Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

HUBUNGAN LONELINESS DENGAN PROKRASTINASI AKADEMIK PADA MAHASISWA PERANTAU Puspitasari Ambarwati; Monty P. Satiadarma; Untung Subroto
Journal of Social and Economics Research Vol 6 No 2 (2024): JSER, December 2024
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v6i2.669

Abstract

Mahasiswa perantau menghadapi tantangan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang sering kali berbeda dengan lingkungan asalnya. Kesulitan menyesuaikan diri ini dapat memicu perasaan kesepian (loneliness), yang selanjutnya berdampak pada perilaku menunda tugas akademik atau prokrastinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara loneliness dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa perantau di Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional dan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilakukan pada 393 mahasiswa perantau yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner Loneliness Scale oleh de Jong- Gierveld dan Kamphuls dan modifikasi Skala Penundaan Akademik (APS) oleh McCloskey dan Scielzo. Hasil uji Spearman menunjukkan nilai p < 0,05 dengan koefisien korelasi sebesar 0,601, yang berarti terdapat hubungan positif dan signifikan antara loneliness dan prokrastinasi akademik. Hasil perhitungan ini menunjukan bahwa semakin tinggi tingkat loneliness pada mahasiswa perantau, semakin tinggi pula kecenderungan untuk melakukan prokrastinasi akademik.
PENGARUH TOXIC RELATIONSHIP DALAM BERPACARAN DENGAN KUALITAS HIDUP DEWASA AWAL Carissa Ratu Nolanda; Monty P. Satiadarma; Untung Subroto
Journal of Social and Economics Research Vol 6 No 2 (2024): JSER, December 2024
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v6i2.671

Abstract

Toxic relationship merupakan fenomena yang kerap terjadi pada individu dewasa awal, ditandai dengan kontrol berlebihan, kekerasan verbal atau fisik, dan manipulasi emosional yang berdampak negatif pada kualitas hidup. Kualitas hidup merupakan penilaian seseorang terhadap tingkat fungsi yang dicapai saat ini dibandingkan dengan standar atau harapan ideal mereka. Penilaian ini mencakup kepuasan terhadap aspek fisik, kemampuan berfungsi, kondisi emosional, serta hubungan sosial, dan bersifat subjektif sehingga hanya dapat diukur melalui sudut pandang pribadi individu tersebut (Cella, 1994). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh toxic relationship terhadap kualitas hidup individu dewasa awal menggunakan metode kuantitatif dan teknik purposive sampling. Alat Ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah skala toxic relationship dan kualitas hidup indonesia. Partisipan berjumlah 383 orang, berusia 18-25 tahun dari Jabodetabek dengan pengalaman pacaran minimal enam bulan serta pernah atau sedang mengalami toxic relationship. Data dianalisis menggunakan Microsoft Excel dan SPSS 27. Hasil menunjukkan toxic relationship memberikan pengaruh sebesar 18,4% terhadap kualitas hidup dewasa awal.
MENUMBUHKAN JIWA ENTREPRENEUR GENERASI MUDA MENUJU INDONESIA EMAS Wibowo, Ganjar; Manik Sunuantari; Imsar Gunawan; Untung Subroto
JP2N : Jurnal Pengembangan Dan Pengabdian Nusantara Vol. 2 No. 1 (2024): JP2N :September - Desember 2024
Publisher : Yayasan Pengembangan Dan Pemberdayaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62180/qpn8f954

