Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Counseling Guidance From Islamic Perspective, An Ontological View Dadang Hamdan Iskandar; Widhya Nusantari; Imas Kania Rahman; Abdul Hayyie Alkattani
Tasfiyah: Jurnal Pemikiran Islam Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tasfiyah.v6i1.7652

Abstract

Expanding the definition of Counseling guidance in Islam is not easy, moreover, the nature of counseling guidance in Islam is the integration of religion, theory, and e intersection with the reality of the surrounding actors. In historical light, the difference between Islamic counseling and counseling, in general, is in the possibility of influencing or being influenced. The purpose of this study is to develop the definition of counseling guidance in Islam, a study of Islamic and conventional philosophical thought patterns, and the dynamics of a comprehensive formulation effort. Research using literature (library research). This type of research includes a qualitative description in the literature and sources and or recent findings regarding counseling guidance. The nature of this literature research is a critical and historical study. Data collection in the form of symbolic verbal. The results showed that the formulation of the definition of counseling guidance of Islam has shown firmness on the mission of Islam. The elements of the definition in Counseling guidance of Islam, at least include: (1) services that are proactive, not apathetic or passive, (2) carried out by experts, (3) carried out to individuals, both in individual and group and mass counseling, (4) in the form of advice, support, and advice in accordance with the religious rules of the Qur'an, Sunnah and their derivatives, (5) aimed at self-development, preventing blasphemy and solving problems so that individuals can optimize their potential, (6) paying attention to physical, spiritual and environmental aspects, and ( 7) accomplish happiness in the existence of this world and the hereafter
Manajemen Peserta Didik dalam Program Tahsin Membaca Al-Qur’an di SMAIT Ummul Quro Ujang Ahmad Yani; Budi Handrianto; Abdul Hayyie Al Kattani
TADBIR MUWAHHID Vol. 6 No. 1 (2022): Tadbir Muwahhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jtm.v6i1.5333

Abstract

Permasalahan yang menjadi penyebab peserta didik pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) belum mampu membaca Al-Qur’an adalah adanya perasaan malu yang dimiliki peserta didik untuk belajar membaca Al-Qur’an, dikarenakan di perkampungan-perkampungan saat ini sudah jarang sekali para remaja untuk belajar mengaji, tidak jarang ketika pelajaran Pendidikan Agama Islam khususnya materi Al-Qur’an para peserta didik tidak masuk kelas karena takut mendapat giliran membaca Al-Qur’an. Maka dari itu diperlukan pengelolaan yang baik agar peserta didik mengikuti program untuk menuntaskan baca Al-Qur’an. Oleh karena itu diperlukan manajemen yang baik dalam menuntaskan baca Al-Qur’an yang berhubungan dengan peserta didik yaitu manajemen peserta didik dalam program tahsin membaca Al-Qur’an. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui manajemen peserta didik dalam membaca Al-Qur’an di SMAIT Ummul Quro, yang memiliki keunggulan dalam program tahsin dalam penerapan metode yang dikembangkan sendiri yaitu metode Nuri (Cahayaku). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Langkah selanjutnya adalah teknik analisis data reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tahapan manajemen peserta didik yang diterapkan meliputi: (1) analisis kebutuhan peserta didik dengan mempertimbangkan ketersediaan ruang kelas dan tenaga pengajar, (2) penerimaan peserta didik baru meliputi pembentukan panitia, menetapkan kuota daya tampung, membuat persyaratan calon peserta didik baru, jadwal pendaftaran, jadwal seleksi, dan jalur pendaftaran peserta didik baru, (3) seleksi peserta didik meliputi jalur reguler dan jalur prestasi yang dibagi kepada prestasi hafalan Al-Qur’an, akademik dan non akademik, (4) orientasi peserta didik dengan melakukan beberapa kegiatan seperti dauroh Al-Qur’an, motivasi Al-Qur’an, matrikulasi materi tahsin, danmetode menghafal Al-Qur’an, (5) pengelompokan peserta didik berdasarkan kemampuan membaca Al-Qur’an, (6) pembinaan dan pengembangan; bagi peserta didik yang belum tuntas ujian tahsin akan dicekal mengikuti ujian akademik dan diberikan pembinaan melalui pelajaran tambahan, jika dengan pelajaran tambahan masih belum tuntas maka disarankan untuk mengikuti bimbingan belajar dengan menghadirkan guru ngaji ke rumahnya (7) pencatatan dan pelaporan berupa format perkembangan dan penilaian capaian tahsin serta di akhir semester melaporkan hasil belajar peserta didik melalui raport dari dinas pendidikan, (8) kelulusan dan alumni; peserta didik dinyatakan lulus dari program tahsin membaca Al-Qur’an apabila telah menuntaskan jilid 1 sampai 4, gharib dan tajwid. 
مناهج التربية الأخلاقية في معهد تحفيظ القرآن للثانوية Jurais Mahali; Ahmad Alim; Abdul Hayyie Al-kattaniy
Islamic Management: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol 4, No 01 (2021): Islamic Management: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/im.v4i01.935

