Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Evaluasi Terhadap Pencahayaan Buatan dan Kenyamanan Visual di Ruang Kelas di Universitas Tanri Abeng Astrid Hapsari Rahardjo; Dian Monica Erveline Basri; Indrajid Krisniawan
Arsitekta : Jurnal Arsitektur dan Kota Berkelanjutan Vol 1 No 1 (2019): Arsitekta : Jurnal Arsitektur Kota dan Berkelanjutan
Publisher : Program Studi Arsitektur Universitas Tanri Abeng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1395.665 KB)

Abstract

Studi evaluasi terhadap pencahayaan buatan dan kenyamanan visual ini dilakukan di ruang kelas lantai tiga pada gedung perkuliahan Universitas Tanri Abeng. Hal ini disebabkan oleh adanya penggunaan lampu dengan temperatur warna cahaya dengan tone kuning atau warm yang berbeda dari ruang kelas di lantai lain yang menggunakan tone putih atau cool daylight. Adapun temperatur warna cahaya dengan tone kuning ini biasanya digunakan untuk menghasilkan nuansa ruang yang menenangkan untuk kegiatan diskusi bukan untuk menekankan fokus belajar. Penelitian ini dilakukan pada empat ruang kelas yang dianggap mewakili ruang kelas lainnya dari aspek bentuknya dengan pembuatan gambar dan simulasi model ruang kelas yang identik dengan kondisi eksistingnya termasuk juga posisi instalasi dan spesifikasi lampu yang digunakan. Kemudian dilakukan pengukuran intensitas cahaya di berbagai titik pada tiap ruang kelas tersebut dengan menggunakan luxmeter. Hasil pengukuran pencahayaan yang diperoleh kemudian dijadikan perbandingan terhadap standar pencahayaan buatan yang ditetapkan pemerintah dalam SNI no. 03-6575-2001. Penelitian ini juga mencatat tingkat kenyamanan visual yang dialami oleh pengguna ruang kelas melalui penyebaran kuesioner. Adapun permasalahan yang diidentifikasi baik dari segi tingkat intensitas pencahayaan maupun dari segi tingkat kenyamanan visual pengguna ruang tersebut kemudian diberikan rekomendasi solusi pencahayaan buatan untuk fungsi kegiatan perkuliahan dimalam hari. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai rekomendasi pencahayaan buatan di ruang kelas di lingkungan Universitas Tanri Abeng, terutama ruang kelas pada lantai tiga, agar kegiatan perkuliahan malam hari tersebut dapat diselenggarakan dengan lebih produktif dan optimal.
Rekalkulasi Kapasitas Ruang Kelas Universitas Tanri Abeng dalam Protokol Pembatasan Jarak Fisik Astrid Hapsari Rahardjo
Arsitekta : Jurnal Arsitektur dan Kota Berkelanjutan Vol 2 No 01 Mei (2020): Arsitekta : Jurnal Arsitektur dan Kota Berkelanjutan
Publisher : Program Studi Arsitektur Universitas Tanri Abeng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1534.227 KB)

Abstract

Wabah Covid-19 yang merebak di seluruh dunia, khususnya di Indonesia, membuat Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan berbagai kebijakan dalam rangka pencegahan penyebaran virus, antara lain melalui pembatasan jarak fisik. Kebijakan ini berdampak pada penyelenggaraan aktivitas pembelajaran jarak jauh. Dalam wacana pembukaan kembali institusi pendidikan di zona kuning, diperlukan perhitungan kembali terkait kapasitas ruang kelas terhadap pengguna tanpa mengabaikan protokol kesehatan seperti pembatasan jarak fisik. Penelitian ini dibuat dengan mensimulasikan jarak fisik yang dimaksud dalam ketentuan Pemerintah terhadap bentuk dan luasan berbagai ruang kelas pada Universitas Tanri Abeng. Simulasi yang dilakukan tersebut menghasilkan jumlah pengguna ruang yang dapat diakomodasi dalam tiap tipe ruang kelas. Hasil tersebut dibandingkan dengan kapasitas ruang kelas sebelum terjadinya wabah. Hasil dari penelitian ini diharapkan agar dapat memberikan pedoman nantinya terkait jadwal dan metode penyelenggaraan kuliah yang akan dilaksanakan dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan yang sesuai dengan ketentuan Pemerintah demi meminimalisir terjadinya penularan Covid-19 di lingkungan Universitas Tanri Abeng.
Kajian Semiotika Tugu Peringatan Covid-19 sebagai Elemen Street Furniture dan Pengaruh Visualnya: Studi Kasus: DKI Jakarta Mohamad Wisnu Ibadi; Astrid Hapsari Rahardjo; Supandri .
Arsitekta : Jurnal Arsitektur dan Kota Berkelanjutan Vol. 3 No. 01 (2021): Arsitekta : Jurnal Arsitektur Kota dan Berkelanjutan
Publisher : Program Studi Arsitektur Universitas Tanri Abeng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1089.912 KB) | DOI: 10.47970/arsitekta.v3i01.210

