Claim Missing Document
Check
Articles

Identifikasi Struktur Pada Antibiotika Golongan Tetrasiklin Yang Memberikan Efek Toksik Dengan Uji In-Silico Susi Susilawati; Taufik M. Fakih; Bertha Rusdi
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8900

Abstract

Abstrak. Tetrasiklin adalah kelompok antibiotik yang memiliki spektrum luas dalam melawan bakteri, namun penggunaan antibiotik tetrasiklin dibatasi oleh efek samping yang ditimbulkan kelompok obat ini seperti Iritasi Lambung, demam,hingga kerusakan sel hati. Efek samping tersebut erat kaitannya dengan struktur yang dimiliki oleh senyawa sehingga pada penelitian dilakukan identifikasi gugus fungsi yang dapat menyebabkan efek samping pada golongan obat tetrasiklin serta sifat fisikokimia golongan obat tersebut. Sifat fisikokimia golongan tetrasiklin diprediksi secara insilico dengan menggunakan perangkat lunak Swiss ADME. Toksisitas golongan tersebut diidentifikasi secara in silico menggunakan perangkat lunak, prediksi PASS, Protox II dan Gauss view. Struktur yang menimbulkan efek samping diidentifikasi berdasarkan data yang diperoleh dari berbagai artikel ilmiah. Hasil penelitian menunjukan golongan tetrasiklin memenuhi aturan Lipinsky, yaitu kurang dari 500 g/mol. Kata Kunci: Struktur, efek samping, toksisitas, Fisikokimia, Tetrasiklin Abstract. Tetracyclines are a group of antibiotics that have a broad spectrum against bacteria, but the use of tetracycline antibiotics is limited by the side effects this group of drugs can cause, such as stomach irritation, fever, and liver cell damage. These side effects are closely related to the structure of the compound so that in this study the identification of functional groups that could cause side effects in the tetracycline class of drugs and the physicochemical properties of the drug class was carried out. The physicochemical properties of the tetracyclines were predicted insilico using the Swiss ADME software. The toxicity of these groups was identified in silico using software, PASS prediction, Protox II and Gauss view. Structures that cause side effects are identified based on data obtained from various scientific articles. The results showed that the tetracycline group complied with Lipinsky's rules, namely less than 500 g/mol. Keywords: Structure, side effects, toxicity, physicochemistry, tetracyclines
Uji Aktivitas Daun Sirsak (Annona Muricata L.) Pada Reseptor Beta Adrenergic Sebagai Antihipertensi Secara In Silico Galand Febrial Akbar; Taufik Muhammad Fakih; Bertha Rusdi
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.9132

Abstract

Abstract. Hypertension is a condition where arterial blood pressure is persistently elevated. Hypertension therapy can be treated with several groups of drugs. One of the targets of hypertension treatment is beta-1 adrenergic receptors. Phenol and acetogenin compounds in soursop leaves are reported to have antihypertensive effects in vivo. This study aims to prove in silico that phenol and acetogenin compounds in soursop leaves have potential as antihypertensives. Docking simulation of test compounds against test receptors (beta adrenergic) using MGLTools 1.5.6 software equipped with Autodock Tools version 4.2. Based on the results of the study, the docking results of goniothalamicin compounds have better affinity among the four other test compounds. The goniothalamicin compound from soursop leaves has the best free energy of bonding (ΔG) value among other test compounds which is -8.39 kcal/mol. The toxicity prediction results of goniothalamicin compounds are not classified as toxic compounds so they are safe to use. The conclusion of this study is that the test compound goniothalamicin has the potential as a candidate compound for antihypertensive treatment. Abstrak. Hipertensi merupakan suatu kondisi dimana tekanan darah arteri meningkat secara terus-menerus. Terapi hipertensi dapat diobati dengan beberapa kelompok golongan obat. Salah satu target pengobatan hipertensi adalah reseptor beta-1 adrenergik. Senyawa fenol dan asetogenin dalam daun sirsak dilaporkan memiliki efek antihipertensi secara in vivo. Penelitian ini bertujuan membuktikan secara in silico senyawa fenol dan asetogenin pada daun sirsak berpotensi sebagai antihipertensi. Simulasi docking senyawa uji terhadap reseptor uji (beta adrenergik) menggunakan software MGLTools 1.5.6 yang dilengkapi Autodock Tools versi 4.2. Berdasarkan hasil penelitian, hasil docking senyawa goniothalamicin memiliki afinitas yang lebih baik diantara keempat senyawa uji senyawa lainnya. Senyawa goniothalamicin dari daun sirsak mempunyai nilai energi bebas ikatan (ΔG) yang paling baik diantara senyawa uji lainnya yaitu sebesar -8,39 kcal/mol. Hasil prediksi toksisitas senyawa goniothalamicin tidak tergolong senyawa yang toksik sehingga aman digunakan. Maka kesimpulan dari penelitian ini yaitu senyawa uji goniothalamicin berpotensi sebagai kandidat senyawa pengobatan antihipertensi.
Pembentukan Tikus Model Tukak Lambung yang Diinduksi Aspirin dan Etanol Rani Pertiwi; Umi Yuniarni; Bertha Rusdi
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14294

