Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

The Influence of Intensity on Social Media Instagram Against Social Comparison With Group Competition as Moderator Nadia Nadia; Nur Fitriany Fakhri; Nur Akmal
ARRUS Journal of Social Sciences and Humanities Vol. 3 No. 6 (2023)
Publisher : PT ARRUS Intelektual Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35877/soshum2342

Abstract

Adolescents tend to be attracted to groups that are particularly vulnerable to the negative psychological and behavioral outcomes of using Instagram social media. Since adolescent behavior is easily shaped by the social context in which they are located, it is likely that friends may be the key that has a strong influence on the behavioral outcomes that adolescents develop from social media use. Given the concerns about the negative consequences of using Instagram social media by teenagers, this study aims to find out how the intensity of Instagram social media use affects social comparison moderated by group competition. The research method used is quantitative research methods. The subjects in this study were adolescents with Instagram social media aged 13-17 years and domiciled in the city of Makassar (N = 334) who were obtained using a cluster random sampling technique. The research data was tested using the Moderation Regression Analysis (MRA) test with the help of the Jamovi 2.3.26 program. The measuring tools used in this study are the social comparison scale, the group competition scale and the intensity scale of social media use. The results showed that there was no significant effect between the intensity of using Instagram social media on social comparison moderated by group competition (p) of 0.704 (p > 0.05). This research offers additional insight into how it is important to understand that the behavior exhibited by adolescents is also strongly shaped by their peer environment. This means that not all adolescents will be affected by social media use to the same degree, but those who face social pressure from their peers are more susceptible to social comparisons.
PELATIHAN PSYCHOLOGICAL FIRST AID PADA MAHASISWA PSIKOLOGI UNM Ismalandari Ismail; Perdana Kusuma; St. Hadjar Nurul Istiqamah; Tri Sulastri; Nur Akmal
Jurnal Kebajikan: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1, No 3 (2023): Mei
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jk.v1i3.43320

Abstract

Psychological first aid (PFA) is a form of psychological intervention that can be given to victims of crises, such as natural disasters. Students are often involved as volunteers in disaster events, but are often more focused on distributing aid or donations. Psychological First Aid training was conducted to increase the knowledge of Marabunta Psychology UNM students who are disaster volunteers about the basic concept and application of PFA to disaster victims. The methods used in this training include lectures and role plays by the participants. The PFA training was divided into four stages including pretest, explanation of the PFA concept by resource persons, role play and relaxation, as well as posttest and evaluation. The results of the analysis of the pretest and posttest data showed that there was a significant increase in the participants' understanding of PFA knowledge.
Optimalisasi Peran Empati Sebagai Langkah Preventif Terhadap Kasus Bullying di SMP Nur Akmal; Novita Maulidya Jalal; Andi Fitri Wahyuni; Rezky Eka Wardana; Andi Mifzal Fauzan
Jurnal Kebajikan: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 1 (2025): NOVEMBER
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jk.v4i1.80788

Abstract

Sekolah merupakan tempat utama bagi pembentukan karakter siswa, namun menjadi salah satu lingkungan yang rentan terhadap munculnya kasus bullying. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa mengenai pentingnya empati sebagai langkah preventif dalam mencegah terjadinya bullying di sekolah. Metode kegiatan menggunakan pendekatan psikoedukasi yang diikuti oleh 12 siswa SMPN 3 Sungguminasa berusia 13–14 tahun. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap pentingnya empati dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti menolong teman, khususnya ketika bullying terjadi di lingkungan sekolah. Melalui kegiatan ini, siswa menjadi lebih peka terhadap kondisi emosional orang lain dan lebih berani untuk bersikap aktif ketika menyaksikan peristiwa bullying. Dengan demikian, psikoedukasi melalui optimalisasi empati dapat menjadi strategi efektif dalam mencegah perilaku bullying yang terjadi di lingkungan sekolah
SELF LOVE SEBAGAI UPAYA MENGURANGI RASA INSECURE PADA SISWA/I KELAS X IPA SMA MUHAMMADIYAH 1 UNISMUH MAKASSAR A Annisa Nurul Qalbi; Nurul Fitrah; Novita Maulidya Jalal; M. Ahkam Alwi; Nur Akmal; Ulil Hidayah Sulaeman; Wahyudi Alengo
Jurnal Kebajikan: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1, No 1 (2022): November
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jk.v1i1.36662

