Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Perilaku Narsisme Pada Remaja Dan Peran Guru Bimbingan Dan Konseling Khairiyah Khadijah; Monalisa; Raja Arlizon
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 2 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.164 KB) | DOI: 10.31004/jpdk.v4i2.3820

Abstract

Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran peran yang dilakukan guru BK didalam mengenal perilaku narsisme dikalangan remaja pengguna media social sehingga tidak menimbulkan perilaku narsistik pada remaja. Jenis penelitian ini adalah kajian literature review dengan cara mencari referensi kajian teori yang relevan dengan kasus atau permasalahan yang ditemukan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1.perilaku narisime remaja dapat di pengaruhi oleh beberapa perilaku diantaranya: Perilaku konsurtif, Media social seperti Tiktok, Instagram, self-esteem. Hubungan perilaku narsisme remaja terhadap pada Perilaku konsurtif, Media social seperti Tiktok, Instagram, self-esteem kajian literatur didapatkan bahwa berada pada kategori tinggi dan sedang ,2. Ganguan kepribadian narsistik, bahwa perilaku narsis yang berlebihan akan berdampak kepada kesehatan mental. Tetapi jika seseorang selfi yang dikatakan narsis ketika beranggapan merekalah yang paling sempurna dan selalu ingin di puji oleh penikmat foto mereka di media sosial tersebut. Gangguan yang terjadi jika seserang memiliki perilaku narsistik diantaranya, kesehatan mental, campuran antisosial, kecenderungan anorexia nervosa.  3. Peran guru BK sangatlah penting didalam memberikan layanan bimbingan klasikal kepada mahasiswa agar ketika perilaku narsis bukan menjadi bagian penting kehidupan mereka sehingga merekan tidak berlebihan, karena akan berdampak kepada kesehatan mental dan ganguan kepribadian. Guru Bk bisa melaksanakan konseling terapi realitas dan menggunakan layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan media film didalam meminimilisir perilaku narsisme remaja yang akan nantinya menimbulkan perilaku narsistik.
Nomophobia Mahasiswa di Era Pandemi Covid-19 Yogi Damai Syaputra; Monalisa Monalisa; Imalatul Khairat; Ruwanda Tamarin
TERAPUTIK: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 6, No 1 (2022): Teraputik: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Pusat Kajian Bimbingan dan Konseling FIPPS Unindra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26539/teraputik.611058

Abstract

Pandemi covid-19 membuat mahasiswa lebih banyak menghabiskan harinya dengan handphone. pembelajaran jarak jauh dijadikan alasan untuk lebih banyak menggunakan handphone. tanpa disadari kondisi ini membuat mereka banyak mengalami nomophobia. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana tingkat nomophobia mahasiswa dimasa Pandemi, serta bagaimana implikasi bimbingan konseling terhadap masalah nomophobia. Penelitian ini menggunakan metodologi deskriptif kuantitatif. Penelitian dilakukan di Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin dengan sampel sebanyak 368 mahasiswa yang dipilih dengan teknik convenience sampling. Data dikumpulkan dengan nomophobia questioner (NPM-Q) versi Indonesia. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa 135 mahasiswa memiliki tingkat nomophobia pada kategori tinggi atau sebesar dan sebanyak 88 mahasiswa berada pada kategori sangat tinggi. Sebanyak 111 mahasiswa kategori sedang dan 34 mahasiswa berada pada kategori rendah. Implikasinya dalam bimbingan konseling, para penderita nomophobia dapat diberikan bimbingan untuk membantu mereka agar bisa lepas dari ketakutan dan kecanduan akan handphone melalui layanan dalam bimbingan konseling
Nomophobia Dynamics among Students: A Study in Indonesian Islamic Higher Education Yogi Damai Syaputra; Deni Iriyadi; Fifi Khoirul Fitriyah; Monalisa Monalisa; Elvina Gusman; Ahmad Rofi Suryahadikusumah; Yayat Supriyadi
Islamic Guidance and Counseling Journal Vol. 6 No. 2 (2023): Islamic Guidance and Counseling Journal
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung in collaboration with Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/0020236392200

