Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Factors Supporting The Position And Role Of Minangkabau Women In Resolving Heritage Conflicts In West Sumatra Imam Mahardinata; Nawir Yuslem; Asmuni Asmuni
Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Vol. 22 No. 2 (2023): Pena Justisia
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pj.v22i2.3334

Abstract

Conflict resolution of heritage is a problem that often occurs in Indonesian society. This conflict usually occurs due to disagreements in dividing inherited property between family members. In West Sumatra, Minangkabau women are essential in resolving inheritance conflicts. This article will explain the factors that support the position and role of Minangkabau women in resolving heritage conflicts in West Sumatra. This research is empirical legal research or (socio-legal research) with socio-empirical studies with qualitative research. The approach method used in this study is part of legal pluralism (mix or mix), including philosophical, sociological, phenomenological, and legal anthropological approaches. This article aims to provide an understanding of the role and position of Minangkabau women in resolving heritage conflicts in West Sumatra. The factors that support their role are Economic, Educational, Psychological, and Social factors. It is hoped that this article can provide a better insight into the importance of the role of women in resolving inheritance conflicts, as well as provide proper recognition for Minangkabau women for their contributions to society
Larangan Riba dan Gharar dalam Perspektif Al-Qur’an dan Maqasid Al-Syariah Sugih Ayu Pratitis; Nawir Yuslem; Akhyar Zen
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3910

Abstract

Islam sebagai agama yang komprehensif menetapkan prinsip-prinsip muamalah untuk mewujudkan keadilan, transparansi, dan perlindungan terhadap pihak yang rentan dalam aktivitas ekonomi, salah satunya melalui larangan riba dan gharar. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep, dasar normatif, dan implikasi larangan riba dan gharar dalam perspektif Al-Qur'an dan Maqasid Al-Syariah serta relevansinya dalam praktik ekonomi modern. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, melalui penelaahan tafsir Al-Qur'an, hadis, kitab fikih muamalah, karya ulama klasik dan kontemporer, serta literatur ekonomi syariah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa riba diharamkan secara mutlak karena mengandung unsur eksploitasi, ketidakadilan, dan perolehan keuntungan tanpa risiko produktif, yang bertentangan dengan prinsip perlindungan harta (hifz al-mal) dan keadilan sosial. Gharar dilarang karena mengandung ketidakpastian dan spekulasi yang merugikan, meskipun gharar ringan (yasir) ditoleransi karena sulit dihindari dan tidak berdampak signifikan terhadap keadilan akad. Dalam konteks ekonomi modern, prinsip larangan riba dan gharar diimplementasikan melalui instrumen keuangan syariah berbasis bagi hasil, juaal beli, dan sewa, serta mitigasi risiko dalam transaksi digital. Dari perspektif maqāṣid al-syarī‘ah larangan riba dan gharar berfungsi menjaga harta, jiwa, akal, dan keadilan sosial, sehingga selaras dengan tujuan syariat dalam mewujudkan kemaslahatan umat secara menyeluruh.
Penjelasan Hadis Hukum Hiwalah serta Komparasi pendapat fuqaha’ Tentang Hiwalah dalam Kitab Tarhu Tatsrib Muhammad Sya’ban Siregar; Nawir Yuslem; Akhyar Zein; Muhammad Syukri Albani Nasution
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 6 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i6.4611

Abstract

Akad hiwalah merupakan instrumen muamalah yang memiliki peran strategis dalam penyelesaian kewajiban finansial umat Islam, khususnya dalam konteks pengalihan tanggungan utang yang berkembang dalam praktik keuangan syariah kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penjelasan hadis-hadis hukum tentang hiwalah dalam Kitab Ṭarḥu al-Tatsrīb fī Syarḥ at-Taqrīb serta mengkaji perbedaan pendapat para fuqaha’ lintas mazhab terkait konsekuensi dan penerapan hukumnya. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka dengan menelaah sumber primer berupa hadis dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim beserta syarahnya dalam karya al-‘Iraqi, serta sumber sekunder dari literatur fikih mu‘tabar berbagai mazhab. Hasil kajian menunjukkan bahwa penjelasan al-‘Iraqi menempatkan hiwalah sebagai mekanisme hukum yang berorientasi pada kemudahan transaksi dan keadilan bagi para pihak, sekaligus membuka ruang ikhtilaf ulama dalam menentukan status kewajiban menerima hiwalah, batas tanggung jawab muhil, serta hak muhtal ketika terjadi kebangkrutan atau wanprestasi. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya harmonisasi antara konstruksi hadis ahkam dan kebutuhan praktik keuangan syariah modern agar akad hiwalah dapat diterapkan secara normatif, adil, dan kontekstual dalam sistem muamalah kontemporer
Urgensi Memilih Pasangan Setara (Sekufu’) Studi Terhadap Q.S An-Nur Ayat 26 Rahmi Mutiara Dalimunthe; Nawir Yuslem
Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Vol. 6 No. 12 (2024): RESLAJ: Religion Education Social Laa Roiba Journal 
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/reslaj.v6i12.6376

Abstract

The Qur'an provides comprehensive guidance to enable humanity to live according to established rules and principles, which remain relevant until the end of time. This includes regulations related to marriage, which Islam has outlined broadly in the Qur'an. The concept of marriage in contemporary times demands equality between husband and wife, making this equality an essential consideration when choosing a life partner whether they are balanced, equal, or of the same standing. This concept in Islamic law is referred to as kafa’ah or commonly known as kufu’. It is considered important because kafa’ah fosters harmony and equality in navigating the journey of married life. This study employs a qualitative descriptive analysis method and uses a library research approach, collecting data from literature books and journal articles. The findings indicate that the concept of kafa’ah is a significant aspect recommended in marriage. It serves as a preventive measure or anticipation against potential future issues that may disadvantage the wife. Ideally, women should play a central role in determining kafa’ah criteria beyond religion. This is essential to achieve welfare and to support the progressive development of Muslim women.
Living Hadis dalam Konteks Sosial-Budaya Ulzana Nurlian Nawa; Nawir Yuslem; Ardiansyah Ardiansyah
Student Research Journal Vol. 4 No. 3 (2026): Student Research Journal
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Yappi Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/srj-yappi.v4i3.2772

Abstract

This study is motivated by the rapid proliferation of hadith dissemination in the digital era, which has Living hadith in a socio-cultural context is a contemporary approach in hadith studies that emphasizes how the traditions of Prophet Muhammad SAW are practiced, internalized, and brought to life within society. This study does not only focus on textual aspects such as sanad (chain of transmission) and matn (text), but also on its practical manifestations in the form of traditions, rituals, and local culture. This paper aims to analyze the epistemology of living hadith, examine the theoretical frameworks utilized, and observe its relevance in modern society, particularly within Muslim communities. The research method employed is qualitative with a descriptive-analytical approach based on a literature review. The findings indicate that living hadith serves as a bridge between normative texts and dynamic empirical reality. In practice, living hadith manifests in oral traditions such as lectures and religious advice, written traditions like hadith calligraphy, and practical traditions like tahlilan and grave visitation (ziarah kubur). Thus, living hadith allows Islamic teachings to remain contextual, adaptive, and relevant in facing modern socio-cultural transformations.