Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Pemanfaatan Minyak Jelantah dengan Tambahan Ekstrak Daun Cengkeh (Zyzygium aromaticum) Sebagai Sabun Antiseptik dalam Menurukan Jumlah Kuman pada Telapak Tangan Andi Susilawaty; Hasbi Ibrahim; Nurfadillah Tenri Ugi
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 3 No 1 (2017): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.735 KB)

Abstract

Sabun merupakan surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan. Pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku pembuatan sabun merupakan alternative dalam upaya pengelolaan limbah minyak jelantah. Penambahan ekstrak daun cengkeh sebagai antiseptic menambah nilai manfaatnya Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pembuatan sabun berbahan minyak jelantah dengan tambahan ekstrak daun cengkeh dalam menurunkan angka kuman pada tangan.Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksperimen semu (qausi eksperiment).Sampel dalam penelitian ini adalah 7 oang mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Jurusan Kesehatan Masyarakat.Hasil penelitian menujukkan bahwa penggunaan sabun minyak jelantah dengan tambahan ekstrak daun cengkeh 80% dapat menurunkan jumlah kuman pada tangan..Hal ini sesuai dengan hasil uji Paired Samples Test dan Wilcoxon Signed Ranks Test diperoleh nilai Asymp. Sig. (2-tailed) pada semua sampel subyek baik pengenceran pertama dan pengenceran kedua ˂ 0,05 maka dinyatakan bahwa terdapat perbedaan jumlah kuman sebelum dan sesudah pemberian sabun minyak jelantah yang ditambahkan ekstrak daun cengkeh (Syzygium aromaticum).Implikasi pada penelitian ini yaitu untuk melakukan pengukuran pH pada sabun karena nilai pH mempengaruhi daya absorbs pada kulit.Peneliti selanjutnya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menemukan formulasi minyak jelantah dengan tambahan ekstrak cengkeh dalam menurunkan angka kuman pada tangan yang lebih mudah dan praktis bagi masyarakat.Kata Kunci : Sabun, Minyak Jelantah, Ekstrak Daun Cengkeh, Jumlah Kuman
Efektivitas Larvasida Ekstrak Kulit Buah Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) Dalam Membunuh Jentik Nyamuk Aedes sp (Studi di Daerah Epidemi DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Antang Kecamatan Manggala) Nirma Nirma; Andi Susilawaty; Hasbi Ibrahim; Munawir Amansyah
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 3 No 2 (2017): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.313 KB)

Abstract

Nyamuk Aedes sp merupakan vektor utama dari DBD. Kejadian luar biasa Demam Berdarah yang terjadi di Makassar tahun 2013 berlokasi di wilayah Puskesmas Antang Kecamatan Manggala.Penelitian terdahulu mengenai efektivitas ekstrak kulit buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia) terhadap kematian larva Aedes sp yang dilakukan di Laboratorium Kesehatan Lingkungan UIN Alauddin Makassar diperoleh hasil bahwa nilai LC90pada penelitian ini yaitu 0,386 gram/100 ml dengan pemaparan selama 24 jam. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas larvasida ekstrak kulit buah jeruk nipis dalam mengendalikan jentik nyamuk Aedes sp di daerah epidemi DBD di wilayah kerja puskesmas Antang Kecamatan Manggala Kota Makassar. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperiment dengan rancangan before and after intervention design. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah RW 01 Kelurahan Antang Kecamatan Manggala Kota Makassar pada tanggal 15Agustus 2015 sampai 2 September 2015. Sampel penelitian ini yaitu 30 tempat perindukan yang berada pada RW 01.Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai t hitung adalah sebesar 11,758 dengan sig 0,000. Karena nilai sig ˂ 0,05 maka dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan rata-rata jumlah larva sebelum dan setelah pemberian ekstrak kulit buah jeruk nipis maka Ha diterima, atau terdapat perbedaan jumlah larva sebelum dan setelah pemberian ekstrak kulit buah jeruk nipis(Citrus aurantifolia).Implikasi pada penelitian ini yaitu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menemukan formulasi ekstrak kulit buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dalam membunuh larva nyamuk Aedes spyang lebih aplikatif sehingga penggunaannya lebih mudah dan praktis bagi masyarakat dan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh salinitas pada penerapan ekstrak kulit buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dalam mengendalikan jumlah jentik nyamuk Aedes sp.Kata Kunci : Aedes sp, Efektivitas, Ekstrak Kulit Buah Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia)
Gambaran Konsentrasi Karbon Monoksida Dalam Darah (COHb) pada Mekanik General Repair Servis dan Suku Cadang Dealer Otomotif Makassar Syamsuryana Basri; Fatmawaty Mallapiang; Irviani Anwar Ibrahim; Syarfaini Syarfaini; Hasbi Ibrahim; Syahrul Basri
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 3 No 3 (2017): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.735 KB)

