Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Asam Laktat dan Aktivitas SOD Eritrosit pada Fase Pemulihan Setelah Latihan Submaksimal Purnomo, Mochamad
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian untuk membandingkan kadar asam laktat dan aktivitas SOD eritrosit pada fase setelah latihan submaksimal. Hasil menunjukkan bahwa rerata asam laktat awal 2,282 ± 0,555 mMol/L, asam laktat 5 menit setelah latihan 7,936  ± 1,125 mMol/L, asam laktat 60 menit setelah latihan 3,109± 0,501 mMol/L, aktivitas SOD eritrosit awal 70,727 % ± 11,889, aktivitas SOD eritrosit 5 menit setelah latihan 4,364 % ± 2,501, aktivitas SOD eritrosit 60 menit setelah latihan 10,000 % ± 2,828. Persentase kadar asam laktat darah 60 menit setelah latihan 85,099 % ± 11,515, persentase aktivitas SOD eritrosit 60 menit setelah latihan 8,177 % ± 5,132. Uji normalitas menunjukkan nilai p > 0,05. Uji ANOVA sama subyek menunjukkan  asam laktat sebelum dengan 5 menit setelah latihan nilai p sebesar 0,000 (p < 0,05) dan aktivitas SOD eritrosit sebelum latihan dengan 5 menit  setelah latihan nilai p sebesar 0,000 (p < 0,05). Asam laktat 5 menit dengan 60 menit setelah latihan nilai p sebesar 0,000 (p < 0,05), aktivitas SOD eritrosit 5 menit dengan 60 menit setelah latihan memiliki nilai p sebesar 0,001 (p < 0,05). Kesimpulan persentase aktivitas SOD eritrosit lebih kecil dari pada persentase kadar asam laktat darah 60 menit setelah latihan olahraga submaksimal.Kata Kunci: kadar asam laktat darah; aktivitas SOD eritrosit; latihan submaksimalAbstrast The aims of study is to compare the levels of lactic acid and erythrocyte SOD activity in the phase after exercise submaximal. The results showed: the early lactic acid levels 2.282 ± 0.555 mMol / L, lactic acid level 5 minutes after exercise 7.936 ± 1.125 mMol / L, lactic acid levels 60 minutes after exercise 3.109 ± 0.501 mMol / L, activity initial erythrocyte SOD 11.889 ± 70.727%, erythrocyte SOD activity 5 minutes after the workout 4.364% ± 2.501, erythrocyte SOD activity 60 minutes after the workout 10.000% ± 2.828. Percentage of blood lactic acid levels 60 minutes after exercise 11.515 ± 85.099%, and the erythrocyte SOD activity 60 minutes after the workout 8.177% ± 5.132. Normality test p value > 0.05. ANOVA of the same subjects obtained by lactic acid levels before the 5 minutes after the workout has a p value of 0.000 (p <0.05) and erythrocyte SOD activity before exercise by 5 minutes after the workout has a p value of 0.000 (p <0.05). Lactic acid levels in 5 minutes with 60 minutes of exercise a p value of 0.000 (p <0.05) and erythrocyte SOD activity 5 minutes to 60 minutes after exercise has a p value of 0.001 (p<0.05). With the test of independent sample T test on the percentage decrease in blood lactic acid levels in erythrocyte SOD activity 60 minutes after exercise obtained p value of 0.000 (p <0.05).  Conclusion that the percentage of erythrocyte SOD activity is less than the percentage of blood lactic acid levels 60 minutes after exercise submaximal.Keywords: lactic acid; erythrocyte SOD activity; exercise submaximal.
