Claim Missing Document
Check
Articles

Sedimentation Process of TiO2 Nanoparticles in Aqueous Solution Ariyanti, Dessy; Purbasari, Aprilina; Lesdantina, Dina; Saputro, Erwan Adi; Gao, Wei
Reaktor Volume 22 No.2 August 2022
Publisher : Department of Chemical Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/reaktor.22.2.70-76

Abstract

TiO2 nanoparticles, a semiconductor photocatalyst is widely used in various applications especially for water treatment. The common problems for the application are separating the nanoparticles from the water body and recovering it to be reused. This research was conducted to investigate the aggregation and sedimentation properties of TiO2 nanoparticles via chemical addition. The experiment was carried out for 5 hours by varying the pH, ionic strength, and the addition of organic matter such as rhodamine B, methylene orange, and humic acid. The results indicate that pH and ionic strength greatly affect the TiO2 sedimentation process. Sedimentation can be formed properly when the solution is at pH 1 and 14, this happens because pH is close to the isoelectric point. Meanwhile, ionic strength with a concentration of 0.1 M gave the most optimal results in TiO2 sedimentation. In the presence of ionic strength with the appropriate concentration, the thickness of the electrical double layer particles can be reduced so the attractive force increases and sedimentation occur. Meanwhile, in the presence of organic matter, rhodamine B, methylene orange, and humic acid did not significantly affect the formation of TiO2 sedimentation.Keywords: titanium dioxide, sedimentation, ionic strength, isoelectric point, water treatment
PEMANFAATAN ABU TERBANG SEBAGAI GEOPOLIMER UNTUK ADSORPSI LOGAM BERAT Mn Aprilina Purbasari; Nita Aryanti; Vitus Dwi Yunianto; Budi Ismadi
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 9, No 4 (2024)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v9i4.11322

Abstract

Geopolimer merupakan polimer anorganik yang tersusun dari ikatan Si-O-Al. Geopolimer dapat diperoleh dari material alumino-silikat seperti abu terbang yang direaksikan dengan aktivator alkali. Pada penelitian ini, abu terbang yang merupakan limbah padat dari proses pembakaran batubara dimanfaatkan sebagai geopolimer dengan aktivator alkali campuran larutan NaOH 10 N dan larutan natrium silikat. Geopolimer yang diperoleh digunakan untuk mengadsorpsi logam berat mangan (Mn). Faktor-faktor yang mempengaruhi proses adsorpsi, yaitu konsentrasi awal larutan logam berat Mn dan waktu kontak, dipelajari pada penelitian ini selain dilakukan juga kajian isoterm dan kinetika adsorpsi. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi awal larutan logam berat Mn maka semakin rendah efisiensi adsorpsi yang diperoleh. Sementara itu proses adsorpsi logam berat Mn oleh geopolimer mencapai kesetimbangan setelah 120 menit. Berdasarkan kajian isoterm dan kinetika adsorpsi yang telah dilakukan, adsorpsi logam berat Mn oleh geopolimer dari abu terbang mengikuti model isoterm Langmuir dan model kinetika order dua semu.
PEMANFAATAN ABU TERBANG SEBAGAI GEOPOLIMER UNTUK ADSORPSI LOGAM BERAT Mn Aprilina Purbasari; Nita Aryanti; Vitus Dwi Yunianto Budi Ismadi
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol. 9 No. 4 (2024)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v9i4.12510

