Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Studi Literatur Identifikasi Kandungan Babi dengan Metode Molekuler dan Metode Immunoassay Mayang Fitriani Sukma Dewi; Bertha Rusdi; Anggi Arumsari
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.208 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4713

Abstract

Abstract: Halal products are needed by countries with a majority Muslim population. Food products can be said to be halal because they do not contain haram ingredients and the processing method does not conflict with Islamic law. The haram ingredient that is often found in food is pork because it tastes delicious and the price is relatively cheap. One way to guarantee food originating from animals is to identify compounds derived from pigs using various methods, including molecular methods and immunoassay methods. This study was conducted using the Systematic Literature Review (SLR) method. Journal search using Google Scholar and Sciencedirect search engines with keywords identification, pork content, immunoassay, pork detection, molecular methods, pork derivative analysis. The search was limited to journals published within the last 10 years. Of the 16 journals that have been reviewed, there is 1 journal that contains immunoassay method and 15 other journals that contain molecular method. The results of the review from the 16 journals explain the detection methods used in the molecular method, namely the Polymerase Chain Reaction (PCR) method, and the Polymerase Chain Reaction Restriction Fragment Length Polymorphism (PCR-RFLP) method, in the immunoassay method, namely the Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) method. As well as explaining the principles of the PCR, PCR-RFLP, ELISA and primers methods used to detect PRE-1, cytochrome b, and leptin genes. Abstrak: Produk halal sangat dibutuhkan oleh Negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Produk pangan bisa dikatakan halal dikarenakan tidak mengandung bahan haram serta cara pengolahannya tidak bertentangan dengan syariat Islam. Bahan haram yang sering ditemukan dalam pangan yaitu babi dikarenakan rasanya yang gurih dan harganya relatif murah. Salah satu cara untuk penjaminan pangan yang berasal dari hewan yaitu dengan mengidentifikasi senyawa yang berasal dari babi dengan berbagai metode, diantaranya metode molekuler dan metode immunoassay. Studi ini dilakukan dengan metode Systematic Literature Review (SLR). Pencarian jurnal menggunakan mesin pencarian Google Cendekia dan Sciencedirect dengan kata kunci identifikasi, kandungan babi, immunoassay, deteksi babi, metode molekuler, pork derivative analysis. Pencarian dibatasi pada jurnal yang diterbitkan dalam waktu 10 tahun terakhir. Dari 16 jurnal yang telah di review, terdapat 1 jurnal yang berisi tentang metode immunoassay dan 15 jurnal lainnya berisi tentang metode molekuler. Hasil review dari ke-16 jurnal tersebut menjelaskan tentang metode deteksi yang digunakan pada metode molekuler yaitu metode Polymerase Chain Reaction (PCR), dan metode Polymerase Chain Reaction Restriction Fragment Length Polimorfism (PCR-RFLP), pada metode immunoassay yaitu metode Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) serta menjelaskan prinsip dari metode PCR, PCR-RFLP, ELISA dan primer yang digunakan yaitu primer untuk mendeteksi gen PRE-1, sitkrom b, dan leptin.
Prebiotic Activity of Pectin from Ambon Lumut Banana (Musa acuminata AAA) Peel Bertha Rusdi; Onoy Rohaeni; Miski A. Khairinisa; Umi Yuniarni
Pharmacology and Clinical Pharmacy Research Vol 7, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Padjadjaran, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/pcpr.v7i3.41598

