Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Keanekaragaman Hama dan Musuh Alami pada Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt.) yang Diberi Pupuk NPK, Pupuk Kandang, Kombinasi Pupuk NPK dan Pupuk Kandang Fahrurazi Fahrurazi; Tuti Heiriyani; Rila Rahma Apriani
Agroekotek View Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agtview.v5i2.3314

Abstract

Prospek serapan pasar terhadap komoditas jagung manis akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk, karena itu komoditas jagung manis harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan memenuhi permintaan pasar. Permasalahan yang sering timbul pada tanaman jagung manis yakni, ketidakseimbangan keanekaragaman antara hama dan musuh alami yang berdampak pada produktivitas hasil jagung manis yang disebabkan penggunaan dosis pupuk NPK dan pupuk kandang yang tidak sesuai. Faktor abiotik dan biotik juga dapat mempengaruhi keanekaragaman hama dan musuh alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status keanekaragaman hama dan musuh alami pada tanaman jagung manis (Zea mays saccharata Sturt.) yang diberi pupuk NPK, pupuk kandang, kombinasi pupuk NPK dan pupuk kandang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok satu faktor dengan empat perlakuan yang terdiri dari J1 = Kontrol, J2 = 10 ton/ha pupuk kandang, J3 = 100 kg/ha NPK + 10 ton/ha pupuk kandang, J4 = 100 kg/ha NPK + 20 ton/ha pupuk kandang. Variabel pada pengamatan ini yaitu tingkat keanekaragaman hama dan musuh alami yang terperangkap, dilakukan sebanyak 1 kali setiap minggu yaitu dimulai pada  minggu ke 2 setelah tanam pada tanaman jagung manis. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat status keanekaragaman hama dan musuh alami pada tanaman jagung manis sedang, perlakuan yang paling efektif terdapat pada perlakuan J2, karena pada perlakuan J2 tidak berbeda nyata dengan J1 (kontrol), J3 dan J4, baik pada indeks keanekaragaman, kekayaan jenis, kemerataan jenis dan indeks dominasi, hal ini karena penggunaan pupuk NPK, kandang dan kombinasi tidak berbahaya bagi organisme dilingkungan tersebut, melainkan perlakuan tersebut berpengaruh terhadap perilaku pertumbuhan yang berdampak pada ketertarikan hama dan musuh alami. pemberian pupuk yang sesuai akan menentukan kelimpahan jenis hama dan musuh alami dalam suatu ekosistem. Hal ini dikarenakan ekosistem tersebut dapat memberikan makanan yang cukup bagi hama dan musuh alami untuk berkembang biak Fitriani (2016).
Introduksi Bahaya Penggunaan Pestisida Dan Pemanfaatan Daun Sirsak Sebagai Biopestisida Pada Masyarakat Palam Novianti Adi Rohmanna; Rila Rahma Apriani; Nurlaila Nurlaila; Nukhak Nufita Sari; Hikma Ellya; Rony Mulyawan; Zuliyan Agus Nur Muchlis Majid
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 8 No. 2 (2023): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v8i2.1197

Abstract

Desa Palam merupakan salah satu kecamatan Cempaka yang memiliki banyak rumah tangga petani, dan sebagian besar mata pencaharian masyarakatnya adalah petani. Pertanian menjadi salah satu sektor penting dalam menjaga stabilitas ketersediaan pangan. Permasalahan yang dihadapi oleh petani desa Palam adalah serangan hama dan penyakit tanaman. Hal tersebut mengakibatkan kerugian besar bagi. Untuk mengatasi hal tersebut, petani menggunakan pestisida kimia. Kegiatan pemberdayaan dilakukan untuk mengedukasi bahaya penggunaan pestisida kimia dan memperkenalkan daun sirsak sebagai bahan baku biopestisida. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Juli 2021 di desa Palam, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru dan melibatkan sekitar 20 peserta. Kegiatan ini terdiri dari 3 tahap yaitu tahap input (pendataan), proses (sosialisasi dan pendistribusian benih sirsak), dan tahap output. Hasil program menunjukkan bahwa indikator kegiatan telah tercapai. Setelah diberikan sosialisasi, sebanyak 90% peserta menjadi lebih memahami akan bahaya pestisida kimia terhadap lingkungan dan kesehatan. Selain itu, petani juga mengetahui potensi daun sirsak sebagai biopestisida. Kegiatan ini diharapkan dapat berkelanjutan dan mendapatkan pendampingan lebih intensif dari pemerintah. Introduction Of Pesticide Hazard And Utilization Of Soursop Leaves As Biopesticide In The Palam Society Palam Village is one of the Cempaka sub-districts, which has many farmer households, and most of the people's livelihoods are farmers. Agriculture is one of the crucial sectors in supporting the stability of food availability. Pests and plant diseases are a problem for farmers. It resulted in significant losses. To overcome this, farmers use chemical pesticides. Empowerment programs are carried out to educate the hazards of using chemical pesticides and introduce soursop leaves as biopesticides. This activity was held in July 2021 in Palam village, Cempaka district, Banjarbaru, and involved about 20 participants. This activity consists of 3 stages: the input stage (data collection), the process (socialization and distribution of soursop seeds), and the output stage. The results of the program indicate that the activity indicators have been achieved. After being given socialization, 90% audiens become more aware of the hazards of chemical pesticides to the environment and health. In addition, farmers also know the potential of soursop leaves as a biopesticide. This activity is expected to be sustainable and get more intensive assistance from the government.
PENGARUH PEMBERIAN POC LIMBAH CAIR TAHU DAN AIR CUCIAN BERAS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KACANG PANJANG Noor Janah; Rila Rahma Apriani; Antar Sofyan
Fruitset Sains : Jurnal Pertanian Agroteknologi Vol. 11 No. 2 (2023): June: Agriculture
Publisher : Institute of Computer Science (IOCS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

