Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

STRATEGI PROMOSI PADA TAHAPAN PRA-PRODUKSI FILM ‘HAJI ASRAMA’ (HAS) Rangga Saptya Mohamad Permana; Lilis Puspitasari; Sri Seti Indriani
ProTVF Vol 2, No 2 (2018): September 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2727.693 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v2i2.20818

Abstract

Kini, kegiatan promosi sebuah film sama pentingnya dengan produksi film itu sendiri. Masyarakat sepertinya lebih melihat bahwa kesuksesan sebuah film itu berdasarkan bagaimana film itu dibuat, bukan dari cara mempromosikannya. Mempromosikan film sejalan dengan pembuatan film, dimulai dari tahap pra-produksi hingga pasca-produksi. Strategi promosi film harus terencana sedemikian rupa sehingga mendapatkan target pasar yang baik juga. Namun, mempromosikan sebuah film memang tidak mudah; tim produksi film harus kreatif dan aktif dalam mempromosikan film tersebut. Film non-komersial seperti film-film independen (indie) terutama film-film lokal di luar Pulau Jawa memiliki beberapa hambatan dalam mempromosikan filmnya karena harus bergelut dengan film-film komersil lainnya. Komunitas Film Sumatera Utara (KOFI Sumut) merupakan salah satu komunitas film yang ada di luar Jawa yang juga tergolong aktif membuat film-film indie berbasis budaya lokal. Penelitian ini dilakukan di Medan, Sumatera Utara. Beberapa anggota yang tergabung dalam KOFI Sumut menjadi narasumber melalui teknik pengambilan sampel purposif. Wawancara dilakukan ketika para anggota tersebut sedang dalam proses produksi film ‘Haji Asrama’ (HAS). Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengambilan data menggunakan wawancara mendalam, FGD, studi dokumentasi dan observasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi promosi yang dilakukan pada tahapan pra-produksi dalam film ‘HAS’. Hasil penelitian mengungkap bahwa terdapat setidaknya empat strategi promosi film yang dilakukan kru film ‘HAS’, yang mengutamakan penayangan video klip sebagai salah satu strategi promosi utama mereka yang kemudian diikuti oleh pembuatan teaser film, promosi lewat media sosial, dilanjutkan dengan pembagian merchandiser.
KAJIAN KRITIS TAYANGAN TELEVISI FAVORIT KELAS MENENGAH PERKOTAAN Ilham Gemiharto; Aceng Abdullah; Lilis Puspitasari
ProTVF Vol 1, No 1 (2017): March 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.405 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v1i1.13329

Abstract

Salah satu ciri masyarakat kelas menengah adalah memiliki disposable income, yaitu dana sisa di luar untuk kebutuhan sandang, pangan, papan dasar yang cukup besar, yaitu sekitar 30 persen dari total pendapatan. Dengan disposable income yang memadai mereka memiliki keleluasaan untuk memenuhi kebutuhan di luar kebutuhan dasar (basic needs) termasuk dalam memilih tayangan televisi favorit. Sebagai penonton televisi, kelas menengah memiliki posisi penting dalam proses komunikasi bermedia (mediated communication). Penelitian mengenai tayangan televisi dilakukan untuk melengkapi kajian tentang televisi, karena bagaimanapun juga pesan yang disampaikan  televisi, baru akan bermakna ketika sampai ke mata penonton, dalam hal ini kelas menengah perkotaan. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana kelas menengah perkotaan memaknai tayangan favorit mereka di televisi nasional. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan studi dokumen serta teknik analisis data deskriptif, dengan informan penelitian adalah kelas menengah perkotaan dengan rentang usia 26 – 50 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwapemaknaan yang dilakukan masing-masing responden satu sama lain berbeda.Kelas menengah tidak sepenuhnya tidak berdaya dalam interaksinya dengan televisi dan menerima begitu saja apa yang ditawarkan oleh televisi. Kelas menengah perkotaan bukanlah audiens yang pasif dalam menonton televisi, melainkan para pribadi yang bebas dan otonom dengan potensi kesadaran kritis terhadap media televisi melalui sikap ingin tahu dan komentar-komentar yang terlontar dari padanya. Tayangan favorit kelas menengah perkotaan kini mulai bergeser dari tayangan sinetron drama dengan ratusan episode kepada tayangan talkshow yang lebih informatif namun tetap menghibur.Kata-kata Kunci: Kajian Kritis, Tayangan Televisi Favorit, Kelas Menengah Perkotaan, Kota Bandung
Pengadaan Media Literasi Melalui Cerita Bergambar dalam Memperkenalkan Dunia Disabilitas kepada Anak Usia Dini hanny hafiar; Retasari Dewi; Lilis Puspitasari
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 10, No 2 (2017): (Accredited Sinta 3)
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v10i2.2747

