Emma Yuniarrahmah, Emma
Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru

Published : 18 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Gambaran regulasi diri dan perilaku kenakalan seksual pada remaja di Batulicin Muhammad Yayan; Emma Yuniarrahmah; Hemy Heryati Anward
Jurnal Ecopsy Vol 3, No 2 (2016): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.731 KB) | DOI: 10.20527/ecopsy.v3i2.2653

Abstract

 ABSTRAKPerilaku kenakalan remaja di Indonesia cukup mengkhawatirkan dan harus segera ditangani. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran mengenai  regulasi diri dan perilaku kenakalan seksual pada remaja di Batulicin. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif. Penggalian data dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan menggunakan tes grafis. Subjek penelitian tiga orang remaja yang bertempat tinggal di Batulicin, terdiri dari dua subjek laki-laki dan satu subjek perempuan. Penelitian menunjukan ketiga subjek memiliki regulasi diri tipe 2 yang merupakan proses jangka pendek menjauhi tujuan diri yang relevan. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa subjek BA memiliki regulasi diri yang lebih baik dari subjek DK dan MK. Komponen regulasi diri masing-masing subjek secara garis besar ingin menentukan dirinya mencapai cita-cita yang diharapkan. Masing-masing subjek memiliki bentuk monitoring, instruksi, evaluasi dan pengenaan kontinjensi terhadap diri yang berbeda-beda. Bentuk perilaku kenakalan seksual yang dilakukan adalah berciuman, berpelukan, memegang daerah sensitif lawan jenis, dan  melakukan hubungan seksual. Kata Kunci: Regulasi Diri, Perilaku Kenakalan Seksual, Remaja ABSTRACTJuvenile delinquency behavior in Indonesia is quite alarming and needs to be immediately addressed. The purpose of this study was to obtain the description of self-regulation and sexual delinquency behavior in adolescents in Batulicin. A qualitative research method was used in the study, and data were collected using the techniques of interviews, observation, and graphics test. Subjects of the study were three adolescents who resided in Batulicin, two males and one female. The results indicated that the three subjects had self-regulation of type 2, which was a short-term process away from the relevant self-goal, and it was also found out that subject BA had better self-regulation than subjects DK and MK. The self-regulation component of each subject in general was that each of them wanted to define himself/herself to achieve the expected ideals. Each subject had different forms of monitoring, instruction, evaluation and imposition of self-contingency. The forms of sexual delinquency behavior they committed were kissing, hugging, holding the sensitive area of the opposite sex, and sexual intercourse. Keywords: Self-regulation, Sexual Delinquency, Behavior, Adolescent
Perbedaan regulasi diri dalam belajar pada siswa kelas akselerasi dan siswa kelas reguler di Banjarmasin Kharisma Adipura; Emma Yuniarrahmah; Sukma Noor Akbar
Jurnal Ecopsy Vol 1, No 3 (2014): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.522 KB) | DOI: 10.20527/ecopsy.v1i3.497

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian komparasi yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan regulasi diri dalam belajar berdasarkan perbedaan kelas dan jenis kelamin. Populasi penelitian ini adalah siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Banjarmasin dan siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 7 Banjarmasin yang diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan alat ukur berupa skala regulasi diri dalam belajar. Hasil analisis data menggunakan Anava dua jalur menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan regulasi diri dalam belajar pada siswa kelas akselerasi dan siswa kelas reguler dan juga tidak ada perbedaan regulasi diri dalam belajar siswa berdasarkan jenis kelamin. 
Gambaran kenakalan berlalu lintas pada remaja dan faktor-faktor penyebab Abdi Irawan; Emma Yuniarrahmah; Hemy Heryati Anward
Jurnal Ecopsy Vol 2, No 3 (2015): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.128 KB) | DOI: 10.20527/ecopsy.v2i3.1928

