Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

ANALISIS RISIKO KESEHATAN LINGKUNGAN (MODEL PENGUKURAN RISIKO PENCEMARAN UDARA TERHADAP KESEHATAN) Basri, Syahrul; Bujawati, Emmi; Amansyah, Munawir; ., Habibi; ., Samsiana
Jurnal Kesehatan Vol 7, No 2 (2014): Jurnal Kesehatan
Publisher : Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

kesehatan. Se-dangkan risiko (risk) merupakan fungsi peluang terjadinya gangguan kesehatan dan kepara-han (severity) gangguan kesehatan oleh karena suatu bahaya.Risiko lingkungan merupakan risiko terhadap kesehatan manusia yang disebabkan oleh karena faktor lingkungan, baik lingkungan fisik, hayati maupun sosial-ekonomi-budaya. Salah satu bahaya yang berpotensi menimbulkan dampak bagi kesehatan manusia dan ling-kungan yakni bahaya kimia yang berupa keberadaan polutan di udara.Di Indonesia Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) masih belum banyak dikenal dan digunakan sebagai metoda kajian dampak lingkungan terhadap kesehatan. Pa-dahal, di beberapa negara Uni Eropa, Amerika dan Australia ARKL telah menjadi proses central idea legislasi dan regulasi pengendalian dampak lingkungan. Karenanya, merupakan hal penting untuk mengenalkan metode ARKL dalam pengukuran risiko kesehatan yang dapat ditimbulkan karena faktor lingkungan khususnya pencemaran udara.Kata Kunci : Analisis Risiko, Pencemaran Udara
Efektivitas Kemampuan Tanaman Jeringau (Acorus calamus) untuk Menurunkan Kadar Logam Berat di Air Syahrul Basri; Erlina Hamzah
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 1 No 1 (2015): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.597 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju penurunan kadar logam berat dalam air airdengan menggunakan tanaman Jeringau (Acorus calamus).Jenis penelitian ini adalah Quasi Eksprimen/ Eksprimen Semu dengan rancangan rangkaianwaktu. Penelitian ini dilaksanakan pada suatu wadah khusus berupa kaca dengan volume media 108L/bak yang dilengkapi dengan pompa air. Data dalam penelitian ini disajikan dengan tabel dan narasisecara deskriptif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat keasaman (pH) dalam air sampel sebagai mediatumbuh tanaman Jeringau mengalami kenaikan pH 0.3 dari 7.2 menjadi 7.5. Temperatur mengalamipenurunan 1oC. Nilai Biological Oxygen Demand (BOD) mengalami penurunan 1.3 mg/L atau sebesar38.23%. Nilai Chemical Oxygen Demand (COD) mengalami penurunan 8 mg/L atau sebesar 8%. Konsentrasi logam berat untuk kadmium (Cd) dan Tembaga (Cu) berada di bawah baku mutu air atau memenuhi syarat kualitas air. Sedangkan konsentrasi timbal (Pb) hingga hari ke-9 masih berada di atasbaku mutu atau belum memenuhi syarat. Konsentrasi logam berat timbal (Pb) dari hari ke-0 hingga 9mengalami penurunan 0.05 mg/L atau sebesar 14.29%. Tanaman Jeringau (Acorus calamus) dalammedia dapat menurunkan kadar logam beratTanaman Jeringau (Acorus calamus) dapat menjadi salah satu metode aplikasi dalampemulihan air yang mengandung logam berat Timbal (Pb) yang dapat membahayakan bagi kesehatanmasyarakat.Kata Kunci : Acorus calamus, Logam Berat, Fitoremediasi, Air
Analisis Risiko Kesehatan Akibat Konsumsi Tomat (Lycopersicon esculentum) yang Mengandung Residu Profenofos di Kabupaten Gowa Abdul Majid HR. Lagu; Habibi Habibi; Syahrul Basri
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 1 No 3 (2015): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.29 KB)