Asam Laktat dan Aktivitas SOD Eritrosit pada Fase Pemulihan Setelah Latihan Submaksimal Purnomo, Mochamad
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol 1, No 2 (2011): December 2011
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/miki.v1i2.2031

Abstract

Tujuan penelitian untuk membandingkan kadar asam laktat dan aktivitas SOD eritrosit pada fase setelah latihan submaksimal. Hasil menunjukkan bahwa rerata asam laktat awal 2,282 ± 0,555 mMol/L, asam laktat 5 menit setelah latihan 7,936  ± 1,125 mMol/L, asam laktat 60 menit setelah latihan 3,109± 0,501 mMol/L, aktivitas SOD eritrosit awal 70,727 % ± 11,889, aktivitas SOD eritrosit 5 menit setelah latihan 4,364 % ± 2,501, aktivitas SOD eritrosit 60 menit setelah latihan 10,000 % ± 2,828. Persentase kadar asam laktat darah 60 menit setelah latihan 85,099 % ± 11,515, persentase aktivitas SOD eritrosit 60 menit setelah latihan 8,177 % ± 5,132. Uji normalitas menunjukkan nilai p > 0,05. Uji ANOVA sama subyek menunjukkan  asam laktat sebelum dengan 5 menit setelah latihan nilai p sebesar 0,000 (p < 0,05) dan aktivitas SOD eritrosit sebelum latihan dengan 5 menit  setelah latihan nilai p sebesar 0,000 (p < 0,05). Asam laktat 5 menit dengan 60 menit setelah latihan nilai p sebesar 0,000 (p < 0,05), aktivitas SOD eritrosit 5 menit dengan 60 menit setelah latihan memiliki nilai p sebesar 0,001 (p < 0,05). Kesimpulan persentase aktivitas SOD eritrosit lebih kecil dari pada persentase kadar asam laktat darah 60 menit setelah latihan olahraga submaksimal.Kata Kunci: kadar asam laktat darah; aktivitas SOD eritrosit; latihan submaksimalAbstrast The aims of study is to compare the levels of lactic acid and erythrocyte SOD activity in the phase after exercise submaximal. The results showed: the early lactic acid levels 2.282 ± 0.555 mMol / L, lactic acid level 5 minutes after exercise 7.936 ± 1.125 mMol / L, lactic acid levels 60 minutes after exercise 3.109 ± 0.501 mMol / L, activity initial erythrocyte SOD 11.889 ± 70.727%, erythrocyte SOD activity 5 minutes after the workout 4.364% ± 2.501, erythrocyte SOD activity 60 minutes after the workout 10.000% ± 2.828. Percentage of blood lactic acid levels 60 minutes after exercise 11.515 ± 85.099%, and the erythrocyte SOD activity 60 minutes after the workout 8.177% ± 5.132. Normality test p value > 0.05. ANOVA of the same subjects obtained by lactic acid levels before the 5 minutes after the workout has a p value of 0.000 (p <0.05) and erythrocyte SOD activity before exercise by 5 minutes after the workout has a p value of 0.000 (p <0.05). Lactic acid levels in 5 minutes with 60 minutes of exercise a p value of 0.000 (p <0.05) and erythrocyte SOD activity 5 minutes to 60 minutes after exercise has a p value of 0.001 (p<0.05). With the test of independent sample T test on the percentage decrease in blood lactic acid levels in erythrocyte SOD activity 60 minutes after exercise obtained p value of 0.000 (p <0.05).  Conclusion that the percentage of erythrocyte SOD activity is less than the percentage of blood lactic acid levels 60 minutes after exercise submaximal.Keywords: lactic acid; erythrocyte SOD activity; exercise submaximal.