Abstract

This research examines the frequent use of smartphones among college students. These conditions can lead to nomophobia behavior disorder (no mobile phone phobia). This study aims to: 1) analyze the level of nomophobia in students based on gender, faculty academic culture, and age; 2) analyze differences in nomophobia simultaneously based on gender, faculty academic culture, and age. This study uses a quantitative descriptive comparative approach. Data were obtained from 988 students at Islamic tertiary institutions. Samples were selected by convenience sampling technique. The instrument used is the nomophobia questionnaire (NMP-Q) (Yildirim, 2014), with high reliability. Data were analyzed using an Independent Sample T-test, analysis with one-way ANOVA, and two-way ANOVA analysis. The results of the study show that nomophobia among students is in the high category. This study proves that there are differences in the level of nomophobia in terms of gender where women are higher than men. Based on the faculty's academic culture and age, there is no difference in student nomophobia. There is an interaction between gender and age in influencing nomophobia. Simultaneously there was no interaction between gender, faculty academic culture, and age in determining the level of nomophobia.
Increasing Students' Awareness of Cultural Diversity through Symbolic Modeling Techniques Based on the Art of Syair Gulung Halida Halida; Yogi Damai Syaputra; Monalisa Monalisa; Syawaluddin Syawaluddin; Randi Saputra; Elvina Gusman
Journal of Innovation in Educational and Cultural Research Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Yayasan Keluarga Guru Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46843/jiecr.v5i1.1079

Abstract

Indonesia has cultural diversity, but currently, it is found that many students still need to gain more awareness of cultural diversity. This will have an impact on the ineffectiveness of daily life. This research aims to determine the application of symbolic modeling techniques containing syair gulung to increase students' awareness of cultural diversity. The art of syair gulung has many moral messages, including the value of unity, respect for differences, care, and tolerance. The research design used pure experimentation with a one-group pretest-posttest model. The research subjects were junior high school students in Pontianak City, with an age range of 12 years to 14 years. The instrument used is the cultural diversity awareness scale. Data were analyzed through parametric statistics with hypothesis testing using the paired sample t-test to compare treatment results. The research results show that symbolic modelling techniques based on the art of syair gulung can increase students' awareness of cultural diversity. The results of this research enrich the scientific knowledge of multicultural counselling for counsellors in schools. This research recommends that it can be applied to other psychological aspects and collaborate with the culture in Indonesia. The research results recommend that guidance and counseling teachers apply the results of this research in their schools. Further researchers are advised to conduct research using symbolic modeling techniques with local culture in Indonesia.
Capacity Building Peserta Didik dalam Melakukan Pencegahan Kekerasan melalui School based Prevention Ahmad Rofi Suryahadikusumah; Monalisa Monalisa; Fauzan Nazil Ramadhan; Anisa Maharani
Kareba: Jurnal Inovasi dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2025): Kareba: Jurnal Inovasi dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Lia Center of Research and Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64850/kareba.v1i1.20

Abstract

Pencegahan kekerasan di sekolah seringkali dilakukan secara reaktif dan agresif, sementara itu UNESCO menyarankan pendekatan yang lebih proaktif. Dengan melibatkan siswa secara aktif dalam proses pencegahan, diharapkan dapat membentuk karakter siswa yang mandiri dan bertanggung jawab atas lingkungan sekolah yang aman. Pengabdian kepada  masyarakat ini ini dilakukan dengan tujuan untuk untuk mengembangkan kapasitas peserta didik dan membangun keterlibatan peserta didik dalam melakukan pencegahan kekerasan berbasis sekolah. Kegiatan dilakukan dengan metode Participatory Action Research (PAR) dengan tahapan KUPAR. Sasaran kegiatan adalah pengurus Osis dan duta anti kekerasan di SMP Negeri 6 Kota Cilegon.  Kegiatan capacity building yang dilaksanakan berdampak kepada pengembanagn kemampuan siswa dalam mengidentifikasi, mencegah, dan mengatasi kekerasan di sekolah. Siswa telah menunjukkan pemahaman yang lebih baik tentang berbagai bentuk kekerasan, faktor penyebabnya, dan strategi pencegahannya. Selain itu, siswa juga telah mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk menjadi duta anti-kekerasan yang efektif, seperti komunikasi asertif, pengelolaan emosi, dan kemampuan problem-solving.
Konstruksi Kepercayaan Diri Anak Usia 4-5 Tahun Melalui Intervensi Pedagogis Guru Cepi Ramdani; Iis Basyiroh; Dede Hikmah; Monalisa Monalisa
Nuansa Akademik: Jurnal Pembangunan Masyarakat Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Lembaga Dakwah dan Pembangunan Masyarakat Universitas Cokroaminoto Yogyakarta (LDPM UCY)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47200/jnajpm.v11i1.3539

