Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

The Differences in Triage Accuracy in Low and High Category Respiratory Emergency Cases Using the Early Warning System Score (EWSS) by Nursing Students Vita Maryah Ardiyani; Wahyu Dini Metrikayanto; Ani Sutriningsih; Putu Sintya Arlinda; Risna Yekti Mumpuni; Yati Srihayati; Rosly Junaedi; Indah Dwi Pratiwi; Wyssie Ika Sari; Hardiyanto Hardiyanto
Jurnal Kesehatan dr. Soebandi Vol 13 No 1 (2025): Jurnal Kesehatan dr. Soebandi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas dr. Soebandi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36858/jkds.v13i1.803

Abstract

EWSS is a cumulative scoring system that standardizes the evaluation of the severity of acute illness based on the patient's vital signs. This study aims to compare the accuracy of determining triage in cases of respiratory emergencies in cases with low and high categories to find out the extent of understanding of triage by nursing students in these two categories of cases using the EWSS method. The research was carried out at 8 institutions providing undergraduate nursing education in the city and district of Malang. The sample for this research was 200 nursing students at undergraduate and professional levels. Of the 200 students, they were divided into 2 treatment groups, namely a student group of 100 respondents who were given respiratory emergency vignette cases in the low triage category (low risk) and a student group of 100 respondents who were given cases in the high triage category (emergency). The research results show the results of the Man Whitney test with a significance result of 0.91 so it can be concluded that there are no differences in the 2 treatment groups. Almost all respondents determined triage in the 2 triage groups correctly using the EWSS triage method. EWSS can be used independently by novice nurses in carrying out triage in various cases of respiratory emergencies
PENDAMPINGAN DAN PEMBINAAN PROGRAM USAHA KESEHATAN SEKOLAH DI TK ABA 37 KOTA MALANG Edi Purwanto; Indah Dwi Pratiwi; Muhammad Fajar Ratanca Duri; Ahmad Muhyidin
Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2023): Maret : Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jpikes.v3i1.1048

Abstract

Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) sebagai salah satu program yang langsung berhubungan dengan peserta didik sudah dirilis sejak tahun 1976 dan diperkuat tahun 1984 dengan terbitnya SKB 4 Menteri yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri yang diperbaharui pada tahun 2003. Program Usaha Kesehatan Sekolah yang dikenal dengan Trias UKS yaitu Pendidikan Kesehatan, Pelayanan Kesehatan dan Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat merupakan hal yang sangat penting dalam mewujudkan peserta didik yang sehat dan cerdas. Tujuan program pengabdian ini adalah 1). Membina usaha kesehatan sekolah; 2). Mengembangkan usaha kesehatan sekolah; 3). Meningkatkan sarana dan prasarana usaha kesehatan sekolah. Luaran pengabdian masyarakat anatara lain 1). Masyarakat sekolah menerapkan PHBS; mengenali makanan dengan kandungan bahan kimia berbahaya, menerakan cara mencuci tangan dengan benar; 2). Terbentuk satuan tugas UKS; 3). Tercipta lingkungan belajar masyarakat sekolah yang bersih dan sehat; 4). Pembinaan secara berkelanjutan terhadap PHBS pada masyarakat sekolah; 5). Pendidikan kesehatan dan pelatihan kader Kesehatan Sekolah pendidikan dan pelayanan kesehatan; 6). Tersedianya sarana dan prasarana UKS, seperti UKS kit, informasi media seperti poster, leaflet, lembar balik, dan lain-lain; 7).Tersedianya buku pencatatan dan pelaporan keaktifan dan kunjungan usaha kesehatan sekolah
Studi Kasus: Penerapan Mobilisasi Dini Bertahap terhadap Tekanan Darah dan Frekuensi Nadi pada Pasien STEMI Ferdinand Bagas Opsi Yudhistira; Indah Dwi Pratiwi
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 8 No. 3 (2026): Juni 2026, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v8i3.2213

