Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

ANALISIS RISIKO KESEHATAN LINGKUNGAN (MODEL PENGUKURAN RISIKO PENCEMARAN UDARA TERHADAP KESEHATAN) Syahrul Basri; Emmi Bujawati; Munawir Amansyah; Habibi .; Samsiana .
Jurnal Kesehatan Vol 7 No 2 (2014): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/kesehatan.v7i2.61

Abstract

kesehatan. Se-dangkan risiko (risk) merupakan fungsi peluang terjadinya gangguan kesehatan dan kepara-han (severity) gangguan kesehatan oleh karena suatu bahaya.Risiko lingkungan merupakan risiko terhadap kesehatan manusia yang disebabkan oleh karena faktor lingkungan, baik lingkungan fisik, hayati maupun sosial-ekonomi-budaya. Salah satu bahaya yang berpotensi menimbulkan dampak bagi kesehatan manusia dan ling-kungan yakni bahaya kimia yang berupa keberadaan polutan di udara.Di Indonesia Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) masih belum banyak dikenal dan digunakan sebagai metoda kajian dampak lingkungan terhadap kesehatan. Pa-dahal, di beberapa negara Uni Eropa, Amerika dan Australia ARKL telah menjadi proses central idea legislasi dan regulasi pengendalian dampak lingkungan. Karenanya, merupakan hal penting untuk mengenalkan metode ARKL dalam pengukuran risiko kesehatan yang dapat ditimbulkan karena faktor lingkungan khususnya pencemaran udara.Kata Kunci : Analisis Risiko, Pencemaran Udara
Is there a relationship between intrapersonal, personal hygiene, and physical environment with incidence of scabies? Iin Indah sari; Emmi Bujawati; Sukfitrianty Syahrir; Nildawati Amir; Munawir Amansyah
CORE JOURNAL Volume 1, Issue 1, Desember 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/corejournal.v1i1.18362

Abstract

Scabies is one of the most common dermatological problems and affects about 200 million people each year around the world (WHO, 2019). This study aims to see the relationship between intrapersonal, personal hygiene and the physical environment on the incidence of scabies at the Sultan Hasanuddin Islamic Boarding School. This is a quantitative research with an observational analytic approach with a case control design. The sampling technique used was exhaustive sampling (80 students). Chi-Square test results for the interpersonal contact variable was that there was a relationship between changing prayer equipment (p value = 0.000) and the incidence of scabies, th¬ere was no relationship between changing toiletries (p value = 0.115), sleeping huddled (p value = 0.769) to the scabies¬¬¬¬¬¬. For the personal hygiene variables, there was no relationship between bathing habits and the incidence of scabies and there was a relationship between nail cutting habits (p value = 0.004) and changing underwear (p value = 0.000). For the physical environment variables, there was a relationship between lighting (p value = 0.005) humidity (p value = 0.002) on the incidence of scabies and there was no relationship between the physical quality of water and the scabies. It is hoped that there will be efforts to improve the personal hygiene, intrapersonal and sanitation behavior of each student. The results suggest that there is a need for policies in the form of sanctions or rewards for students who can practice intrapersonal, personal hygiene and good environment
Analisis Kandungan Logam Berat pada Kerang Ana Dara dari Daerah Hilir Sungai Jeneberang Munawir Amansyah; Alwiyah Nur Syarif
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 7, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.486 KB) | DOI: 10.24252/as.v7i1.1980

