Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

LITERASI DIGITAL DAN ETIKA BERMEDIA SOSIAL KALANGAN PELAJAR DI SMAN WIRA BANGSA ACEH BARAT Khori Suci Maifianti; Rahma Hidayati; Fiandy Mauliansyah
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2021): Volume 2 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v2i2.1716

Abstract

Di zaman sekarang, perkembangan literasi digital berkembang cukup pesat. Dalam literasi digital itu bukan hanya sekedar kemampuan mencari, menggunakan dan menyebarkan informasi akan tetapi, diperlukan kemampuan dalam membuat informasi dan evaluasi kritis, ketepatan aplikasi yang digunakan dan pemahaman mendalam dari isi informasi yang terkandung dalam konten digital tersebut. Di sisi lain literasi digital mencakup tanggung jawab dari setiap penyebaran informasi yang dilakukannya karena menyangkut dampaknya terhadap masyarakat. Penyuluhan tentang pentingnya literasi digital dan kesadaran etika dalam bermedia sosial ini dilaksanakan pada bulan April 2021 lalu. Bertempat di Aula Utama Sekolah SMAN Wira Bangsa Aceh Barat, kami mengajak para siswa untuk berdiskusi sambil bermain tentang fenomena media sosial. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa meskipun penggunaan media sosial memberi dampak positif, perkembangan media sosial ternyata juga dapat memberikan dampak negatif. Anak maupun remaja memiliki keterbatasan untuk melakukan regulasi diri. Mereka juga rentan mendapatkan tekanan dari teman sebaya sehingga mereka memiliki resiko tinggi terpapar dampak negatif dari penggunaan media sosial. Penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa resiko yang mungkin didapatkan seperti terpaparnya konten pornografi atau konten negatif lain dan kurangnya pemahaman mengenai isu privasi.
UPAYA PENINGKATAN KECAKAPAN BERBAHASA INGGRIS MELALUI TEKNIK INFORMATION GAP Endah Anisa Rahma; Giovanni Oktavinanda; Refanja Rahmatillah; Khori Suci Maifianti; Rahma Hidayati; Samwil Samwil
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 3 (2021): Volume 2 Nomor 3 Tahun 2021
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v2i3.3048

Abstract

Masalah siswa tidak mampu berbicara dalam bahasa Inggris karena masalah linguistik dan psikologis masih banyak terjadi di kelas bahasa Inggris saat ini, seperti yang terjadi di SMPN 6 Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat. Para siswa memiliki kosakata bahasa Inggris dan waktu praktik yang terbatas serta tidak percaya diri untuk berbicara. Literatur menunjukkan bahwa teknik Information Gap dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan bertujuan untuk membantu memecahkan masalah berbicara Bahasa Inggris siswa dengan menerapkan teknik Information Gap dalam kegiatan mengajar. Teknik tersebut diterapkan pada topik Pengenalan Diri untuk siswa Kelas VII. Kegiatan ini dilakukan pada 19 Oktober 2021 selama satu hari. Hasil dari pengabdian ini adalah siswa menunjukkan semangat untuk berusaha berbicara dalam bahasa Inggris. Selain itu, siswa setuju bahwa teknik ini bermanfaat bagi mereka untuk meningkatkan keterampilan berbicara. Disarankan bagi para guru di SMPN 6 Meureubo untuk tetap menerapkan teknik Information Gap dalam pembelajaran berbicara bahasa Inggris di kelas.
Gender dan GayaKepemimpinan Perempuan Di Jabatan Publik: Studi Fenomenologi Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh Rahma Hidayati; Nellis Mardhiah
Jurnal Community Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.436 KB) | DOI: 10.35308/jcpds.v4i2.995

Abstract

Acehnese women are known to be very unique, have distinctive moralist leadership styles and high fighting spirit with the nickname "Cut NyakDhien". These characteristics are inherent in their identity and able to integrate for the achievement of organizational goals. The objective of this study is the style of Acehnese women's leadership in public position. This study uses a qualitative method with a phenomenological approach that seeks to interpret events related to the situation holistically with empirical social reality. The results of this study are the presence of Acehnese women in the organization is very significant in the representation of organizational decision making. Representation also has a strategic function as communicative internalization that is firm in instilling the values of gender equality in every activity and the pattern of relations between the structure, role and function of a system. The moralist leadership pattern in organizational development in carrying out social and cultural duties and responsibilities can be done through a process of negotiation and mutual cooperation, where all forms of differences can find harmony with the distribution of roles and functions that are balanced from position and full commitment to Acehnese women in the Islamic law . Keywords: Gender, Leadership Style, Public Position, Islamic Shari'a
INTERNALISASI KEBIJAKAN PEMERINTAH ACEH BERDASARKAN UNDANG –UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2006 TENTANG PEMERINTAH ACEH Nellis Mardhiah; Rahma Hidayati; Mursyidin Mursyidin
Jurnal Public Policy Vol 4, No 2 (2018): Mei-Oktober
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jpp.v4i2.1049