POC merupakan penunjang untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang mengandung unsur hara makro, mikro, dan asam amino. Salah satu komoditas pertanian yang dapat diberi POC ialah kacang panjang. Bahan untuk POC dengan memanfaatkan limbah cair tahu dan air cucian beras. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dan konsentrasi POC yang paling efektif. Penelitian ini menggunakan RAL non faktorial yang terdiri atas 5 perlakuan dan 4 ulangan sehingga terdapat 20 unit satuan percobaan yaitu P0(-) Kontrol, P0(+) Kontrol positif P1 Konsentrasi 10%, P2 Konsentrasi 20%, P3 Konsentrasi 30%, bertempat di Rumah Kaca Jurusan Agroekoteknologi pada bulan Mei sampi Juli 2022 kemudian data pengamatan dianalisis menggunakan Uji Bartlett, kemudian dilanjutkan Analisis Ragam Anova, dan dilakukan uji lanjut yaitu Uji DMRT Taraf 5%.. Hasil penelitian menunjukan pemberian POC limbah cair tahu dan cucian beras berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang panjang dengan konsentrasi yang paling efektif terdapat pada perlakuan P3 (konsentrasi 30%). Pemberian POC limbah cair tahu dan air cucian beras berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang panjang ditunjukkan dari parameter jumlah daun, lebar daun, jumlah polong dan berat segar polong. Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang pemberian POC limbah cair tahu dan air cucian beras untuk mengetahui efektivitas pemberian POC tersebut pada tanaman lainnya.
Diseminasi Penanaman Tanaman Buah dan Hias Sebagai Penaung Lahan Bukaan Baru di Perumahan Sungai Sipai Nurlaila, Nurlaila; Mulyawan, Ronny; Sari, Nukhak Nufita; Ellya, Hikma; Apriani, Rila Rahma; Abduh, Andin Muhammad; Rizqiana, Sista
J-ADIMAS (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : (STKIP) PGRI Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29100/j-adimas.v12i1.4781

Abstract

Pembukaan lahan menyebabkan berkurang dan hilangnya populasi vegetasi tanaman mengakibatkan kemampuan tanah dalam proses peresapan air ke dalam tanah akan menjadi terbatas. Hal tersebut merupakan salah satu faktor yang memengaruhi proses infiltrasi air ke dalam tanah. Penanaman tanaman buah dan hias yang dihasilkan oleh UPTD Balai Perbenihan Tanaman Hutan (BPTH) Provinsi Kalimantan Selatan di lahan bukaan baru yang kosong diantara pembangunan perumahan di Sungai Sipai sebagai salah satu usaha diseminasi kepada peserta yang merupakan warga perumahan terhadap arti penting penanaman tanaman buah maupun hias pada lahan kosong tersebut. Kegiatan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) merupakan salah satu wujud pelaksanaa Tri Dharma Perguruan Tinggi kepada masyarakat disekitar lingkungan kampus. Melalui pelaksanaan PKM ini, diharapkan terjadi perbaikan kondisi lingkungan, peningkatan pemahaman dan kesadaran untuk peduli dan ikut bertanggung jawab terhadap pelestarian lingkungan hidup. Bentuk kegiatan yang dilakukan adalah memberikan pengatahuan sehingga terjadi peningkatan pemahaman terhadap pelestarian lingkungan hidup melalui penanaman tanaman buah dan hias disekitar tempat tinggal peserta di perumahan Berlian Permai di Sungai Sipai Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan. Peserta menyatakan 92% sangat paham, 78% sangat bermanfaat, 80% sangat puas dan 95% mengharapkan sangat bisa dilanjutkan.
Pelatihan Kultur Jaringan Varietas Nanas Lokal Kalimantan Selatan pada Wirausahawan Muda Pedesaan Ellya, Hikma; Apriani, Rila Rahma; Rohmanna, Novianti Adi
Jalujur: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2024): Juni 2024
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jalujur.v3i1.12430

