Putu Ayu Sisyawati Putriningsih
Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Bali, Indonesia

Published : 33 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search
Journal : Indonesia Medicus Veterinus

Isolasi dan Identifikasi Escherichia Coli O157:H7 dada Sapi Bali Di Abiansemal, Badung, Bali Baehaqi, Khamid Yusuf; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati; Suardana, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (3) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.982 KB)

Abstract

Escherichia coli O157:H7 merupakan salah satu agen zoonosis yang menyebabkan haemorrhagic colitis dan haemolytic uraemic syndrome pada manusia. Penelitian ini bertujuan untuk isolasi dan identifikasi E. coli O157 dan E. coli O157:H7 serta kaitan antara tingkat infeksi E. coli O157 dengan E. coli O157:H7 pada feses sapi bali di Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung, Bali. Penelitian menggunakan 60 sampel feses sapi bali yang diawali dengan isolasi bakteri pada media Eosin Methylen Blue Agar (EMBA), kemudian pewarnaan Gram dan dilanjutkan dengan uji Indol, Methyl Red, Voges Proskauer dan Citrat. Identifikasi E. coli O157 dilakukan dengan penumbuhan isolat pada media Sorbitol MacConkey Agar (SMAC) yang dikonfirmasi dengan uji latek aglutinasi O157, dan diakhiri dengan uji antiserum H7 untuk identifikasi E. coli O157:H7. Isolasi dan identifikasi E. coli O157 ditemukan 11,67%, E. coli O157:H7 ditemukan 10% pada feses sapi bali. Uji Mc Nemar terlihat bahwa infeksi E. coli O157 menunjukkan perbandingan yang tidak nyata dengan infeksi E. coli O157:H7. Uji korelasi Spearman's rho menunjukkan bahwa adanya infeksi E. coli O157 dapat secara kuat dijadikan petunjuk keberadaan E. coli O157:H7.
Prevalensi Dan Predileksi Plak Gigi Pada Kucing Di Kota Denpasar Pratama, Dimas Andi; Utama, Iwan Harjono; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (1) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.019 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.1.76

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan predileksi plak gigi pada kucing yang dipelihara di kota Denpasar. Penelitian observasional telah dilakukan terhadap 50 ekor kucing lokal maupun kucing ras di kota Denpasar. Kucing diamati di tempat yang gelap dan gigi diamati pencerahannya dengan Wood’ lamp untuk melacak keberadaan plak gigi. Hasil positif ditandai dengan adanya fluoresensi merah. Hasil penelitian ini, didapatkan 46 kucing positif memiliki plak gigi dengan prevalensi 92%. Predileksi plak gigi terdapat pada bagian gigi incisivus, caninus, molar dan pre molar, tetapi predileksi terbesar terdapat pada pre molar bagian maxillaris. Sehubungan dengan prevalensi tersebut, perlu dilakukan sosialisasi mengenai pentingnya kesehatan gigi dan mulut pada kucing, sehingga dapat mencegah timbulnya penyakit gigi, mulut, serta plak yang berpotensi menimbulkan penyakit periodontal. Pemeriksaan kucing harus difokuskan pada gigi pre molar dan molar untuk kesehatan mulut.
Fungi-fungi Penginfeksi pada Kulit Ular Peliharaan di Bali Prabawa, I Made Agus; Negara, I Nyoman Wisnu; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati; Arjentinia, I Putu Gede Yudhi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (4) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.955 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.4.442

