Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

PENGARUH LATIHAN PEREGANGAN OTOT EKSTREMITAS BAWAH TERHADAP TINGKAT KELELAHAN PADA PASIEN END STAGE RENAL DISEASE (ESRD) DI RUANG HEMODIALISIS RSUD dr. DRAJAT PRAWIRANEGARA TAHUN 2025 Siti Salsabila Maulany; Epi Rustiawati; Tuti Sulastri
Jawara : Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 6, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jik.v6i3.37051

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: End Stage Renal Disease (ESRD) merupakan tahap akhir penyakit ginjal kronis yang membutuhkan hemodialisis sebagai terapi utama, namun prosedur ini kerap menimbulkan kelelahan. Salah satu intervensi non-farmakologis yang berpotensi mengurangi kelelahan adalah latihan peregangan otot ekstremitas bawah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan peregangan otot ekstremitas bawah terhadap tingkat kelelahan pada pasien ESRD. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimental dengan pendekatan nonequivalent control group. Sebanyak 32 pasien ESRD dipilih secara purposive sampling dan dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol (masing-masing 16 responden). Latihan ini dilakukan selama sesi hemodialisis. Tingkat kelelahan diukur menggunakan kuesioner FACIT Fatigue Scale dengan skor 0–52, di mana skor ≤30 menunjukkan kelelahan berat dan >30 menunjukkan kelelahan ringan. Analisis data menggunakan uji paired t-test dan uji independent t-test. Hasil: Rata-rata skor FACIT Fatigue Scale pada kelompok intervensi meningkat dari 25,25 menjadi 40,44 (p = 0,000), yang menunjukkan penurunan tingkat kelelahan dari kategori berat menjadi ringan. Sementara pada kelompok kontrol tidak terdapat perbedaan signifikan (p = 0,203). Hasil uji independent t-test menunjukkan perbedaan signifikan antar kelompok (p = 0,000). Kesimpulan: Latihan peregangan otot ekstremitas bawah efektif menurunkan tingkat kelelahan pada pasien ESRD. Intervensi ini layak diterapkan karena mudah dilakukan, tidak menggunakan biaya, dan dapat dilakukan selama sesi hemodialisis. Kata Kunci: End Stage Renal Disease, Hemodialisis, Kelelahan, Latihan Peregangan Otot Ekstremitas Bawah
PENGARUH LATIHAN INTRADIALITIK RANGE OF MOTION (ROM) TERHADAP KUALITAS TIDUR PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS DI RUANG DIALISIS RSUD DR. ADJIDARMO KAB. LEBAK Salsabila Tazkia Nurulita; Nelly Hermala Dewi; Epi Rustiawati
Jawara : Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 5, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jik.v5i2.25853

Abstract

Latar Belakang: Gagal ginjal kronik merupakan masalah kesehatan global yang mempengaruhikualitas hidup pasien dan keinginan untuk melakukan terapi hemodialisis. Oleh karena itu, pasienhemodialisis sering mengalami komplikasi atau efek samping, yaitu perubahan kualitas tidur dangangguan muskuloskeletal yang pengobatannya bisa dilakukan dengan latihan intradialitik range ofmotion. Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain quasieksperimen menggunakan pendekatan nonequivalent control group. Pelaksanaan intradialytic rangeof motion (ROM) exercise menggunakan standar prosedur operasional (SPO) range of motion.Pengukuran kualitas tidur menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI).Responden pada penelitian ini sebanyak 68 dengan menggunakan purposive sampling. Analisisstatistik yang digunakan adalah uji Mann Whitney U dan Wilcoxon Signed Ranks. Hasil: Terdapatpengaruh latihan intradialitik range of motion (ROM) terhadap kualitas tidur pasien gagal ginjalkronik yang menjalani hemodialisis di ruang dialisis RSUD dr. Adjidarmo Kab. Lebak dengan nilaip value = 0.000 < = 0.05. Kesimpulan: Pemberian latihan intradialitik range of motion (ROM)memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kualitas tidur pasien gagal ginjal kronik yang menjalanihemodialisis di ruang dialisis RSUD dr. Adjidarmo Kab. Lebak pada kelompok yang diberikanintervensi.Kata Kunci: kualitas tidur, range of motion, gagal ginjal kronik, hemodialisis
HUBUNGAN LAMANYA MENJALANI TERAPI HEMODIALISIS DENGAN TINGKAT KEPATUHAN DIET CAIRAN PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS Auryl Senja; Epi Rustiawati; Nelly Hermala Dewi
Jawara : Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 5, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jik.v5i3.28408