Abstract

This study aims to examine the construction of self-confidence in children aged 4–5 years through teacher pedagogical interventions in school learning. This study used a qualitative approach with a descriptive design. Data collection techniques included observation, interviews, and documentation. The results showed that children's self-confidence was constructed through pedagogical interactions integrated into the learning process. Teachers acted as facilitators, motivators, and models in creating a supportive and psychologically safe learning environment. In addition, successful experiences through demonstration activities and the use of the environment as a learning resource also strengthened children's self-confidence. This finding confirms that the development of children's self-confidence is multidimensional and has an impact on community development. The implications of this research emphasize the importance of pedagogical competence and social-emotional sensitivity of teachers in child-centered learning.
Personal Experience and Interpersonal Communication as Predictors of Students’ Social Interaction Monalisa Monalisa; Yogi Damai Syaputra; Bilqis Raudlatul Anin Nabila; Lifna Alfiyanah
Jurnal Counseling Care Vol 10, No 1 (2026): Jurnal Counseling Care, [Terakreditasi Sinta 3] No: 156/C/C3/KPT/2026
Publisher : Universitas PGRI SUMATERA BARAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/jcc.2026.v10i1.11198

Abstract

Social interaction is one of the important developmental competencies for students as they navigate academic and social life in higher education. However, poor social interaction can hinder students' adjustment and personal development. This study aims to analyze the relationship between personal experience and interpersonal communication in students' social interaction. The study used a quantitative correlational design. The research sample consisted of 454 active students from Sultan Maulana Hasanuddin State Islamic University, Banten, selected using convenience sampling. The instruments used included the Personal Experience Checklist (PECK), an interpersonal communication scale, and a social interaction scale. Data were analyzed using Pearson product-moment correlation and multiple correlations. The results showed that personal experience was significantly related to students' social interaction (r = 0.465; p < 0.05) with a moderate level of relationship. Interpersonal communication also had a significant relationship with social interaction (r = 0.393; p < 0.05), with a weak level of relationship. Simultaneously, personal experience and interpersonal communication contributed significantly to students' social interaction (R = 0.591; p < 0.05), accounting for 35% of the variance. These findings confirm that personal experiences and interpersonal communication skills are important factors in the development of students' social interactions. This research has implications for guidance and counseling services in higher education institutions, enabling them to design preventive and intervention programs that strengthen positive experiences and interpersonal communication among students.
Integrasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam Layanan Bimbingan dan Konseling Islam Monalisa; Yogi Damai Syaputra; Armila
Al-Shifa Jurnal Bimbingan Konseling Islam Vol. 6 No. 2 (2025): Juli-Desember
Publisher : Program Studi Bimbingan Konseling Islam Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alshifa.v6i2.12669

