Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Productive Waqf with Money (Cash Waqf) in the View of the Acehnese Dayah Scholars Anwar Anwar; Nawir Yuslem; Syafruddin Syam
Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Vol. 21 No. 2 (2022): Pena Justisia
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pj.v21i2.2416

Abstract

This study focuses on exploring the views of the dayah scholars in Aceh and the dynamics behind their different views on cash waqf which are becoming popular in Indonesian society. Designed in the form of a qualitative research, research data were collected through in-depth interviews with 8 prominent dayah scholars in Aceh, who were selected purposively. The eight scholars who were used as key informants for this research were charismatic scholars who were always used by the people of Aceh as the mecca of legal fatwas. Data were also collected through repeated observations to research sites and document studies related to the topic being researched. The results of the study show that the dayah scholars in Aceh have different views in executing the law allowing cash waqf. This difference occurs because each scholar has a different perspective in understanding the source of waqf law, both in terms of text and context. In the end, this study argues that the view of the dayah scholars regarding cash waqf which has been very textual in nature, must be shifted to contextual, so that the implementation of cash waqf is carried out properly as an effort to improve the welfare of the Acehnese people.
Factors Supporting The Position And Role Of Minangkabau Women In Resolving Heritage Conflicts In West Sumatra Imam Mahardinata; Nawir Yuslem; Asmuni Asmuni
Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Vol. 22 No. 2 (2023): Pena Justisia
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pj.v22i2.3334