Abstract

Gagal Ginjal Kronis adalah kondisi klinis kerusakan ginjal yang progresif dan irreversible. Salah satu terapi pengganti ginjal yang banyak digunakan pada pasien gagal ginjal kronis adalah hemodialisis. Penatalaksanaan pada pasien GGK yang menjalani hemodialisis, dibutuhkan kepatuhan pasien salah satunya yaitu patuh terdahap diet cairan. Dampak dari ketidakpatuhan diet cairan dapat mengakibatkan sesak, oedema, serta peningkatan Interdialytic Weight Gain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lamanya menjalani hemodialisis dengan tingkat kepatuhan diet cairan pada pasien gagal ginjal kronis di RSUD dr Adjidarmo. Penelitian ini menggunakan jenis metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling. Dengan jumlah sampel sebanyak 92 responden. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan 1 kuesioner karakteristik demografi dan satu lembar observasi Interdialytic Weight Gain. Uji analisis data yang digunakan yaitu chi square. Hasil penelitian pada uji Chi Square hubungan antara lamanya menjalani terapi hemodialisis dengan tingkat kepatuhan diet cairan menunjukan nilai ρ value 0,006 < α (0.05) yang berarti ada hubungan antara lamanya menjalani terapi hemodialisis dengan tingkat kepatuhan diet cairan. Dengan nilai Odds Ratio yaitu 5.062 artinya lamanya menjalani hemodialisis 5.062 kali mempengaruhi tingkat kepatuhan diet cairan pasien pada pasien gagal ginjal kronis. Kata kunci: Gagal Ginjal Kronis, Kepatuhan Diet Cairan, Lamanya Menjalani Hemodialisis
TERAPI NAFAS DALAM MENINGKATKAN ISTIRAHAT TIDUR PADA PASIEN POST OPERASI SISTEM PENCERNAAN: HERNIA INGUINALIS DENGAN PENDEKATAN STUDI KASUS Epi Rustiawati; Rika Sapitri
Jawara : Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jik.v4i2.21122

Abstract

Relaksasi nafas dalam merupakan suatu teknik merileksasikan ketegangan otot yang dapat membuat pasien merasa tenang dan bisa menghilangkan dampak psikologis pasien. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tindakan relaksasi nafas dalam  meningkatkan kebutuhan istirahat tidur pada pasien post operasi sistem pencernaan : hernia inguinalias. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan studi kasus dalam bentuk asuhan keperawatan 2 orang pasien post operasi sistem pencernaan : henia inguinalis yang mengalami masalah gangguan kebutuhan istirahat tidur dengan tindakan relaksasi nafas dalam (pengkajian, diagnosis keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi). Setelah dilakukan asuhan keperawatan dalam waktu 3x24 jam, kebutuhan istirahat tidur teratasi.  Kata kunci             : relaksasi nafas dalam, istirahat tidur , post operasi hernia inguinalis.
HUBUNGAN SELF CARE DAN FAMILY SUPPORT DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN CONGESTIVE HEART FAILURE DI RSUD dr. DRAJAT PRAWIRANEGARA Christin Helen Juanita; Tuti Sulastri; Epi Rustiawati
Jawara : Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 6, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jik.v6i2.34599

