Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Pengaruh Paparan Asap Rokok Tersier terhadap Kadar Kolesterol Total dan Trigliserida Mencit Putra Zam Zam Rachmatullah; Samsudin Surialaga; Annisa Rahmah Furqaani
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 2, No 2 (2020): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v2i2.5847

Abstract

Jumlah perokok aktif saat ini semakin meningkat sehingga perokok pasif dan residu yang tersisa atau paparan asap tersier juga meningkat. Salah satu dampak buruk rokok dapat menyebabkan dislipidemia, di antaranya peningkatan kadar kolesterol total dan trigliserida. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh paparan asap rokok tersier terhadap kadar kolesterol total dan trigliserida. Penelitian ini merupakan eksperimental in vivo dengan subjek penelitian mencit yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kontrol yang tidak diberikan perlakuan dan kelompok perlakuan yang diberikan paparan asap rokok tersier selama 29 hari. Penelitian dilakukan di Laboratorium Hewan FK Unisba selama bulan Maret–April 2009. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kadar kolesterol dan trigliserida antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan (p>0,05). Hasil ini mengindikasikan bahwa paparan asap rokok tersier belum memengaruhi kadar kolesterol total dan trigliserida. Durasi paparan asap rokok akut dengan intensitas ringan yang diberikan pada penelitian ini diduga belum memengaruhi metabolisme lipid. EFFECT OF THIRDHAND SMOKE EXPOSURE ON TOTAL CHOLESTEROL AND TRIGLYCERIDE LEVEL IN MICENowadays, an increase in the number of active smokers also indicates an increase in passive smokers and residual smoke or thirdhand smoke exposure. One of the impact of cigarette is dyslipidemia, characterized by elevation level of total cholesterol and triglycerides. The objective of the study was to analyze the effect of thirdhand smoke exposure on the level of total cholesterol and triglycerides. This study used an in vivo experimental design with one cigarette a day and 20 mice as the subject. The subjects divided into 2 groups, the control group received no treatment and the treatment group received thirdhand smoke exposure for 29 days. The study was conducted of Laboratorium Hewan FK Unisba during March–April 2009. The result of the study showed there was no significant difference in the level of total cholesterol and triglycerides among the control group and the treatment group (p>0.05). The result indicated that thirdhand smoke exposure had no effect on the level of total cholesterol and triglycerides. The duration of acute cigarette smoke exposure with low intensity given in this study suspected to not affect the lipid metabolism.
Gambaran Status Sosioekonomi Orangtua Murid Usia 5–12 Tahun di SD Pertiwi Kecamatan Bandung Wetan yang Mengalami Gizi Kurang Fildza Khadijah; Samsudin Surialaga; Franseda Franseda
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 3, No 1 (2021): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v3i1.7383

