan sosial. Semakin ringan tingkat retardasi mental anak, maka semakin rendah stres pengasuhan yang dialami ibu. Demikian pula dengan dukungan sosial, semakin tinggi dukungan sosial yang diterima ibu maka semikin rendah stres pengasuhan yang dialami ibu.Kata kunci: Anak Tunagrahita; Stres Pengasuhan Ibu; Tingkat Retardasi Mental; Dukungan Sosial ABSTRACT Title: Parenting Stress among Mother with Mental Retardation Child during COVID-19 PandemicBackground: Mental retardation child is a child who has below average low intelligence (IQ≤70) followed by limitations of adaptive function and intellectual function so mental retardation child need more parenting care than normal children. Government regulation on Distance Learning due to the COVID-19 pandemic in Indonesia add to the burden of parenting that results parenting stress among mother. Parenting stress is one of the causes of violence against children. The main purpose of this study is to analyze factors related to parenting stress among mother in SLB Negeri Semarang.Method: The research design is analytical observational with a cross-sectional approach. The research population is all mothers with mental retardation child in SLB Negeri Semarang numbered 151 mother with a sample of 110 respondents taken with proportional stratified random sampling techniques. Variables in this study were the age of the child, the child's level of mental retardation, the age of the mother, the number of children, social support, and parenting stress. Parenting stress level are measured by Parents Stress Index-Short Form. Data collection using google form questionnaire disseminated through Whatsapp group of parents / guardians of SLB Negeri Semarang Elementary School. The study used univariate (frequency distribution) and bivariate (chi-square test) analysis. Result: The majority of mothers experienced low parenting stress as much as 56.4% while the high one was 43.6%. Child characteristics include the majority of children < age 10 years (72.7%) with mild mental retardation category (58.2%). Mother characteristics include the majority of mothers aged < 38 years (61.8%) with the number of children < 2 children (66.4%) and high social support categories (57.3%). There is a correlation between a child's level of mental retardation (p-value = 0.000) and social support (p-value = 0.012) to the parenting stress with a mental retardation child. Conclusion: There is a correlation between parenting stress among mother with child mental retardation levels and social support. The lighter the child's mental retardation level, the lower the parenting stress experienced by the mother. Similarly, with social support, the higher the social support that mothers receive, the less stressful parenting the mother experiences.Keywords: Mental Retardation Child; Parenting Stress among Mother; Child’s Level of Mental Retardation; Social Support
Perilaku Masyarakat dalam Pencegahan Tuberkulosis di Wilayah Kerja Puskesmas Manyaran Kota Semarang Amallia, Ardhia; Kusumawati, Aditya; Prabamurti, Priyadi Nugraha
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 5 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.5.317-326

Abstract

Latar belakang: Tuberkulosis merupakan permasalahan kesehatan di Indonesia dengan jumlah kasus yang terus meningkat. Provinsi Jawa Tengah berada pada peringkat ketiga dengan kasus tertinggi tuberkulosis di Indonesia. Pada tahun 2019 tercatat jumlah kasus tuberkulosis di Kota Semarang sebanyak 4307 kasus. Puskesmas Manyaran mengalami peningkatan kasus dalam tiga tahun terakhir, pada tahun 2017 (23 kasus), 2018 (28 kasus), dan 2019 (49 kasus). Puskesmas telah melakukan berbagai program untuk pencegahan tuberkulosis, namun kasus masih terus bertambah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku masyarakat dalam pencegahan tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Manyaran.Metode: Metode yang digunakan adalah observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah masyarakat usia produktif yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Manyaran berjumlah 28.895 orang dengan sampel sebanyak 96 responden. Pengumpulan data melalui angket menggunakan google form dilakukan pada bulan Oktober-November 2020. Penelitian ini sudah lolos kaji etik dengan nomor 303/EA/KEPK-FKM/2020.