Claim Missing Document
Check
Articles

Kajian Dehidroksilasi Termal Kaolin menjadi Metakaolin menggunakan Analisis Termogravimetri Aprilina Purbasari; Tjokorde Walmiki Samadhi
ALCHEMY Jurnal Penelitian Kimia Vol 17, No 1 (2021): March
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/alchemy.17.1.47337.105-112

Abstract

Kaolin merupakan mineral yang banyak dimanfaatkan di berbagai industri. Kaolin dapat diubah menjadi metakaolin yang lebih reaktif melalui proses dehidroksilasi termal. Pada penelitian ini, proses dehidroksilasi termal kaolin dari Bangka Belitung menjadi metakaolin dikaji menggunakan analisis termogravimetri pada rentang suhu 30 – 900 °C dengan laju pemanasan 10 °C/menit dalam lingkungan atmosfer udara. Kaolin mengalami empat tahap dekomposisi dan dehidroksilasi kaolin menjadi metakaolin terjadi pada suhu sekitar 450 – 600 °C. Berdasarkan metode Coats dan Redfern, dehidroksilasi kaolin mengikuti model reaksi order satu dengan energi aktivasi 271,66 kJ/mol dan faktor pre-eksponensial 6,13×1015 s-1. Hasil analisis menggunakan spektroskopi X-ray diffraction (XRD) dan Fourier Transform Infrared (FTIR) pada kaolin setelah dipanaskan pada suhu 550 °C selama 3 jam menunjukkan bahwa sebagian besar kaolin telah berubah menjadi metakaolin.Study of Thermal Dehydroxylation of Kaolin to Metakaolin using Thermogravimetric Analysis. Kaolin is a mineral that is widely used in various industries. Kaolin can be converted into metakaolin which is more reactive through thermal dehydroxylation processes. In this study, thermal dehydroxylation process of Bangka Belitung kaolin into metakaolin was studied using thermogravimetric analysis in a temperature range of 30 – 900 °C with a heating rate of 10 oC/min in an air atmosphere condition. Kaolin underwent four stages of decomposition and dehydroxylation of kaolin into metakaolin occured at temperatures around 450 – 600 °C. Based on the Coats and Redfern method, kaolin dehydroxylation followed first order reaction model with activation energy of 271.66 kJ/mol and pre-exponential factor of 6.13×1015 s-1. The analysis using X-ray diffraction (XRD) dan Fourier Transform Infrared (FTIR) spectroscopy on kaolin after heating at temperature of 550 °C for 3 hours showed that most of the kaolin had turned into metakaolin.
PEMBUATAN PUPUK FOSFAT DARI BATUAN FOSFAT ALAM SECARA ACIDULASI Faleh Setia Budi; Aprilina Purbasari
TEKNIK Vol 30, No 2 (2009)
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.274 KB) | DOI: 10.14710/teknik.v30i2.1865

Abstract

Phosphate rock containing P2O5 can be used as raw material of phosphate fertilizer. Phosphate rock canbe found in many areas in Indonesia, but its P2O5-content is relative low. In this research, phosphate rockfrom Rembang (P2O5-content 11.37%) is used as raw material for phosphate fertilizer production byacidulation process using phosphoric acid solution. Operation variables are phosphoric acid concentration(10, 20, 30, 40 %-vol), spraying model of phosphoric acid solution (one hole and many holes), andspraying position of phosphoric acid solution (end, centre, end & centre). The result shows that theincrease of phosphoric acid concentration is proportional to P2O5-content in phosphate fertilizer withhighest P2O5-content in the amount of 18.29%. One-hole spraying model and end-position spraying giveshighest phosphate fertilizer yield in amount of 169.5 grams.
Review: Aplikasi Material Komposit Berbasis Kitosan sebagai Bahan Kemasan Makanan Shalahudin Nur Ayyubi; Kusmiyati Kusmiyati; Aprilina Purbasari; Wahyu Zuli Pratiwi
TEKNIK Vol 42, No 3 (2021)
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/teknik.v42i3.36499