Abstract

Tomato is of high nutritional value so highly favored by the entire community. In tomato production activities can not be separated from the use of pesticides. This study aims to determine the health risk from consumption of tomato (Lycopersicon esculentum) containing residues of profenofos in Subdistrict Tamaona at Gowa Regency. This study is an observational method to study the draft Environmental Health Risk Analysis. Profenofos concentrations were measured using Gas Chromatography (GC), whereas body weight, intake rate, and frequency of exposure quantitatively measured through questionnaires to interview 100 respondents to calculate Intake profenofos and health Risk Quotient (RQ). Profenofos concentration in the vegetable tomatoes detected in samples I, II, and V, while the samples III and IV are not detected, the highest concentration in the sample V is 0.5234 mg/kg and the average concentration of 0.37003 mg/kg. Based on these results, the concentration of profenofos in tomato vegetable still below the MRL established SNI 2009 is 2.0 mg/kg. For the analysis of the results showed a total of 88 respondents Carcinogens RQ has an average value of RQ ≤ 1 and 12 respondents had RQ values > 1. For Non-Carcinogenic RQ many as 18 respondents had an average RQ values ≤ 1 and 82 respondents had RQ values> 1. Group with RQ values ≤ 1 categorized as a safe group, whereas the group with RQ > 1 is called risk groups to the effects of carcinogens or non-carcinogens disease. Management of health risk reduction needs to be done as they see the risk of exposure to carcinogens and disease profenofos both non-carcinogenic diseases. Keywords: Environmental Health Risk Analysis, Profenofos, Tomato, Tamaona
Risiko Paparan Sulfur Dioksida (SO2) pada Masyarakat yang Bermukim Disekitar PT. PLN (Persero) Sektor Tello Tahun 2014 Putri Puspitasari Wahyuddin; Andi Susilawaty; Azriful Azriful; Syahrul Basri
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 2 No 1 (2016): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.77 KB)

Abstract

Exhaust emissions released by power plants machines. There are various kinds of pollutants including SO2. This industry is located that is surrounded by residential areas so that the people around him at risk for exposure to Sulfur Dioxide (SO2).This research aimed to analyze the magnitude of the risk of exposure to SO2 on plant communities in the PT. PLN (Persero) Sektor Tello.This research used an observational method with the application of Environmental Health Risk Analysis (ARKL) approach. The sample of subjects of the this research were 104 respondents from four locations around the PT. PLN (Persero) Sector Tello. Samples object consisted of 4 points ambient air sampling.Results indicated that the average concentration of SO2 were 0,0445925 mg/m3.The average rate of intake based on age and sex were 10.98 m3day- and the average length of stay of respondents in research location which expressed as exposure duration was 21 years. Then, the average body weight was 58 kg. Likewise, it was found that the risks magnitude of exposure to SO2 that measured in the Risk Quotient (RQ) by the air sampling time was 4. 1252.Community surround the PT. PLN (Persero) Sector Tello has a high risk of exposure to SO2 exceeded the unite (RQ> 1) exposure have a low risk. It is suggested to those people to be alert and do periodic health checks and preventive efforts such as plant some vegetation to absorb the SO2 gas. Keywords : Risk Analysis, SO2, RQ (Risk Quotient)
Perbedaan Ovitrap Indeks Botol, Ember dan Port Mosquito Trap sebagai Perangkap Nyamuk Aedes sp. di Area Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Samarinda Wilayah Kerja Sangatta Kabupaten Kutai Timur Erlina Hamzah; Syahrul Basri
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 2 No 3 (2016): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.94 KB)

Abstract

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) merupakan penyakit akibat infeksi virus dengue yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penyakit ini ditemukan hampir di semua negara terutama negara-negara tropik dan subtropik sebagai penyakit endemik maupun epidemic. Di Indonesia sendiri, Demam Berdarah Dengue (DBD) telah menjadi masalah kesehatan masyarakat selama 41 tahun terakhir.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas perbandingan antara Ovitrap dari botol plastik, ember plastik, dan Port Mosquito Trap (PM Trap) berdasarkan nilai Ovitrap indeks. Selain itu penelitian ini diharapkan memberikan sumbangsih terhadap inovasi, kajian dan pengembangan teknologi pada kantor kesehatan pelabuhan khususnya dalam pengendalian penyakit berbasis vektor nyamuk di kabupaten Kutai Timur Propinsi Kalimantan Timur.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ovitrap yang terbanyak positif jentik adalah jenis Ovitrap dari ember plastik yakni sebanyak 12 (66,67%), kemudian PM Trap sebanyak 10 (55,56%) dan terendah adalah botol plastik bekas yakni sebanyak 3 (16,67%) dari masing-masing 18 Ovitrap yang terpasang. Kata Kunci : Ovitrap, Botol, Ember, Port Mosquito Trap (PM Trap) 
Analisis Risiko Paparan Hidrogen Sulfida (H2S) pada Peternak Ayam Broiler di Kecamatan Maiwa Kabupaten Enrekang Tahun 2016 Dwi Santy Damayati; Syahrul Basri; Dewi Sartika
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 3 No 1 (2017): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (691.824 KB)