Abstract

Abstract. Prevalence of peptic ucer in Indonesia is quite high, and if not treated properly can cause serious complications. Peptic ulcer can cause Helicobacter pylori infection, long-term use of nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAID), alcohol consumption, or stress. pharmacological activity test of the success of the inducing agent to produce the desired disease model event is an important part of the research, so that in this study gastric ulcer inducing agents are commonly used in many studies will be tested, namely NSAID drugs such as aspirin and ethanol. In this study, a model of gastric ulcer mice was made with aspirin at various doses, namely 450 mg/kgbb, 750 mg/kgbb, 1000 mg/kgbb, 1500 mg/kgbb and absolute ethanol 5 mL / kgbb. Theormulation of the research problem is to see whether aspirin and ethanol can be inducing agents in animal models of gastric ulcers? At what dose can aspirin cause gastric ulcers? What are the comparative results of animal models of gastric ulcers using NSAIDs and Ethanol? This study was conducted experimentally in the laboratory by observing the occurrence of ulcers in the stomach of mice that had been sacrificed macroscopically. The results of study showed aspirin dose of 450 mg/kgbb did not succeed making animal model gastric ulcer. Aspirin 750 mg/kgbb on the 5 day of administration resulted in death, aspirin 1000 mg/kgbb on the 4 day resulted in death, the condition of the two stomachs of the test animals that died was enlarged, bloated, and pale color. Aspirin 1500 mg/kgbb tested for one day succeeded becoming an ulcer-inducing agent by showing presence ulcers in stomach and the use of absolute ethanol 5 mL/kgbb could be an ulcer-inducing agent by showing wounds in the stomach of the test animal. With almost similar conditions, absolute ethanol 5 ml/kgbb gave clearer macroscopic results of the presence of gastric ulcers compared to aspirin 1500 mg/kgbb. Abstrak. Prevalensi kejadian tukak lambung di Indonesia cukup tinggi, dan apabila tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan komplikasi serius. Penyebab tukak lambung dapat terjadi akibat adanya infeksi Helicobacter pylori, penggunaan jangka panjang obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), konsumsi alkohol, maupun stress. Pada pengujian aktivitas farmakologi keberhasilan agen penginduksi untuk menghasilkan kejadian model penyakit yang diinginkan menjadi bagian penting dari suatu penelitian, sehingga pada penelitian ini akan diuji agen penginduksi tukak lambung yang umum digunakan pada banyak penelitian yaitu obat golongan NSAID berupa aspirin dan etanol untuk memastikan keberadaan tukak pada lambung hewan uji. Penelitian ini dilakukan pembuatan model tikus tukak lambung dengan aspirin pada berbagai dosis yakni 450 mg/kgbb, 750 mg/kgbb, 1000 mg/kgbb, 1500 mg/kgbb dan etanol absolut 5 mL/kgbb. Rumusan masalah penelitian ini yaitu untuk melihat apakah aspirin dan etanol dapat menjadi agen penginduksi pada hewan model tukak lambung? Pada dosis berapakah aspirin dapat menyebabkan tukak pada lambung? Bagaimana hasil perbandingan hewan model tukak lambung yang menggunakan NSAID dan Etanol? Penelitian ini dilakukan secara eksperimental di laboratorium dengan melihat kejadian tukak pada lambung tikus yang telah dikorbankan secara makroskopis. Hasil dari penelitian menunjukan aspirin dosis 450 mg/kgbb tidak berhasil membuat hewan uji model tukak lambung. Aspirin 750 mg/kgbb pada pemberian hari ke-5 mengalami kematian, aspirin 1000 mg/kgbb pada hari ke-4 mengalami kematian, kondisi kedua lambung hewan uji yang mengalami kematian membesar, kembung, serta berwarna pucat. Aspirin 1500 mg/kgbb pengujian selama satu hari berhasil menjadi agen penginduksi tukak dengan menunjukan adanya tukak pada lambung yang terlihat secara makroskopis serta penggunan etanol absolut 5 mL/kgbb dapat menjadi agen penginduksi tukak dengan menunjukan adanya luka pada lambung hewan uji. Dengan kondisi yang hampir serupa, etanol absolut 5 ml/kgbb memberikan hasil makroskopik keberadaan tukak lambung yang lebih jelas dibandingkan aspirin 1500 mg/kgbb.
Literature Review: Aktivitas Farmakologi Senyawa Fenol Shafira Salsabila Azzahra; Bertha Rusdi; Farendina Suarantika
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14484

