Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Gema Cermat-Dagusibu: Tingkatkan Kesadaran Penggunaan Obat di Lingkungan Sekolah Dasar, Kelurahan Koya Barat, Jayapura Bakri, Nur Fadilah; Tobi, Claudius Hendraman B.; Appa, Felycitae Ekalaya; Mende, Juniarto; Mbulang, Yohana Krisostoma Anduk; Maturbongs, Graciano Ariestides; Pratiwi, Rani Dewi; Rusnaeni, Rusnaeni; Barus, Andre Anusta; Pratiwi, Mustika Endah; Dewi, Krisna; Nurhidayah, Annisa; Rosa, Stella
Reswara: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/rjpkm.v6i1.4950

Abstract

Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (Gema Cermat) adalah sebuah program yang dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang penggunaan obat secara benar, cara menggunakan, menyimpan dan memusnahkan obat secara tepat dan benar serta meningkatkan penggunaan obat secara rasional. Salah satu elemen penting dari gerakan ini adalah konsep DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang) obat dengan Benar. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman guru mengenai penggunaan obat yang benar sehingga meningkatkan literasi kesehatan di lingkungan sekolah. Kegiatan ini dilakukan di Lingkungan Sekolah Dasar, Kelurahan Koya Barat, Kota Jayapura. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah metode CBIA (Cara Belajar Insan Aktif) dengan pemberian edukasi serta berpraktek langsung terkait DAGUSIBU. Dalam tahapan pelaksanaanya, metode ini dibagi menjadi beberapa tahapan yakni tahapan persiapan, pemberian materi sekaligus praktek, dan evaluasi pengetahuan peserta. Sejumlah 31 orang guru mengikuti kegiatan pengabdian. Hasil pelaksanaan kegiatan ini terdapat peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah tentang memperoleh obat secara legal, menggunakan obat sesuai aturan, menyimpan obat dengan benar, serta membuang obat yang sudah tidak digunakan dengan cara yang aman dilihat dari nilai signifikansi p = 0,000 < 0,005. Para guru di sekolah dasar dapat berperan dalam menyebarkan pengetahuan yang telah didapatkan selama kegiatan. Untuk kelangsungan kegiatan ini agar memberi dampak yang lebih luas maka akan dilakukan kerjasama dengan instansi pemerintah di bidang kesehatan seperti Puskesmas di kelurahan Koya Barat untuk dapat memberikan pelatihan secara berkala kepada para guru di wilayah kelurahan Koya Barat, dan juga berkolaborasi dengan Kepala Sekolah untuk dapat memasukkan kegiatan terkait dengan kesehatan terutama pengetahuan obat ke dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah sehingga dapat mendorong para guru untuk melibatkan siswa dalam proyek pembelajaran terkait DAGUSIBU
Profil Penggunaan Antibiotik pada Balita Penderita ISPA di Puskesmas Koya Barat Periode Januari-Desember 2020 Gunawan, Elsye; Rusnaeni, Rusnaeni; Febrianty, Silva Dewi
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 15 No. 1 (2023): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.92 KB) | DOI: 10.35617/jfionline.v15i1.98

Abstract

Abstract: Acute Respiratory Tract Infection (ARTI) is the most common infection in humans at all ages. Children and toddlers are the most susceptible to ARTI. Prevalence of ARTI among toddler in Papua is 11.91%, in Jayapura district (10.23%) and Jayapura City (10.95%). This study aimed to determine the profile of antibiotics usage that given to toddler patients with ARTI on January-December 2020 at Koya Barat Public Health Center. The study design was retrospective of 155 prescriptions for toddler patients with ARTI that qualified the inclusion criteria. Data were analyzed using Microsoft excel software and presented in percentages (%) based on patient characteristics, and the level of antibiotic use was calculated. The results showed that male toddler was dominantly affected by ARTI, namely 87 patients (56,13%), age 0-30 months were 87 patients (56,13%), the type of antibiotic amoxicillin syrup used were 57 patients (74,03%). Overall used of antibiotics in toddler with ARTI at Koya Barat Public Health Center during January-December 2020 was 49,68%. Toddler with ARTI without comorbidities were 86,59%, and with comorbidities such as diarrhea, malaria, blepharitis, and pyoderma were 13.41%.
KOMIK DAGUSIBU SEBAGAI MEDIA EDUKASI OBAT BAGI SISWA SD PAPUA KASIH JAYAPURA Gunawan, Elsye; Dewi, Krisna; D. Pratiwi, Rani; S. Lingga, Irene; Rusnaeni, Rusnaeni; Ulva, Dea A.; G. Kendenan, Bryan; R. Reniurwarin, Sulis; J. S. Sipahelut, Vrysel; T. R. Setyoningrum, Retno; Parandan, Ronald
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 9 (2025): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v8i9.3756-3765

