Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

PENYULUHAN KESEHATAN REPRODUKSI DAN PENCEGAHAN PERNIKAHAN USIA DINI Eka Rati Astuti; Endah Yulianingsih; Puspita Sukmawaty Rasyid
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 6, No 6 (2022): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v6i6.11112

Abstract

Abstrak: Remaja adalah masa penuh kegoncangan jiwa, yang menghubungkan masa kanak-kanak yang penuh kebergantungan dengan masa dewasa yang matang dan berdiri sendiri. Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan berbagai perubahan baik fisik, psikis, maupun sosial. Berbagai perubahan tersebut dapat menimbulkan persoalan-persoalan yang kemungkinan dapat mengganggu perkembangan remaja selanjutnya. Diantara persoalan tersebut yang dihadapi remaja adalah masalah kesehatan reproduksi. Tujuan kegiatan adalah meningkatkan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi. Metode yang diigunakan adalah penyuluhan kepada 34 orang remaja. Evaluasi dilakukan melalui pretest dan posttest. Hasilnya penyuluhan berjalan dengan baik dengan peningkatan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi sebanyak 26,18% yang dapat dilihat dari peningkatan hasil posttest.Abstract: Adolescence is a period of mental turmoil, which connects a dependent childhood with a mature and independent adult. Adolescence is a period of transition from childhood to adulthood which is marked by various changes, both physical, psychological, and social. These changes can cause problems that may interfere with the development of later adolescents. Among the problems faced by adolescents are reproductive health problems. The purpose of the activity is to increase the knowledge of adolescents about reproductive health. The method used is counseling to 34 teenagers. Evaluation is done through pretest and posttest. The result of the counseling went well with an increase in adolescent knowledge about reproductive health as much as 26.18% which can be seen from the increase in posttest results.
PEMBERDAYAAN KADER DALAM PENINGKATAN PERKEMBANGAN KOGNITIF PADA ANAK 24-35 BULAN MELALUI PERMAINAN PUZZLE GEOMETRI Nancy Olii; Puspita Sukmawaty Rasyid; Magdalena Martha Tompunuh; Nurnaningsih Ali Abdul
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i1.12421

Abstract

Abstrak: Permainan merupakan alat stimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga orang tua dan petugas kesehatan harus mengetahui dan memberikan jenis permainan yang tepat untuk setiap tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini untuk memberikan edukasi dan demonstrasi pada kader kesehatan tentang teknik bermain puzzle geometri untuk meningkatkan perkembangan kognitif anak 24-36 bulan khususnya pengenalan bentuk dan warna melalui video dan leaflet, memberikan informasi terkait cara mengajarkan anak dalam bermain puzzle geometri dan mengevaluasi tingkat pemahaman dan pengetahuan peserta. Metode yang digunnakan adalah pre-test, edukasi, demonstrasi cara mengajarkan anak bermain puzzle geometri, tanya jawab, dan post-test. Kegiatan ini bekerja sama dengan Puskesmas Kabila Kabupaten Bone Bolango, dengan jumlah peserta 12 kader kesehatan. Hasil yang dicapai menunjukkan bahwa adanya peningkatan pengetahuan tentang cara bermain puzzle pada anak 24-36 bulan yakni, 10 responden (83,3%) berpengetahuan baik; 2 responden (16,7%) berpengetahuan cukup. Abstract: Games are a means of stimulating children's growth and development, so parents and health workers must know and provide the right type of games for each stage of a child's growth and development. The purpose of this community service activity is to provide education and demonstration to health cadres about the technique of playing geometric puzzles to improve the cognitive development of children 24-36 months, especially the recognition of shapes and colors through videos and leaflets, provide information related to how to teach children to play geometric puzzles and evaluate level of understanding and knowledge of participants. The methods used was pre-test, education, demonstrations on how to teach children to play geometry puzzles, question and answer, and post-test. This activity collaborated with the Kabila Health Center, Bone Bolango Regency, with 12 health cadres participating. The results showed that there was an increase in knowledge about how to play puzzles in children aged 24-36 months namely, 10 respondents (83,3%) had good knowledge; 2 respondents (16,7%) have sufficient knowledge.  
PERSIAPAN LAKTASI DAN PEMERIKSAAN HEMOGLOBIN IBU HAMIL DAN IBU NIFAS Nurhidayah Nurhidayah; Rahma Dewi Agustini; Nancy Olii; Melisawati L Amu; Febri Dwi Yanti; Puspita Sukmawaty Rasyid; Siti Uswatun Khasanah Nggilu
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 2 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i2.13228