Abstract

Wirausahawan pedesaan di Kalimantan Selatan yang mayoritas dalam bidang pertanian sangat berperan dalam mendukung ketahanan pangan. Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan khusus bagi mereka diperlukan untuk mengoptimalkan hasil pertanian. Salah satu varietas lokal unggul daerah yaitu nanas tamban, yang selama ini terkendala dalam pengedaan bibit karena hanya bergantung pada bahan tanam berupa mahkota dan batang tanaman dan dengan keberhasilan tumbuh yang rendah. Pelatihan kultur jaringan tanaman ini menjadi solusi dalam permasalahan tersebut. Pelatihan ini dilaksanakan di SMK-PP N Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dan diikuti oleh 25 wirausahawan tani dari Kabupaten Banjar, Tanah Laut, dan Tanah Bumbu. FGD dilakukan pada wirausahawan tani untuk memberikan gambaran awal tentang teknik kultur jaringan serta manfaatnya dibandingkan teknik perbanyakan tanaman lain. Pelatihan dan pendampingan dilakukan selama satu bulan hingga tanaman menghasilkan kalus. Evaluasi dilakukan dengan memberikan kuisioner kepuasan, hasilnya peserta puas dan tertarik untuk melanjutkan kultur jaringan menjadi usaha baru karena keunggulan teknik yang dapat menghasilkan anakan yang baru dalam jumlah besar dengan sifat sama dengan tanaman induk dan dalam waktu singkat. Sebanyak 83% peserta pelatihan sangat setuju bahwa mereka antusias untuk melanjutkan teknik kultur jaringan tanaman dalam usaha bisnis maupun budidaya yang sudah mereka jalankan. Tingkat kepuasan peserta mencapai 67% sangat puas, dan 33% puas.
Pemberian Serbuk Daun Serai dan Daun Mengkudu terhadap Mortalitas Sitophilus oryzae L. pada Beras Siam Mutiara Iqbal, Muhammad; Rizali, Akhmad; Apriani, Rila Rahma
Agroekotek View Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agtview.v6i2.3877

Abstract

Rice is one of the staple foods of the Indonesian people. Siam Mutiara Rice is local superior varieties of South Kalimantan which are in great demand by the people of Banjar. The supply of rice to meet the needs cannot be separated from the stock of rice in the storage warehouse. Long storage of rice often causes problems, one of which is the presence of Sitophilus oryzae L. The presence of these pests must be controlled so as not to damage both in terms of quality and quantity. the control that can be done is using botanical pesticides with the aim that these pests can be controlled but have no impact on humans who consume them. his study aims to determine the effect of effective administration of lemongrass and noni leaf powder on mortality, speed and weight loss in rice Siam Mutiara. This research was conducted in March 2021 – April 2021 at the Integrated Laboratory of the Department of Agroecotechnology, Faculty of Agriculture, Lambung Mangkurat University. This study used a completely randomized design (CRD) 1 factor with treatment D0 (control/without application), D1 (15 g lemongrass leaf powder), D2 (15 g noni leaf powder), D3 (7.5 g lemongrass leaf powder; 7.5 g of noni leaf powder), D4 (10 g of lemongrass leaf powder; 5 g of noni leaf powder) and D5 (5 g of lemongrass leaf powder; 10 g of noni leaf powder). The treatment was repeated 4 times to obtain 24 experimental units. The results showed that the application of lemongrass and noni leaf powder was able to control and suppress the weight loss of Siam Mutiara rice. The effective treatment in controlling rice lice was D2 with a mortality percentage of 46.3%, a mortality rate of 0.4 head/day and was able to suppress rice weight loss by 0.2 g. 
Daya Antagonisme Agensia Hayati terhadap Patogen Blendok pada Jeruk Pamelo secara In Vitro Waahidaturrahmah, Sitti; Apriani, Rila Rahma; Sari, Noorkomala
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 9, No 3 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v9i3.8559