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan pada variabel usia (p-value=0,000), pengetahuan (pvalue=0,004), sikap (p-value=0,003), aksesibilitas informasi kesehatan (p-value=0,002), kondisi fisik rumah (pvalue=0,003), ketersediaan sumber daya (p-value=0,002), dukungan keluarga (p-value=0,000), dukungan petugas kesehatan (p-value=0,000), dan dukungan teman (p-value=0,015) dengan perilaku pencegahan tuberkulosis. Sedangkan, variabel yang tidak berhubungan yaitu jenis kelamin (p-value=0,721), pendidikan terakhir (pvalue=1,000), pekerjaan (p-value=0,065), dan pendapatan (p-value=0,210). Uji regresi logistik menunjukkan dukungan petugas kesehatan memiliki pengaruh paling besar terhadap perilaku pencegahan tuberkulosis (pvalue=0,049) (OR=13,472).Simpulan: Penelitian menunjukkan adanya hubungan pada variabel usia, pengetahuan, sikap, aksesbilitas informasi, kondisi fisik rumah, ketersediaan sumber daya, dukungan keluarga, dukungan petugas kesehatan, dan dukungan teman dengan perilaku pencegahan tuberkulosis. Dukungan petugas kesehatan merupakan variabel yang paling berpengaruh, yang berarti masyarakat yang memperoleh dukungan petugas kesehatan memiliki peluang 13,472 kali lebih besar untuk melakukan pencegahan tuberkulosis dengan baik dibanding yang tidak memperoleh.Kata kunci: Tuberkulosis; Perilaku Pencegahan Tuberkulosis; MasyarakatABSTRACTTitle: Community Behavior in the Prevention of Tuberculosis in the Area Puskesmas Manyaran, SemarangBackground: Tuberculosis is a health problem in Indonesia with increasing cases. Central Java became the three highest rates of tuberculosis cases in Indonesia. In 2019 there 4307 tuberculosis cases in Semarang City in 2019. Puskesmas Manyaran has experienced an increase in cases in the last three years, in 2017 (23 cases), 2018 (28 cases), 2019 (49 cases). Puskesmas have carried out various programs for the prevention of tuberculosis, but they have not shown good results. This study aim to determine the behavior of the community in preventing tuberculosis in the area of Puskesmas Manyaran.Method: The method used was observational with a cross sectional approach. The population of this research is people of productive age who live in the area of the Puskesmas Manyaran totaling 28,895 people with sample of 96 respondents. Data collection through questionnaires using google form was carried out in October-November 2020. This research has passed the ethical review number 303 / EA / KEPK-FKM / 2020.Result: The results showed a relationship between age (p-value=0.000), knowledge (p-value=0.004), attitude (p-value=0.003), accessibility of health information (p-value=0.002), physical condition of the house (p-value=0.003), availability of sources power (p-value=0.002), family support (p-value=0.000), support from health workers ( p=0.000), and support from friends (p=0.015). Meanwhile, the unrelated variables were gender (p-value=0.721), latest education (p-value=1,000), occupation (p-value=0.065), and income (p-value=0.210) with tuberculosis prevention behavior. The logistic regression test showed support from health care workers had the greatest influence on tuberculosis prevention behavior (p-value=0.049) (OR=13.472).Conclusion: The study shows a relationship between the variables of age, knowledge, attitudes, accessibility of information, physical condition of the house, availability of resources, family support, support from health workers, and support from friends. Support from health workers is the most influential variable, meaning that people who get support from health workers have a 13,472 times greater chance of taking good prevention than those who did not.Keywords: Tuberculosis; Tuberculosis Prevention Behavior; Community
Faktor yang Berhubungan dengan Praktik PHBS Pencegahan TB Paru pada Santri di Kabupaten Tegal (Studi di Pondok Pesantren Attholibiyah Bumijawa) Asfiya, Nissa Atul; Prabamurti, Priyadi Nugraha; Kusumawati, Aditya
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 6 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.6.379-388

Abstract

Latar belakang : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat merupakan pencegahan primer penularan TB Paru yang dapat dilakukan di pondok pesantren. Penelitian bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan praktik PHBS pencegahan TB Paru pada santri di Kabupaten Tegal.Metode : Penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Populasi penelitian yaitu seluruh santri Pondok Pesantren Attholibiyah Bumijawa sebanyak 886 santri. Besar sampel sebanyak 268 santri, terdiri dari 130 santri putra dan 138 santri putri yang diperoleh dengan simple random sampling serta menggunakan perhitungan rumus Lemeshow. Pengumpulan data dengan pengisian kuesioner oleh responden. