Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

PENDAMPINGAN BAHASA INGGRIS YANG MENYENANGKAN BAGI SISWA SMPN DI PINGGIRAN KOTA MATARAM Ilham Ilham; Irwandi Irwandi; Hijril ismail; Fauzi Bafadal; M. Hudri; Hidayati Hidayati; Rima Rahmaniah
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 4 (2023): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i4.19602

Abstract

ABSTRAKBerdasarkan survey awal yang dilakukan oleh tim PKM pengabdian masyarakat Univeritas Muhammadiyah Mataram, tim menemukan bahwa siswa-siswa di SMPN 17 Mataram mengalami kesulitan dalam belajar Bahasa Inggris, hal ini disebabkan karena kurangnya  pembelajaran yang bervariasi yang mengapilkasikan teknik-teknik pembelajaran yang menyenangkan. Mitra sasaran dari kegiatan pelatihan ini adalah siswa kelas VII SMPN 17 Mataram sejumlah 35 orang. Kegiatan Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bahasa inggris siswa dalam pembelajaran bahasa. Kegiatan ini bertemakan kegiatan belajar bahasa inggris yang menyenangkan dengan metode games untuk menyampaikan materi bahasa inggris yang menyenangkan.  Metode dalam pelatihan dilakukan dengan menggunakan metode pelatihan.  Pencapaian hasil pengabdian masyarakat ini adalah menigkatnya kemampuan peserta dalam menguasai beberapa kosakata dengan benar, peserta telah memahami  cara menulis kalimat sederhana dengan benar dan peserta dapat berbicara bahasa Inggris. Kata kunci: belajar bahasa inggris; pembelajaran yang menyenangkan; games ABSTRACTBased on an initial survey conducted by the community service team of Muhammadiyah Mataram University, the team found that students at SMPN 17 Mataram had difficulty learning English, this was due to the lack of varied learning that applied fun learning techniques. The target partners of this training activity are seventh grade students of SMPN 17 Mataram totaling 35 people. This community service activity aims to improve students' English language skills in language learning. This activity is focused on fun English learning activities with the method of games to deliver fun English material.  The method in training is carried out using the training method.  The results of this community service is the improvement in the ability of participants to master some vocabulary correctly, understood how to write simple sentences correctly and speak simple English. Keywords: learning English; fun learning; games
Navigasi ruang digital: pemberdayaan santri MA Plus Nurul Islam Sekarbela melalui literasi digital dalam mengidentifikasi dan melawan hoax Irwandi Irwandi; Muhammad Hudri; Muhammad Fauzi Bafadal
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 2 (2024): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i2.24237

Abstract

AbstrakKegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kemampuan santri di MA Plus Nurul Islam Sekarbela dalam mengidentifikasi dan melawan hoax melalui pelatihan literasi digital. Dengan metode campuran, pelatihan melibatkan 55 santri kelas 3 Madrasah Aliyah dan menggunakan survei pre-test dan post-test serta wawancara dan observasi. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam literasi digital, dari skor rata-rata 55,3 menjadi 78,5 (p < 0,01). Santri merasa lebih mampu memverifikasi informasi dan sadar akan bahaya hoax. Temuan mendukung teori literasi digital dan pembelajaran konstruktivis, serta menekankan pentingnya integrasi literasi digital ke dalam kurikulum, peningkatan fasilitas teknologi, dan kolaborasi dengan pemangku kepentingan untuk keberlanjutan program.  Kata kunci: literasi digital; hoax; santri; pengabdian. AbstractThe community service aims to enhance the ability of students at MA Plus Nurul Islam Sekarbela to identify and combat hoaxes through digital literacy training. Using a mixed-methods approach, the training involved 55 third-grade Madrasah Aliyah students and utilized pre-test and post-test surveys, as well as interviews and observations. The results showed a significant increase in digital literacy, with average scores rising from 55.3 to 78.5 (p < 0.01). The students felt more capable of verifying information and were more aware of the dangers of hoaxes. The findings support digital literacy and constructivist learning theories, emphasizing the importance of integrating digital literacy into the curriculum, improving technological facilities, and collaborating with stakeholders for program sustainability. Keywords: digital literacy; hoax; education; students; community service.
Pelatihan pembuatan media evaluasi berbantuan G-Form bagi guru di komunitas belajar Hidayati Hidayati; M. Hudri; Rima Rahmaniah; Dian Eka Mayasari Sri Wahyuni; Ahmad Afandi
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 2 (2024): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i2.24634

