Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

UPAYA GURU BIMBINGAN KONSELING DALAM MENINGKATKAN KEDISIPLINAN SISWA DI SMA NEGERI I SIABU Asmaryadi Asmaryadi; Anas Munandar Matondang; Sukatno Sukatno; Ahmad Fauzi Harahap
Ristekdik : Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 9, No 1 (2024): RISTEKDIK: JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING - JANUARI-MARET 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/ristekdik.2024.v9i1.32-36

Abstract

Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kemampuan belajar, dan perencanaan karier, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku. (Fenti:2012)Dari penjelasan di atas, maka penulis ingin meneliti bagaimana Upaya Guru Bimbingan Konseling Dalam Meningkatkan Kedisiplinan Siswa Di SMA Negeri I Siabu. Penulis ingin melihat bagaimana proses maupun langkah-langkah yang dilakukan oleh guru BK dalam meningkatkan kedisiplinan sekolah peserta didik di SMA Negeri I Siabu.
HUBUNGAN KEMATANGAN EMOSI DENGAN PERILAKU AGRESIF SISWA MTS. 22 PADANGSIDIMPUAN Fithri Febrianti; Erlina Harahap; Sukatno Sukatno
Ristekdik : Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 9, No 2 (2024): RISTEKDIK: JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING - APRIL-JUNI 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/ristekdik.2024.v9i2.359-364

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Mts Muhammadiyah 22 Padangsidimpuan dengan populasi penelitian berjumlah 104 orang siswa kelas IX dan sampel yang diambil sebanyak 20 orang siswa, Metode penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif  korelasi, berdasarkan hasil uji korelasi penelitian ini diperoleh bahwa hipotesis Ha : ada hubungan antara kematangan emosi dengan perilaku agresif siswa yang menunjukkan keduanya memiliki hubungan yang positif. Hubungan antara dua variabel linear atau searah, jadi variabel X tinggi maka variabel Y juga tinggi. Hasil penelitian ini diperoleh nilai koefisian korelasian uji korelasi pearson sebesar 0,001. Angka tersebut berarti bahwa dalam penelitian ini kematangan emosi siswa memberikan sebesar 40,3% terhadap perilaku agresif sedangkan sisanya sebesar 59,7% dipengaruhi oleh faktor lain. Penelitian yang berhubungan dengan kematangan emosi terhadap perilaku agresif sudah banyak yang dilakukan dengan objek yang berbeda-beda, teknik sampling yang digunakan adalah teknik stratified random sampling dengan 269 orang remaja sebagai sampel menggunakan skala kematangan emosi yang telah di uji validasinya 22 item dengan koefesien realibilitasnya 0,877 dan skala agresivitas yang di uji validitasnya menjadi 37 item dengan koefisien realibilitasnya 0.940. Analisis data menggunakan korelasi product momen dengan toleransi kesalahan 5%. Hasil analisis data menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,599(r = 0,599) dengan tarafbsignitifikan 0,000 (p = 0.000) maka Ha diterima yang artinya terdapat hubungan antara kematangan emosi dengan agresivitas pada remaja dengan hubungan negatif antara kedua variaebel tersebut.
Augmented Reality Building Blocks: Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini melalui Permainan Konstruktif Digital-Fisik Malim Soleh Rambe; Asmaryadi Asmaryadi; Sukatno Sukatno; Nurhasanah Pardede; Vitria Larseman Dela; Erlina Harahap; Khairul Amri; Harun Arrasyd
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2755

Abstract

This study develops and tests the effectiveness of augmented reality building blocks (AR-Block) in increasing the creativity of 5-6 year old children at Darul Hasan IT Kindergarten, Padangsidimpuan City. Using a mixed-methods approach and a pretest-posttest control group design, the sample was purposively selected (N=40) and divided into an experimental (AR-Block) and a control (conventional block) group. The instruments included: (1) the Digital Creativity Assessment Tool (DCAT) to measure fluency, flexibility, and originality of ideas, (2) eye-tracking for engagement analysis, and (3) IoT sensors on the blocks to record interaction patterns. Results showed a significant increase in the experimental group (t=6.32, p<0.001, d=1.5), with the largest effect on originality (a 42% increase). Qualitative analysis revealed three mechanisms of technological influence: (1) AR visual scaffolding stimulates idea exploration, (2) real-time system feedback enhances intrinsic motivation, and (3) digital collaboration develops social-creative skills. Practical implications include: (1) a hybrid physical-digital model for early childhood education (ECE), (2) teacher training in AR integration, and (3) a digital creativity framework based on play-based learning. This research enriches the literature on children's educational technology with empirical evidence that multimodal interaction design can optimize creativity development.
Konsep Diri Anak Putus Sekolah Pada Anak Yang Berperan Badut Jalanan Di Kota Padangsidimpuan Nurhasanah Pardede; Vitria Larseman Del; Ahmad Husein Nasution; Malim Soleh Rambe; Sukatno Sukatno
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2945