ANALISIS MOTIVASI INTRINSIK DAN KUALITAS KEHIDUPAN KERJA TERHADAP KEPUASAN KERJA DALAM MENINGKATKAN KINERJA KARYAWAN (STUDI PADA PT. TEXMACO PERKASA ENGINEERING SEMARANG) Purnomo, Mochamad; Nurdiyanto, Ahmad Dwi
JURNAL EKONOMI MANAJEMEN AKUNTANSI Vol 25, No 44 (2018)
Publisher : LPPM STIE DHARMAPUTRA SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.121 KB)

Abstract

AbstractEmployee performance in a company is very important, one of the factors that can improve performance is intrinsic motivation. Skilled workers with high intrinsic motivation, quality of work life supported by comfort in work and job satisfaction are other factors that can improve performance. The purpose of this study was to analyze the effect of intrinsic motivation and quality of work life on employee performance. Population in this research is employee part of production 272 with amount of sampel counted 74 responder The type of data used is primary data. Data collection using questionnaire distribution method. Data analysis using path analysis. The results showed that intrinsic motivation has an effect on to job satisfaction and employee performance with positive regression direction. Increased intrinsic motivation will improve employee satisfaction and performance. The quality of work life affects job satisfaction and employee performance with positive regression direction. Improving the quality of working life will increase employee satisfaction and performance. Job satisfaction is an intervening variable between the influence of intrinsic motivation on employee performance. Keywords : Intrinsic motivation, Quality of work life, Job satisfaction and Employee performance  AbstrakKinerja karyawan dalam suatu perusahaan sangat penting, salah satu faktor yang dapat meningkatkan kinerja adalah motivasi intrinsik. Tenaga terampil dengan motivasi intrinsik yang tinggi, kualitas kehidupan kerja yang ditunjang dengan kenyamanan dalam bekerja serta kepuasan kerja merupakan faktor lain yang dapat meningkatkan kinerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh motivasi intrinsik dan kualitas kehidupan kerja terhadap kinerja karyawan. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan bagian produksi sebanyak 272 dengan jumlah sampel sebanyak 74 responden. Jenis data yang dipergunakan adalah data primer. Pengumpulan data menggunakan metode penyebaran kuesioner. Analisa data menggunakan path analysis. Hasil penelitian menunjukan bahwa motivasi intrinsik berpengaruh terhadap kepuasan kerja dan kinerja karyawan dengan arah regresi positif. Kenaikan motivasi instrinsik akan meningkatkan kepuasan dan kinerja karyawan. Kualitas kehidupan kerja berpengaruh terhadap kepuasan kerja dan kinerja karyawan dengan arah regresi positif. Peningkatan kualitas kehidupan kerja akan meningkatkan kepuasan dan kinerja karyawan. Kepuasan kerja merupakan variabel intervening diantara pengaruh motivasi intrinsik terhadap kinerja karyawan. Kata kunci : Motivasi intrinsik, Kualitas kehidupan kerja, Kepuasan kerja dan Kinerja karyawan
ANALISIS KONDISI FISIK ATLET BULUTANGKIS PUTRA USIA 16 – 18 TAHUN KEJURPROV JATIM Saputra, Nugraha Dendi; Purnomo, Mochamad
Jurnal Prestasi Olahraga Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Mahasiswa PKO
Publisher : Jurnal Prestasi Olahraga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Atlet bulutangkis membutuhkan kondisi fisik yang maksimal sesuai dengan faktor ? faktor fisik yang telah di latih. Dalam penelitian ini, saya meneliti berbagai parameter kondisi fisik 10 pemain bulutangkis putra usia 16 ? 18 tahun yang telah masuk dalam kejuaraan provinsi Jawa Timur dan sebagai bagian dari tolak ukur pelatihan fisik mereka selama beberapa tahun. Metode analisa ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Dalam setiap olahraga ada tuntutan kondisi fisik yang berbeda. Setelah diukur dengan beberapa alat kadang hasil yang didapat tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Untuk itu setiap atlet sebelum atau sesudah latihan fisik harus bisa menjaga pola hidup mereka seperti dalam pola makan, istirahat dll. Dan pelatih juga harus bisa memotivasi ketika atlet sedang berlatih dengan tujuan agar mereka bisa mendapatkan semangat dalam mengatur pola hidup mereka di rumah. Proses pengambilan data dilakukan dengan melakukan tes power lengan, power kaki, kecepatan, agility, flexibility, Vo2 Max, dan volume paru ? paru. Setelah di teliti dapat disimpulkan : bahwa pada  power lengan 4 atlet (40%) masuk dalam kategori sedang, power kaki 5 atlet (50%) masuk dalam kategori sedang, kecepatan 6 atlet (60%) masuk dalam kategori baik, agility 3 atlet (30%) masuk dalam kategori kurang, flexibility 5 atlet (50%) masuk dalam kategori baik, Vo2 Max 3 atlet (30%) masuk dalam kategori baik, dan pada volume paru ? paru 6 atlet (60%) masuk dalam kategori baik sekali.