Abstract

Tugu Peringatan Covid 19 yang diresmikan oleh Gibernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada tanggal 1 September 2020 di Kawasan Danau Sunter, menjadi contoh untuk pembuatan tugu-tugu peringatan Covid 19 diseluruh wilayah DKI Jakarta. Di setiap kecamatan di DKI Jakarta, Tugu Peringatan Covid-19 ini dibangun oleh Pemerintah Daerah dengan tujuan untuk memberikan ilustrasi bahaya pandemic Covid-19 ini disertai info perkembangan jumlah penderita yang positif, sembuh ataupun meninggal. Tugu Peringatan Covid-19 inidiletakkan di ruang-ruang publik yang dekat dengan kawasan jalan raya untuk menarik perhatian warga kota Jakarta saat melintasinya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektifitas sosialisasi bahaya pandemi melalui Tugu Peti Mati Covid-19, sekaligus mengkaji keberadaannya yang terletak di ruang publik kota sebagai salah satu elemen Street Furniture dan juga melalui ilmu Semiotika.
Studi Ruang Akomodasi Fungsi Pasar Tradisional Pada Pasar Santa, Jakarta Astrid Hapsari Rahardjo; Firmansyah Bachtiar; Reza Rezaie
Arsitekta : Jurnal Arsitektur dan Kota Berkelanjutan Vol. 3 No. 01 (2021): Arsitekta : Jurnal Arsitektur Kota dan Berkelanjutan
Publisher : Program Studi Arsitektur Universitas Tanri Abeng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1053.665 KB) | DOI: 10.47970/arsitekta.v3i01.214

Abstract

Pasar Santa telah selesai direvitalisasi pada tahun 2006. Program revitalisasi tersebut mengubah bangunannya dari 32 unit bangunan satu tingkat menjadi satu unit bangunan bertingkat tiga khusus untuk mengakomodasi fungsi utama perdagangan dan jasa. Fungsi pendukung seperti manajemen dan musholla diletakkan pada lantai yang terpisah. Penelitian ini merupakan studi terkait ruang akomodasi fungsi pasar tradisional yang terdapat di Pasar Santa, Jakarta. Variabel penelitian dipilih dari empat ketentuan Pemerintah RI lewat keputusan dari Kementerian Kesehatan dan Perdagangan dan Standar Nasional Indonesia (SNI) no. 8152 tahun 2015. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian ruang akomodasi fungsi pasar dan elemennya, seperti dimensi dan material, pada Pasar Santa terhadap ketentuan yang dirujuk terutama pada masa operasionalnya yang masih berlangsung hingga saat penelitian ini dilakukan. Namun sebelumnya dilakukan terlebih dahulu penjabaran dan perbandingan antara kondisi Pasar Santa sebelum dan setelah revitalisasi. Hal ini perlu dilakukan agar dapat diketahui seberapa jauh perkembangan pemfasilitasan ruang akomodasi pasar tradisional di Pasar Santa sejak bergabung di bawah naungan PD Pasar Jaya hingga saat ini.
Redaksi dan Daftar Isi, Jurnal Arsitekta Vol. 03 No. 02, November 2021 Astrid Hapsari Rahardjo
Arsitekta : Jurnal Arsitektur dan Kota Berkelanjutan Vol 3 No 02 (2021): Arsitekta : Jurnal Arsitektur Kota dan Berkelanjutan
Publisher : Program Studi Arsitektur Universitas Tanri Abeng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Redaksi dan Daftar Isi, Jurna Arsitekta Vol. 03 No. 02, November 2021
Studi Kecukupan Pencahayaan Buatan Pada Permukaan Area Kerja Dapur Rumah Tinggal Sederhana Astrid Hapsari Rahardjo; Hendrik Poltak Doloksaribu
Arsitekta : Jurnal Arsitektur dan Kota Berkelanjutan Vol. 4 No. 01 (2022): Arsitekta : Jurnal Arsitektur Kota dan Berkelanjutan
Publisher : Program Studi Arsitektur Universitas Tanri Abeng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47970/arsitekta.v4i01.310

