Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

KELISANAN DAN KEBERAKSARAAN DALAM SITI SURABAYA KARYA F AZIZ MANNA Dheny Jatmiko; Endang Poerbowati
PARAFRASE : Jurnal Kajian Kebahasaan & Kesastraan Vol 15 No 01 (2015)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.211 KB) | DOI: 10.30996/parafrase.v15i01.436

Abstract

Abstract. This article analyzed the poem F. Aziz Manna’s "Surabaya Siti" from two perspectives, namely the oral culture and written culture. "Siti Surabaya" was one of the poems in the collection of poems Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang. The poem was a product of the written cultural community exploring on oral culture. The analysis showed that from the perspective of oral culture "Siti Surabaya" was a poem that exploited the spoken characteristics. These characteristics were used as the motor of poetry aesthetic. However, from the perspective of literacy culture, the representation of I-lyric in "Siti Surabaya", could be understood as a woman, a town, and the representation of Surabaya. Keyword: kelisanan, keberaksaraan, surabaya  
ASPEK SOSIAL GEISHA DALAM NAGASAKI BURA-BURA BUHSI Endang Poerbowati
PARAFRASE : Jurnal Kajian Kebahasaan & Kesastraan Vol 16 No 02 (2016)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.09 KB) | DOI: 10.30996/parafrase.v16i02.867

Abstract

This article discusses the social aspects of geisha in Rei Nakanishi's novel entitled NagasakiBura-bura Bushi. The analysis shows that in carrying out her profession and their living in a socitey, ageisha is portrayed to have the nature of cooperation, competition, and dispute (conflict). In social groups,there are the groups of families and communities (rural and urban). In a society, there are norms ofmanners, habits, behavior patterns, and customs that must be maintained. In the sociology of women,women are not merely be seen in the relationship of marriage and family, but also are viewed in theirroles of their jobs and education. As a human being, geisha may have problems in their lives such ashaving a sense of love, anxiety, suffering, sorrow, and responsibility against themselves, others and Godor spirit or deity. The above mentioned can be traced through the interaction of the main characterAihachi and other characters.Keywords: geisha, aspek sosial, konflik
POTRET BUDAYA GEISHA DALAM NAGASAKI BURA-BURA BUSHI KARYA NAKANISHI REI Endang Poerbowati
PARAFRASE : Jurnal Kajian Kebahasaan & Kesastraan Vol 17 No 1 (2017)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.029 KB) | DOI: 10.30996/parafrase.v17i1.1354

Abstract

Abstract. This article explores the cultural portrait of Geisha in Nagasaki Nova Bura Bura Bushi. The object of this research is the representation geisha in Nagasaki Bura Bura Bushi by Nakanishi Rei published in 2002. This research aims to examine the geisha figure in terms of its culture, which Nakanishi Rei uses to describe Japanese social culture in Japanese society. The research approach applied is qualitative approach. The result of the analysis shows that: first, a geisha must be able to maintain a discussion with guest. Second, a geisha should perform polite language behavior skills. Third, a geisha must follow the prevailing customs. Fourth, in everyday life, geisha has certain behavior patterns. Fifth, geishas figure in Japanese society are regarded to have more abilities as a woman compared with ordinary woman. Keywords: geisha, cultural aspect, polite behavior
DEADJEKTIVA NOMINA OLEH SUFIKS –SA, –MI, DAN –ME Endang Poerbowati
PARAFRASE : Jurnal Kajian Kebahasaan & Kesastraan Vol 17 No 2 (2017)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.946 KB) | DOI: 10.30996/parafrase.v17i2.1374

Abstract

Abstract. This paper discusses nouns derived from adjectives, especially adjectival nouns formed through the additional of suffies –sa, -mi, and –me. Not only do the adjectives undergo a process of class word shifts, but also they experience the change in meaning. There are interesting form changes undergoing by adjectival nouns (nouns derived from adjectives) which are diference from their roots or stems. Some derivational affixes attachto the roots and stems of the adjectives and produce nouns and new meanings. Deadjectival nouns can be formed by adding suffixes –sa, -me, and –mi. There are some adjectives that can be formed into nouns by adding suffix –sa. They are –I, adjective –na, compound adjectives, and borrowing adjectives of foreign languages. Suffix –sa marks a definite change from an adjective to a noun. It is found only one occurance of the process of deadjectival noun by adding suffix –mi, that is the adjective –I. Suffix –mi deals with expression of senses or perceptive organs. Lastly, there is only one occurance of deadjectival noun process by adding –me, that is adjective –I. The meaning of the suffix implies a rank and tendency in its use. Keywords: suffix –sa, suffix –mi, suffix –me, deadjectival, morphological process
ANALISIS MAKNA DAN PENGGUNAAN KATA WASHI DAN ORA PADA 37 JUDUL MUKASHIBANASHI MERRY ZAHROTUL MUFIDAH; ENDANG POERBOWATI
PARAFRASE : Jurnal Kajian Kebahasaan & Kesastraan Vol 18 No 2 (2018)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.999 KB) | DOI: 10.30996/parafrase.v18i2.1721