Abstract

Gizi kurang masih menjadi suatu masalah kesehatan terutama di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Salah satu faktor yang berkaitan dengan kejadian ini adalah kondisi sosioekonomi. Terlepas dari angka kemiskinan yang cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir, masih banyak kasus gizi kurang yang ditemukan terutama pada anak usia 5–12 tahun di Kota Bandung.  Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran status sosioekonomi keluarga pada anak usia 5–12 tahun yang mengalami gizi kurang di Kota Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Subjek penelitian ini yaitu orangtua dan murid usia 5–12 tahun di SD Pertiwi, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa form antropometri yang disertai dengan panduan pengukuran bagi orangtua untuk menilai status gizi anak dan kuesioner untuk menilai status sosioekonomi orangtua. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif univariat untuk menggambarkan karakteristik variabel gizi dan sosioekonomi. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebanyak 15,4% dari 130 murid usia 5–12 tahun di SD Pertiwi Kota Bandung mengalami gizi kurang. Sebesar 72,2% murid yang mengalami gizi kurang tersebut berasal dari keluarga dengan status sosioekonomi sedang, sedangkan 16,7% berasal dari keluarga dengan status sosioekonomi rendah. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kejadian gizi kurang pada murid usia 5–12 tahun di SD Pertiwi Kecamatan Bandung Wetan cenderung terjadi pada keluarga dengan status sosioekonomi sedang-rendah. The Socioeconomic Status of Parents with Undernutritioned Children in Students Aged 5–12 Years at SD Pertiwi Bandung Wetan DistrictUndernutrition is still a burden in health problem, especially in developing countries, including Indonesia. One factor related to this incident is the socioeconomic conditions. There are still many cases of undernutrition found especially among children aged 5–12 years in Bandung, despite the poverty rate that has tended to decline in the past few years. The goal of this study was to provide an overview of the socioeconomic status of families with undernutritioned children aged 5–12 years in Bandung. This is a descriptive study with cross sectional design. The subjects of this study are parents and students aged 5–12 years at SD Pertiwi, Bandung Wetan District, Bandung City. The instruments used in this study are an anthropometric form accompanied by the measurement guide for parents to assess the nutritional status of children and a questionnaire to assess the socioeconomic status of parents. This study used univariate analysis methods to describe the characteristics of the nutritional and socioeconomic variables. From the analysis, it was found that as many as 15.4% of 130 students aged 5–12 years at SD Pertiwi, Bandung City, experienced undernutrition. 72.2% of students experiencing undernutrition come from families with moderate socioeconomic status, while 16.7% come from families with low socioeconomic status. From the study, it can be concluded that undernutrition in children aged 5–12 years in SD Pertiwi, Bandung Wetan District, tends to occur in families with moderate to low socioeconomic status.
Scoping Review: Efek Debu terhadap Fungsi Paru pada Penambang Batubara Wiwin Winarti; Samsudin Surialaga; Yuniarti
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.626

Abstract

Abstract. Dust is a solid particle measuring 1-100 μm in the air due to the process of crushing, breaking, and dismantling organic and inorganic materials such as coal. The coal mining process produces fine dust measuring 2.5 μm which can cause lung function disorders and cause respiratory diseases. The purpose of this scoping review is to determine the effect of dust on lung function in coal miners based on the research of the last ten years. This research method was carried out by scoping reviews of articles published by the database Pubmed, SpringerLink, Science direct, and Pro-Quest, published from 2011 to 2021. From 3,687 articles were filtered based on the inclusion criteria into 161 articles, then continued with filtration using the exclusion criteria were obtained 150 articles, and there were six articles duplications so that the articles that met the eligibility criteria based on PICOS were five articles. The analysis results of all articles showed that coal miners experienced a decrease in lung function characterized by decreased spirometry results. The conclusion of this study stated that dust affected lung function in coal miners characterized by impaired lung function either obstructive, restrictive, or mixed with the risk factors are age, smoking, years of service, personal dust exposure, and mine size. Abstrak. Debu merupakan partikel padat berukuran 1-100 μm yang berada di udara karena proses penghancuran, pemecahan dan pembongkaran bahan organik maupun nonorganik contohnya batubara. Proses penambangan batubara menghasilkan debu halus berukuran 2,5 μm yang dapat menyebabkan gangguan fungsi paru dan menimbulkan penyakit pernapasan. Scoping review ini bertujuan untuk mengetahui efek debu terhadap fungsi paru pada penambang batubara berdasarkan penelitian 10 tahun terakhir. Metode penelitian ini dilakukan dengan cara scoping review artikel yang dipublikasikan oleh database Pubmed, Springerlink, Science direct dan Pro-Quest, diterbitkan pada tahun 2011 sampai 2021. Dari 3.687 artikel dilakukan filtrasi berdasarkan kriteria inklusi terdapat 161 artikel, kemudian dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan kriteria ekslusi didapat sebanyak 150 artikel dan terdapat duplikasi sebanyak 6 artikel sehingga artikel yang memenuhi kriteria kelayakan berdasarkan PICOS yaitu 5 artikel. Hasil analisis semua artikel menunjukan penambang batubara mengalami penurunan fungsi paru ditandai dengan hasil spirometri yang menurun. Kesimpulan penelitian ini menunjukan debu memiliki efek terhadap fungsi paru pada penambang batubara ditandai dengan adanya gangguan fungsi paru baik obstruktif, restriktif ataupun campuran dengan faktor resikonya adalah usia, merokok, masa kerja, paparan debu personal, dan ukuran tambang.
Kaitan Frekuensi Konsumsi Makanan Cepat Saji dengan Kejadian Hipertensi pada Usia Produktif Vira Yuliana Suprayitno; Nurul Romadhona; Samsudin Surialaga; Nabilla Azmi Hermawan
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.5951