Abstract

Salah satu lingkungan yang memiliki pengaruh bagi siswa adalah sekolah. Sekolah diharapkan mampu memberikan pengalaman terbaik bagi siswa agar dapat memberikan perasaan nyaman pada siswa saat berada di sekolah. Tujuan dari kegiatan psikoedukasi ini yaitu untuk membantu siswa dalam mengetahui, memahami, dan menerapkan meningkatkan rasa percaya diri dengan belajar mencintai dan menerima diri, dan juga dapat menumbuhkan dan menjaga rasa sayang dan cinta terhadap dirinya. Metode yang digunakan dalam psikoedukasi ini ialah metode ceramah dan diskusi, serta dilakukan agenda tambahan seperti mengisi jurnal prompts bersama dilakukan agar siswa dapat melihat sebarapa besar tingkat self love yang dimiliki sebelum materi dilakukan. Kegiatan psikoedukasi dilaksanakan di SMA Muhammadiyah 1 Unismuh Makassar  kelas X IPA dan diikuti oleh sejumlah 22 siswa. Permasalahan utama yang dihadapi siswa kelas X IPA adalah insecure atau tidak percaya pada diri sendiri. Namun, setelah diberikan kuisioner di akhir kegiatan, maka diperoleh hasil evaluasi. Hasil evaluasi tersebut menunjukan bahwa partisipan merasa pemateri dan materi yang disampaikan sudah sangat baik dan menyenangkan.Selain itu, peserta juga menyatakan manfaat dari psikoedukasi self love dalam mengetahui, memahami, menerima, dan menumbuhkan rasa sayang pada dirinya sendiri.Psikoedukasi self love dengan demikian dapat menjadi salah satu metode yang membantu partisipan untuk mengurangi rasa insecure atau rasa tidak percaya diri pada diri mereka.
Psikoedukasi Motivasi Kerja Sebagai Upaya Optimalisasi Peningkatan Semangat Kerja Karyawan Operator di PT Pelindo Terminal Petikemas New Makassar Aulia Insani; Vina Audina Ananda Putri; Nur Akmal
Jurnal Kebajikan: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3, No 2 (2025): JANUARI
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jk.v3i2.72393

Abstract

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan semangat kerja karyawan operator di PT. Pelindo Terminal Petikemas New Makassar melalui psikoedukasi motivasi kerja. Berdasarkan hasil need assessment, ditemukan indikasi penurunan motivasi kerja pada karyawan operator yang bekerja dalam ritme kerja repetitif dan menuntut konsentrasi tinggi. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah psikoedukasi, yang mencakup beberapa strategi intervensi, yaitu health talk, penyebaran poster, dan pemberian motivation card kepada karyawan operator. Evaluasi kegiatan dilakukan melalui wawancara dan observasi yang menunjukkan bahwa mayoritas karyawan menunjukkan antusiasme dan keterlibatan aktif selama kegiatan berlangsung. Karyawan juga memberikan tanggapan positif terhadap isi materi dan menunjukkan pemahaman yang meningkat mengenai pentingnya menjaga motivasi kerja. Poster dan motivation card juga dinilai efektif dalam menyampaikan pesan secara visual dan emosional. Hasil ini mengindikasikan bahwa pendekatan psikoedukasi yang bervariasi dan kontekstual mampu meningkatkan kesadaran karyawan terhadap pentingnya motivasi dalam bekerja. Namun demikian, hasil kegiatan juga menunjukkan bahwa motivasi kerja masih dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti kondisi lingkungan kerja dan apresiasi dari atasan. Oleh karena itu, diperlukan strategi lanjutan yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan dari pihak manajemen untuk mendukung hasil intervensi ini.
Upaya Pencegahan Dini dan Peningkatan Pengetahuan Tentang Bullying pada Siswa Kelas Tinggi SDIT Darul Fikri Makassar Nur Akmal; Waode Ulfayati Putri; Tasliyah Dinda Puspita; Qanitah Salsabila
Jurnal Kebajikan: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3, No 3 (2025): MEI
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jk.v3i3.72553

Abstract

Sekolah merupakan lingkungan penting bagi perkembangan anak, namun sering kali menjadi tempat terjadinya bullying yang dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran partisipan mengenai fenomena bullying serta sebagai upaya pencegahan sejak dini melalui kegiatan psikoedukasi yang interaktif dan menyenangkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi asesmen awal melalui wawancara, observasi, dan pre-test, diikuti dengan pelaksanaan psikoedukasi yang mencakup ice breaking, pemutaran video edukatif, penyampaian materi melalui presentasi, serta evaluasi menggunakan kuis interaktif, rantai afirmasi positif dan pemberian permainan interaktif. Partisipan berusia 9 tahun hingga 12 tahun dengan 28 perempuan dan 39 laki-laki. Hasil dari pelaksanaan psikoedukasi ini, partisipan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman tentang bullying, jenis-jenis bullying, dampak negatif, dan langkah pencegahan bullying. Metode psikoedukasi yang digunakan terbukti efektif dalam menciptakan suasana belajar yang menarik dan menyenangkan. Dengan demikian, psikoedukasi tidak hanya meningkatkan pengetahuan siswa tentang bullying, tetapi juga berkontribusi dalam mencegah perilaku bullying sejak dini serta menjaga hubungan pertemanan yang positif dan suportif.