ANALISIS KONDISI FISIK PENJAGA GAWANG DI SSB RHEZA MAHASISWA, SSB SAKTI FC, SSB SFC, SSB REEDO, SSB SURYANAGA SETIOKO, ARDI; PURNOMO, MOCHAMAD
Jurnal Prestasi Olahraga Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Jurnal Prestasi Olahraga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penjaga gawang adalah satu-satunya pemain dilapangan yang diperbolehkan memegang bola, tetapi hanya didalam daerah pinaltinya sendiri. Dikebanyakan waktu dalam pertandingan, penjaga gawang dapat menjaga gawangnya aman dengan waspada dan mengarahkan para pemain bertahan. Penjaga gawang merupakan unsur terpenting dalam system pertahanan tim pemain ini harus menguasai semua jenis ketrampilan pemain lain yang diperlukan untuk menjaga gawangnya. Penjaga gawang adalah panglima pertahanan, dan dia harus mampu mengarahkan pemain belakang dan pemain-pemain lainya untuk membentuk tim yang kuat dan sigap. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kondisi fisik penjaga gawang 5 SSB di Surabaya, meliputi daya ledak otot tungkai, kelincahan, kekuatan otot lengan, koordinasi mata dan tangan, kesimbangan. Subyek penelitian ini adalah 1 penjaga gawang di tiap SSB. Metode penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan dengan tes yaitu tes kondisi fisik daya ledak otot tungkai, kelincahan, kekuatan otot lengan, koordinasi mata dan tangan, serta keseimbangan. Hasil penelitian yang sudah diperoleh adalah daya ledak otot tungkai mayoritas sebanyak 80% masuk dalam kategori baik, kelincahan kanan mayoritas sebanyak 80% masuk dalam kategori sedang, kelincahan kiri mayoritas sebanyak 60% masuk dalam kategori sedang, kekuatan otot lengan mayoritas sebanyak 80% masuk dalam kategori sangat kurang, koordinasi mata dan tangan mayoritas sebanyak 80% masuk dalam kategori baik, serta keseimbangan yang mempunyai prosentase 100% masuk dalam kategori sedang . Jadi kesimpulan dalam penelitian ini adalah kondisi fisik penjaga gawang 5 SSB di Surabaya mayoritas masuk dalam kategori baik. Kata Kunci : analisis, kondisi fisik, penjaga gawang The goalkeeper is the only player in the field to be allowed to hold the ball, but only within his own penalty area. Most of the time in the game, the goalkeeper can keep his goalkeeper safe and guard the defenders. Goalkeeper is the most important element in the teams defense system This player must master all kinds of other players skills needed to keep his goal. The goalkeeper is the defense commander, and he should be able to direct the defenders and other players to form a strong and swift team. The purpose of this research is to know the level of physical condition of goalkeeper 5 SSB in Surabaya, covering muscle limb power, agility, arm muscle strength, eye and hand coordination, balance. The subject of this research is 1 goalkeeper in each SSB. This research method is quantitative research with descriptive approach method. The data collected by the test is the physical condition of explosive power of leg muscle, agility, arm muscle strength, eye and hand coordination, and balance. The result of research that has been obtained is the majority of limb muscle explosion as much as 80% enter in good category, majority right agility as much as 80% enter in category medium, majority majority agility as many as 60% enter in category medium, arm muscle strength majority as much 80% category is very lacking, eye and hand eye coordination majority as much as 80% enter in good category, and balance which have 100% percentage included in medium category. So the conclusion in this research is the physical condition of goalkeeper 5 SSB in Surabaya majority enter into good category. Keywords: analysis, physical condition, goalkeeper
EVALUASI PROGRAM KONDISI FISIK CABANG OLAHRAGA BULUTANGKIS PB SURYABAJA SURABAYA HERNINDYA NOVIANTORO, WISNU; PURNOMO, MOCHAMAD
Jurnal Prestasi Olahraga Vol 1, No 3 (2018)