Abstract

Media literasi yang mengangkat isu disabilitas, masih relatif terbatas, terutama di Indonesia. Padahal pengenalan tentang dunia disabilitas merupakan langkah strategis untuk mengurangi stereotip dan diskriminasi kepada kelompok marjinal ini. Oleh karena itu, perlu kiranya dilakukan upaya penyampaian informasi mengenai disabilitas untuk menanamkan nilai kesetaraan kepada anak sejak usia dini melalui cerita bergambar. Penelitian ini menggunakan konsep proses PR yang dijadikan patokan untuk melakukan kegiatan komunikasi strategis melalui pembuatan media literasi yang efektif. Adapun metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Sedangkan hasil yang diperoleh antara lain adalah gambaran teknis mengenai tahapan fact finding, Planning, communicating dan evaluation. Adapun rekomendasi yang dapat diberikan adalah perlunya keterlibatan organisasi disabilitas untuk menjaga agar isi dan gambar dalam cerita bergambar anak tidak menyentuh sisi sensitif kaum disabilitas. Selain itu diperlukan pula upaya review dari psikologi anak dalam meningkatkan efektivitas penyampaian informasi yang efektif dan sesuai dengan perkembangan usia anak dalam menyerap informasi dalam sebuah media literasi.
FILM INDIE SEBAGAI MEDIA PENUNJANG KEHIDUPAN SOSIAL-BUDAYA DI NANGGROE ACEH DARUSSALAM Rangga Saptya Mohamad Permana; Lilis Puspitasari; Sri Seti Indriani
Jurnal Sosioteknologi Vol. 18 No. 2 (2019)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2019.18.2.1

Abstract

Film merupakan media komunikasi yang amat lekat dengan kehidupan manusia. Dalam konteks manajemen produksi film, terdapat konsep major label (film yang mengutamakan aspek ekonomi) dan indie label (film yang mengutamakan idealisme). Di Nanggroe Aceh Darussalam, film indie menjadi salah satu media informasi dan hiburan bagi seluruh lapisan masyarakat. Tujuan riset ini adalah untuk mengungkap fenomena film indie yang berperan sebagai media penunjang kehidupan sosial-budaya di Nanggroe Aceh Darussalam. Riset ini menggunakan metode studi kasus bersifat deskriptif dengan data yang berjenis kualitatif. Hasil riset menunjukkan film indie dokumenter nonfiksi di Aceh digunakan sebagai media advokasi, literasi informasi, dan sosialisasi masyarakat Aceh, sedangkan film indie fiksi komersial di Aceh digunakan sebagai media hiburan dan pelepas stres masyarakat Aceh. Film is a communication medium that is very closely related to human life. In the context of film production management, there is a concept of major labels (films that prioritize economic aspects) and indie labels (films that prioritize idealism). In Nanggroe Aceh Darussalam, indie films became one of the media of information and entertainment for all levels of society. The purpose of this research is to uncover the phenomenon of indie film that acts as a medium to support socio-cultural life in Nanggroe Aceh Darussalam. This research uses descriptive case study with qualitative data. The research results show that non-fiction documentary indie films in Aceh are used as a medium for advocacy, information literacy, and the socialization of Acehnese society, while commercial fiction indie films in Aceh are used as entertainment and stress relief media for Acehnese
Pelatihan Post-Produksi (Audio-Visual Editing) Film Indie di Armidale English College Soreang, Bandung Rangga Saptya Mohamad Permana; Lilis Puspitasari; Sri Seti Indriani
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 4 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Mathla'ul Anwar Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.442 KB) | DOI: 10.30653/002.201941.88

