Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Membangun Literasi Masyarakat melalui Perintisan Taman Baca Masyarakat di Desa Muara Telang Marga Diana, Mustika; Hartati, Hartati; Anthony, Steven; Rahmawati, Rahmawati
Jurnal Pengabdian Multidisiplin Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Pengabdian Multidisiplin
Publisher : Kuras Institute & Scidac Plus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51214/00202404996000

Abstract

Perintisan pendirian Taman Baca Masyarakat di desa muara telang marga kecamatan marga telang kabupaten banyuasin adalah program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) UPBJJ-UT Palembang dengan menggunakan anggaran 2022. Pendirian Taman Baca Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan minat minat baca masyarakat dan menjadi tempat belajar para pelajar dan anak-anak putus sekolah yang ada di desa muara marga telang khususnya dan di kecamatan muara telang pada umumnya. TBM merupakan sarana untuk pembelajaran dan pendidikan masyarakat secara nonformal. TBM diarahkan untuk memberikan pelayanan kepada warga masyarakat yang belum sekolah, buta aksara, putus sekolah, dan warga masyarakat yang kebutuhan pendidikannya tidak dapat terpenuhi melalui pendidikan formal. Perintisan TBM ini bertujuan meningkatkan literasai masyarakat sehingga dapat menciptakan masyarakat yang berdaya secara pengetahuan, ekonomi dan sosial.desa marga telang muara merupakan bagian daerah perarian yang memiliki keterbatasan akses perpustakaan secara fisik dan juga keterbatasan akses informasi digital dikarekan daerah ini masih belum tersedia jaringan internet yang memadai. Membangun literasi masyarakat pedesaan menjadi tanggung jawab perguruan tinggi sebagai salahsatu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Metode yang dilakukan dalam pengabdian kepada masyarakat ini adalah Participatory Action Research (PAR), PAR merupakan penelitian yang melibatkan secara aktif semua pihak-pihak yang relevan (stakeholder) dalam mengkaji tindakan yang sedang berlangsung (dimana pengalaman mereka sendiri sebagai persoalan) dalam rangka melakukan perubahan dan perbaikan kearah yang lebih baik. Kegiatan ini akan dilakukan dengan tiga tahap yaitu persiapan, pelaksanaan dan monitoring. Pada persiapan tim abdimas akan membeli sarana dan prasarana yang dibutuhkan, tahap pelaksanaan tim akan menyerahkan baha-bahan dan akan memberikan materi terkait perpustakaan. Pada kegiatan monitoring tim akan mengevaluasi apakan TBM dimanfaatkan secara efektif dan efisien oleh masyarakat. Kegiatan perintisan pendirian taman baca masyarakat ini memberikan hasil berupa terwujudnya sebua taman baca masyarakat di desa muara telang marga sebagai upaya peningkatan literasi masyarakat dalam berbagai sector. Berdasarkan hasil evaluasi, dapat disimpulkan bahwa kegiatan pengabdian ini berhasil dalam mencapai tujuan yaitu meningkatnya minat baca masyarakat yang dapat dari penggunaan koleksi yang ada pada TBM baik membaca do tempat maupun dibawa pulang kerumah, hal ini dapat meningkatkan literasi masyarakat muara telang marga. Manfaat yang bisa diperoleh melalui kegiatan ini yaitu terjadi peningkatan lietasi masyarakat desa Muara Telang Marga.
Pedagogical Competence: Effective Communication of Students of Primary School Teacher Education of Universitas Terbuka in Palembang Saputra, Alpin Herman; Anthony, Steven
Jurnal Basicedu Vol. 5 No. 5 (2021)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v5i5.1481

