Claim Missing Document
Check
Articles

MOBILISASI BERTAHAP PASCA-SECTIO CAESARIA: STUDI KASUS DI RSUD dr. HARYOTO LUMAJANG Sri Wahyuningsih; Nurul Hayati; Rizeki Dwi Fibriansari; Maria Ulfa
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v7i2.351

Abstract

ABSTRAKPasca-sectio caesarea (SC), pasien diharapkan melakukan mobilisasi secara bertahap untuk mencegah bahaya fisiologis dan psikologis yang mungkin dapat terjadi. Namun, masih sedikit informasi yang melaporkan tentang pelaksanaan mobilisasi dini di lapangan. Tujuan penelitian: Menggambarkan asuhan keperawatan pada pasien pasca-SC, khususnya pada aspek hambatan mobilitas fisik. Keluhan utama: Pasien 1 (21 tahun) ditemani suami datang ke RS atas rujukan puskesmas. Mereka sudah memahami bahwa harus melahirkan secara SC karena panggul sempit. Selanjutnya, dilakukan operasi SC dengan anestesi lumbal, insisi melintang, luka ± 10 cm. Pasien 1 mengalami anemia sehingga dilakukan transfusi darah. Pasien 2 (32 tahun), datang ke RS ditemani suami, dirujuk karena panggul sempit dari puskesmas, kemudian dilakukan operasi SC dengan anestesi lumbal, insisi melintang, luka ± 10 cm.  Pengkajian melalui wawancara, obervasi, pemeriksaan fisik, dan studi dokumentasi.  Hasil:Intervensi untuk mobilisasi dilakukan setelah tindakan operasi selesai secara bertahap selama tiga hari perawatan. Hari pertama dilakukan pemberian informasi dan ambulasi awal di tempat tidur. Hari kedua pengaturan posisi semi-fowler, membantu perpindahan, latihan keseimbangan berdiri, berjalan. Hari ketiga pasien melakukan aktivitas mandiri tanpa bantuan, penyuluhan perawatan di rumah setelah operasi. Diskusi: Peran perawat pada pasien dengan melakukan mobilisasi secara bertahap serta berkolaborasi dengan tenaga kesehatan yang lain dapat mendukung percepatan pasien melakukan tindakan mobilisasi secara mandiri. Simpulan: Perawat perlu meningkatkan mobilisasi pasien secara bertahap dengan memerhatikan faktor ibu dan keluarga. Perawat disarankan meningkatkan pengetahuan, misalnya mengenai ERAC dan dalam proses asuhan keperawatan menggunakan rangkaian standar pelayanan untuk penyelenggaraan praktik keperawatan di Indonesia, yaitu SDKI, SIKI, SLKI, dan SPO.Kata kunci: mobilisasi dini, sectio caesaria             Gradual Mobilization in Post Cesarean Section: A Case Study at Dr. Haryoto Hospital of Lumajang ABSTRACTAfter the caesarean section (CS), patients are expected to mobilize gradually to prevent physiological and psychological hazards. However, there is still little information reporting about the implementation of early mobilization. Objective: to describe nursing care in post-CS patients, especially regarding physical mobility barriers. Primary complaint: Patient 1 (21 years old), accompanied by her husband, came to the hospital based on the referral of the Public Health Center. They already understood that they had to give birth by cesarean section because the pelvis was narrow. Next, SC surgery was performed with lumbar anesthesia, transverse incision, and wound ± 10 cm. Patient 1 was anemic, so a blood transfusion was performed. Patient 2 (32 years) came to the hospital accompanied by her husband and was referred by the Public Health Center because of a narrow pelvis; then, an SC operation was performed with lumbar anesthesia, transverse incision, and wound ± 10 cm. Assessment through interviews, observations, physical examinations, and documentation studies.  Results: interventions for mobilization were performed after the surgery was completed in stages for 3 days of treatment. On the first day, information was given and early ambulation was performed in bed. On the second day, the activities included adjusting semi-Fowler's position, assisting the movement, exercising balanced standing, and walking. On the third day, the patient did independent activities without assistance and counseling on home care after surgery. Discussion: The nurses play a role by gradually mobilizing patients and collaborating with other health workers to support patients' acceleration to mobilize independently. Conclusion: Nurses need to increase patient mobilization gradually by paying attention to maternal and family factors. Nurses are advised to increase knowledge, for example, about ERAS and the nursing care process by using a series of service standards for implementing nursing practice in Indonesia, namely SDKI, SIKI, SLKI, dan SPO.Keywords: early mobilization, cesarean section
MANAJEMEN KESEHATAN KELUARGA PADA PASIEN YANG MENDERITA HIPERTENSI DI MASA PANDEMI COVID-19: STUDI KASUS Suhari Suhari; Raden Endro Sulistyono; Rizeki Dwi Fibriansari
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v7i2.352