Abstract

Karbon monoksida (CO) merupakan salah satu komponen pencemar udara yang berasal dari gas buang kendaraan bermotor yang berdampak menurunkan kualitas dan kenyamanan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran konsentrasi karbon monoksida dalam darah mekanik general repair service dan suku cadang di PT. Hadji Kalla menurut umur, masa kerja, lama kerja, dan kebiasaan merokok. Jenis penelitian ini adalah field research kuantitatif dengan analisa laboratorium dalam darah Mekanik General Repair Service & Suku Cadang PT. Hadji Kalla Makassar dan menjadikan semua populasi sebagai sampel dengan jumlah populasi 23 orang. Responden dalam penelitian ini adalah mekanik bagian General Repair Service & Suku Cadang PT. Hadji Kalla Makassar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanik yang memiliki konsentrasi Karbon Monoksida tidak memenuhi syarat yaitu pada umur 23-26 yaitu 4.21% sampai 8.97%. Mekanik yang memiliki masa kerja baru lebih banyak yang memiliki konsentrasi karbon monoksida dalam darah yang tidak memenuhi syarat, lama kerja mekanik yang memiliki konsentrasi karbon monoksida dalam darah yang tidak memenuhi syarat yaitu 8 jam kerja dibandingkan dengan bekerja selama 7 jam per hari dan kebiasaan merokok juga memdukung tingginya kadar CO dalam darah. Kesimpulan dari penelitian ini dari aspek kelompok umur tertinggi yang memiliki konsentrasi karbon monoksida dalam darah tidak memenuhi syarat adalah kelompok umur 23- 26 tahun, Mekanik yang memiliki masa kerja baru lebih banyak yang memiliki konsentrasi karbon monoksida dalam darah yang tidak memenuhi syarat dibandingkan dengan masa kerja yang lama, mekanik yang perokok lebih banyak yang memiliki konsentrasi karbon monoksida dalam darah yang tidak memenuhi syarat dibandingkan dengan yang bukan perokok sedangkan Mekanik yang bekerja 8 jam per hari lebih banyak yang memiliki konsentrasi karbon monoksida dalam darah yang tidak memenuhi syarat dibandingkan yang bekerja 7 jam per hari.Kata Kunci : COHb, Karbon Monoksida, Pekerja
Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis (TB) Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Panambungan Kota Makassar Nur Afiat Soraya Mursyaf; Nurdiyanah Nurdiyanah; Hasbi Ibrahim
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 4 No 1 (2018): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.839 KB)

Abstract

Puskesmas Panambungan merupakan Puskesmas yang paling tinggi angka keberhasilan pengobatan pasien TB Paru yang tertinggi di Kota Makassar sebanyak 65 pasien dan angka keberhasilan pengobatan mencapai 100%. Tujuan umum penelitian untuk mengetahui Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis (TB) Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Panambungan Kota Makassar.Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, dengan pendekatan Fenomenologi, melalui teknik wawancara mendalam. Penentuan informan dengan teknik purposive sampling yaitu pemilihan informan berdasarkan kriteria tertentu. Informan berjumlah 19 orang yang terdiri dari 8 Mantan Penderita TB Paru, 8 keluarga, dan 3 Kader Kesehatan TB.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengetahuan informan mengenai Pengertian penyakit tuberkulosis (TB) Paru adalah Penyakit tarroko-roko, pindah-pindah dan penyakit menular. Penyebab dan penularannya adalah  karena merokok dan minum alkohol penularannya melalui udara dan bekas makanan mantan penderita TB Paru. Gejala/Tanda-tandanya adalah batuk kurang lebih 2 minggu, batuk mengeluarkan darah. Pencegahan pertama yang dilakukan meminum air hangat pada saat ada gejala batuk ada juga yang langsung periksa ke Puskesmas dan Kepercayaan Pengobatan Pertama kali yang dilakukan oleh beberapa informan dengan meminum Daun-daunan (Miana) jika tidak ada perubahan pengobatan selanjutnya ke Tenaga Medis dan ada juga yang langsung berobat ke Tenaga Medis. Kepercayaan informan mengenai penyakit tuberkulosis (TB) paru yang di utarakan informan bermacam-macam yaitu penyakit batuk biasa, asma. Manfaat fasilitas kesehatan yang tersedia yang diutarakan Informan setelah berkunjung adanya perubahan batuk dan persaan yang lebih enak serta adanya informasi yang diketahui terkait pengobatannya.Adapun dukungan informan keluarga dan informan kader kepada informan Mantan penderita tuberkulosis (TB) Paru yang di utarakan memberikan semangat, menjaga pola makan, menemani berobat serta menjadi PMO sehingga tingkat kesembuhan informan terjamin dan  keberhasilan pengobatannya berhasil. Kata Kunci : Pengetahuan, TB Paru, Peran Keluarga, Peran Petugas Kesehatan
Studi Penilaian Risiko Keselamatan Kerja di Bagian Boiler PT Indonesia Power UPJP Bali Sub Unit PLTU Barru Nur Hasnah; Hasbi Ibrahim; Syarfaini Syarfaini
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 4 No 2 (2018): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.601 KB)

