Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Collaborative Governance dalam Penanganan Kemacetan di Kota Surabaya Provinsi Jawa Timur Afif Syarifudin Yahya; Dedi Kusmana; Ismunarta Ismunarta; Rahmawati Sururama
Jurnal Media Birokrasi Jurnal Media Birokrasi, Vol. 6 No. 1, April, 2024
Publisher : PRODI ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DAERAH FAKULTAS MANAJEMEN PEMERINTAHAN IPDN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/jmb.v6i1.4151

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pelaksanaan collaborative governance dalam penanganan kemacetan di Kota Surabaya. Teori collaborative governance yang digunakan untuk menganalisis didasarkan atas pandangan Ansell dan Gash (2007) yang meliputi 4 dimensi yakni: Starting Conditions, Institusional Design, Facilitative Leadership, dan Collaborative Process. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan post positivism. Pengumpulan data dilaksanakan melalui studi dokumentasi, observasi, dan wawancara. Penentuan informan didasarkan atas kriteria tertentu dengan asumsi bahwa informan merupakan aktor atau pihak-pihak yang terlibat sesuai dengan fokus/tema penelitian. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan terlebih dahulu memilah berdasarkan tema/kategori, kemudian dianalisis berdasarkan pola umum yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan collaborative governance mampu mengurangi tingkat kemacetan di Kota Surabaya. Berdasarkan hasil analisis terhadap 4 dimensi menunjukkan adanya berbagai upaya kolaborasi untuk mengantisipasi terjadinya kemacetan lalu lintas. Meskipun demikian, program kerja yang dilaksanakan hanya berdasarkan perintah, instruksi, dan kebijakan pimpinan sesuai koridor yang dibuat oleh Kepala daerah karena jelas bentuk dokumen kerja sama antar stakeholder dalam penanganan kemacetan. Kondisi ini dapat mengancam keberlanjutan pelaksanaan collaborative governance apabila terjadi pergantian kepemimpinan.Kata Kunci: Collaborative governance; Kemacetan; Pemerintahan Daerah
Political Dynasties and Legal Loopholes in Regional Elections: a Case Study of Families of Regional Officials in the 2024 Political Year AFIF SYARIFUDIN YAHYA
Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Vol. 24 No. 1 (2025): Pena Justisia
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pj.v24i2.6336

Abstract

The phenomenon of political dynasties in regional head elections continues to show an upward trend, especially in the lead-up to the 2024 Simultaneous Regional Elections. In an electoral democracy, the domination of power by incumbent families poses a serious threat to the principles of meritocracy, fair competition, and public accountability. The re-emergence of prominent names from the inner circles of regional political families indicates that power is no longer contested through open mechanisms, but rather inherited structurally through kinship networks and political patronage. This research employs a qualitative approach with a normative-empirical design. Data were obtained through a literature review of legislation, Constitutional Court rulings, as well as research reports and scholarly publications related to political dynasties and regional elections. The primary aim of this research is to examine the relationship between legal loopholes in regional election regulations and the rise of political dynasties, as well as their impact on the quality of democracy and local governance. The findings reveal that the absence of substantive norms limiting the candidacy of incumbent family members creates a legal gap that is exploited to perpetuate power. The annulment of Article 7 letter r of Law No. 8 of 2015 by the Constitutional Court has further legitimized political dynasties within a system that remains democratically unconsolidated. The consequences include declining leadership quality, increased conflicts of interest, weakened oversight, and a growing number of corruption cases in regions dominated by political dynasties. This phenomenon also narrows the space for political competition and strengthens the dominance of local oligarchies in electoral contests.
Pengaruh Sistem Informasi dan Partisipasi Politik terhadap Efektivitas Pemilihan Kepala Daerah Serentak selama Pandemi COVID-19 Afif Syarifudin Yahya; Andi Masrich; Karno Karno
Society Vol 13 No 2 (2025): Society
Publisher : Laboratorium Rekayasa Sosial, Jurusan Sosiologi, FISIP Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/society.v13i2.940

Abstract

The COVID-19 pandemic required new approaches to organizing regional elections, highlighting the use of information systems to reduce infection risk and improve election management effectiveness. This study examines the influence of information systems and political participation on the efficacy of simultaneous regional head elections during the pandemic. A quantitative design determined a sample of 402 respondents with the Slovin formula at a 95% confidence level. Data were collected through a Likert-scale questionnaire comprising 12 indicators of information systems, 21 of political participation, and 12 of electoral effectiveness, and analyzed using Structural Equation Modeling (SEM) with LISREL. The results show that information systems exerted a positive but statistically insignificant effect on electoral effectiveness (T-value = 0.79, below the 1.96 threshold). In contrast, political participation demonstrated a significant positive impact (T-value = 6.79), underscoring its decisive role in achieving effective election outcomes under pandemic conditions. These findings emphasize the importance of citizen engagement for sustaining democratic processes during public health crises and illustrate how digital technologies can support, but not replace, active political participation.
Integration of Change Theory and Evidence-Based Policies for Equitable Welfare in Mountainous Papua, Indonesia Ira Meiyenti; Ihwan Sudrajat; Afif Syarifudin Yahya; Wildan Maulana Assani Mualim; Nur Sari Bulan
Journal Public Policy Vol 12, No 1 (2026): January
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jpp.v12i1.13095