Abstract

ABSTRAKPeningkatan penyakit tidak menular (PTM) menjadi tantangan kesehatan di dunia dan Indonesia dalam menjaga kualitas kehidupan pasien. Salah satu PTM, yaitu hipertensi telah menjadi masalah keluarga dalam melakukan perawatan dan pengelolaan kesehatan pasien di rumah serta proses penyembuhan, apalagi pada situasi pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Tujuan penelitian: Menggambarkan asuhan keperawatan pada klien yang mengalami hipertensi, khususnya pada aspek manajemen kesehatan keluarga melalui kunjungan rumah. Keluhan utama pasien: Ny. R (70 tahun) jarang memeriksakan kesehatan ke puskesmas karena adanya kondisi pandemi dan kesulitan transportasi. Ny. R telah menderita hipertensi sejak 10 tahun yang lalu, sering merasakan kepala terasa berat, tetapi ia tidak tahu cara mengatasinya. Ny. R juga kurang menerapkan protokol kesehatan (memakai masker) dan kurang mendapat dukungan keluarga. Masalah keperawatan manajemen kesehatan keluarga tidak efektif disebabkan oleh kompleksitas program perawatan. Hasil: Intervensi keperawatan melalui kunjungan rumah efektif mengatasi masalah keperawatan, yaitu manajemen kesehatan keluarga tidak efektif.  Diskusi: Melalui kunjungan rumah, perawat dapat memberikan intervensi, yaitu dukungan koping keluarga dalam menfasilitasi pengambilan keputusan jangka panjang, pemenuhan kebutuhan dasar, dan memberikan informasi fasilitas perawatan kesehatan yang dapat dijangkau oleh keluarga. Kesimpulan: Perawat kesehatan komunitas berperan dalam meningkatkan motivasi dan mengembangkan sikap pasien untuk menggunakan fasilitas perawatan kesehatan. Upaya promotif dan preventif yang dilakukan melalui kunjungan rumah dapat mengendalikan faktor risiko hipertensi pada lanjut usia (lansia). Kunjungan rumah yang mematuhi protokol kesehatan efektif dilakukan di masa pandemi Covid-19 karena pasien lansia merasa lebih nyaman.Kata Kunci: Covid-19, hipertensi, keluarga Family Health Management in Hypertensive Patients During the Covid-19 Pandemic: A Case Study ABSTRACTThe increase in non-communicable diseases (NCDs) is a health challenge in the world and Indonesia in maintaining patients' quality of life. Hypertension, one of the NCDs, has become a family problem in caring for and managing patients' health at home and in the healing process, especially in the Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) pandemic. Objective: To describe nursing care for hypertensive clients, especially in family health management through home visits. Primary complaint: Mrs. R (70 years old) rarely went to the Public Health Centre to have her health examined due to the pandemic and transportation difficulties. Mrs. R had been suffering from hypertension since 10 years ago and often had a heavy head feeling, but she did not know how to manage it. Mrs. R also did not apply health protocols (wearing masks) and lacked family support. Family health management nursing was ineffective due to the complexity of the care program. Results: Nursing interventions through home visit has an effect to overcome nursing probem, which was ineffective family health management.  Discussion: Through home visits, nurses can make interventions, namely family coping support in facilitating long-term decision making, meeting basic needs, and providing information on health care facilities that families can reach. Conclusion: Community health nurses play a role in increasing motivation and developing patient attitudes to use health care facilities. Promotive and preventive efforts made through home visits can control risk factors for hypertension in the elderly. Home visits that comply with health protocols are effective during the Covid-19 pandemic because elderly patients feel more comfortable.Keywords: Covid-19, Hypertension, Family
Health Belief Model: Peningkatan Kesadaran Petani terhadap Gaya Hidup Sehat di Sektor Agrikultural Abidin, Zainal; Astuti, Anggia; Fibriansari, Rizeki Dwi; Pratiwi, Annisa; Mahyatul Mufidah, Indana Rochmatika; Melani, Nindyra Cahya Eka
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 18 No 1 (2026): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v18i1.3017