Abstract

Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) merupakan pembangkit listrik yang banyak digunakan di Indonesia yang memanfaatkan energi panas dari uap (steam) untuk memutar sudu turbin sehingga dapat digunakan untuk membangkitkan energi listrik melalui generator. Salah satu bagian terpenting dari sistem pembangkit listrik tenaga uap di Barru dan memiliki risiko tinggi mengalami ledakan dan kebakaran adalah boiler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penilaian risiko keselamatan kerja yang ada di PT Indonesia Power UPJP Bali Sub Unit PLTU Barru khususnya di bagian boiler. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode deskriptif observasional, dimana proses identifikasi risiko bahaya menggunakan worksheet HAZOPS untuk mengidentifikasi bahaya pada mesin di boiler dan JSA untuk mengidentifikasi tahapan pekerjaan di boiler. Proses analisis risiko menggunakan metode semi kuantitatif berdasarkan AS/NZS 4360:2004. Hasil penelitian menunjukkan nilai risiko keselamatan kerja pada mesin di boiler yang didapat dari worksheet HAZOPS tertinggi dengan risk rating yaitu very high adalah pertama risiko temperatur lebih pada kompenen cyclone, kedua risiko temperatur lebih pada kompenen superheater. Nilai risiko keselamatan kerja pada tahapan pekerjaan pemeliharaan di boiler yang didapat dari worksheet JSA tertinggi dengan risk rating adalah kebocoran pada safety valve pada aktifitas pengetesan safety valve. Saran pada penelitian ini adalah mengkomunikasikan kepada semua pihak yang terlibat dalam operasi PLTU terkait kebijakan K3, menerapkan secara menyeluruh tentang Standart operational procedure atau SOP Keselamatan kerja, menerapkan secara menyeluruh tentang cara mengidentfikasi bahaya di tempat kerja dengan menggunakan JSA, pengawasan lebih terhadap peralatan atau mesin yang sering mengalami kerusakan/penyimpangan dan pengawasan lebih terhadap sistem pengaman pada boiler, dengan mengawasi jadwal pemeliharaannya agar sistem pengaman boiler bekerja secara baik sesuai dengan fungsinya. Kata Kunci : Boiler, JSA,HAZOP, Penilaian risiko, AS/NZS 4360:2004
Faktor Yang Berhubungan Dengan Keluhan Musculosceletal Disorders (MSDs) pada Penenun Lipa’ Sa’be Mandar di Desa Karama Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar Muhammad Adriansyah; Fatmawaty Mallapiang; Hasbi Ibrahim
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 5 No 2 (2019): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1462.012 KB)

