Claim Missing Document
Check
Articles

Cultural Participatory in Tourism Digital Marketing Communication Channel Riris Loisa; Diah Ayu Candraningrum; Lusia Savitri Setyo Utami; Lydia Irena
Jurnal Komunikasi Vol. 13 No. 2 (2021): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v13i2.13411

Abstract

Tourism is one of Indonesia's leading sectors that has been seriously affected by the pandemic. This study aims to describe participatory culture in digital tourism marketing communication channels during the pandemic, through Instagram social media channels from micro-influencers, that focus on three priority tourism destinations that have been set by the government. By using the Participatory Media Culture Theory from Henry Jenkins, it is further studied how consumers and producers create cultural artifacts with commodity value. The research applied a netnographic method, the data were gathered and analyzed by the social media analysis application Analysis.io. The subject of research is the influencers and followers in 3 (three) Instagram accounts: @explorejogja, @indraseptianazhari, and @travelwithgerie, while the object of the research was the forms of participation as cultural artifacts in these accounts This study concludes that the participants build a participatory culture by the power of visual and narrative artifacts, as well as their spreadability. Further this research shows that (1) cultural artifacts in each account have their own characteristics, with similarities in the prosumer participation, where reposting becomes a cultural artifact that has its own power to form virtual relationships; (2) attractive visuals and informal guides in the form of narratives are also cultural artifacts that invite further involvement of participants, in the form of likes, comments, reposts, etc.; and (3) the presence of micro-influencers who are inherently intertwined with these accounts jointly contributing to the dissemination of content and their respective accounts, which in turn becomes a force for the spread of tourism marketing, especially during the pandemic. Pariwisata adalah salah satu sektor unggulan Indonesia yang terkena dampak serius dari pandemi ini. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan budaya partisipatif dalam saluran komunikasi pemasaran pariwisata digital selama pandemi, melalui saluran media sosial Instagram dari mikro-influencer, yang berfokus pada tiga destinasi wisata prioritas yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Dengan menggunakan Teori Budaya Media Partisipatif dari Henry Jenkins, lebih lanjut dipelajari bagaimana konsumen dan produsen menciptakan artefak budaya dengan nilai komoditas. Penelitian ini menggunakan metode netnografi, data dikumpulkan dan dianalisis dengan aplikasi analisis media sosial Analysis.io. Subjek penelitian adalah influencer dan followers di 3 (tiga) akun Instagram: @explorejogja, @indraseptianazhari, dan @travelwithgerie, sedangkan objek penelitian adalah bentuk partisipasi sebagai artefak budaya dalam akun tersebut. Penelitian ini menyimpulkan budaya partisipatori dibangun dengan kekuatan artefak visual dan naratif, serta daya sebarnya. Lebih lanjut, penelitian ini menunjukkan bahwa (1) artefak budaya di setiap akun memiliki ciri khas tersendiri, dengan kesamaan berupa partisipasi prosumer, dimana reposting menjadi artefak budaya yang memiliki kekuatan untuk membentuk hubungan virtual; (2) visual yang menarik dan panduan informal berupa narasi juga merupakan artefak budaya yang mengundang keterlibatan peserta lebih lanjut, dalam bentuk ekspresi rasa suka, komentar, repost, dll; dan (3) kehadiran micro-influencer yang secara inheren terjalin dengan akun-akun tersebut secara bersama-sama berkontribusi dalam penyebaran konten dan akunnya masing-masing, yang pada akhirnya menjadi kekuatan bagi penyebaran pemasaran pariwisata, khususnya di masa pandemi.
Teknologi Komunikasi Informasi Untuk Peningkatan Kesadaran Publik Pada Organisasi Sosial Diah Ayu Candraningrum
Jurnal Komunikasi Vol. 10 No. 2 (2018): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v10i2.2727