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimanakah konsep diri perilaku anak putus sekolah yang berperan badut jalanan di sekitar Tugu salak, Citywalk, pasar Sagumpal (Padangsidimpuan Utara) ketika di wawancara beberapa anak tersebut menyatakan bahwa mereka sudah putus sekolah, dari alasan mereka salah satunya merasa tidak mampu untuk mengikuti pelajaran di sebabkan sulitnya mata pelajaran, merasa tidak di perlakukan dengan baik oleh guru, merasa tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya maupun wajahnya, Fenomena anak yang berperan sebagai badut jalanan melambangkan kegagalan dunia pendidikan di Indonesia dalam membangun mentalitas anak untuk menjadi sumber daya manusia yang unggul di masa depan. Fenomena ini juga merupakan gejala sosial yang membutuhkan tindakan yang tegas dari semua pihak, dalam hal ini peneliti menawarkan salah satu solusinya menerapkan konseling individual dan kelompok sebagai implementasinya. Jenis penelitian ini adalah menggunakan kualitatif deskriptif (studi kasus). Teknik Pengambilan informan dengan metode snowball sampling digunakan agar dapat memperoleh data yang akurat sehingga di peroleh analisis datanya. Informan dalam penelitian ini adalah anak yang berperan badut di sekitar tugu salak, citywalk, pasar sagumpal ( padangsidimpuan Utara). Hasil penelitian ini juga dapat menjadi bahan ajar atau teori dalam mata kuliah Psikologi perkembangan anak dan remaja, Konseling Individual, Konseling Kelompok, sosiologi. Hasil Penelitian ini nanti juga akan ditampilkan pada seminar nasional (SEMNAS), publikasi ilmiah nasional terakreditasi dan sebagai bahan ajar pendukung bagi mahasiswa
Implementasi Literasi Digital Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa MTs N 5 Sinyior Nur Afifah; Sukatno Sukatno; Mawaddah Saragih
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sapangambei Manoktok Hitei Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat SAPANGAMBEI MANOKTOK HITEI
Publisher : Universitas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36985/chs3mz73

Abstract

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi mendorong pendidikan untuk memasukkan literasi digital dalam pembelajaran. Literasi digital meliputi keterampilan mengoperasikan teknologi, berpikir kritis, menilai, dan menggunakan informasi secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan literasi digital guna meningkatkan motivasi belajar siswa di MTs Negeri 5 Sinyior, menggunakan metode campuran kuantitatif dan kualitatif. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam motivasi belajar dan hasil tes siswa setelah penerapan literasi digital. Persentase minat belajar siswa meningkat dari 60,80% ke 80,13%. Temuan ini menunjukkan bahwa literasi digital berhasil meningkatkan motivasi belajar dan keterampilan. Penting untuk terus mengintegrasikan literasi digital dengan dukungan semua pihak untuk memperbaiki kualitas pembelajaran
PERILAKU ORANG TUA TERHADAP PENERIMAAN DIRI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (TUNARUNGU) DI KOTA SIBOLGA Muthia Dwita; Nurhasanah Pardede; Sukatno Sukatno
Ristekdik : Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 11, No 2 (2026): RISTEKDIK: JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING - FEBRUARI 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/ristekdik.2026.v11i2.126-135