Abstract

Teacher is the party who is responsible for continuity of effective communication in learning so the teacher is urged to have a good communicative competence with students in order to obtain effective learning process. In this study teacher is students of primary school teacher education who has worked as a teacher (in-service training) or educator. This study is aimed to know how the competence of teacher in communicating effectively to the students. The research method used is mix research method (Survey and Thematic Qualitative). As a result, the level of effective communicative competence of students of primary school teacher education of UT who are also as teacher of primary school in Palembang is under the standard determined by The Ministry of Education and Culture (Kemendikbud). Hence, some ideas are formulated in Forum Group Discussion (FGD) namely the need of comprehensive training program and are continuously from the related institution, need of teacher’s supplementary book, and need of more action research on effective communication of teacher. Some indicators agreed for effective communication for teacher are (1) the importance of communication with students. (2) Competence and performance of teacher in communicating with the students. (3) Communication with the students in education. (4) Effective communication with the students. (5) Effective communication with students. (6) Obstacles in communication among the students in education. (7) Learning strategy that can build communication and cooperation among the students. (8) Communication with students in learning as educative interaction. The indicator will further be a reference in developing module for improvement of learning program in Universitas Terbuka.
Adaptasi Sosial dan Strategi Komunitas dalam Merespons Banjir di Wilayah Urban Palembang (Studi Kasus di Kecamatan Kemuning (Kelurahan 20 Ilir D-II, Ario Kemuning, Pahlawan, Pipa Reja, Sekip Jaya, dan Talang Aman) Anthony, Steven; Iriani, Atrika; Febriyanti, Doris; Zubaidah, Siti
JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DAN ILMU SOSIAL Vol. 6 No. 5 (2025): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Agustus-September 2025)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v6i5.5630

Abstract

Penelitian ini mengkaji strategi adaptasi sosial dan resiliensi komunitas menghadapi banjir di Kecamatan Kemuning, Palembang. Masyarakat mengembangkan adaptasi berbasis lokal seperti gotong royong, modifikasi rumah, dan penggunaan media sosial, meski terkendala sumber daya dan teknologi. Modal sosial dan jaringan informal menjadi kunci ketangguhan. Temuan menunjukkan adaptasi bersifat kontekstual, dipengaruhi karakteristik wilayah dan hubungan sosial. Studi ini menyarankan kolaborasi antar-pemangku kepentingan untuk memperkuat resiliensi, dengan rekomendasi pelatihan kebencanaan, sistem peringatan dini, dan forum kolaboratif. Penelitian menegaskan pentingnya pendekatan partisipatif dan penguatan kearifan lokal dalam manajemen risiko bencana.
Building Resilient Food Systems: Government Community Collaboration in Flood Mitigation Steven, Anthony; Atrika, Iriani; Doris, Febriyanti; Siti, Zubaidah
Government & Resilience Vol. 3 No. 2 (2025): Government & Resilience (November 2025)
Publisher : Dealings Foundation Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62503/gr.v3i2.28

Abstract

Palembang, one of Indonesia’s major urban centers, is increasingly affected by recurrent flooding that severely disrupts local food systems. As a low-lying delta city intersected by the Musi River, Palembang faces compounded challenges due to rapid urban expansion, poor drainage infrastructure, and climate-induced rainfall variability. These factors contribute not only to physical flooding but also to food insecurity, particularly among poor urban communities who depend on fragile food supply chains and informal markets. This study investigates how collaborative governance between local authorities and community stakeholders in Palembang can contribute to building resilient food systems amid recurrent flood risks. Using a case study approach, it analyzes local policy responses, community-led initiatives such as floating vegetable gardens, and urban farming on flood-resilient land. The findings indicate that while municipal disaster management agencies provide early warning and evacuation support, food access and distribution during floods are primarily sustained by grassroots networks and community-organized food banks. The paper emphasizes the importance of institutionalized support for community-based adaptation, integrated spatial planning utilizing flood-risk mapping, and policy frameworks that acknowledge food as a vital component of urban disaster preparedness. Palembang serves as a microcosm for examining the broader implications of decentralized disaster governance and food resilience in rapidly urbanizing flood-prone cities.