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Congestive Heart Failure (CHF) merupakan penyakit kardiovaskular kronis yang menjadi penyebab utama penurunan kualitas hidup pasien. Gejala seperti kelelahan, sesak napas, dan keterbatasan aktivitas berdampak pada kondisi fisik, psikologis, dan sosial pasien. Self care yang efektif serta dukungan keluarga (family support) berperan penting dalam membantu pasien mengelola gejala dan mempertahankan kualitas hidup yang optimal. Hubungan keduanya dengan kualitas hidup pasien CHF di RSUD dr. Drajat Prawiranegara belum banyak diteliti secara spesifik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self care dan family support dengan kualitas hidup pasien CHF di RSUD dr. Drajat Prawiranegara. Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan 105 pasien CHF sebagai sampel. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner self care (SCHFI), family support, dan kualitas hidup (MLHFQ). Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki self care baik (52,4%) dan family support tinggi (81,9%). Terdapat hubungan signifikan antara self care dengan kualitas hidup (p = 0,042), namun tidak ditemukan hubungan signifikan antara family support dengan kualitas hidup (p = 0,981). Kesimpulan: Self care berhubungan signifikan dengan kualitas hidup pasien CHF di RSUD dr. Drajat Prawiranegara, sedangkan family support tidak. Faktor lain kemungkinan turut memengaruhi kualitas hidup, sehingga pendekatan multidimensional diperlukan dalam perawatan pasien. Kata Kunci: Self Care, Family Support, Kualitas Hidup, Congestive Heart Failure ABSTRACTBackground: Congestive Heart Failure (CHF) is a chronic cardiovascular disease that is a leading cause of decreased quality of life in patients. Symptoms such as fatigue, shortness of breath, and activity limitations affect the physical, psychological, and social conditions of patients. Effective self-care and family support play a crucial role in helping patients manage symptoms and maintain optimal quality of life. However, the relationship between these factors and the quality of life of CHF patients at RSUD dr. Drajat Prawiranegara has not been extensively studied. Objective: This study aims to analyze the relationship between self-care and family support with the quality of life of CHF patients at RSUD dr. Drajat Prawiranegara. Methods: This research employed a cross-sectional design involving 105 CHF patients as participants. Data were collected using the Self-Care of Heart Failure Index (SCHFI), a family support questionnaire, and the Minnesota Living with Heart Failure Questionnaire (MLHFQ). Data were analyzed using the Chi-Square test to examine relationships between variables. Results: The results showed that the majority of respondents had good self-care (52.4%) and high family support (81.9%). A significant relationship was found between self-care and quality of life (p = 0.042), while no significant relationship was found between family support and quality of life (p = 0.981). Conclusion: Self-care is significantly associated with the quality of life of CHF patients at RSUD dr. Drajat Prawiranegara, while family support is not. Other factors may also influence quality of life, thus a multidimensional approach is necessary in patient care. Keywords: Self Care, Family Support, Quality of Life, Congestive Heart Failure
GAMBARAN KEBUTUHAN SPIRITUAL PADA PASIEN KRITIS DI RUANG INTENSIVE CARE UNIT (ICU) RSUD DR DRAJAT PRAWIRANEGARA 2024 Suci Setiawati; Nelly Hermala Dewi; Epi Rustiawati
Jawara : Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jik.v5i1.25852

Abstract

Spiritual merupakan kebutuhan untuk mempertahankan keyakinan dan memenuhi kewajiban agama serta kebutuhan mendapatkan maaf atau pengampunan, mencintai, menjalin hubungan penuh rasa percaya dengan Tuhan dan diri sendiri. Pasien kritis adalah pasien dengan perburukan patofisiologi yang cepat yang dapat menyebabkan kematian dan dapat mengalami keadaan kritis yang dapat menyebabkan kematian. Sehingga pasien kritis yang dirawat di ruang ICU memiliki kebutuhan spiritual yang tinggi karena dalama kondisi yang mengancam jiwa, pengukuran kebutuhan spiritual dapat diukur menggunakan kuisioner pengkajian spiritual SWBS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kebutuhan spiritual yang yang terjadi pada pasien kritis yang dirawat di ruang Insentive Care Unit (ICU). Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan sampel yang digunakan menggunakan pendekatan accidental sampling menggunakan analisis distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukan gambaran kebutuhan spiritual yang terjadi pada pasien kritis adalah tinggi. Kesimpulan penelitian ini dalam keadaan kritis yang mengancam jiwa pada pasien kritis memiliki masalah spiritual yang baik dengan tingginya kebutuhan spiritual yang dimiliki. Kata kunci : kebutuhan spiritual, pasien kritis, Intensive Care Unit (ICU).
HUBUNGAN KADAR HEMOGLOBIN DENGAN KELELAHAN PASCA HEMODIALISIS PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DI RSUD PROVINSI BANTEN TAHUN 2025 Eva Nurhalizah; Epi Rustiawati; Tuti Sulastri
Jawara : Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 6, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jik.v6i2.34595