Abstract

In today's digital era, the need for social media use to achieve goals must be understood, no exception for social organizations. One of them is the Breastfeeding Mothers Association (AIMI), West Sumatra Province. The AIMI branch of the City of Padang also has to socialize the campaign program and policies of its parent organization. But the problem faced is that not all members understand the use of social media to disseminate information and gain public sympathy. Therefore, the problem raised in this research is how the use of AIMI's West Sumatra social media as part of its personal branding strategy, to increase public brand awareness. The theory used is the Personal Branding Theory. The research itself was conducted through a descriptive qualitative research approach with interview techniques, combined with data collection by distributing e-questionnaires to 20 AIMI Padang members and 5 external parties. The result, it is known that the level of understanding of AIMI members in the use of social media to increase public awareness is still lacking, so that an understanding of the use of comprehensive information communication technology is needed. Di era digital saat ini, kebutuhan akan penggunaan media sosial untuk mencapai tujuan harus dipahami caranya, tak terkecuali bagi organisasi sosial. Salah satunya Asosiasi Ibu Menyusui (AIMI) Provinsi Sumatra Barat. AIMI cabang Kota Padang juga harus mensosialisasikan program kampanye dan kebijakan induk organisasinya. Namun permasalahan yang dihadapi adalah bahwa tak semua anggotanya memahami penggunaan media sosial untuk menyebarkan informasi dan meraih simpati publik. Karena itu, permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana penggunaan media sosial milik AIMI Sumatra Barat sebagai bagian dari strategi personal branding–nya, untuk meningkatkan brand awareness masyarakat. Teori yang digunakan adalah Teori Personal Branding. Penelitian ini sendiri dilakukan lewat pendekatan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan teknik wawancara, dikombinasikan dengan pengumpulan data dengan pembagian e-kuesioner kepada 20 orang anggota AIMI Padang dan 5 orang dari pihak eksternal. Hasilnya, diketahui bahwa tingkat pemahaman anggota AIMI dalam penggunaan media sosial untuk peningkatan kesadaran publik masih kurang, sehingga diperlukan pemahaman tentang penggunaan teknologi komunikasi informasi yang komprehensif.  
Pemanfaatan Teknologi pada Industri Kecantikan dalam Upaya Mengatasi Stigma Standar Kecantikan Perempuan Rusdianto, Shiyam Jinda; Candraningrum, Diah Ayu
Kiwari Vol. 4 No. 1 (2025): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v4i1.33746

Abstract

Today, technology is not only an important factor in the progress of a country, but also serves as an innovation in various industries,including the beauty industry. This study aims to explore the impact of technological innovation in beauty products on the perceptionof beauty among Indonesian women. In this study, Skintific products were chosen as the focus because within one year, the brand haswon several awards, including the title ofBest Newcomer Brand 2022. The theory of diffusion of innovation was used as a foundation in this study due to its relevance to the topic discussed. The method applied is quantitative, data was collected through distributing questionnaires. Sampling in this study used purposive sampling technique with a total of 99 respondents, consisting of women who have used or are using Skintific products. Data was collected through questionnaires distributed via Google Form to female Skintific consumers. The results showed that in the partial test (T test), there was an influence between variables X and Y, indicated by the rejection of H0 and the acceptance of H1. In addition, the coefficient of determination (R2) test results show an R square value of 80.9% which indicates that technological innovation in beauty products has an influence on the beauty stigma of Indonesian women. Saat ini, teknologi tidak hanya menjadi faktor penting dalam kemajuan suatu negara, tetapi juga berfungsi sebagai inovasi dalam berbagai industri, termasuk industri kecantikan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengeksplorasi dampak dari inovasi teknologi pada produk kecantikan terhadap persepsi kecantikan di kalangan perempuan Indonesia. Dalam penelitian ini, produk Skintific dipilih sebagai fokus karena dalam waktu satu tahun, merek ini telah meraih beberapa penghargaan, termasuk gelar Brand Pendatang Baru Terbaik 2022. Teori difusi inovasi digunakan sebagai landasan dalam penelitian ini karena relevansinya dengan topik yang dibahas.Metode yang diterapkan adalah kuantitatif, data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner. Pengambilan sampel dalam penelitianini menggunakan teknik Purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 99 orang, yang terdiri dari perempuan yang telah atausedang menggunakan produk Skintific. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan via Google Form kepada konsumenperempuan Skintific. Analisis data dilakukan menggunakan IBM SPSS versi 30. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada uji parsial (uji T), terdapat pengaruh antara variabel X dan Y, ditunjukkan dengan ditolaknya H0 dan diterimanya H1. Selain itu, hasil uji koefisien determinasi (R2) menunjukkan nilai R square sebesar 80.9% yang mengindikasikan bahwa inovasi teknologi produk kecantikan memiliki pengaruh terhadap stigma kecantikan perempuan Indonesia.
Analisis Resepsi Konten Berbagi Uang di Akun TikTok @Williesalim Jacobus, Gabrielle Angelica; Candraningrum, Diah Ayu
Prologia Vol. 9 No. 1 (2025): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v9i1.33403

