Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Persepsi Orang Tua Tentang Pola Pendidikan Seks Pada Anak Usia Akhir (Analisis Pada Pandangan Orang Tua Di Kenjeran Surabaya) Aijin Isbatikah; Nadhirotul Laily; Chandrania Fastari
Psikosains: Jurnal Penelitian dan Pemikiran Psikologi Vol 16 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/psikosains.v16i1.4536

Abstract

Semakin maraknya berita tentang seks di tengah-tengah masyarakat, terutama pada anak menjadi permasalahan yang cenderung dirundung banyak orang. Anak yang terpapar pornografi dari internet dapat dikarenakan kesengajaan maupun tidak sengaja. Paparan tersebut dapat menyebabkan candu bagi anak. Penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi, untuk mengetahui persepsi orang tua tentang pola pendidikan seks pada anak usia akhir (Analisis Pada Pandangan Orang Tua Di Kenjeran Surabaya). Penelitian ini ialah penelitian kualitatif dengan menggunakan triangulasi dan kecukupan referensial sebagai kredibilitas data serta teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan dokumentasi. Di dalam penelitian ini menggunakan orang tua yang berfokus pada ibu sebagai subjek yang memiliki anak berusia sekitar 6 sampai 12/ 13 tahun (kanak-kanak usia akhir). Penelitian ini melibatkan 4 subjek dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa orang tua memiliki persepsi pada pola pendidikan seks yang berbeda-beda. Di dalam penelitian ini orang tua lebih dominan memilih pola pendidikan seks avoidante dibandingkan seks repressive, seks obsessive, dan seks expressive.
Motivasi Siswa Dalam Memilih Program Studi Di Perguruan Tinggi Farrikh Dzuhriawan; Nadhirotul Laily; Prianggi Amelasasih
Psikosains: Jurnal Penelitian dan Pemikiran Psikologi Vol 17 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/psikosains.v17i1.4564

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan motivasi siswa dalam memilih program studi di Perguruan Tinggi. Jenis penelitian ini adalah penelitian fenomenologis, responden atau sampel penelitian ini peneliti mengambil lima siswa kelas XII IPA SMA Semen Gresik secara acak sederhana, khususnya yang mengikuti kegiatan belajar (les privat). Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi dan metode wawancara dengan kuisioner terbuka dan analisis data dalam penelitian ini adalah analisis isi kualitatif, kredibilitas datanya menggunakan member checking. Hasil penelitian melalui tiga aspek motivasi menunjukkan bahwa, kelima subjek telah berupaya untuk merealisasikan keinginan atau cita-cita, kemampuan, kesukaan, ketertarikan, passion dan ingin membuktikan bahwa peran guru BK, teman, status sosial ekonomi orang tua (terutama pendidikan dan penghasilan orang tua), lingkungan keluarga (orang tua) serta lingkungan sekolah (guru) dapat mengantarkan pada masa depannya.
Workshop Program Anti Perundungan Berbasis Sekolah Ima Fitri Sholichah; Laily, Nadhirotul
Room of Civil Society Development Vol. 1 No. 4 (2022): Room of Civil Society Development
Publisher : Lembaga Riset dan Inovasi Masyarakat Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.033 KB) | DOI: 10.59110/rcsd.36

Abstract

Bullying atau perundungan merupakan perilaku oleh individu atau kelompok, berulang dari waktu ke waktu, yang dengan sengaja menyakiti individu atau kelompok lain baik secara fisik maupun emosinal dan terjadi di mana ada ketidakseimbangan kekuatan yang berbeda antara pelaku dan korban. Beberapa program pencegahan perundungan telah terbukti secara umum efektif dalam mengurangi perudungan di kalangan masyarakat. Namun, efeknya relatif kecil dalam berbagai penelitian eksperimen dan kelompok usia. Program yang lebih intensif dan durasinya lebih lama (baik untuk anak maupun guru) lebih efektif, begitu juga program yang mengandung lebih banyak komponen. Beberapa komponen program dikaitkan dengan ukuran efek yang besar, termasuk pelatihan atau pertemuan orang tua dan pelatihan guru. Hal ini menjadi landasan kegiatan pengabdian masyarakat yang tujuan untuk sosialisasi program pencegahan perundungan berbasis sekolah di SMK Tuban. Metode kegiatan pengabdian masyarakat menggunakan beberapa tahapan, yaitu identifikasi kebutuhan, persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Berdasarkan diskusi yang dilakukan, ditemuakn beberapa program yang paling banyak digunakan di Indonesia yaitu program disiplin positif, program ROOTS Indonesia, dan program buddy.
Pentingnya Kesehatan Mental Bagi Remaja Karang Taruna di Desa Cemer Lor Kabupaten Gresik Ima Fitri Sholichah; Laily, Nadhirotul; Zahra, Fatimatuz
Room of Civil Society Development Vol. 2 No. 5 (2023): Room of Civil Society Development
Publisher : Lembaga Riset dan Inovasi Masyarakat Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59110/rcsd.213