Abstract

Islam is a very respectful religion good morals. But in reality there are still many from muslim communities do not uphold morals the morals taught by the prophet shalallahu ‘Alaihi wasalam, there are many moral violations among the younger generation, such as being arrogant, indifferent, promiscuity, atc. This is what encourages the writer to explor the inner moral education curriculum in the book riyadhu As-Sholihin for senior secondary high school education institutions for the upper secondary level of the tahfidz Al-Qur’an. This research is a literature study with a content analysis approach. This research produces a moral education curriculum, some of wich will be described in this article, namely sincere in words and deeds, repent, patient, piety, amar ma’ruf nahi munkar, and tawadu.
PENERAPAN MODEL PENDIDIKAN AKHLAK SYAIKH UTSAIMIN DI SDIT AL-HIDAYAH BOGOR Abdul Jabar Idhaudin; Akhmad Alim; Abdul Hayyie Al Kattani
Jurnal As-Salam Vol. 3 No. 3 (2019): Jurnal As-Salam
Publisher : Asosiasi Dosen Perguruan Tinggi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37249/as-salam.v3i3.137

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi terjadinya kemerosotan akhlak pada jenjang pendidikan sekolah dasar yang disebabkan adanya pembaratan terhadap dunia pendidikan yang mendeislamisasi sendi kehidupan umat Islam. Penelitian ini dirumuskan untuk mendeskripsikan Penerapan Model Pendidikan Akhlak Syaikh Utsaimin di SDIT Al-Hidayah Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi tokoh dan studi kasus. Penelitian ini menghasilkan pembahasan mengenai Penerapan Model Pendidikan Akhlak Syaikh Utsaimin di SDIT Al-Hidayah Bogor sebagai berikut: landasannya al-Qur’?n, al-Hadits, dan ijtihad yang dinternalisasikan melalui visi dan misi sekolah, tujuannya mewujudkan peserta didik berakhlak mulia dan membangun budaya Islami dalam setiap unsur pendidikan, kurikulumnya berdimensikan mata pelajaran dan program sekolah yang bertumpu pada penanaman nilai-nilai akhlak, metodenya penanaman nilai akhlak dalam al-Qur’?n dan al-Hadits, pembiasaan meneladani akhlak Rasulullah, metode kisah, keteladanan, targhib dan tarhib, serta kemitraan sekolah dalam mengawal akhlak peserta didik, evaluasinya pengawasan sikap peserta didik melalui observasi selanjutnya dicatat dalam buku jurnal sikap, dan direkap pada buku laporan hasil belajar yang diiringi dengan pembinaan akhlak dalam memperhatikan faktor keberhasilan dan penghambat pendidikan akhlak.
PENERAPAN MODEL PENDIDIKAN AKHLAK SYAIKH UTSAIMIN DI SDIT AL-HIDAYAH BOGOR Abdul Jabar Idhaudin; Akhmad Alim; Abdul Hayyie Al Kattani
Jurnal As-Salam Vol. 3 No. 3 (2019): Jurnal As-Salam
Publisher : Asosiasi Dosen Perguruan Tinggi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (673.81 KB) | DOI: 10.37249/as-salam.v3i3.137