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam perilaku orang tua terhadap penerimaan diri anak berkebutuhan khusus, khususnya anak tunarungu, di Kota Sibolga. Fokus utama penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana orang tua merespons, menyesuaikan diri, serta memberikan dukungan terhadap anak yang memiliki keterbatasan pendengaran. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, di mana peneliti berperan langsung dalam mengumpulkan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas dua orang tua dan satu anggota keluarga dari anak tunarungu yang berdomisili di Kelurahan Pulo Rembang, Kota Sibolga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap awal, sebagian besar orang tua mengalami kesulitan dalam menerima kenyataan bahwa anak mereka memiliki keterbatasan pendengaran. Reaksi emosional seperti penolakan, kesedihan, rasa bersalah, bahkan perasaan malu sering muncul akibat tekanan sosial dan kurangnya informasi mengenai kondisi anak tunarungu. Namun, seiring berjalannya waktu, dukungan dari pasangan, keluarga besar, serta lingkungan sosial menjadi faktor penting yang membantu proses penerimaan tersebut. Orang tua yang mampu beradaptasi dan menerima kondisi anak secara tulus menunjukkan perubahan perilaku positif, seperti meningkatnya perhatian emosional, kesabaran dalam pengasuhan, serta keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar dan terapi anak.
SEJARAH BERDIRINYA BAGAS GODANG H. RAJA TAGOR DI DESA HUTAIMBARU KOTA PADANGSIDIMPUAN Audy Aulyah Gurusinga; Cindi Aulia; Rizka Yanti Harahap; Marisa Siska Pitri Batubara; Riska Andriani; Riska Husriani; Rezky Adinda Putri Nasution; Sukatno Sukatno
Ristekdik : Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 11, No 3 (2026): RISTEKDIK: JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING - MARET 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/ristekdik.2026.v11i3.221-231

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejarah berdirinya Bagas Godang H. Raja Tagor di Desa Hutaimbaru, Kota Padangsidimpuan, serta menganalisis fungsi dan nilai budaya yang dimilikinya dalam kehidupan masyarakat Angkola. Penelitian menggunakan metode studi literatur dengan mengumpulkan dan menganalisis berbagai sumber tertulis yang relevan, seperti buku, artikel jurnal ilmiah, dokumen pemerintah, serta sumber-sumber lain yang berkaitan dengan sejarah, budaya, dan arsitektur tradisional masyarakat Angkola-Mandailing. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif melalui proses pengelompokan, interpretasi, dan penyusunan informasi berdasarkan fokus penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bagas Godang H. Raja Tagor merupakan salah satu peninggalan budaya yang memiliki nilai historis, sosial, dan budaya yang penting bagi masyarakat Desa Hutaimbaru. Selain berfungsi sebagai kediaman pemimpin adat, Bagas Godang juga menjadi pusat pemerintahan adat, tempat musyawarah, penyelesaian sengketa, serta pelaksanaan berbagai upacara adat. Keberadaannya hingga saat ini mencerminkan upaya masyarakat dalam mempertahankan identitas budaya Angkola melalui pelestarian bangunan tradisional sebagai warisan budaya yang memiliki makna penting bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang.
EKSPLORASI NILAI-NILAI BUDAYA MANDAILING DI BAGAS GODANG RAJA NAJUNGGAL SEBAGAI LANDASAN PRAKTIK KONSELING LINTAS BUDAYA Aisah Simanjuntak; Sukatno Sukatno; Nadia Hermalia; Ardini Hayati Harahap; Nasywaa Aulia Siagian; Hasmaliya Sagala; Lilis Amelia Sari; Nanda Aulia Rizki; Aydil Saleh Harahap; M. Bonar Nauli Harahap
Ristekdik : Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 11, No 3 (2026): RISTEKDIK: JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING - MARET 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/ristekdik.2026.v11i3.%p

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi nilai-nilai budaya Mandailing yang terdapat di Bagas Godang Raja Najunggal serta menganalisis relevansinya sebagai landasan praktik konseling lintas budaya. Bagas Godang Raja Najunggal merupakan rumah adat bersejarah yang menyimpan kekayaan simbol, tradisi, dan nilai-nilai luhur masyarakat Mandailing yang masih lestari hingga kini. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi langsung, wawancara semi-terstruktur dengan penjaga Bagas Godang, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bagas Godang Raja Najunggal mengandung beragam nilai budaya Mandailing yang kuat, meliputi nilai kekerabatan (dalihan na tolu), nilai musyawarah mufakat, nilai religiositas, nilai keharmonisan dengan alam, serta nilai penghormatan terhadap leluhur. Nilai-nilai ini memiliki relevansi fungsional yang signifikan dalam praktik konseling lintas budaya, khususnya dalam membangun rapport, memahami dinamika keluarga, dan merancang intervensi yang kontekstual secara kultural. Penelitian ini menegaskan bahwa konselor yang memahami dan menginternalisasi nilai-nilai budaya lokal akan lebih efektif dalam membantu klien dari latar belakang Mandailing. Simpulan penelitian merekomendasikan agar nilai-nilai budaya Mandailing dijadikan referensi dalam pengembangan model konseling berbasis budaya lokal di Indonesia. 
HUBUNGAN POLA ASUH PERMISIF DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA BERESIKO PUTUS SEKOLAH DI SMP NEGERI 2 MUARA BATANG GADIS Elmatiara Sari Pulungan; Asmaryadi Asmaryadi; Sukatno Sukatno
Ristekdik : Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 11, No 3 (2026): RISTEKDIK: JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING - MARET 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/ristekdik.2026.v11i3.%p