Abstract

INDIE FILM EDITING TRAINING AT ARMIDALE ENGLISH COLLEGE OF SOREANG, BANDUNG REGENCY. A film can be seen as a medium of mass communication because in a film there are elements of entertainment, education, and information. In fact, a film can be an advocacy media that encourages a social change. In the film production management, there are major label and indie label concepts, where the indie label focuses on film content and filmmakers' freedom of expression. The stages that must be passed by a filmmaker in producing a film starts from the stages of development, pre-production, production, post-production, and distribution. The post-production stage is the most important stage that determines whether a film is classified as a quality film or not because it involves the final touch of a film. Therefore, the author decided to make a community service program in the form of post-production indie film training (audio-visual editing) at Armidale English College, Soreang District, Bandung Regency. The purpose of this training is to provide practical understanding and skills in the field of audio-visual editing to the trainees. The various implementation methods used in this training included media communication methods (audio-visual), lecture methods, interactive methods, pre-test and post-test methods, and simulation methods. The results achieved after the training was carried out were that the trainees experienced increased understanding and skills in the context of indie film post-production, especially in the process of audio-visual films editing. Keywords: Audio-Visual, Editing, Indie Film, Post-Production, Training.
PENGELOLAAN INSTAGRAM @HUMAS_SUMEDANG SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI DAN MEDIA INFORMASI OLEH HUMAS SEKRETARIAT DAERAH SUMEDANG Hafizh Achmed; Yanti Setianti; Lilis Puspitasari
Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 5, No 2 (2019): Oktober 2019 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitia
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.10358/jk.v5i2.670

Abstract

Abstrak Urusan pemerintahan yang di emban oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang menyangkut urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian. Dalam menjalankan urusan pemerintahannya, pemerintahan Kabupaten Sumedang menggunakan media sosial dan yang menjadi fokus dari penelitian ini adalah media sosial Instagram. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengelolaan media sosial Instagram @Humas_sumedang melalui tahap menyebarkan (share), optimalisasi (optimize), mengelola (manage), dan melibatkan (engage). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini, tahapan share Humas Pemerintahan Kabupaten Sumedang menargetkan khalayak milenial. Namun, tidak melakukan riset terlebih dahulu kepada target khalayaknya untuk memiliki perencanaan yang tepat. Pada tahapan optimize, Humas Pemerintahan Kabupaten Sumedang mendengarkan dan memahami apa yang sedang di perbincangkan oleh publiknya. Namun, banyak komentar pada postingan yang tidak ditanggapi oleh Humas Pemerintahan Kabupaten Sumedang. Pada tahapan manage Humas Pemerintahan Kabupaten Sumedang mengawasi pemberitaan yang ada dengan cara menyaring isu. Namun, hal ini dilakukan secara manual, yang menjadikan mereka tidak dapat merespon audiens secara real-time. Tahap terakhir adalah engage, dalam tahap ini @Humas_sumedang sudah menggunakan influencer. Pada Tahap engage, Humas Pemerintahan Kabupaten Sumedang harus lebih kreatif lagi dalam membuat konten untuk menciptakan engagement rate yang bagus. Pada saat ini, Humas Pemerintahan Kabupaten Sumedang terlalu kaku dalam menyampaikan informasi, dan pada akhirnya tidak sesuai dengan yang diinginkan khalayak. Kata kunci : Media Sosial, Instagram, Pemerintahan, Kabupaten Sumedang Abstract Governmental affairs were embraced by the Regional Government of Sumedang Regency, which involved matters: Regional Autonomy, Public Administration, Regional Financial Administration, Regional Devices, Staffing and Coding. In carrying out its government affairs, the Government of Sumedang District uses social media and the focus of this research is Instagram social media. This study aims to find out how to manage Instagram @Humas_sumedang social media through the stages of sharing, optimizing, managing and engaging. This research uses a descriptive method. Data collection techniques through in-depth interviews, observation and literature. The results of this study, the stages of public relations division of the Sumedang District Government target the millennial audience. However, do not do prior research to the target audience to have the right planning. At the optimization stage, the Sumedang District Public Relations Government listens and understands what is being discussed by the public. However, many comments on posts that were not responded to by the Public Relations Government of Sumedang Regency. At the stage of managing the Public Relations of the Sumedang District Government, monitoring the existing news by filtering issues. However, this is done manually, which makes them unable to respond to the audience in real time. The last step is engage, at this stage @Humas_sumedang is already using influencers. In the engage phase, Sumedang District Government Public Relations must be more creative in creating content to create a good engagement rate. At this time, the Sumedang Regency Government Public Relations are too rigid in conveying information, and in the end are not what the public wants. According to researchers, when wanting to present a content that can attract attention, one key is to know in advance who is our target audience. Keywords: Social Media, Instagram, Government, Sumedang Regency
DAYA TARIK TVC SAMPOERNA HIJAU VERSI “MAKAN NASI GORENG” Fajar Syuderajat; Lilis Puspitasari
PRoMEDIA Vol 3, No 1 (2017): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.247 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v3i1.633