Abstract

Banana peel is an agricultural waste that contains pectin. Ambon lumut banana (Musa acuminata AAA) is often consumed in Indonesia, but its peel is rarely utilized thus the availability of Ambon lumut banana peel in Indonesia is high. Pectin selectively increases beneficial gut bacteria, and this is commonly known as prebiotic. This study aims to evaluate the prebiotic activity of Ambon lumut banana peel by observing the growth of a beneficial gut bacteria, Lactobacillus acidophilus, and pathogen enteric bacteria, Escherichia coli, in media (MRSB) enriched with the pectin. The result showed that 1% of Ambon lumut banana peel pectin significantly increased the number of L. acidophilus and decreased the number of E. coli compared to bacteria culture without carbon source (glucose-free MRSB) and bacteria culture with glucose as carbon source. The prebiotic index of Ambon lumut banana peel pectin was 0.53. In addition to that, the short chain fatty acid (SCFA) which is beneficial metabolite of L. acidophilus for human health was also measured using HPLC.  The HPLC analysis results showed that L. acidophilus culture enriched with pectin contains SCFA, including acetic acid, butyric acid, and propionic acid at the concentration of 10.22 µg/mL, 5.38 µg/mL and 0.55 µg/mL respectively.
Uji In Silico Aktivitas Senyawa Kumarin dan Turunannya terhadap Enzim Alfa Glukosidase Sebagai Antidiabetes Syifa Prahayati; Bertha Rusdi; Netty Kurniaty
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i1.6805

Abstract

Abstract. Alpha glucosidase enzyme is one of the treatment targets for diabetes mellitus. Coumarin compounds contained in the avocado plant (Persea americana Mill.). known to have antidiabetic effects in vitro. These compounds are thought to have antidiabetic effects in vitro. This compound is thought to have an antidiabetic effect by inhibiting the alpha glucosidase enzyme, but this hypothesis has not been proven. Therefore, this study tested coumarin compounds and their derivatives, namely umbelliferone, scoparon, scopaletin, fraxetin, esculin, osthole, psoralen, rutamarin, decursinol, decursidin, edgeworin, daphnoretin, and edgeworoside c, against the alpha-glucosidase enzyme receptor using molecular docking. in silico. This study aims to determine the physicochemical parameters, affinity, and toxicity of compounds with the most potential as antidiabetics. Parameters carried out identified the physicochemical properties of the test compounds using SwissADME software and Scibio-iitd.res.in. Then macromolecular preparation was carried out using the BIOVIA Discovery Studio 2021 software. Next, the docking method was validated and the docking method simulated using the MGLTools 1.5.6 software with AutoDock Tools 4.2. The results obtained using molecular docking were then visualized using the BIOVIA Discovery Studio 2021 software. The toxicity test was carried out using Toxtree version 3.1.0. The physico-chemical parameters show that the lipophilicity, molecular weight, molar reactivity, and hydrogen bonds show that coumarin compounds and their derivatives meet the requirements of Lipinski's Rule of Five, which means that these compounds are predicted to be absorbed and can bind to target receptors. The results of molecular docking of coumarin compounds and their derivatives have an affinity for alpha glucosidase receptors. The compound that has the best affinity is edgeworoside c with a bond free energy value of -8.91 kcal/mol and an inhibition constant of 0.29255 μmolar. The toxicity results obtained were that all the tested compounds were included in the toxicity class III, which means that at high concentrations safety in use is not guaranteed. Then all coumarin test compounds and their derivatives were neither carcinogenic nor mutagenic. Abstrak. Enzim alfa glukosidase adalah salah satu target pengobatan diabetes mellitus. Senyawa Kumarin yang terkandung dalam tanaman alpukat (Persea americana Mill.). diketahuo memiliki efek antidiabetes secara in vitro. Senyawa ini diperkirakan memiliki efek antidiabetes secara in vitro. Senyawa ini diperkirakan memiliki efek antidiabetes dengan menghambat enzim alfa glukosidase, namun hipotesa ini belum dibuktikan. Maka, penelitian ini dilakukan pengujian senyawa kumarin dan turunannya yaitu senyawa umbelliferone, scoparon, scopaletin, fraxetin, esculin, osthole, psoralen, rutamarin, decursinol, decursidin, edgeworin, daphnoretin, dan edgeworoside c, terhadap reseptor ezim alfa gkukosidase dengan menggunakan molecular docking secara in silico. Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui parameter fisikokimia, afinitas, dan toksisitas senyawa yang paling berpotensi sebagai antidiabetes. Parameter yang dilakukan mengidentifikasi sifat fisikokimia senyawa uji menggunakan software SwissADME dan Scibio-iitd.res.in. kemudian dilakukan Preparasi makromolekul menggunakan software BIOVIA Discovery Studio 2021. Selanjutnya, dilakukan validasi metode docking dan simulasi metode docking dengan software MGLTools 1.5.6 dengan AutoDock Tools 4.2. Hasil yang diperoleh menggunakan molecular docking kemudian divisualisasikan dengan menggunakan software BIOVIA Discovery Studio 2021. Uji toksisitas dilakukan menggunakan Toxtree versi 3.1.0. Pada parameter fisiko kimia menunjukan bahwa lipofilisitas, berat molekul, reaktivitas molar, dan ikatan hidrogen bahwa senyawa kumarin dan turunanya memenuhi persyaratan Lipinski’s Rule of Five yang artinya senyawa tersebut diprediksi dapat diabsorpsi dan dapat berikatan dengan reseptor target. Hasil penambatan molekular dari senyawa kumarin dan turunannya memiliki afinitas terhadap reseptor alfa glukosidase. Senyawa yang memiliki afinitas paling baik yaitu senyawa edgeworoside c dengan nilai energi bebas ikatan -8,91 kkal/mol dan konstanta inhibisi 0,29255 μmolar. Hasil toksisitas yang diperoleh adalah seluruh senyawa uji termasuk ke dalam toksisitas kelas III yang artinya pada konsentrasi yang tinggi tidak dijamin keamanan dalam penggunaannya. Kemudian seluruh senyawa uji kumarin dan turunnya tidak bersifat karsinogenik maupun mutagenik.
AKTIVITAS PREBIOTIK PISANG SERTA EFEKNYA TERHADAP KESEHATAN DAN PENYAKIT Bertha Rusdi; Ratih Aryani; Umi Yuniarni
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v6i2.11825