Abstract

Produksi jeruk di Kalimantan Selatan mengalami penurunan yang diakibatkan berbagai faktor, diantaranya serangan penyakit. Hal ini juga dialami oleh pertanaman buah jeruk pamelo di Amanah Borneo Park yang sering mengalami gagal panen akibat serangan penyakit blendok yang disebabkan oleh patogen Botryodiplodia theobromae Pat. Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan menggunakan agen hayati, salah satunya cendawan endofit yang bersifat antagonis terhadap penyebab patogen, yang dapat diisolasi dari tanaman obat. Cendawan endofit mampu menghasilkan metabolit sekunder, enzim litik, dan antimikroba lainnya dalam menghambat pertumbuhan patogen tanaman. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui jenis cendawan penyebab penyakit blendok di Amanah Borneo Park dan mengetahui daya antagonisme Trichoderma harzianum, endofit Colletotrichum sp., dan endofit Fusarium sp. terhadap patogen tersebut. Hasil identifikasi mengemukakan bahwa patogen penyebab blendok di Amanah Borneo Park adalah B. theobromae Pat (P2B4), kemudian uji antagonisme dengan tiga agen antagonis yaitu Trichoderma harzianum, endofit Colletotrichum sp., dan endofit Fusarium sp. menunjukkan adanya perbedaan persentase daya hambat yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti laju pertumbuhan, produksi, dan konsentrasi metabolit sekunder yang dihasilkan dengan persentase penghambatan masing-masing agen antagonis yaitu 21,048% (T. harzianum), 13,775% (Colletotrichum sp.), dan 13,04% (Fusarium sp.).
Keanekaragaman Makrofauna Tanah pada Pertanaman Kacang Nagara dengan Aplikasi Mulsa Eceng Gondok Aphrodyanti, Lyswiana; Mika, Mika; Apriani, Rila Rahma; Mulyawan, Ronny; Rizqiana, Sista; Ellya, Hikma
Jurnal Agrotek Ummat Vol 11, No 4 (2024): Jurnal Agrotek Ummat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jau.v11i4.27479

Abstract

Nagara cowpea is a local crop from South Kalimantan that is grown on swampland.  However, nagara cowpea cultivation on swamp land can only be planted once a year, in the dry season.  It can be planted more than once a year if it is re-adapted to dry land by providing organic material in the form of water hyacinth mulch and identifying the diversity of soil macrofauna.  The purpose of this study was to determine the diversity of soil macrofauna in each treatment of water hyacinth mulch.  This study used descriptive exploration method. Soil macrofauna samples were taken by purposive sampling in cowpea raisebeds that were applied water hyacinth mulch. Furthermore, identification and calculation of the number of soil macrofauna were carried out in the laboratory. Data were analyzed quantitatively in tables to explain differences in diversity, evenness, and dominance.  The results showed that the diversity of soil macrofauna in the three treatments had a medium index value. Individual richness of soil macrofauna in the three treatments has a low index value.  Evenness of soil macrofauna has a value of more than 0.6 which indicates that the distribution of individuals per species is evenly distributed. This is in accordance with the dominance value of macrofauna, that there is no dominant species.
Agronomic characteristics of nagara sweet potatoes (Ipomoea batatas L.) from south kalimantan wetlands Apriani, Rila Rahma; Nugroho, Agung; Adriani, Dewi Erika; Purnomo, Joko
Jurnal AGRO Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/39576