Abstract

Hidrogen sulfida (H2S) merupakan gas yang memiliki karakteristik berbau telur busuk, tidak berwarna, beracun dan sangat mudah terbakar. Gas ini digolongkan ke dalam asphyxiant karena efek utamanya adalah melumpuhkan pusat pernafasan. Gas hidrogen sulfida dari usaha peternakan ayam broiler, berupa emisi feses ayam broiler yang pada saat penumpukan terjadi proses dekomposisi oleh mikroorganisme membentuk gas sulfida. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besar risiko paparan hidrogen sulfida berdasarkan pajanan realtime dan lifetime pada peternak ayam broiler yang ada di Kecamatan Maiwa Kabupaten Enrekang. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan survei yang bersifat deskriptif serta menggunakan metode Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (field study). Penelitian ini dilakukan pada peternakan ayam broiler yang terdapat di Kecamatan Maiwa Kabupaten Enrekang. Sampel subyek dalam penelitian ini adalah semua peternak ayam broiler yang ada di Kecamatan Maiwa sebanyak 24 orang dan sampel obyek adalah udara ambient di dalam kandang ayam broiler. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata konsentrasi H2S di dalam kandang peternakan ayam broiler Kecamatan Maiwa Kabupaten Enrekang tahun 2016 yaitu 0,13331 ppm. Rata-rata laju asupan udara yang mengandung H2S pada peternak ayam broiler yaitu 3,8733 m3/hari. Rata-rata durasi paparan gas H2S pada peternak ayam broiler yaitu 2,29 tahun. Rata-rata berat badan peternak ayam broiler yaitu 53,13 kg. Rata-rata besar risiko (RQ) paparan H2S pada peternak ayam broiler yaitu untuk pajanan realtime 0,6080813 dan pajanan lifetime 9,1641.Hasil perhitungan RQ dari total sampel 24 responden, diperoleh untuk pajanan realtime nilai RQ semua responden ≤ 1 yang berarti responden belum berisiko, sedangkan untuk pajanan lifetime nilai RQ semua responden > 1 yang berarti responden berisiko untuk efek non karsinogenik paparan H2S. Diharapkan kepada semua pihak baik pemerintah setempat, petugas pelayanan kesehatan dan peternak ayam broiler untuk melakukan manajemen risiko dari paparan hidrogen sulfida seperti penambahan kapur pada feses ayam broiler dan menggunakan alat pelindung diri saat bekerja.Kata Kunci: Hidrogen Sulfida, Peternak Ayam Broiler, ARKL,
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita di Wilayah Pesisir Desa Kore Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima Sri Wahyuningsih; Sitti Raodhah; Syahrul Basri
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 3 No 2 (2017): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.46 KB)

