Royke M. Rampengan
Unknown Affiliation

Published : 11 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS

ANALISIS TUTUPAN VEGETASI MANGROVE DI PULAU MANTEHAGE, TAMAN NASIONAL BUNAKEN, SULAWESI UTARA Sapsuha, Jufran; Djamaluddin, Rignolda; Sondak, Calvyn F.A.; Rampengan, Royke M.; Opa, Esri T.; Kambey, Alex D.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 6, No 2 (2018): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.6.2.2018.21522

Abstract

Mangrove forest are typical forest growing on along coasts, river mouth saffected by tides. This study was conducted on April to September 2018 in Mantehage Island, Bunaken National Park, North Sulawesi. It was aimed to evaluate vegetation cover change during the period from 1995 to 2017 and to deskrip condition of mangrove vegetation at locations where the vegetation covers were identified to have been change. Image interpretation method and ground checks were applied in the study. RGB composite results of 473 1995 Landsat-5 images, RGB 453 of Landsat-7 images in 2005 and RGB 564 of Landsat-8 images in 2017 showed the area of mangrove vegetation cover in 1995, 2005 and 2017 respectively were 1333.95 ha, 1371.53 and 1383.21 ha. There was an increase in the area of mangrove vegetation cover in 1995-2005 covering an area of 37.58 ha and in the years 2005-2017 covering an area of 11.68 ha. In total there was an additional vegetation cover change of 49,26 ha for 22 years. Result from ground check indicated that the change in vegetation covers occurred at locations subjected to sedimentation, natural recovery at previous clear-cutting areas and area of artificial plantation. The phenomenan of mangrove diebach was found in the middle part between the two mainlands of Mantehage Island.Hutan mangrove merupakan tipe hutan yang khas dan tumbuh di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Penelitian ini dilakukan dari bulan April-September 2018 di Pulau Mantehage, Taman Nasional Bunaken, Sulawesi Utara dengan tujuan untuk mengevaluasi perubahan tutupan vegetasi mangrove di Pulau Mantehage dengan selang waktu 1995, 2005 dan 2017sertaMendeskripsikan kondisi vegetasi mangrove yang teridentifikasi mengalami perubahan tutupan. Penelitian dilakukan dengan metode interpretasi citra dan survei lapangan (Ground check). Hasil komposit RGB 473 citra Landsat-5 tahun 1995, RGB 453 citra Landsat-7 tahun 2005 dan RGB 564 citra Landsat-8 tahun 2017 menunjukkan luas tutupan vegetasi mangrove pada tahun 1995, 2005 dan 2017 secara berturut-turut adalah 1333,95 ha, 1371,53 dan 1383,21 ha. Terjadi penambahan luas tutupan vegetasi mangrove pada tahun 1995-2005 seluas 37,58 ha dan pada tahun 2005-2017 seluas 11,68 ha, jika dijumlahkan dalam kurun waktu 22 tahun terjadi penambahan luas tutupan vegetasi mangrove sebesar 49,26 ha. Hasil Ground Check di lapangan menunjukkan penambahan luas tutupan vegetasi mangrove terjadi pada lahan yang mengalami sedimentasi, lahan terbuka bekas penebangan yang mengalami pemulihan kembali dan pada lokasi tertentu yang ditanami secara artifisial. Fenomena mangrove dieback ditemukan di lokasi bagian tengah antara dua daratan Pulau Mantehage.
KARAKTERISTIK ARUS PERMUKAAN LAUT DI PERAIRAN MIANGAS KABUPATEN TALAUD PROVINSI SULAWESI UTARA Secilya Nainggolan; Ping A, Angmalisang; Wilmy E. Pelle; Darus S. J. Paransa; Royke M. Rampengan; N. Gustaf F. Mamangkey
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 1 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.1.2025.58468

Abstract

Arus adalah proses pergerakan massa air menuju kesetimbangan sehingga menimbulkan perpindahan horizontal dan vertikal sejumlah massa air. Perairan Sangihe Talaud merupakan pintu gerbang masukanya massa air laut dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia yang dinamakan Arus Lintas Indonesia (Arlindo). Massa air Samudera Pasifik masuk ke perairan Indonesia melalui dua jalur salah satunya adalah melalui jalur Barat. Pemantauan dan pemetaan tiupan angin dan arus permukaan di perairan Talaud dalam penelitian ini menggunakan data yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) khususnya dari Stasiun Maritim Kota Bitung. Data ini digunakan untuk menggambarkan dinamika arus permukaan laut di perairan Miangas yang merupakan jalur pelayaran. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Analisa data dilakukan pertama-tama dengan metode pengklasifikasian data ke dalam empat bulan dalam setiap tahun, kemudian data diolah menggunakan peangkat lunak WRPLOT dan ODV (Ocean Data View). Hasil penelitian menunjukan karakteristik arus permukaan laut di Perairan Miangas pada tahun 2020 secara kumulatif arah arus dominan menuju ke Barat Daya dengan kecepatan maksimum 49,86 cm/s. Selanjutnya pada tahun 2021 arah arus dominan menuju ke Timur Laut dengan kecepatan 48,69 cm/s. Pada tahun 2022 arah arus dominan menuju ke Timur Laut dengan kecepatan maksimum 48,49 cm/s dan pada tahun 2023 arah arus dominan menuju ke Timur Laut dengan kecepatan maksimum 50,42 cm/s. Kata kunci: arus, kuantitatif, oseanografi, Perairan Miangas
Condition of Seagrass Meadows in The Waters Around The Sunrise Tourist Area, Makalisung Village, Kombi District, Minahasa Regency Baso, Fathan; Wagey, Billy T.; Sondak, Calvyn F. A.; Ginting, Elvy L.; Tilaar, Sandra O.; Rampengan, Royke M.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 14 No. 1 (2026): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.14.1.2026.65793