Abstract

Menumbuhkan jiwa entrepreneur pada generasi muda merupakan investasi jangka panjang dalam menciptakan Generasi Indonesia Emas. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah membentuk calon pemimpin. Berbagai upaya dilakukan dalam rangka mencetak pemimpin masa depan, pemimpin yang inovatif dan cakap membaca peluang. Generasi muda harus disiapkan sebagai entrepreneur berdasarkan skala prioritas sesuai dengan pengalaman dan kesiapan masing-masing. Aktivitas yang dapat dilakukan adalah melalui ekstra kurikuler atau proyek sukarela. Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas Pondok Pesantren Yatim Piatu Dan Dhuafa Al-Aziz, Kel. Jatimekar, Kec. Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat, merupakan lembaga yang memberikan ilmu Tahfiz Alquran secara gratis kepada santri/santriwati. Sekolah tersebut juga memberikan beasiswa pendidikan umum mulai SMP, SMA/sederajat hingga bangku kuliah. Jiwa entrepreneur harus diolah dan dikembangkan secara bertahap, sehingga generasi muda benar-benar siap sebagai pemimpin masa depan. Program pengabdian masayrakat yang dilaksanakan dirancang untuk memberikan pemahaman kepada generasi muda akan pentingnya komunikasi  inovatif dalam mencetak jiwa kepemimpinan. Kecakapan dalam hal pengenalan diri, kemampuan berkomunikasi dan arti kepemimpinan menjadi hal dasar yang dibentuk sebagai  seorang entrepreneur. Pengenalan diri bertujuan untuk mengenali diri sendiri agar memahami diri tentang kelemahan dan kelebihan diri sendiri. Pentingnya menanamkan empati juda dapat memberikan dampak psikologis untuk memahami orang lain. Sejak dini anak-anak muda harus mampu mengenali dirinya sendiri, bahkan mampu meraih cita cita yang diinginkan dengan memanfaatkan peluang yang ada. Generasi muda juga harus diajarkan menentukan pengambilan keputusan yang tepat sesuai situasi dan kondisi. Kata Kunci: Komunikasi Inovatif, Generasi Muda, Jiwa Entrepreneur, Indonesia Emas  
GAMBARAN TINGKAT PERILAKU AGRESIF BERKENDARA SAAT MACET PADA DEWASA AWAL Maria Monica; Visaka Rani, Phung Mulan; Supardi, Evelyne Joenett; Tria Amelia; Untung Subroto
Journal of Social and Economics Research Vol 5 No 2 (2023): JSER, December 2023
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v5i2.109

Abstract

Dalam keadaan lelah lalu terjebak pada kemacetan yang bisa menjadi salah satu penyebab stres, seseorang bisa saja menimbulkan sikap agresif pada tatkala stres. Sebuah studi mendapatkan fakta bahwa pengemudi yang berperilaku agresif pada saat berkendara menunjukan bahwa tingkat stres berkendara yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan pengemudi yang tidak berperilaku agresif berkendara pada studi Shamoa-nir dan Koslowsky (2010). Agolla and Ongori (2009) menyatakan bahwa stres pada perempuan lebih tinggi ketimbang laki-laki, hal ini disebabkan laki-laki menggunakan defense mechanism berbasis ego agar mereka lebih santai tatkala menghadapi stres. Namun, pada penelitian Pardamean dan Lazuardi (2019) menyatakan tingkatan stres pada laki-laki lebih tinggi (57,2%) ketimbang perempuan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif, partisipan dalam penelitian ini adalah perempuan dan laki-laki berumur 20-40 tahun. Hasil dari penelitian mengungkapkan tingkat agresif mengemudi pada dewasa awal yang berusia 20-40 tahun berada di taraf sedang. Selain itu, korelasi antara usia dengan tingkat agresif berkorelasi positif yang berarti semakin tua usia individu maka semakin tinggi pula tingkat agresif mengemudi individu.
HUBUNGAN POLA ASUH DENGAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA REMAJA Fanny Febrianti; Untung Subroto
Journal of Social and Economics Research Vol 5 No 2 (2023): JSER, December 2023
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v5i2.183