Abstract

Ketidakstabilan hemodinamik pada pasien ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI) akibat tirah baring lama memerlukan penanganan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan mobilisasi dini bertahaap fase I terhadap Stabilisasi tekanan darah dan frekuensi nadi pada pasien STEMI di Ruang perawatan Intensif. Penelitian ini menggunakan studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan pada dua pasien STEMI laki-laki berusia kurang dari 75 tahun. Intervensi dilaksanakan sebanyak tiga sesi dalam dua hari dengan durasi 15–30 menit per sesi menggunakan penapisan Skala Borg. Pasca-intervensi hingga sesi 3, kedua pasien menunjukkan penurunan parameter hemodinamik yang stabil. Tekanan darah Tn. D turun dari 150/89 mmHg menjadi 111/63 mmHg (nadi 71 ke 60 x/menit), sedangkan Tn. M turun dari 139/91 mmHg menjadi 126/80 mmHg (nadi 101 ke 67 x/menit). Skor Skala Borg konsisten bernilai 0. Simpulan: Mobilisasi dini bertahap fase I efektif dan aman dalam menjaga serta mengoptimalkan stabilitas hemodinamik pasien STEMI. Mobilisasi dini bertahap fase pertama yang dilakukan dalam 12 hingga 18 jam pasca serangan pada STEMI anteroseptal terbukti aman dan efektif dalam meningkatkan hemodinamik yang di tandai dengan penurunan tekanan darah dan frekuensi nadi tanpa mnimbulkan komplikasi klinis.
Application of the 45° Semi-Fowler Position and Pursed Lip Breathing in STEMI Patients with Ineffective Breathing Pattern: A Case Study Muhammad Fahrul Farizqi; Indah Dwi Pratiwi
Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 5 No. 2 (2026): Juni: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jukeke.v5i2.2897

Abstract

ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI) is a cardiovascular emergency caused by complete occlusion of a coronary artery, which may result in myocardial ischemia, decreased cardiac function, pulmonary congestion, and impaired tissue oxygenation. Respiratory problems such as dyspnea, increased respiratory rate, and ineffective breathing pattern may occur in STEMI patients and require supportive nursing interventions. The combination of the 45° Semi-Fowler position and Pursed Lip Breathing is a simple non-pharmacological intervention that may help improve ventilation and oxygenation. Objective: This study aimed to describe the implementation of the combination of the 45° Semi-Fowler position and Pursed Lip Breathing in improving respiratory status among STEMI patients with ineffective breathing pattern. Methodology: This study used a descriptive nursing case study design involving two STEMI patients treated in the Intensive Cardiac Care Unit. Data were collected through direct observation of respiratory status before and after the intervention. The observed indicators were peripheral oxygen saturation (SpO₂) and respiratory rate. The data were analyzed descriptively by comparing respiratory parameters during the three-day observation period. Findings: The results showed a tendency toward improvement in respiratory status in both patients. Oxygen saturation increased from 96% to 98%, while respiratory rate decreased from 20–24 breaths per minute before the intervention to 16–20 breaths per minute after the intervention. Implications: The findings suggest that the combination of the 45° Semi-Fowler position and Pursed Lip Breathing may be used as a supportive independent nursing intervention to help improve oxygenation and reduce breathing effort in STEMI patients, without replacing standard medical therapy. Originality: This study provides a clinical description of the combined use of body positioning and breathing exercise in STEMI patients with ineffective breathing pattern, an area that remains limited in previous nursing case studies.
PENERAPAN POSISI SEMI FOWLER PADA PASIEN ST-ELEVATION MYOCARDIAL INFARCTION (STEMI) DENGAN GANGGUAN OKSIGENASI Hendi Irawan Budiana; Indah Dwi Pratiwi
Babul Ilmi Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan Vol 18, No 1 (2026): Babul Ilmi Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36729/bi.v18i1.1675