Abstract

Setiap individu memiliki tugas perkembangan di setiap tahapan kehidupan. Tugas perkembangan yang disertai tekanan, kesedihan, kecemasan, dan segala emosi yang tidak menyenangkan akan membuat individu memiliki gangguan yang beresiko terhadap kehidupannya. Peningkatan penekanan pada kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan mental yang positif perlu dilakukan. Salah satu pencegahan yang bisa dilakukan yaitu dengan cara promosi kesehatan mental. Tujuan PKM yaitu meningkatkan kesadaran pentingnya Kesehatan mental bagi remaja. Promosi kesehatan mental yang dilakukan tim PKM melalui sosialisasi dan seminar penguatan kesehatan mental bagi remaja pada komunitas Karang Taruna di Desa Cerme Lor Kabupaten Gresik. Metode PKM berupa sosialisasi dan seminar mengenai pentingnya Kesehatan mental bagi remaja. Tahapan pelaksanaan kegiatan PKM berupa analisis kebutuhan, persiapan, pelaksanaan serta evaluasi. Berdasarkan hasil evaluasi dengan menyebarkan kuesioner menunjukkan bahwa sosialisasi dan seminar mengenai kesehatan mental sangatlah penting bagi remaja dalam melalui masa transisi kehidupan yang penuh tantangan dalam mencapai kesehatan mental yang baik. Kegiatan PKM juga memberikan dampak yang positif bagi remaja serta remaja memberikan respon yang positif pula dalam kegiatan seminar.
Self-Efficacy dan Kepuasan Kerja pada Guru Taman Kanak-Kanak (TK) Hasanah, Nur; Laily, Nadhirotul
Efektor Vol 7 No 1 (2020): Efektor Vol.7 No.2 Tahun 2020
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/e.v7i1.14398

Abstract

The purpose of this research is to find out the relathionship between self-efficacy and job satisfaction teacher at Preschool. This research is quantitative using correlation technique. The population is the teachers at Preschool ‘Aisyiyah Bustanul Athfal Gresik. Incidental sampling was used and 98 teachers have been selected as sample. The instrument was used by the reseachers were self-efficacy and job satisfaction scale. The correlation test result shows r = 0,127, p= 0,213 (p>0,05). Based on correlation test result, it can be consluded that Ha rejected and H0 accepted. There is no positive relationship between self-efficacy and job satisfaction teacher at Preschool.
Perbedaan Experienced Workplace Incivility Ditinjau Dari Status Pegawai Dan Jenis Kelamin Pada Tenaga Kependidikan Nova Yulia Mayang Citra; Nadhirotul Laily; Ima Fitri Sholichah
Efektor Vol 9 No 1 (2022): Efektor Vol.9 No.1 Tahun 2022
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/e.v9i1.17706

Abstract

The purpose of this research was to examine the difference between experienced workplace incivility based on the status of employe and gender. Quantitative method used in this research. The population in this study were the employee of X University with saturated sampling technique, the total respondents of 52 employees (25 jobhoders and 27 contract employees; 19 man and 33 woman). The instrument used was the experienced workplace incivility scale consisting of 7 items. Data analysis in this research used independent sample t-test. This study found that the hypothesis was rejected (p > 0.05), so there is no difference in experienced workplace incivility based on the status of employee and gender. This research findings extend past research on wokplace incivility especially for educational staff in university.
Optimizing Pre-Calculation Skills of Kindergarten B Children Through Educational Games Wahyu Ningrum, Nindiya; Laily, Nadhirotul
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 4 (2024): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i4.17601