Abstract

Abstract. Hypertension is a non-communicable disease (NCD) which has recently become a serious problem. Hypertension that occurs in terms of age range which was originally only in the elderly is now shifting to occur in young adults. Fast food is a trend that is in great demand by young adults. The purpose of this study was to analyze the relationship between fast food consumption habits and the incidence of hypertension in young adults at the UPT Puskesmas Pasirkaliki, Bandung City. The research method used is analytic observational with a case control approach, selected by non-probability purposive sampling technique. There were 162 subjects who met the inclusion criteria for cases and controls. Data collection was taken through primary data by filling out a fast food frequency questionnaire and secondary data from medical records. Processing data using Chi-square test. This research was conducted from November 2021 to September 2022. The results showed that there is no relationship between fast food consumption habits and the incidence of hypertension with a P value of 0,984 (p>0,05). The incidence of hypertension in young adults occurs not only due to fast food consumption, but can also be caused by stress factors, gender, and smoking habits. Abstrak. Hipertensi adalah penyakit tidak menular (PTM) yang akhir-akhir ini menjadi masalah serius. Hipertensi yang terjadi ini dari segi rentang usia yang awalnya hanya pada lansia sekarang bergeser terjadi pada usia dewasa muda. Makanan cepat saji menjadi tren yang banyak diminati oleh kalangan dewasa muda. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara kebiasaan konsumsi makanan cepat saji dengan kejadian hipertensi pada usia dewasa muda di UPT Puskesmas Pasirkaliki Kota Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan case control, dipilih dengan teknik non probability purposive sampling. Subjek berjumlah 162 orang yang memenuhi kriteria inklusi kasus dan kontrol. Pengumpulan data diambil melalui data primer dengan pengisian kuesioner frekuensi makanan cepat saji dan data sekunder dari rekam medik. Pengolahan data menggunakan uji Chi-square. Penelitian ini dilakukan dari bulan November tahun 2021 sampai bulan September tahun 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwatidak terdapat hubungan antara kebiasaan konsumsi makanan cepat saji dengan kejadian hipertensi dengan P value 0,984 (p>0,05). Kejadian hipertensi pada usia dewasa muda terjadi bukan hanya karena konsumsi makanan cepat saji, melainkan juga bisa disebabkan oleh faktor stress, jenis kelamin, dan kebiasaan merokok.
Hubungan Derajat Kegiatan Fisik Serta Konsumsi Air Terhadap Kejadian Konstipasi Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Maulina Isnaini Sugiantoro; Mirasari Putri; Samsudin Surialaga
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6978