Abstract

Penelitian ini berjudul, “Daya Tarik TVC Sampoerna Hijau Versi “Makan Nasi Goreng.” Bertujuan untuk mengetahui bagaimana daya tarik iklan tersebut bagi Warga Kotamadya Bandung. Menggunakan metode deskriptif kuantitatif serta pengumpulan data dilakukan dengan survai melalui kuisioner, wawancara dan studi pustaka. Teknik sampling yang digunakan yaitu sampling klaster banyak tahap. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa sebagian besar responden menyukai tayangan iklan di televisi dikarenakan (1) tertarik dengan konsep iklan yang berbeda dengan iklan rokok lainnya, (2) tokoh-tokoh dalam iklan yang bukan selebriti gagah dan cantik justru dapat merepresentasikan tag-line “asyiknya rame-rame” dengan kuat, (3) alur cerita dengan pendekatan humor dirasa membuat iklan ini berkesan dan mudah diingat. Sehingga dapat disimpulkan, iklan Sampoerna Hijau versi “Makan Nasi Goreng” adalah iklan yang membuat penonton tertarik dengan saran-saran agar mempertahankan tokoh-tokoh dalam iklan untuk versi-versi selanjutnya.
STRATEGI PEMASARAN PUBLIC RELATIONS MD ENTERTAINMENT PADA PEMASARAN FILM HABIBIE & AINUN Trisna Adi Permana; Lilis Puspitasari
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 3, No 1 (2015): June 2015
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.076 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v3i1.7391