Abstract

Abstract. Phenolic compounds consist of one (phenolic acid) or more polyphenol aromatic structures bound to a hydroxyl group. Phenolic compounds play an important role in plants and humans. These compounds are well known to have various biological and pharmacological activities. Their biological and pharmaceutical activities are based on their phenolic rings and hydroxyl groups. This research uses the systematic literature review (SLR) method with Google Scholar, Pubmed, and ScienceDirect search tools to examine the pharmacological activities of phenol compounds. The results of the literature review showed that phenol compounds have various pharmacological activities on human health, namely kaempferol compounds as antioxidants, 6-shogaol as anti-diabetes, cyanidin-3-O-glucoside as anti-inflammatory, ellagitannin as antimicrobial, quercetin as anti-cancer, and daidzein as anti-osteoporosis. Abstrak. Senyawa fenolik terdiri dari satu (asam fenolik) atau lebih struktur aromatik polifenol yang terikat pada gugus hidroksil. Senyawa fenolik berperan penting dalam tumbuhan dan manusia. Senyawa ini terkenal memiliki berbagai aktivitas biologis dan farmakologi. Aktivitas biologis dan farmasinya didasarkan pada cincin fenolik dan gugus hidroksilnya. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur sistematis (SLR) dengan alat pencari Google Scholar, Pubmed, dan ScienceDirect untuk mengkaji aktivitas farmakologi senyawa fenol. Hasil kajian literatur menunjukkan bahwa senyawa fenol memiliki berbagai aktivitas farmakologi terhadap kesehatan manusia, yaitu senyawa kaempferol sebagai antioksidan, 6-shogaol sebagai anti diabetes, cyanidin-3-O-glucoside sebagai antiinflamasi, ellagitannin sebagai antimikroba, kuersetin sebagai anti kanker, dan daidzein sebagai anti osteoporosis.
Skrining Aktivitas Antidiabetes pada Beberapa Ekstrak Menggunakan Metode Nelson-Somogyi Anisa Sopiani; Ratih Aryani; Bertha Rusdi
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14592

Abstract

Abstract. Diabetes mellitus is a chronic health condition characterized by high blood glucose levels due to impaired insulin production or function. With the increasing prevalence of diabetes in Indonesia, it encourages researchers to look for alternative treatments sourced from natural materials. One of the first steps is to screen the potential of natural compounds as antidiabetics. In this systematic literature review, the potential of natural ingredients as antidiabetic candidates was assessed in vitro using the Nelson Somogyi method. The results of the study found that some extracts containing flavonoid compounds have the potential to reduce blood glucose levels. The combination of cabbage and tomato ethanol extract in the ratio (1:2) has the best glucose level reduction of 4.52 ppm. Abstrak. Diabetes melitus merupakan kondisi kesehatan kronis yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa dalam darah akibat gangguan produksi atau fungsi insulin. Dengan meningkatnya prevalensi diabetes di Indonesia, mendorong para peneliti untuk mencari alternatif pengobatan yang bersumber dari bahan alam. Salah satu langkah awal adalah dengan melakukan skrining potensi senyawa bahan alam sebagai antidiabetes. Pada Systematic literature review ini dilakukan pengkajian potensi bahan alam sebagai kandidat antidiabetes secara in vitro dengan menggunakan metode Nelson Somogyi. Hasil kajian didapatkan bahwa beberapa ekstrak yang mengandung senyawa flavonoid memiliki potensi dalam menurunkan kadar glukosa darah. Kombinasi ekstrak etanol kubis dan ekstrak etanol tomat pada perbandingan (1:2) memiliki penurunan kadar glukosa terbaik sebesar 4,52 ppm.
Optimasi Ekstraksi Pati Kulit Pisang Ambon (Musa paradisiaca var. Sapientum L.) dengan Metode Ultrasound-Assisted Extraction (UAE) Tsania Nujjia Wijaya; Bertha Rusdi; Yani Lukmayani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14730