Abstract

Abstrak: Jumlah sesi menyusui dapat ditingkatkan, termasuk perawatan payudara. Menyusui payudara sangat membantu dalam memicu refleks pengeluaran ASI. Tes hemoglobin juga sangat bermanfaat bagi para ibu, karena tes ini memungkinkan mereka untuk mengetahui kadar hemoglobin dalam darah sehingga dapat mencegah anemia. Tujuan pengabmas ini adalah untuk mengedukasi dan mengenalkan perawatan payudara untuk mencegah masalah terkait produksi ASI pada ibu hamil dan nifas. Metode yang digunakan yaitu: (1) menentukan waktu pelaksanaan dan mengumpulkan sasaran sebanyak 18 ibu melalui kader; (2) melakukan pemeriksaan hb; (3) melakukan pre-test; (4) memberikan edukasi; (5) praktik perawatan payudara; dan (6) melakukan post-test. Hasil dari kuesioner pre-test dan Post-test yaitu adanya peningkatan pengetahuan ibu tentang pemberian ASI dan perawatan payudara yaitu sebesar 55,5%. Hasil Pemeriksaan HB pada ibu hamil dan ibu nifas yaitu 2 orang anemia ringan dan 16 orang normal. Abstract: The number of breastfeeding sessions can be increased, including breast care. Breastfeeding is very helpful in triggering the milk ejection reflex. The hemoglobin test is also very useful for mothers, because this test allows them to know the level of hemoglobin in the blood so that they can prevent anemia. The purpose of this writing is to educate and introduce breast care to prevent problems related to milk production in pregnant and postpartum women so that they become fertile mothers. The methods used were: (1) determining the implementation time and collecting targets of 18 mothers through cadres; (2) carry out Hb checks; (3) do a pre-test; (4) providing education; (5) breast care practices; and (6) do a post-test. The results of the pre-test and post-test questionnaires were an increase in mother's knowledge about breastfeeding and breast care, which was 55.5%. HB examination results in pregnant women and postpartum women, namely 2 people with mild anemia and 16 people normal.  
PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN DETEKSI ANEMIA PADA REMAJA MELALUI PERAN KARANG TARUNA DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING Puspita Sukmawaty Rasyid; Rabia Zakaria; Ade Zakiya Tasman Munaf; Nurhidayah Nurhidayah
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 3 (2023): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i3.14583