Abstract

Penelitian tentang pencahayaan pada area kerja dapur pada rumah tinggal belum banyak ditemukan padahal hal ini penting mengingat tingkat kompleksitas dan detail kegiatannya yang cukup tinggi. Aspek terkait efisiensi pelaksanaan kegiatan, kenyamanan visual dan keselamatan kerja sangat penting untuk dipertimbangkan dalam perancangan pencahayaan di dapur, terutama pada area kerja. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya peran pencahayaan pada area kerja dapur. Fokus penelitian ini ditekankan pada pencahayaan buatan dikarenakan karakteristiknya yang stabil dan juga mengingat kegiatan di dapur dapat dijalankan sewaktu-waktu. Lokus penelitian dipilih berdasarkan tipe konfigurasi dasar dapur. Adapun ruangan dapur tanpa jendela di perimeternya dipilih agar tidak terjadi bias pencahayaan alami. Tiap lokus juga dibatasi dengan beberapa keadaan terutama dengan adanya kabinet di atas area kerja sehingga penyediaan pencahayaan setempat atau task lighting dapat disediakan di sisi bawah kabinet tersebut. Pengukuran tingkat pencahayaan rata-rata (iluminasi) dilakukan dalam dua kondisi yakni ketika task lighting tersebut dimatikan dan dinyalakan. Nilai iluminasi yang diperoleh kemudian akan dibandingkan kesesuaiannya dengan standar yang ada. Di sini kemudian dapat diketahui apakah task lighting hendaknya disediakan pada perancangan dapur terutama yang terkait dengan area kerjanya dan bila disediakan berapa tingkat iluminasi yang dibutuhkan agar kondisi kerja yang efisien, nyaman dan aman dapat dicapai. Penelitian bersifat sederhana namun memiliki nilai urgensi. Dapur merupakan jantung dari sebuah rumah tinggal di mana kegiatan persiapan berbagai kebutuhan penghuninya banyak dilakukan. Tingkat ketelitian menyangkut kebersihan atau higienitas dan keselamatan sangat terbantu dengan adanya penyediaan pencahayaan yang cukup. Diharapkan kedepannya agar penelitian yang lebih kompleks dengan lokus penelitian yang lebih luas dapat dilakukan untuk mengedepankan kesadaran pentingnya area kerja dapur pada rumah tinggal yang layak guna, efisien, nyaman dan aman.
Analisa Kecukupan Ruang Pengguna Pada Unit Hunian Rusunawa Jatinegara Barat dan Pengadegan, Jakarta Astrid Hapsari Rahardjo
Arsitekta : Jurnal Arsitektur dan Kota Berkelanjutan Vol. 4 No. 02 (2022): Arsitekta : Jurnal Arsitektur Kota dan Berkelanjutan
Publisher : Program Studi Arsitektur Universitas Tanri Abeng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47970/arsitekta.v4i02.362

Abstract

Kualitas ruang tinggal merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi kualitas hidup. Salah satu pertimbangan terkait kualitas ruang tinggal tersebut adalah luasan hunian dan tingkat kepadatannya. Penyediaan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah di Jakarta dilaksanakan antara lain melalui program pembangunan rumah susun sederhana bertingkat tinggi dengan pedoman teknis yang didasarkan pada Permen PUPR no. 05/PRT/M/2007. Luasan unit hunian pada ketentuan ini adalah minimal 30 m2. Pada sumber data lain dikatakan bahwa luas ruang hunian adalah 9 m2 dan 7,2 m2 per orang. Penelitian ini mengkaji tentang faktor ergonomi dan antropometri yang dikaitkan dengan kegiatan dan besaran ruang yang dibutuhkan penghuni dalam menjalankan kegiatannya tersebut disertai alat bantu atau penunjang kegiatan. Adapun lokus penelitian yang dipilih adalah unit hunian tipikal di Rusunawa Jatinegara Barat dan Rusunawa Pengadegan. Dengan luasan unit yang sama, unit hunian di kedua Rusunawa ini memiliki susunan ruang yang berbeda. Penelitian ini membandingkan kedua kondisi tersebut dan merujukkannya pada ukuran standar ruang yang terdapat pada Data Arsitek. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran terkait dengan pengakomodasiankegiatan manusia di dalam unit hunian rusunawa dan kesesuaiannya dari sisi ergonomi dan antropometri.
Studi Karakteristik Fasad Arsitektur Transisi pada Gereja di Jakarta Sheren Azahra; Nadya Putri Larasati; Dian Monica Erveline Basri; Astrid Hapsari Rahardjo
Arsitekta : Jurnal Arsitektur dan Kota Berkelanjutan Vol. 5 No. 01 (2023): Arsitekta : Jurnal Arsitektur Kota dan Berkelanjutan
Publisher : Program Studi Arsitektur Universitas Tanri Abeng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47970/arsitekta.v5i01.410