Abstract

Perhatian terhadap biopolimer pada zaman sekarang semakin meningkat disebabkan oleh banyaknya bahan kemasan berbasis plastik yang tak dapat terurai secara alami. Kitosan dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti polimer sintetik untuk material yang baru. Untuk melihat kesesuaian suatu material sebagai bahan pengemas makanan, perlu dilakukan kajian terhadap sifat mekanik dan permeabilitas. Sifat mekanik digunakan untuk memprediksi perilaku film selama pengangkutan, penanganan dan penyimpanan makanan kemasan. Sifat penghalang memainkan peran kunci dalam menjaga kualitas produk makanan. Sifat mekanik dan permeabilitas film kitosan murni cocok untuk kemasan makanan dan kemasan aktif. Sifat-sifat ini dapat dimodifikasi dengan menggabungkan kitosan dengan material lain seperti pemplastis, polisakarida, protein dan lipid. Kombinasi ini menyesuaikan sifat-sifat hasil polimer akhir untuk memperpanjang masa simpan makanan, sambil mempertahankan sifat kualitas makanan dan kemampuan terurai secara alami dari polimer tersebut. Kitosan juga menunjukkan aktivitas antimikroba yang baik terhadap berbagai macam jamur makanan, ragi, dan bakteri gram negatif dan gram positif. Sifat antimikroba ini telah menjadikan kitosan sebagai polimer untuk pengembangan kemasan aktif dengan kemampuan menghambat pertumbuhan mikroorganisme serta meningkatkan keamanan pangan.
PEMBUATAN PUPUK KALIUM-FOSFAT DARI ABU KULIT KAPOK DAN TEPUNG FOSFAT SECARA GRANULASI Aprilina Purbasari; Faleh Setia Budi
TEKNIK Vol 29, No 2 (2008)
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.064 KB) | DOI: 10.14710/teknik.v29i2.1929

Abstract

Kapok-husk ash containing + 28% potassium can be used as raw material of potassium-phosphatefertilizer. In this research, kapok-husk ash is mixed with phosphate powder by granulation process toproduce potassium-phosphate fertilizer. Operation variables are granulation time (4, 7, 10 minutes),kapok-husk content (3, 5, 7, 9 %-w/w), and adhesive liquid type (phosphoric acid solution andaquadest). The result shows that the increasing granulation time is proportional to fertilizer yield;the increasing kapok-husk ash content is proportional to potassium content, but inverselyproportional to phosphate content in fertilizer; and phosphoric acid solution is better than aquadestas adhesive liquid referred to fertilizer yield.
Co-Authors . Suherman Afiatin Afiatin Afri Yenni Agnesia Permatasari Alice Pramashinta Anissa Ardanti Wulandari Ariestya Meta Devi Arif Fajar Utomo Aulia Beta Safira Budi Ismadi Budiyono Budiyono Darmaji, Timothius Adrian Christantyo Dessy Ariyanti Dessy Ariyanti Didi Dwi Anggoro Ekky Febri Ariani Erwan Adi Saputro Faleh Setia Budi Farida Diyah Hapsari Fikri Mudzakir Marasabessy Hafsah Fajrin Aprilianti Hamzah, Fazlena Hargono Hargono Heny Kusumayanti Heny Kusumayanti Herry Santosa Heru Susanto Kristinah Haryani Kusmiyati Kusmiyati Laeli Kurniasari Lesdantina, Dina Lukman Atmaja Lulluil Mahsunnah Luqman Buchori M. Djaeni Machmud Lutfi H Margaretha Praba Aulia Mira Amalia Hapsari Muhammad Adi Irawan Muslim, Aristianto Nita Aryanti Nita Aryanti Noer Abyor Handayani Noer Abyor Handayani Nungki Primastuti Pratama, Pambudi Pajar Purwanto Purwanto Purwanto Purwanto Pury Diana Shintawati Raizka Kharisma Mediani Ratnawati Ratnawati Restu Kusumawardani Rini Kusumawati Samadhi, T Walmiki Saputra, Erwan Adi Sary, Cindy Nella Setia Budi Sasongko Shalahudin Nur Ayyubi Shalahudin Nur Ayyubi Silviana Silviana Silviana Silviana Siswo Sumardiono Slamet Priyanto Sri Rukiyawati Suherman , Suherman Suherman Titik Istirokhatun Tjokorde Walmiki Samadhi Tjokorde Walmiki Samadhi Tjokorde Walmiki Samadhi Tkokorde Walmiki Samadhi Tutuk Djoko Kusworo Vitus Dwi Yunianto Vitus Dwi Yunianto Budi Ismadi Wahyu Zuli Pratiwi Wei Gao Wisnu Jati N Wulandari Dharsono Y. Saptiana Oktari Yazid Bindar Yazid Bindar Yustina Linasari