Abstract

Abstrak: Remaja adalah kelompok usia yang berperan dalam upaya pencegahan stunting. Kejadian kehamilan remaja yang semakin tinggi menjadi salah satu faktor penyebab tingginya kejadian stunting. Hasil observasi menunjukkan kurangnya peran karang taruna dalam mencegah stunting pada remaja sehingga perlu pendampingan untuk memperoleh peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam mendampingi remaja agar terhindar dari stunting. Metode kegiatan pengabdian adalah pendampingan remaja sejumlah 50 orang oleh mitra yaitu karang taruna sejumlah 15 orang, terdiri dari tiga tahap yaitu tahap pertama memberikan edukasi dan sosialisasi pencegahan stunting, persiapan kehamilan sehat, pentingnya Tablet Tambah Darah (TTD), cara mengkonsumsi, demonstrasi deteksi anemia, pemeriksaan Hb pre intervensi. Tahap pertama juga dilakukan pretest dan posttest pada remaja. Tahap 2, pemantauan remaja oleh karang taruna dengan pendampingan tim pengabmas dan tahap 3, pemeriksaan Hb post intervensi. Hasil yang diperoleh terdapat peningkatan pengetahuan dengan kategori baik sebesar 28%, peningkatan kadar Hb sebesar 28% dan adanya kemandirian remaja dalam mendeteksi anemia dan mengkonsumsi TTD.Abstract: Adolescents are a critical age group in efforts to prevent stunting. The increasing incidence of adolescent pregnancy is one of the contributing factors to the high incidence of stunting. Observations have shown that youth organizations have limited roles in preventing stunting among adolescents. Therefore, guidance is necessary to improve their knowledge and skills to prevent stunting. This study employed a community engagement approach, involving guiding 50 adolescents by a partner organization comprising 15 members in three stages. The first stage included education and socialization on preventing stunting, healthy pregnancy, the importance of Iron-Folic Acid (IFA) supplementation, demonstrating anemia detection, and conducting Hb pre-intervention tests, as well as pre and post-tests for the adolescents. The second stage involved monitoring by the youth organization and outreach team, and in the third stage, post-intervention Hb testing was conducted. Results indicated a significant improvement in knowledge by 28%, increased Hb levels by 28%, and increased self-reliance among adolescents in detecting anemia and consuming IFA.
PELATIHAN KETRAMPILAN PENGEMBANGAN KOMPETENSI PSIKOSOSIAL PADA REMAJA DI SMP NEGERI 6 KOTA GORONTALO Endah Yulianingsih; Sri Sujawaty; Puspita Sukmawaty Rasyid
GEMASSIKA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2020): NOPEMBER
Publisher : P3M Universitas Aisyiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30787/gemassika.v4i2.578

Abstract

Masa remaja adalah masa peralihan antara masa kanak-kanak dan dewasa. Pada masa tersebut remaja mengalami banyak perubahan baik fisik, hormonal dan psikosoial. Remaja sering merasa tidak nyaman dan bereaksi secara emosiaonal, misalkan mudah tersinggung, mudah marah, suka membantah, tidak mau lagi dianggap sebagai anak, tetapi belum dapat diberi tanggung jawab penuh sevagai orang dewasa. Berbagai perubahan dapat mempengaruhi lingkungan remaja sehingga dapat menyebabkan remaja rawan terhadap perilaku berisiko seperti hubungan seks pranikah, IMS, HIV/AIDS, Napza termasuk rokok dan tawuran. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan dan ketrampilan remaja dalam menghadapi berbagai tantangan terkait masalah kesehatan yang ditemui dalam berkehidupan social. Metode yang dilakukan dalam pengabdian ini adalah Pelatihan meliputi ceramah yang diberikan oleh pemateri, tanya jawab dan praktik menggunakan studi kasus dan roleplay. pendekatan studi kasus. Hasil dari kegiatan ini Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam kegiatan pengabdian masyarakat, kegiatan ini memberikan kemampuan pengembangan kompetensi psikososial remaja yang diwujudkan dalam bentuk kemampuan remaja menolak pengaruh negatif yang ditunjukkan dalam hasil penilaian kuisioner, praktik dan roleplay
PENCEGAHAN STUNTING MELALUI PENGAPLIKASIAN BABY MASSAGE Nurfitri Mopangga; Ika Suherlin; Hasnawatty Surya Porouw; Melisawati Amu; Puspita Sukmawaty Rasyid; Selvi Mohamad; Endah Yulianingsih; Yollanda Dwi Santi Violentina; Nancy Olii; Yusni Podungge
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i1.20386