Abstract

Conflict resolution of heritage is a problem that often occurs in Indonesian society. This conflict usually occurs due to disagreements in dividing inherited property between family members. In West Sumatra, Minangkabau women are essential in resolving inheritance conflicts. This article will explain the factors that support the position and role of Minangkabau women in resolving heritage conflicts in West Sumatra. This research is empirical legal research or (socio-legal research) with socio-empirical studies with qualitative research. The approach method used in this study is part of legal pluralism (mix or mix), including philosophical, sociological, phenomenological, and legal anthropological approaches. This article aims to provide an understanding of the role and position of Minangkabau women in resolving heritage conflicts in West Sumatra. The factors that support their role are Economic, Educational, Psychological, and Social factors. It is hoped that this article can provide a better insight into the importance of the role of women in resolving inheritance conflicts, as well as provide proper recognition for Minangkabau women for their contributions to society
TAFSIR DAN HADIS AHKAM TENTANG WAKALAH Ahmad Kamil Harahap; Nawir Yuslem; Jamil
ALWAQFU: Jurnal Hukum Ekonomi dan Wakaf Vol. 3 No. 3 (2025): Oktober Jurnal Hukum Ekonomi dan Wakaf
Publisher : P2WP MUI Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengkaji konsep wakalah dalam perspektif tafsir dan hadis a?k?m, dan berangkat dari asumsi bahwa wakalah bukan sekadar konstruksi fiqh praktis, melainkan memiliki landasan normatif yang kuat dalam al-Qur’an dan Sunnah Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan tafsir a?k?m dan hadis a?k?m, disertai analisis ushul fiqh terhadap ayat-ayat dan hadis-hadis yang merepresentasikan praktik perwakilan. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun al-Qur’an tidak secara eksplisit menggunakan istilah wakalah dalam seluruh ayat yang relevan, ayat-ayat seperti QS. an-Nis?’ [4]: 35, al-Kahf [18]: 19, dan Y?suf [12]: 55 serta [12]: 93 mengandung prinsip-prinsip delegasi, pengutusan, dan penyerahan mandat yang secara substansial menjadi basis normatif wakalah. Penafsiran para mufassir terhadap ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa wakalah berorientasi pada maslahat, amanah, dan kompetensi wakil. Temuan ini diperkuat oleh hadis-hadis a?k?m tentang wakalah dalam jual beli, pelunasan utang, dan akad nikah yang secara eksplisit menunjukkan legitimasi syar‘i praktik perwakilan, sekaligus menetapkan batas kewenangan dan tanggung jawab wakil. Secara kritis, artikel ini menegaskan bahwa wakalah tidak dapat dipahami secara reduktif sebagai akad teknis semata, melainkan sebagai mekanisme hukum yang sarat nilai etis dan maq??id?, terutama dalam menjaga harta (?if? al-m?l), mewujudkan kemudahan (tays?r), dan menjamin keadilan dalam relasi sosial. Dengan demikian, wakalah memiliki relevansi normatif yang kuat untuk dikontekstualisasikan dalam praktik mu??malah kontemporer, termasuk ekonomi dan perbankan syariah, selama prinsip amanah, kejelasan mandat, dan tanggung jawab hukum tetap dijaga.
TAFSIR DAN HADIS AHKAM TENTANG MUDHARABAH: KAJIAN KOMPREHENSIF LANDASAN SYAR'I DALAM AL-QUR'AN DAN SUNNAH. Fahri Roja Sitepu; Jamil; Nawir Yuslem
ALWAQFU: Jurnal Hukum Ekonomi dan Wakaf Vol. 4 No. 01 (2026): Februari 2026
Publisher : P2WP MUI Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mudharabah merupakan salah satu akad kerja sama dalam ekonomi Islam yang memiliki peran penting dalam praktik muamalah, baik pada masa klasik maupun dalam konteks ekonomi dan keuangan syariah modern. Keabsahan dan penerapan akad mudharabah tidak terlepas dari landasan syar‘i yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif tafsir ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis ahkam yang menjadi dasar hukum akad mudharabah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis dan normatif, dengan menelaah ayat-ayat terkait aktivitas usaha, kerja sama, dan perdagangan, serta hadis-hadis Nabi SAW yang relevan dengan praktik mudharabah. Analisis dilakukan dengan memperhatikan asb?bun nuz?l, asb?bul wur?d, serta pandangan para ulama tafsir dan muhaddits dalam memahami dalil-dalil tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun mudharabah tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an, prinsip-prinsip dasarnya memiliki legitimasi kuat melalui ayat-ayat umum tentang muamalah dan diperkuat oleh praktik Nabi SAW serta ijma‘ ulama. Kajian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah keilmuan hukum Islam dan memberikan kontribusi teoritis dalam penguatan landasan syar‘i akad mudharabah, khususnya dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah kontemporer.
Analisis Transaksi Jizāf dalam Perspektif Qur’an dan Hadis Matondang, Maulidya Mora; Nawir Yuslem; M. Jamil
Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an, Tafsir dan Pemikiran Islam Vol. 6 No. 3 (2025): Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an, Tafsir dan Pemikiran Islam
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) IAIFA Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buying and selling activities are one aspect of muamalah which is very important in human life and receives great attention in the Qur'an and hadith. The principles of justice and honesty are the main foundation in every transaction, as illustrated in the verses which emphasize the importance of correct measures and scales, as in the words of Allah SWT: "Make measures and scales fairly, and do not harm people in their rights" (QS. Al-A'raf [7]: 85). This verse not only emphasizes the need to uphold justice in measurable transactions, but also raises the issue of interpretation regarding the status of transactions that do not use formal measures or scales, such as buying and selling jizāf. In community practice, buying and selling jizāf—that is, buying and selling goods based on estimates without measuring or weighing—has been known since the time of the Prophet Muhammad. A number of hadiths narrate the permissibility of this form of transaction in certain contexts, such as buying and selling foodstuffs or harvests that can be measured in a general sense without causing gharar (unclarity). However, differences in socio-economic contexts and modern trading systems raise a new question: to what extent can the sharia principle, which emphasizes fairness in measurement, be applied to sales without a fixed measure? From an exegetical perspective, classical commentators such as Al-Qurtubi, Ibn Kathir, and Al-Razi have differing emphases in their understanding of verses concerning measures and weights. Some emphasize moral aspects and universal justice, while others emphasize strict legal aspects regarding sales practices. Meanwhile, in the hadith literature, differences in wording and context of the narrations regarding jizāf have given rise to debates about the validity and scope of its permissibility. The hermeneutic tension between the texts of verses that demand precise measurements and the hadith that permit jizāf is an important area of ​​research.
Larangan Riba dan Gharar dalam Perspektif Al-Qur’an dan Maqasid Al-Syariah Sugih Ayu Pratitis; Nawir Yuslem; Akhyar Zen
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3910

Abstract

Islam sebagai agama yang komprehensif menetapkan prinsip-prinsip muamalah untuk mewujudkan keadilan, transparansi, dan perlindungan terhadap pihak yang rentan dalam aktivitas ekonomi, salah satunya melalui larangan riba dan gharar. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep, dasar normatif, dan implikasi larangan riba dan gharar dalam perspektif Al-Qur'an dan Maqasid Al-Syariah serta relevansinya dalam praktik ekonomi modern. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, melalui penelaahan tafsir Al-Qur'an, hadis, kitab fikih muamalah, karya ulama klasik dan kontemporer, serta literatur ekonomi syariah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa riba diharamkan secara mutlak karena mengandung unsur eksploitasi, ketidakadilan, dan perolehan keuntungan tanpa risiko produktif, yang bertentangan dengan prinsip perlindungan harta (hifz al-mal) dan keadilan sosial. Gharar dilarang karena mengandung ketidakpastian dan spekulasi yang merugikan, meskipun gharar ringan (yasir) ditoleransi karena sulit dihindari dan tidak berdampak signifikan terhadap keadilan akad. Dalam konteks ekonomi modern, prinsip larangan riba dan gharar diimplementasikan melalui instrumen keuangan syariah berbasis bagi hasil, juaal beli, dan sewa, serta mitigasi risiko dalam transaksi digital. Dari perspektif maqāṣid al-syarī‘ah larangan riba dan gharar berfungsi menjaga harta, jiwa, akal, dan keadilan sosial, sehingga selaras dengan tujuan syariat dalam mewujudkan kemaslahatan umat secara menyeluruh.
Penjelasan Hadis Hukum Hiwalah serta Komparasi pendapat fuqaha’ Tentang Hiwalah dalam Kitab Tarhu Tatsrib Muhammad Sya’ban Siregar; Nawir Yuslem; Akhyar Zein; Muhammad Syukri Albani Nasution
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 6 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i6.4611

