Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

GAMBARAN KLINIKOPATOLOGI POLIP HIDUNG DI POLIKLINIK  THT-KL RSUP DR. M. DJAMIL TAHUN 2019-2021 Dira, Atshyfa Zsazsa; Huriyati, Effy; Rustam, Erlina; Djosan, Al Hafiz; Endrinaldi, Endrinaldi; Intan, Shinta Ayu
SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah Vol. 2 No. 5 (2025): SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah, Mei 2025
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/sinergi.v2i5.1257

Abstract

Nasal polyps appear as a round, semi-transparent mass and typically develop in the middle meatus and paranasal sinuses. Histologically, nasal polyps can be divided into two subtypes, eosinophilic and neutrophilic polyps. The recurrence rate of nasal polyps is quite high, with 60-70% of patients experiencing recurrence after undergoing FESS treatment for about 18 months. The purpose of this study was to determine the clinical and histopathological characteristics of patients with nasal polyps at the THT-KL Polyclinic of Dr. M. Djamil Central Hospital in 2019-2021. This study used a descriptive design with total sampling method. The sample in this study consisted of 77 patients who met the inclusion criteria. The results of this study showed that the most frequent clinicopathological characteristics of nasal polyps in the patients were: middle-aged age group (37.66%), male gender (54.5%), sinusitis risk factor (89.61%), bilateral nature of polyps (57.14%), the most common stage was stage II (50.65%), clinical symptom of nasal congestion (98.7%), surgical management (88.31%), neutrophilic histopathological type (84.42%), with a recurrence rate of 19.48%. In conclusion, the most frequent age distribution of patients with nasal polyps was in the 41-60 age group, with the most common male gender, sinusitis risk factor, bilateral type of polyps, the most common stage was stage II, clinical symptom of nasal congestion, the most common management was surgical, histopathological type was neutrophilic, and is recurrent
HUBUNGAN STATUS IMUNISASI BCG DENGAN MORTALITAS DAN DERAJAT SEVERITAS MENINGITIS TUBERKULOSIS ANAK DI RSUP DR. M. DJAMIL PADANG PERIODE 2018 – 2021 Nixon, Poety Elberta Husna; Lestari, Rahmi; Intan, Shinta Ayu; Amelin, Fitrisia; Ermayanti, Sabrina; Adrial, Adrial
SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah Vol. 2 No. 6 (2025): SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah, Juni 2025
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/sinergi.v2i6.1314

Abstract

Objective: This study aims to determine the relationship between BCG immunization status with mortality and severity of TB meningitis in children at RSUP Dr. M. Djamil Padang. Method: This study used a cross-sectional design in children with TB meningitis and used the Kolmogorov-Smirnov and Chi-Square statistical tests. Sampling using total sampling technique with a total sample of 58 people. Data obtained from the medical records of RSUP Dr. M. Djamil Padang in 2018 – 2021. Result: This study shows that most pediatric TB meningitis patients with the condition are women (53%), aged 0-4 years (48%), good nutritional status (40%), not in direct contact with TB patients (74%), received BCG immunization (55%), severe degree (59%), and alive (76%). There is a relationship between BCG immunization status and degree of severity (p=0.046) and mortality (p=0.047) of pediatric TB meningitis patients at RSUP Dr. M. Djamil Padang in 2018 – 2021. Conclusion: The conclusion of this study is that there is a relationship between BCG immunization status and the degree of severity and mortality of TB meningitis in children at RSUP Dr. M. Djamil Padang in 2018 – 2021.
Evaluasi Penggunaan Obat Antiemetik pada Pasien Kanker Ovarium Pasca Kemoterapi Putra, Xavier Novdi Tansyah; Rustam, Erlina; Ariani, Novita; Rahmatini; Muhammad, Syamel; Intan, Shinta Ayu
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i4.1362

