Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal Punyimbang

Pemilihan Perkawinan: Tradisi Sebambangan di Rakyat Pepadun Lampung di Desa Banjar Ratu Maharani , Syifa; Rahmatika, Zidny Rizka; Prayogi, Rahmat; Riadi, Bambang
Jurnal Punyimbang Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Punyimbang
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Lampung, FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/punyimbang.v4i2.1131

Abstract

The purpose of this research is to explore a type of marriage of the Lampung Pepadun people in Banjar Ratu village, Way Pengubuan sub-district, Central Lampung district. This research uses a descriptive method through a qualitative approach, with data collection techniques through interviews and observation. The results show that the Lampung Pepadun people in Banjar Ratu Village tend to decide to conduct Sebambangan marriages. There are several reasons underlying this choice, including: 1) the cost factor, where the cost required for a Begawi marriage can be five times greater than a Sebambangan marriage, which only requires a maximum cost of 30 million. 2) the time factor, where the agenda in a Begawi wedding lasts longer than a Sebambangan wedding, which only takes a maximum of two weeks. 3) the social stratum factor, where Begawi marriages are influenced by occupational factors, education, and the traditional title of a family, which is the reason why Begawi marriages are preferred by families with a certain social status, while Sebambangan marriages are preferred by families with different social backgrounds. Tujuan dari riset ini ialah guna mendalami suatu jenis perkawinan dari suatu rakyat Lampung Pepadun di Kampung Banjar Ratu, Kec. Way Pengubuan, Kab. Lampung Tengah. Riset ini menggunakan metode deskriptif melalui pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara serta observasi. Hasil riset menampakkan bahwa rakyat Lampung Pepadun di Desa Banjar Ratu cenderung memutuskan guna melakukan perkawinan Sebambangan. Ada beberapa alasan yang mendasari alternatif ini antara lain: 1) faktor biaya, di mana biaya yang dibutuhkan guna pernikahan Begawi bisa lima kali lebih besar dibandingkan dengan perkawinan Sebambangan, yang hanya memerlukan biaya maksimal 30 juta. 2) faktor waktu, di mana rangkaian agenda dalam pernikahan Begawi berlangsung lebih lama dibandingkan dengan perkawinan Sebambangan hanya membutuhkan waktu maksimal dua minggu. 3) faktor jenjang sosial, di mana perkawinan Begawi dipengaruhi oleh faktor pekerjaan, pendidikan, serta gelar adat suatu keluarga, yang menjadi alasan mengapa perkawinan Begawi lebih dipilih oleh keluarga dengan status sosial tertentu, sementara perkawinan Sebambangan lebih dipilih oleh keluarga dengan latar belakang sosial yang berbeda.
ANALISIS SASTRA BANDINGAN PADA PUISI “LEHOTMU” DENGAN PUISI “BERDIRI AKU” Ainunnisa, Aisyahvira Salwa; Aulia, Miya; Prayogi, Rahmat; Riadi, Bambang
Jurnal Punyimbang Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Punyimbang
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Lampung, FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/punyimbang.v3i2.1133

Abstract

Abstract His research aims to analyze the elements of comparative literature in two poems, namely “Lehotmu” by Ariani Rosa Lesmana and “Berdiri Aku” by Amir Hamzah. The main problem studied is how to analyze the elements of comparative literature in the two poems. The method used in this research is literature study, with the main sources coming from the book Sampian (Anthology of Lampung-Indonesian Bilingual Poetry) and Poetry Theory and Appreciation. The poem “Lehotmu” describes a profound experience related to death and loss, where the main character reflects feelings of fear and despair after experiencing loss. The setting, such as twilight and night, adds to the emotional atmosphere of the poem. In contrast, the poem “Berdiri Aku” emphasizes the spiritual and emotional journey of a person trying to find the meaning of life in the midst of loneliness and uncertainty. Nature serves as a symbol of the character's feelings in the face of doubt and anxiety, but it also shows the determination to continue searching for meaning even though they have not yet found the answer. Both poems provide a deep reflection on the human condition that often faces darkness before reaching enlightenment.   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis unsur-unsur sastra bandingan pada dua puisi, yaitu “Lehotmu” karya Ariani Rosa Lesmana dan “Berdiri Aku” karya Amir Hamzah. Permasalahan utama yang dikaji adalah bagaimana menganalisis unsur sastra bandingan dalam kedua puisi tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka, dengan sumber utama berasal dari buku Sampian (Antologi Puisi Dwibahasa Lampung-Indonesia) dan Teori dan Apresiasi Puisi. Puisi "Lehotmu" menggambarkan pengalaman mendalam terkait dengan kematian dan kehilangan, di mana tokoh utama merefleksikan perasaan takut dan putus asa setelah mengalami kehilangan. Latar yang digambarkan, seperti waktu senja dan malam, menambah atmosfer emosional puisi ini. Sebaliknya, puisi "Berdiri Aku" lebih menonjolkan perjalanan rohani dan emosional seseorang yang berusaha menemukan makna hidup di tengah kesendirian dan ketidakpastian. Alam berfungsi sebagai simbol perasaan tokoh dalam menghadapi keraguan dan kegelisahan, namun juga menunjukkan tekad untuk terus mencari makna meski belum menemukan jawabannya. Kedua puisi ini memberikan refleksi mendalam tentang kondisi manusia yang sering kali menghadapi kegelapan sebelum mencapai pencerahan.