Abstract

Abstract. Ambon banana peel starch has been extracted using maceration method, but it resulted in low starch yield of 1.62% (Rusdi et al., 2023). This study optimizes the extraction of starch from ambon banana peel using Ultrasound-Assisted Extraction (UAE) method with temperature variation of 20, 30, 40°C and time of 10, 20, 30 minutes based on starch yield and total carbohydrate content. Based on data testing of starch yield percent with Analysis of variance (ANOVA), a p-value of 0.000 (<0.05) was obtained, indicating that temperature and time had a significant effect on starch yield percent. While in the carbohydrate content data, a p-value of 0.002 (<0.05) was obtained, indicating that temperature and time also had a significant effect on carbohydrate content. The results showed that 40°C and 30 minutes gave the highest yield. However, these results were not consistent with the carbohydrate content, with the maximum results obtained at 30°C and 20 minutes. It can be concluded that the optimal conditions cannot be determined because the pattern of starch yield and carbohydrate content is not consistent. Abstrak. Pati kulit pisang ambon telah diekstraksi menggunakan metode maserasi, namun menghasilkan rendemen pati yang rendah yaitu 1,62% (Rusdi et al., 2023). Penelitian ini mengoptimalkan ekstraksi pati dari kulit pisang ambon menggunakan metode Ultrasound-Assisted Extraction (UAE) dengan variasi suhu 20, 30, 40°C dan waktu 10, 20, 30 menit berdasarkan perolehan rendemen pati dan kadar karbohidrat total. Berdasarkan pengujian data persen rendemen pati dengan Analisis varian (ANOVA), diperoleh p-value sebesar 0,000 (<0,05), menandakan suhu dan waktu berpengaruh secara signifikan pada persen rendemen pati. Sedangkan pada data kadar karbohidrat, diperoleh p-value sebesar 0,002 (<0,05) yang menunjukkan suhu dan waktu juga berpengaruh signifikan pada kadar karbohidrat. Hasil menunjukkan bahwa suhu 40°C dan waktu 30 menit memberikan rendemen tertinggi. Namun, hasil tersebut tidak konsisten dengan kadar karbohidrat, dengan hasil maksimum yang diperoleh pada suhu 30°C dan waktu 20 menit. Maka dapat disimpulkan kondisi optimal belum dapat ditentukan karena pola persen rendemen pati dan kadar karbohidrat tidak konsisten.
Analisis Kadar Aluminium Klorohidrat pada Produk Deodoran-Antiperspiran dengan Berbagai Metode Penelitian Fitri Anjani; Bertha Rusdi; Hilda Aprilia
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14833

