Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

HUBUNGAN KONSEP DIRI DENGAN GAYA KELEKATAN ROMANTIS PADA DEWASA MUDA DENGAN KELUARGA BERCERAI Devina Adelia; Untung Subroto
Journal of Social and Economics Research Vol 5 No 2 (2023): JSER, December 2023
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v5i2.203

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan anatara konsep diri dan gaya kelekatan romantis (romantic attachment style) pada dewasa muda dengan keluarga bercerai (broken home). Konsep diri merupakan persepsi seseorang tentang dirinya yang diperoleh melalui hubungannya dengan orang lain. Gaya kelekatan romantis merupakan sikap kelekatan seseorang dengan pasangannya ketika menjalani hubungan romantis. Broken home sendiri merupakan individu yang mengalami keretakan dalam keluarga karena ketidakharmonisan satu sama lain. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif non eksperimental. Partisipan pada penelitian ini berjumlah 308 orang yang sudah pernah atau sedang berpacaran dan merupakah korban dari perceraian orang tua (broken home). Sampel diambil dengan teknik probability sampling, yaitu purposive sampling. Instrumen yang digunakan yakni Personal Self-Concept Questionnaire yang dikembangkan oleh Goni et al. (2011) dan Experience in Close Relationship Revised yang dikembangkan oleh Fraley et al. (2000). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan negatif dan signifikan antara konsep diri dengan gaya kelekatan romantis (r = -0.756, p < 0.01) yang berarti semakin rendah konsep diri seseorang, maka semakin tinggi gaya kelekatan romantisnya serta hal ini berlaku sebaliknya.
PENGARUH INTENSITAS PENGGUNAAN INSTAGRAM TERHADAP BODY DISSATISFACTION PADA WANITA DEWASA AWAL Aufi Azzahra Putri; Untung Subroto
Journal of Social and Economics Research Vol 5 No 2 (2023): JSER, December 2023
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v5i2.247

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas penggunaan sosial media Instagram terhadap body dissatisfaction pada Wanita dewasa awal. Penggunaan instagram dapat mempengaruhi keyakinan dan kekhawatiran terkait penampilan wanita dikarenakan konten dalam Instagram dapat menciptakan standar kecantikan yang tidak realistis dan mendorong perasaan tidak puas terhadap tubuh sendiri. Individu yang merasa kondisi fisiknya tidak sesuai dengan gambaran tubuh yang diinginkan akan mengalami perasaan kurang secara fisik sehingga dapat menimbulkan rasa tidak puas pada tubuhnya yang disebut sebagai body dissatisfaction. Partisipan pada penelitian ini melibatkan 307 wanita dewasa awal yang memiliki profil Instagram, berusia dari 18 hingga 25 tahun. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan Sampling purposive digunakan sebagai metode pengambilan sampel. Alat ukur yang digunakan yaitu alat ukur intensitas penggunaan Instagram yang dikembangkan oleh Sukmaraga (2018) dan Body Shape Quetionnaire-34 (BSQ-34) oleh Cooper, Taylor, Cooper, dan Fairburn (1987). Temuan dari penelitian ini menghasilkan adanya pengaruh Intensitas Penggunaan Instagram terhadap Body Dissatisfaction pada Wanita Dewasa Awal dengan nilai sebesar 0,137 atau 13,7%. Dapat diartikan bahwa semakin tinggi intensitas penggunaan instagram pada wanita dewasa awal maka akan menimbulkan body dissatisfaction.
GAMBARAN PENCARIAN IDENTITAS AGAMA PADA MAHASISWA DI MASA REMAJA AKHIR DENGAN ORANG TUA BERBEDA AGAMA Novi Franscelia; Untung Subroto
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 9 No. 04 (2024): Volume 09 No. 04, Desember 2024.
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v9i04.20687