Abstract

Salah satu masalah pada penenun Lipa’ Sa’be adalah keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) yaitu timbulnya keluhan otot akibat sikap kerja yang tidak ergonomis. Keluhan yang dirasakan yaitu otot leher, bahu, lengan, tangan, jari, punggung, pinggang dan otot-otot bagian bawah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan keluhan MSDs pada penenun Lipa’ Sa’be Mandar di Desa Karama Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan menggunakan pendekatan cross sectional study, dengan populasi 124 orang dan sampel 42 orang yang dipilih secara purposive sampling. Penilaian risiko postur kerja menggunakan metode REBA dan pengukuran tingkat keluhan MSDs menggunakan kuesioner Nordic Body Map. Hasil penelitian menununjukkan bahwa dari 42 responden terdapat 37 (88,1%) dengan risiko postur kerja sedang, dan 5 (11,9%) dengan risiko postur kerja tinggi. Sedangkan untuk keluhan MSDs terdapat 21 (50,0%) yang menderita keluhan MSDs sedang, 11 (26,2%) yang menderita keluhan MSDs ringan, dan 10 (23,8%) yang menderita keluhan MSDs berat. Berdasarkan hasil uji chi-Square menunjukkan adanya hubungan antara keluhan MSDs dengan postur kerja (p value =0,005), umur (p value =0,013), masa kerja (p value =0,002),  lama kerja (p value =0,000), riwayat penyakit (p value =0,000). Oleh karena itu pekerja disarankan untuk beristirahat disaat mulai merasa sakit atau nyeri pada bagian tubuh, dan rajin melakukan peregangan otot saat bekerja. Instansi terkait sebaiknya memberikan penyuluhan mengenai risiko pekerjaan dan tata cara bekerja sesuai dengan prinsip ergonomi.Kata kunci : Penenun Lipa’ Sa’be Mandar, Postur Kerja, Keluhan Musculoscletal Disorders (MSDs), REBA, Nordic Body Map
THE RELATIONSHIP OF THE WORK SAFETY PROGRAMS IMPLEMENTATION WITH THE PRODUCTIVITY OF EMPLOYEES IN PACKER PARTNERS PT. SEMEN BOSOWA MAROS Ani Asriani Basri; Hasbi Ibrahim
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol 3, No 1 (2018): New Dimensions of Occupational Health and Industrial Safety
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jihoh.v3i1.2457

Abstract

The application of work safety programs is one form of the company's efforts to create safe and healthy workplace conditions for the workforce, so as to reduce absenteeism and increase employee productivity.This study aims to find out how the "Relationship between Work Safety Program Implementation and Employee Productivity in the Packer Section of PT. Semen Bosowa Maros”. This type of research is a type of quantitative research, namely an analytical survey. This study uses an analytic international design with a cross sectional study approach. With a sample of 48 respondents in the cement filling packer section with sampling, the total sampling method. Data obtained from the results of questionnaires, observations, and interviews. Then the data will be analyzed using chy-square analysis and fisher's excat to see the relationship between the dependent variable and the independent variable. Fisher's exact statistical test results obtained p value = 0.650> 0.05, this shows that there is no relationship between the knowledge of safety signs with the achievement of cement filling targets, obtained p value = 0.369> 0.05 which indicates that no there is a relationship between the frequency of health and safety training with the achievement of cement filling targets. With the chy-square statistical test, the value of p = 0.04 <0.05 indicates that there is a relationship between the use of personal protective equipment and the achievement of cement filling targets. It is necessary to install safety signs in the packer section to improve and foster awareness of the workforce in protecting themselves, improve K3 training and provide strict sanctions to workers who are not disciplined in using complete personal protective equipment.Keywords: Safety Program, Work Productivity, Packer Worker
Penerapan Personal Hygiene Pada Penjamah Makanan di Pondok Pesantren Kecamatan Biring Kanaya Kota Makassar Nildawati Nildawati; Hasbi Ibrahim; Fatmawaty Mallapiang; Khansaa Afifah M; Emmi Bujawati
Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 10 No 2 (2020): Oktober
Publisher : POLTEKKES KEMENKES MANADO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47718/jkl.v10i2.1164

Abstract

Personal hygiene will have an impact on the food produced by a food handler. To carry out its functions, Islamic boarding schools have a food management system which is carried out by food handlers. This study aims to see the personal hygiene of food handlers at the Pondok Pesantren, Biringkanaya District, Makassar City. The research method used is descriptive research. The sampling method used was total sampling with a total of 30 samples. The results of the study prove that of the 30 respondents, 100% in good category for the application of personal hygiene. The work period of less than or 5 years was 17 respondents (56.7%) and respondents with a working period of more than 5 years were 13 respondents (43.3%). Of the 30 respondents (100%) only 1 respondent (33%) had work experience as food handlers in another place, namely, for 15 years at other Islamic boarding schools, 29 respondents (96.7%) had no work experience as food handlers. The application of personal hygiene to food handlers is fairly good, all respondents have good personal hygiene, but the application of washing hands before and after work and after leaving the bathroom is not in accordance with good and correct handwashing procedures according to WHO or the Indonesian Ministry of Health, this is evidenced by the unavailability of handwashing facilities. Provision of education, media-related information personal hygiene should be performed periodically to increase awareness of food handlers, as well as providing training, SOP, APD, P3K box, and checks periodically
The vulnerability level and employee preparedness index in responding to fire in mills division at pt. eastern pearl flour mills of Makassar city Andi Akram Al Qadri; Hasbi Ibrahim; Syamsul Alam
CORE JOURNAL Volume 1, Issue 1, Desember 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/corejournal.v1i1.18358