Abstract

Latar belakang: Sektor pertanian merupakan salah satu sektor utama di Indonesia yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap kecelakaan kerja. Petani sering terpapar berbagai bahaya fisik dan kimia, yang berpotensi menyebabkan cedera atau penyakit akibat kerja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan Health Belief Model (HBM) dalam meningkatkan kesadaran petani mengenai pentingnya gaya hidup sehat untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja di sektor pertanian. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross- sectional. Teknik sampling menggunakan purposive sampling dengan populasi kelompok tani di wilayah Pandalungan (Kabupaten Lumajang, Jember, and Probolinggo). Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 155 orang. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner skala likert Health Belief Model yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya (Cronbach's Alpha = 0.789). Analisis statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan kesadaran petani terhadap gaya hidup sehat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan skor tertinggi pada komponen self-efficacy (11.54) dan cues to action (11.22), yang menunjukkan bahwa responden memiliki keyakinan dan motivasi yang kuat untuk mengadopsi perilaku sehat. Skor untuk perceived severity (8.59) dan perceived susceptibility (8.85) tetap rendah, menunjukkan kurangnya persepsi petani terhadap risiko kecelakaan kerja. Kesimpulan: Pendekatan berbasis HBM di Area Agrikultural menunjukkan peningkatan perilaku preventif dan gaya hidup sehat pada petani, tetapi upaya edukasi yang menekankan pada peningkatan persepsi risiko kecelakaan kerja masih perlu diperkuat untuk meningkatkan kesadaran keselamatan kerja secara optimal.
The Lifestyle of Health and Sustainability Framework in Agricultural Community Rizeki Dwi Fibriansari; Anggia Astuti; Leersia Yusi Ratnawati
Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia Vol 20 No 3: July 2025
Publisher : Master Program of Health Promotion Faculty of Public Health Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jpki.20.3.156-162

Abstract

Background: The Lifestyle of Health and Sustainability (LOHAS) concept encourages life choices and adopting behaviors that prioritize both environmental sustainability and personal well-being. Lifestyle shifts and food consumption patterns are significant factors that often hinder the pursuit of a healthy and sustainable way of living. The purpose of this research is to explore the concept of LOHAS and its role in addressing the fundamental health needs of agricultural communities.Method: This study employs a descriptive-analytic method with a cross-sectional design. A sample of 138 fish cage farmers was selected. Primary data were collected through interviews using questionnaires and direct observations, focusing on aspects such as physical fitness, mental and emotional health, spiritual well-being, environmental awareness, and social responsibility. The data were analyzed descriptively.Result: The majority of fish cage farmers are males over the age of 50 years old. Aging farmers face physical and health challenges that can impact their productivity and long-term sustainability. Optimal physical health in agricultural communities can be supported through a balanced diet and regular exercise. Moreover, mental and emotional well-being can be enhanced through stress-relief activities, meditation, and fostering positive relationships. Adopting a holistic health approach enables communities to address physical, mental, emotional, and environmental aspects in alignment with the LOHAS framework.
Pengembangan Health Self-Empowerment: Analisis Indeks Massa Tubuh dan Gaya Hidup Masyarakat Agrikultural Fibriansari, Rizeki Dwi; Asmaningrum, Nurfika; Astuti, Anggia
Jurnal Kesehatan Vokasional Vol 10, No 1 (2025): February
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkesvo.103402

Abstract

Latar Belakang: Kesehatan merupakan aspek vital dalam kehidupan manusia dan erat kaitannya dengan indeks massa tubuh (IMT) dan gaya hidup. Konsep self-empowerment atau pemberdayaan diri semakin berkembang dalam dunia kesehatan, dengan fokus pada upaya individu untuk mengambil peran aktif dalam pemeliharaan dan peningkatan kesehatan mereka sendiri.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dan mengukur distribusi IMT dan gaya hidup sehat berbasis pengembangan Model Health Self-Empowerment.Metode: Rancangan penelitian menggunakan desain diskriptif analitik. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling sebanyak 269 responden di area agrikultural. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, mengukur IMT dan kuesioner tentang perilaku gaya hidup sehat. Analisis data menggunakan statistik diskriptif.Hasil: Mayoritas responden adalah laki-laki (88%) dalam kelompok usia <40 tahun (48%). Kategori IMT overweight 55 responden (20,4%) dan obesitas sejumlah 27 responden (10%). Aktivitas gaya hidup sehat yang dominan dilakukan adalah perilaku hidup bersih (67%) dan yang jarang dilakukan makan teratur dan bergizi (54%).Kesimpulan: Usia produktif dengan prevalensi overweight dan obesitas pada kelompok agrikultural masih cukup tinggi. Perlunya perhatian terhadap perilaku makan dan manajemen berat badan sebagai bagian dari promosi gaya hidup sehat. Gaya hidup sehat masyarakat agrikultural perlu ditingkatkan terutama dalam aspek manajemen stres, pola makan, dan pemantauan kesehatan.