Abstract

Abstract. This literature study was conducted to collect data on whether there is an incidence of constipation in students of the Faculty of Medicine at the Islamic University of Bandung due to several factors causing constipation, namely low levels of physical activity and low water consumption. where Constipation is reduced bowel movements associated with hard stools and difficulty having bowel movements (BAB). Several factors that can increase constipation are physical activity and lack of water consumption. A low level of physical activity will reduce intestinal peristalsis, while less water consumption will decrease the stretch response of the stomach and increase fecal water uptake in a person's low hydration situation. This literature study uses an observational analytic research design with a cross sectional study method on willing respondents, namely students of the Faculty of Medicine, Bandung Islamic University in 2021. Physical activity levels were measured using the International Physical Activity Questionnaires (IPAQ) questionnaire, water consumption levels were measured using daily adequacy rates RI Ministry of Health fluids and constipation variables were measured using the Patient Assessment of Constipation-Symptomp (PAC-SYM) questionnaire. The conclusion of this study is that there is no significant relationship between the level of physical activity and water consumption on the incidence of constipation in students of the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung Keywords: Consipation, Water consumption, Level of physical activity Abstrak. Studi litelatur ini dilakukan untuk mengumpulkan data apakah terdapat kejadian konstipasi pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung yang disebabkan karna beberapa faktor penyebab dari konstipasi yaitu derajat aktivitas fisik yang rendah dan konsumsi air putih yang rendah. dimana Konstipasi adalah berkurangnya pergerakan usus yang berasosiasi dengan keadaan feses yang keras dan sulit untuk melakukan Buang Air Besar (BAB). Beberapa faktor yang dapat meningkatkan konstipasi adalah aktifitas fisik dan konsumsi air putih yang kurang. Tingkat aktifitas fisik yang kurang akan menurunkan gerak peristaltik usus sedangkan konsumsi air yang kurang akan menurunkan respon regang lambung dan meningkatkan ambilan air feses dalam situasi hidrasi seseorang yang rendah. Studi litelatur ini menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan metode cross sectional study pada responden yang bersedia yaitu mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung tahun 2021. tingkat aktivitas fisik diukur menggunakan kuesioner International Physical Activity Questionnaires (IPAQ), tingkat konsumsi air putih diukur menggunakan angka kecukupan harian cairan Kemenkes RI dan variabel konstipasi diukur menggunakan kuesioner Patient Assesment of Constipation-Symptomp (PAC-SYM). Simpulan penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat aktifitas fisik dan konsumsi air terhadap kejadian konstipasi pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Kata Kunci: Konstipasi, Konsumsi air, Tingkat aktifitas fisik
Karakteristik Nyeri dan Penggunaan Alat Bantu Jalan Pada Pasien Osterartritis Genu Di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Banjar Zahra Shafa Qamilla; Samsudin Surialaga; Uci Ary Lantika
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.5614

Abstract

Abstract. Osteoarthritis (OA) is a degenerative joint disease that results in joint cartilage degradation. According to the World Health Organization (WHO), OA will affect 40% of the older population. West Java (8.86%) is one of the provinces in Indonesia with the highest prevalence of joint disease. Both pharmacological and non-pharmacological OA treatment methods have a variety of possibilities. One non-pharmacological treatment option for OA is the use of a walker. In this study, patients with genu osteoarthritis at the Medical Rehabilitation Unit of the Regional General Hospital (RSUD) in Banjar City will have their pain characteristics and walker usage examined. In this study, a cross sectional methodology is combined with a descriptive methodology. Random sampling is the sampling strategy. 222 participants' medical records from the Medical Rehabilitation Installation of RSUD in Banjar City were used to create the samples. According to the study's findings, patients over the age of 60 make up more than half (55%) of those with osteoarthritis who were given a diagnosis at the RSUD in Banjar City between January 2019 and January 2022. There were 211 patients overall, and 95 percent of them were female. 95 percent of the patients, or 211 people, did not need a cane or walker. Most BMI patients had excess weight of up to 111 (50%). Most of the people (80%) reported moderate pain on the VAS scale. Each patient may have different age, gender, BMI, use of walkers, and pain features. Most individuals just have minimal pain and don't need a walker. Keywords: Characteristics, Osteoarthritis, Pain, Walker Abstrak. Osteoartritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif yang melibatkan kerusakan tulang rawan sendi. World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa 40% dari populasi lansia akan menderita OA. Salah satu provinsi dengan prevalensi penyakit sendi terbanyak di Indonesia adalah Jawa Barat (8,86%). Terdapat berbagai pilihan modalitas pengobatan OA, baik farmakologis maupun nonfarmakologis. Penggunaan alat bantu menjadi salah satu pilihan terapi non farmakologis OA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik nyeri dan penggunaan alat bantu jalan pada pasien osteoartritis genu di Instalasi Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Banjar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel adalah random sampling. Jumlah sampel sebanyak 222 subjek menggunakan data rekam medis di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUD Kota Banjar. Hasil penelitian ini menunjukan lebih dari setengah pasien (55%) yang mengalami osteoartritis genu di RSUD Kota Banjar Periode Januari 2019 hingga Januari 2022 adalah kelompok usia lebih dari 60 tahun. Secara umum, pasien berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 211 pasien (95%). Hampir seluruh pasien (95%) atau 211 orang tidak menggunakan tongkat atau alat bantu jalan. Mayoritas IMT pasien adalah overweight sebanyak 111 (50%). Sebagian besar (80%) subjek mengalami nyeri dengan skala VAS sedang. Karakteristik yang ditinjau dari usia, jenis kelamin, IMT, penggunaan alat bantu jalan, dan nyeri dapat bervariasi pada setiap pasien. Mayoritas pasien tidak menggunakan alat bantu jalan dan mengalami nyeri sedang. Kata Kunci: Alat bantu jalan, Karakteristik, Nyeri, Osteoartritis
Gambaran Karakteristik Pasien Diabetes Melitus tipe 2 dengan Hipertensi di RSUD Al Ihsan Bandung Miska Amani; Siti Annisa Devi Trusda; Samsudin Surialaga
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6277