Abstract

Abstrak: Stunting adalah masalah yang menyebabkan gangguan pertumbuhan linear pada balita yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) jumlah stunting di Kabupaten Gorontalo memiliki persentase yang tertinggi hingga mencapai angka 30,8. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk Memberikan edukasi pada orang tua tentang pencegahan stunting melalui pengaplikasian baby massage terhadap pertumbuhan dan berat badan bayi. Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan dengan menggunakan metode penyuluhan dengan hasil koordinasi bersama mitra pendukung yang terkait dalam hal ini yaitu kader kesehatan, bidan desa dan kepala desa. Data yang diperoleh dari hasil koordinasi yaitu jumlah bayi sebagai sasaran yaitu 13 orang bayi yang bersedia mengikuti pengabdian masyarakat yang didampingi langsung oleh orang tua (ibu) yang menjadi sasaran kegiatan. Bentuk evaluasi yang dilakukan berupa tanya jawab secara langsung antara pemateri dengan sasaran. Hasil pengabdian masyarakat diperoleh peningkatan pengetahuan dari 61,5% menjadi 93% terhadap ibu yang memiliki bayi berusia satu hingga dua belas bulan tentang pijat.Abstract: Stunting is a problem that causes linear growth impairment in toddlers caused by chronic undernourishment. According to data for the Indonesian nutrition status survey (ssgi) the number of stfalls in gorontalo districts has a highest percentage to reach 30.8. The aim of this society is to educate parents about stunting prevention through a baby massage application for growth and weight. Community service is carried out by means of a method of counseling with coordination with the associated partners in this issue of the health of a village midwife and the village head. Data obtained from coordination indicates that the number of babies will be the target of 13 babies willing to participate in community service accompanied by a parent (mother) who is the target of activity. A direct evaluation takes place between a question and a target. The results of community dedication have increased knowledge from 61.5% to 93% of mothers with one-to twelve-month-old babies on massage.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM UPAYA PENCEGAHAN KETERLAMBATAN RUJUKAN MATERNAL Puspita Sukmawaty Rasyid; Fatmawati Ibrahim; Rahma Dewi Agustini
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i1.19878

Abstract

Abstrak: Keterlambatan rujukan merupakan penyumbang kematian maternal. Hasil pemantauan lapangan menunjukan satu kasus kematian ibu usia kehamilan 36 minggu dengan eklampsia disebabkan karena kurangnya pengetahuan ibu, keluarga dan kelompok masyarakat mengenal secara dini tanda, gejala, risiko, komplikasi maternal serta ketidakmampuan mengambil keputusan merujuk/menghubungi bidan/tenaga kesehatan. Tujuan pengabdian adalah membentuk kelompok masyarakat mandiri yang mampu mendeteksi tanda gejala kegawatdaruratan maternal untuk mencegah keterlambatan rujukan maternal. Metode kegiatan pengabdian terdiri dari 3 tahap, yaitu tahap 1 memberikan pretest dan penyuluhan serta demonstrasi penggunaan lembar pemantauan deteksi dini kegawatdaruratan maternal kepada mitra sasaran, tahap 2 tim pengabmas melakukan pendampingan dan pembinaan pada mitra di rumah menggunakan lembar pemantauan, dan tahap 3 melakukan evaluasi kegiatan menghadirkan mitra dan posttest dengan 20 butir soal kuesioner. Mitra Pengabdian adalah tokoh masyarakat, kader, keluarga yang tinggal serumah, dan ibu hamil berjumlah 40 orang. Hasil yang diperoleh terdapat peningkatan pengetahuan dengan kategori baik sebesar 53% dan adanya kemampuan melakukan pemantauan deteksi dini kegawatdaruratan maternal menggunakan lembar pemantauan 100%.Abstract: Delays in maternal referral can lead to maternal mortality. A 36-week pregnant woman with eclampsia died due to a lack of knowledge among the mother, family, and community in recognizing early signs, maternal risks, complications, and the inability to make referral decisions or contact healthcare professionals. This community service aims to develop self-sufficient community organizations to avoid maternal referral delays. The activities are divided into three stages: Pretesting, counseling, and showing the use of early detection monitoring sheets are all part of Stage 1. Stage 2 directs and supports the target partners in their homes using monitoring sheets. The activities are evaluated in Stage 3 with the participation of target partners, followed by a post-test. Community leaders, community health workers, co-residing family members, and 40 pregnant women are among the project’s collaborators. The results demonstrate a 53% increase in knowledge and a 100% ability to monitor early identification of maternal emergencies utilizing the monitoring sheets.
PEMBINAAN IBU HAMIL DENGAN VIDEO EDUKASI STOP ANEMIA DALAM PENCEGAHAN ANEMIA Yollanda Dwi Santi Violentina; Puspita Sukmawaty Rasyid; Veny Delvia Pombaile
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 1 (2025): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i1.27948