Abstract

Keluarga merupakan bagian yang terpenting dalam menunjang tumbuh kembang anak. Tentu adanya perbedaan antara masing-masing orang tua dalam berkomunikasi kepada anak. Bentuk komunikasi ini dapat berdampak pada perilaku anak di kemudian hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan pola asuh dengan komunikasi interpersonal pada remaja SMA X di Bekasi. Penelitian ini dilakukan pada 303 siswa-siswi dengan rentang usia 14-18 tahun. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif. Alat ukur rasa syukur yang digunakan adalah The Parenting Styles and Dimensions Questionnaire (PSDQ) dan alat ukur komunikasi interpersonal. Berdasarkan uji beda Kruskal-Wallis Test diketahui bahwa hasil yang diperoleh sebesar 0.000 < 0.05 dengan artian ada hubungan positif signifikan antara pola asuh otoriter, otoritatif dan permisif dengan komunikasi interpersonal pada remaja SMA. Artinya jika pola asuh yang didapatkan baik maka tingkat komunikasi interpersonalnya juga akan tinggi. Sebaliknya apabila pola asuh remaja buruk maka, semakin rendah tingkat komunikasi interpersonalnya. Melalui penelitian ini juga disimpulkan bahwa yang memiliki tingkat komunikasi interpersonal tinggi adalah remaja yang memiliki pola asuh otoratif.
HUBUNGAN KONSEP DIRI DENGAN GAYA KELEKATAN ROMANTIS PADA DEWASA MUDA DENGAN KELUARGA BERCERAI Devina Adelia; Untung Subroto
Journal of Social and Economics Research Vol 5 No 2 (2023): JSER, December 2023
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v5i2.203

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan anatara konsep diri dan gaya kelekatan romantis (romantic attachment style) pada dewasa muda dengan keluarga bercerai (broken home). Konsep diri merupakan persepsi seseorang tentang dirinya yang diperoleh melalui hubungannya dengan orang lain. Gaya kelekatan romantis merupakan sikap kelekatan seseorang dengan pasangannya ketika menjalani hubungan romantis. Broken home sendiri merupakan individu yang mengalami keretakan dalam keluarga karena ketidakharmonisan satu sama lain. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif non eksperimental. Partisipan pada penelitian ini berjumlah 308 orang yang sudah pernah atau sedang berpacaran dan merupakah korban dari perceraian orang tua (broken home). Sampel diambil dengan teknik probability sampling, yaitu purposive sampling. Instrumen yang digunakan yakni Personal Self-Concept Questionnaire yang dikembangkan oleh Goni et al. (2011) dan Experience in Close Relationship Revised yang dikembangkan oleh Fraley et al. (2000). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan negatif dan signifikan antara konsep diri dengan gaya kelekatan romantis (r = -0.756, p < 0.01) yang berarti semakin rendah konsep diri seseorang, maka semakin tinggi gaya kelekatan romantisnya serta hal ini berlaku sebaliknya.
PENGARUH INTENSITAS PENGGUNAAN INSTAGRAM TERHADAP BODY DISSATISFACTION PADA WANITA DEWASA AWAL Aufi Azzahra Putri; Untung Subroto
Journal of Social and Economics Research Vol 5 No 2 (2023): JSER, December 2023
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v5i2.247