Abstract

Prebiotik dapat ditemukan dalam bentuk serat pangan pada sayuran dan buah-buahan. Prebiotik secara selektif mampu meningkatkan pertumbuhan bakteri menguntungkan pada saluran pencernaan. Bakteri menguntungkan pada kolon akan mengubah prebiotik menjadi asam lemak rantai pendek yang memiliki efek menguntungkan bagi kesehatan inangnya. Pisang (Musa spp.) merupakan salah satu buah yang telah banyak diteliti sebagai prebiotik. Berbagai varietas pisang telah diteliti dan menunjukkan efek pada pertumbuhan bakteri menguntungkan Bifidobacterium dan Lactobacilli. Tujuan tinjauan pustaka sistematis ini adalah untuk merangkum informasi ilmiah mengenai potensi pisang sebagai prebiotik. Artikel ini membahas mengenai jenis dan bagian-bagian tanaman yang digunakan, senyawa yang berperan dalam efek prebiotik serta efek pisang terhadap kesehatan dan pengendalian penyakit. Metode yang digunakan adalah penelusuran artikel melalui basis data Science Direct dan Google Scholar. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa varietas pisang yang banyak diteliti sebagian besar berasal dari persilangan Musa acuminata (genom A) dengan Musa balbisiana (genom B). Bagian buah, kulit buah, dan batang pisang terbukti memiliki efek sebagai prebiotik. Kandungan senyawa yang berperan dalam meningkatkan bakteri Bifidobacteria dan Lactobacilli diantaranya adalah pati, pektin, oligosakarida, fruktan serta selulosa larut air. Efek prebiotik pisang diketahui berkaitan dengan efeknya sebagai antiinflamasi, peningkat sistem imun dan antibakteri.
Analisis Pengawet Metilparaben dan Propilparaben pada Beberapa Sediaan Toner yang Beredar di Toko Online dengan Menggunakan Metode Spektrofotometri UV-Vis Helen Caterina Simorangkir; Bertha Rusdi; Farendina Suarantika
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8109