Abstract

Preschool education is widely recognized for its important role in building the early stages of a child's development before entering formal education. One potential method to support cognitive skills in children is through traditional games, such as congklak. The aim of this study is to describe the effect of using the congklak media in improving pre-math skills in kindergarten children at TK Al-Baqy. The research method used is experimental to test the effectiveness of the congklak game in enhancing children's pre-math skills. The intervention was conducted over 30 days with four meeting sessions. The program in this experiment focuses on improving pre-math skills through the congklak game as the main stimulus. In this context, the independent variable applied is the congklak game, while the dependent variable is the children's pre-math skills or early counting abilities. The results of the study show that the application of the congklak game as an intervention method can improve basic counting skills in children, changing the way they view mathematics with a fun and experiential approach. Positive reinforcement during the learning process also proved effective in increasing the children's self-confidence and learning motivation. The implications of this study are that game-based approaches can be an innovative solution in overcoming children's learning difficulties, increasing their interest in mathematics, and strengthening the social and emotional skills that are essential in child development.Pendidikan prasekolah secara luas diakui memiliki peran penting dalam membangun tahap awal perkembangan anak sebelum memasuki pendidikan formal. Salah satu metode yang potensial untuk mendukung keterampilan kognitif pada anak-anak adalah melalui permainan tradisional, seperti congklak. Tujuan penelitian ini untuk Penelitian ini  bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh penggunaan media congklak dalam meningkatkan kemampuan pra-berhitung pada anak TK B di TK Al-Baqy. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen untuk menguji efektivitas permainan congklak dalam meningkatkan kemampuan pra-berhitung anak. Intervensi dilaksanakan selama 30 hari dengan durasi empat sesi pertemuan. Program dalam eksperimen ini berfokus pada peningkatan kemampuan pra-berhitung melalui permainan congklak sebagai stimulus utama. Dalam konteks ini, variabel independen yang diterapkan adalah permainan congklak, sementara variabel dependen adalah kemampuan pra-berhitung atau berhitung permulaan subjek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penerapan permainan congklak sebagai metode intervensi dapat meningkatkan kemampuan berhitung dasar pada anak-anak, mengubah cara mereka memandang matematika dengan pendekatan yang menyenangkan dan berbasis pengalaman. Penguatan positif selama proses pembelajaran juga terbukti efektif dalam meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi belajar anak. Implikasi dari penelitian ini adalah pendekatan berbasis permainan dapat menjadi solusi inovatif dalam mengatasi kesulitan belajar anak-anak, meningkatkan minat mereka terhadap matematika, serta memperkuat keterampilan sosial dan emosional yang esensial dalam perkembangan anak.
Reframing Happiness: The Effect of Mindfulness Practice on Adolescent Subjective Well-Being Azizah, Nisa’ul; Laily, Nadhirotul
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 2 (2025): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i2.19361

Abstract

Adolescents are a vulnerable age group who often experience various emotional and social pressures, making subjective well-being an important aspect to consider in supporting their development. One of the factors assumed to play a role in enhancing subjective well-being is mindfulness, defined as full awareness of the present moment without judgment. This study aimed to determine the influence of mindfulness on subjective well-being among adolescents. The method used was a quantitative correlational approach with simple regression analysis, involving 89 adolescents selected through saturated sampling technique. The instruments used included a mindfulness scale and a subjective well-being scale, both of which had been tested for validity and reliability. The results of the study showed that there was no significant influence between mindfulness and subjective well-being, indicated by a determination coefficient value of 0.0034 or a contribution of only 0.34%, as well as an F-test result that was lower than the F-table value. These findings indicated that other factors such as social support, self-esteem, or emotion regulation may play a more substantial role in shaping adolescents’ subjective well-being. The implication of this study highlighted the importance of developing adolescent well-being enhancement programs that not only focus on mindfulness but also consider psychosocial and environmental factors relevant to the adolescent developmental phase. Remaja merupakan kelompok usia yang rentan mengalami berbagai tekanan emosional dan sosial sehingga kesejahteraan subjektif (subjective well-being) menjadi aspek penting untuk diperhatikan dalam mendukung perkembangan mereka. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam meningkatkan subjective well-being adalah mindfulness atau kesadaran penuh terhadap momen saat ini tanpa penilaian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mindfulness terhadap subjective well-being pada remaja. Metode yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan pendekatan regresi sederhana, melibatkan 89 remaja sebagai subjek penelitian yang dipilih melalui teknik sampling jenuh. Instrumen yang digunakan meliputi skala mindfulness dan skala subjective well-being yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan antara mindfulness dan subjective well-being, ditunjukkan dengan nilai koefisien determinasi sebesar 0,0034 atau kontribusi hanya 0,34% serta hasil uji F yang lebih kecil dari F tabel. Temuan ini mengindikasikan bahwa faktor lain seperti dukungan sosial, self-esteem, atau regulasi emosi mungkin lebih berperan dalam membentuk kesejahteraan subjektif remaja. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan pentingnya mengembangkan program peningkatan kesejahteraan remaja yang tidak hanya berfokus pada mindfulness, tetapi juga memperhatikan faktor psikososial dan lingkungan yang relevan dengan fase perkembangan remaja.
Self-Love Starts from the Body: The Effect of Body Image Satisfaction on Student Self-Acceptance Nur Fitriyah, Laily; Laily, Nadhirotul
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 2 (2025): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i2.19362