Abstract

law number 11 Year 2006 was the implementation of the contents of the notes kesefahaman a memorandum of understanding (MoU) to Helsinki Government Indonesia with the free Aceh Movement (GAM) on 15 August 2005. This MOU is the beginning of a permanent peace in Aceh. Objective of writing this was the development of the implementation of the BAL after peace in Aceh. This research with qualitative and descriptive analysis method, by using the technique of observes and interviews. The goal of his research can contribute to the legislature in order to understand the stages of the process of legislation happen polemic in the realization of this legislation as BAL due to rules of normative binding, but in terms of the realization of the implementation of the special autonomy policy is not as easy as normative rules contained in regulation perundangan-undangan. It is given the legal system in Aceh. The policy objectives have not yet reached target BAL of the Aceh government readiness in meeting the needs of the community. In addition, the implementation of this legislation requires specific strategies and the DPRA capacity is crucial in separating political and administrative functions for the achievement of the input, output and outcomes in public life in post peace in Aceh.Keywords: Development Of The BAL. DPRA. Aceh Peace
Difusi Inovasi dalam Penggunaan Batee Ranup pada Tradisi Meu-uroh di Aceh Barat Reni Juliani; Rahma Hidayati; Nidar Nidar
PETANDA: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Humaniora Vol 1, No 1 (2018): Desember 2018
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.699 KB) | DOI: 10.32509/jhm.v1i1.659

Abstract

Salah satu tradisi yang masih terus dipraktekkan masyarakat Aceh adalah tradisi meu-uroh. Namun dalam pelaksanaannya tradisi ini telah mengalami inovasi. Dulu tradisi meu-uroh dilakukan dengan membawa batee ranup yang memiliki makna luhur sedangkan sekarang tradisi ini dilakukan dengan membawa undangan cetak sekapur sirih seperti terjadi di Desa Cot Lagan, Kecamatan Woyla, Kabupaten Aceh Barat, sehingga terjadi pergeseran budaya dalam tradisi meu-uroh. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui penyebab terjadinya pergeseran budaya tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan, pergeseran budaya penggunaan batee ranup dalam tradisi meu-uroh disebabkan kurangnya pemahaman dan kecintaan masyarakat tentang budaya tersebut sehingga sangat mudah menerima budaya baru yang masuk dan berkembang di tengah-tengah mereka. Pergeseran budaya ini juga terjadi karena perkembangan teknologi yang kian pesat sehingga membawa banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat termasuk dalam segi budaya. Perkembangan teknologi ini berdampak, membawa sekapur sirih sebagai undangan lambat laun menggantikan posisi batee ranup dalam tradisi meu-uroh. Selain itu, penggunaan undangan sekapur sirih juga dirasa masyarakat lebih murah dan praktis jika dibandingkan dengan menggunakan batee ranup.
KOMUNIKASI PARTISIPATIF MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN DESA MELALUI PEMBERDAYAAN DAN KESEJAHTERAAN KELUARGA Dini Hartati; Yuhdi Fahrimal; Rahma Hidayati
JIMSI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ilmu Komunikasi VOLUME 1 NOMOR 1 (MARET 2021)
Publisher : JIMSI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh antara karakteristik personal terhadap proses komunikasi partisipatif masyarakat, dan mencari pengaruh antara faktor eksternal terhadap proses komunikasi partisipatif masyarakat dalam pembangunan desa melalui Pemberdayaan Dan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Metodologi penelitian yang digunakan yaitu eksplanatif asosiatif dengan pendekatan kuantitatif yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh antar variabel. Dalam penelitian ini menggunakan kuesioner yang menjadi instrument utamanya. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 90 responden yang berada di desa Purwosari, Kec.Kuala Pesisir, Kab.Nagan Raya. Hasil penelitian ini menunjukkan karakteristik personal dengan indikator usia, tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap proses komunikasi partisipatif yang tergolong kuat. Sementara untuk faktor ekternal seperti intensitas komunikasi, iklim sosial dan kesempatan untuk berpartisipasi juga memiliki pengaruh yang kuat terhadap komunikasi partisipatif. Semakin kuat pengaruh karakteristik personal dan faktor eksternalnya maka akan semakin tinggi proses komunikasi partisipatif yang dilakukan oleh masyarakat.