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square dengan signifikansi 95%, dan multivariat menggunakan uji regresi binary logistic. Penelitian ini sudah mendapat persetujuan dari komisi etik No : 90/EA/KEPK-FKM/2021.Hasil : Hasil penelitian menunjukan 47% responden memiliki perilaku PHBS pencegahan TB Paru dengan kategori kurang baik. Variabel yang berhubungan dengan praktik PHBS pencegahan TB Paru yaitu jenis kelamin (p<0,01), tingkat pendidikan (p=0,028), pengetahuan (p=0,0002), sikap (p<0,01), ketersediaan fasilitas (p<0,01), ketersediaan informasi (p<0,01), akses terhadap pelayanan kesehatan (p<0,01), peraturan pondok (p<0,01), sikap dan perilaku kyai (p<0,01), sikap dan perilaku asatidz (p<0,01), sikap dan perilaku pengurus (p<0,01), serta sikap dan perilaku teman (p<0,01). Variabel yang paling mempengaruhi praktik PHBS pencegahan TB Paru adalah jenis kelamin (OR =5,815).Simpulan : Faktor yang berhubungan dengan praktik PHBS pencegahan TB Paru di pondok pesantren yaitu, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengetahuan, sikap, ketersediaan fasilitas, ketersediaan informasi, akses terhadap pelayanan kesehatan, peraturan pondok pesantren, sikap dan perilaku kyai, asatidz, serta pengurus dan teman. Sementara, faktor yang tidak berhubungan yaitu umur. Faktor yang paling berpengaruh yaitu jenis kelamin. Pondok pesantren sebagai institusi pendidikan perlu memberikan dukungan baik secara materi maupun sosial pada santri putra maupun putri, terutama pertimbangan pada santri putra dalam pelaksanaan PHBS pencegahan TB Paru di pondok pesantren.Kata kunci : TB Paru; Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat; Pondok PesantrenABSTRACTTitle : Factors Related to PHBS Practices for Preventing Pulmonary TB on Santri in Tegal Regency (Study at Pondok Pesantren Attholibyah Bumijawa)Background: PHBS is primary prevention of pulmonary TB transmission can be applied in Islamic boarding schools. This research to analyze the factors related to the practice of PHBS in preventing pulmonary TB among students in the Tegal Regency.Method: Quantitative research with cross-sectional study design. The Population as many as 886 students, 268 samples are 130 male and 138 female students, obtained by simple random sampling using the Lemeshow formula. Collect data by filling out questionnaires by respondents. Analysis with univariate, bivariate using chi-square test, and multivariate using binary logistic regression test. This research has received approval from the ethics commission No: 90/EA/KEPK-FKM/2021.Results: The results showed that 47% of respondents had PHBS behavior to prevent pulmonary TB in a poor category. The related variables were gender (p<0,01), education level (p=0.028), knowledge (p=0.0002), attitude (p<0,01), facilities (p<0,01), information (p<0,01), access to health services (p<0,01), regulations (p<0,01), kyai attitudes and behavior (p<0,01), asatidz (p<0,01), administrator (p<0,01), friends (p<0,01). The variable that most influenced the practice of PHBS in preventing pulmonary TB was gender (OR =5.815).Conclusion: Factors related to the practice of PHBS prevention of pulmonary TB in Islamic boarding schools are gender, education level, knowledge, attitudes, availability of facilities, availability of information, access to health services, boarding school regulations, attitudes, and behavior of kyai, asatidz, administrators and friends. The unrelated factor is age and the most influential factor is gender. Islamic boarding schools as educational institutions need to provide material and social support for male and female students, especially considerations for male students in the implementation of PHBS to prevent pulmonary TB in Islamic boarding schools.Keywords: Pulmonary TB; Clean And Healthy Lifestyle; Islamic Boarding School 
Perilaku Wanita Pekerja Seks dalam Pencegahan Infeksi Menular Seksual (Studi Kualitatif Pada Anak Asuh di Lokalisasi Gembol, Sukosari, Bawen, Kabupaten Semarang) Prihani, Ninik; Prabamurti, Priyadi Nugraha; Riyanti, Emmy
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 1 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.068 KB) | DOI: 10.14710/mkmi.19.1.1-4

Abstract