Abstract

Abstrak: Desa Dunggala merupakan salah satu desa yang memiliki masalah anemia pada ibu hamil yang masih tinggi. Rendahnya pengetahuan ibu hamil dan kader dalam pencegahan anemia memberikan dampak tingginya angka kejadian anemia pada ibu hamil. Tujuan pengabdian masyarakat yaitu meningkatkan pengetahuan ibu hamil dan kader tentang pencegahan anemia pada ibu hamil dengan memberikan pembinaan ibu hamil dan kader menggunakan video Edukasi Stop Anemia (ESA). Metode pengabdian masyarakat yaitu membentuk kelas ibu hamil, kemudian melakukan pretest tentang pengetahuan anemia ibu hamil, melakukan edukasi ibu hamil dengan video ESA, membagikan leaflet sebagai panduan, melakukan pengecekan kadar hemoglobin sebelum dan sesudah dilakukan pembinaan, kemudian melakukan evaluasi dengan melakukan posttest tentang materi pembinaan menggunakan kuesioner. Mitra pada pengabmas ini yaitu kader sebanyak 2 orang dengan sasarannya ibu hamil berjumlah 15 orang. Hasil pengabdian masyarakat didapatkan bahwa pengetahuan kader sebelum dan sesudah pelatihan meningkat dari 12,20% menjadi 14,40%. Dari 15 orang ibu hamil yang dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin terdapat 81% ibu hamil yang berada dalam kategori normal setelah dilakukan pembinaan ibu hamil.Abstract: Pregnant women in Dunggala Village continue to face a significant anemia problem. The low knowledge of pregnant women and cadres in preventing anemia has an impact on the high incidence of anemia in pregnant women. The aim of community service is to increase the knowledge of pregnant women and cadres about preventing anemia in pregnant women by providing guidance to pregnant women and cadres using the Stop Anemia Education (SAE) video. The community service method is to form a class for pregnant women, then provide guidance for pregnant women with SAE videos, distribute leaflets as a guide, check hemoglobin levels before and after the guidance, then carry out an evaluation by conducting a post-test on the guidance material using a questionnaire. The partners in this community service are a cadre of 2 people, with the target being 15 pregnant women. The results of community service showed that cadres' knowledge before and after training increased from 12.20% to 14.40%. Of the 15 pregnant women whose hemoglobin levels were checked, 81% of the pregnant women were in the normal category after providing guidance for pregnant women. 
PENCEGAHAN KEKURANGAN ENERGI KRONIK PADA REMAJA PUTRI MELALUI PROGRAM BELIA BESTARI Puspita Sukmawaty Rasyid; Siti Choirul Dwi Astuti; Nurnaningsih Ali Abdul
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 6 (2024): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i6.27458