Publisher : Jurnal Prestasi Olahraga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bulutangkis adalah olahraga yang kompleks. Hal ini membuat performa fisik pemain haruslah bagus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi progam latihan fisik atlet PB. Suryabaja, pelatihan dilakukan selama tiga bulan. penilian yang digunakan adalah performa fisik kekuatan, daya tahan otot, kecepatan, kelincahan dan VO2 max. Penelitian ini bersifat kuantitatif. Tes yang digunakan untuk mengetahui kekuatan adalah grip strength, sit up 30 detik, push up 60 detik, lari 30 meter, t test dan MFT. Penelitian dilakukan sebanyak dua tahap yaitu pre test dan post test. Subjek penelitian ini adalah 8 atlet pria bulutangkis PB. Surabaja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa persen peningkatan kemampuan fisik atlet remaja putra PB. Suryabaja. Masalah ini penting untuk diteliti dikarenakan hasil evaluasi ini dapat menjadi suatu cara untuk mengetahui kekurangan atau kelebihan susunan program latihan fisik di PB Suryabaja Surabaya dan bisa memberikan informasi bagi pembina atau pelatih agar dapat memberikan latihan fisik sesuai dengan kebutuhan atlet untuk meningkatkan prestasi atlet PB Suryabaja Surabaya. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa kemampuan kekuatan peras tangan mengalami peningkatan 5,7 persen, kekuatn perut meningkat 6,8 persen, daya tahan otot lengan meningkat 1,01 persen, kecepatan meningkat 3,6 persen, kelincahan meningkat 6,4 persen dan daya tahan meningkat 6,9 persen. Walaupun progam latihan fisik yang telah dilakukan mengalami peningkatan yang masih tergolong tidak signifikan, perlu dilakukan pelatihan dengan waktu yang lama dan selalu mengevaluasi secara berkala agar tidak mengalami penurunan performa dan over training. Kata kunci : bulutangkis, evaluasi, performa fisikBadminton is a complex sport. This makes the players physical performance must be good. The purpose of this research was to evaluate the physical exercise program of PB. Suryabaja athletes, the training was conducted for three months. The assessment used is physical strength, muscle endurance, speed, agility and VO2 max. This research is quantitative. The tests used to determine strength are grip strength, 30 seconds sit up, 60 seconds push up, 30 meter run, t test and MFT. The research was conducted in two stages, namely pre test and post test. The subjects of this study were 8 male badminton athletes from PB Suryabaja, Surabaya. The purpose of this study was to determine the percentage of physical improvement in PB male teenage athletes. This problem is important to study because the results of this evaluation can be a way to find out the shortcomings or strengths of the physical training program in Suryabaja PB Surabaya and can provide information for coaches or trainers to be able to provide physical training in accordance with the needs of athletes to improve the performance of Suryabaja Surabaya PB athletes . Based on the results of research that has been carried out found that the ability of the hand squeeze strength increased 5.7 percent, abdominal strength increased 6.8 percent, arm muscle endurance increased 1.01 percent, speed increased 3.6 percent, agility increased 6.4 percent and endurance increased 6.9 percent. Although the physical exercise program that has been carried out has experienced an increase that is still classified as insignificant, it is necessary to conduct training for a long time and always evaluate regularly so as not to experience a decline in performance and over training. Keywords: badminton, evaluation, physical performance
ANALISIS KONDISI FISIK ATLET BULUTANGKIS KATEGORI REMAJA PADA KLUB PERSATUAN BULUTANGKIS GALAXY SIDOARJO FIDDININA, NADIA; PURNOMO, MOCHAMAD
Jurnal Prestasi Olahraga Vol 1, No 4 (2018)