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi kurikulum berbasis cinta yang diatur dalam Keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam No 6077 Tahun 2025 dengan layanan bimbingan dan konseling islam. Penelitian ini berfokus kepada penerapan lima pilar utama dalam kurikulum berbasis cinta: 1) cinta kepada Allah dan Rasulullah; 2) cinta kepada sesama manusia; 3) cinta kepada alam; 4) cinta kepada ilmu pengetahuan; dan 5) cinta kepada tanah air. Pilar utama ini diintergasikan kedalam layanan dalam bimbingan dan konseling. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi literatur. Sumber data primer berupa dokumen kebijakan resmi Kementerian Agama serta sumber sekunder dari artikel ilmiah, buku, dan hasil penelitian relevan. Data dianalisis dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menghasilkan kerangka operasional yang dapat langsung diimplementasikan dalam konseling di sekolah. Hasil penelitian menunjukan bahwa integrasi memperkuat relevansi dan kebermaknaan layanan konseling, meningkatkan internalisasi nilai-nilai spritual serta memperkaya strategi konselor dalam memberikan layanan. Implikasi penelitian ini menegaskan perlunya kebijakan sebagai penguatan kapasitas konselor dalam memahami dan mengaplikasikan kurikulum berbasis cinta, serta membuka peluang penelitian lanjutan yang menguji efektivitasnya melalui pendekatan eksperimen di berbagai jenjang pendidikan
Dampak Psikologis Fatherless pada Remaja dan Implikasinya dalam Konseling Islam: Systematic Literature Review Avinka Eliza Prana Handayani; Yogi Damai Syaputra; Monalisa Monalisa
Journal of Society Counseling Vol. 4 No. 2 (2026): Journal of Society Counseling
Publisher : Scidacplus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59388/josc.v4i2.904

Abstract

The phenomenon of fatherlessness, or the absence of a father figure in a child's life, has become an increasingly important issue in developmental psychology due to its impact on adolescents' emotional, social, and personality development. This study aims to analyze the psychological effects of fatherlessness and examine its implications for Islamic counseling. Using a qualitative approach, this research employed a Systematic Literature Review (SLR) method on relevant scholarly articles published between 2017 and 2025, retrieved from Google Scholar and SINTA databases through the Publish or Perish application. The findings indicate that the absence of a father significantly contributes to anxiety, low self-esteem, difficulties in interpersonal relationships, and weak self-control among adolescents. However, resilience factors influenced by social support and the internalization of positive values were also identified. Furthermore, Islamic counseling approaches that integrate psychological and spiritual dimensions, such as dhikr and self-reflection, have the potential to support the emotional recovery of fatherless adolescents. This study highlights the importance of developing holistic and integrative counseling services to promote the psychological well-being of fatherless adolescents.
Statistical Anxiety of Religious College Students: A Review of Reducing Factors of Statistical Anxiety Deni Iriyadi; Yogi Damai Syaputra; Monalisa Monalisa
International Journal of Pedagogy and Teacher Education Vol 8, No 1 (2024): International Journal of Pedagogy and Teacher Education - April
Publisher : The Faculty of Teacher Training and Education (FKIP), Universitas Sebelas Maret, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/ijpte.v8i1.81619

Abstract

This research aims to determine the level of statistical anxiety among students from religious universities. Understanding this is crucial since knowledge of statistics is necessary for completing final assignments, while the students' backgrounds are generally from Islamic boarding schools. This research employs a mixed-method approach with an explanatory sequential design, prioritizing a quantitative approach followed by a qualitative approach. The respondents were students enrolled in statistics courses, totaling 479 participants. The sampling technique used multistage random sampling, starting with cluster random sampling, followed by purposive sampling. Anxiety levels were measured using the Statistics Anxiety Scale (SAS) instrument, consisting of 17 questions covering three aspects: worry, avoidance, and emotional aspects. The Mixed-Methods Sequential Explanatory Design involved gathering and analyzing quantitative data first, followed by qualitative data. Results indicated differences in statistical anxiety levels among non-exact students. Initially, 45% of students exhibited high anxiety levels, which decreased to 14%, while low anxiety levels increased from 27% to 49%. This suggests that learning processes requiring complex numeracy need appropriate interventions, such as using various tools (software) that significantly impact the learning process. Implementing a peer tutoring program can also boost self-confidence. Therefore, study program managers or lecturers must focus on enhancing students' self-confidence to reduce anxiety. Using suitable learning aids can make a significant difference..