Abstract

  Sungai Jeneberang merupakan sungai yang keberadaannya sebagian besar dimanfaatkan untuk sarana air bersih masyarakat yang tinggal di sekitar daerah aliran sungai Jeneberang. Keberadaan logam berat dari hasil buangan limbah pabrik-pabrik yang berdiri di sekitar Sungai Jeneberang dapat berpotensi mencemari biota perairan. Kerang merupakan salah satu komoditas yang banyak terdapat di muara Sungai. Kerang dapat mengakumulasi logam lebih besar daripada hewan air lainnya karena sifatnya yang menetap dan menyaring makanannya (filter feeder) serta lambat untuk dapat menghindarkan diri dari pengaruh polusi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar logam berat pada kerang Ana Dara di Sungai Jeneberang. Penelitian ini bersifat observasional analitik, menggunakan analisis komparatif. Teknik pengambilan data di lapangan dilakukan secara cross sectional, yaitu pengamatan dilakukan secara langsung terhadap objek yang diteliti. Lokasi penelitian dipusatkan pada daerah hilir Sungai Jeneberang yang terletak di dua kelurahan yaitu Kecamatan yaitu Kecamatan Bontomarannu  sebagai stasiun 1 dan Kecamatan Pallangga sebagai stasiun 2 di Kabupaten Gowa. Pemilihan titik pengambilan di daerah dekat pemukiman padat penduduk dan biasanya dijadikan nelayan setempat sebagai tempat penangkapan biota perairan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan Besi (Fe), kandungan Timbal (Pb), dan  kandungan Tembaga (Cu) pada kerang yang diperoleh setelah melakukan pengukuran berulang di stasiun I (kecamatan Bontomarannu) dan pada stasiun II (Kecamatan Pallangga) melebi nilai ambang batas yang telah diatur dalam Peraturan Kementerian Kesehatan maupun Kementerian Lingkungan Hidup. Hal ini dapat berdampak pada keseimbangan ekosistem diperairan terutama keberadaan kerang Ana Dara. Di samping tingginya kadar logam berat pada kerang Ana Dara dapat mengakibatkan gangguan kesehatan pada manusia yang mengkonsumsi kerang tersebut.  
Peningkatan Kualitas Air Sumur Gali Berdasarkan Parameter Besi (Fe) dengan Pemanfaatan Kulit Pisang Kepok di Dusun Alekanrung Desa Kanrung Kabupaten Sinjai Andi Susilawaty; Munawir Amansyah; Jumiati Jumiati
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 7, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.61 KB) | DOI: 10.24252/as.v7i2.2001

Abstract

Kulit Pisang Kepok (Musa acuminate L.) adalah salah satu jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai penurun kadar zat Besi yang ada pada air, penurun kadar logam berat yang lain seperti timah, mangan dan variabel lainnya. Kulit pisang terdiri dari sejumlah nitrogen, sulfur dan komponen organik seperti asam karboksilat, selulosa, hemiselulosa, pigmen klorofil dan zat pektin yang mengandung asam galacturonic, arabinosa, galaktosa dan rhamnosa. Asam galacturonic dapat mengikat kuat ion logam yang merupakan gugus fungsi gula karboksil. Berdasarkan pemeriksaan pendahuluan di laboratorium ternyata air sumur gali memiliki kadar zat Besi sebanyak 1,67 mg/L, padahal standar yang diperbolehkan untuk air bersih dalam Standar Kualitas Baku Mutu Air menurut Permenkes No. 416/MENKES/PER/IX/1990 adalah 1,0 mg/L. Penelitian ini dilakukan di Dusun Alekanrung Desa Kanrung Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai dan pemeriksaan sampel dilakukan di Laboratorium Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, yang bertujuan untuk mengetahui berapa besar tingkat penurunan kandungan logam besi (Fe) dengan memanfaatkan kulit pisang kepok pada air sumur gali. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen sungguhan (True Experiment). Desain penelitian yang digunakan adalah pre test-post test with control group design, dimana terdapat pretest sebelum diberi perlakuan. Berdasarkan hasil penelitian  tentang  Peningkatan Kualitas Air Sumur Gali Berdasarkan Parameter Besi (Fe) dengan Pemanfaatan Kulit Pisang Kepok, maka dapat diambil kesimpulan untuk uji Laboratorium bahwa tingkat kadar zat besi  (Fe) pada air sumur gali sebelum mendapat perlakuan adalah 1,67 mg/L. Kemudian terjadi penurunan tingkat kadar zat Besi (Fe) air sesudah mendapat perlakuan dengan Kulit Pisang Kepok yaitu dengan berat20 gr sebanyak 0,80 mg/L atau 52%,40gr sebanyak 0,94 mg/L atau 43,7% dan 60gr sebanyak 0,81 atau 51%.Diharapkan kepada masyarakat agar memperhatikan sarana air bersih yang mereka gunakan dengan melakukan pengolahan terlebih dahulu, salah satu alternatifnya adalah dengan menggunakan kulit pisang kepok.Kepada peneliti lain, disarankan untuk meneliti manfaat kulit pisang kepok ini dengan indikator parameter yang lain 
Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Stres Kerja Pada Pekerja Factory 2 PT. Maruki Internasional Indonesia Makassar Tahun 2016 Hasbi Ibrahim; Munawir Amansyah; Githa Nurfaridha Yahya
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 8, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.555 KB) | DOI: 10.24252/as.v8i1.2082