Abstract

In Indonesia, social media penetration is very significant, with 76.8% of the internet user population using social media, or equivalent to 202.35 million users. One of the most widely used platforms is TikTok, making Indonesia the second country with the largest active users in the world with 99.1 million users in 2022. One interesting phenomenon on TikTok is the trend of money-sharing content. This kind of content often attracts attention because of the element of surprise, strong emotions, and inspirational values ​​conveyed. This study analyzes audience perceptions of the quality of money-sharing content on the TikTok account @Williesalim. A qualitative approach was used to analyze how audiences assess the elements of authenticity, credibility, interactivity, visual appeal, and script of money-sharing content. The results show differences in reception, some audiences appreciate transparency and emotional responses, while others criticize the content as manipulative. These findings reveal that content quality is analyzed based on audience perceptions of the credibility and moral values ​​conveyed, providing guidance for content creators to create more meaningful content. Di Indonesia, penetrasi media sosial sangat signifikan, dengan 76,8% dari populasi pengguna internet menggunakan media sosial, atau setara dengan 202,35 juta pengguna. Salah satu platform yang paling banyak digunakan adalah TikTok, menjadikan Indonesia sebagai negara kedua dengan pengguna aktif terbesar di dunia sebanyak 99,1 juta pengguna pada 2022. Salah satu fenomena yang menarik di TikTok adalah tren konten berbagi uang. Konten seperti ini sering menarik perhatian karena unsur kejutan, emosi yang kuat, dan nilai inspiratif yang disampaikan. Penelitian ini menganalisis persepsi audiens terhadap kualitas konten berbagi uang di akun TikTok @Williesalim. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menganalisis bagaimana audiens menilai elemen keaslian, kredibilitas, interaktivitas, daya tarik visual, dan naskah konten berbagi uang. Hasil menunjukkan adanya perbedaan resepsi, sebagian audiens mengapresiasi transparansi dan respon emosional, sementara lainnya mengkritik konten sebagai manipulatif. Temuan ini mengungkap bahwa kualitas konten dianalisis berdasarkan persepsi audiens terhadap kredibilitas dan nilai moral yang disampaikan, memberikan panduan bagi kreator konten untuk menciptakan konten yang lebih bermakna.
Gerakan Sosial Kolektif dalam Drama Pyramid Game (Studi Semiotika Roland Barthes) Noel, Grace Ekklesia; Candraningrum, Diah Ayu
Koneksi Vol. 9 No. 1 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i1.33290

Abstract

Evolving social changes create various types of dynamic social movements. This research aims to analyze the denotative and connotative meanings in the Korean drama Pyramid Game about collective behavior as a form of social movement using Roland Barthes semiotics. The teories and concepts used in this research are film as mass communication, social movement (collective behavior theory and new social movement theory), and semiotics according to Roland Barthes. With a qualitative approach that uses the semiotics of Barthes research method and Roland Barthes’ semiotic analysis technique involving concepts of denotation, connotation, and myth, this study aims to reveal collective behavior as a form of social movements in Korean drama Pyramid Game. Based on the results of the research, social movement in this drama are depicted through collective behaviors that are conventional and technological that bring success of social movements with the weakening of the oppressive system, the development of collective action groups, and boycotts. These elements build significant collective power in fighting injustice and promoting social change. In addition to being a medium of entertainment, the drama also reflects social realities related to the dynamics of social movements that are relevant in modern society. Perubahan sosial yang terus berkembang menciptakan berbagai jenis gerakan sosial kolektif yang dinamis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna denotatif dan konotatif dalam drama Korea Pyramid Game tentang perilaku kolektif sebagai bentuk gerakan sosial dengan menggunakan semiotika Roland Barthes. Teori serta konsep yang digunakan dalam penelitian ini  adalah film sebagai komunikasi massa, gerakan sosial (teori perilaku kolektif dan teori gerakan sosial baru), dan semiotika menurut Roland Barthes. Dengan pendekatan kualitatif yang menggunakan metode penelitian semiotika Barthes dan teknik analisis semiotika Roland Barthes yang melibatkan konsep denotasi, konotasi, dan mitos ini bertujuan untuk mengungkap perilaku kolektif sebagai bentuk gerakan sosial dalam drama Korea Pyramid Game. Berdasarkan hasil penelitian, gerakan sosial dalam drama ini digambarkan melalui perilaku kolektif yang secara konvensional maupun dengan teknologi yang membawa keberhasilan dari gerakan sosial dengan melemahnya sistem menindas, berkembangnya kelompok tindakan kolektif, dan aksi boikot. Elemen-elemen ini membangun kekuatan kolektif yang signifikan dalam melawan ketidakadilan dan mendorong perubahan sosial. Selain menjadi medium hiburan, drama ini juga mencerminkan realitas sosial terkait dinamika gerakan sosial yang relevan di masyarakat modern.
Representasi Kekerasan Simbolik dalam Film “It Ends with Us” (Analisis Semiotika Peirce) Angelia, Cayla Shiva; Candraningrum, Diah Ayu
Koneksi Vol. 9 No. 1 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i1.33328