Abstract

Geopolimer merupakan polimer anorganik yang tersusun dari ikatan Si-O-Al. Geopolimerdapat diperoleh dari material alumino-silikat seperti abu terbang yang direaksikan denganaktivator alkali. Pada penelitian ini, abu terbang yang merupakan limbah padat dari prosespembakaran batubara dimanfaatkan sebagai geopolimer dengan aktivator alkali campuranlarutan NaOH 10 N dan larutan natrium silikat. Geopolimer yang diperoleh digunakan untukmengadsorpsi logam berat mangan (Mn). Faktor-faktor yang mempengaruhi proses adsorpsi,yaitu konsentrasi awal larutan logam berat Mn dan waktu kontak, dipelajari pada penelitianini selain dilakukan juga kajian isoterm dan kinetika adsorpsi. Hasil yang diperolehmenunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi awal larutan logam berat Mn maka semakinrendah efisiensi adsorpsi yang diperoleh. Sementara itu proses adsorpsi logam berat Mn olehgeopolimer mencapai kesetimbangan setelah 120 menit. Berdasarkan kajian isoterm dankinetika adsorpsi yang telah dilakukan, adsorpsi logam berat Mn oleh geopolimer dari abuterbang mengikuti model isoterm Langmuir dan model kinetika order dua semu.
PEMBUATAN SLOW RELEASE FERTILIZER DENGAN MENGGUNAKAN POLIMER AMILUM DAN ASAM AKRILAT SERTA POLIVINIL ALKOHOL SEBAGAI PELAPIS DENGAN MENGGUNAKAN METODA FLUIDIZEDBED Yenni, Afri; ,, Suherman; Purbasari, Aprilina
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Vol. 15 No. 1 (2025): Prosiding SNST 15 Tahun 2025
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembuatan Slow release fertilizer bertujuan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk terhadap laju  pelepasan unsur-unsur nutrisi pupuk pada tanaman. Dalam studi ini dilakukan pembuatan slow release fertilizer dengan menggunakan asam akrilik dan polivinil alkohol (PVA) yang masing-masing dicampur dengan amilum dan Polietilen glikol  (PEG) sebagai bahan tambahan pelapis dengan menggunakan metoda fluidized bed spraying coating (FBSC). Variable yang dipelajari konsentrasi polimer  akrilik/amilum (18 %/0-2 %) dan PVA/amilum (3 %/0-2 %) sedangkan berat PEG yang ditambahkan pada masing-masing campuran adalah 1 gram dan suhu udara bed (pengeringan) (35-55 oC) terhadap kualitas produk urea yang terlapisi yakni efisiensi pelapisan, dissolution rate, persen dustiness, dan Scanning Electron Microscopy (SEM). Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa efisiensi pelapisan urea dengan akrilik/amilum (18/2 %) pada suhu 40oC adalah 14,4 % sedangkan PVA/amilum (3/2 %) adalah 5,2 %.  Efisiensi pelapisan meningkat dengan meningkatnya konsentrasi pelapis dan berkurang jika terjadi peningkatan suhu bed. Hal yang sama terjadi pada dissolution rate, dimana jika konsentrasi pelapis meningkat maka  dissolution rate  akan meningkat kebalikan terhadap suhu bed, suhu bed meningkat maka  dissolution rate  menurun. Dustiness produk meningkat dengan meningkatnya suhu  bed serta konsentrasi pelapis. Pada analisa SEM pelapis urea dengan menggunakan akrilik morfologi lebih bagus dibandingkan dengan PVA. Kata Kunci: Slow Release Fertilizer, akrilik, PVA, amilum, urea, Fluidized Bed Spray
Chemically activated biochar derived from mangrove litter with enhanced CO2 adsorption capacity for carbon sequestration Ariyanti, Dessy; Syifa, Viona; Hapsari, Farida Diyah; Widiasa, I Nyoman; Widayat, Widayat; Silviana, Silviana; Purbasari, Aprilina; Setiabudi, Herma Dina; Hamzah, Fazlena
International Journal of Renewable Energy Development Vol 15, No 3 (2026): May 2026
Publisher : Center of Biomass & Renewable Energy (CBIORE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61435/ijred.2026.62059

Abstract

Overcoming climate change is crucial to ensure environmental sustainability. This research focuses on the development of chemically activated biochar (CAB) from mangrove litters that can be used for CO2 adsorption, which leads to reducing the impacts of climate change. The synthesisation of CAB was carried out via pyrolysis at 400℃ for 2 hours under nitrogen gas flow, followed by treatment using various activating agents (0.1 M of H2SO4, HCl, KOH, and NaOH) for 2 hours with a biochar-to-solution ratio of 1 g : 4 mL. The activation process was designed to enhance surface area, pore characteristics, and functional groups associated with CO2 adsorption performance. The observation on the characteristics of CAB using Scanning Electron Microscope and Energy Dispersive X-Ray (SEM-EDX), The Brunauer, Emmett, Teller and Barret-Joyner-Halenda (BET-BJH), Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), CHN Analyser, and static batch CO2 adsorption tests shows the ability of CAB in capturing CO2 through several possible mechanism. Among the samples, KOH-activated biochar (B-KOH) exhibited the highest CO2 adsorption capacity, reaching 12.47 mmol CO2 g-1 biochar. This high performance is attributed to a potassium (K) composition of 9.74%, which effectively catalyzed the development of a microporous structure, resulting in a micropore volume of 5.927 x 10-3 cm3/g and an optimized average pore width of 1.543 nm. Furthermore, B-KOH maintained the highest O-H group area (1.533 a.u. x cm-1), enhancing its affinity for CO2 molecules. This research offers an innovative and practical solution to reduce greenhouse gases and is expected to have a significant impact, both locally and globally, in advancing sustainable development.
Kajian Dehidroksilasi Termal Kaolin menjadi Metakaolin menggunakan Analisis Termogravimetri Aprilina Purbasari; Tjokorde Walmiki Samadhi
ALCHEMY Jurnal Penelitian Kimia Vol 17, No 1 (2021): March
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/alchemy.17.1.47337.105-112