Abstract

Seagrass is a flowering plant (magnoliopyta). Seagrass requires a minimum light intensity of $11% - 25%$ for photosynthesis, and disturbances can reduce the availability of light. Research in the Sunrise Tourism Area, Makalisung Village, aims to identify the types and conditions of seagrass meadows, considering the pressure from human activities such as garbage disposal and fishing boat traffic. The data collection method uses quadrant transects with three 100-meter transects, each placed in 11 quadrants. The results of the study successfully identified 7 types of seagrass, including Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Halodule pinifolia, Halodule uninervis, Syringodium isoetifolium, and Thalassia hemprichii. Based on calculations, the average percentage of seagrass cover is 57.68% and can be categorized as dense. However, although the cover is classified as dense, Meanwhile, according to the Ministry of Environment Decree No. 200/2004, the determination of the closure of seagrass meadow conditions can be categorized as less rich/less healthy. This indicates the potential for environmental problems that can affect the health of the seagrass ecosystem at Sunrise Beach. Keywords: seagrass condition, Sunrise Beach, coastal waters, seagrass cover Abstrak Lamun (seagrass) merupakan tumbuhan berbunga (magnoliopyta). Lamun memerlukan intensitas cahaya minimal $11% - 25%$ untuk fotosintesis, dan gangguan tersebut dapat mengurangi ketersediaan cahaya. Penelitian di Kawasan Wisata Sunrise, Desa Makalisung, bertujuan mengidentifikasi jenis dan kondisi padang lamun, mengingat adanya tekanan dari aktivitas manusia seperti pembuangan sampah dan lalu lintas perahu nelayan. Metode pengambilan data menggunakan transek kuadran dengan tiga transek sepanjang  100 meter, masing- masing diletakkan 11 kuadran. Hasil penelitian berhasil mengidentifikasi 7 jenis lamun, termasuk Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Halodule pinifolia, Halodule uninervis, Syringodium isoetifolium, dan Thalassia hemprichii.Berdasarkan perhitungan, rata-rata persentase tutupan lamun adalah 57,68% dan dapat dikategorikan padat.Namun, meskipun tutupan tergolong padat, Sedangkan menurut KEPMEN KLH No 200/2004, penentuan penutupan kondisi padang lamun dapat dikategorikan dalam kategori kurang kaya/kurang sehat. Hal ini menunjukkan adanya potensi masalah lingkungan yang dapat memengaruhi kesehatan ekosistem lamun di Pantai Sunrise. Kata kunci: kondisi lamun, Pantai Sunrise, perairan pesisir, tutupan lamun
Estimation of Carbon Stored in Mangrove Vegetation in Pinasungkulan Village, Minahasa Regency Erlangga, Muhammad; Schaduw, Joshian N. W.; Paransa, Darus S. J.; Rumengan, Antonius P.; Rampengan, Royke M.; Sondak, Calvyn F. A.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 14 No. 1 (2026): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.14.1.2026.66095

Abstract

Mangrove ecosystems have an important role in mitigating greenhouse gas emissions through their ability to absorb and store carbon. This study aims to determine mangrove vegetation density as well as to estimate aboveground biomass, belowground biomass, and stored carbon in Pinasungkulan Village, Tombariri District, Minahasa Regency. The method used was the line transect method with three plots measuring 10 × 10 m² on each transect and measurement of diameter at breast height (DBH) on individuals with a stem circumference ≥16 cm. The results showed four mangrove species, namely Avicennia marina, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, and Sonneratia alba. The results of data analysis showed that tree density across 3 transects ranged from 800–1.400 ind/ha. Data analysis of aboveground biomass values across 3 transects ranged from 151,85–502,06 ton/ha with an average of 287,74 ton/ha. Data analysis of belowground biomass values across 3 transects ranged from 61,05–179,56 ton/ha with an average of 108,20 ton/ha. Data analysis of total mangrove biomass values across 3 transects ranged from 212,90–681,62 ton/ha with an average of 395,94 ton/ha. Data analysis of stored carbon values across 3 transects ranged from 100,06–320,36 ton/ha with an average of 186,09 ton/ha. Keywords: mangrove vegetation, Pinasungkulan Village, mangrove vegetation density   Abstrak Ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam mitigasi emisi gas rumah kaca melalui kemampuan penyerapan dan penyimpanan karbon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerapatan vegetasi mangrove serta estimasi biomassa di atas permukaan tanah, biomassa di bawah permukaan tanah, dan karbon tersimpan di Desa Pinasungkulan, Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa. Metode yang digunakan adalah metode garis transek dengan tiga plot berukuran 10 × 10 m² pada setiap transek dan pengukuran diameter batang setinggi dada (DBH) pada individu dengan keliling batang ≥16 cm. Hasil penelitian menunjukkan empat spesies mangrove, yaitu Avicennia marina, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, dan Sonneratia alba. Hasil analisis data  kerapatan pohon pada 3 transek berkisar antara 800–1.400 ind/ha. Analisis data nilai biomassa di atas permukaan tanah pada 3 transek berada pada kisaran 151,85–502,06 ton/ha dengan rata-rata 287,74 ton/ha. Analisis data nilai biomassa di bawah permukaan tanah pada 3 transek berkisar 61,05–179,56 ton/ha dengan rata-rata 108,20 ton/ha. Analisis data nilai biomassa total biomassa pada 3 transek berada pada kisaran 212,90–681,62 ton/ha dengan rata-rata 395,94 ton/ha. Analisis data nilai karbon tersimpan pada 3 transek berkisar antara 100,06–320,36 ton/ha dengan rata-rata 186,09 ton/ha. Kata kunci: vegetasi mangrove, Desa Pinasungkulan, kerapatan vegetasi mangrove