Abstract

Ular termasuk hewan eksotik yang sering dijadikan hewan peliharaan. Permasalahan yang sering dijumpai dalam pemeliharaan ular adalah masalah kesehatan seperti infeksi fungi pada kulit ular. Infeksi fungi pada kulit ular dapat menyebabkan berbagai kerugian bahkan kematian pada ular. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis fungi yang dapat ditemukan pada kulit ular peliharaan. Penelitian ini dilakukan dengan mengoleksi sampel usapan kulit pada ular peliharaan. Sampel usapan kulit diambil dari 10 ekor ular peliharaan oleh pecinta reptil di Denpasar dan selanjutnya sampel usapan kulit dibiakkan pada media Sarbouraud Dextrose Agar (SDA) pada suhu 20-30ºC. Fungi yang telah tumbuh kemudian diidntifikasi secara makroskopis dan mikroskopis. Didapatkan hasil fungi dari genus Aspergillus, Candida, Curvularia, Mucor, dan Penicillium dari kesepuluh sampel. Simpulan dari penelitian ini adalah ditemukannya lima genus fungi pada kulit ular peliharaan di Bali.
Laporan Kasus: Spondylosis Lumbosacral pada Anjing Dachshund Purnama, Komang Andika; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (3) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.242 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.3.202

Abstract

Seekor anjing ras Dachshund berumur 12 tahun dengan berat badan 9 kg menunjukkan tanda klinis paraparesis, refleks fleksor kaki belakang dan refleks patella berkurang, hilangnya rasa sakit pada kulit di daerah pinggul, terdapat lesi erosi pada daerah inguinal, dan distensi kantong kemih. Pemeriksaan darah rutin menunjukkan terjadinya leukositosis. Pemeriksaan radiologi menunjukkan terdapat perkembangan osteofit pada daerah ventral epifisis os lumbal VI hingga os sakrum, distensi kantong kemih dan konstipasi. Anjing ini didiagnosis spondylosis lumbosacral dan bacterial dermatitis. Terapi yang diberikan adalah pemberian meloxicam tablet selama dua minggu, vitamin B1 tablet dan amoxicillin sirup selama tujuh hari. Setelah dua minggu terapi menunjukkan hasil yang baik, namun anjing tiba-tiba mati.
Insidensi Escherichia Coli O157:H7 pada Sapi Bali Di Kecamatan Petang dan Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung Perdana, Asyauqi Ilham; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati; Suardana, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (5) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.378 KB)

Abstract

Escherichia coli O157:H7 merupakan satu dari ratusan strain bakteri E. coli yang berbahaya, dapat menghasilkan toksin yang sangat kuat dan dapat menyebabkan penyakit diantaranya hemorrhagic colitis dan hemolytic uremic syndrom. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan dan perbedaan Insidensi Escherichia coli O157:H7. Sampel diambil dari Kecamatan Petang dan Kecamatan Abisansemal Kabupaten Badung. Jumlah sampel yang diambil dari Kecamatan Petang sebanyak 58 sampel dan Kecamatan Abiansemal 60 sampel. Data hasil pengamatan disajikan dalam bentuk deskriptif dan selanjutnya dianalisis dengan uji Chi square untuk mengetahui signifikasi insidensi diantara kedua Kecamatan. Hasil penelitian menunjukkan keberadaan Escherichia coli O157:H7 pada sapi bali di Kecamatan Petang sebesar 8,62% dan Kecamatan Abiansemal sebesar 10%. Insidensi di Kecamatan Petang 8,62% tidak berbeda nyata (P>0,05) dibandingkan dengan Kecamatan Abiansemal sebesar 10%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa keberadaan bakteri E.coli O157:H7 di Kecamatan Petang dan Kecamatan Abiansemal dan Insidensi E. coli O157:H7 pada sapi bali di Kecamatan Petang tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung.
Case Report: Sparganosis in Domestic Cat Samosir, Hartina; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (1) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.5 KB) | DOI: 10.19087/imv.2019.8.1.26

Abstract

Sparganosis is one of the food borne zoonotic diseases caused by the plerocercoid larvae (spargana) of the Spirometric genus. Sparganosis cases in five-month-old female cats in Denpasar, Bali were reported by us. Clinical sign of a Spirometric tapeworm infection in the case cat of the fecal consistency is grade 3.5. These findings are reported from animal’s owners who found worms when defecate. Eggs per gram (EPG) 16,900 it shows the intensity of spirometra infection in cat high enough. The Animal were treated with praziquantel 0.5 tablets, given twice with a seven-day interval. Evaluation of the cat after two times treatments for clinical signs of significant changes only from the fecal effusion from grade 3.5 to grade 2 was well formed, does not leave a mark when picked up.
Fungi­-fungi Penginfeksi Kulit Ular Liar di Bali Negara, I Nyoman Wisnu; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati; Arjentinia, I Putu Gede Yudhi; Prabawa, I Made Agus
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (5) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.08 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.5.489