Abstract

Abstrak: Remaja putri banyak mengalami Kekurangan Energi Kronik (KEK) sebanyak 0,04% karena kurangnya pengetahuan terkait gizi seimbang sehingga belum memiliki kemandirian dalam perilaku kesehatan. Untuk itu diperlukan program meningkatkan kemandirian remaja melalui program belia bestari. Dalam program belia bestari melakukan pendekatan dengan karang taruna dan kader untuk turut serta terlibat dalam pelaksanaan dan pengawasan. Tujuan kegiatan ini untuk menurunkan KEK melalui peningkatan keterampilan pengukuran lingkar lengan secara mandiri. Metode edukasi tentang KEK pada remaja putri, pelatihan pemeriksaan antropometri pada remaja putri, demonstrasi pengolahan bahan pangan lokal yang melibatkan mitra karang taruna dan kader sebanyak 9 orang serta mitra sasaran sebanyak 17 remaja putri. Evaluasi dilakukan dengan melakukan penilaian pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi, penilaian keterampilan sebelum dan sesudah pelatihan dan demonstrasi. Hasilnya peningkatan pengetahuan remaja putri tentang KEK dari 70% baik menjadi 96% baik, peningkatan keterampilan remaja putri dalam pemantauan antropometri dari 0% menjadi 100% baik dan peningkatan keterampilan pengolahan bahan pangan lokal dari 0% menjadi 100% baik. Selama 7 bulan dilakukan monitoring sebanyak 3 kali menggunakan ceklis ketrampilan pengukuran lingkar lengan. Luaran kegiatan selama monitoring menurunnya kejadian KEK pada remaja putri.Abstract: Adolescent girls experience chronic energy deficiency (CED) as much as 0.04% due to lack of knowledge related to balanced nutrition so that they do not have independence in health behavior. For this reason, a program to increase the independence of adolescents is needed through the bestari youth program. In the youth program, bestari approaches youth organizations and cadres to participate in the implementation and supervision. The purpose of this activity is to reduce energy shortages through improving arm circumference measurement skills independently. Educational methods on CED in adolescent girls, anthropometric examination training for adolescent girls, demonstration of local food processing involving partners youth organizations and cadres of 9 people and target partners as many as 17 adolescent girls. Evaluation is carried out by conducting knowledge assessments before and after education, skills assessments before and after training and demonstrations. The results were an increase in the knowledge of adolescent girls about CED from 70% good to 96% good, an increase in adolescent girls' skills in anthropometric monitoring from 0% to 100% good and an increase in local food processing skills from 0% to 100% good. For 7 months, monitoring was carried out 3 times using the arm circumference measurement skill check. Activity outcomes during monitoring decreased incidence of chronic energy deficiency in adolescent girls.
MENINGKATKAN KETERAMPILAN IBU HAMIL DALAM MELAKUKAN TEKNIK MENGURANGI KECEMASAN PERSALINAN KALA 1 MELALUI PENYULUHAN Magdalena M. Tompunuh; Puspita Sukmawaty Rasyid; Selvi Mohamad; Fatmawati Ibrahim; Siti Choirul Dwi Astuti; Citra Puspita Putri
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 6 (2023): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i6.19277

Abstract

Abstrak: Ketakutan melahirkan membuat cemas selama persalinan. Kecemasan berlebih saat persalinan dapat menyebabkan nyeri, kerusakan atau kelainan bentuk tubuhnya seperti episiotomi, ruptur, jahitan, atau seksio sesarea. Salah satu peningkatan kecemasan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan ibu tentang teknik mengurangi kecemasan dalam persalinan. Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan ketrampilan ibu hamil dalam melakukan teknik untuk mengurangi kecemasan dalam persalinan kala I. Metode pelaksanaan melalui ceramah, tanya jawab, praktik dan evaluasi menggunakan kuesioner dengan jumlah 30 pertanyaan. Hasilnya 30 ibu hamil mengalami peningkatan pengetahuan dan ketrampilan tentang teknik mengurangi kecemasan dari 40% mempunyai ketrampilan cukup menjadi 100% mempunyai pengetahuan dan ketrampilan baik. Evaluasi dilakukan dengan kuesioner sebelum dan sesudah pendampingan. Luaran kegiatan ibu hamil yang mengikuti kegiatan tidak ada yang mengalami nyeri berat saat persalinan kala I.Abstract: Fear of birth makes anxiety during childbirth. Excessive anxiety during childbirth can cause pain, damage or abnormalities of body shape such as episiotomy, rupture, seams, or cesarean section. One of the increases in anxiety was due to a lack of mother's knowledge of techniques to reduce anxieties in childbirth. The purpose of this activity is to improve the skills of pregnant mothers in performing techniques to reduce anxiety in childbirth when I. The method of implementation through lectures, questions, practices and evaluations using a questionnaire with a total of 30 questions. Evaluation is done with a questionnaire before and after the accompanying. External activities of pregnant mothers who follow activities no one has experienced severe pain during childbirth time I.