Abstract

Penyebab utama stres kerja adalah tuntutan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan atau keterampilan pekerja, keinginan atau aspirasi yang tidak tersalurkan dan ketidakpuasan dalam bekerja. Dari potensi terjadinya stres kerja perlu dilakukan uji hubungan untuk melihat faktor apa saja yang berhubungan dengan stres kerja. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada pekerja factory 2 PT. Maruki Internasional Indonesia Makassar. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif dengan populasinya adalah seluruh pekerja yang bekerja di factory 2. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh dari pekerja yang ada di factory 2. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pekerja yang mengalami stres kerja berat sebesar 11 orang (34,4%) dan mengalami stres ringan sebanyak 21 orang (65,6%). Kemudian dari hasil analisis bivariat, diperoleh tidak ada faktor yang berhubungan dengan stres kerja. Hubungan umur dengan stres kerja p=0,70, hubungan masa kerja dengan stres kerja p=0,70, hubungan beban kerja dengan stres kerja p=0,13, hubungan upah kerja dengan stres kerja p=0,70, hubungan risiko lingkungan kerja dengan stres kerja p=0,50, hubungan antara hubungan kerja dengan stres kerja p=0,70. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka ada beberapa saran yang dapat direkomendasikan kepada pihak perusahaan agar melakukan teknik manajemen stres yang tepat dan sesuai, berupa pengaturan fasilitas dalam ruangan kerja secara memadai untuk lingkungan kerja dan beban kerja. Pihak instansi dapat menyediakan tempat kerja dibagian mengukir yang pencahayaannya sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. 
Gambaran Penyediaan Air Bersih PDAM Kota Makassar Tahun 2015 Abdul Majid H.R. Lagu; Munawir Amansyah; Fakhrul Mubarak
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 8, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.406 KB) | DOI: 10.24252/as.v8i2.2657

Abstract

Penyediaan  air  bersih  merupakan  hal  yang  sangat  vital  bagi  kehidupan  manusia. Kebutuhan terhadap penyediaan dan pelayanan air bersih dari waktu ke waktu semakin meningkat yang terkadang tidak diimbangi oleh kemampuan pelayanan. Peningkatan kebutuhan   ini   disebabkan   oleh   peningkatan   jumlah   penduduk,   peningkatan   derajat kehidupan warga serta perkembangan kota/kawasan pelayanan ataupun hal-hal yang berhubungan dengan peningkatan kondisi sosial ekonomi warga yang diikuti dengan peningkatan jumlah kebutuhan air per kapita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyediaan air bersih serta persepsi pelanggan PDAM Kota Makassar tahun 2015. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 300 kepala keluarga namun kenyataannya hanya 199 dari sampel yang terpilih yang merupakan pelanggan PDAM. Dari hasil penelitian menunjukkan kualitas air bersih secara fisik dan kimiawi di kota Makassar masih baik dan telah memenuhi syarat walaupun masih terdapat kepala keluarga yang masih mengalami gangguan kualitas fisik air. Untuk menjaga kestabilan ketersediaan air bersih, hendaknya dilakukan pengawasan terhadap kualitas air, kontinuitas pengaliran air dan kuantitas secara berkala sehingga permasalahan yang ada dapat segera dicari solusinya sehingga pelayanan air bersih dapat berjalan efektif serta melakukan perencanaan pengembangan yang berorientasi pada wilayah prioritas yang sulit mendapatkan akses air bersih. 
Kerentanan Ketersediaan Air Bersih di Daerah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Sulawesi Selatan Indonesia Andi Susilawaty; Munawir Amansyah; Nildawati Nildawati
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 8, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.237 KB) | DOI: 10.24252/as.v8i2.2666