Latar belakang: Wanita Pekerja Seks (WPS) adalah wanita-wanita yang bekerja menjual atau menyewakan tubuhnya untuk kenikmatan orang lain dengan mengharapkan suatu imbalan atau upah. Di Kabupaten Semarang khususnya di lokalisasi Gembol Sukosari biasa disebut Anak Asuh. Mereka termasuk kelompok beresiko tinggi dalam penyebaran kasus IMS. Tujuan penelitian ini adalah memahami perilaku seksual WPS dalam pencegahan IMS di Lokalisasi Gembol, Sukosari, Bowen, Kabupaten Semarang.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan subyek penelitian sebanyak 7 WPS di Lokalisasi Gembol yang memiliki kriteria tinggal menetap, sebagai peer educater (PE), mempunyai pasangan seksual, dan telah bekerja selama 1 tahun.Hasil: Sikap subyek terhadap upaya pencegahan IMS sudah baik, akan tetapi praktek WPS terhadap upaya pencegahan IMS masih kurang, mereka tidak 100% menggunakan alat pelindung (kondom) ketika melakukan aktifitas seksual.Simpulan: Pengetahuan subyek penelitian sudah cukup baik. Subyek penelitian dapat menjelaskan definisi, gejala, dan cara penularan IMS. Kata kunci: Perilaku Wanita Pekerja Seks, Infeksi Menular Seksual, Lokalisasi Gembol.  ABSTRACTTitle: Behaviour of Female Sex Workers in the Prevention of Sexually Transmitted Infection (Qualitative Studies of Foster Children in Lokalisasi Gembol, Sukosari, Semarang Regency  Background: Female Sex Workers (WPS) is the women who work to sell or rent her body for the enjoyment of others by expecting a reward or remuneration. Particularly localized in Semarang District Gembol Sukosari called Foster Children. They include high-risk groups in the spread of STI cases. The aim of this research is to understand the sexual behavior of WPS in the prevention of STI in the localization of GembolMethod: This research is a qualitative with the research subjects are 7 WPS that have characteristic are residence, as Peer Educater (PE), has a sexual partner, working as a sex worker for at least one year.Result: Subjects attitude towards STI preventionhas been good, but the practice of WPS STI prevention efforts are still lacking, they wasn’t use of condoms l00% as a preventive effort when they had a sexual activity.Conclusion: The knowledge of WPS was good enough. Research subjects can explain the definition, symptoms, and modes of transmission of STIs. Keywords: Behaviour of Female Sex Workers, Sexually Transmitted Infection, Lokalisasi Gembol 
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Prilaku Pencegahan Covid-19 pada Santri di Kota Mataram (Studi di Pondok Pesantren Abu Hurairah) Rahmani, Mufida Ananditta; Prabamurti, Priyadi Nugraha; Indraswari, Ratih; Husodo, Besar Tirto
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 5 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.5.355-364

Abstract

Latar belakang: Pondok pesantren tempat berisiko terjadinya penularan COVID-19. Pembelajaran di pondok pesantren Abu Hurairah tetap dilaksanakan meskipun terdapat kasus COVID-19. Penularan COVID-19 terjadi karena kurangnya upaya santri untuk melakukan pencegahan dan tidak disiplin mengikuti protokol kesehatan selama di pondok pesantren. Tujuan penelitian menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan COVID-19 pada santri di pondok pesantren.Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian yaitu 80 santri. Penentuan sampel dengan total sampling. Pemilihan sampel berdasarkan kriteria inklusi ditetapkan peneliti dan berjumlah 80 santri. Variabel bebas yaitu jenis kelamin, umur, jenjang pendidikan, pengetahuan, sikap, sumber informasi, sarana prasarana, perilaku teman dan perilaku asatidz (guru). Variabel terikat yaitu perilaku pencegahan COVID-19. Pengumpulan data menggunakan google form. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square dengan signifikansi 95%, dan multivariat menggunakan uji regresi binary logistic.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 52,5% responden memiliki perilaku melakukan pencegahan COVID-19 dengan kategori baik. Perilaku pencegahan COVID-19 yang dilakukan santri yaitu mencuci tangan, memakai masker, menajaga jarak dan mengurangi mobilitas. Variabel yang berhubungan yaitu pengetahuan (p=0,004), sikap (p=0,002), perilaku teman (p=0,017), perilaku asatidz (p=0,001). Variabel yang paling mempengaruhi perilaku pencegahan COVID-19 pada santri adalah sikap (OR =5,361).Simpulan: Faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan COVID-19 pada santri di pondok pesantren Abu Hurairah Kota Mataram yaitu pengetahuan, sikap, perilaku teman dan perilaku asatidz (guru). Faktor yang tidak berhubungan yaitu umur, jenis kelamin, ketersediaan sumber informasi, sarana prasarana dan faktor yang paling berpengaruh yaitu sikap. Pondok pesantren perlu melakukan optimalisasi pembinaan poskestren dalam memberdayakan santri sebagai upaya peningkatan pengetahuan dan sikap yang baik dalam penerapan perilaku pencegahan COVID-19 pada santri di pondok pesantren.Kata kunci: