Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Dewi Saraswati as a Source of Inspiration for the Creation of the "Gantari" Ready to Wear Clothing Elsi Hayuning Trias; Hapsari Kusumawardani; Endang Prahastuti; Annisau Nafiah
BAJU: Journal of Fashion and Textile Design Unesa Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/baju.v6n1.p115-128

Abstract

The creation of this work is based on the existence of Dewi Saraswati as the goddess of science and art in Hindu beliefs as the main inspiration due to the researcher's interest in culture and history so that she intends to put it into a fashion work as a form of creativity in designing a fashion collection. The process of creating this fashion work is based on the practice-led research approach through the study of fashion design practice, focusing on Dewi Saraswati as the main inspiration for the fashion creation. The combination of dark and light colors from the bold lurik fabric motifs as well as the rustic theme reinforced by the addition of macrame shows the figure of the Goddess who is authentic, beautiful and close to nature. The name Gantari, which in Sanskrit means to shine, is a representation of Dewi Saraswati's role on earth, namely as a manifestation of Ida Sang Hyang Widi (God in Hinduism) to guide humans on earth who live in darkness due to ignorance and confusion before the existence of science. In addition, the addition of details in the form of embroidered puppets in the form of Dewi Saraswati became the main point of this Gantari dress. The method of creating this work was carried out through four stages including the pre-design stage, design, realization, and the last is the presentation stage. The result of Gantari's creation was two works of ready to wear deluxe fashion presented in the UM 2023 Fashion Education Grand Show with a cat walk fashion show presentation form.
Studi Tentang Pengelolaan Program Sosial Pemberdayaan Warga Eks ODGJ Dengan Membuat Batik Ciprat Rahmadini Sukoco, Nur Aini; Aini, Nurul; Prahastut, Endang; Nafiah, Annisau
Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Vol 9, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jim.v9i1.2025.1-10

Abstract

Salah satu desa di Kecamatan Singosari Kabupaten Malang yang bernama Desa Wonorejo merupakah salah satu desa yang memiliki program yang dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan warga nya terutama bagi warga yang memiliki gangguang jiwa atau warga eks ODGJ dengan membuat keterampilan batik ciprat yang ditujukan untuk meningkatkan keterampilan, kesehatan dan kesejahteraan para warga eks ODGJ. Dalam suatu kegiatan program pelatihan tentu akan ada manajemen perencanaan yang matang.  Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui bagaimana pengelolaan program sosial pembuatan batik ciprat untuk memperdayakan warga eks ODGJ di Desa Wonorejo berdasarkan 3 aspek pengelolaan yaitu perencanaan, penggerakan, dan penilaian. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil kajian menunjukan bahwa pengelolaan program sosial ini sudah efektif dilaksanakan sehingga program sudah berjalan hingga bertahun-tahun. Pengelolaan program yang sudah di buat mulai dari perencanaan hingga evaluasi ini menghasilkan dampak yang positif bagi warga eks ODGJ di Desa Wonorejo Singosari. Produktifitas para eks ODGJ akan meningkat dengan adanya program pemberdayaan dengan membuat batik ciprat.
PENCIPTAAN BUSANA BERNUANSA ETNIK DENGAN SUMBER INSPIRASI SIGALE-GALE DARI SUKU BATAK Hamniar; Prahastuti, Endang; Kusumawardani, Hapsari; Nafiah, Annisau
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 2 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v4i2.4410

Abstract

Busana bernuansa etnik merujuk pada pakaian atau kostum yang terinspirasi oleh budaya, tradisi, dan warisan suatu kelompok etnis atau suku bangsa tertentu. Busana ini dibuat dengan acuan sigale-gale sebagai sumber inspirasi dari kebudaayan material suku batak. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan rancangan busana bernuansa etnik yang unik dan berbeda dengan menekankan kebudayaan dan inovasi. Penelitian ini menggunakan metode penciptaan karya (Practice-led research) dengan 4 tahapan yaitu praperancangan, perancangan, perwujudan, dan penyajian. Hasil dari penelitian ini menghasilkan sebuah koleksi busana bernuansa etnik dengan judul “Manggale” yang terinspirasi dari kisah sigale-gale. Koleksi busana ini terdiri dari 2 look busana yang kemudian disajikan pada fashion show “Multiverse” di Universitas Negeri Malang. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pemahaman mengenai hubungan antar tradisi budaya lokal dan inovasi dalam industri fashion, serta menawarkan pandangan baru terkait penerapan teknik patchwork dalam menciptakan busana siap pakai yang berbeda dan berdaya saing di pasar global.
Penciptaan Karya Busana Kyai Ageng Adiningrum Zakiyah, Syaharani Salsabiilaa; Kusumawardani, Hapsari; Suprihatin, Endang; Nafiah, Annisau
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 5 No. 2 (2025): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v5i2.6040