Abstract

Pemahaman yang kurang tentang penggunaan obat dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti efek samping yang tidak diinginkan, resistensi obat, atau bahkan keracunan. Oleh karena itu, edukasi mengenai penggunaan obat yang benar sangat diperlukan sejak dini, terutama bagi anak-anak sekolah dasar. Salah satu metode edukasi yang menarik dan efektif bagi anak-anak adalah melalui media visual seperti komik. Komik memiliki keunggulan dalam menyampaikan informasi dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami dibandingkan dengan metode ceramah. Dalam konteks edukasi obat, konsep Dagusibu (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang) merupakan panduan penting yang dapat diajarkan kepada anak-anak untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang pengelolaan obat yang benar. SD Papua Kasih Jayapura merupakan salah satu sekolah di Papua yang memiliki perhatian terhadap peningkatan literasi kesehatan bagi siswanya. Mengingat pentingnya pemahaman tentang obat sejak usia dini, pengabdian ini bertujuan untuk mengedukasikan penggunaan obat yang aman dan benar melalui komik DAGUSIBU. Tahapan dalam kegiatan pengabdian ini yaitu (1) persiapan awal dilakukan pretest sebelum kegiatan (2) pelaksanaan kegiatan meliputi diskusi dan simulasi komik Dagusibu (3) evaluasi kegiatan (posttest) dan analisis data melalui kuisoner yang dibagikan pada akhir pelaksanaan kegiatan. Hasil dari kegiatan pengabdian ini adalah Peningkatan Literasi Kesehatan pada siswa/i di SD Papua Kasih mengenai DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang Obat), maka literasi obat di lingkungan sekolah maupun rumah akan meningkat. Hal ini berpotensi mengurangi kesalahan penggunaan obat di masyarakat. Perubahan sikap dan perilaku melalui kegiatan pengabdian yang menyenangkan dan para siswa di SD Papua Kasih ingin membagi informasi terkait DAGUSIBU, maka bukan hanya pengetahuan yang bertambah, tetapi sikap positif terhadap penggunaan obat yang benar juga terbentuk. Dalam jangka panjang, ini bisa mempengaruhi perilaku kesehatan (misalnya: tidak membeli obat di warung, selalu membaca etiket, menyimpan obat dengan benar, dan tidak membuang obat sembarangan)
The Stigma Reduction in Tuberculosis (TB) to Increasing TB Case Detection Among Women's Communy in Abepura, Papua: Stigma Reduction in Women's Community in Abepura- Papua to Increase Tuberculosis (TB) Case Detection Sianturi, Elfride Irawati; Gunawan, Elsye; Appa, Felycitae Ekalaya; Soltief, Sitti Nurdjaja; Suthelie, Chinry Charolina; Febriyanti, Christine; Rusnaeni, Rusnaeni
Vivabio: Jurnal Pengabdian Multidisiplin Vol. 7 No. 2 (2025): VIVABIO: Jurnal Pengabdian Multidisiplin
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/vivabio.v7i2.63904