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi terjadinya kemerosotan akhlak pada jenjang pendidikan sekolah dasar yang disebabkan adanya pembaratan terhadap dunia pendidikan yang mendeislamisasi sendi kehidupan umat Islam. Penelitian ini dirumuskan untuk mendeskripsikan Penerapan Model Pendidikan Akhlak Syaikh Utsaimin di SDIT Al-Hidayah Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi tokoh dan studi kasus. Penelitian ini menghasilkan pembahasan mengenai Penerapan Model Pendidikan Akhlak Syaikh Utsaimin di SDIT Al-Hidayah Bogor sebagai berikut: landasannya al-Qur’?n, al-Hadits, dan ijtihad yang dinternalisasikan melalui visi dan misi sekolah, tujuannya mewujudkan peserta didik berakhlak mulia dan membangun budaya Islami dalam setiap unsur pendidikan, kurikulumnya berdimensikan mata pelajaran dan program sekolah yang bertumpu pada penanaman nilai-nilai akhlak, metodenya penanaman nilai akhlak dalam al-Qur’?n dan al-Hadits, pembiasaan meneladani akhlak Rasulullah, metode kisah, keteladanan, targhib dan tarhib, serta kemitraan sekolah dalam mengawal akhlak peserta didik, evaluasinya pengawasan sikap peserta didik melalui observasi selanjutnya dicatat dalam buku jurnal sikap, dan direkap pada buku laporan hasil belajar yang diiringi dengan pembinaan akhlak dalam memperhatikan faktor keberhasilan dan penghambat pendidikan akhlak.
Educational Thought Adian Husaini: Concepts and Practices Muhammad Kholid; Nesia Andriana; Abdul Hayyie Alkattani; Wido Supraha
At-Ta'dib Vol 17, No 1 (2022): Approaches, Strategies, Methods and Islamic Education
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v17i1.7892

Abstract

Educating human beings to be a believer, righteous and noble is included in Indonesian educational orientation. Nonetheless, this objective has been eroded by materialistic culture, particularly in the education environment. There are evident efforts to westernize national education by adopting the western education model, which is secular. Adian Husaini is an education thinker who has been criticizing this phenomenon and offering a solution of an educational concept and application based on ethics. This paper employs a mixed research methodology. The research includes an analysis of the paper works of Adian Husaini and a field study at the At-Taqwa boarding school led by Adian Husaini. The research reveals that the educational concept of Adian involves placing ethics and novelty on top of knowledge. The concept also holds a knowledge hierarchy in which knowledge of fard al-ayn (legal obligations that must be performed by each individual Muslim) is higher than selected knowledge of fard al-kifayah (principle of communal obligation) which is relevant to community development. At-Taqwa boarding school has been successful in some aspects in implementing educational concepts based on ethics. To conclude, Adian Husaini's thinking of education is relevant to adopt as an alternative basis for formulating the roadmap of national education.
Islamic Guidance And Counseling Concept For Family Life Readiness Among High School Teenagers Nurul Choiriyah; Abdul Hayyie Al-Kattani
Prophetic guidance and counseling journal Vol 1, No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Bimbingan Konseling dan Pendidikan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1239.911 KB) | DOI: 10.32832/pro-gcj.v1i1.2918