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas penggunaan sosial media Instagram terhadap body dissatisfaction pada Wanita dewasa awal. Penggunaan instagram dapat mempengaruhi keyakinan dan kekhawatiran terkait penampilan wanita dikarenakan konten dalam Instagram dapat menciptakan standar kecantikan yang tidak realistis dan mendorong perasaan tidak puas terhadap tubuh sendiri. Individu yang merasa kondisi fisiknya tidak sesuai dengan gambaran tubuh yang diinginkan akan mengalami perasaan kurang secara fisik sehingga dapat menimbulkan rasa tidak puas pada tubuhnya yang disebut sebagai body dissatisfaction. Partisipan pada penelitian ini melibatkan 307 wanita dewasa awal yang memiliki profil Instagram, berusia dari 18 hingga 25 tahun. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan Sampling purposive digunakan sebagai metode pengambilan sampel. Alat ukur yang digunakan yaitu alat ukur intensitas penggunaan Instagram yang dikembangkan oleh Sukmaraga (2018) dan Body Shape Quetionnaire-34 (BSQ-34) oleh Cooper, Taylor, Cooper, dan Fairburn (1987). Temuan dari penelitian ini menghasilkan adanya pengaruh Intensitas Penggunaan Instagram terhadap Body Dissatisfaction pada Wanita Dewasa Awal dengan nilai sebesar 0,137 atau 13,7%. Dapat diartikan bahwa semakin tinggi intensitas penggunaan instagram pada wanita dewasa awal maka akan menimbulkan body dissatisfaction.
GAMBARAN PENCARIAN IDENTITAS AGAMA PADA MAHASISWA DI MASA REMAJA AKHIR DENGAN ORANG TUA BERBEDA AGAMA Novi Franscelia; Untung Subroto
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 9 No. 04 (2024): Volume 09 No. 04, Desember 2024.
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v9i04.20687

Abstract

Religious identity refers to an individual's understanding and acknowledgment of the religion they adhere to, which includes beliefs, practices, values, and symbols associated with that religion. Religious identity reflects how individuals recognize themselves within a religious context, both in relation to God, others, and the world around them. This study aims to describe the process of religious identity exploration among young adults in late adolescence with parents from different religious backgrounds. Using a qualitative method with a phenomenological approach, this research involved six participants aged 18 to 22 from families with religious differences. Data collection was conducted through interviews and observations. The findings show that the process of religious identity formation in adolescents occurs in two main phases: exploration and commitment. In the exploration phase, adolescents seek knowledge and information about religion through reading, discussing, and participating in seminars, which is influenced by interactions with family and social environments, particularly in participants B, C, and E. The commitment phase is characterized by making decisions about the religion they will follow, supported by involvement in religious activities, emotional support, and identification with significant figures, as seen in participants A, D, and F. Open communication with parents plays a significant role in supporting religious exploration and commitment, while conflicts with parents can lead to anxiety that hinders the commitment process. This study provides an overview of the dynamics of religious identity exploration among adolescents growing up in families with religious differences.
HUBUNGAN ANTARA DISREGULASI EMOSI DENGAN DIGITAL HOARDING PADA DEWASA MUDA Patricia Irene; Untung Subroto
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 01 (2026): Volume 11 No. 01 Maret 2026 Public
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i01.40958

Abstract

This study aims to determine the relationship between digital data hoarding and emotional dysregulation in emerging adulthood. This study was conducted on 276 participants aged 18–25 years. This study used a quantitative correlational research technique to determine whether there is a relationship between emotional dysregulation and digital on emerging adulthood. Based on the results of data processing, it can be concluded that there is a positive and significant relationship between the two variables (r = 0.144 and p = 0.016). This means that the more difficulty someone has in regulating their emotions, the more they will hoard digital data.
Hubungan Perbandingan Sosial Upward dengan Kecemasan Finansial pada Gen Z Pengguna TikTok Natalie Natalie; Untung Subroto
YASIN Vol 6 No 1 (2026): FEBRUARI
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/yasin.v6i1.8713

Abstract

TikTok use that highlights idealized lifestyles and financial achievements often triggers upward social comparison, which may increase financial anxiety among young users. This study aimed to test the relationship between upward social comparison on TikTok and financial anxiety among Gen Z. The study involved 206 respondents aged 18–27 years who were active TikTok users. Data were collected via Google Forms using the Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM) to assess social comparison orientation and the Financial Anxiety Scale (FAS) to evaluate levels of financial anxiety. The main findings showed a positive and significant relationship between upward social comparison and financial anxiety (r = 0.684; p = 0.000), indicating that the greater an individual’s tendency to compare themselves with other users perceived as superior, the higher the financial anxiety they experience. These results confirm that social comparison dynamics on TikTok constitute an important psychological factor that should be considered in prevention and intervention efforts targeting financial anxiety among young people.