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan kondisi penurunan fungsi ginjal progresif yang bersifat permanen dan menyebabkan gangguan metabolisme, keseimbangan cairan, serta elektrolit. Salah satu terapi utama bagi pasien GGK adalah hemodialisis, namun prosedur ini sering menimbulkan kelelahan pasca dialisis, salah satunya akibat komplikasi anemia. Anemia yang ditandai dengan kadar hemoglobin rendah, mengganggu transportasi oksigen dalam tubuh, sehingga berkontribusi terhadap kelelahan dan menurunkan kualitas hidup pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar hemoglobin dengan tingkat kelelahan pasca hemodialisis pada pasien GGK di RSUD Provinsi Banten. Metode: Desain penelitian ini menggunakan analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling total sampling dengan jumlah 64 responden. Data kadar hemoglobin diperoleh dari rekam medis, sedangkan tingkat kelelahan diukur menggunakan kuesioner Post-Dialysis Fatigue (PDF). Analisis data dilakukan secara univariat (frekuensi, persentase) dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Uji Chi-Square menghasilkan p= 1,000 > α (0,05), menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara kadar hemoglobin dengan tingkat kelelahan. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan signifikan antara kadar hemoglobin dan kelelahan pasca hemodialisis pada pasien GGK di RSUD Provinsi Banten.  Kata kunci: Gagal Ginjal Kronik, Hemodialisis, Kadar Hemoglobin, Kelelahan Pasca Dialisis,  ABSTRACTBackground: Chronic Kidney Disease (CKD) was a progressive and irreversible decline in kidney function, causing disturbances in metabolism, fluid, and electrolyte balance. One of the main therapies for CKD patients was hemodialysis; however, this procedure often led to post-dialysis fatigue, partly due to complications such as anemia. Anemia, characterized by low hemoglobin levels, impaired oxygen transport in the body, contributing to fatigue and reduced patients' quality of life. Objective: This study aimed to determine the relationship between hemoglobin levels and the level of fatigue after hemodialysis in CKD patients at RSUD Provinsi Banten. Methods: This research employed a correlational analytic design with a cross-sectional approach. The sampling technique used was total sampling involving 64 respondents. Hemoglobin data were obtained from medical records, while fatigue levels were measured using the Post-Dialysis Fatigue (PDF) questionnaire. Data were analyzed using univariate (frequency, percentage) and bivariate analysis with the Chi-Square test. Results: The Chi-Square test showed a p= 1,000 > α (0,05), indicating no significant relationship between hemoglobin levels and fatigue levels. Conclusion: There was no significant relationship between hemoglobin levels and post-hemodialysis fatigue in CKD patients at RSUD Provinsi Banten. Keywords: Chronic Kidney Disease, Hemodialysis, Hemoglobin Levels, Post-Dialysis Fatigue
HUBUNGAN SELF-AWARENESS DAN SELF-CARE BEHAVIOR DENGAN KEJADIAN SINDROM KORONER AKUT PADA PASIEN HIPERTENSI Siti Nadiah; Epi Rustiawati; Tuti Sulastri
Jawara : Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 6, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jik.v6i1.34593