Abstract

Abstract Type 2 diabetes mellitus is a set of metabolic symptoms characterized by hyperglycemia, occurring due to insulin resistance, insulin malfunction, or both.. DM type 2 is a disease that has had a high increase in prevalence, over the past 15 years in Bandung. Hypertension is the most common condition accompanying DM Type 2. The purpose of this study was to determine the characteristic picture of type 2 DM patients with hypertension in Al-Ihsan Regional General Hospital Bandung for the 2019-2021 period. This research is an observational descriptive study conducted with a cross-sectional design. The subjects in this study were dm type 2 patients with hypertension at Al-Ihsan Regional General Hospital Bandung for the 2019-2021 period, totaling 2057 people selected with total sampling, using secondary data from medical record. The results of this study showed that in type 2 DM patients with hypertension at Al-Ihsan Hospital Bandung more occurred at the age of 55-64 years with a total of 815 (39.62%), there were 1383 female patients (67.23%), and the majority of patients residing in Bandung Regency, namely 1983 (96.40%). Abstrak Diabetes melitus (DM) tipe 2 adalah sekumpulan gejala metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia, terjadi karena resistensi insulin, kegagalan fungsi insulin, atau keduanya. DM tipe 2 mengalami peningkatan prevalensi tinggi selama 15 tahun terakhir di Bandung. Hipertensi merupakan keadaan yang paling sering menyertai DM Tipe 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran karakteristik pasien DM tipe 2 dengan hipertensi di Rumah Sakit Al-Ihsan Bandung periode tahun 2019-2021. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional yang dilakukan dengan rancangan potong lintang. Subjek dalam penelitian ini merupakan pasien DM tipe 2 dengan hipertensi di RSUD Al-Ihsan Bandung periode 2019-2021 yang berjumlah 2057 orang dipilih dengan total sampling dengan menggunakan data sekunder dari rekam medis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada pasien DM tipe 2 dengan hipertensi di RSUD Al-Ihsan Bandung lebih banyak terjadi pada usia 55-64 tahun dengan jumlah 815 (39,62%), pasien perempuan lebih banyak dibandingkan pasien laki-laki yang berjumlah 1383 (67,23%), serta mayoritas pasien bertempat tinggal di Kabupaten Bandung yaitu sebanyak 1983 (96,40%).
Hubungan Aktivitas Fisik dan Konsumsi Air dengan Konstipasi pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Islam Bandung Maulina Isnaini Sugiantoro; Samsudin Surialaga; Mirasari Putri
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 5, No 2 (2023): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v5i2.11758