Publisher : Jurnal Prestasi Olahraga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bulutangkis adalah olahraga individual, dapat dilakukan secara tunggal dan ganda, berdiri pada lapangan berlawanan dan dibatasi net dan menggunakan raket sebagai alat pemukul dan shuttlecock sebagai objek pukul. Kondisi fisik adalah salah satu kesatuan yang utuh dari komponen-komponen yang tidak dapat dipisahkan begitu saja, baik peningkatan maupun pemeliharaannya. Analisis kondisi fisik yang diperlukan untuk pemain bulutangkis, selain tingkat kemampuan tehnik dan mental yang baik, maka unsur-unsur seperti kekuatan, kelincahan, kecepatan harus dibina. Peran kondisi fisik digunakan untuk mendukung pencapaian prestasi olahraga.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai komponen kondisi fisik yang dimiliki atlet bulutangkis galaxy Sidoarjo kategori remaja. Dengan mengetahui besarnya kekuatan otot lengan, kekuatan otot tungkai, daya tahan, kelincahan, dan kecepatan. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan dasar dalam mengetahui hasil kondisi fisik pada atlet persatuan bulutangkis galaxy Sidoarjo.Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif, yaitu menggambarkan apa yang terjadi sebagaimana mestinya pada saat penelitian dilakukan secara sistematis fakta dan karakteristik objek yang diteliti secara tepat, menggunakan metode angka, melalui dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan data hasilnya, untuk mendeskripsikan observasi suatu objek dimana bilangan menjadi bagaian dari pengukuran. Penelitian ini dilakukan berdasarkan data yang diperoleh dari 8 subjek atlet bulutangkis galaxy Sidoarjo.Dari data penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa hasil dari tes yang sudah dilakukan pada atlet persatuan bulutangkis galaxy Sidoarjo kategori remaja pada kekuatan otot lengan mayoritas masuk dalam kategori Baik. Pada kekuatan otot tungkai masuk dalam kategori Sedang. Pada daya tahan masuk dalam kategori Sedang dan Baik. Pada kelincahan masuk dalam kategori Baik. Pada kecepatan lari 30m masuk dalam kategori Sedang dan Baik.
PENGARUH LATIHAN DROP JUMP DAN HALF SQUAT JUMP TERHADAP PENINGKATAN POWER TUNGKAI FIRMA DHITA, ALISHA; PURNOMO, MOCHAMAD
Jurnal Prestasi Olahraga Vol 1, No 4 (2018)
Publisher : Jurnal Prestasi Olahraga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Plyometric merupakan jenis latihan yang menggunakan stretch shortening cycle dari musculotendonius yang menggunakan otot eccentric dilanjutkan dengan concentric. Plyometric sering disebut dengan stretch shortening drills, stretch strengthening drills atau reactive neuromuscular, dalam latihan plyometric membutuhkan latihan strength dan power dengan kecepatan dalam latihan. Dalam penelitian ini model latihan plyometric yang digunakan yaitu drop jump dan half squat jump. Penelitian ini mempunyai tujuan yaitu mengetahui berapa persentase pengaruh latihan drop jump terhadap peningkatan power tungkai, berapa persentase pengaruh latihan half squat jump terhadap peningkatan power tungkai, dan mengetahui latihan manakah yang lebih baik antara latihan drop jump dan half squat jump terhadap power tungkai. Metode penelitian ini adalah penelitian kategori kuantitatif dengan metode eksperimen semu, dikarenakan ada hubungan sebab akibat antara 2 variabel namun tidak menggunakan kelompok kontrol. Pendekatan penelitian ini menggunakan desain two group pretest-posttest design. Sampel yang digunakan adalah 30 siswa putra kelas X SMAN 17 Surabaya yang terbagi menjadi 2 kelompok dengan menggunakan teknik ordinal pairing berdasarkan hasil pretest. Teknik pengumpulan data menggunakan tes vertical jump dengan alat Jump MD untuk mengetahui power tungkai dari masing-masing sampel. Penelitian dilakukan selama 6 minggu dengan frekuensi 3 kali latihan dalam seminggu. Hasil penelitian drop jump berdasarkan hasil paired sample test sig. (2-tailed) 0,000 ? 0,05 menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan hasil latihan drop jump terhadap power tungkai, sedangkan hasil persentase peningkatan power tungkai latihan drop jump sebesar 27,75%. Hasil penelitian half squat jump berdasarkan paired sample test sig. (2-tailed) 0,000 ? 0,05 menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan hasil latihan half squat jump terhadap power tungkai, sedangkan hasil persentase peningkatan power tungkai latihan half squat jump sebesar 9,93%. Terdapat perbedaan antara drop jump dan half squat jump berdasarkan hasil uji t independent sampel didapatkan hasil sig (2-tailed) 0,047 ? 0,05. Kesimpulan latihan yang lebih baik antara drop jump dan half squat jump adalah latihan drop jump. Kata kunci : pengaruh , latihan drop jump, latihan half squat jump, power tungkai