Abstract

Air merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan, juga manusia selama hidupnya selalu memerlukan air. Dengan demikian semakin naik jumlah penduduk dan laju pertumbuhannya semakin naik pula laju pemanfaatan sumber-sumber air. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi ilmiah, sosial dan praktis tentang risiko kesehatan lingkungan dari aspek ketersediaan air bersih. Penelitian ini bersifat observasional dengan rancangan penilaian resiko kesehatan lingkungan. Model pengukuran adalah bagian dari model yang diteliti dimana pada pendekatan SEM terdiri atas sebuah variabel  laten (konstruk) dan beberapa variabel manifest (indikator) yang menjelaskan variabel laten tersebut. Pulau-pulau yang diteliti yaitu 8 pulau-pulau kecil berpenghuni yang berada pada gugus Pulau 9 Kabupaten Sinjai dan 8 pulau-pulau kecil berpenghuni dalam wilayah Kota Makassar. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi persentase atau cakupan kualitas fisik air bersih tidak memenuhi syarat pada suatu pulau akan semakin besar pula risiko yang dapat muncul pada pulau-pulau kecil. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah, sosial dan praktis tentang risiko, sehingga penilaian ini dapat menunjang pengambilan keputusan atau kebijakan yang akan diterapkan pada sasaran. 
Gambaran Faktor Risiko Kecelakaan Kerja Pada Departemen Produksi Bahan Baku di PT. Semen Tonasa Kabupaten Pangkep Tahun 2016 Hasbi Ibrahim; Munawir Amansyah; Nur Amalia Wahyuni Tahir
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 9, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.294 KB) | DOI: 10.24252/as.v9i1.3145

Abstract

Faktor risiko merupakan hal-hal yang terkait dengan kemungkinan kecelakaan kerja akan terjadi dan dapat mengakibatkan kerusakan. Kecelakaan akibat kerja pada dasarnya disebabkan oleh tiga faktor yaitu faktor manusia, pekerjaanya dan faktor lingkungan di tempat kerja. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui gambaran setiap variabel yang diteliti sebagai faktor risiko kecelakaan kerja pada departemen produksi bahan baku (tambang)  PT.Semen Tonasa desa biringere, kecamatan bungoro, kabupaten pangkep. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui kisaran frekuesi atau distribusi dari variabel yang diteliti. Dengan populasi 146 responden dengan menggunakan teknik total sampling yaitu jumlah populasi sama dengan jumlah sampel. Adapun instrument penelitian yaitu menggunakan kuesioner yang diberikan kepada responden serta menggunakan lembar observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur muda (<30 tahun) lebih banyak mengalami kecelakaan kerja yaitu 35,6%,  masa kerja lama (>3tahun) lebih banyak mengalami kecelakaan kerja yaitu 46,6%, yang menggunakan APD lebih banyak mengalami kecelakaan kerja yaitu 32,9%, shift kerja yang mengalami kecelakaan kerja yaitu 30,1%, lama kerja dengan waktu kerja sebanyak 14 jam yang mengalami kecelakaan kerja yaitu 60,3%. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka ada beberapa saran yang dapat direkomendasikan kepada pihak perusahaan yaitu pentingnya perusahaan melakukan pengecekkan alat-alat penunjang keselamatan pekerja, menambah pekerja diarea tambang khusunya untuk sopir sehingga dapat melakukan pergantian waktu kerja, pentingnya memberikan rambu-rambu jalan sepanjang area tambang, serta pentingnya meningkatkan pengawasan mengenai kedisiplinan penggunaan alat pelindung diri (APD) kepada tenaga kerja. 
Gambaran Penerapan Standar Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar Hasbi Ibrahim; Dwi Santy Damayati; Munawir Amansyah; Sunandar Sunandar
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 9, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.155 KB) | DOI: 10.24252/as.v9i2.3769