Abstract

Film, as a form of mass media, has a significant ability to communicate messages to a wide audience through visual, auditory, and narrative components. This study aims to examine how violence is portrayed in romantic relationships in It Ends with Us by using Charles sanders Peirce’s semiotic theory (sign, object, interpretant) and Pierre Bourdieu’s symbolic violence theory. The movie tells the story of Lily Blooms who struggles to get out of a toxic relationship full of emotional and physical violence. A descriptive qualitative method was used to reveal signs of violence, both overt and covert. The findings show that the scenes of violence shown explicitly in It Ends with Us also contain symbolic violence. The movie represents relationship violence that often occurs in society that shows the complexity between perpetrators and victims, especially in the form of emotional manipulation and verbal violence. Film sebagai salah satu bentuk media massa, memiliki kemampuan yang signifikan dalam mengkomunikasikan pesan kepada khalayak luas melalui komponen visual, pendengaran, dan narasi. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti bagaimana kekerasan digambarkan dalam hubungan romantis dalam film It Ends with Us dengan menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce (tanda, objek, interpretan) dan teori kekerasan simbolik Pierre Bourdieu. Film ini mengisahkan Lily Blooms yang berjuang untuk keluar dari hubungan toksik yang penuh kekerasan emosional dan fisik. Metode deskriptif kualitatif digunakan untuk mengungkap tanda-tanda kekerasan, baik secara jelas maupun yang terselubung. Temuan menunjukan bahwa adegan kekerasan yang ditampilkan secara eksplisit dalam film It Ends with Us juga mengandung kekerasan simbolik. Film ini merepresentasikan kekerasan dalam hubungan yang sering terjadi di masyarakat yang menunjukan kompleksitas antara pelaku dan korban, terutama dalam bentuk manipulasi emosional dan kekerasan verbal.
Pengaruh Promosi Video Pendek di Instagram Buddy Pool terhadap FOMO Billiard Generasi Z Edward, Joshua; Candraningrum, Diah Ayu
Kiwari Vol. 4 No. 2 (2025): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v4i2.34991

Abstract

This study examines the influence of short videos in Buddy Pool’s Instagram account on the behavior of Fear of Missing Out (FOMO) within the billiard trend among Generation Z in West Jakarta. Using a quantitative approach and survey method, the data were collected from 100 respondents aged 18–25 through an online questionnaire. The findings reveal that short videos on Instagram significantly affect FOMO behavior, with creative content such as tutorials, facility promotions, and community activities successfully capturing attention and increasing audience participation. The impact of short videos on FOMO was measured at 12.6%, while other factors accounted for the remainder. These results highlight the importance of social media as an effective promotional device for creating trends, expanding marketing reach, and strengthening connections with young audiences. Penelitian ini menganalisis pengaruh video pendek di Instagram Buddy Pool terhadap fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dalam tren biliar dalam kalangan Generasi Z Jakarta Barat. Dengan pendekatan kuantitatif dan metode survei, data dikumpulkan dari 100 responden berusia 18–25 tahun menggunakan kuesioner online. Hasil penelitian menunjukkan bahwa video pendek di Instagram berpengaruh signifikan terhadap perilaku FOMO, dimana konten kreatif seperti tutorial, promosi fasilitas, dan aktivitas komunitas berhasil menarik perhatian dan meningkatkan partisipasi audiens. Pengaruh video pendek terhadap FOMO tercatat sebesar 12,6%, sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Temuan ini menegaskan pentingnya media sosial sebagai perangkat promosi yang efektif untuk menciptakan tren, memperluas jangkauan pemasaran, dan memperkuat koneksi dengan generasi muda.
Peran Komunikasi Intrapersonal terhadap Penerimaan Tren Work Life Balance Menjadi Gaya Hidup Generasi Z di Indonesia Susanto, Paulina; Candraningrum, Diah Ayu
Koneksi Vol. 9 No. 2 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i2.33305