Abstract

Kaolin merupakan mineral yang banyak dimanfaatkan di berbagai industri. Kaolin dapat diubah menjadi metakaolin yang lebih reaktif melalui proses dehidroksilasi termal. Pada penelitian ini, proses dehidroksilasi termal kaolin dari Bangka Belitung menjadi metakaolin dikaji menggunakan analisis termogravimetri pada rentang suhu 30 – 900 °C dengan laju pemanasan 10 °C/menit dalam lingkungan atmosfer udara. Kaolin mengalami empat tahap dekomposisi dan dehidroksilasi kaolin menjadi metakaolin terjadi pada suhu sekitar 450 – 600 °C. Berdasarkan metode Coats dan Redfern, dehidroksilasi kaolin mengikuti model reaksi order satu dengan energi aktivasi 271,66 kJ/mol dan faktor pre-eksponensial 6,13×1015 s-1. Hasil analisis menggunakan spektroskopi X-ray diffraction (XRD) dan Fourier Transform Infrared (FTIR) pada kaolin setelah dipanaskan pada suhu 550 °C selama 3 jam menunjukkan bahwa sebagian besar kaolin telah berubah menjadi metakaolin.Study of Thermal Dehydroxylation of Kaolin to Metakaolin using Thermogravimetric Analysis. Kaolin is a mineral that is widely used in various industries. Kaolin can be converted into metakaolin which is more reactive through thermal dehydroxylation processes. In this study, thermal dehydroxylation process of Bangka Belitung kaolin into metakaolin was studied using thermogravimetric analysis in a temperature range of 30 – 900 °C with a heating rate of 10 oC/min in an air atmosphere condition. Kaolin underwent four stages of decomposition and dehydroxylation of kaolin into metakaolin occured at temperatures around 450 – 600 °C. Based on the Coats and Redfern method, kaolin dehydroxylation followed first order reaction model with activation energy of 271.66 kJ/mol and pre-exponential factor of 6.13×1015 s-1. The analysis using X-ray diffraction (XRD) dan Fourier Transform Infrared (FTIR) spectroscopy on kaolin after heating at temperature of 550 °C for 3 hours showed that most of the kaolin had turned into metakaolin.
Co-Authors . Suherman . Widayat Afiatin Afiatin Afri Yenni Agnesia Permatasari Alice Pramashinta Andri Cahyo Kumoro Anissa Ardanti Wulandari Ariestya Meta Devi Arif Fajar Utomo Aulia Beta Safira Ayyubi, Shalahudin Nur Budi Ismadi Budiyono Budiyono Darmaji, Timothius Adrian Christantyo Dessy Ariyanti Dessy Ariyanti Didi Dwi Anggoro Ekky Febri Ariani Erwan Adi Saputro Faleh Setia Budi Fikri Mudzakir Marasabessy Hafsah Fajrin Aprilianti Hamzah, Fazlena Hapsari, Farida Diyah Hargono Hargono Heny Kusumayanti Heny Kusumayanti Herry Santosa Heru Susanto I Nyoman Widiasa Kristinah Haryani Laeli Kurniasari Lesdantina, Dina Lukman Atmaja Lulluil Mahsunnah Luqman Buchori M. Djaeni Machmud Lutfi H Margaretha Praba Aulia Mira Amalia Hapsari Muhammad Adi Irawan Muslim, Aristianto Nita Aryanti Nita Aryanti Noer Abyor Handayani Noer Abyor Handayani Nungki Primastuti Pratama, Pambudi Pajar Pratiwi, Wahyu Zuli Purwanto Purwanto Purwanto Purwanto Pury Diana Shintawati Raizka Kharisma Mediani Ratnawati Ratnawati Restu Kusumawardani Rini Kusumawati Samadhi, T Walmiki Saputra, Erwan Adi Sary, Cindy Nella Setia Budi Sasongko Setiabudi, Herma Dina Shalahudin Nur Ayyubi Silviana Silviana Silviana Silviana Silviana Silviana Siswo Sumardiono Slamet Priyanto Sri Rukiyawati Suherman , Suherman Suherman Syifa, Viona Titik Istirokhatun Tjokorde Walmiki Samadhi Tjokorde Walmiki Samadhi Tjokorde Walmiki Samadhi Tkokorde Walmiki Samadhi Tutuk Djoko Kusworo Vitus Dwi Yunianto Vitus Dwi Yunianto Budi Ismadi Wei Gao Wisnu Jati N Wulandari Dharsono Y. Saptiana Oktari Yazid Bindar Yazid Bindar Yustina Linasari