Abstract

This research aims to integrate population administration projections with the Theory of Change (ToC) and Evidence-Based Policy (EBP) frameworks to strengthen policy formulation for the equitable distribution of welfare across districts in Mountainous Papua Province. The research used mixed methods with a sequential explanatory design. In the quantitative phase, population, Human Development Index (HDI), and district-level education indicators are projected for the period 2025–2045 using arithmetic and exponential methods, and the results are then compared across eight districts. In the qualitative phase, the projection findings were interpreted to assess the feasibility of policy assumptions, identify intervention needs, and formulate evaluation mechanisms in the spatial context of Mountainous Papua, using ToC as a prospective analytical tool. The results showed variations in trajectories across districts and misalignments between population growth and HDI increases: Yahukimo is projected to have the largest population but the slowest increase in HDI, whereas Jayawijaya and Central Mamberamo show a stronger upward trend in HDI. Education projections indicate uneven progress and declining participation in vocational education, which contributes to the missing middle skill gap. These findings confirm the need to differentiate district-profile-based interventions and to strengthen monitoring as a policy feedback mechanism. It was concluded that equitable distribution of welfare in Mountainous Papua requires predictive planning and data-driven adaptive governance, with ToC–EBP as a framework to test causal logic, target interventions, and strengthen policy evaluation.
Tingkat Kematangan Perangkat Daerah Penyelenggara Urusan Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Studi pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Bandung Barat Tahun 2020) Afif Syarifudin Yahya
Jurnal Media Birokrasi Jurnal Media Birokrasi, Vol. 5 No. 2, Oktober, 2023
Publisher : PRODI ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DAERAH FAKULTAS MANAJEMEN PEMERINTAHAN IPDN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/jmb.v5i2.3993

Abstract

Kebijakan desentralisasi telah memberikan kewenangan yang sangat luas kepada Daerah. Berbagai kewenangan yang diserahkan dilaksanakan oleh perangkat daerah selaku pembantu Kepala daerah. Oleh karena itu, Perangkat daerah menjadi ujung tombak keberhasilan penyelenggaraan urusan pemerintahan di daerah. Perangkat daerah dengan tingkat kematangan tinggi menunjukkan hasil kinerja yang tinggi, begitu pun sebaliknya. Studi ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kematangan perangkat daerah penyelenggara urusan administrasi kependudukan dan pencatatan sipil. Metode yang digunakan adalah metode campuran dengan strategi eksplanatoris sekuensial. Pengumpulan data dilaksanakan melalui pengisian tabel yang didasarkan atas 11 variabel yang diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 99 Tahun 2018. Tabel yang telah diisi kemudian diverifikasi melalui wawancara dan studi dokumentasi untuk memperoleh bukti pendukung pelaksanaan agar hasil analisis menjadi valid. Wawancara dilaksanakan kepada Kepala Dinas, Sekretaris Dinas, Kepala Bidang, Kepala Seksi, Kepala Subbagian, dan Pelaksana Teknis. Hasil studi menunjukkan bahwa tingkat kematangan perangkat daerah penyelenggara urusan administrasi kependudukan dan pencatatan sipil masuk pada kategori “Sangat Rendah” dengan skor 18. Berdasarkan hal tersebut, hendaknya Pemerintah daerah berupaya memenuhi persyaratan pada variabel dengan tingkat kematangan yang sangat rendah yakni penjaminan mutu pelayanan, pendidikan dan pelatihan aparatur, analisis kebijakan dan pemecahan masalah tugas, sumber daya peralatan dan perlengkapan kerja yang terukur, manajemen resiko pelaksanaan tugas aparatur, dan budaya organisasi. Kata Kunci: , Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 99 Tahun 2018; Urusan Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil; Kinerja Sangat Rendah.
Collaborative Governance dalam Penanganan Kemacetan di Kota Surabaya Provinsi Jawa Timur Afif Syarifudin Yahya; Dedi Kusmana; Ismunarta Ismunarta; Rahmawati Sururama
Jurnal Media Birokrasi Jurnal Media Birokrasi, Vol. 6 No. 1, April, 2024
Publisher : PRODI ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DAERAH FAKULTAS MANAJEMEN PEMERINTAHAN IPDN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/jmb.v6i1.4151

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pelaksanaan collaborative governance dalam penanganan kemacetan di Kota Surabaya. Teori collaborative governance yang digunakan untuk menganalisis didasarkan atas pandangan Ansell dan Gash (2007) yang meliputi 4 dimensi yakni: Starting Conditions, Institusional Design, Facilitative Leadership, dan Collaborative Process. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan post positivism. Pengumpulan data dilaksanakan melalui studi dokumentasi, observasi, dan wawancara. Penentuan informan didasarkan atas kriteria tertentu dengan asumsi bahwa informan merupakan aktor atau pihak-pihak yang terlibat sesuai dengan fokus/tema penelitian. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan terlebih dahulu memilah berdasarkan tema/kategori, kemudian dianalisis berdasarkan pola umum yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan collaborative governance mampu mengurangi tingkat kemacetan di Kota Surabaya. Berdasarkan hasil analisis terhadap 4 dimensi menunjukkan adanya berbagai upaya kolaborasi untuk mengantisipasi terjadinya kemacetan lalu lintas. Meskipun demikian, program kerja yang dilaksanakan hanya berdasarkan perintah, instruksi, dan kebijakan pimpinan sesuai koridor yang dibuat oleh Kepala daerah karena jelas bentuk dokumen kerja sama antar stakeholder dalam penanganan kemacetan. Kondisi ini dapat mengancam keberlanjutan pelaksanaan collaborative governance apabila terjadi pergantian kepemimpinan.Kata Kunci: Collaborative governance; Kemacetan; Pemerintahan Daerah