Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PELAKSANAAN KONSELING BEHAVIOR PADA SISWA BERPRILAKU TERISOLIR DI KELAS X SMA NEGERI 1 BINJAI Tumiyem Tumiyem; Indra Setiawan
Lentera Pendidikan Indonesia: Jurnal Media, Model, dan Pengembangan Pembelajaran Vol. 2 No. 1 (2021): February
Publisher : Yayasan Lingkar Pena Mandiri Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.011 KB) | DOI: 10.36312/lpi.v2i1.20

Abstract

Masa sekolah adalah masa dimana anak-anak memperoleh pendidikan dan wawasan yang baru dalam kehidupannya. Begitu juga yang terjadi pada anak SMA, tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua dan para pendidika di sekolah, bahwa anak SMA adalah masa remaja yang mengalami masa peralihan (transisi) yaitu masa puberitas. Perkembangan sosial pada anak-anak SMA ditandai dengan adanya perluasan hubungan, di samping dengan keluarga dia juga mulai membentuk 2 ikatan baru dengan teman sebaya (peer group) atau teman sekelas, sehingga ruang gerak hubungan sosialnya bertambah luas. Namun tidak semua anak dapat bergaul dengan teman sebayanya seperti yang diharapkan, beberapa anak mengalami kesulitan dalam kehidupan sosialnya sehingga anak menjadi terisolasi. Anak terisolasi adalah anak yang tidak memiliki teman sebayanya dalam suatu kelompok. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Kesimpulan sebagai berikut: Perilaku terisolir siswa sebelum diberi konseling behavior dengan teknik assertive training berada pada kategori sedang. Tingginya perilaku terisolir siswa ditunjukkan dengan minat bersosial, kemampuan menyesuaikan diri, kepercayaan diri, respon saat kegiatan, kemampuan bertenggang rasa, kemampuan sportif dan perlakuan teman yang berada pada kategori sedang, Perilaku terisolir siswa sesudah diberi konseling behavior dengan teknik assertive training berada pada kategori tinggi. Berkurangnya perilaku terisolir siswa ditandai dengan tingginya minat bersosial dan kemampuan bertenggang rasa Perilaku terisolir siswa dapat diatasi menggunakan konseling behavior dengan teknik assertive training. Siswa yang semula minat bersosialnya sedang meningkat menjadi tinggi, dan memiliki kemampuan bertenggang rasa yang sedang meningkat menjadi tinggi.
PELATIHAN PEMBUATAN SABUN CUCI PIRING MENGGUNAKAN BAHAN RAMAH LINGKUNGAN UNTUK MASYARAKAT NON-PRODUKTIF Azizah Yusra Amaliyah Harahap; Tumiyem Tumiyem; Dwi Syafitri; Dina Safitri; Syam Rini Fadihillia; Diana Novita Lestari; Eva Sari
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2024): Vol. 5 No. 6 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i6.39377

Abstract

Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat Klumpang Kebun Dusun III Desa Depok Jaya cara membuat sabun pencuci piring dengan bahan ramah lingkungan. Pendekatan terhadap proyek pengabdian masyarakat ini memberikan contoh langsung tentang cara memproduksi sabun cuci piring dengan komponen ramah lingkungan. Melalui kegiatan ini masyarakat belajar cara membuat sabun cuci piring, dan diyakini bahwa kemampuan ini dapat membantu masyarakat dalam membuat sabun cuci piring dan meningkatkan perekonomian rumah tangga.
Analisis Penggunaan Metode Pengulangan (Taqrir) Dalam Meningkatkan Hafalan Juz Amma Siswa Kelas II Madrasah Ibtidaiyah Swasta Darul Mahmudah Nurul Ulfah; Tumiyem Tumiyem; Mardianto Mardianto
Science and Education Journal (SICEDU) Vol 5 No 2 (2026): Science and Education Journal 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/sicedu.v5i2.791

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan metode pengulangan (taqrir) dalam meningkatkan hafalan Juz Amma siswa kelas II SD MIS Darul Mahmudah serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat keberhasilannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek penelitian terdiri atas satu orang guru kelas II sebagai informan utama, serta kepala madrasah dan sepuluh siswa kelas II sebagai informan pendukung. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan metode taqrir di MIS Darul Mahmudah berjalan secara terstruktur dan berkesinambungan melalui kegiatan pengulangan hafalan klasikal, individu, dan kelompok kecil yang dilaksanakan secara rutin 4–5 kali per minggu dengan durasi 30–45 menit. Faktor pendukung keberhasilan meliputi konsistensi pengulangan, kompetensi guru tahfiz, dukungan orang tua, motivasi belajar siswa, sistem reward, dan komitmen kelembagaan madrasah. Adapun faktor penghambat meliputi kesenjangan kemampuan menghafal antar siswa, keterbatasan waktu pembelajaran, rendahnya konsentrasi sebagian siswa, kurang optimalnya keterlibatan orang tua, dan belum terdokumentasikannya metode taqrir secara rinci dalam kurikulum formal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa metode taqrir efektif dalam memperkuat hafalan Juz Amma siswa tingkat dasar jika dilaksanakan secara konsisten, terstruktur, dan didukung oleh seluruh ekosistem pembelajaran