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perencanaan, implementasi serta evaluasi dari strategiMarketing Public Relations yang ditetapkan PR MD Entertainment pada film Habibie & Ainun pada tahun2012-2013. Metode yang dilakukan adalah metode deskriptif yang bertujuan melukiskan secara sistematisfakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara faktual dan cermat. Hasil penelitianmenunjukan PR MD Entertainment telah melakukan tahapan-tahapan atau Teknik PR pada film Habiebie danAinun dengan melakukan perencanaan, implementasi serta evaluasi dari program tersebut dari tahun 2012–2013. Kesimpulan penelitian ini adalah PR MD Entertainment melakukan perencanaan Strategi Marketing PRFilm Habibie & Ainun, telah dilakukan dengan baik dan melalui proses persiapkan yang sangat matang, tahapimplementasi strategi MPR MD Entertainment pada pemasaran Film Habibie & Ainun meliputi apa, siapadan bagaimana proses penyampaian pesan-pesan yang akan disampaikan kepada masyarakat. Penggunaanberbagai taktik MPR baik dalam bentuk Offline, Online dan Ground Activity yang menekankan pada UniqueSelling point dari tokoh yang diangkat, disertai advertising/iklan, publisitas, merchandising dan dibantu olehkekuatan word of mouth yang dilakukan oleh media serta Evaluasi Strategi juga dilakukan oleh PR MDEntertainment, diawali dengan melakukan Media Monitoring, serta mencari apa kekurangan, kelebihan,kendala yang dihadapi timnya dalam melaksanakan tugas.Saran penelitian ini dari semua kegiatan MPRyang dilakukan, maka Merchandising tampaknya kurang begitu menarik perhatian. Hal ini disebabkan olehpenjualan semua merchandise Film Habibie & Ainun yang hanya dijual melalui sosial media dan website MDEntertainment, dan diharapkan setelah ini dilakukan penelitian lain mengenai pentingnya kegiatan PublicRelations dalam mendukung pemasaran Film yang lebih spesifik dan mendalam, terutama dari para pekerjafilm Indonesia untuk semakin menggairahkan kembali perfilman nasional yang berkualitas.
Regional film in the dynamics of the national film industry Puspitasari, Lilis; Bajari, Atwar; Hidayat, Dadang Rahmat; Cho, Sung Kyum
ProTVF Vol 8, No 2 (2024): September 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v8i2.54275

Abstract

Background: In the last ten years, the Indonesian film industry has experienced significant growth. The national film industry and the regional film industry, one of which is indie films produced in the city of Makassar. The development of films in Makassar began to receive national public attention with the explosion of the film Uang Panai in 2016. Also, in 2017, the success of the movie Silariang received an audience of 183.340 people. Purpose: Examining the impact of Makassar-produced films on the dynamics of Indonesia's domestic film industry is the main objective of this study, including examining its impact on cultural identity, economic variables, and its role in enhancing the uniqueness of national film. Methods: This study employs a qualitative methodology and gathers data through content analysis, observation, and interviews. Results: According to the study's findings, regional films—like those made in Makassar—are essential to the growth and advancement of the country's film industry. This demonstrates how crucial it is to acknowledge and encourage filmmaking outside of the major industrial hubs. Conclusion: Research shows that regional films have the potential to positively impact economic growth, especially in the regions where they are produced. It encourages the creative economy, creates local employment opportunities, and offers direct and indirect financial benefits. Implications: There is a need to recognize and promote regional films to encourage the diversity of Indonesian films; this study is also expected to provide a comprehensive understanding of the relationship between regional films and the dynamics of Indonesian films.
Distribution system and promotion of Makassar films Puspitasari, Lilis; Bajari, Atwar; Hidayat, Dadang Rahmat; Cho, Sung Kyum
PRofesi Humas Vol 9, No 1 (2024): August 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/prh.v9i1.54456

Abstract

Background: In the film industry, producers and distributors are responsible for producing quality films and ensuring they are effectively accessible to audiences. Therefore, the right distribution strategy is crucial to a film’s success in the market. Effective film distribution contributes to increased visibility of film works, revenue for producers and distributors, and awareness of film culture and stories. The same also applies to film production in Makassar. Local filmmakers often experience many obstacles in distributing films, ranging from limited budgets to the need for more screens due to a lack of audience enthusiasm. Therefore, marketing public relations is needed to reach the audience. Purpose: Therefore, analysing the barriers to distribution and promotion undertaken by filmmakers in Makassar is important to determine the proper distribution and promotion. Methods: This research uses qualitative research methods and uses a case study approach. Results: The research found that cinema remains the primary distribution channel for Makassar films despite limited screens and monopolistic practices. Filmmakers face challenges like unfavourable screening times and locations. Conclusion: Despite the rapid development of technology, cinema is still the most significant distribution and promotion dynamic. Even so, filmmakers can use alternative channels so that the right audience can consume films. In conducting the promotion, it is appropriate for Filmakker Makassar to use online media, offline media, and word of mouth. Through social media, promotion can reach a broader and faster audience; then, through offline media, such as roadshows, the filmmaker is able to attract support from various groups and local officials; the last is word of mouth. Community engagement can also attract potential audiences.