Abstract

The development of the era and digitalization has brought significant changes to various generations, especially Generation Z. Generation Z is known for its unique characteristics that have a desire to get flexibility in work, as well as an emphasis on the balance between work and personal life which has similarities to the concept brought by the trend of work life balance. Work life balance describes a situation where a person can manage and divide between work responsibilities, personal life, and other responsibilities. Talking about this trend is certainly related to lifestyle and requires intrapersonal communication in accepting this trend into a lifestyle. The purpose of this study is to understand the role of intrapersonal communication in the acceptance of the work life balance trend on the lifestyle decisions of Generation Z. The theory that supports this research is intrapersonal communication theory. This research was conducted with a qualitative approach and phenomenological method. The results showed that intrapersonal communication has an important role in decision making in accepting the work-life balance trend of Generation Z. The process of accepting the work life balance trend is not only influenced by external factors such as work or career.The work life balance trend is popular among Generation Z because this generation has characteristics that prioritize the balance between work and personal life as a top priority. This character is shaped by a more flexible financial situation compared to previous generations. However, as they age and take on life responsibilities, such as starting a family, their priorities shift towards financial stability, and the application of this trend has been shown to influence a more balanced lifestyle, bringing happiness to its users. Perkembangan zaman dan digitalisasi telah membawa perubahan signifikan pada berbagai generasi, terutama Generasi Z. Generasi Z dikenal dengan karakteristik unik yang memiliki keinginan untuk mendapatkan fleksibilitas dalam pekerjaan, serta penekanan pada keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi yang mana memiliki kesamaan dengan konsep yang dibawa oleh tren work life balance. Work life balance menjelaskan sebuah keadaan di mana seseorang dapat mengatur dan membagi antara tanggung jawab pekerjaan, kehidupan pribadi dan tanggung jawab lainnya. Berbicara tentang tren ini pastinya berkaitan dengan gaya hidup dan dibutuhkan komunikasi intrapersonal dalam penerimaan tren ini menjadi gaya hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami komunikasi intrapersonal berperan dalam dalam penerimaan tren work life balance terhadap keputusan gaya hidup Generasi Z. Teori yang mendukung penelitian ini adalah teori komunikasi intrapersonal. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan metode fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi intrapersonal memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan dalam penerimaan tren work life balance Generasi Z. Proses dalam penerimaan tren work life balance tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti pekerjaan atau karier, tetapi juga oleh kebutuhan psikologis individu. Tren work life balance  populer di kalangan Generasi Z karena generasi ini memiliki karakteristik yang mementingkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sebagai prioritas utama. Karakter tersebut terbentuk karena kondisi finansial yang lebih fleksibel dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, seiring bertambahnya usia dan tanggung jawab hidup seperti berkeluarga maka prioritas mereka akan beralih ke stabilitas finansial serta pengaplikasian tren ini terbukti mempengaruhi gaya hidup yang menjadi lebih seimbang dan timbul rasa bahagia pada penggunanya.
Dampak Antusiasme Penggemar Konser Online BTS terhadap Euforia Korean Wave di Media Sosial Fanbase BTS di Indonesia Martanu, Gavrila Claudia; Candraningrum, Diah Ayu
Prologia Vol. 9 No. 2 (2025): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v9i2.33405