Abstract

Kenakalan berlalu lintas merupakan salah satu bentuk dari perilaku kenakalan remaja. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran perilaku kenakalan berlalu lintas pada remaja di Batulicin dan faktor-faktor penyebabnya. Subjek dalam penelitian ini berjumlah tiga orang remaja laki-laki yang merupakan pelaku kenakalan berlalu lintas di wilayah Batulicin. Teknik penggalian data pada penelitian ini adalah wawancara mendalam semi terstruktur dan observasi partisipasi pasif. Hasil analisis dari ketiga subjek, diperoleh kesimpulan bahwa gambaran berbagai bentuk kenakalan berlalu lintas yaitu: Tidak memiliki SIM, tidak membawa STNK saat berkendara, tidak menggunakan plat nomor kendaraan, tidak menggunakan helm saat berkendara, tidak memakai kaca spion kanan dan kiri, menggunakan knalpot bersuara nyaring, tidak mengaktifkan fungsi speedo meter, manuver berbahaya, melakukan pelecehan verbal atau perkataan kasar pada pengendara lain, balapan liar, mengebut, menerobos lampu merah, dan berkendara dalam keadaan mabuk. Pada ketiga subjek juga ditemukan faktor yang mempengaruhi kenakalan berlalu lintas yaitu, faktor internal yang meliputi, identitas diri yang negatif, kontrol diri yang rendah, usia awal melakukan kenakalan, jenis kelamin laki-laki, kepercayaan diri rendah, kestabilan emosi kurang, aktualisasi diri terhambat, tidak memiliki model yang baik, penyesuaian sosial yang kurang, perkembangan sosial kurang, dan kurangnya kelekatan pada orang tua,faktor eksternal meliputi, pengaruh teman sebaya yang negatif, prestasi sekolah yang rendah,  status sosial ekonomi menengah kebawah, peran orang tua yang buruk dan kualitas lingkungan sekitar yang buruk. Kata Kunci : Kenakalan, Lalu lintas, Remaja Road traffic delinquency is one form of juvenile delinquency. The purpose of this study was to describe the road traffic delinquency behavior in adolescents in Batulicin and the contributing factors. Subjects in this study were three teenagers who were the perpetrators of road traffic delinquency in Batulicin. Data were gathered through semi-structured in-depth interviews and observation of passive participation. It can be concluded from the results of the  analysis that there were some various types of road traffic delinquency, namely not having a driver's license, not carrying vehicle registration when driving, not using the license plate numbers, not wearing helmets while driving, not wearing the right and left rear-view mirrors, applying loud-voiced exhaust, not activating the Speedo meter, doing dangerous maneuvers, delivering verbal harassment or vulgarity on the other riders, wild racing, speeding, running a red light, and driving in a drunken state. There were some factors found in the three subjects that affected the road traffic delinquency. The first was the internal factors that included negative self-identity, low self-control, mischief in early age, male gender, low self-esteem, less emotional stability, hampered self-actualization, lack of good models, less social adjustment, less social development, and lack of attachment to parents. The second was the external factors including negative peer influences, low school performance, middle and lower socioeconomic status, poor parental role and poor quality of the surrounding environment. Keywords: Delinquency, Traffic, Adolescent
Pengaruh jejaring sosial terhadap kebutuhan afiliasi remaja di Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Galuh Suari Aridarmaputri; Sukma Noor Akbar; Emma Yuniarrahmah
Jurnal Ecopsy Vol 3, No 1 (2016): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.594 KB) | DOI: 10.20527/ecopsy.v3i1.1937

Abstract

 Salah satu kebutuhan manusia adalah berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis untuk menjalin hubungan sosial. Masa remaja merupakan periode transisi perkembangan menuju  masa dewasa, melibatkan perubahan  biologis, kognitif dan sosial. Dorongan untuk berafiliasi muncul begitupula dengan remaja disebabkan karena sebagai makhluk sosial memiliki berbagai macam kebutuhan yang harus dipenuhi. Berbagai sarana komunikasi yang dapat digunakan dalam berinteraksi, sarana komunikasi yang saat ini sedang trend di kalangan remaja adalah komunikasi dengan menggunakan jejaring sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jejaring sosial terhadap kebutuhan afiliasi remaja di Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan sampel berjumlah 90 orang remaja berusia 18-21 tahun yang berasal dari mahasiswa Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat. Teknik sampling yang digunakan yaitu random sampling. Variabel bebas pada penelitian ini adalah Jejaring Sosial, sedangkan variabel tergantungnya adalah Kebutuhan Afiliasi. Metode analisis data yang digunakan adalah regresi polynominal dengan hasil rxy = 0,534, p > 0,05 hal menunjukkan tidak adanya pengaruh  antara jejaring sosial dengan kebutuhan afiliasi remaja di Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat. Disarankan bagi remaja hendaknya menggunakan jejaring sosial  dengan cara yang tepat dan bijaksana sehingga membawa hal positif bagi perkembangan pribadi remaja. Kata kunci : Jejaring Sosial, Kebutuhan Afiliasi, Remaja One of human needs is to interact with people around him/her. Social interaction is a dynamic relationship to build social relationships. Adolescence is a developmental transition into adulthood, involving biological, cognitive and social changes. The impetus to build affiliation also appears in adolescents because as social beings they have a wide range of needs that must be met. The popular means of communication among adolescents that can be used to interact is the means of communication using social network. The objective of this study was to find out the effect of social network on the need for adolescence affiliation at Psychology Study Program of Medical Faculty, Lambung Mangkurat University. This study was a quantitative study with a sample of 90 adolescents aged 18-21 years old, the students of Psychology Study Program, Medical Faculty, Lambung Mangkurat University. The sampling technique was random sampling. The independent variable in this study was the Social Network, while the dependent variable was the Need of Affiliation. Data were analyzed using a polynominal regression with the results of rxy = 0.534, p > 0.05 indicating that there was no effect of social network on the need for adolescence affiliation at Psychology Study Program of Medical Faculty, Lambung Mangkurat University. It is suggested that adolescents should use social network in a right and wise way so as to bring positive effects on their personal development. Keywords: Social Network, Need For Affiliation, Adolescence
Studi tentang persepsi keharmonisan keluarga pada remaja pelaku pemerkosaan di Lapas Klas II A Anak Martapura Saulia Safitri; Hemy Heryati Anward; Emma Yuniarrahmah
Jurnal Ecopsy Vol 1, No 2 (2014): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ecopsy.v1i2.490