Abstract

Arsitektur di Indonesia sangat beragam, selain banyaknya suku dan budaya, juga masa penjajahan Belanda yang cukup lama, sehingga menyisakan warisan arsitektur. Terdapat 3 periodisasi gaya arsitektur kolonial yaitu arsitektur indsiche empire abad 18-19, arsitektur kolonial transisi di indonesia tahun 1890-1915 dan gaya arsitektur kolonial modern tahun 1915-1940. Penelitian ini dipilih arsitektur kolonial transisi, karena merupakan arsitektur kolonial awal yang ada di Indonesia. Penelitian bertujuan menganalisa karakteristik fasad gereja dibangun dalam kurun waktu tahun 1890-1915 kemudian dianalisa elemen fasad-nya, sehingga bisa diketahui apakah gereja tersebut menggunakan gaya arsitektur yang sedang berkembang di masa itu atau tidak. Variabel penelitian meliputi semua elemen fasad yang diteliti, yaitu: atap, kolom, pintu, ventilasi, jendela dan ornamen. Sedangkan studi kasus yang dipilih adalah gereja yang terdapat di Jakarta, sebab ketika itu Jakarta (Batavia) merupakan pusat pemerintahan, sehingga arsitekturnya mewakili arsitektur kolonial transisi. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif, dimana studi kasus dianalisa berdasarkan arsitektur kolonial transisi yang dipilih sebagai acuan, kemudian diketahui kesesuaiannya dan apakah studi kasus merupakan arsitektur kolonial transisi atau bukan. Setelah dilakukan penelitian, diketahui mayoritas gereja yang dipilih sebagai studi kasus memiliki karakteristik arsitektur kolonial pada fasad-nya, sehingga ada kesesuaian antara tahun dimana gereja tersebut dibangun dengan karakter arsitektur yang berkembang di masa tersebut.
Fenomena Peran Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Terhadap Pelaku dan Dunia Arsitektur Indonesia Mohamad Wisnu Ibadi; Hendrik Poltak Doloksaribu; Astrid Hapsari Rahardjo
Arsitekta : Jurnal Arsitektur dan Kota Berkelanjutan Vol. 5 No. 01 (2023): Arsitekta : Jurnal Arsitektur Kota dan Berkelanjutan
Publisher : Program Studi Arsitektur Universitas Tanri Abeng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47970/arsitekta.v5i01.412

Abstract

Pengaruh perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang ilmu Arsitektur, dapat dilihat dari artefak bangunan arsitektur mulai dari bangunan kuno seperti kuil Parthenon di Yunani hingga Burj Khalifa di Dubai yang menjadi bangunan modern tertinggi (828 meter) di dunia saat ini. Seiring dengan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dunia ilmu Arsitektur ikut berkembang dengan pesat yang menciptakan bangunan-bangunan mega-structure di masa kini yang mustahil dibangun di masa lalu. Fenomena kecendrungan-kecendrungan mutakhir yang muncul di dunia ilmu Arsitektur saat ini membawa persoalan mendasar yang tersembunyi didalamnya. Tulisan ilmiah ini berusaha untuk mengungkap konsekuensi-konsekuensi yang diakibatkan oleh persoalan mendasar tersebut dari pendekatan metode ilmu Filsafat Arsitektur.
PERBANDINGAN RANCANGAN GUBAHAN MASSA DAN DAMPAKNYA DENGAN KENYAMANAN TERMAL. Studi Kasus: Rusunawa Jatinegara Barat dan Pengadegan. Astrid Hapsari Rahardjo; Firmansyah Bachtiar; Reza Rezaie; Sheren Azahra
Agora : Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 21 No. 1 (2023): Kenyamanan dan Ketahanan dalam Desain Arsitektur dan Lingkungan
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/agora.v21i1.15338

Abstract

Penggunaan AC pada unit hunian rusunawa bertingkat tinggi bersubsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah terbilang cukup banyak dilihat dari sisi luar bangunan. Studi ini merupakan upaya untuk melihat salah satu faktor pemicu penggunaan AC tersebut yakni adanya ketidaknyamanan penghuni dari sisi termal. Dengan mengambil dua lokus penelitian yaitu Rusunawa Jatinegara Barat dan Rusunawa Pengadegan, studi ini mengevaluasi kondisi nyaman termal bangunan dengan menggunakan simulasi Sefaira pada model tiga dimensi yang mewakili gubahan massa kedua lokus penelitian. Selain menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, studi ini juga merupakan perbandingan antara Rusunawa Jatinegara Barat dan Rusunawa Pengadegan dikarenakan keduanya berada pada area iklim makro yang sama datanya dirujukkan pada stasiun cuaca Halim Perdanakusuma. Observasi juga dilakukan untuk mengetahui seberapa banyak penggunaan AC pada kedua lokus penelitian. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran terkait rancangan gubahan massa bangunan yang berbeda pada rusunawa bertingkat tinggi bersubsidi dan dampaknya pada kenyamanan termal penghuninya.