Abstract

Penciptaan karya busana Kyai Ageng Adiningrum bertujuan untuk merepresentasikan kebudayaan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam busana dengan style aristocrat. Sumber inspirasi dari karya busana ini adalah keris peninggalan keraton, yaitu Keris Kanjeng Kiai Ageng Kopek. Selain itu, karya busana ini menggunakan batik semen rama sebagai wastra nusantara yang biasanya dipakai khusus bangsawan keraton. Penciptaan karya busana dilakukan dengan metode Pre-factum, Practice-led research. Dalam metode ini terdapat beberapa langkah, yaitu praperancangan, perancangan, perwujudan, dan penyajian karya. Melalui proses tersebut, terwujudlah karya busana yang menerapkan karakteristik visual dari keris kanjeng Kyai Ageng Kopek pada karya busana dengan eksplorasi kreativitas, inovasi, dan estetika pada pemilihan warna, bentuk/siluet, serta penerapan creative fabric.
PENGEMBANGAN MEDIA JOBSHEET PEMBUATAN KEMEJA PRIA DI LEMBAGA KURSUS DAN PELATIHAN GHANIA KOATA BATU Istiaroh, Azaz Dwi; Sintawati, Esin; Kusumawardani, Hapsari; Nafiah, Annisau
Jurnal Online Tata Busana Vol. 12 No. 2 (2023): Jurnal Online Tata Busana Juli 2023
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lembaga kursus dan pelatihan (LKP) merupakan pendidikan non formal atau satuan pendidikan luar sekolah yang memiliki tujuan membantu masyarakat agar lebih mengembangkan keterampilan yang dimiliki. Joobsheet ialah media pembelajaran yang berbentuk cetak yang didalamnya berisikan langkkah-langkah kerja mengerjakan sesuatu. Secara fisik, media joobsheet adalah media yang paling mudah membantu peserta didik memahami suatu materi terlebih jika materi tersebut membutuhkan pemahaman langkah-langkah kerja. Berdasarkan angket yang dibagikan peneliti kepada peserta pelatihan, dari semua materi pembuatan busana yang diajarkan di LKP Ghania Kota Batu 6 dari 11 peserta pelatihan mengalami kesulitan dalam membuat kemeja pria dan 8 dari 11 peserta pelatihan ketergantungan pada instruktur atau teman lainnya dan merasa tidak bisa lebih mandiri. Maka dari itu dibuthkan media yang dapat mengatasi permasalah tersebut peneliti mengembangkan produk berupa jobhseet untu materi pembuatan kemeja pria. Penelitian ini memanfaatkan model pengembangan ADDIE yaitu 1. Analysis (Analisis) 2. Design (Desain) 3. Development (Pengembangan) 4. Implementation (Implementasi) dan Evaluation (evaluasi).hasil yang didapat dari penilaian validator ahli materi mendapatkan skor persentase total 94% dan untuk validator ahli media mendapatkan skor persentase 99%. Skor total uji coba media jobhseet langkah menjahit kemeja pria mendapatkan hasil persentase total 96% dari pengujian kepada 12 peserta pelatihan di Lembaga kursus dan Pelatihan Ghania Kota Batu. Course and training institutions (LKP) are non-formal education or can be called out of school education units which have the aim of helping people to further develop their skills.. Joobsheet is a printed learning media that contains work steps for doing something. Physically, joobsheet media is the easiest media to help students understand material, especially if the material requires an understanding of work steps. Based on a questionnaire distributed by researchers to training participants, of all the clothing making material taught at LKP Ghania, Batu City, 6 out of 11 training participants experienced difficulty in making men's shirts and 8 out of 11 training participants depended on instructors or other friends and felt they couldn't. more independent. Therefore, media is needed that can overcome this problem. Researchers have developed a product in the form of jobhseet for material for making men's shirts. This research utilizes the ADDIE development model, namely 1. Analysis 2. Design 3. Development 4. Implementation and Evaluation. The results obtained from the assessment of material expert validators obtained the total percentage score is 94% and for media expert validators the percentage score is 99%. The total score of the jobhseet media trial on steps for sewing men's shirts obtained a total percentage result of 96% from testing on 12 training participants at the Ghania Course and Training Institute, Batu City.
PENGUATAN EKONOMI KREATIF MELALUI DIVERSIFIKASI PRODUK TENUN DAN PEMASARAN DIGITAL DI BANDAR KIDUL, KEDIRI Fatanti, Megasari Noer; Prabawangi, Rani Prita; Nafiah, Annisau; Fatah, Zainal
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i3.36764