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian tentang  faktor yang berhubungan dengan kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada balita di Wilayah Pesisir. Pokok permasalahan yang di bahas adalah mengenai faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah pesisir Desa Kore Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima tahun 2014Jenis Penelitian ini adalah survey analitik dengan pendekatan cross sectional . Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita yang bertempat tinggal di wilayah Pesisir Desa Kore Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima tahun 2014. Tehnik pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling dimana teradpat 70 orang balita sebagai sampel dalam penelitian ini.Berdasarkan analisis chi-square didapatkan bahwa (1) Ada hubungan penggunaan jenis bahan bakar biomassa dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah pesisir Desa Kore Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima tahun 2014 (p =0,001) (2) Ada hubungan Luas ventilasi dengan kejadian  Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada balita balita di wilayah pesisir Desa Kore Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima tahun 2014 (p =0,000) (3) Ada hubungan Kepadatan Hunian dengan kejadian  Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada balita di wilayah pesisir Desa Kore Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima tahun 2014 (p  = 0,000) (4) Tidak ada hubungan Perilaku merokok dengan kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada balita di wilayah Pesisir Desa Kore Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima tahun 2014 (p = 0,084) Kata Kunci : Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), Biomassa, Luas Ventilasi, Kepadatan Hunian, Perilaku merokok
Gambaran Konsentrasi Karbon Monoksida Dalam Darah (COHb) pada Mekanik General Repair Servis dan Suku Cadang Dealer Otomotif Makassar Syamsuryana Basri; Fatmawaty Mallapiang; Irviani Anwar Ibrahim; Syarfaini Syarfaini; Hasbi Ibrahim; Syahrul Basri
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 3 No 3 (2017): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.735 KB)

Abstract

Karbon monoksida (CO) merupakan salah satu komponen pencemar udara yang berasal dari gas buang kendaraan bermotor yang berdampak menurunkan kualitas dan kenyamanan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran konsentrasi karbon monoksida dalam darah mekanik general repair service dan suku cadang di PT. Hadji Kalla menurut umur, masa kerja, lama kerja, dan kebiasaan merokok. Jenis penelitian ini adalah field research kuantitatif dengan analisa laboratorium dalam darah Mekanik General Repair Service & Suku Cadang PT. Hadji Kalla Makassar dan menjadikan semua populasi sebagai sampel dengan jumlah populasi 23 orang. Responden dalam penelitian ini adalah mekanik bagian General Repair Service & Suku Cadang PT. Hadji Kalla Makassar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanik yang memiliki konsentrasi Karbon Monoksida tidak memenuhi syarat yaitu pada umur 23-26 yaitu 4.21% sampai 8.97%. Mekanik yang memiliki masa kerja baru lebih banyak yang memiliki konsentrasi karbon monoksida dalam darah yang tidak memenuhi syarat, lama kerja mekanik yang memiliki konsentrasi karbon monoksida dalam darah yang tidak memenuhi syarat yaitu 8 jam kerja dibandingkan dengan bekerja selama 7 jam per hari dan kebiasaan merokok juga memdukung tingginya kadar CO dalam darah. Kesimpulan dari penelitian ini dari aspek kelompok umur tertinggi yang memiliki konsentrasi karbon monoksida dalam darah tidak memenuhi syarat adalah kelompok umur 23- 26 tahun, Mekanik yang memiliki masa kerja baru lebih banyak yang memiliki konsentrasi karbon monoksida dalam darah yang tidak memenuhi syarat dibandingkan dengan masa kerja yang lama, mekanik yang perokok lebih banyak yang memiliki konsentrasi karbon monoksida dalam darah yang tidak memenuhi syarat dibandingkan dengan yang bukan perokok sedangkan Mekanik yang bekerja 8 jam per hari lebih banyak yang memiliki konsentrasi karbon monoksida dalam darah yang tidak memenuhi syarat dibandingkan yang bekerja 7 jam per hari.Kata Kunci : COHb, Karbon Monoksida, Pekerja
Efektifitas penggunaan arang limbah kulit kakao (Theobroma Cacao L.) untuk menurunkan kesadahan, salinitas dan senyawa organik air Andi Ita Juwita; Ilham Ahmad; Musdalifah Musdalifah; Emmi Bujawati; Syahrul Basri
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 4 No 1 (2018): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (859.834 KB)