Abstract

AbstrakKurang aktivitas fisik dan konsumsi air putih merupakan faktor yang dapat menyebabkan konstipasi. Aktivitas fisik yang kurang akan mengurangi pergerakan peristaltik usus, sedangkan konsumsi air putih yang kurang akan meningkatkan respons regang lambung dan meningkatkan ambilan air feses dalam kondisi hidrasi yang rendah. Penelitian ini dirancang secara analitik observasional dan menggunakan metode cross-sectional dengan 89 responden. Penelitian dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (FK Unisba) pada bulan Maret–April 2022. Untuk mengukur variabel tingkat aktivitas fisik, kuesioner International Physical Activity Questionnaires (IPAQ) digunakan, angka kecukupan cairan harian Kemenkes RI digunakan, dan kuesioner Patient Assesment of Constipation-Symptoms (PAC-SYM) digunakan. Responden penelitian ini sebagian besar terdiri dari perempuan (74%). Konsumsi cairan harian sebagian besar berada di kategori rendah (94%). Responden dalam penelitian ini memiliki tingkat aktivitas fisik ringan (38%) dan aktivitas fisik sedang (42%), sedangkan dengan aktivitas fisik berat hanya 20%. Hasil analisis dua arah menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna jumlah konsumsi air (p=0,156) dan aktivitas fisik (p=0,675) dengan terjadi konstipasi. Simpulan studi, yaitu pada mahasiswa FK Unisba tidak ada hubungan aktivitas fisik dan konsumsi air dengan kostipasi. Relationship between Physical Activity Level and Water Consumption with Constipation of Faculty of Medicine StudentsAbstractLack of physical activity and water consumption are factors that can cause constipation. Less physical activity will reduce the peristaltic movement of the intestines. In contrast, less consumption of white water will enhance the stress response of the stomach and increase the intake of fecal water in low hydration conditions. The study was designed observational analytically and used cross-sectional methods with 89 respondents. The study was conducted at the Medical Faculty of Universitas Islam Bandung (FK Unisba) in March-April 2022. To measure the variables of the level of physical activity, the International Physical Activity Questionnaires (IPAQ) questionnaires were used, the daily fluid adequacy figures of Kemenkes RI were used, and the Patient Assessment of Constipation- Symptoms (PAC-SYM) questionnaire was used. The majority of respondents in this study were women (74%). Daily fluid consumption is mostly in the low category (94%). Respondents in this study had mild physical activity (38%) and moderate physical activity (42%), while with heavy physical activity only 20%. The two-way analysis showed no meaningful relationship between the amount of water consumption (p=0.156) and physical activity (p =0.675) with constipation. The study concluded that there was no relationship between physical activity and water consumption with constipation for students of the FK Unisba-Bandung.
Perbedaan Skor Domain Health Promoting Lifestyle Antar Kategori Persentase Lemak Tubuh Ahmad Rizki Akbar Dwiputra; Rizki Suganda Prawiradilaga; Samsudin Surialaga
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10693