Abstract

ABSTRAKSentra Tenun Ikat Bandar Kidul (TIBK) di Kediri memiliki potensi ekonomi kreatif yang besar, tetapi perkembangan produksinya melambat akibat keterbatasan diversifikasi produk dan pemasaran yang masih konvensional. Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan daya saing dan kesejahteraan pengrajin melalui pengembangan produk turunan tenun serta penguatan pemasaran digital. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang melibatkan lebih dari 20 pengrajin dan Pokdarwis melalui sosialisasi, pelatihan produksi, pendampingan pemasaran digital, dan penguatan kelembagaan. Evaluasi dilakukan melalui monitoring penjualan, observasi keterampilan, dan peninjauan kinerja promosi digital. Hasil program menunjukkan terciptanya produk turunan seperti pouch serbaguna dan lanyard ID card berbahan tenun yang didukung video tutorial ber-HaKI sebagai media belajar berkelanjutan. Pemanfaatan platform Shopee, WhatsApp, Instagram, dan TikTok meningkatkan jangkauan pemasaran dan berkontribusi pada kenaikan penjualan online sebesar 30% dalam enam bulan. Program ini juga mendorong terbentuknya koperasi beranggotakan 20 orang sebagai wadah penguatan manajemen usaha, disertai peningkatan pendapatan pengrajin sebesar 20–30%. Secara keseluruhan, program ini memperkuat transformasi produksi dan modernisasi strategi pemasaran TIBK sebagai sentra ekonomi kreatif berbasis budaya.Kata kunci: digital marketing; diversifikasi produk; pariwisata berkelanjutan; tenun Kediri. ABSTRACTThe Tenun Ikat Bandar Kidul (TIBK) weaving center in Kediri has significant creative economic potential, but production growth has been slow due to limited product diversification and conventional marketing. This community service program aims to improve the competitiveness and welfare of artisans through the development of woven derivative products and strengthening digital marketing. The program was implemented using a Participatory Action Research (PAR) approach involving more than 20 artisans and the local tourism group (Pokdarwis) through outreach, production training, digital marketing assistance, and institutional strengthening. Evaluation was carried out through sales monitoring, skills observation, and digital promotion performance review. The program results showed the creation of derivative products such as multipurpose pouches and woven ID card lanyards, supported by video tutorials with IPR as a continuous learning medium. The use of the Shopee, WhatsApp, Instagram, and TikTok platforms increased marketing reach and contributed to a 30% increase in online sales in six months. The program also encouraged the formation of a 20-member cooperative to strengthen business management, accompanied by a 20–30% increase in artisan income. Overall, this program strengthened the production transformation and modernized TIBK’s marketing strategy as a culture-based creative economy center. Keywords: digital marketing; product diversification, sustainable tourism; tenun Kediri
Workforce needs in the fashion industry: Relevance to the vocational fashion design curriculum Nafiah, Annisau; Sugandi, R. Machmud; Aprilia, Hariani; Ning Tiasari, Wulidah; Binti Kamis, Arasinah; Aris, Asliza
Jurnal Pendidikan Vokasi Vol. 15 No. 1 (2025): February
Publisher : ADGVI & Graduate School of Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jpv.v15i1.85834

Abstract

The rapid transformation of the fashion industry due to digitalization and globalization has significantly reshaped the competencies required of its workforce. This study aimed to analyze the essential skills demanded by fashion industry stakeholders, assess the relevance of the Tata Busana (Fashion Design) vocational curriculum to these industry needs, and examine the correlation between educational content and industry expectations. Employing a quantitative approach with survey and document analysis methods, data were collected from 96 respondents comprising fashion industry practitioners, vocational teachers, and alumni. The findings indicate that the industry prioritizes a hybrid competency set—advanced technical skills, digital fluency (e.g., computer-aided design and 3D fashion design software), soft skills, and entrepreneurial acumen. However, the current vocational curriculum remains moderately relevant (mean = 3.88), with significant gaps in digital and entrepreneurship integration. Pearson correlation analysis reveals a very strong and statistically significant relationship (r = 0.952, p < 0.01) between curriculum content and industry expectations. These results underscore the urgency of adopting a demand-driven, digitally oriented, and industry-partnered curriculum reform. The study offers valuable insights for policymakers, educators, and curriculum developers seeking to enhance graduate employability and align vocational education with the evolving dynamics of the fashion sector.