PENGARUH LATIHAN OVERHEAD TRICEP EXTENSION RESISTANCE BAND DAN OVERHEAD TRICEP EXTENSION DUMBELL TERHADAP POWER LENGAN JANNAH, SAMROTUL; PURNOMO, MOCHAMAD
Jurnal Prestasi Olahraga Vol 1, No 4 (2018)
Publisher : Jurnal Prestasi Olahraga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Power merupakan salah satu komponen kondisi fisik yang sangat penting untuk menunjang kekuatan dan kecepatan dalam cabang olahraga karena power merupakan kemampuan otot untuk mengeluaran kekuatan maksimal dalam waktu yang sangat singkat. Ketika seseorang memiliki kekuatan dan kecepatan yang baik maka kemungkinan besar akan memiliki power yang baik pula. Untuk mendapatkan power yang lebih baik dapat ditingkatkan dengan cara latihan yang terstruktur, terprogram dan disiplin. Penelitian ini bertujuan untuk mencari jawaban dari rumusan masalah, yaitu berapa persentase pengaruh latihan overhead tricep extension resistance band terhadap power lengan, berapa persentase latihan overhead tricep extension dumbell terhdap power lengan, latihan manakah yang lebih baik antara latihan overhead tricep extension resistance band dan latihan overhead tricep extension dumbell terhadap power lengan. Metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode eksperimen. Pendekatan dalam penelitian ini adalah none equivalent (pretest and post-test) control group design. Sasaran penelitian sebanyak 30 siswa SMK YAPALIS Krian yang dibagi menjadi 2 kelompok dengan menggunakan teknik ordinal pairing dalam pembagian kelompoknya. Teknik pengumpulan data menggunakan two hand medicine ball put untuk mengetahui power lengan dari setiap masing-masing siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok latihan overhead tricep extension resistance band terdapat peningkatan yang dapat dilihat pada persentase peningkatan sebesar 27,4% dan kelompok latihan overhead tricep extension dumbell juga terdapat peningkatan 10,9%. Dari uji t didapatkan nilai signifikansi 0,016 yang artinya terdapat perbedaan pengaruh latihan overhead tricep extension resistance band dan latihan overhead tricep extension dumbel. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa latihan overhead tricep extension resistance band lebih baik dibandingkan latihan overhead tricep extension dumbell terhadap power lengan. Kata kunci : pengaruh, latihan overhead tricep extension resistance band, latihan overhead tricep extension dumbell, power lengan
PENGARUH LATIHAN CHEST PRESS RESISTANCE BAND DAN PUSH UP TERHADAP KEKUATAN OTOT LENGAN MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA QUTORIKI ROHMAH, MIFTAH; PURNOMO, MOCHAMAD
Jurnal Prestasi Olahraga Vol 1, No 4 (2018)
Publisher : Jurnal Prestasi Olahraga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kondisi fisik menjadi peran penting bagi olahraga khususnya olahraga prestasi dimana penguasaan komponen biomotor seperti daya tahan, kekuatan, kecepatan, dan kelentukan sangat dibutuhkan. Dalam penelitian ini mengkaji tentang kekuatan otot lengan. Kekuatan adalah kemampuan otot atau sekelompok otot mengatasi suatu beban atau tahanan yang berasal pada saat melakukan kegiatan atau aktifitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh latihan chest press resistance band dan push up terhadap kekuatan otot lengan dan mana yang lebih berpengaruh terhadap kekuatan otot lengan mahasiswa Universitas Negeri Surabaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen semu dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini menggunakan sebanyak 34 subjek penelitian di UKM Bulutangkis Universitas Negeri Surabaya putra dan terbagi menjadi 2 kelompok, kelompok pertama adalah kelompok latihan chest press resistance band dan kelompok kedua adalah kelompok latihan push up. Penelitian ini dilakukan selama 6 minggu diluar dari pre-test dan post-test. Hasil dari penelitian ini adalah Sig. (2-tailed) 0,219 &gt; 0,05 ada pada latihan chest press resistance band dan Sig. (2-tailed) 0,001 &lt; 0,05 pada latihan push up. Kesimpulannya adalah latihan push up berpengaruh signifikan daripada latihan chest press resistance band.