Abstract

AbstrakPada masa pandemi COVID -19 saat lalu, sekolah menyelenggarakan proses pembelajarannya dengan menggunakan e-learning dimana media teknologi memiliki peran penting. Fungsi dari media teknologi secara umum adalah menampilkan sarana komunikasi dan informasi berupa teks, gambar, video, dan suara yang dapat diakses secara online. Mitra kami dalam melakukan kegiatan abdimas pada saaat ini adalah guru-guru di SMPN 1 Tanjung yang memiliki komunitas belajar. Mitra dihadapkan pada permasalahan sebagai berikut: para guru masih ragu bagaimana mengintegrasikan e-learning ke dalam pembelajaran mereka; dan masih awamnya guru untuk pembuatan soal sebagai alat evaluasi, anak-anak di SMP 1 Tanjung lebih sering menggunakan buku dan LKPD yang dibuat sekolah sehingga alat evaluasinya masih belum menerapkan paperless. Permasalahan berikutnya adalah keterbatasan dalam memberikan evaluasi yang tepat untuk mengevaluasi setiap siswa secara objektif dan tentunya dengan menggunakan Google Form lebih mudah untuk mengetahui hasilnya secara langsung di era digitalisasi ini. Berdasarkan hal tersebutlah, maka tim abdimas melakukan pendampingan pelatihan penggunaannya dalam pembuatan soal berbagai bentuk sebagai alat evaluasi bagi siswa. Persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi merupakan tiga tahapan kegiatan pelatihan yang dilaksanakan secara luring dan daring dengan menggunakan Zoom. Dengan menggunakan survey dan wawancara maka hasil dari pelatihan ini menunjukkan bahwa para guru bersemangat untuk belajar dan mampu menggunakan Google Formulir untuk meningkatkan kemampuan serta memudahkan mereka dalam pembuatan soal untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Kata kunci: pelatihan; pembuatan soal; g-form; guru smp. Abstract During the previous pandemic, schools were able to organize their learning process by using e-learning in distance learning. The function of technical media in general is to provide text, images, video, and sound—all media kinds or forms that are exclusively available online—as a means of online communication and information. Teachers at SMPN 1 Tanjung have partnered with us for this community service project. Partners are faced with the following issues: kids at SMP 1 Tanjung exclusively use books and LKS from school; teachers are still unsure of how to integrate e-learning into their lessons; and teachers' incapacity to generate assessment questions. Since it is simpler to know the results immediately in this day of digitalization, the next issue is the limitations on providing appropriate evaluation in order to evaluate each student objectively. Using Google Classroom to create questions is a problem that can be solved by offering training. Preparation, execution, and assessment are the three phases of an activity. Using Zoom to provide video training and demonstrations on how to utilize Google Forms and Classroom, community service projects are implemented both online and offline. The exercise's outcomes showed that teachers are eager to learn and are able to use Google Classroom and Google Forms to enhance their abilities to support instructional activities Keywords: training; examination items; g-form; teachers.
Optimalisasi pengelompokan buku perpustakaan sekolah oleh mahasiswa PLP sebagai upaya meningkatkan minat baca siswa di SDN 38 Mataram Hidayati Hidayati; Muhammad Hudri; Dian Eka Mayasari Sri Wahyuni; Harry Irawan Johari; Wiwik D. Angreani
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v%vi%i.38160