Abstract

In Mukashibanashi, the words Washi and Ora are often used. The word Washi is often used by the elderly people, namely grandfather and grandmother. The word Ora is also often used by young people. Washi and Ora have the same meaning as Watashi. The words Washi and Ora were used in the Edo period. The objectives of this study are to describe the meaning of the words Washi and Ora and to describe the use of the words Washi and Ora. Descriptive method is applied in tnis study. The data analysis procedure is looking for the words Washi and Ora in Mukashibanashi, translating, and analyzing them. After the analysis, it can be concluded that the words Washi and Ora have the same meaning, namely "me" and they can be used by anyone: the elderly people, young people, children, women, and men in informal use. Keywords: imiron, hinshi, washi dan ora, mukashibanashi
STRATEGI REYOG ONGGO PATI DI ERA KAPITALISME Dheny Jatmiko; Endang Poerbowati
PARAFRASE : Jurnal Kajian Kebahasaan & Kesastraan Vol 21 No 1 (2021)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/parafrase.v21i1.5324

Abstract

Kondisi terkini yang semakin dikuasai oleh kapitalisme dan komersialisasi menuntut segala bidang untuk beradaptasi agar dapat bertahan dan berkembang. Dalam seni tradisional, serangkaian inovasi dilakukan bukan sekadar untuk mendapatkan keuntungan secara komersial, namun untuk tetap menjaga penerimaan generasi terbaru pada seni tradisi tersebut sehingga proses pewarisan akan lebih mudah dilakukan. Sebaliknya, bagi yang berpegang pada orisinalitas berpandangan pewarisan harus tetap dilkukan namun tidak diperkenankan untuk melakukan perubahan-perubahan pada pakem yang telah ditentukan oleh leluhur. Seni reyog yang berasal dan berkembang di Kabupaten Ponorogo juga mengalami hal serupa. Ketika banyak kelompok reyog lain melakukan inovasi dengan mengubah pakem, kelompok Reyog Ongopati yang berada di Desa Plunturan, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo mendeklarasikan diri bahwa seni reyog yang dihasilkannya adalah seni reyog asli sesuai dengan pakem yang diturunkan leluhur. Dengan narasi orisinalitas ini, Reyog Onggopati berhasil untuk terus bertahan dalam duani seni reyog, bahkan menginisiasi Desa Plunturan sebagai desa budaya dengan daya tarik wisata berupa seni reyog pakem Onggopati. Strategi lain yang diterapkan oleh Reyog Onggopati adalah menjalin kolaborasi dengan pemerintah desa, sinergi dengan masyarakat (sosial dan budaya), sinergi dengan agama, dan dukungan dari keluarga untuk proses regenerasi.
Pelatihan Pembuatan Kuliner Jepang Sebagai Kreasi Inovatif UMKM Di Desa Claket Eva Amalijah; Endang Poerbowati; Muhammad Alief Reyhand
Humanism : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 4 No 1 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/hm.v4i1.16560

Abstract

Kuliner Jepang banyak ditemui dimana saja terutama di kota besar yang saat ini banyak diminati masyarakat kaum milenial, namun di daerah pedesaan kuliner Jepang tersebut masih sangat sulit ditemui, dikarenakan keterbatasan akses bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi tentang kuliner tersebut. Zaman persaingan ekonomi saat ini, wirausahawan diharuskan berimprovisasi dalam usaha makanan yang akan dijual baik secara langsung maupun secara komersial. Sehubungan dengan masalah tersebut, pentingnya pelatihan SDM (Sumber Daya Manusia) dan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) yang berada di desa Claket. Dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat ini, kegiatan yang diberikan berupa pengarahan dan peningkatan produksi. Kegiatan tersebut, telah menyesuaikan kebutuhan di desa Claket. Oleh karena itu, diadakan program pengabdian masyarakat oleh Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang diselenggarakan dengan adanya kolaborasi antara PT (Perguruan Tinggi) dan DU/DI (Dunia Usaha Dunia Industri) yang salah satunya diikuti oleh Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Hasil dari kegiatan ini berupa masyarakatnya mampu menghasilkan olahan kuliner Jepang dan meningkatkan produktivitas ekonomi di desa Claket, serta warga desa mampu meningkatkan kemampuan, pengetahuan dan mampu memberikan pelayanan yang terbaik bagi mayarakat yang berkunjung di desa Claket, dan hasil dari pelatihan ini dapat dijadikan sebagai investasi ekonomi dari desa tersebut yang dapat menjadikan desa Claket sebagai tujuan wisata.Kata Kunci: Kuliner Jepang, Sumber Daya Manusia, Usaha Mikro Kecil Menengah, Desa
Analisis Metafora Haiku Tema Musim Semi Karya Matsuo Basho Muthiahtul Yusroh; Endang Poerbowati
Proceeding of Undergraduate Conference on Literature, Linguistic, and Cultural Studies Vol. 2 No. 1 (2023): PROCEEDING RESEARCH ON LITERARY, LINGUISTIC, AND CULTURAL STUDIES
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/uncollcs.v2i1.2497