Perilaku Pencegahan COVID-19; Santri; Pondok Pesantren ABSTRACT Title: Factors Related to COVID-19 Prevention Behavior in Santri Pondok Pesantren Abu Hurairah Mataram CityBackground: Pondok Pesantren (Islamic Boarding School) is a place with a high risk of COVID-19 transmission. Learning in Pondok Pesantren Abu Hurairah is still conducted even though there is a COVID-19 case. The COVID-19 transmission occurs due to the lack of students’ effort to prevent COVID and does not discipline in following health protocols in the Islamic boarding school. Therefore, the aim of this study is to analyze the factors related to COVID-19 prevention behavior on students in the Islamic boarding school.Methods: This study was quantitative research with a cross-sectional design. The population of the study was 80 students. The determination of samples used total sampling. The selection of samples was according to the inclusion criteria determined by the researcher, which was 80 students. Independent variables were gender, age, educational level, knowledge, attitude, source of information, facilities and infrastructures, friends' behavior, and asatidz (teachers). The dependent variable was COVID-19 prevention behavior. Data collection used Google Form. The data analysis was conducted by univariate and bivariate using a chi-square test with a significance of 95%, and multivariate using binary logistic regression test.Results: The results of the study show that 52.5% of respondents have behavior to prevent COVID-19 with a good category. COVID-19 prevention behaviors carried out by students are by washing hands, wearing a mask, maintaining distance, and reducing mobilities. The related variables are knowledge (p=0.004), attitude (p=0.002), friends’ behavior (p=0.017), asatidz behavior (p=0.001). The most influencing variable on COVID-19 prevention behavior in students is attitude (OR =5.361).Conclusion: Factors related to the COVID-19 prevention behavior on students in Pondok Pesantren Abu Hurairah of Mataram City are knowledge, attitude, friends’ behavior, asatidz behavior. Unrelated factors are age, gender, the availability of information, as well as facilities and infrastructures. Moreover, the most influencing factor is attitude. The boarding school needs to optimize the development of poskestren (boarding school health post) in empowering students as an effort to increase a good knowledge and attitude in implementing COVID-19 prevention behavior on students in the boarding school.Keywords: COVID-19 Prevention Behavior; Student; Islamic Boarding School
Co-Authors AA Sudharmawan, AA Adi Nur Rahman Aditya Kusumawati, Aditya Agus Mulyana Akmal, Dzul Amallia, Ardhia Ani Margawati Anik Widyastuti Anisya Herawardhani Annisa Ayunda Maharani Antono Suryoputro Anung Sugihantono Arianto Arianto Arifiana Khoirunnisa Arina Azmy Trisetyo Utami Asfiya, Nissa Atul Astri Zakiyyah AYU WIRADIJAYA Bagoes Widjanarko Baju Widjasena Bella Risca Monica Besar Tirto Husodo Besar Tirto Husodo Besar Tirto Husodo Besar Tirto Husodo, Besar Bintang, Melva Kristina br Cahya Tri Purnami Chania Oktrisia Deaselia Carmelita Deastuti, Nurridha Dhenok Citra Panyuluh Dita Roykhana Nabella Nur Durotun Maqfirah Dwi Lutfi Nugraheni Edi Widayat Emmy Riyanti Erdelia Herdanindita Fairuza Alief Fajar Luthfir Rahman Fanny Ayu Ahmala Putri Fitriana Candra Dewi Handayani, Novia Handayani, Novia Harbandinah P Harsono . Hasna Fadhilah Muflihah Hidayah, Novia Nur Hulaila, Ahla I Gusti Wayan Murjana Yasa Inggrid Dwi Kusumaningrum Intannia Islami Dewi Inten Ayu Titisari Khusnia Widowati Kika Dwi Kurniawati Kusmiati, Yeni Kusyogo Cahyo Laksmono Widagdo Laksmono Widagdo Marliana, Riska Suci Mateus Sakundarno Adi, Mateus Sakundarno Maulidia, Hanum Rahma Megawati, Eka Megawati, Eka Mei, Halimah Wu Lan Millati Azka Safitri Mohammed Lukito Raja Puara Mona lisa Muhammad Kevin Ardian Ariayudha Nari, Jois Ninik Prihani Nunuk Widyaningsih Nur Azmi Arifianti Nurngaviatul Fadhilah Oktalia Liviyana Panjaitan, Arip Ambulan Pramita, Tiara Hasna Widya Putri, Shieldine Rahmani, Mufida Ananditta ratih indraswari Ratih Indraswari Ratih Indraswari Rinny Faulina Roykhana Nabella Nur, Dita Sapri Fidora Septo Pawelas Arso Shinta Kristianti Sigit Setyono Siska Dwi Nugraheni Suwarno, Suwarno Syamsul Huda BM Syamsulhuda BM Tasliah Tasliah Tegar Lyana Pangestika Tri Rosa Setyananda Tri Yuliastuti Tri Yuni Kuswandari, Tri Yuni Vania, Florentina Kirana VG Tinuk Istiarti Vita Permatasari Wulandari, Rizkiana Yeni Dwi Nurhidayanti Yuli Kamiasari, Yuli Yunita Widyastuti Zahroh Shaluhiyah