Abstract

College students are in a developmental stage that is vulnerable to social pressures, including demands related to physical appearance, which may affect body image satisfaction and levels of self-acceptance. Body image satisfaction was one of the important aspects in shaping self-acceptance, which ultimately contributed to students' psychological well-being. This study aimed to examine the relationship between body image satisfaction and self-acceptance among university students. The method used was quantitative correlational with regression analysis using four model approaches: linear, quadratic, logarithmic, and exponential. The participants consisted of 75 students selected through Accidental sampling. The results showed a significant relationship between body image satisfaction and self-acceptance, with the quadratic regression model being the best model to explain this relationship. The findings indicated that increased body image satisfaction could lead to higher self-acceptance up to a certain point, after which the effect leveled off. These results provided an understanding that although body image satisfaction played an important role in shaping self-acceptance, other factors also needed to be considered. The implication of this research encouraged higher education institutions to develop psychological interventions that supported the development of positive body image in order to enhance students' self-acceptance and overall mental health. Mahasiswa berada dalam fase perkembangan yang rentan terhadap tekanan sosial, termasuk tuntutan terhadap penampilan fisik, yang dapat memengaruhi kepuasan citra tubuh dan tingkat penerimaan diri. Kepuasan citra tubuh menjadi salah satu aspek penting dalam membentuk penerimaan diri, yang pada akhirnya turut menentukan kesejahteraan psikologis mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepuasan citra tubuh dan penerimaan diri pada mahasiswa. Metode yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan analisis regresi menggunakan empat model pendekatan yaitu linear, kuadratik, logaritmik, dan eksponensial. Partisipan penelitian berjumlah 75 mahasiswa yang dipilih melalui Accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kepuasan citra tubuh dan penerimaan diri, dengan model regresi kuadratik menjadi model terbaik dalam menjelaskan hubungan tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kepuasan citra tubuh dapat mendorong peningkatan penerimaan diri hingga titik tertentu, sebelum akhirnya efeknya melandai. Hasil ini memberikan pemahaman bahwa meskipun kepuasan citra tubuh penting dalam membentuk penerimaan diri, terdapat faktor lain yang juga perlu diperhatikan. Implikasi dari penelitian ini mendorong institusi pendidikan tinggi untuk mengembangkan intervensi psikologis yang mendukung pembentukan citra tubuh positif guna meningkatkan penerimaan diri dan kesehatan mental mahasiswa secara menyeluruh.
Increasing Human Resource Capacity Through Workshop 7 (Seven) Habits in Elementary and Middle Education Council PNF PCM Gresik Sukaris, Sukaris; Indro Kirono; Heru Baskoro; Nadhirotul Laily; Alkusani
Kontribusia : Research Dissemination for Community Development Vol. 8 No. 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : OJS Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/kontribusia.v8i2.10135

Abstract

Increasing the capacity of human resources (HR) in elementary schools is urgent, especially amidst the challenges of low initiative, weak institutional vision, and minimal character training for teachers and education personnel. This community service activity aims to strengthen HR competency and work culture at SD Muhammadiyah 3 Gresik through training based on The 7 habits of highly effective people. The methods used include three main stages: initial discussion with partners through Focus Group Discussion (FGD) to map problems; participatory and reflective training that integrates seven effective habits into educators' work routines; and evaluation based on questionnaires and personal reflection. The training was delivered contextually and interactively through case studies, simulations, and group discussions. The results of the activity showed positive changes in the way of thinking, time management, and collaboration patterns between participants. Teachers became more proactive, had long-term planning, and were better able to work in teams synergistically. The evaluation also showed increased motivation and awareness of the importance of balance between professional duties and self-development. This activity concluded that the 7 Habits training was effective in building productive and collaborative work characters in elementary education environments. It is recommended that this training be conducted periodically and accompanied by follow-up mentoring to ensure the sustainability of the impact and the formation of an adaptive work culture.