Abstract

Understanding the agronomic characteristics of sweetpotato grown in wetland is critical to optimise cultivation and maximise yield. By studying factors such as plant morphology and yield, as well as environmental conditions, is important to identify varieties and cultivation practices that are most suitable for specific agroecological zones. This research aims to study the agronomic characters of nagara sweet potato in South Kalimantan's wetlands and identify abiotic factors that support its growth. A total of 15 sweet potato accessions were randomly sampled in sweet potato cultivation hotspot areas in July 2024. Hierarchical cluster analysis was conducted to see the similarity of the accessions found. The results showed that the agronomic characters of sweet potato accessions differed from the registered variety (Ubi Nagara KB-1), especially in characteristics type & number of leaf lobes, shape and number of tubers. Sweet potato yield was also found to be lower (14 t ha-1) compared to Ubi Nagara KB-1 (20 t ha-1). Abiotic data were found to be favourable for sweet potato agronomy, except for pH. The accessions found are still recommended to be developed in lebak swamp land, due to their adaptability and potential which is still higher than sweet potato in general (in dry land). Genetic testing is needed to prove that morphological differences are caused by different varieties (genetic) or decreased environmental conditions. ABSTRAK Karakteristik agronomi ubi jalar yang ditanam di lahan basah sangat penting dipelajari untuk mengoptimalkan budidaya dan memaksimalkan hasil panen. Pemahaman faktor-faktor seperti morfologi dan hasil tanaman, serta kondisi lingkungan, penting untuk mengidentifikasi varietas dan praktik budidaya yang paling sesuai untuk zona agroekologi tertentu. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakter agronomi ubi nagara di lahan rawa lebak Kalimantan Selatan dan mengidentifikasi faktor abiotik yang mendukung pertumbuhannya. Sebanyak 15 aksesi ubi jalar diambil secara acak di area sentra budidaya ubi pada Juli 2024. Analisis kluster hierarki dilakukan untuk melihat kekerabatan aksesi yang ditemukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter agronomi aksesi ubi jalar berbeda dengan varietas yang terdaftar (Ubi Nagara KB-1), terutama pada ciri tipe, jumlah cuping daun, bentuk dan jumlah umbi. Hasil ubi jalar juga ditemukan lebih rendah (14 t ha-1) dibandingkan dengan Ubi Nagara KB-1 (20 t ha-1). Data abiotik ditemukan mendukung agronomi ubi jalar, kecuali pH. Aksesi yang ditemukan masih direkomendasikan untuk dikembangkan di lahan rawa lebak, karena adaptabilitas dan potensinya yang masih lebih tinggi dibanding ubi jalar secara umum (di lahan kering). Uji genetik diperlukan untuk membuktikan perbedaan morfologi disebabkan oleh varietas berbeda (genetik) atau penurunan kondisi lingkungan.
PENDAMPINGAN FERMENTASI PAKAN ITIK DENGAN TRICHODERMA DI DESA RANTAU KARAU HILIR DALAM UPAYA REDUKSI CEMARAN AFLATOKSIN Rila Rahma Apriani; Ika Sumantri; Hikma Ellya; Nukhak Nufita Sari; Ronny Mulyawan; Nurlaila
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 8 No. 3 (2024): Jurnal Panrita Abdi - Juli 2024
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/pa.v8i3.23717

Abstract

The quality of duck feed is a main factor that determines the safety of food derived from duck products for humans, considering that the people in South Kalimantan widely consume duck products. Duck farming is the main commodity in the farming system of Bangun Bersama Farmer Group, Rantau Karau Hilir Village. The main problem faced by this farmer group is the lack of knowledge about the impact of aflatoxin contamination in duck feed on the duck performance and product safety. This community service is carried out to increase the knowledge and skills of farmer group members to produce duck ratio formulated from local feedstuffs and to prevent aflatoxin contamination through fermentation using Trichoderma.  The Focus Group Discussion (FGD), training, and mentoring were carried out properly according to the purpose of service and received high enthusiasm from partners. Awareness about the dangers of aflatoxins in duck and human health is well established, so the potential for sustainability of service results is high. In addition, farmer group members gain the ability to produce low-cost duck ration by using local feedstuff.  ---  Kualitas pakan itik merupakan faktor utama yang menentukan keamanan pangan manusia yang berasal dari produk itik, mengingat itik banyak dikonsumsi oleh masyarakat Kalimantan Selatan. Beternak itik menjadi komoditas utama pertanian bagi Kelompok Tani Bangun Bersama, Desa Rantau Karau Hilir. Permasalahan utama yang dihadapi mitra adalah kurangnya pengetahuan tentang dampak cemaran aflatoksin dalam pakan itik pada performa itik dan keamanan produk. Pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota kelompok tani untuk menghasilkan formulasi rasio pakan itik dari bahan pakan lokal dan untuk mencegah kontaminasi aflatoksin melalui fermentasi menggunakan Trichoderma. Metode pengabdian yang dilakukan  adalah Focus Group Discussion (FGD), pelatihan dan pendampingan. Kegiatan pengabdian dapat meningkatkan pengetahuan mitra sekitar 91%. Selain itu, mitra dapat terampil membuat pakan itik fermentasi menggunakan Trichoderma dengan memanfaatkan bahan lokal sebanyak satu kali.