Abstract

This article explains the concept of Islamic guidance and counselling to help high school students build readiness for marriage and having family life. Marriage and family life readiness is one of aspects in Competency Standards of Independence (SKK) that must be achieved by students at high school level.This concept is similar to the phases and tasks of adolescent development which begin to enter the early adult development phase. The researchers did not find any particularly studies that discuss the concept of Islamic guidance and counseling to help marriage readiness and family life for high school students. Despite the fact that the theme is important to be discussed for further elucidation,the problems eventuates among adolescents, such as premarital sex. The research is conducted by library research method. To support information requirements, researchers also conduct document observations and in-depth interviews with  marriage counselor in Religious Affairs Office (KUA), high school principals, as well as high school guidance counselor and school counselor. The concept of guidance and counselling answers the need and solutions to the problems of adults at the high school level. This also helps to understand family life responsibilities and functions, the concept of reproductive health, what appropriate sexual behaviour is, family norms and relationships between family members.
Islamic Guidance and Counseling Program of Marriage and Family Self Readiness for FAI UIKA Bogor Students Gemi Wulandari; Abdul Hayyie Al Kattani
Prophetic guidance and counseling journal Vol 1, No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Bimbingan Konseling dan Pendidikan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.167 KB) | DOI: 10.32832/pro-gcj.v1i2.3384

Abstract

Dating activity is widespread among students even to the point of having an abusive relationship. Dating is an activity to find a partner that is not recommended in Islam. This study aims to find out how the implementation of Islamic guidance and counseling programs of marriage and family self-readiness for FAI UIKA Bogor students. This research was conducted in the Faculty of Islamic Religion (FAI) of the University of Ibn Khaldun (UIKA) Bogor. The research method is descriptive qualitative with a field research approach. Data collection and analysis are collected from interview, observation and documentation techniques. The primary sources in this study is the coordinator and person in charge of guidance and counseling services at FAI UIKA and three students who were married. While the secondary data sources are the Dean, Deputy Dean, Lecturer, and Chair of BEM FAI, as well as three unmarried FAI students. Based on the results of the interviews, observations and documentation it could be concluded that the readiness program of marriage and family at FAI UIKA is implemented as an effort to overcome various cases of dating behavior among FAI UIKA students. The program implementation consists of four components: basic guidance services, responsive services, individual planning, and system support.AbstrakKegiatan pacaran tersebar luas di kalangan mahasiswa bahkan sampai pada titik hubungan yang melecehkan. Pacaran adalah kegiatan mencari jodoh yang tidak dianjurkan dalam Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi program bimbingan dan konseling Islam perkawinan dan kesiapan diri keluarga pada mahasiswa FAI UIKA Bogor. Penelitian ini dilaksanakan di Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan penelitian lapangan. Pengumpulan dan analisis data dikumpulkan dari teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Narasumber utama dalam penelitian ini adalah koordinator dan penanggung jawab layanan bimbingan dan konseling di FAI UIKA dan tiga orang mahasiswa yang sudah berkeluarga. Sedangkan sumber data sekunder adalah Dekan, Wakil Dekan, Dosen, dan Ketua BEM FAI, serta tiga mahasiswa FAI yang belum menikah. Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi dapat disimpulkan bahwa program kesiapan pernikahan dan keluarga di FAI UIKA dilaksanakan sebagai upaya untuk mengatasi berbagai kasus perilaku pacaran di kalangan mahasiswa FAI UIKA. Pelaksanaan program terdiri dari empat komponen: layanan bimbingan dasar, layanan responsif, perencanaan individu, dan dukungan sistem.
Manajemen kelas melalui model pembelajaran kooperatif Quiz Quiz Trade guna menciptakan suasana pembelajaran bahasa Arab efektif Agung Wahyu Adhy; Maemunah Sa'diyah; Abdul Hayyie Al Kattani
Idarah Tarbawiyah: Journal of Management in Islamic Education Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/itjmie.v3i2.7720