Abstract

Masa remaja adalah ambang masa dewasa, yang ditandai dengan memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa, seperti merokok, minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan, dan cenderung terlibat dalam perbuatan seks yang menyimpang dalam hal ini tindakan pemerkosaan. Pemerkosaan merupakan suatu tindakan memaksa, dengan kekerasan maupun ancaman kekerasan yang dilakukan untuk melampiaskan nafsu seksual yang ada dalam diri pelaku kepada korbannya, yang dinilai melangggar norma dan hukum yang berlaku. Fokus penelitian ini diarahkan pada persepsi keharmonisan keluarga pada remaja pelaku pemerkosaan di Lapas Klas II A Anak Martapura, faktor – faktor yang mempengaruhi terjadinya tindakan pemerkosaan yang dilakukan oleh remaja dan jenis pemerkosaan apa yang dilakukan oleh remaja pelaku pemerkosaan. Subjek dalam penelitian ini berjumlah dua orang remaja yang berada di Lapas Klas II A Anak Martapura dengan kasus pemerkosaan. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, melalui wawancara, observasi dan pemeriksaan psikologis (tes grafis) sebagai teknik pengumpulan datanya. Berdasarkan hasil analisis data dapat dikatakan bahwa kedua remaja dalam penelitian ini sama-sama mempersepsikan adanya ketidakharmonisan di dalam keluarganya. Terdapat dua faktor yang mempengaruhi terjadinya tindakan pemerkosaan yaitu faktor internal dan eksternal. Jenis Pemerkosaan yang dilakukan berupa Pemerkosaan untuk Kekuasaan dan Pemerkosaan oleh teman kencan atau pacar.Adolescence is the threshold of adulthood, which is characterized by self focusing on behaviors associated with adult status, such as smoking, drinking, drug abusing, and engaging in deviant sexual acts, which is rape in this case. Rape is an act of force, with violence or threats of violence committed for releasing sexual lust by the rapist to the victim, which is considered against the norms and laws. The study focused on the perception of family harmony in young rapists in Juvenile Facility Class II A Martapura, the factors influencing the occurrence of rape and the types of rape committed by juveniles. The subjects in this study were two juveniles imprisoned in Juvenile Facility Class II A Martapura with rape cases. The study employed qualitative research method, through interview, observation and psychological examination (test graphics) as the data collection techniques. Based on the data analysis it suggested that both adolescents in this study equally perceived disharmony in the family. There were two factors that influenced the occurrence of rape committed by juveniles, namely internal and external factors. The types of rape were the rape for power and the rape for sex committed by a date or a boyfriend.
PENGARUH MARITAL SELF-DISCLOSURE TERHADAP WORK LIFE BALANCE Rika VIra Zwagery; Dwi Nurrachmah; Rahmi Fauzia; Emma Yuniarrahmah
JURNAL EDUCATION AND DEVELOPMENT Vol 12 No 2 (2024): Vol 12 No 2 Mei 2024
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37081/ed.v12i2.5643