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola asuh permisif orang tua dengan motivasi belajar siswa SMP yang berisiko putus sekolah di Desa Ranto Panjang,  Kecamatan  Muara  Batang  Gadis,  Kabupaten  Mandailing  Natal.  Latar belakang penelitian didasarkan pada fenomena tingginya risiko putus sekolah yang diduga  berkaitan  dengan  rendahnya  motivasi  belajar  akibat  penerapan  pola  asuh permisif, yaitu pengasuhan dengan kebebasan tanpa batas dan minim pengawasan. Penelitian  ini  menggunakan  pendekatan  kuantitatif  dengan  metode  korelasional. Populasi penelitian berjumlah 182 siswa SMP, sedangkan sampel diambil secara purposive sebanyak 28 siswa yang memenuhi kriteria risiko putus sekolah. Data dikumpulkan menggunakan angket tertutup untuk mengukur pola asuh permisif (40 item) dan motivasi belajar (40 item), serta dianalisis melalui uji validitas, reliabilitas, normalitas,  linearitas,  dan  korelasi  Pearson  Product  Moment.  Hasil  penelitian menunjukkan bahwa pola asuh permisif berada pada kategori sedang hingga tinggi pada  mayoritas  responden,  sedangkan  motivasi  belajar  cenderung  sedang  hingga rendah. Uji hipotesis menghasilkan koefisien korelasi r = -0,615 dengan signifikansi 0,001 ( 0,05), yang menunjukkan adanya hubungan negatif yang kuat dan signifikan antara pola asuh permisif dan motivasi belajar. Artinya, semakin tinggi tingkat pola asuh permisif yang diterapkan orang tua, semakin rendah motivasi belajar siswa. Temuan ini menegaskan pentingnya peran orang tua dalam menerapkan pola asuh yang seimbang  agar  dapat  meningkatkan  motivasi  belajar  dan  mencegah  risiko  putus sekolah.
IMPLEMENTASI KONSELING LINTAS BUDAYA DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI SOSIAL PESERTA DIDIK DI LINGKUNGAN MULTIKULTURAL Adinda Maisaroh; Okta Rahmadani; Sukatno Sukatno; Melda Sari; Mardiah Mardiah
Ristekdik : Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 11, No 3 (2026): RISTEKDIK: JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING - MARET 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/ristekdik.2026.v11i3.%p

Abstract

Indonesia sebagai negara dengan keberagaman suku, bahasa, dan budaya yang luar biasa menghadirkan tantangan sekaligus peluang besar dalam dunia pendidikan. Peserta didik yang tumbuh dan belajar dalam lingkungan multikultural memerlukan kompetensi sosial yang memadai agar dapat berinteraksi secara harmonis dengan sesama yang memiliki latar belakang berbeda. Konseling lintas budaya hadir sebagai respons terhadap kebutuhan tersebut, yakni suatu pendekatan sistematis yang membantu individu memahami, menghargai, dan bernavigasi dalam dinamika keberagaman budaya. Artikel ini bertujuan mengkaji secara mendalam bagaimana implementasi konseling lintas budaya dapat berkontribusi terhadap peningkatan kompetensi sosial peserta didik di lingkungan multikultural. Kajian dilakukan menggunakan metode tinjauan sistematis literatur terhadap penelitian-penelitian relevan yang diterbitkan antara tahun 2020 hingga 2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa program konseling lintas budaya yang dirancang secara tepat mampu meningkatkan empati antarbudaya, keterampilan komunikasi interpersonal, kemampuan resolusi konflik, serta rasa saling menghormati di antara peserta didik yang beragam. Integrasi teknologi digital dalam layanan konseling juga membuka peluang dan tantangan baru yang perlu dikelola dengan bijaksana. Implikasi praktis bagi konselor sekolah dan pemangku kebijakan pendidikan dirumuskan sebagai rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti secara operasional.