Abstract

BNPB (The National Agency for Disaster Countermeasure) suggested that there were 3,193 cases of fires in Indonesia from 1815 to 2018. There were 6 cases of fires at PT. Eastern Pearl Flour Mills during the period of 2016 to 2019 which resulted in material loss. The main objective of this study was to investigate and determine the level of fire vulnerability and employee preparedness index at Mills division at PT. Eastern Pearl Flour Mills of Makassar. The methodological approach taken was descriptive by using a survey method. The population were all 38 employees. The sampling technique was total sampling. The samples used in this study were 38 samples. The results indicated that in the aspect knowledge, 38 respondents high category (100%). Attitude, 38 respondents (100%) high category. Disaster preparedness policy, 35 respondents (92.1%) high category, and 3 respondents (7.9%) low category. Resource mobilization, 36 respondents (94.7%) high category, and 2 respondents (5.3%) low category. Disaster warning, 38 respondents (100%) high category.Preparedness plan, 33 respondents (86.8%) high category, and 5 respondents (13.2%) low category. This research concludes that the level of fire vulnerability at the Mills division at PT. Eastern Pearl Flour Mills Makassar City was considered the medium category, while the employee preparedness index was considered in the fair category. The researchers suggest the company to continous socialization related to fire prevention SOPs to all employees. The employees must be able to distinguish signs of the fire warning and increase their knowledge related to fire disasters in the workplace.
Gambaran Pengetahuan Pengemudi Mobil Tangki Terhadap Kesehatan Dan Keselamatan Pengangkutan Bahan Bakar Minyak (BBM) di PT. Pertamina (persero) TBBM Makassar Hasbi Ibrahim
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 6, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.842 KB) | DOI: 10.24252/as.v6i2.1955

Abstract

Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan salah satu dari bahan berbahaya yang sifatnya mudah terbakar dan dapat menimbulkan ledakan, dimana dalam proses pengangkutannya memegang peranan penting dikarenakan terdapat dampak negatif yang bisa timbul sehingga merugikan manusia, kendaraan dan lingkungan sekitarnya. Untuk kelancaran proses pengangkutan ini maka penting untuk menciptakan kondisi kerja dan transportasi yang aman, nyaman dan tertib sesuai dengan aspek kesehatan dan keselamatan. Karena itu, pengetahuan pengemudi terhadap kesehatan dan keselamatan pengangkutan bahan bakar minyak diharapkan memberi pengaruh yang baik bagi kinerja pengemudi tersebut sehingga proses pengangkutan berjalan dengan lancar.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan pengemudi mobil tangki terhadap kesehatan dan keselamatan pengangkutan bahan bakar minyak (BBM) di PT. Pertamina TBBM Makassar. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Sebanyak 102 responden diambil dengan menggunakan teknik quota sampling, metode pengambilan sampel dilakukan dengan cara accidental sampling, kemudian dianalisis secara elektronik dengan menggunakan suatu program analisis pada komputer kemudian disajikan dalam bentuk tabel disertai penjelasan.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengetahuan pengemudi terhadap kesehatan pengangkutan BBM baik (57,8%), pengetahuan pengemudi terhadap persyaratan kendaraan baik (93,1%), pengetahuan pengemudi terhadap persyaratan pengemudi baik (100%) dan pengetahuan pengemudi terhadap prosedur kerja dan tanggap darurat cukup (51%).Berdasarkan hasil penelitian ini maka disarankan kepada pihak manajemen perusahaan untuk meningkatkan program upaya kesehatan terhadap seluruh pengemudi, melaksanakan ketentuan persyaratan kendaraan bagi tiap kendaraan yang beroperasi serta peningkatan program pelatihan dan pendidikan bagi pengemudi.