Abstract

Korean Wave or Hallyu phenomenon has become a global cultural trend which has attracted the attention of the global community, especially through music groups such as BTS. This study seeks to examine the impact of the enthusiasm regarding BTS Online concert fans on the euphoria of the Korean Wave on social media. Using a questionnaires were distributed to collect data using quantitative techniques means of obtaining data. In this research, Parasocial Interaction Theory is used to explain the strong relationship between Bangtan Seonyeondan (BTS) fans and the group, even though only through digital platforms such as social media and Online concerts. The population of this study consisted of Instagram followers accounts of Bangtan Seonyeondan (BTS) fans in Indonesia with a sample of 100 individuals determined through calculations using the Slovin's formula. The results of the study show that there is an influence of the enthusiasm of BTS Online Concert fans on the euphoria of the Korean Wave on BTS Fanbase social media in Indonesia. Through the findings of statistical tests carried out, the R Square value is 0.680, this shows indicating an effect of the independent variable. (fan enthusiasm) on the outcome variable (Korean Wave) of 68.0%. FFenomena Korean Wave atau Hallyu telah menjadi salah satu tren budaya global yang menarik perhatian masyarakat internasional, terutama melalui grup musik seperti BTS. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh antusiasme penggemar konser Online BTS terhadap euforia Korean Wave di media sosial, dengan pendekatan kuantitatif, data diperoleh melalui penyebaran kuesioner sebagai sarana untuk mendapatkan data. Dalam penelitian ini digunakan Teori Interaksi Parasosial untuk menjelaskan adanya hubungan yang kuat di antara penggemar Bangtan Seonyeondan (BTS) dengan grup tersebut, meskipun hanya melalui platform digital seperti media sosial dan konser Online. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari pengikut akun Instagram penggemar Bangtan Seonyeondan (BTS) di Indonesia dengan sampel berjumlah 100 orang yang didapat melalui perhitungan dengan menggunakan rumus Slovin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antusiasme penggemar konser Online BTS terhadap euforia Korean Wave di media sosial Fanbase BTS di Indonesia. Melalui hasil uji statistik yang dilakukan, nilai R Square merujuk pada 0,680, ini mengindikasikan bahwa terdapat pengaruh dari variabel independen (antusiasme penggemar) pada variabel dependen (Korean Wave) senilai 68,0 %.
Penerapan Elemen STEPPS di Instagram Reels Moira Workshop Lavender, Lavender; Candraningrum, Diah Ayu
Prologia Vol. 9 No. 2 (2025): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v9i2.33410

Abstract

Social media, particularly Instagram, plays a significant role in helping companies and small businesses promote their products or services through features like Reels, which can quickly reach a broad audience. Digital marketing has now become a new trend known as viral marketing, a strategy that relies on word-of-mouth promotion through the internet. This study focuses on the utilization of Instagram Reels by Moira Workshop, which successfully attracted 800 participants within its first six months of operation. The objective of this research is to analyze the implementation of viral marketing in digital marketing at Moira Workshop. The study adopts the STEPPS framework: Social Currency, Trigger, Emotion, Practical Value, Public, and Stories. Using a qualitative approach and case study method, data were collected through interviews, observations, and literature reviews. The findings reveal that Moira Workshop has applied all elements of the STEPPS framework in its Instagram Reels. The results indicate that viral marketing plays a crucial role in digital marketing, particularly in rapidly expanding audience reach. Emotion and practical value emerged as key factors in the success of this viral marketing strategy. Media sosial khususnya Instagram membantu perusahaan dan usaha bisnis kecil untuk mempromosikan produk atau layanan melalui fitur seperti Reels, yang mampu menjangkau audiens secara luas dengan cepat. Pemasaran digital kini menjadi tren baru yang dikenal sebagai viral marketing, yaitu strategi pemasaran dari mulut ke mulut melalui jaringan internet. Penelitian ini berfokus pada pemanfaatan Instagram Reels oleh Moira Workshop, yang berhasil menarik 800 peserta dalam enam bulan pertama sejak didirikan. Tujuan dalam melakukan penelitian ini, yaitu menganalisis bagaimana implementasi viral marketing dalam pemasaran digital di Moira Workshop. Penelitian ini menggunakan konsep STEPPS: Social Currency, Trigger, Emotion, Practical Value, Public, Stories. Pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, data penelitian diperoleh melalui wawancara, observasi, dan studi pustaka. Penelitian ini menemukan bahwa Moira Workshop telah melaksanakan seluruh elemen STEPPS dalam Instagram Reels. Hasil penelitian menunjukkan bahwa viral marketing memiliki peran penting dalam pemasaran digital, terutama dalam meningkatkan jangkauan audiens secara cepat. Faktor emotion dan practical value menjadi elemen kunci keberhasilan viral marketing ini.