Abstract

Classroom management is a problem faced by both new teachers and even senior teachers. This is because the emotional state of students is always changing. Today's enthusiasm and enthusiasm is not necessarily tomorrow. So that profesional teachers are teachers who are able to manage the class well so that the learning process always runs effectively, efficiently, encouragingly and achieves the expected goals. Teachers who do not carry out classroom management and only position or portray themselves as authority figures or discipnarians tend to fail than teachers who carry out classroom management as a process of establishing and maintaining an effective learning environment. This study aims to describe the application of classroom management through the quiz-quiz trade cooperative learning model in learning Arabic. This model was chosen to get an effective, fun learning atmosphere and of course to help students learn Arabic, especially muhadatsah (conversation). This research was conducted at SMP IT Al Binaa Bekasi class IX with the results that 62.5% of students agreed that they were happy and felt helped by this method, 12.5% strongly agreed, and 22% disagreed. In terms of whether this model makes it easier for students to practice communicating in Arabic, the resulting data is 67.5% agree, 22.5% strongly agree and only 10% choose to disagree. So it can be concluded that the cooperative learning model of the quiz-quiz trade in Arabic language learning must be mastered by teachers in managing their classes to achieve effective learning.AbstrakManajemen kelas menjadi masalah yang dihadapi para guru baik guru baru bahkan guru senior sekalipun. Hal ini karena kondisi emosional siswa selalu berubah-ubah. Hari ini semangat dan antusias belum tentu besok. Sehingga guru yang profesional adalah guru yang mampu mengelola kelas dengan baik sehingga proses pembelajaran selalu berjalan efektif, efisien, menggembirakan dan mencapai tujuan yang diharapkan. Guru yang tidak melaksanakan manajemen kelas dan hanya memosisikan atau memerankan diri sebagai figur otoritas atau penegak disiplin (authority figures or disclipnarians) cenderung gagal daripada guru yang melaksanakan manajemen kelas sebagai proses pemapanan dan pemeliharaan (establishing and maintaining) lingkungan belajar yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan manajemen kelas melalui model pembelajaran kooperatif quiz-quiz trade dalam pembelajaran bahasa Arab. Model ini dipilih untuk mendapatkan suasana belajar efektif, menyenangkan dan tentunya membantu siswa dalam mempelajari bahasa Arab khususnya muhadatsah (percakapan). Penelitian ini dilaksanakan di SMP IT Al Binaa Bekasi kelas IX dengan hasil sebanyak 62,5% siswa setuju bahwa mereka senang dan merasa terbantu dengan metode ini, 12,5% sangat setuju, dan sebanyak 22% tidak setuju. Dalam hal apakah model ini memudahkan siswa untuk berlatih komunikasi dengan bahasa Arab, dihasilkan data 67,5% setuju, 22,5% sangat setuju dan hanya 10% yang memilih tidak setuju. Sehingga bisa disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model kooperatif quiz-quiz trade pada pembelajaran bahasa Arab harus dikuasai oleh para guru dalam mengelola kelas mereka untuk mencapai pembelajaran yang efektif.
Model Pembelajaran Behavioristik Dalam Pengajaran Bahasa Arab Tingkat SMP di Ma’had Bina Madani Bogor Saipuddin Saipuddin; Nabil Ahmed Tarmom; Abdul Hayyie al Kattani; Ulil Amri Syafri
TA'DIBUNA: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 5, No 2 (2022): Educational Issues
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jpai.5.2.78-98

Abstract

Learning Arabic according to the behavioristic view is learning that prioritizes mastery of listening and speaking skills, after mastering these two skills, the next skill that must be taught is reading and writing skills. Language skills according to this view are the same as mastery of other behavioral skills such as playing ball, driving a car, and so on, which requires learning, practice, and simulation, and is very dependent on the stimulus and response process, as well as reinforcement. The method used in this study is a qualitative research method with a field research approach. The results of this study are that there are behavioristic ways in teaching Arabic at the junior high school level at Ma'had Bina Madani Bogor, including the formation of an Arabic-speaking environment in the classroom, preparing students, providing learning media that can shape students' language behavior, using direct methods, using the audio lingual method, overdoing it in practice on different aspects of sound between Arabic and Indonesian, explaining the meaning of vocabulary by relating it to pictures, gestures, or example movements, explaining the meaning of vocabulary by connecting it with plurals, equations, or differences, learning Arabic grammatical rules through conversation, familiarizing students with listening to Arabic voices, providing listening exercises, getting students used to speaking in Arabic, providing speaking exercises in Arabic, and providing positive or negative reinforcement. negative.