Abstract

Rumah Sakit merupakan tempat kerja yang sarat dengan  potensi  bahaya kesehatan   dan   keselamatan   kerja. Berbagai   penelitian    menunjukan   bahwa prevalensi  gangguan  kesehatan  yang terjadi  di  fasilitas  kesehatan  lebih  tinggi dibandingkan  tempat  kerja  lainnya. Penerapan standar manajemen keselamatan dan kesehatan kerja Rumah Sakit merupakan bentuk upaya mengurangi risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja di Rumah Sakit. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Tujuan penelitian ini   adalah   untuk   mengetahui   gambaran   penerapan   standar   manajemen keselamatan dan kesehatan kerja Rumah Sakit di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)  Haji  Makassar.  Hasil  penelitian  menunjukan  bahwa  RSUD  Haji Makassar telah menerapkan standar keselamatan dan kesehatan kerja Rumah Sakit dengan  baik  sesuai  dengan  Kepmenkes  No.1087/MENKES/VIII/2010.  RSUD Haji Makassar telah menetapkan kebijakan terkait pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. RSUD Haji Makassar telah melakukan pelayanan Keselamatan dan Kesehatan kerja. RSUD Haji Makassar melaksanakan standar manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. RSUD Haji Makassar telah melaksanakan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3). RSUD Haji Makassar telah melaksanakan program penanganan kejadian ketanggap daruratan. RSUD Haji Makassar telah melakukan pencatatan, pelaporan, evaluasi dan audit keselamatan dan kesehatan kerja dengan baik. Implikasi dari penelitian ini adalah Rumah Sakit diharapkan mampu mengembangkan program program K3 di Rumah Sakit dan melakukan kegiatan sosialisasi dan simulasi secara rutin sehingga tercipta suasana aman dan sehat di lingkungan Rumah Sakit.  
Gambaran Kecelakaan Kerja, Penyakit Akibat Kerja dan Postur Janggal Pada Pekerja Armada Mobil Sampah Tangkasaki’ di Kota Makassar fatmawaty Mallapiang; Munawir Amansyah; Abdul Majid HR. Lagu; Annisa ilahi Thaha
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 10, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1046.172 KB) | DOI: 10.24252/as.v10i1.5419

Abstract

Pada bulan Januari sampai September 2003 terdapat sekitar 81.169 kasus kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja, pada tahun 2008 sebanyak 2.124 orang (Departemen Tenaga kerja Trans Pusat Jakarta, 2008).Pekerjaan pengangkut sampah merupakan pekerjaan yang mempunyai risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang cukup tinggi (Englehardt et al, 2003). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja dan postur janggal pada pekerja armada mobil sampah TANGKASAKI’ (Truk Angkutan Sampah Kita) di kota Makassar. Metode penelitian ini merupakan penelitian Survey bersifatDeksriptif dengan populasi adalah seluruh pekerja pengangkut sampah di kecamatan Tamalate Makassar sebanyak 30 orang dengan sampel 24 orang yang ditentukan secara purposive sampling.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecelakaan kerja tertinggi yang dialami oleh pekerja yaitu tertusuk dan tergores sebanyak 22 responden (43.1%) dan penyakit akibat kerja berupa penyakit kulit sebanyak 9 responden (22.5%). Sedangkan postur janggal dialami oleh pekerja pengangkut sampah karena posisi membungkuk, mengangkat, menarik, menggapai dan melempar sampah ke dalam truk secara berulang-ulang, sehingga mengalami keluhan nyeri punggung sebanyak 18 responden (30.5%).Dapat disimpulkan bahwa pekerja harus lebih memperhatikan dan mengenali hal-hal yang bisa menyebabkan kecelakaan kerja saat bekerja, dalam hal ini untuk menekan dan menurunkan angka kecelakaan kerja pada pekerjadengan penggunaan alat pelindung diri lengkap untuk menunjang pekerjaannya. Sehingga dapat mengurangi risiko kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja dan postur janggal