Abstract

Penelitian Aktivasi Arang Limbah Kulit  Kakao (Theobroma cacao L.) dengan Variasi Waktu dan Zat Pengaktivasi telah dilakukan. Adapun tujuan dalam penelitian ini yaitu mempelajari aktivasi arang aktif serta menguji arang aktif dalam menurunan kesadahan, salinitas dan senyawa-senyawa organik dalam air sumur. Pembuatan arang aktif dari kulit kakao ini dilakukan dengan metode aktivasi kimia menggunakan larutan H3PO4 dan KOH dengan konsetrasi 5% dan 10% dengan waktu aktivasi 60 dan 90 menit dan untuk pengalikasiannya terhadap air yang akan diuji digunakan air 500 ml dengan penambahan arang aktif 10 g yang dihomogenkan dengan menggunakan magnetic stirrer selama 15 menit.Arang aktif dari limbah kulit kakao dengan variasi waktu dan zat pengaktivasi, yang terbaik untuk menurunkan nilai kesadahan total yaitu dengan penggunaan H3PO4 konsentrasi 10% dengan waktu aktivasi 90 menit dapat menurunkan nilai kesadahan sebesar 22 mg/L. Untuk menurunkan nilai salinitas yang terbaik yaitu dengan penggunaan KOH 5% dengan waktu aktivasi 90 menit dapat menurunkan nilai salinitas sebesar 0,25 ppm. Untuk nilai pH hasil terbaik diperoleh pada penggunaan H3PO4konsentrasi 10% dengan waktu aktivasi 90 menit, untuk penurunan nilai TDS diperoleh pada penggunaan H3PO4konsentrasi 10% dengan lama waktu aktivasi 90 menit, dan untuk nilai BOD dan TSS yang terbaik yaitu dengan penggunaan H3PO4 5% dengan waktu aktivasi selama 60 menit. Kata Kunci  : arang aktif, konsentrasi, variasi waktu
Kondisi Sanitasi Lingkungan Pondok Pesantren di Kota Makassar Tahun 2018 Nurfadillah Sudirman; Muhammad Saleh; Andi Susilawaty; Syahrul Basri
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 5 No 1 (2019): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1490.517 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi sanitasi lingkungan pondok pesantren yang berada di Kota Makassar tahun 2018, yang meliputi bagian dari penyedian air bersih, sarana pembuangan tempat sampah, saluran pembuangan  air limbah, saluran pembuangan air limbah (SPAL), kondisi dapur,kepadatan hunian (asrama santri), ketersediaan Toilet. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pendekatan deskriptif.Sampel yang diambil merupakan sampel untuk lokasi penelitian adalah Pesantren Immim Makassar, Pesantren Ummul Mukminin, Pesantren Darul Aman.Hasil penelitian yang diperoleh untuk kondisi sanitasi lingkungan Pondok Pesantren di Kota Makassar dari beberapa variabel yang digunakan antara lainPenyediaan Air Bersih untuk Pesantren IMMIM Makassar 80%, Pesantren Darul Aman 80%, Pesantren Ummul Mukminin 90%. Sarana Pembuangan Tempat Sampah untuk Pesantren IMMIM Makassar 80%, Pesantren Darul Aman 30%, Pesantren Ummul Mukminin 90%. Saluran Pembuangan Air Limbah  untuk Pesantren IMMIM Makassar 70%, Pesantren Darul Aman 60%, Pesantren Ummul Mukminin 60%. Dapur untuk Pesantren IMMIM Makassar 66%, Pesantren Darul Aman 86%, Pesantren Ummul Mukminin 73%. Kepadatan Hunian (Ruang Tidur) untuk Pesantren IMMIM Makassar 73%, Pesantren Darul Aman 73%, Pesantren Ummul Mukminin 80%. Toilet untuk Pesantren IMMIM Makassar 80%, Pesantren Darul Aman 86%, Pesantren Ummul Mukminin 86%. Kondisi Sanitasi Lingkungan secara keseluruhan dari enam variabel untuk Pesantren IMMIM Makassar 75%, Pesantren Darul Aman 71%, Pesantren Ummul Mukminin 83%.Berdasarkan hasil penelitian ini penulis menyarankan kepada pihak Pondok Pesantren yang berada di Kota Makassar lebih memperhatikan tingkat kondisi sanitasi lingkungan. Sehingga mampu memberikan tingkat kesehatan yang baik untuk santri juga keadaan lingkungan yang bersih di Pondok Pesantren. Kata Kunci : Sanitasi Lingkungan, Pondok Pesantren