Abstract

Latar Belakang: Kanker ovarium merupakan kanker pada perempuan yang cukup sering terjadi dan mematikan. Penggunaan kemoterapi dalam pengobatan dapat menyebabkan mual muntah sehingga diperlukan penggunaan obat yang efektif dan rasional. Objektif: Untuk mengevaluasi penggunaan obat antiemetik pada pasien kanker ovarium pasca kemoterapi di RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2020-2022. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Data rekam medis dikumpulkan dengan teknik total sampling. Sampel yang memenuhi inklusi berjumlah 45 sampel. Hasil: Hasil penelitia­­n didapatkan karakteristik terbanyak pada kelompok usia 41-60 tahun (48,9%), berpendidikan SLTU (75,6%), dan pekerjaan ibu rumah tangga (55,6%). Jenis obat kemoterapi yang paling banyak digunakan adalah paklitaksel-karboplatin (42,2%). Sebagian besar pasien mendapatkan antiemetik pra-kemoterapi berupa deksametason-difenhidramin-ondansetron-ranitidin (71,1%) serta pasca kemoterapi berupa metoklopramid-ranitidin dalam 3 siklus (74,8%). Rasionalitas penggunaan obat antiemetik pada pasien kanker ovarium pasca kemoterapi yaitu kesesuaian indikasi 93,3%, kesesuaian obat 62,2%, kesesuaian dosis 91,1%, kesesuaian pasien 97,8% dan potensi interaksi obat 2,2%. Kesimpulan: Karakteristik pasien kanker ovarium di RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2020-2022 sering terjadi pada kelompok usia 40-60 tahun, pendidikan SLTU, dan pekerjaan ibu rumah tangga. Sebagian besar pasien mendapatkan obat kemoterapi paklitaksel-karboplatin dan obat antiemetik pra-kemoterapi deksametason-domperidon-ondansetron-ranitidin serta pasca kemoterapi metoklopramid-ranitidin. Rasionalitas penggunaan obat antiemetik pada pasien kanker ovarium pasca kemoterapi sebagian besar sudah sesuai. Kata kunci: antiemetik, kanker ovarium, kemoterapi, rasionalitas
Subcorneal Pustular Dermatosis Dengan Diabetes Melitus Tipe 2 dan Dislipidemia: Sebuah Laporan Kasus Gustia, Rina; Muchyar, Mutia Sari; Ashar, Miranda; Imaduddin, Ummul Khair; Intan, Shinta Ayu; Oktora, Meta Zulyati
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.331

Abstract

Pendahuluan: Subcorneal pustular dermatosis (SPD), atau penyakit Sneddon–Wilkinson, merupakan dermatosis neutrofilik kronis yang jarang, ditandai dengan pustul superfisial berulang. SPD semakin banyak dilaporkan berhubungan dengan penyakit sistemik, terutama gangguan metabolik seperti diabetes melitus tipe 2 dan dislipidemia, yang dapat berkontribusi terhadap onset dan kekambuhan penyakit. Laporan kasus: Seorang perempuan berusia 36 tahun yang datang dengan keluhan bercak kemerahan berulang disertai pustul superfisial flaksid berwarna kekuningan yang gatal pada daerah perut dan punggung bawah selama dua bulan terakhir. Lesi awalnya membaik dengan kortikosteroid topikal tetapi kambuh kembali dua minggu kemudian dengan cakupan yang lebih luas. Pasien tidak mengeluhkan demam maupun riwayat konsumsi obat sebelumnya. Pasien memiliki penyakit dasar diabetes melitus tipe 2 dan dislipidemia, keduanya dalam kondisi tidak terkontrol dengan baik. Pemeriksaan klinis menunjukkan plak eritematosa multipel dengan pustul superfisial, krusta, erosi, serta makula hiperpigmentasi pada perut dan punggung bawah. Pemeriksaan dermoskopi menunjukkan multiple yellow-white globule di atas dasar eritematosa yang dikelilingi sisik halus. Evaluasi psikologis menunjukkan tingkat kecemasan sedang dan dampak sedang terhadap kualitas hidup.  Kesimpulan: Kasus ini menekankan pentingnya mengevaluasi dan menangani komorbiditas sistemik, karena disfungsi metabolik dapat berkontribusi terhadap inflamasi persisten, kekambuhan berulang, dan respons terapi yang kurang optimal pada Subcorneal Pustular Dermatosis.