Abstract

Abstrak Kegiatan pengabdian ini bertujuan mengoptimalkan fungsi perpustakaan sekolah melalui pengelompokan buku yang dilakukan oleh mahasiswa Program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) di SDN 38 Mataram sebagai upaya meningkatkan minat baca siswa. Kondisi awal perpustakaan menunjukkan buku-buku yang tersusun dalam tumpukan tanpa pengelompokan berdasarkan kelas, tema, maupun mata pelajaran sehingga siswa mengalami kesulitan dalam menemukan bahan bacaan. Mahasiswa PLP melakukan intervensi berupa pengelompokan buku berdasarkan kelas, jenis buku (cerita dan pelajaran), mata pelajaran, pelabelan rak, serta pembuatan kartu peminjaman berwarna yang menarik dan mudah dipahami siswa. Kegiatan dilaksanakan selama satu pekan dengan memanfaatkan waktu sela kegiatan PLP setelah melalui tahap observasi kondisi perpustakaan dan kultur sekolah. Hasil kegiatan menunjukkan perubahan signifikan pada keteraturan koleksi, kemudahan akses siswa terhadap buku, serta peningkatan kunjungan siswa ke perpustakaan. Temuan ini selaras dengan teori pengelompokan koleksi berbasis minat pembaca (genrefication) dan praktik pelabelan visual yang direkomendasikan dalam literatur perpustakaan sekolah lima tahun terakhir. Intervensi sederhana namun kontekstual ini terbukti mampu meningkatkan fungsi perpustakaan sebagai pusat literasi sekolah dan dapat direplikasi pada sekolah lain dengan kondisi serupa. Kata kunci: pengelompokan buku; perpustakaan sekolah; minat baca; PLP; literasi. Abstract This community service activity aims to optimize the function of the school library through book grouping carried out by students of the School Field Introduction Program (PLP) at SDN 38 Mataram as an effort to increase student reading interest. The initial condition of the library showed books arranged in piles without grouping by class, theme, or subject, so students had difficulty finding reading materials. PLP students conducted an intervention in the form of grouping books by class, type of book (story and lesson), subject, shelf labeling, and creating colorful loan cards that were attractive and easy for students to understand. The activity was carried out for one week by utilizing the time between PLP activities after going through the observation stage of the library condition and school culture. The results of the activity showed significant changes in the order of the collection, ease of student access to books, and an increase in student visits to the library. These findings are in line with the theory of grouping collections based on reader interest (genrefication) and visual labeling practices recommended in school library literature over the past five years. This simple yet contextual intervention has been proven to be able to improve the library's function as a center of school literacy and can be replicated in other schools with similar conditions. Keywords: book grouping; school library; reading interest; PLP; literacy.
PENDAMPINGAN PEMBELAJARAN STORY TELLING BERBANTUAN ENGLISH CARTOON STORY UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN DAN MINAT BAHASA INGGRIS SISWA Rima Rahmania; Muhammad Hudri; Ilham Ilham; Hijril Ismail; Moh. Fauzi Bafadal; Irwandi Irwandi
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i3.36876

Abstract

ABSTRAK                                                                                     Bahasa Inggris merupakan keterampilan penting yang perlu diasah sejak dini, namun banyak siswa mengalami kesulitan dalam berbicara dan kurang memiliki minat belajar. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbicara dan minat belajar bahasa Inggris melalui pendampingan story telling berbantuan English cartoon story. Mitra sasaran adalah 34 siswa SMPN 17 Mataram, yang dipilih berdasarkan rekomendasi sekolah sebagai perwakilan siswa dengan kebutuhan peningkatan keterampilan berbicara. Kegiatan dilaksanakan melalui tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi, dengan metode ceramah dipadukan diskusi interaktif serta praktik story telling secara individu dan kelompok. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan kemampuan siswa secara signifikan, nilai rata-rata pre-test 72.06 meningkat menjadi 77.94 pada post-test, dengan standar deviasi menurun dari 13.933 menjadi 13.034, dan uji Wilcoxon Signed Rank Test menghasilkan Z = -5.830, p = 0.000 < 0.05. Secara kualitatif, siswa menjadi lebih aktif, berani berbicara dalam bahasa Inggris, dan menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan. Temuan ini menunjukkan bahwa English cartoon story efektif sebagai media pendamping story telling, mampu meningkatkan kemampuan berbicara dan minat belajar bahasa Inggris, serta dapat diterapkan secara berkelanjutan di sekolah. Kata kunci: Story telling; English cartoon story; Kemampuan berbicara; Minat belajar. ABSTRACTEnglish is an important skill that needs to be honed from an early age, but many students have difficulty speaking and lack interest in learning. This community service activity aims to improve English speaking skills and interest in learning through storytelling assistance using English cartoon stories. The target partners are 34 students from SMPN 17 Mataram, who were selected based on school recommendations as representatives of students who need to improve their speaking skills. The activity was carried out in three stages: preparation, implementation, and evaluation, using a combination of lectures, interactive discussions, and individual and group storytelling practice. The evaluation results showed a significant improvement in student abilities, with the average pre-test score of 72.06 increasing to 77.94 on the post-test, with the standard deviation decreasing from 13.933 to 13.034, and the Wilcoxon Signed Rank Test yielding Z = -5.830, p = 0.000 < 0.05. Qualitatively, students became more active, dared to speak in English, and showed high enthusiasm during the activities. These findings indicate that English cartoon stories are effective as a companion medium for storytelling, capable of improving speaking skills and interest in learning English, and can be applied continuously in schools. Keywords: Storytelling; English cartoon stories; Speaking skills; Interest in learning.
PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN MANAJEMAN USAHA MELALUI PENGEMBANGAN USAHA IKAN ASAP YANG BERKELANJUTAN DI DESA MAPAK INDAH Nur Fitri Hidayanti; Zaenafi Ariani; Siti Lamusiah; Mardiah Hayati; Endang Rahmawati; Ilham Ilham; Muhammad Hudri
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 1 (2025): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i1.31824