Abstract

Perubahan zaman menjadikan terjadinya perkembangan ekonomi dan sosial. Tuntutan ekonomi dan sosial mendorong para wanita untuk mampu bersaing didunia kerja. Melalui semakin banyaknya wanita yang bekerja menjadikan timbulnya konflik peran ganda pada waita yang telah menikah dan bekerja. Sehingga perlu adanya upaya untuk dapat menjebatani timbulnya konflik peran yang terjadi dan upaya untuk dapat meminimalisirnya. Sehingga perlu adanya marital self-disclosure atau kemampuan keterbukaan diri pasangan suami istri yang bekerja.Penelitian ini bertujuan untuk meliha pengaruh marital self disclosure terhadap work life balance. Subjek pada penelitian ini adalah sebanyak 71 wanita yang telah menikah dan bekerja dengan menggunakan purposive sampling sebagai Teknik pengambilan sampel. Alat ukur yang digunakan adalah Marital Self Disclosure Questionnaire (MSDQ) (Waring, Holde, Wesley, 1998) dan Skala Work Family Balance Scale (Fisher, 2009). Hasil analisis regresi sederhana menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif antara marital self-disclosure dengan work life balance. Semakin tinggi marital self disclosure maka semakin tinggi pula work life balance.
Pengaruh Pendidikan Seks di Sekolah terhadap Perilaku Seksual Remaja di MTsN X Barito Timur dan SMAN X Dusun Tengah Kartika, Fitria Ayu; Yuniarrahmah, Emma; Mayangsari, Marina Dwi
Jurnal Kognisia Vol 6, No 1 (2023): April
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jk.v6i1.6709

Abstract

Pada masa ini remaja diharapkan dapat menentukan orientasi seksualnya. Hal ini berkaitan dengan jenis kelamin yang mengacu pada bagaimana seseorang berperilaku dan mencerminkan penampilan dirinya. Jenis kelamin merupakan tanda biologis yang menjadi pembeda manusia berdasarkan kelompok perempuan maupun laki-laki.. Remaja mendapatkan isu perihal seksualitas termasuk perilaku seksual berdasarkan dari sumber yang beragam seperti media massa, elektronik, maupun cetak yang menyediakan isu tentang seksualitas (buku, iklan, dan situs web),dan juga melalui teman sebaya. Selain itu, materi pornografi di internet sangat mudah diperoleh sehingga dapat berpengaruh pada pikiran dan perilaku seksual remaja.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan seks di sekolah terhadap perilaku seksual remaja di MTsN X Barito Timur dan SMAN X Dusun Tengah. Subjek penelitian ini berjumlah 99 partisipan remaja MTsN X Barito Timur dan SMAN X Dusun Tengah yang ditentukan melalui teknik purposive sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan skala Adolescent Sexual Behavior Inventory-Self Report (ACSBI-S) dan angket pendidikan seks. Setelah dilakukan analisis dengan menggunakan analisis regresi linear sederhana didapatkan hasil bahwa hipotesis nol diterima dan Ha ditolak karena nilai signifikansi lebih besar dari nilai koefisen alpha, artinya tidak ada pengaruh pendidikan seks di sekolah terhadap perilaku seksual remaja di MTsN X Barito Timur dan SMAN X Dusun Tengah.
Kecenderungan Narsistik Sebagai Mekanisme Pertahanan Psikologis: Efek Kesepian dan Pola Asuh Permisif pada Dewasa Awal Ul Alimah, Afina Annisa; Yunida, Gina Sofia; Rahimah, Ainun Gina; Sabila, Ahda; Ilahiya, Salma Nur; Yuniarrahmah, Emma
Jurnal Psikologi TALENTA Vol 11, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/talenta.v11i1.74382

Abstract

Personality disorders are often found in society in various forms of behavior, one of which is narcissistic personality disorder (NPD). The main purpose of this research is to find out whether a role of loneliness and permissive parenting on narcissistic tendencies in early adulthood. This research uses quantitative approach with cross sectional study survey technique on 183 early adult around 18–27 years old (M = 17,61) in several regions of Indonesia. This research uses purposive sampling as sampling technique and the data is collected through Narcissistic Admiration and Rivalry Questionnaire (NARQ), UCLA Loneliness Scale Version 3, and Parental Authority Questionnaire (PAQ), which were carried out online by distributing instruments in the form of google forms. Data is analyzed using multiple regression. The result shows that (1) simultaneously loneliness and permissive parenting influence the emergence of narcissistic personality disorder tendencies in early adulthood, (2) partially loneliness is unable to influence the emergence of narcissistic personality disorder tendencies in early adulthood, and (3) partially permissive parenting influences the tendency of narcissistic personality disorder in early adulthood. Results of this study are expected to be a reference for creating educational programs on positive parenting patterns to minimize the emergence of narcissistic personality disorders.