Abstract

Fungi merupakan salah satu agen penyakit infeksius yang memiliki beragam jenis. Beberapa jenis di antaranya dapat ditemukan pada kulit ular liar. Fungi yang ditemukan pada kulit ular liar tersebut mampu menginfeksi kulit, bahkan dapat menyebabkan kematian. Bali dalam hal ini belum memiliki data yang memadai mengenai jenis fungi yang dapat ditemukan pada kulit ular liar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi fungi yang dapat ditemukan pada kulit ular liar. Penelitian dilakukan dengan mengkoleksi sampel berupa swab dari kulit ular liar yang dibiakkan pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dengan suhu 20ºC-30ºC. Koloni yang tumbuh pada SDA diidentifikasi secara makroskopis dengan mengamati karakteristik koloni secara kasat mata dan dilanjutkan dengan identifikasi secara mikroskopis dengan bantuan mikroskop dan pewarnaan menggunakan Methylene Blue. Hasil penelitian yang diperoleh ialah Aspergillus flavus, Aspergillus niger, Penicillium sp, Curvularia lunata, Candida sp., Mucor sp., dan Acremonium sp. Simpulan dari penelitian ini adalah terdapat tujuh jenis fungi yang ditemukan pada kulit ular liar di Bali. Beberapa di antara fungi tersebut dapat menjadi ancaman bagi kesehatan hewan maupun manusia.
Studi Kasus : Dermatofitosis pada Anjing Lokal Wibisono, Hanif Wahyu; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (2) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.517 KB)

Abstract

Dermatofitosis merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh dermatofita. Tujuan dilakukan pemeriksaan pada anjing kasus adalah untuk mengetahui agen penyakit yang menyebabkan terjadinya banyak lesi pada kulit anjing tesebut. Pada pemeriksaan klinis terdapat kelainan seperti ditemukan lesi yang terdiri dari kombinasi alopesia anular, hiperkeratosis, makula, sisik dan krusta. Lesi-lesi tersebut ditemukan di bagian daun telinga, wajah, kaki depan, kaki belakang dan bagian perut. Anjing mengalami pruritis pada bagian-bagian yang terdapat lesi. Kemudian bagian-bagian lesi tersebut dikerok dibagian pinggir lesi menggunakan KOH 10% dan swab. Dari hasil kerokan ditemukan arthrospora dengan bentukan bulat-bulat bening. Pada pemeriksaan mikroskopis rambut (trikogram) terlihat rambut mengalami kerusakan pada batangnya. Pemeriksaan Wood’s Lamp menunjukkan hasil negatif. Pada pemeriksaan darah lengkap monositosis dan limfositosis menandakan adanya infeksi oleh fungi. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan klinis dan laboratoris, dapat disimpulkan bahwa anjing lokal bernama Bleky didiagnosa suspect dermatofitosis.
Laporan Kasus Laporan Kasus: Urolitiasis akibat Kristal Struvit pada Kucing Anggora Jantan Khadafi, Gde Erwin Ali; Soma, I Gede; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (4) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.4.597