Abstract

Metil dan propil paraben merupakan pengawet yang banyak digunakan untuk sediaan kosmetik, diantaranya adalah toner. Peraturan BPOM Nomor 23 Tahun 2019 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetika, menjelaskan bahwa batas penggunaan metilparaben dan propilparaben sebagai pengawet dalam sediaan kosmetika adalah 0,4% untuk penggunaan tunggal dan 0,8% untuk penggunaan campuran. Maka, pada penelitian ini dilakukan pengukuran kadar metil dan propil paraben dalam toner yang beredar di toko online yang tidak memiliki nomor registrasi BPOM menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis serta menyimpulkan apakah kadar yang didapat memenuhi persyaratan BPOM atau tidak. Penelitian ini menggunakan lima sampel diawali dengan optimasi fase gerak untuk KLT preparatif dilanjutkan dengan validasi metode analisis dan pengukuran kadar metil dan propil paraben dalam sampel toner. Hasil validasi metode analisis menunjukkan bahwa pengukuran dengan spektrofotometer UV-Vis baik untuk mengidentifikasi metilparaben karena dari hasil validasi metode menunjukkan nilai linieritas r= 0,9993; spesifisitas= spesifik karena pada spektrum uji tidak menunjukkan adanya puncak lain; LOD= 0,00017 ppm, LOQ= 0,00053 ppm; akurasi= 96,051%, dan presisi= 0,162%. Kadar yang didapat tidak memenuhi persyaratan BPOM yaitu 2,794 % b/v untuk sampel B dan 3,978 % b/v untuk sampel D. Pengawet propilparaben tidak terdeteksi pada semua sampel. Methyl and propyl parabens are preservatives that are widely used for cosmetic preparations, one of which is toner. BPOM Regulation Number 23 of 2019 concerning Technical Requirements for Cosmetic Ingredients, explains that the limit for the use of methylparaben and propylparaben as preservatives in cosmetic preparations is 0.4% for single use and 0.8% for mixed use. Therefore, in this study, measurements of methyl and propyl paraben levels in toner circulating in online stores that did not have BPOM registration numbers used the UV-Vis spectrophotometry method and concluded whether the levels obtained met BPOM requirements or not. This study used five samples, starting with optimizing the mobile phase for preparative TLC followed by validating the analytical method and measuring the levels of methyl and propyl paraben in the toner samples. The results of the validation of the analytical method showed that measurements with a UV- Vis spectrophotometer were good for identifying methylparaben because the results of the method validation showed a linearity value of r = 0.9993; specificity = specific because the test spectrum does not show any other peaks; LOD= 0.00017 ppm, LOQ= 0.00053 ppm; accuracy = 96.051%, and precision = 0.162%. The levels obtained did not meet BPOM requirements, namely 2.794% w/v for sample B and 3.978% w/v for sample D. The preservative propylparaben was not detected in all samples.
Optimasi Metode Polymerase Chain Reaction (PCR) Untuk Identifikasi Polimorfisme Gen SLCO1B1 Sebagai Farmakogen Statin Febriani Saputri; Bertha Rusdi; Miswar Fattah
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8381