Abstract

Abstract. Deodorants, which are topical products used to reduce body odor, contain aluminum chlorohydrate as an antiperspirant. High concentrations can be toxic, with BPOM setting a maximum limit of 20%. Recent research has developed various methods to analyze aluminum levels in deodorant-antiperspirants, including SSA, DIC, paper-based colorimetry, ion chromatography, ion electrodes, and Franz™ diffusion cells. Validation parameters for these methods vary: linearity (R² 0.9941-0.9999), precision (SD 0.000298-0.030), accuracy (% recovery 91-115%), LOD 0.000665-3.6 mg/L, and LOQ 0.0023-10.2 mg/L. SSA is highlighted for its comprehensive validation, while DIC excels in LOD and LOQ, making both methods optimal for analyzing aluminum chlorohydrate levels in deodorant-antiperspirants. Abstrak. Deodoran, sebagai produk topikal untuk mengurangi bau badan, mengandung aluminium klorohidrat sebagai zat antiperspiran. Penggunaan dalam konsentrasi tinggi dapat berisiko toksik, dengan batas maksimum BPOM adalah 20%. Penelitian terkini mengembangkan berbagai metode untuk menganalisis kadar aluminium dalam deodoran-antiperspiran, termasuk SSA, DIC, kolorimetri platform kertas, kromatografi ion, ion elektroda, dan sel difusi Franz™. Validasi metode menunjukkan hasil yang berbeda-beda: linearitas (R² 0,9941-0,9999), presisi (SD 0,000298-0,030), akurasi (% recovery 91-115%), LOD 0,000665-3,6 mg/L, dan LOQ 0,0023-10,2 mg/L. Metode SSA menonjol dari segi validasi lengkap, sementara metode DIC unggul dalam LOD dan LOQ, sehingga keduanya adalah pilihan terbaik untuk analisis kadar aluminium klorohidrat dalam deodoran-antiperspiran.
Pengembangan Eksipien tablet dari Pati Termodifikasi Feni Muhaimin Febriyanti; Ratih Aryani; Bertha Rusdi
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14913

Abstract

Abstract. Starch is a primary metabolite, namely polysaccharides derived from plants found in plant parts such as roots, stems, seeds, and fruits, this starch is composed of two molecular components, namely amylose and amylopectin. Modified starch is natural starch that has undergone advanced stages as an effort to change physical and chemical properties in a controlled manner so as to change one or more properties of the starch, so as to support the use of starch as an excipient in the pharmaceutical industry. This study was conducted to determine the potential of modified starch that can be used as an excipient in tablet preparations. The research conducted was a literature study using research articles available online. Based on the studies that have been carried out, modified starch has the potential as an excipient material in tablet making by covering fillers, crushers, and binders which is proven that modified starch can be selected as an excipient in the manufacture of tablet pharmaceutical preparations because modified starch has physicochemical properties that are more supportive than natural starch which has disadvantages if used as an excipient material in tablet preparation when used in its natural form. Abstrak. Pati merupakan metabolit primer yaitu polisakarida yang berasal dari tumbuhan yang terdapat pada bagian tumbuhan seperti pada akar, batang, biji, dan buah, pati ini tersusun dari dua komponen molekul yaitu amilosa dan amilopektin. Pati modifikasi adalah pati alami yang telah mengalami tahap lanjutan sebagai upaya perubahan sifat fisika dan kimia secara terkendali sehingga dapat merubah satu atau lebih sifat dari pati tersebut, sehingga dapat menunjang penggunaan pati sebagai bahan eksipien pada industri farmasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi pati termodifikasi yang dapat digunakan sebagai bahan eksipien pada sediaan tablet. Penelitian yang dilakukan adalah studi literatur dengan menggunakan artikel penelitian yang tersedia secara online. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, pati termodifikasi mempunyai potensi sebagai bahan eksipien pada pembuatan tablet dengan meliputi pengisi, penghancur, dan pengikat yang dibuktikan bahwa pati termodifikasi dapat dipilih sebagai eksipien dalam pembuatan sediaan farmasi tablet karena pati termodifikasi memiliki sifat fisikokimia yang lebih menunjang dibandingkan dengan pati alami yang memiliki kekurangan jika dijadikan sebagai bahan eksipien pada pembuatan sediaan tablet apabila dipakai dalam bentuk alaminya.
Penetapan Parameter Standar dan Skrining Fitokimia Simplisia Batang Sereh (Cymbopogon citratus) Lailatul Taqbi Rahmatya; Umi Yuniarni; Bertha Rusdi
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14926