Abstract

Jenis metafora yang terdapat pada haiku merupakan suatu hal yang menarik karena dapat mengungkapkan suatu maksud atau pesan dari haiku. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan jenis metafora dalam haiku dan mendeskripsikan makna metafora yang ada pada haiku tema musim semi karya Matsuo Basho. Data berupa haiku tema musim semi karya Matsuo Basho yang mengandung metafora struktural, metafora orientasional, metafora ontologis menurut teori oleh Lakoff dan Jonson. Metafora antropomorfik, metafora kehewanan, metafora pengabstrakan, metafora sinestetik berdasarkan teori jenis metafora oleh Ullman, dan ada juga metafora kreatif, metafora konvensional dan metafora leksikal teori menurut Kurz, diperoleh dari haiku tema musim semi karya Matsuo Basho. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan stilistika. Setelah dilakukan analisis terhadap haiku didapati 20 jenis metafora. Jenis metafora yang ditemukan adalah metafora struktural terdapat 1 data, kemudian metafora orientasional terdapat 2 data, metafora ontologis terdapat 3 data, metafora antropomorfik terdapat 3 data, metafora kehewanan terdapat 1 data, metafora pengabstrakan terdapat 3 data, metafora sinestetik terdapat 2 data, metafora kreatif terdapat 2 data, metafora konvensional terdapat 2 data, metafora leksikal terdapat 1 data. Kata kunci : stilistika, metafora, haiku
Perbandingan Pelaksanaan 'Ohakamairi Pada Perayaan Obon' Dan 'Ziarah Makam Pada Perayaan Megengan' Di Jawa Timur Siti Aisyah Elfitrianingsih; Endang Poerbowati
Proceeding of Undergraduate Conference on Literature, Linguistic, and Cultural Studies Vol. 2 No. 1 (2023): PROCEEDING RESEARCH ON LITERARY, LINGUISTIC, AND CULTURAL STUDIES
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/uncollcs.v2i1.2634

Abstract

Abstrak. Bila diamati dan dipelajari, dari banyak budaya yang ada di berbagai negara di seluruh dunia dapat ditemukan kemiripan. Kemiripan ini bisa saja terdapat dalam berbagai aspek budaya. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan dua ritual kebudayaan dari negara yang berbeda, yaitu pelaksanaan Ohakamairi dalam Obon di Jepang dan pelaksanaan ziarah makam dalam Megengan di Indonesia (Jawa Timur). Metode yang digunakan dalam penulisan penelitian ini adalah metode analisis deskriptif kualitatif, dengan pendekatan kebudayaan dan agama. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik studi pustaka dengan sumber data sekunder yang didapat dari buku, jurnal ilmiah, dan dokumentasi serta publikasi media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa persamaan yang ditemukan dalam pelaksanaan 'Ohakamairi dalam Obon' dan 'Ziarah makam pada Megengan', yaitu pada tujuan pelaksanaan dan beberapa hal yang sama-sama dilakukan dalam proses pelaksanaannya. Terdapat juga perbedaan dalam pelaksanaan dua kegiatan tersebut yaitu pada maksud pemberian sesaji berupa makanan pada altar atau makam yang dilakukan dalam Ohakamairi namun tidak pada ziarah makam dalam Megengan. Kata kunci: Ohakamairi, Obon, ziarah makam, Megengan, budaya
PEREMPUAN DI SEKTOR DOMESTIK DAN PUBLIK DALAM HAIKU-HAIKU SUGITA HISAJO Tri Haryati, Retno; Poerbowati, Endang; Jupriono, D.
TANDA Vol 2 No 01 (2022): KESUSASTRAAN DAN BAHASA
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fokus kajian penelitian ini adalah citra perempuan di lingkungan domestik dan publik dalam masyarakat Jepang dalam haiku karya Sugita Hisajo. Perempuan sebagai ibu dalam haiku Sugita Hisajo dicitrakan sebagai manusia yang sabar, bersahabat dan mendidik, penuh kasih sayang dan berharap akan kebahagiaan anak, rela berkorban, dan perhatian. Sedangkan sebagai istri, perempuan Jepang dicitrakan sebagai manusia yang harus siap mengalami kekecewaan, menderita, dan penurut, serta berani dan mandiri. Perempuan di lingkungan publik dicitrakan peduli terhadap dinamika politik bangsa serta mempunyai spirit perjuangan meraih kebebasan.