Abstract

Farmakogenomik merupakan suatu ilmu dengan menggunakan informasi genetik yang bertujuan untuk mengurangi efek obat yang merugikan. Informasi genetik yang digunakan biasanya dalam bentuk Single Nucleotide Polymorphisms (SNP), salah satunya yaitu SLCO1B1. SLCO1B1 merupakan salah satu variasi genetik yang dapat mempengaruhi toksisitas suatu obat, salah satunya yaitu statin. Statin dikenal sebagai obat yang memiliki efek samping berupa miopati. Varian alel SLCO1B1 yang sering dikaitkan dengan statin adalah rs4149056 atau SLCO1B1*5. Penelitian ini bertujuan untuk membuat primer yang spesifik untuk mengidentifikasi polimorfisme gen SLCO1B1 (rs4149056) dan menetapkan kondisi optimum dari metode PCR yang sesuai pada identifikasi polimorfisme gen SLCO1B1 dalam statin. Penelitian dilakukan secara in silico dan lab basah di Prodia Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa primer forward 5’-GGT TGT TTA AAG GAA TCT GGG TCA T-3’ dan primer reverse 5’-GCA GCA GCC ACA AGA AGA CT-3’ yang telah didesain mampu mengidentifikasi polimorfisme gen SLCO1B1 (rs4149056) pada kondisi optimal konsentrasi DNA template 10 ng/5 μl dan suhu annealing 59°C. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa polimorfisme gen SLCO1B1 (rs4149056) berpengaruh sebagai farmakogen statin. Pharmacogenomics is a science using genetic information that aims to reduce the adverse effects of drugs. The genetic information used is usually in the form of Single Nucleotide Polymorphisms (SNPs), one of which is SLCO1B1. SLCO1B1 is one of the genetic variations that can affect the toxicity of a drug, one of which is statins. Statins are known as drugs that have side effects in the form of myopathy. The SLCO1B1 allele variant often associated with statins is rs4149056 or SLCO1B1*5. This study aims to create a specific primer to identify the SLCO1B1 (rs4149056) gene polymorphism and establish the optimum conditions of the appropriate PCR method on the identification of SLCO1B1 gene polymorphisms in statins. The research was conducted in silico and wet lab at Prodia Jakarta. The results showed that the forward primer 5'-GGT TGT TTA AAG GAA TCT GGG TCA T-3' and the reverse primer 5'-GCA GCA GCC ACA AGA AGA CT-3' that had been designed were able to identify SLCO1B1 gene polymorphism (rs4149056) under optimal conditions of template DNA concentration of 10 ng/5 μl and annealing temperature of 59 °C. Thus, it can be concluded that the polymorphism of the SLCO1B1 gene (rs4149056) has an effect as a statin pharmacogen.
ANTIBACTERIAL ACTIVITY AND KLT-BIOAUTOGRAPHY ANALYSYS OF ETHANOL EXTRACT OF KELOR LEAVES (Moringa oleifera L.) AGAINST Staphylococcus aureus dan Escherichia coli BACTERIES Diena Elisa Cahyani; Bertha Rusdi; Lanny Mulqie
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8452

Abstract

Abstract. Moringa leaves (Moringa oleifera L.) have a class of secondary metabolites that act as antibacterials. Research has been conducted on identifying secondary metabolite compounds with antibacterial activity in Moringa leaves using the KLT bioautography method. This study aims to determine the group of secondary metabolite compounds contained in the ethanol extract of moringa leaves that have the potential as antibacterials. The ethanol extract of moringa leaves was made by maceration method using ethanol solvent. Antibacterial testing in this study used the agar well method with 5%, 10%, 20%, 40%, and 80% b/v concentrations. The results showed that the KHM value of moringa leaf ethanol extract was 10% with inhibition zones on Staphylococcus aureus and Escherichia coli bacteria of 27.5 mm and 19.5 mm, respectively. Furthermore, the separation of secondary metabolites in the ethanol extract of moringa leaves was carried out using KLT with a stationary phase of silica gel GF254 and a mobile phase of chloroform: methanol (9: 1), then continued with a contact bioautography test. KLT bioautography results showed that the spot with an Rf value of 0.81 produced an inhibition zone. Identifying marks with corroborate, specific for flavonoid compounds, shows positive results, so it is concluded that secondary metabolite compounds with antibacterial activity are flavonoids. Abstrak. Daun kelor (Moringa oleifera L.) diduga memiliki golongan metabolit sekunder yang berperan sebagai antibakteri. Telah dilakukan penelitian mengenai identifikasi senyawa metabolit sekunder yang memiliki aktivitas antibakteri pada daun kelor dengan menggunakan metode KLT bioautografi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui golongan senyawa metabolit sekunder yang terkandung pada ekstrak etanol daun kelor yang berpotensi sebagai antibakteri.Ekstrak etanol daun kelor dibuat dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol. Pengujian antibakteri pada penelitian ini menggunakan metode agar sumuran dengan konsentrasi 5%, 10%, 20%, 40%, dan 80% b/v. Hasilnya menunjukkan bahwa nilai KHM ekstrak etanol daun kelor adalah 10% dengan zona hambat pada bakteri Staphylococcus aureus dan bakteri Escherichia coli berturut-turut sebesar 27,5 mm dan 19,5 mm. Selanjutnya dilakukan pemisahan metabolit sekunder pada ekstrak etanol daun kelor menggunakan KLT dengan fase diam silika gel GF254 dan fase gerak kloroform:metanol (9:1) dilanjutkan dengan uji bioautografi kontak. Hasil KLT bioautografi menunjukan bahwa bercak dengan nilai rf 0,81 menghasilkan zona hambat. Identifikasi bercak dengan sitroborat yang spesifik untuk senyawa flavonoid menunjukan hasil positif, sehingga disimpulkan senyawa metabolit sekunder yang memiliki aktivitas antibakteri adalah flavonoid.
Penelusuran Pustaka Potensi Aktivitas Antibakteri Ekstrak Tanaman Jahe Merah (Zingiber officinale var rubrum rhizoma) Terhadap Bakteri Escherichia coli Penyebab Penyakit Diare Fadil Rido Gumelar; Bertha Rusdi; Farendina Suarantika
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8577