Abstract

Abstract. Body fat percentage (%BF) is a primary concern in the context of health and lifestyle. Excessive body fat can lead to serious health issues and contribute to the risk of chronic diseases, while the pressure to achieve an 'ideal' body can negatively impact an individual's psychological aspects. This study aims to observe differences in the health promoting lifestyle profile-2 (HPLP-II) domains across %BF categories among students of the Faculty of Medicine. This research employed an observational analytic quantitative method with a cross-sectional approach. The study involved 96 active medical faculty students willing to measure their %BF and complete the questionnaire as inclusion criteria. Exclusion criteria included incomplete questionnaire responses and a history of congenital diseases. Sampling was done using purposive sampling technique. Body fat percentage was measured using bioimpedance analysis and categorized into low, normal, overweight, and obesity. The health-promoting lifestyle profile domains were assessed using the HPLP-II questionnaire, which includes Health Responsibility (HR), Physical Activity (PA), Nutrition (N), Spiritual Growth (SG), Interpersonal Relationship (IR), and Stress Management (SM) domains. The results were analyzed using one-way ANOVA. The study found no significant differences across %BF categories in all HPLP domains: HR (p=0.964), PA (p=0.532), N (p=0.616), SG (p=0.547), IR (p=0.547), and SM (p=0.376). The lack of significant differences in this study may be due to other factors influencing %BF, such as genetics, metabolism, and culture. Abstrak. Persentase lemak tubuh (%LT) menjadi perhatian utama dalam konteks kesehatan dan gaya hidup. Lemak tubuh yang berlebihan dapat menyebabkan masalah kesehatan serius dan berkontribusi pada risiko penyakit kronis, sementara tekanan untuk mencapai tubuh "ideal" dapat berdampak negatif pada aspek psikologis individu. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan domain health promoting lifestyle profile-2 (HPLP-II) antar kategori %LT pada mahasiswa Fakultas Kedokteran. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian ini berjumlah 96 orang yang merupakan mahasiswa aktif Fakultas Kedokteran, bersedia melakukan pengukuran %LT, dan bersedia mengisi kuesioner sebagai kriteria inklusi. Kriteria eksklusi penelitian ini meliputi kuesioner tidak diisi dengan lengkap dan memiliki riwayat penyakit kongenital. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Persentase lemak tubuh diukur dengan metode bioimpedance analysis dan dikategorikan menjadi rendah, normal, overweight, dan obesitas. Domain profil gaya hidup promosi kesehatan dinilai dengan menggunakan kuesioner HPLP-II yang mencakup domain Health Responsibility (HR), Physical Activity (PA), Nutrition (N), Spiritual Growth (SG), Interpersonal Relationship (IR), dan Stress Management (SM). Hasil dari penelitian dianalisis dengan menggunakan one-way ANOVA. Hasil dari penelitian ini menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan antar kategori %LT pada semua domain HPLP: HR (p=0,964), PA (p=0,532), N (p=0,616), SG (p=0,547), IR (p=0,547), dan SM (p=0,376). Perbedaan yang tidak signifikan pada penelitian ini mungkin terjadi karena banyak faktor lain yang mempengaruhi %LT seperti genetik, metabolisme, dan budaya.
Studi Literatur: Peran Imunisasi BCG dan Riwayat Kontak dalam Perjalanan Penyakit Tuberkulosis Anak Haura Maulidayanthi; Heni Muflihah; Samsudin Surialaga
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10962

Abstract

Abstract. This literature study was conducted to collect theories regarding the role of BCG immunization and contact history in the course of childhood tuberculosis (TB) disease. The method used was through a literature study that collected several previous studies and theories to determine the role of BCG immunization and contact history in the course of childhood TB disease. The results of this study indicate that BCG immunization plays a role in increasing the immune response to prevent pulmonary TB infection in children under 5 years of age with an effectiveness of less than 50%. The immune response generated by vaccination can also prevent the spread of TB infection to extra-pulmonary sites. Contact with TB patients can increase exposure to Mycobacterium tuberculosis (MTB) bacteria in children through droplets. Therefore, BCG immunization increases defense against TB infection, while a history of contact increases exposure to TB infection. Abstrak. Studi literatur ini dilakukan untuk mengumpulkan teori mengenai peranan imunisasi BCG dan riwayat kontak dalam perjalanan penyakit tuberculosis (TB) anak. Metode yang digunakan adalah melalui studi literatur yang mengumpulkan beberapa penelitian terdahulu dan teori untuk mengetahui peranan imunisasi BCG dan riwayat kontak dalam perjalanan penyakit TB anak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa imunisasi BCG berperan dalam meningkatkan respon imun untuk mencegah infeksi TB paru anak pada usia di bawah 5 tahun dengan efektivitas kurang dari 50%. Respon imun yang dihasilkan vaksinasi juga dapat mencegah penyebaran infeksi TB ke ekstra paru. Kontak dengan penderita TB dapat meningkatkan paparan bakteri Mycobacterium tuberculosis (MTB) pada anak melalui droplet. Oleh karena itu, imunisasi BCG meningkatkan pertahanan terhadap infeksi TB, sedangkan riwayat kontak meningkatkan paparan infeksi TB.