Abstract

Akad hiwalah merupakan instrumen muamalah yang memiliki peran strategis dalam penyelesaian kewajiban finansial umat Islam, khususnya dalam konteks pengalihan tanggungan utang yang berkembang dalam praktik keuangan syariah kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penjelasan hadis-hadis hukum tentang hiwalah dalam Kitab Ṭarḥu al-Tatsrīb fī Syarḥ at-Taqrīb serta mengkaji perbedaan pendapat para fuqaha’ lintas mazhab terkait konsekuensi dan penerapan hukumnya. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka dengan menelaah sumber primer berupa hadis dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim beserta syarahnya dalam karya al-‘Iraqi, serta sumber sekunder dari literatur fikih mu‘tabar berbagai mazhab. Hasil kajian menunjukkan bahwa penjelasan al-‘Iraqi menempatkan hiwalah sebagai mekanisme hukum yang berorientasi pada kemudahan transaksi dan keadilan bagi para pihak, sekaligus membuka ruang ikhtilaf ulama dalam menentukan status kewajiban menerima hiwalah, batas tanggung jawab muhil, serta hak muhtal ketika terjadi kebangkrutan atau wanprestasi. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya harmonisasi antara konstruksi hadis ahkam dan kebutuhan praktik keuangan syariah modern agar akad hiwalah dapat diterapkan secara normatif, adil, dan kontekstual dalam sistem muamalah kontemporer
Islamic Law and Fraud Eradication Strategy in Islamic Financial Institutions Pradesyah, Riyan; Nawir Yuslem; Chuzaimah Batubara
Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Vol. 23 No. 2 (2024): Pena Justisia
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the law and strategy to eradicate fraud in Islamic financial institutions, which are important institutions in the sharia-based economy. Fraud, which includes various fraudulent acts such as manipulation of financial statements and abuse of authority, can damage the reputation and sustainability of financial institutions. Therefore, a thorough understanding of the laws governing Islamic financial institutions, including the Sharia Banking Law and regulations from the Financial Services Authority (OJK), is essential in efforts to prevent and counter fraud. The fraud eradication strategy proposed in this study involves several approaches. First, the implementation of a comprehensive internal control system, including periodic internal and external audits, to ensure transparency and accountability. Second, increasing awareness and ethical training for employees, so that they are better able to recognize and prevent fraud. Third, the use of information technology, such as early detection systems and data analysis, which can identify suspicious patterns in financial transactions. This research emphasizes the importance of collaboration between Islamic financial institutions, regulators, and the public to build a safe and transparent ecosystem. Thus, efforts to eradicate fraud not only protect institutional assets, but also strengthen public trust in the Islamic financial system. The results of this research are expected to provide insight for policy makers and practitioners in developing more effective strategies in eradicating fraud.
Urgensi Memilih Pasangan Setara (Sekufu’) Studi Terhadap Q.S An-Nur Ayat 26 Rahmi Mutiara Dalimunthe; Nawir Yuslem
Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Vol. 6 No. 12 (2024): RESLAJ: Religion Education Social Laa Roiba Journal 
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/reslaj.v6i12.6376

Abstract

The Qur'an provides comprehensive guidance to enable humanity to live according to established rules and principles, which remain relevant until the end of time. This includes regulations related to marriage, which Islam has outlined broadly in the Qur'an. The concept of marriage in contemporary times demands equality between husband and wife, making this equality an essential consideration when choosing a life partner whether they are balanced, equal, or of the same standing. This concept in Islamic law is referred to as kafa’ah or commonly known as kufu’. It is considered important because kafa’ah fosters harmony and equality in navigating the journey of married life. This study employs a qualitative descriptive analysis method and uses a library research approach, collecting data from literature books and journal articles. The findings indicate that the concept of kafa’ah is a significant aspect recommended in marriage. It serves as a preventive measure or anticipation against potential future issues that may disadvantage the wife. Ideally, women should play a central role in determining kafa’ah criteria beyond religion. This is essential to achieve welfare and to support the progressive development of Muslim women.