Abstract

Urolitiasis merupakan adanya urolit di dalam saluran perkencingan. Penyakit urolitiasis dapat menyebabkan hewan mengalami retensi urin. Kucing kasus adalah ras anggora jantan umur lima tahun dengan bobot badan 4,1 kg, datang dengan keluhan sulit urinasi selama dua hari, urin bercampur darah, anoreksia dan muntah. Pemeriksaan fisik kucing terlihat lemah, dehidrasi ringan, vesika urinaria mengalami distensi. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan dalam kasus ini yaitu pemeriksaan darah rutin, ultrasonografi, dan pemeriksaan sedimentasi urin. Hasil pemeriksaan darah kucing mengalami leukositosis [total WBC: 34,73x10^9/L (normal: 5,5-19,5x10^9/L)], neutrofilia [GRA: 31,36x10^9/L (normal: 2,1-15x10^9/L)], limfositopenia [LYM%: 6,7% (normal: 12-45%)], dan anemia makrositik hipokromik [MCV: 53,6 fL (normal: 39-52 fL), MCHC: 25,5 g/dL (normal; 30-38 g/dL)]. Pada Pemeriksaan ultrasonografi vesika urinaria terlihat endapan partikel-partikel kristal (hyperechoic) terlihat seperti pasir (sand-like). Pada pemeriksaan sedimentasi urin didapatkan kristal magnesium ammonium phosphate (struvite). Kucing kasus didiagnosis menderita urolitiasis. Terapi yang diberikan yaitu terapi cairan NaCl 0,9% 357 mL/hari diberikan selama tiga hari. Flushing mengunakan cairan infus NaCl 0,9% menggunakan kateter ukuran 1.3x130 mm, antibiotik Cefotaxime Sodium 80 mg/kg bb secara intramuskuler sekali sehari selama tiga hari, antiradang Tolfenamic Acid 4 mg/kg bb secara intramuskuler sekali sehari selama tiga hari, terapi suportif diet pakan khusus urinary care. Pada hari ketiga setelah diterapi kucing menunjukkan perbaikan kondisi ditandai dengan nafsu makan meningkat dan urin normal tidak terjadi hematuria.
Laporan Kasus: Dermatofitosis pada Anjing Peranakan Scottish Terrier di Kota Denpasar, Baliatofitosis pada Anjing Peranakan Scottish Terrier Distira, Luh Ayu Yasendra; Batan, I Wayan; Erawan, I Gusti Made Krisna; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (5) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.5.678

Abstract

Dermatofitosis pada anjing adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh kapang dermatofita yang terdiri atas genus Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton. Dermatofitosis dapat menyerang anjing semua umur. Biasanya agen kapang muncul karena tempat yang lembab. Tujuan dari penulisan laporan kasus ini adalah untuk dapat meneguhkan diagnosis dari pemeriksaan klinis dan penunjang, serta untuk dapat memberikan terapi yang tepat sesuai penyakit yang ditemukan. Seekor anjing jantan peranakan scottish terrier berumur satu tahun dengan bobot badan 12 kg dibawa ke Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, dengan keadaan alopesia dan eritema hampir di sekujur tubuhnya. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya krusta, pustula pada bagian ekstremitas kranial dan kaudal, papula pada bagian dorsal, hiperpigmentasi pada dorsal tubuh, dan sisik. Anjing kasus menunjukkan tingkat pruritus yang tinggi. Hasil pemeriksaan hematologi menunjukkan tidak adanya perubahan yang berarti pada parameter darah. Pemeriksaan histopatologi biopsi kulit menunjukkan adanya infiltrasi sel radang. Pada pemeriksaan dengan wood’s lamp terlihat adanya pendaran berwarna hijau kekuningan pada hampir seluruh bagian tubuh. Anjing kasus didiagnosis menderita dermatofitosis dan diterapi dengan menggunakan oclacitinib (5,6 mg/ekor, PO, q12h), amoxicillin trihydrate (10 mg/kg BB, PO, q24h) dan dexaharsen (0,2 mg/kg BB, IM, q24h) diberikan selama lima hari. Ketoconazole 2% diberikan dua kali sehari dengan cara dioles secara langsung pada bagian spot-spot yang terlihat. Pasca terapi hari ke-14, anjing kasus menunjukkan hasil yang baik, eritema sudah mulai berkurang dan rambut sudah mulai tumbuh dengan baik. Hal ini juga diamati dengan adanya perubahan lesi makroskopik dan pengamatan dari histopatologi biopsi kulit yang dilakukan pasca terapi.