Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

The Ratio Legis of Article 35(a) of Law Number 23 of 2006 on Population Administration Muhammad Rizki Nurdin Sidauruk; Rachmi Sulistyarini; Nur Chanifah
YURISDIKSI : Jurnal Wacana Hukum dan Sains Vol. 22 No. 4 (2027): March in progress
Publisher : Faculty of Law, Merdeka University Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55173/yurisdiksi.v22i4.400

Abstract

This study aims to analyze the ratio legis underlying the enactment of Article 35 letter (a) of Law Number 23 of 2006 concerning Population Administration, which regulates the registration of marriages based on a court determination, particularly in the context of interfaith marriages. The study is motivated by a normative conflict between Article 2 paragraph (1) of Law Number 1 of 1974 concerning Marriage, which stipulates the validity of marriage based on religious law, and Article 35 letter (a) of Law Number 23 of 2006, which provides an opportunity for marriage registration through a court ruling. This research employs a normative legal research method with statutory, case, and conceptual approaches. Primary, secondary, and tertiary legal materials are analyzed using descriptive-analytical and argumentative techniques. The research gap lies in the absence of studies that specifically position Article 35 letter (a) as the central object of ratio legis analysis and connect it to the disharmony between the legal regime of marriage and population administration law. Previous studies have generally focused on the legality of interfaith marriages, human rights protection, or judicial decision analysis, without systematically examining the legislative purpose of the norm and its implications for the consistency of the national legal system. The novelty of this study lies in the reconstruction of the ratio legis of Article 35 letter (a) as an instrument of population administration, which is then analyzed within the framework of vertical and horizontal legal harmonization between the population administration regime and national marriage law. Accordingly, this study not only explains the underlying legislative intent but also proposes a regulatory harmonization construct based on the theory of legal certainty as a model for resolving normative disharmony that has not been previously offered in the literature. The findings indicate that the existence of Article 35 letter (a) generates normative disharmony, resulting in legal uncertainty and divergent interpretations in judicial practice. From a legal perspective, interfaith marriages do not fulfill the validity requirements under national marriage law. Therefore, regulatory harmonization is required to ensure legal certainty, consistency in law enforcement, and synchronization between the population administration system and marriage law.
Ambiguitas Pengakuan Agama Dalam Hukum Indonesia: Antara Jaminan Konstitusional Dan Praktik Administratif Selektif Iman Pasu Marganda Hadiarto Purba; Thohir Luth; Tunggul Anshari Setia Negara; Nur Chanifah
JATISWARA Vol. 41 No. 2 (2026): Jatiswara
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jtsw.v41i2.1370

Abstract

Kebebasan beragama dan berkeyakinan sebagai hak konstitusional dijamin dengan tegas pada Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kebebasan beragama yang merupakan hak yang fundamental dalam praktik penyelenggaran pemerintahan masih terhambat karena adanya kategorisasi agama yang diakui dan tidak diakui. Hal ini berimplikasi kepada terjadinya diskirminatif dalam perlakuan administratif. Hal inilah yang menimbulan ambiguitas antara jaminan kebebasan beragama secara konstitusional yang sifatnya inklusif dengan praktif adminsitratif yang kecenderungannya selektif. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis penyebab pengakuan agama di Indonesia menunjukkan karakter administratif dan selektif padahal secara konstitusional kebebasan beragama bersifat universal. Penelitian ini adalah penelitian normatif dengan melakukan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konstitusional dan pendekatan konseptual. Bahan hukum dianalisis secara kualitatif dengan teknik analisis preskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masalah utama pengakuan agama di Indoensia terletak pada belum adanya pengaturan secara eksplisit mengenai konsep, kriteria, prosedur, batasan kewenangan negara dalam pengakuan agama di Indonesia. Hal inilah yang menimbulkan adanya ambiguitas normatif yang membuka ruang terjadinya praktif administratif selektif, ketidakpastian hukum, ketidakadilan dan potensi perlakuan diskiminatif atas nama agama. Itulah sebabnya rekonstruksi pengakuan agama di Indonesia yang secara konseptual jelas, iklusif dan konstitusional dibutuhkan untuk mewujudkan pengakuan agama yang berkeadilan berkepastian hukum dalam kerangka negara hukum Pancasila.