Abstract

Religious identity refers to an individual's understanding and acknowledgment of the religion they adhere to, which includes beliefs, practices, values, and symbols associated with that religion. Religious identity reflects how individuals recognize themselves within a religious context, both in relation to God, others, and the world around them. This study aims to describe the process of religious identity exploration among young adults in late adolescence with parents from different religious backgrounds. Using a qualitative method with a phenomenological approach, this research involved six participants aged 18 to 22 from families with religious differences. Data collection was conducted through interviews and observations. The findings show that the process of religious identity formation in adolescents occurs in two main phases: exploration and commitment. In the exploration phase, adolescents seek knowledge and information about religion through reading, discussing, and participating in seminars, which is influenced by interactions with family and social environments, particularly in participants B, C, and E. The commitment phase is characterized by making decisions about the religion they will follow, supported by involvement in religious activities, emotional support, and identification with significant figures, as seen in participants A, D, and F. Open communication with parents plays a significant role in supporting religious exploration and commitment, while conflicts with parents can lead to anxiety that hinders the commitment process. This study provides an overview of the dynamics of religious identity exploration among adolescents growing up in families with religious differences.
HUBUNGAN KECENDERUNGAN KECANDUAN GAME ONLINE DENGAN PERILAKU AGRESIF PADA REMAJA PEREMPUAN Syafira Dwi Andini; Untung Subroto
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 1 No. 3 (2024): Februari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v1i3.850

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kecenderungan kecanduan game online dengan perilaku agresif pada remaja perempuan. Individu akan mengalami kecanduan game apabila dalam penggunannya sudah terlalu berlebihan. Kecanduan game online merupakan tindakan individu yang sudah tidak bisa mengontrol dirinya ketika bermain game dan mengakibatkan masalah bagi diri sendiri. Kecanduan game online akan menimbulkan perilaku agresif pada individu. Perilaku agresif merupakan suatu tindakan yang bertujuan untuk menyakiti dan mencelakakan individu lain yang tidak mengharapkan adanya perilaku tersebut. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif koresional dengan teknik pengambilan data convenience sampling. Penelitian ini mendapatkan responden sebanyak 163 remaja  perempuan. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Game Scale Addiction (GAS) milik Lemmens et al. (2009) dan juga ­Buss-Perry Aggression Questionnaire (BPAQ) milik Buss & Perry (1992). Kemudian data diolah menggunakan aplikasi SPSS dan diuji menggunakan uji korelasi Spearman antara kecanduan game online dengan perilaku agresif. Hasilnya, didapatkan nilai koefisien korelasi r sebesar 0.279 dan nilai signifikansi (p) sebesar 0.000 < 0.05. Artinya, ada hubungan yang positif dan signifikan antara kecenderungan kecanduan game online dengan perilaku agresif. Semakin tinggi kecanduan game  online, maka semakin tinggi pula perilaku agresif yang ditimbulkan. Begitupun sebaliknya.
HUBUNGAN MEKANISME KOPING DAN SELF-ACCEPTANCE PADA MAHASISWA PASCA PUTUS CINTA Anisa Fahira Rahman; Untung Subroto
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 1 No. 3 (2024): Februari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v1i3.851

Abstract

Penelitian ini dilakukan terkait mekanisme koping dengan self acceptance pada mahasiswa pasca putus cinta. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui hubungan mekanisme koping dengan self acceptance pada mahasiswa pasca putus cinta itu sendiri. Partisipan yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah mahasiswa (S1) laki-laki dan perempuan yang berumur sekitar 18 sampai 23 tahun. Memiliki pengalaman putus cinta minimal 6 bulan dan maksimal 1 tahun setelah putus cinta. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Jumlah partisipan dalam penelitian ini berjumlah 110 orang. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif dengan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan google form dan excel untuk melihat hasil data yang telah dikumpulkan. Hasil uji statistik diperoleh P value = 0,000, pada α = 0,05 (p< α) maka dapat disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna atara hubungan yang signifikan antara mekanisme koping dan self-acceptance pada mahasiswa pasca putus cinta. Hasil Uji reliabilitas menunjukan bahwa strategi mekanisme koping problem focused coping bernilai 0,692 dan emotion focused coping bernilai 0,834 memiliki nilai α > 0,60 yang mengartikan keduanya tergolong reabilitas, namun terkait strategi mekanisme koping yang lebih reabilitas yakni emotion focused coping.