Abstract

Latar Belakang: ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI) kondisi kegawatdaruratan kardiovaskular yang dapat menyebabkan gangguan perfusi miokard, masalah keperawatan berupa pola napas tidak efektif akibat ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen. Intervensi keperawatan yang dapat diberikan untuk membantu mempertahankan oksigenasi pasien antara lain posisi semi Fowler dan terapi oksigenasi. Tujuan: Mendeskripsikan penerapan asuhan keperawatan melalui pemberian posisi semi Fowler dan terapi oksigenasi pada pasien STEMI dengan masalah keperawatan pola napas tidak efektif. Metode: Penelitian menggunakan desain studi kasus deskriptif pada dua pasien STEMI yang dirawat di Ruang Bengawan Solo RSUD Dr. Saiful Anwar Malang. Pengkajian mengacu pada SDKI, SLKI, dan SIKI. Evaluasi dilakukan melalui pemantauan frekuensi napas, saturasi oksigen, penggunaan otot bantu pernapasan, dan tingkat kenyamanan pasien. Hasil: Kedua pasien menunjukkan perbaikan status respirasi yang ditandai dengan penurunan frekuensi napas, peningkatan saturasi oksigen hingga 98%, berkurangnya penggunaan otot bantu pernapasan, penurunan keluhan sesak napas, serta meningkatnya kenyamanan selama masa observasi. Saran: Agar tenaga kesehatan memberikan posisi semi Fowler dan terapi oksigenasi sebagai intervensi keperawatan suportif pada pasien STEMI sesuai kondisi klinis dan terapi medis yang diberikan sebagai terapi non farmakologi.Kata Kunci: Asuhan keperawatan, Oksigenasi, Pola Napas Tidak Efektif, Semi Fowler,STEMI.
YOUTH EMPOWERMENT MELALUI PELATIHAN KEGAWATDARURATAN PADA ANGGOTA PMR SMP IT ASSALAM MALANG : YOUTH EMPOWERMENT THROUGH EMERGENCY RESPONSE TRAINING FOR YOUTH RED CROSS MEMBERS AT SMP IT ASSALAM MALANG Indah Dwi Pratiwi; Edi Purwanto; Aisyah Az Zahra Maharani; Elok Febrianti; Farel Cheri Sisnadia
Jurnal Abdimas Pamenang Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Abdimas Pamenang - JAP
Publisher : STIKES Pamenang Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jap.v4i2.471

Abstract

Palang Merah Remaja (PMR) di SMP IT Assalam Malang memiliki peran penting sebagai first responder dalam kegawatdaruratan di lingkungan sekolah. Berdasarkan hasil pengamatan dan survei, didapatkan kondisi program PMR yang kapasitasnya masih terbatas, dengan hanya 20% anggota yang memahami Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan 40% peralatan P3K yang tidak layak. Pengabdian masyarakat ini mengimplementasikan model pelatihan aktif kepada 25 anggota PMR. Metode pelaksanaan mencakup workshop, demonstrasi, praktik langsung menggunakan manekin, serta pemanfaatan media edukasi inovatif berupa modul "SIGAP!" dan flashcard "Seri First Aid". Hasil dari kegiatan ini terjadi peningkatan pengetahuan, dari skor rata-rata pre-test 35% menjadi 85% pada post-test. Sebanyak 95% peserta mampu mendemonstrasikan prosedur BHD dengan benar dan 90% terampil dalam teknik pertolongan pertama cedera umum. Kegiatan pengabdian ini terbukti efektif meningkatkan kompetensi kognitif dan psikomotor anggota PMR. Program ini berhasil memberdayakan anggota PMR atau youth empowerment sebagai garda terdepan penanganan darurat berbasis sekolah yang tangguh dan berkarakter. Abstract   The Youth Red Cross (PMR) at SMP IT Assalam Malang plays a vital role as first responders for emergencies at school. Based on observations and surveys, it was found that the program's capacity was quite limited, with only 20% of its members understanding Basic Life Support (BLS) and 40% of the first aid equipment being in poor condition. This community service project implemented an active training model for 25 PMR members. The methods included workshops, demonstrations, hands-on practice with mannequins, and the use of innovative educational tools, such as the "SIGAP!" module and the "First Aid Series" flashcards.  As a result of this activity, there was a significant increase in knowledge, with the average pre-test score rising from 35% to 85% on the post-test. Additionally, 95% of the participants were able to correctly demonstrate BLS procedures, and 90% became skilled in first aid techniques for common injuries. This community service project proved to be effective in improving both the cognitive (knowledge) and psychomotor (practical) skills of the PMR members. The program successfully empowered the PMR to become a resilient and principled frontline for emergency response at school