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Hipertensi dikenal sebagai "The Silent Killer" merupakan penyakit tanpa gejala yang berpotensi menyebabkan komplikasi serius seperti sindrom koroner akut (SKA). Salah satu penyebab hipertensi sering tidak terkontrol yaitu akibat rendahnya self-awareness dan kurangnya self-care behavior pada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan self-awareness dan self-care behavior dengan kejadian SKA pada pasien hipertensi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik sampling yang digunakan yaitu accidental sampling. Jumlah sampel sebanyak 76 responden. Alat ukur penelitian ini menggunakan kuesioner untuk mengukur variabel self-awareness dan self-care behavior, dan rekam medis untuk mengukur variabel kejadian SKA. Uji analisis yang digunakan yaitu chi square untuk mengetahui hubungan self-awareness dengan kejadian SKA dan self-care behavior dengan kejadian SKA. Hasil: Hasil uji chi square hubungan self-awareness dengan kejadian SKA menunjukkan nilai p-value sebesar 0,902 > α (0,05) yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan. Hasil uji chi square hubungan self-awareness dengan kejadian SKA menunjukkan nilai p-value sebesar 0,511 > α (0,05) yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara self-awareness dan self-care behavior dengan kejadian sindrom koroner akut pada pasien hipertensi di Klinik Jantung RSUD Provinsi Banten tahun 2025.Kata kunci: Hipertensi, Self-Awareness, Self-Care Behavior ABSTRACTBackground: Hypertension, often referred to as “The Silent Killer,” is an asymptomatic condition that can lead to severe complications such as acute coronary syndrome (ACS). One of the main reasons hypertension remains uncontrolled is due to low levels of self-awareness and inadequate self-care behavior among patients. This study aims to examine the relationship between self-awareness and self-care behavior with the occurrence of ACS in individuals with hypertension. Methods: A quantitative research design with a cross-sectional approach was used. The sampling method employed was accidental sampling, involving 76 respondents. Data collection tools included questionnaires to measure self-awareness and self-care behavior, while medical records were used to identify the incidence of ACS. Data analysis was conducted using the chi-square test to determine the association between self-awareness and ACS, as well as self-care behavior and ACS. Results: The chi-square test showed a p-value of 0.902 for the relationship between self-awareness and ACS, and a p-value of 0.511 for the relationship between self-care behavior and ACS. Both values exceed the significance level (α = 0.05), indicating no statistically significant relationship. Conclusion: There is no significant association between self-awareness or self-care behavior and the incidence of ACS among hypertensive patients at the Heart Clinic of Banten Provincial Hospital in 2025.Keywords: Hypertensive, Self-Awareness, Self-Care Behavior
AROMATERAPI DALAM MENURUNAKAN NYERI PADA PASIEN POST OPERASI APPENDIKTOMY DENGAN PENDEKATAN STUDI KASUS epi rustiawati; Tuti Sulastri; Ayu Virna
Jawara : Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 4, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jik.v4i3.23177

Abstract

Aroma terapi  merupakan terapi modalitas yang dapat digunakan untuk meningkatkan rasa nyaman dimana membantu kemampuan alami tubuh untuk menurunkan rasa nyeri dan meningkatkan relaksasi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tindakan aroma terapi lavender dalam  menurunkan nyeri pada pasien post operasi appendiktomy. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan studi kasus dalam bentuk asuhan keperawatan 2 orang pasien post operasi appendiktomy yang mengalami  nyeri dengan tindakan relaksasi nafas dalam (pengkajian, diagnosis keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi). Setelah dilakukan asuhan keperawatan dalam waktu 3x24 jam, nyeri berkurang pada pasien dengan skala nyeri sedang.  Kata kunci             : Aromaterapi lanvender, nyeri , post operasi appendiktomy. 
Efektivitas Kombinasi Slow Deep Breathing dan Isometric Handgrip Exercise Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Pagadungan Suniati Suha; Tuti Sulastri; Epi Rustiawati
Jawara : Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 6, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jik.v6i3.37055

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang dapat menyebabkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat. Pendekatan non-farmakologis menjadi alternatif pengelolaan yang aman dan efektif. Tujuan: Menganalisis efektivitas kombinasi Slow Deep Breathing dan Isometric Handgrip Exercise terhadap penurunan tekanan darah pasien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Pagadungan. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain quasi eksperimen one group pre-test post-test. Intervensi dilakukan selama 15 hari berturut-turut. Hasil: Rata-rata tekanan darah sistolik sebelum intervensi adalah 159,03 mmHg, menurun menjadi 150,62 mmHg sesudah intervensi (p = 0,000). Median tekanan darah diastolik menurun dari 95,50 mmHg menjadi 90,00 mmHg (p = 0,000). Kesimpulan: Kombinasi Slow Deep Breathing dan Isometric Handgrip Exercise efektif menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada pasien hipertensi. Kata Kunci: Hipertensi, Slow Deep Breathing, Isometric Handgrip Exercise