Abstract

Papua Province is one of the regions with the highest number of tuberculosis cases, and this is a serious problem for the province and the surrounding area. The most significant impact of this disease on the community is a decline in quality of life and health status. Although patient care, evaluation of new treatments, and tuberculosis prevention strategies are constantly being updated, tuberculosis remains the leading cause of morbidity. The shame people feel around tuberculosis makes it hard to control the disease. TB patients are more likely to conceal their condition, which leads to delayed detection and increased transmission. The objective of this initiative is to enhance the involvement of women's groups in the region in recognizing TB symptoms and mitigating the stigma surrounding TB. The methods used were counseling and testimonials from TB patients who had recovered. The activity was participated in by a total of 19 women, and their stigma was observed before and after the activity. The results showed a tendency for significant change if this activity was carried out regularly, with the reduction in stigma leading to the community actively supporting early detection of TB when they saw symptoms of the disease without fear of being stigmatized by TB. ABSTRAK Provinsi Papua merupakan salah satu wilayah dengan kasus TBC tertinggi. Dampak yang paling dirasakan oleh masyarakat mengenai penyakit ini yakni terjadinya penurunan kualitas hidup dan status kesehatan. Meskipun perawatan pasien, evaluasi terhadap perawatan baru atau strategi pencegahan TBC selalu diperbaharui tetapi TBC masih menjadi penyebab utama morbiditas. Stigma yang memiliki keterkaitan pada TBC menghambat keseluruhan dari aspek yang terkait dengan pengendaliannya TBC. Para pasien yang terkena TBC jauh lebih cenderung untuk menyembunyikannya kondisi yang sedang mereka alami dan hal ini mengakibatkan  keterhambatan pendeteksian kasus hingga membuat terjadinya penularan yang lebih meluas. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan partisipasi kelompok wanita di daerah tersebut mampu mengenali gejala TBC serta pengurangan stigma terhadap TBC dapat dikurangi. Metode yang dilakukan adalah penyuluhan dan testimoni pasien TBC yang sudah sembuh. Sebanyak 19 perempuan mengikuti kegiatan ini dengan melihat stigma mereka sebelum dan sesudah kegiatan. Hasil yang didapat bahwa adanya kecenderungan akan adanya perubahan secara signifikan bila kegiatan ini rutin dilakukan sehingga pengurangan stigma ini akan menyebabkan Masyarakat secara aktif mendukung pendeteksian dini TBC Ketika melihat simptom dari penyakit ini tanpa takut akan distigmatisasi.
Kulit Batang Jabon (Anthocephalus cadamba (Roxb) Miq.): Flavonoid dan Fenolik Total serta Uji Aktivitas Antifungi Bakri, Nur Fadilah; Tobi, Claudius Hendraman B.; Muayyidah, Nurita A. S.; Rusnaeni, Rusnaeni; Appa, Felycitae Ekalaya; Dewi, Krisna; Pratiwi, Rani Dewi
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i2.1003

Abstract

Pemanfaatan tanaman alam sebagai antifungi alami telah menjadi fokus perhatian dalam bidang kesehatan dan pengobatan karena keunggulan mereka dalam memberikan alternatif terhadap antifungi sintetis yang sudah ada yang semakin rentan terhadap resistensi mikroorganisme khususnya fungi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi antifungi dari ekstrak kulit batang Jabon (Anthocephalus cadamba (Roxb) Miq.) dan menentukan kadar flavonoid dan fenoliknya. Metode spektrofotometri digunakan untuk menentukan kadar flavonoid dan fenolik total sedangkan untuk pengujian aktivitas antifungi menggunakan metode difusi cakram dan dilusi. Hasil penelitian menunjukkan kadar flavonoid total sebesar 59.457 mgQE/g ± 0.577 dan kadar fenolik total sebesar 102.931 mgGAE/g ± 1.034, hasil ini menunjukkan kadar fenolik total lebih tinggi dibandingkan dengan kadar flavonoid total. Adapun uji aktivitas antifungi menunjukkan bahwa ekstrak etanol kulit batang Jabon tidak menunjukkan daya hambat pada fungi Candida albicans dan Aspergillus brasiliensis baik pada uji difusi maupun dilusi cair. Sedangkan kontrol positif (Ketoconazole) memiliki aktivitas antifungi yaitu memiliki diameter daya hambat 30.39 mm terhadap Candida albicans dan 18.46 terhadap Aspergillus brasiliensis. Pada uji dilusi cair kontrol positif menunjukkan tidak adanya pertumbuhan fungi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada korelasi positif antara kadar flavonoid dan fenolik dengan aktivitas sebagai antifungi dalam penelitian ini.