Abstract

ABSTRAKSektor perikanan memegang peranan krusial dalam menopang perekonomian masyarakat pesisir di Indonesia, termasuk di Desa Mapak Indah, dengan potensi sumber daya alam yang melimpah, khususnya ikan, membuka peluang besar bagi pengembangan usaha pengolahan seperti ikan asap. Namun, potensi ini seringkali belum tergarap optimal karena keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam manajemen usaha, terutama terkait keberlanjutan. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pelatihan dan pendampingan manajemen usaha melalui pengembangan usaha ikan asap yang berkelanjutan di Desa Mapak Indah. Metodologi program ini melibatkan 18 peserta ibu-ibu pelaku UMKM ikan asap dan dilaksanakan pada tanggal 17 Mei 2025 di Desa Mapak Indah, Mataram, Nusa Tenggara Barat. Metode pelaksanaan mencakup identifikasi permasalahan dan kebutuhan mitra, pelatihan manajemen usaha dan keuangan, penerapan teknologi pengasapan yang ramah lingkungan, pelatihan pemasaran dan branding produk, serta pendampingan dan monitoring berkala. Tahapan kegiatan dilakukan oleh Tim dari pelatihan proses pengolahan ikan asap yang baik dan tepat, dan dilanjudkan dengan pendampingan manajeman usaha yang sesuai dengan kondisi masyarakat. Hasil program menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta, dengan rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 65 menjadi 80. Selain itu, rata-rata penjualan UMKM meningkat sebesar 30% dalam tiga bulan setelah pelatihan. Sebanyak 80% ibu-ibu pelaku UMKM berhasil membuka lapak fisik, dan rata-rata pendapatan bulanan mereka meningkat dari Rp 400.000 menjadi Rp 700.000 dalam satu minggu setelah pendampingan.Kata kunci: Manajemen Usaha; Ikan Asap; Berkelanjutan. ABSTRACTThe fisheries sector plays a crucial role in supporting the economy of coastal communities in Indonesia, including in Mapak Indah Village. Its abundant natural resources, especially fish, open up significant opportunities for developing processing businesses like smoked fish. However, this potential often remains underutilized due to limited knowledge and skills in business management, particularly regarding sustainability. This community service program aims to provide business management training and mentoring through the development of sustainable smoked fish businesses in Mapak Indah Village. The program's methodology involved 18 women participants who are micro, small, and medium-sized enterprise (MSME) owners in the smoked fish sector. It was carried out on May 17, 2025, in Mapak Indah Village, Mataram, West Nusa Tenggara. The implementation methods included identifying partners' problems and needs, business and financial management training, implementing eco-friendly smoking technology, product marketing and branding training, and regular mentoring and monitoring. The stages of the activity are carried out by the Team from training on the proper and correct process of processing smoked fish, and continued with assistance in business management that is in accordance with community conditions. The program's results showed an increase in participants' knowledge and skills, with the average knowledge score rising from 65 to 80. Additionally, the average MSME sales increased by 30% within three months after the training. A significant 80% of the women MSME owners successfully opened physical stalls, and their average monthly income increased from Rp 400,000 to Rp 700,000 within one week of receiving mentoring.Keywords: Business Management; Smoked Fish; Sustainable.