Abstract

Abstract. Infectious diseases or infectious diseases are diseases caused by pathogenic microorganisms, such as viruses, bacteria, fungi, or parasites. One of the infectious diseases that often occur in the digestive tract is diarrhea. To overcome infections caused by these bacteria, you can use antibacterials, but lately the use of antibacterial often causes resistance. Therefore, alternatives that have potential antibacterial are sought. One plant that has been proven to have antibacterial activity is red ginger (Zingiber officinale var rubrum rhizoma). To determine the content of compounds that act as antibacterial and how their potential for the activity of bacteria that cause diarrhea in the digestive tract, this research was carried out by conducting a literature search of national and international journals in online media. Based on the research that has been done, it can be concluded that red ginger has secondary metabolite compounds including alkaloids, polyphenols, flavonoids, tannins, saponins, monoterpenes and sesquiterpenes. Then compounds that have antibacterial potential produced by red ginger are flavonoid and phenol compounds. Abstrak. Penyakit infeksi atau penyakit menular merupakan penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen, seperti virus, bakteri, jamur, atau parasit. Salah satu penyakit infeksi yang sering terjadi pada saluran pencernaan yaitu diare. Untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri tersebut maka dapat menggunakan antibakteri, tetapi akhir – akhir ini penggunaan antibakteri sering menyebabkan resistensi. Oleh karena itu dicari alternatif yang berpotensi sebagai antibakteri. Salah satu tanaman yang sudah terbukti memiliki aktivitas sebagai antibakteri yaitu jahe merah (Zingiber officinale var rubrum rhizoma). Untuk mengetahui kandungan senyawa yang berperan sebagai antibakteri dan bagaimana potensinya terhadap aktivitas bakteri penyebab diare pada saluran pencernaan, maka dilakukan penelitian ini dengan melakukan penelusuran pustaka terhadap jurnal nasional maupun internasional yang berada di media online. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa jahe merah memiliki senyawa metabolit sekunder diantaranya alkaloid, polifenol, flavonoid, tanin, saponin, monoterpen dan seskuiterpen. Kemudian senyawa yang memiliki potensi sebagai antibakteri yang dihasilkan oleh jahe merah yaitu senyawa flavonoid dan fenol.
Uji Efek Antiseptik Ekstrak Etanol Daun Benalu Teh Terhadap Bakteri Penyebab Karies Gigi (Streptococcus mutans) Muhammad Rafii Akbar; Bertha Rusdi; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8679