Abstract

Abstract. Lemongrass is a plant that has many uses in traditional medicine in addition to kitchen spices, kitchen lemongrass is also useful as a remedy for headaches, body warming, cough, stomach pain, diarrhea, heat reduction, and mosquito repellent. The purpose of this study is to obtain standard values of parameters and phytochemical screening of kitchen lemongrass stems (Cymbopogon citratus). This study uses laboratory experimental research methods by testing specific parameters in the form of water-soluble and ethanol-soluble juice levels, non-specific parameters in the form of drying shrinkage, moisture content, and specific weight, as well as phytochyma screening referring to the Pharmacopoeia Indonesia Herbal. The results of the standard parameters of lemongrass stem water soluble juice content were 30.61%, ethanol soluble juice content was obtained 26.44%, drying shrinkage of lemongrass stem was 6.91%, moisture content was 9.19%, 9.85% and specific weight was obtained of 0.85 g/mL. The results of phytochemical screening screening of lemongrass stem simplicia contain a group of alkaloid compounds, flavonoids, polyphenolates, saponins, tannins, monoterpenoids and sesquiterpenoids. Abstrak. Sereh merupakan tanaman yang memiliki banyak digunakan dalam pengobatan tradisional selain untuk bumbu dapur sereh dapur juga bermanfaat sebagai obat untuk sakit kepala, penghangat badan, batuk, nyeri lambung, diare, penurun panas, dan pengusir nyamuk. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh nilai-nilai standar parameter dan skrining fitokimia batang sereh dapur (Cymbopogon citratus). Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental laboratorium dengan menguji parameter spesfik berupa kadar sari larut air dan larut etanol, parameter non spesifik berupa susut pengeringan, kadar air, dan bobot jenis, serta skrining fitokima yang merujuk pada Farmakope Herbal Indonesia. Hasil parameter standar batang sereh kadar sari larut air sebesar 30,61%, kadar sari larut etanol diperoleh 26,44%, susut pengeringan batang sereh sebesar 6,91%, kadar air sebesar 9,19%, 9,85% dan bobot jenis diperoleh sebesar 0,85 g/mL. Hasil penapisan skrining fitokimia simplisia batang sereh mengandung golongan senyawa alkaloid, flavonoid, polifenolat, saponin, tanin, monoterpenoid dan sesquiterpenoid.
Metode Analisis Penetapan Kadar Asam Traneksamat dalam Kosmetik Tiara Az-zahra Choerunisa; Bertha Rusdi
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14990

Abstract

Abstract. Tranexamic acid (TA) is an important active substance in pharmaceutical formulations as a fibrinolytic agent. Some researchers have found that tranexamic acid is a relatively new therapeutic agent for melasma. Topical agents containing tranexamic acid are considered safer because there is no systemic absorption. This research is a literature study or systematic literature review. This research uses a systematic literature review approach regarding the analysis of determining levels of tranexamic acid in cosmetics published in journals using various analytical methods such as HPLC, HPLC-UV and HPLC-SM/SM. Based on the results of the review of these 6 journals, the linearity parameter range is 0.993-0.9993%; precision parameters, namely 0.71-104.85%; accuracy parameters, namely 99.789-101.8%; RSD value 0.24-11.35%; LOD parameters are 1.87 µg/mL and 30.225 µg/mL; LOQ parameters are 6.25 µg/mL and 100.85 µg/mL; and RE values ​​lower than 2.62% and 4.96%. The most appropriate, fast, efficient and accurate method according to the objectives is to use the HPLC method. Absrak. Asam traneksamat (TA) merupakan zat aktif penting dalam formulasi sediaan farmasi sebagai agen fibrinolitik. Beberapa peneliti menemukan bahwa asam traneksamat merupakan agen terapi yang relatif baru untuk melasma. Agen topikal yang mengandung asam traneksamat dianggap lebih aman karena tidak terdapat penyerapan sistemik. Penelitian ini adalah penelitian studi kepustakaan atau systematic literature review. Penelitian ini menggunakan pendekatan systematic literature review mengenai analisis penetapan kadar asam traneksamat dalam kosmetik yang dipublikasikan dalam jurnal dengan menggunakan berbagai macam metode analisis seperti KCKT, KCKT-UV dan KCKT-SM/SM. Berdasarkan hasil dari review 6 jurnal tersebut, rentang parameter linearitas yaitu 0,993-0,9993%; parameter presisi yaitu 0,71-104,85%; parameter akurasi yaitu 99,789-101,8%; nilai RSD 0,24-11,35%; parameter LOD yaitu 1,87 μg/mL dan 30,225 µg/mL; parameter LOQ yaitu 6,25 μg/mL dan 100,85 µg/mL; serta nilai RE lebih rendah dari 2,62% dan 4,96%. Metode yang paling tepat, cepat, efisien dan akurat sesuai dengan tujuan adalah dengan menggunakan metode KCKT.