Abstract

Streptococcus mutans adalah bakteri penyebab utama karies gigi. Bakteri tersebut menempel di pelikel gigi dan memecah gula sebagai energi untuk menghasilkan asam laktat, dan menyebabkan kondisi asam di sekitar gigi dan berakibat terjadinya demineralisasi email. Tujuan penelitian ini yaitu melakukan pengujian aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol benalu teh terhadap bakteri Streptococcus mutans dengan metode kontak. Proses penelitian diawali dengan mengumpulkan daun benalu teh yang terdapat di kebun teh, Ciater, Kabupaten Bandung Barat dan dilanjutkan dengan pengeringan daun benalu teh dalam pengering simplisia. Setelahnya, dilakukan proses maserasi menggunakan etanol 96% selama 3 hari dan pemekatan ekstrak dengan evaporator hingga dihasilkan ekstrak kental etanol daun benalu teh. Ekstrak kental tersebut digunakan untuk pengujian. Selain itu, dilakukan pengujian antibakteri menggunakan metode kontak agar dapat diketahui potensi antiseptik ekstrak etanol daun benalu teh serta dibandingkan dengan obat kumur yang mengandung povidon iodine 1%. Karakteristik yang terdapat pada ekstrak etanol daun benalu teh meliputi, kadar sari larut etanol kadar sari larut air, kadar abu total, kadar air dan susut pengeringan. Metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak etanol daun benalu teh meliputi, alkaloid, flavonoid, saponin, tanin-polifenol, antrakuinon, steroid dan monoterpenoid-triterpenoid.
Pengembangan Metode Analisis Remdesivir Dalam Sediaan Injeksi Kering Menggunakan Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Ai Nurlaela; Hilda Aprilia W; Bertha Rusdi
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8683

Abstract

Novel Coronavirus 2019 (2019-nCoV), also known as Severe Acute Respiratory Syndrome-Coronavirus 2 (SARS-CoV-2), is the virus that causes Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Several studies have developed analytical methods to monitor the monitoring and safety effects of remdesivir in biological samples. However, there is no analytical method that can analyze both raw materials and in dosage form, which has been proven valid for use in routine laboratory analysis. Therefore, it is necessary to develop a remdesivir analysis method using the HPLC method. This study aims to produce a valid analytical method for determining remdesivir levels by high performance liquid chromatography. The standard solution was prepared by diluting the remdesivir reference standard using acetonitrile. The conditions for Remdesivir analysis using the HPLC method in this study used acetonitrile:phosphoric acid 0.05% (45:55), ODS (Octadesyl Silane) stationary phase, wavelength 243 nm, and flow rate 1.0 mL/minute. The relative standard deviation (SBR) results obtained from the system suitability test were less than 2.0%, namely in the standard area of 1.365% and at the retention time of 0.533%. Novel Coronavirus 2019 (2019-nCoV), juga dikenal sebagai Severe Acute Respiratory Syndrome-Coronavirus 2 (SARS-CoV-2), adalah virus yang menyebabkan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Beberapa penelitian telah mengembangkan metode analisis untuk memantau efek monitoring dan keamanan remdesivir dalam sampel biologis. Namun, belum ada metode analisis yang dapat menganalisis baik bahan baku dan dalam bentuk sediaan, yang telah terbukti valid untuk digunakan pada analisis rutin di laboratorium. Oleh karena itu, Perlu dilakukan pengembangan metode analisis remdesivir dengan metode KCKT. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan metode analisis penetapan kadar remdesivir dengan kromatografi cair kinerja tinggi yang valid. Pembuatan larutan standar dilakukan dengan mengencerkan baku pembanding remdesivir dengan menggunakan asetonitril. Kondisi analisis Remdesivir dengan metode KCKT pada penelitian ini menggunakan fase gerak asetonitril:asam fosfat 0.05% (45:55), fase diam ODS (Octadesyl Silane), panjang gelombang 243 nm, dan laju alir 1.0 mL/menit. Hasil simpangan baku relative (SBR) yang diperoleh dari uji kesesuaian sistem kurang dari 2.0% yaitu pada luas area standar 1.365% dan pada waktu retesni 0.533%.